
Sejak mengetahui perasaan Adrian pada Dewi dan pengorbanan sang kakak, Aditya semakin menyayangi Dewi dan Arkhan. Dia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan dua orang yang sangat disayanginya itu. Pria itu yakin, jika Adrian melihat kebahagiaan Dewi, maka dia juga akan merasa bahagia.
Aditya tidak selalu sering berkunjung ke rumah orang tuanya. Kalau pun berkunjung, dia tak menginap. Ini demi mengurangi rasa sakit yang mungkin saja dirasakan Adrian. Dia tak tega harus membuat sang kakak melihat kebersamaannya dengan Dewi.
Aditya juga lebih sering mengajak Dewi dan Arkhan ketika dirinya harus tampil menghibur penggemarnya di café, atau mengikuti proses syuting video klip terbarunya. Tentu saja semua yang dilakukan Aditya semakin membuat Dewi bahagia. Mereka juga sudah membicarakan membeli hunian baru.
“Yang.. lihat nih, ada perumahan baru, bagus juga. Fasilitasnya lengkap. Lokasinya juga ngga terlalu jauh dari pusat kota, gimana menurut kamu?”
Dewi mengambil brosur di tangan Aditya. Dibacanya dengan serius brosur tentang perumahan baru yang dikatakan suaminya. Aditya mengambil Arkhan dari gendongan Dewi kemudian menaruh di atas dadanya sambil membaringkan diri. Tubuh anaknya semakin bulat saja.
Beberapa kali terdengar suara tawa Arkhan ketika Aditya menampilkan mimik wajah yang membuat anak itu tergelak. Aditya senang sekali jika sudah melihat anaknya tersenyum atau tertawa. Lesung pipinya akan terlihat jika anaknya tersenyum. Dengan gemas dia menciumi wajah Arkhan.
“Anak papa ganteng banget sih, sehat lagi kaya mamanya. Makannya gembul ya,” Aditya melirik pada Dewi yang tubuhnya masih terlihat montok.
Pria itu tergelak ketika Dewi memukul lengannya. Momen-momen seperti ini yang dirindukannya. Berbincang dan bercanda dengan anak istrinya. beruntung Wira mengabulkan permintaannya untuk cuti selama dua bulan. Sudah sebulan ini dia hanya menghabiskan waktu di rumah saja dan berjalan-jalan bersama.
“Gimana kalau nanti sore kita ke pameran rumah?”
“Di mana?”
“Di Braga. Sambil jalan-jalan, mau ngga?”
“Boleh.”
“Dede bobo dulu ya sekarang, nanti sore kita jalan-jalan. Papa sama mama juga mau bobo, ya kan ma,” Aditya melirik pada Dewi.
Mengerti akan arti lirikan suaminya, Dewi hanya mencebikkan bibirnya. Dia menaruh brosur di tangannya, kemudian ikut membaringkan diri di dekat suaminya. Aditya menaruh Arkhan di tengah-tengah mereka. Dewi bersiap untuk menyusui sang anak yang sudah mulai rewel. Aditya merubah posisinya menjadi miring, dan menyangga kepala dengan sebelah tangannya.
“Duh.. kenceng banget nyedotnya Dede. Sisain buat papa ya.”
“Ish.. dasar papa omesh.”
“Biar omesh, mama juga suka kan? Itu tangannya sudah mengarah ke daerah berbahaya.”
Kembali tepukan diberikan pada Dewi ke lengan Aditya, membuat sang empu hanya terpingkal saja. Aditya memang senang mengganggu istrinya, apalagi kalau Dewi sudah memperlihatkan wajah cemberutnya.
“De.. kamu mau lanjut kuliah kapan?”
“Nanti aja mas, tahun ajaran baru. Kalau Arkhan udah setahun enak ditinggalnya. Kan udah ngga asi eksklusif lagi.”
“Ok, deh. Aku nurut aja sama kamu. Nanti kamu ngga sekelas lagi sama Sheila ya.”
“Iya, dia bakalan jadi kating aku, hihihi..”
“Duh aku kok jadi deg-degan ya kamu balik ke kampus.”
“Deg-degan kenapa?”
“Takutnya banyak yang nyangka kamu masih jomblo terus ngejar-ngejar kamu.”
“Preett..”
“Aku bikin tato aja di jidat kamu. Milik Aditya, ngga boleh diganggu.”
“Lebay.”
“Hahaha…”
Dewi menaruh telunjuk ke bibirnya. Aditya menghentikan tawanya setelah melihat anaknya mulai tertidur. Dia segera berpindah tempat ke belakang Dewi lalu memeluk tubuh istrinya itu. tangannya bergerak mengusap perut, pinggul dan bokong sang istri.
