
Dewi keluar dari kamar sambil memegangi perutnya yang semakin membuncit. Kehamilannya kini sudah menginjak usia delapan bulan. Dia mencari-cari keberadaan suaminya, sampai bertanya pada asisten rumah tangganya. Ternyata Adrian tengah berada di kamar Arkhan, dia sedang menggantikan baju anaknya itu.
Setelah mengganti pakaian Arkhan, pria itu mengajak sang anak untuk turun. Penampilan Arkhan sendiri sudah rapih. Mengenakan kaos berkerah, celana jeans yang panjangnya hanya sebatas lutut dan juga sepatu. Sore ini Adrian bermaksud mengantar sang istri mengikuti senam kehamilan. Dan Arkhan tentu saja dititipkan di rumah orang tuanya.
“Sudah siap?” tanya Adrian.
“Sudah, a. Ya ampun anak mama udah ganteng gini.”
“Mama mau cenam ya?” tanya Arkhan.
“Iya, sayang. Abang Arkhan di rumah nenek dulu ya.”
“Iya. Cama Ozid nda?”
“Ngga, sayang. Ozid ada di rumahnya.”
Wajah Arkhan menunjukkan kekecewaan, dia memang paling senang bermain dengan Zidan. Dewi mengambil tasnya, sambil menggandeng sang anak, mereka segera menuju mobil. Arkhan duduk di depan seorang diri, sedang Dewi di belakang. Adrian memasangkan seat belt ke tubuh anaknya itu.
“Bismillah.”
Adrian mulai menjalankan kendaraannya. Dia terlebih dulu menuju kediaman orang tuanya. Selama dalam perjalanan, Arkhan terus saja bernyanyi mengikuti lagu anak yang diputar lewat audio mobil. Sejak kecil, suara Arkhan sudah terdengar merdu, mengikuti jejak sang papa.
“Muhammadku.. Muhammadku.. dengarkan ceruanku aku lindu.. aku lindu.. padamu Muhammadku.”
Dewi hanya tersenyum saja melihat Arkhan yang sedang bernyanyi. Dia senang sekali mendengarkan lagu-lagu dari Haddad Alwi, selain itu dia juga suka mendengar lagu Maher Zain. Adrian memang memilihkan lagu-lagu bertema religi pada sang anak. Karena sekarang, lagu anak sendiri sudah sangat jarang.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, mereka tiba di kediaman Toni. Dewi turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk anaknya. Tak lupa dia melepaskan sabuk pengaman dari tubuh anak itu. Arkhan langsung loncat turun dari mobil. Sambil berlari dia masuk ke dalam rumah.
“Accalamu’alaikum..”
“Waalaikumsalam. Eh ada cucu nenek yang ganteng.”
Ida menyambut kedatangan cucunya kemudian memeluknya. Setiap seminggu tiga kali Dewi menitipkan anaknya kalau sedang mengikuti kelas senam kehamilan. Tentu saja Ida sangat senang kalau Arkhan dititipkan di rumah.
“Kakek mana?”
“Kakek belum pulang kerja. Sebentar lagi.”
“Aku mau cucu.”
“Minta ke bi Par..”
Belum selesai Ida bicara, Arkhan segera berlari menuju dapur. Dia mengejutkan Parmi yang sedang mencuci piring. Tahu apa yang diinginkan anak itu, Parmi segera membuatkan susu untuk Arkhan. Sementara di depan, Dewi dan Adrian bermaksud langsung pergi menuju tempat senam.
“Wi.. perkiraan kamu lahir berapa minggu lagi?”
“Kalau ngga ada halangan lima minggu lagi, ma.”
“Menjelang HPL kalian tinggal di sini aja. Kalau tiba-tiba Dewi kontraksi pas kamu ngga di rumah repot nanti. Mana harus ngurus Arkhan," Ida melihat pada Adrian.
“Iya, ma.”
“Pergi dulu, ma.”
