Naik Ranjang

Naik Ranjang
Prahara Restu


__ADS_3

Sabtu pagi, di kediaman Adrian semua anggota keluarga masih berkumpul di rumah. Begitu pula dengan Aditya yang masuk shift malam. Hari ini dia berencana meminta ijin pada kedua orang tuanya untuk mengantar dirinya melamar Dewi Sabtu depan ke kediaman Nandang.


Usai sarapan, dia mengajak semua orang berkumpul di ruang tamu. Adrian dan Pipit yang sudah tahu maksud dari pria itu hanya menunggu saja bagaimana reaksi Ida dan Toni. Sebenarnya Adrian tidak yakin kalau kedua orang tuanya, terutama Toni akan menyetujui keinginan adiknya ini. Tapi dia sudah berjanji akan mendukung Aditya, apapun keputusan kedua orang tuanya.


“Hari ini kamu tampil lagi, Dit?” tanya Ida.


“Iya, ma. Mama mau ke café?”


“Nda. Mama mau di rumah aja sama papamu. Ajak aja tantemu, siapa tau ada yang nyantol di sana sama dia,” Ida melirik keki pada adiknya ini. Sudah empat calon yang dikirimkan untuk bertemu dengan wanita itu, tapi semua mental karena tingkah absurdnya.


“Tenang aja mba.. akan indah pada waktunya nanti. Aku akan bawakan calon adik ipar ter the best buat mba.”


Pipit mengedipkan sebelah matanya pada Ida. Wanita berusia 48 tahun itu hanya mendesis kesal melihat tingkah adik bungsunya ini. Kemudian perhatiannya kembali pada Aditya yang sepertinya ada yang hendak disampaikan.


“Ma.. pa.. sebenarnya ada yang mau aku obrolin,” Aditya membuka percakapan.


“Ada apa sayang?” Ida membelai kepala anak bungsunya ini.


“Ma.. pa.. aku.. mau menikah.”


“Apa??!!!”


Kompak Toni dan Ida terkejut mendengar penuturan Aditya. Mata mereka menatap lekat pada Aditya. Kabar ini tentu saja mengejutkan mereka. Usia Aditya yang masih 21 tahun dan saat ini tengah meniti mimpinya, tiba-tiba memutuskan untuk menikah, melewati kakak dan juga tantenya.


“Kamu bercanda kan, Dit?” tanya Ida.


“Ngga, ma. Aku serius, aku mau menikah dengan Dewi. Sabtu depan aku mau melamarnya secara resmi. Aku harap mama dan papa mau mengantarku.”


“Tunggu… tunggu… tunggu.. kenapa kamu tiba-tiba mau nikah? Kamu nda hamilin anak orang kan?”


“Astaghfirullah, ngga ma.”


“Terus maksud kamu apa mau nikahin dia? Kamu masih muda, baru 21 tahun. Harusnya yang menikah itu tante kamu, bukan kamu.”


Sontak Pipit melihat pada sang kakak, lagi-lagi dirinya diseret dalam masalah pernikahan. Adrian menepuk tangan Pipit, meminta wanita itu untuk bersabar. Ida melihat pada suaminya, mencoba mendapatkan dukungan dari Toni.


“Papa memangnya setuju? Kalau mama, nda. Lagi pula kita belum tau anaknya seperti apa. Menikah itu bukan perkara gampang. Kita harus tahu bibit, bebet dan bobotnya. Jangan asal comot perempuan buat dijadikan istri.”


“Dewi, perempuan baik-baik, ma!”


Nada Aditya sedikit meninggi karena tak terima dengan ucapan sang mama yang terkesan menyudutkan Dewi.


“Dewi itu dulu muridku di sekolah, dan sekarang mahasiswiku di kampus. Aku juga tahu kedua orang tuanya. Dia anak baik, solehah dan berasal dari keluarga baik-baik,” Adrian mencoba meluruskan sekaligus meredakan ketegangan yang terjadi.


“Lalu bagaimana dengan orang tuanya? Apa mereka setuju anaknya menikah? Pasti umurnya juga masih muda,” lanjut Ida.


“Dewi udah yatim piatu. Ibunya baru aja meninggal sebulan yang lalu,” jawab Adrian.