“Yang..”
“Apa..”
“Mumpung Arkhan bobo. Aku juga mau dong disusuin.”
“Ish..”
“Ngga mau nih?”
“Nanti.. Arkhannya belum pules.”
“Tapi kamunya jangan ikutan tidur juga.”
“Ngga janji hihihi…”
Tubuh Dewi bergerak-gerak menahan geli ketika Aditya menciumi tengkuknya. Perlahan dia melepaskan diri dari Arkhan kemudian membalikkan tubuhnya. Aditya langsung mencium bibir sang istri dengan lembut.
🌸🌸🌸
Pipit dan Rendi duduk berhadapan di sebuah restoran. Dari raut wajahnya, nampak sekali kalau keduanya tengah membicarakan hal serius. Rendi terus memandangi kertas di tangannya yang berisikan laporan Pipit tentang perpindahan saham yang terjadi sebulan belakangan ini. Mahes sudah berhasil menguasai lima persen saham Amarta hotel.
“Ternyata cepat juga anak itu bergeraknya,” ujar Rendi.
“Tapi Mahes mendapatkan saham dengan cara yang legal. Dia mendekati pemegang saham minoritas dan membujuknya untuk menjual padanya. Rasanya sulit kalau melaporkannya ke polisi untuk hal ini. Kecuali ada yang bersaksi kalau Mahes mendapatkan saham tersebut dengan cara curang.”
__ADS_1
“Kamu sudah tahu siapa orang yang sudah membantunya di hotel?”
“Sudah, pak. Dia pak Nizar, manager keuangan. Dia sudah bekerja di hotel sejak hotel berdiri, jadi wajar saja kalau dia tahu semua seluk beluk hotel.”
“Apa kamu sudah mendapatkan buktinya?”
“Belum. Mereka bermain cantik, tidak ada tindakan korupsi yang terdeteksi. Tapi saya akan terus menggalinya. Dan saya juga curiga kalau masih ada lagi kaki tangannya yang lain.”
“Terima kasih, Pit. Terus awasi Mahes.”
“Tapi kalau saya tidak bisa menemukan buktinya, saya harap bapak mencari cara lain kalau mau menjatuhkannya.”
“Iya.”
Setelah menghabiskan minumannya, Pipit berpamitan pulang. Dia keluar dari restoran bintang lima tersebut. Roxas sudah berjanji akan menjemputnya, namun pria itu belum juga sampai. Sambil berjalan, Pipit mengirimkan pesan pada suaminya. Dia akan menunggu di mini market yang ada di dekat restoran.
Roxas baru saja sampai di depan restoran ketika pesan dari Pipit masuk. Pria itu memarkirkan motornya di lahan parkir di sebrang restoran, kemudian menyusul sang istri yang belum menyadari kehadirannya.
Dengan tak melepaskan pandangannya pada Pipit, Roxas berjalan beberapa meter di belakang sang istri. Lalu tanpa sengaja matanya menangkap seorang pria menggunakan masker di wajahnya melakukan gerakan mencurigakan. Dilihatnya benda berkilat yang keluar dari saku jaketnya. Pria itu berjalan mendekati Pipit yang berlawanan arah dengannya.
Mengetahui bahaya yang mengintai sang istri, Roxas berlari cepat. Di saat bersamaan sang pria yang sudah siap dengan pisau di tangannya, mengarahkan pisau ke perut Pipit. Wanita itu terkejut ketika Roxas tiba-tiba menarik tangannya dan menghalangi pisau dengan tubuhnya.
SREETT
Pisau mengenai lengan Roxas. Tahu telah salah sasaran, pria tersebut segera lari. Roxas refleks langung mengejarnya. Pipit yang tidak tahu apa-apa ikut berlari mengejar suaminya. Di sebuah pertigaan, Roxas kehilangan jejak pria itu.
“Xas..” panggil Pipit.
Wanita itu terkejut ketika melihat darah keluar dari lengan suaminya. Segera dia mendekati Roxas, mengambil sapu tangan kemudian menempelkannya ke luka Roxas.
“Ini.. kenapa?”
“Ada orang yang berusaha celakain kamu tadi.”
“Ayo kita ke dokter dulu.”
Sambil terus memengangi luka Roxas, Pipit berjalan menuju tempat si hejo terparkir. Roxas segera menjalankan kendaraannya menuju rumah sakit terdekat. Dokter yang bertugas di UGD segera memberikan pertolongan pertama. Beruntung luka yang diderita Roxas tidak dalam. Mereka langsung pulang setelah luka Roxas diobati. Tapi sebelumnya mereka mendatangi kantor polisi terlebih dahulu untuk melaporkan kasus tersebut.