Adrian mencium punggung tangan Ida, disusul oleh Dewi. Keduanya segera masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian kendaraan roda empat tersebut meluncur pergi. Jarak dari rumah Toni ke tempat senam tidak terlalu jauh, hanya berkisar sepuluh sampai lima belas menit saja.
Mobil Adrian terparkir di depan ruko tempat Dewi biasa melakukan senam hamil. Teman satu shift Dewi sudah datang didampingi oleh suaminya masing-masing. Kali ini instruktur mengajak para suami untuk ikut terlibat dalam kegiatan senam hamil. Mereka segera menempati di tempat yang sudah ditentukan.
Pertama-tama para ibu hamil melakukan gerakan seperti biasa secara mandiri. Kemudian intrsuktur memanggil para suami untuk membantu istrinya melakukan gerakan selanjutnya. Dewi berdiri berhadapan dengan Adrian. Kakinya dibuka lebar dan lututnya sedikit ditekuk. Adrian melakukan hal sama, kemudian kedua tangan mereka saling berpegangan. Beberapa kali mereka melakukan gerakan tersebut.
Ternyata melakukan senam hamil cukup melelahkan juga. Baru kali ini para suami ikut dilibatkan. Gerakan selanjutnya ibu hamil menggunakan bola karet besar sebagai media untuk melakukan gerakan. Adrian membantu Dewi melakukan gerakan-gerakan yang diperagakan sang instruktur.
Tak terasa mereka sudah melakukan senam selama tiga puluh menit lamanya. Sang instruktur segera mengakhiri senam. Peserta dipersilahkan untuk beristirahat sebelum pulang. Adrian membantu Dewi untuk berdiri. Dia mengambilkan minuman yang tadi dibawaknya. Dengan sapu tangan handuk dia mengelap keringat yang membasahi kening sang istri.
“Cape ya, sayang?”
__ADS_1
“Lumayan, a. Namanya juga senam.”
“Habis dari sini mau langsung pulang atau mau mampir beli makanan dulu?”
“Aku mau beli Red Velvet Mille Crepes. Kemarin lihat di IG, bikin ngiler.”
“Beli di mana?”
“Di Victory Cake and Pastry.”
“Ok.”
“Aku ganti baju dulu, a.”
Adrian bangun kemudian membantu istrinya berdiri. Dewi membawa tas berisi pakaian gantinya, lalu masuk ke ruang ganti. Tak berapa lama dia kembali, tubuhnya sudah terbalut gamis lagi. Adrian berpamitan pada yang lain lalu keluar dari ruangan. Hembusan angin sore membuat tubuh Dewi sedikit segar. Setelah aktivitas senam yang menguras keringat.
🌸🌸🌸
Dewi berjalan mondar-mandir di ruang tengah. Saat ini dirinya sedang berada di kediaman Toni. Sesuai janjinya, dia tinggal di rumah mertuanya menjelang HPL. Dari saat ini dia tengah merasakan mulas di perutnya. Kontraksi sudah dirasakan sejak tadi pagi, namun wanita itu masih menahannya sampai intensitasnya bertambah sering.
Dari arah dapur Ida datang sambil membawakan minuman untuk menantunya. Dia membantu Dewi duduk lalu mengusap pinggangnya. Dewi meneguk minuman yang dibawa Ida lalu menaruhnya di atas meja. Dia menarik dan mengeluarkan nafas ketika kontraksi kembali dirasakannya.
Toni datang sambil menggendong Arkhan. Dia duduk di depan menantunya. Arkhan turun dari pangkuan Toni lalu mendekati Dewi. Dia menatap wajah sang mama yang nampak meringis menahan sakit.
“Mama kenapa?”
“Mama lagi mules. Sebentar lagi adeknya Arkhan mau keluar,” jawab Ida.
“Kelualnya dali mana?”
“Dari bawah,” jawab Ida lagi.
Arkhan langsung berjongkok, dia bermaksud mengintip dari bawah gamis yang dikenakan Dewi. Wanita itu langsung menahan tangan sang anak. Ringisannya berubah menjadi tawa kecil, Ida dan Toni pun tidak bisa menahan tawanya melihat ulah sang cucu.