“Jadi.. karena kedua orang tuanya meninggal, kamu mau menikahi dia, gitu? Kamu mau bertanggung jawab sama kehidupannya? Memangnya dia udah nda ada keluarga?”


“Bukan begitu, ma,” balas Aditya.


“Apapun alasanmu, pokoknya mama nda setuju!! Sama sekali nda setuju!!” tegas Ida.


“Papa juga ngga setuju. Kamu masih muda, masih banyak hal yang harus kamu raih. Kalau kamu menikah, maka perhatianmu akan terbagi. Kamu juga harus bertanggung jawab pada istrimu. Apa kamu lupa kalau sebentar lagi akan masuk dapur rekaman? Fokus saja pada hidupmu, jangan berpikir yang aneh-aneh. Pembicaraan ini selesai!”


Toni bangun dari duduknya, tanpa menoleh pada Aditya lagi, dia segera meninggalkan ruang tengah lalu masuk ke dalam ruang kerjanya. Begitu pula dengan Ida, wanita itu juga memilih menuju dapur. Baginya pembicaraan Aditya tentang pernikahan hanyalah pembicaraan tidak penting.


“Mama dan papa setuju atau tidak, aku akan tetap menikah dengan Dewi!”


Langkah Toni dan Ida terhenti mendengar ucapan anak bungsunya. Aditya bangun dari duduknya lalu masuk ke dalam kamarnya. Niatnya sudah bulat untuk menikahi Dewi, walau mendapat tentangan dari kedua orang tuanya. Pipit segera mengajak kakaknya menuju ruang makan. Dia perlu berbicara empat mata, membujuk kakaknya itu untuk menyetujui pernikahan Aditya.


“Pa.. bisa kita bicara?”


Adrian bangun lalu mendekati Toni. Tanpa menjawab pertanyaan Adrian, Toni melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Adrian segera menyusul ayahnya itu. Bagaimana pun juga dia harus membujuk Toni. Dia tak mau Aditya merasa tak mendapatkan dukungan dan meninggalkan rumah ini lagi.


“Kalau kamu hanya ingin membujuk papa untuk menyetujui rencana Aditya, lebih baik kamu keluar. Papa tidak akan menyetujuinya, tidak akan!”


“Kenapa? Kenapa papa tidak menyetujuinya? Apa karena bibit, bebet, bobot yang mama katakan?”


“Papa tidak peduli dengan itu semua. Pokoknya papa tidak setuju dia menikah!!”


“Kenapa papa selalu menentang keputusan Adit? Papa tahu bagaimana Adit, dia tidak akan melakukan itu jika tidak yakin dengan keputusannya. Tidak bisakah kali ini papa mengalah dan mendukungnya?”


“Kalau dia mau menikahi perempuan lain, mungkin papa akan setuju. Tapi tidak dengan Dewi! Sampai kapan pun papa tidak menyetujuinya.”

__ADS_1


“Apa yang salah dengan Dewi? Aku sudah mengatakan tadi kalau Dewi anak yang baik. Keluarganya juga baik-baik, apa yang salah dengannya?”


“Karena kamu mencintainya!!”


Adrian terhenyak mendengarnya. Tubuhnya sampai mundur beberapa langkah ke belakang. Toni membalikkan tubuhnya menghadap meja kerjanya. Kedua tangannya ditumpukkan pada tepi meja dengan kepala menunduk. Pria itu kembali mengingat kejadian yang sudah setahun lebih berlalu tapi masih terekam jelas di kepalanya.


Malam di mana dirinya untuk pertama kali melihat pertunjukkan Aditya di café. Toni yang baru saja keluar dari toilet, tanpa sengaja melihat Dewi dan Adrian berbicara di halaman belakang. Pria itu terpaku saat mendengar pernyataan cinta anak sulungnya itu pada Dewi. Walau Dewi tidak mempercayainya, namun dia tahu kalau Adrian memang mencintai Dewi. Dan dia mengalah demi Aditya.


“Tidak bisakah papa berpura-pura tidak tahu soal ini?”


“Bagaimana? Bagaimana caranya papa bisa mengabaikannya?” Toni membalikkan tubuhnya, melihat pada Adrian.