“Siapa yang mau celakain kamu?” tanya Roxas setelah mereka sampai di kontrakan.
“Ngga tau.”
“Apa ada orang yang ngga suka sama kamu? Atau kamu lagi bermasalah sama seseorang?”
“Aku ngga tau.”
“Lihat aku! Katakan apa yang kamu sembunyikan? Aku suamimu, keselamatanmu adalah tanggung jawabku. Kalau kamu hanya diam, bagaimana aku bisa melindungimu?”
Pipit melihat pada Roxas sejenak. Walau ragu, namun akhirnya dia menceritakan semua yang dikerjakannya akhir-akhir ini. Meski belum apa bukti jelas, tapi Pipit yakin kalau peristiwa tadi ada hubungannya dengan Mahes.
“Brengsek!” rutuk Roxas.
“Kamu jangan gegabah. Kita sudah lapor polisi. Tunggu aja penyelidikan polisi. Besok aku bakal temuin Mahes. Kalau benar dia yang rancang semuanya, dia pasti kaget lihat aku masih baik-baik aja.”
“Mulai besok jangan kemana-mana sendiri. Tunggu aku.”
“Iya.”
Roxas mendekati Pipit kemudian menariknya ke dalam pelukan. Kalau saja dia tidak bertindak cepat tadi, mungkin nyawa istrinya berada dalam bahaya. Tangan Pipit memeluk pinggang suaminya. Wanita itu bersyukur ada Roxas yang melindunginya tadi. Tapi dia takut kalau sang suami juga menjadi incaran Mahes.
🌸🌸🌸
BRAK
Pipit membuka pintu ruangan Mahes dengan kasar, bahkan wanita itu tidak mengetuk pintu lebih dulu. Tentu saja Mahes terkejut melihat kedatangan wanita itu yang tiba-tiba. Pipit menaruh kedua tangannya ke meja kerja Mahes. Matanya menatap tajam pada pria itu.
“Aku memang dipekerjakan di sini atas rekomendasi pak Rendi, untuk mengawasi pekerjaanmu, bukan memata-mataimu. Jika kamu tidak melakukan sesuatu yang merugikan hotel ini dan melakukan kecurangan, maka kamu tidak perlu merasa terancam olehku. Kalau kamu merasa mampu menjalankan hotel ini, maka jalankahlah dengan baik. Karena aku hanya melaporkan sesuai fakta yang kulihat di lapangan. Kuperingatkan kepadamu, kalau kamu mengirim orang lagi untuk menghabisiku, maka aku juga tidak akan tinggal diam. Aku sudah melaporkan insiden yang menimpaku semalam. Jangan sampai aku menyebut namamu di depan mereka, ingat itu!!”
Tanpa menunggu jawaban dari Mahes, Pipit segera keluar dari ruangan tersebut. Tapi dia sengaja berdiri di dekat pintu untuk mengetahui apa reaksi pria itu. Mahes nampak terkejut mendengar penuturan Pipit barusan. Dia segera mengambil ponselnya, kemudian menghubungi seseorang.
“Halo..”
“Halo.. apa kamu yang mengirim orang untuk menyakiti Pipit?”
“Iya.”
“Dasar gila!! Sudah kubilang, aku tidak menginginkan adanya tindakan kriminal. Aku ingin mendapatkan hotel ini dengan cara legal. Apa kamu tahu, karena kecerobohanmu, semua usahaku selama ini bisa gagal? Di mana otakmu?!!”
“Dia sudah tahu terlalu banyak.”
“Kalau terjadi sesuatu padanya, maka aku adalah orang pertama yang ditunjuk bang Rendi sebagai tersangkanya. Dan jika aku tertangkap, maka namamu juga akan terseret. Berhenti membuat kekacauan. Jauhi Pipit, jangan pernah menyentuhnya lagi, atau aku akan mengeluarkanmu dari permainan. Aku serius!”
Mahes meletakkan ponselnya ke meja setelah panggilan berakhir. Dengan kesal dia mengusap wajahnya kasar. Insiden yang menimpa Pipit tentu saja mengejutkannya. Mulai sekarang dia harus mengawasi dan mengendalikan partnernya itu. Jika tidak, semua usahanya akan gagal total.
Setelah mendengarkan pembicaraan Mahes dan seseorang, Pipit segera meninggalkan ruangan kerja Mahes. Melihat reaksi Mahes, berarti bukan pria tersebut yang melakukan upaya penusukan dirinya semalam. Otak Pipit berputar keras mencoba menebak siapa partner yang dihubungi oleh Mahes tadi.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Sepulang mengajar, Adrian tak langsung pulang ke rumah. Dia mendatangi kontrakan Aditya setelah mendengar insiden yang menimpa Roxas semalam. Apalagi ketika tahu sasaran sebenarnya adalah tantenya sendiri. Adrian tidak datang sendiri, melainkan bersama dengan Fajar, sahabatnya yang juga anggota kepolisian di bagian bareskrim.