“Ad sudah dihubungi?” tanya Toni.
Baru saja Dewi selesai menjawab, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Bergegas Adrian turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam rumah. Matanya langsung tertuju pada Dewi yang tengah duduk di sofa.
“Sayang.. kamu udah mau lahiran?”
“Kayanya, a. Ini kontraksinya udah mulai sering.”
“Ayo ke rumah sakit sekarang.”
“Ini tasnya jangan lupa dibawa. Mama sama papa nyusul. Kalau Dewi udah mau melahirkan kasih tahu, ya. kalau ikut sekarang takutnya masih lama. Kasihan Arkhan kelamaan di rumah sakit.”
“Iya, ma.”
Adrian mengambil traveling bag berisi perlengkapan calon anaknya. Kemudian dia menuntun Dewi menuju mobil yang ada di depan rumah. Setelah membantu sang istri masuk ke dalam mobil, Adrian segera masuk dan memacu kendaraannya.
Sesekali terdengar ringisan Dewi ketika kontraksi kembali melandanya. Selama menyetir, perhatian Adrian terbagi antara jalan dan juga istrinya. Apalagi saat melihat Dewi yang terlihat kesakitan. Pria itu memacu kendaraannya lebih cepat lagi untuk sampai di rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Seorang suster langsung menyambut kedatangan Dewi dan membawanya ke lantai di mana ruang persalinan berada. Tadi saat akan menjemput Dewi, Adrian sudah menghubungi rumah sakit, mengabarkan soal kedatangannya.
“Pembukaan enam, dok. Sepertinya ngga lama lagi.”
Ujar Bidan yang memeriksa keadaan Dewi. Dokter Puspa hanya menganggukkan kepalanya. Dia meminta Dewi berjalan-jalan sebentar untuk mempercepat proses pembukaan. Dibantu Adrian, Dewi keluar dari ruang bersalin dan berjalan-jalan di sekitarnya. Sesekali dia berhenti saat merasakan sakit yang mendera.
“Sssshhh.. sakit, a.”
“Tahan sayang, sebentar lagi anak kita lahir.”
Sambil membantu Dewi berjalan, Adrian terus mengusap pinggang sang istri. Beberapa suster yang bertugas di lantai lima melihat pada pasangan tersebut. Adrian begitu sabar saat menemani istrinya. Tak jarang cubitan Dewi mendarat di lengan Adrian ketika merasakan kontraksi. Namun pria itu tidak mengeluh sama sekali.
Sepuluh menit berlalu, sang bidan memanggil Dewi untuk masuk ke ruang tindakan. Dia akan memeriksa kembali keadaan Dewi. Adrian membantu Dewi naik ke bed partus. Bidan tersebut membuka kaki Dewi lalu memeriksa bagian intinya.
__ADS_1
“Sudah pembukaan delapan, bu. Ibu di sini aja, ya. Ngga lama lagi kayanya lengkap.”
“Iya.”
Adrian tetap setia berada di samping Dewi. Tangannya mengusap kening sang istri yang berkeringat karena menahan rasa sakit. Sebelah tangannya terus menggenggam tangan Dewi. Bibirnya terus membacakan doa untuk sang istri. Lama kelamaan intensitas kontraksi semakin sering saja. Melihat itu, bidan kembali memeriksa keadaan Dewi.
“Pembukaannya sudah lengkap. Panggilkan dokter Puspa.”
Seorang suster langsung keluar setelah mendapat perintah dari sang bidan. Wanita itu juga meminta Dewi bersiap melakukan persalinan. Adrian terus berada di sisi sang istri untuk memberinya kekuatan. Tak lama kemudian dokter Puspa datang. Bersama dengan bidan, dia bersiap untuk membantu Dewi melahirkan anaknya.
Beberapa kali Dewi berusaha mengeluarkan sang anak yang sepertinya sudah berada di ujung. Adrian memandunya melakukan pernafasan sambil terus menyemangatinya. Persalinan kali ini tidak seberat saat melahirkan Arkhan dulu. Dewi menarik nafas beberapa kali, lalu menarik nafas panjang. Dia bersiap untuk mengejan.