“Bagaimana mungkin papa menyetujui pernikahan ini? Di satu sisi Adit bahagia, tapi di sisi lain kamu terluka. Kalian anak papa! papa tidak bisa melakukannya. Apa kamu sanggup melihat perempuan yang kamu cintai menghabiskan hidupnya bersama dengan adikmu? Apa kamu sanggup?”


Tak ada tanggapan dari Adrian. Pria itu menyandarkan punggung ke tembok di belakangnya. Tubuhnya sedikit membungkuk, dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Toni berjalan mendekati anaknya, kemudian menepuk pundak Adrian, membuat sang empu kembali menegakkan tubuhnya.


“Ad…”


“Apa papa pernah memikirkan perasaan Adit saat papa memberiku banyak perhatian dan pujian, tetapi papa mengabaikannya? Apa papa pernah memikirkan bagaimana perasaannya, saat papa memberiku barang-barang bagus dan tak pernah membelikannya apapun? Apa papa pernah memikirkan perasaannya? Apa pernah pa?”


“Ad..”


“Apa papa tahu, sikap papa yang seperti ini meninggalkan beban di hatiku? Apa papa tahu ketakutan yang kurasakan? Aku takut Adit membenciku, menganggapku musuh karena diriku selalu menjadi penghalang untuknya mendapatkan kasih sayang dan perhatian papa. Apa papa tahu betapa kuatnya aku berusaha menjadi kakak yang baik untuknya? Aku berusaha memberikan semua yang tidak bisa dia dapatkan dari papa!”


Pegangan tangan Toni di pundak Adrian terlepas. Tubuhnya sedikit limbung mendengar perkataan putra sulungnya yang selama ini menjadi anak kesayangan dan kebanggaannya. Kerongkongannya terasa tercekat dan hanya bisa mampu memandang Adrian dengan tatapan sendu.


“Bisakah papa abaikan rasa sakitku kali ini saja? Berikan restumu untuk Adit. Aku akan sangat menghargai kalau papa melakukan itu. Sekali ini saja, tolong ringankan beban hatiku.”


Adrian keluar dari ruang kerja Toni tanpa menunggu jawaban pria itu. Dia segera masuk ke dalam kamarnya. Pria itu menghampiri meja kerjanya, kemudian menjatuhkan semua yang ada di sana sambil berteriak kencang.


“Aaarggghhh!!!”


Adrian jatuh terduduk di lantai. Kedua tangannya meremat kencang rambutnya. Kepalanya menunduk menatap lantai kamarnya. Dia tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Kesal karena sang ayah yang kembali menunjukkan kekeras kepalaannya, atau kecewa pada dirinya yang tidak berani memperjuangkan kebahagiaannya sendiri.


Sementara itu di ruang makan, Pipit juga tengah berusaha membujuk Ida agar mau memberikan restu untuk Aditya. Dia tidak menyangka kalau kakaknya itu menentang pernikahan Aditya.


“Mba.. ayolah, kenapa mba ngga setuju dengan pernikahan Adit?”


“Adit itu masih muda, baru 21 tahun. Bagaimana mungkin dia mau nikah, kerja juga belum mapan. Untuk menghidupi dirinya sendiri aja masih susah, apalagi menafkahi istrinya. Kamu aja yang udah tua masih belum mau nikah.”


“Kamu kenapa sih ngotot banget? Emang kamu kenal dengan calonnya Adit? Anak mana sih? Katanya orang tuanya sudah meninggal?”


“Iya, mba. Bukan cuma aku, tapi Ad juga kenal. Memang ada yang salah kalau dia anak yatim piatu? Emang maunya dia kehilangan orang tuanya saat masih muda? Please deh mba, kenapa mba jadi kolot begini?”


“Pokoknya mba nda setuju. Ini bukan karena Dewi itu anak yatim atau latar belakang keluarganya. Tapi karena Adit masih muda! Dia belum waktunya memikul tanggung jawab besar seperti itu. Dia itu masih kecil, kadang dia masih manja sama mba. Pokoknya nda…. Mba nda merestui!”


Pipit menghela nafas panjang, kakaknya ini benar-benar keras kepala. Wanita itu memilih meninggalkan kakaknya, rasanya percuma saja berbicara dengannya di saat hati dan kepala sang kakak masih panas. Masukan seperti apapun tidak akan diterima. Dia memilih melihat Aditya di kamarnya.


“Dit,” panggil Pipit sambil membuka pintu kamar Aditya.


Wanita itu segera masuk ke dalam kamar. Nampak Aditya tengah membereskan pakaiannya, mengepak ke dalam ransel. Dia juga terlihat membereskan peralatan musiknya, sepertinya pria itu bersiap untuk meninggalkan rumah untuk kedua kalinya. Pipit segera menghampiri keponakannya itu.


“Dit.. kamu mau kemana?”


“Aku mau keluar dari rumah ini. Aku salah, seharusnya aku ngga pernah kembali lagi ke rumah. Nyatanya mama dan papa tidak pernah menyanyangiku dan mendukung apa yang kulakukan.”


“Dit.. jangan gitu. Ayolah, kamu harus berpikir jernih.”


“Aku capek, tan. Aku ngga pernah dihargai di rumah ini, ngga pernah didengar pendapatnya. Lebih baik aku pergi, aku juga ngga butuh restu mereka untuk nikah.”


“Dit.. kita ngobrol sebentar.”


Pipit merangkul bahu keponakannya yang tengah dilanda emosi, kemudian membawanya duduk di tepi ranjang. Sejenak dipandanginya wajah Aditya yang terlihat keruh. Senyum keceriaan yang kemarin baru dilihatnya hilang tak bersisa pagi ini.


“Dit.. orang tuamu tidak menyetujui rencana pernikahanmu, bukan karena tidak menyayangimu. Tapi mereka punya pertimbangan sendiri. Usia kamu memang masih muda, wajar saja kalau mereka meragukan niat baikmu. Mamamu, sepertinya masih belum siap berbagi kasih sayang dengan istrimu. Dia takut kalau kamu lebih menyayangi dan memperhatikan istrimu dari pada dirinya. Berikan mereka waktu, tante janji akan terus berusaha membujuk mereka. Tapi kamu jangan pergi dari rumah karena itu bukan solusi. Kalau kamu seperti ini, bisa jadi mamamu malah menyalahkan Dewi nantinya.”


Aditya hanya membungkam mulutnya. Sejenak dia merenungi apa yang dikatakan sang tante barusan. Pria itu mengurungkan niatnya pergi dari rumah saat ini. Tapi bukan berarti dia tidak akan pergi jika kedua orang tuanya tak kunjung memberikan restu.


🌸🌸🌸


“Adit mana?” tanya Ida seraya meletakkan piring di atas meja makan. Wanita itu tengah menyiapkan makan siang mereka. Pipit dan Toni sudah berada di ruang makan, tapi kedua anaknya belum kelihatan batang hidungnya.


“Biar aku panggil.”


“Kamu panggil Ad saja. Biar mas yang panggil Adit.”

__ADS_1


Toni bangun dari duduknya kemudian berjalan menuju kamar Aditya. Di belakangnya menyusul Pipit yang hendak memanggilkan Adrian. Dari tempatnya berdiri, Ida memandangi punggung suaminya yang tengah masuk ke dalam kamar anak bungsunya. Berharap suaminya itu bisa membujuk sang anak untuk membatalkan rencana pernikahannya.


Pintu kamar Aditya terbuka, Toni masuk ke dalam kamar. matanya langsung tertuju pada dua ransel yang sudah siap di sisi lemari pakaian. Dia juga melihat gitar sang anak sudah berada di dalam tasnya, ditempatkan di dekat tas ranselnya. Sepertinya sang anak memang sudah siap untuk kembali meninggalkan rumah.


“Adit.. ayo makan dulu, mamamu sudah memasak banyak makanan untuk kalian.”


Tak ada jawaban dari Aditya. Pria itu masih diam berbaring di atas kamar dengan sebelah tangan menutupi wajahnya. Toni mendekati ranjang Aditya kemudian mendudukkan diri di tepinya.


“Adit.. apa kamu serius ingin menikah muda?”


Aditya sama sekali tidak berminat menjawab pertanyaan papanya. Pria itu masih setia mengatupkan mulutnya. Bahkan posisinya tidak berubah sedikit pun. Toni memandangi sejenak anaknya ini. Sungguh berat keputusan yang harus diambilnya kini. Jika dia menyetujui pernikahan Aditya, Adrian akan terluka. Tapi jika dia menentangnya, bisa jadi dia kehilangan kedua anaknya.