“Eehhhmmmmm!!”
Dewi mengatupkan mulutnya, menahan teriakan agar tidak keluar. Percobaan pertama masih gagal, dia mengatur nafas yang terengah. Pelan-pelan dia mengambil nafas lagi beberapa kali lalu bersiap mengejan.
“Tahan sebentar, bu. Digunting aja ya, bu. Ini takutnya robek kemana-mana.”
Dewi hanya menganggukkan kepalanya dengan pasrah. Dokter mengambil gunting dan mulai menggunting jalan lahir untuk anaknya. Setelah selesai, sang dokter kembali memberi aba-aba. Dewi menarik nafas panjang dan kembali mengejan dengan sekuat tenaga.
“Eehhhmmmmm!!”
OEK
OEK
OEK
Tubuh Dewi terkulai ketika akhirnya dia bisa melahirkan bayi perempuan yang cantik. Mata Adrian berkaca-kaca melihat bayi mungil di tangan sang suster. Beberapa kali dia mendaratkan ciuman di puncak kepala Dewi.
“Anak kita sudah lahir. Terima kasih, sayang.”
Dewi membalas senyum Adrian dengan senyum tipis. Tenaganya sudah habis terkuras, tubuhnya terasa lemas. Tapi perasaannya lega, bisa melahirkan anaknya dengan selamat. Suster segera membawa bayi cantik itu untuk dibersihkan, ditimbang dan diukur. Sedang bidan bersiap untuk menjahit bagian inti Dewi yang di kelahiran keduanya ini kembali kena gunting.
“Selamat ibu, bapak. Anaknya lahir dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Beratnya 2,7 kg dan tingginya 47 cm.”
“Alhamdulillah.”
Suster memberikan bayi mungil itu pada Adrian untuk diadzani. Adrian menggendong anaknya lalu mulai melantunkan adzan di telinga kanan anaknya. Usai mengadzani anaknya, Adrian mencium puncak kepala anaknya lalu memberikannya kembali pada suster. Perawat tersebut kemudian mendekati Dewi, dia menaruh sang anak di atas dada wanita itu untuk melakukan inisiasi dini. Mata Adrian terus memandangi wajah anaknya tanpa berkedip.
🌸🌸🌸
Kamar perawatan Dewi sudah didatangi oleh Ida, Toni, bi Iis, Roxas, Pipit, enin, Lisa, Amir dan istrinya. Bergantian mereka melihat bayi mungil berjenis kelamin perempuan tersebut. Wajahnya kolaborasi antara Dewi dan Adrian, dan yang pasti sangat cantik. Ida dan Toni terlihat sangat bahagia, setelah mendapatkan cucu kedua mereka.
Adrian mengangkat tubuh Arkhan, agar anak itu bisa melihat adiknya. Senyum tercetak di wajah Arkhan. Dia senang bisa melihat sang adik yang sudah lahir ke dunia.
“Itu adeknya, abang. Abang sayang ngga sama adek?” tanya Adrian.
“Cayang, ayah. Tapi dedenya bobo teyus.”
“Iya, dedenya abis nyusu, jadinya ngantuk.”
“Dede bangun, main cama abang.”
Tawa kecil Adrian terdengar saat Arkhan berbicara seperti itu. Anak itu lalu minta turun saat melihat Zidan sudah bangun dari duduknya. Dia segera menghampiri om kecilnya itu. Toni mendekati Adrian lalu memeluk bahu sang anak.
“Selamat, Ad. Anakmu cantik sekali.”
“Makasih, pa.”
“Siapa namanya?”
“Davira Putri Pratama.”
🌸🌸🌸
__ADS_1
**Selamat Dewi dan Adrian, keluarga kalian sudah lengkap sekarang.
Besok In Syaa Allah part terakhir NR ya. Berhubung semua sudah bahagia. Sudah waktunya juga cerita ini berakhir🤗**