“Kalau kamu serius dengan ucapanmu dan mau bertanggung jawab dengan semua konsekuensinya, baiklah.. papa merestuimu. Papa akan mengantarmu melamar Dewi secara resmi.”


Aditya mengangkat tangannya kemudian menegakkan tubuhnya. Kini kedua pria berbeda generasi itu saling duduk berhadapan dan menatap. Toni memegangi kedua pundak anaknya.


“Apa kamu mencintai Dewi?”


“Iya.”


“Kamu bersedia bertanggung jawab atas hidupnya, dunia akhirat?”


“Iya, pa.”


“Berjanjilah kamu tidak akan menyesali keputusanmu.”


“Ngga, pa.”


“Baiklah. Papa merestuimu. Seminggu ini persiapkan apa saja yang akan kamu bawa untuk melamar Dewi nanti,” Toni menepuk pelan rahang anaknya.


“Terima kasih, pa.”


“Ayo kita makan dulu. Kamu perlu membujuk mamamu bukan?”


Hanya senyuman yang diberikan Aditya. Pria itu beranjak dari tempatnya. Sambil merangkul bahu sang anak, Toni keluar dari kamar bersama dengan Aditya. Ida menyambut kedua pria yang sangat disayanginya dengan senyuman. Dia menduga kalau Toni sudah berhasil membujuk anaknya.


Lain Toni, lain Pipit. Wanita itu tengah membantu Adrian membereskan kamarnya yang sedikit berantakan. Dia tak ingin bertanya apa yang membuat keponakannya itu begitu emosi hingga membuat kondisi kamarnya berantakan. Pipit meletakkan kertas terakhir di atas meja kerja Adrian.


“Ayo makan dulu,” ajak Pipit.


“Aku ngga lapar.”


“C’mon.. kenapa keponakan tante jadi merajuk seperti ini. Tante tahu kamu sayang banget sama Adit. Tapi bukan begini caranya membujuk kedua orang tuamu.”


“Entahlah tan. Aku capek.”


Adrian menghempaskan bokongnya di kursi kerjanya. Sebelah tangannya menyugar rambutnya dengan kasar seraya memejamkan matanya. Pipit mendekat lalu menaruh menyandarkan bokongnya ke pinggiran meja.


“Ad.. aku tau kalau kamu menanggung beban yang berat. Kamu selalu mendorong dirimu untuk melakukan hal yang lebih dari kemampuanmu demi Adit. Tapi.. bisakah untuk kali ini kamu berbagi beban denganku? Tidak selamanya kamu harus menanggung atas ketidakadilan yang papamu lakukan. Kali ini biarkan aku yang membantumu, hmmm?”


“Kalau papa dan mama bersikeras menentang pernikahan Adit. Aku juga akan keluar dari rumah ini.”


“Ad..”


“Aku ngga lapar. Aku cuma mau istirahat.”


Adrian memejamkan matanya. Pipit hanya bisa menarik nafas panjang melihat keponakannya ini. Aditya memang keras kepala, tapi dia lebih mudah dibujuk dari pada Adrian. Wanita itu akhirnya memilih keluar, membiarkan Adrian menenangkan pikirannya. Dia segera menuju ruang makan. Di sana sudah ada Aditya. Ternyata Toni sudah berhasil membujuknya.


“Mana Ad?” tanya Ida.


“Belum laper katanya.”


“Anak itu,” Ida sedikit kesal mendengarnya.


“Kita makan duluan aja, mba. Nanti aku yang anterin makanan ke kamarnya,” usul Pipit.


Ida menuruti saja apa kata adiknya. Dia segera mengambilkan makanan untuk suaminya. Pipit menyodorkan piring berisi lauk pada Aditya, mempersilahkan keponakannya itu mengambil lebih dulu. beberapa kali Ida melirik pada anak bungsunya itu. Mencoba mencari tahu apakah Aditya mengurungkan niatnya menikahi Dewi.


“Pit.. tolong bantu mba mu menyiapkan hantaran untuk melamar Dewi,” ujar Toni di tengah acara makan siang mereka. Ida langsung menolehkan kepalanya pada sang suami.


“Mas..”


**🌸🌸🌸


Siapa yang jawab orang yang nguping pembicaraan Dewi & Adrian di cafe, pak Toni🙋**

__ADS_1


__ADS_2