Adrian, Fajar, Aditya dan Dewi sudah berkumpul di kediaman Aditya. Mereka masih menunggu Roxas dan Pipit yang masih dalam perjalanan. Aditya menceritakan kembali apa yang diceritakan Roxas padanya. Fajar berinisiatif menghubungi kantor polisi yang didatangi Roxas dan Pipit semalam. Dia ingin mengetahui sampai di mana penyelidikan mereka.
Tak berapa lama, nampak si hejo memasuki kontrakan haji Soleh. Setelah memarkirkan kendaraannya, Roxas dan Pipit langsung bergabung di kediaman Aditya. Melihat Adrian datang bersama Fajar, Pipit sudah bisa menebak kalau sang keponakan ingin menyelidiki kasusnya sampai tuntas.
“Tolong ceritain semua, tan. biar aku bisa menyelidikinya dengan benar. Tadi aku udah telepon temanku yang bertugas, dan mereka belum bisa menemukan orang yang dimaksud.”
Pipit terdiam sebentar, kemudian melihat pada Roxas, pria itu menganggukkan kepalanya. Akhirnya Pipit menceritakan semua yang terjadi. Kecurigaannya, sampai dia mendatangi Mahes dan ternyata orang lain yang bekerja bersama Mahes yang berusaha mencelakainya. Jujur saja, Adrian dan Fajar terkejut mendengarnya. Dia tak menyangka Mahes melakukan hal picik seperti itu.
“Aku ngga nyangka Mahes bakal kaya gitu,” cetus Adrian.
“Iya. Aku pikir dia udah tobat main-main sama perempuan, eh sekarang malah parah. Tanpa dia berbuat seperti itu, dia bisa tetap mendapatkan perusahaan kalau kerjanya bagus,” Fajar menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apa tante tahu siapa yang kerjasama sama Mahes?”
“Kalau sejauh penelusuranku, baru nama pak Nizar yang muncul. Dia manager keuangan hotel. Tapi aku ngga yakin kalau dia pelakunya. Sepertinya masih ada orang lagi yang membantu Mahes.”
“Ok deh, aku bakal bantu selidiki masalah ini. Anak buahku akan mengintai Mahes, mengawasi siapa saja orang yang ditemuinya. Selain itu, ada lagi ngga tan, yang berhubunga dengan Mahes.”
“Ini sih info dari pak Rendi, tapi aku belum tahu benar atau ngganya. Mahes katanya ada hubungan gelap sama Amanda.”
“Hah?? Manda? Manda yang BA bareng aku?” tanya Roxas terkejut.
“Iya. Biasa aja ngga usah lebay. Mentang-mentang mantan gebetan.”
“Haaiisshhh ngga usah diungkit bisa kan? Cemburu ya?”
“Geer.. siapa yang cemburu?”
Suasana yang tadi serius mendadak berubah karena perdebatan kecil antara Roxas dan Pipit setelah nama Amanda mencuat keluar. Fajar juga ikut terkekeh, namun pikirannya terus berputar, menebak siapa kaki tangan Mahes yang mencoba mencelakai Pipit.
🌸🌸🌸
Dengan kesal Mahes menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Sebelah tangannya memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pening. Setelah Pipit mendatanginya tadi, perasaannya jadi tak karuan. Dia takut kalau insiden yang menimpa Pipit akan berimbas pada rencananya. Dia berteriak kesal merutuki kebodohan partnernya.
Belum lagi tadi siang Amanda datang padanya dan mengatakan hal yang mengejutkan. Terdengar helaan nafas panjangnya ketika mengingat perbincangan dirinya dengan Amanda. Satu masalah belum selesai, kini datang masalah baru.
Amanda masuk ke dalam ruangan Mahes, tepat di jam istirahat. Dia duduk di sofa, menunggu Mahes yang masih mempelajari proposal penawaran yang diajukan tim marketing. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Mahes beranjak dari tempatnya kemudian mendekati Amanda. Dia mendaratkan ciuman di bibir wanita itu.
“Ada apa?” tanya Mahes seraya mendudukkan diri di samping Amanda.
“Aku mau kasih hadiah buat mas.”
“Hadiah apa?”
Amanda membuka tasnya kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Dia menyerahkan benda pipih ke tangan Mahes dengan senyum berseri. Mata Mahes membulat melihat alat tes kehamilan di tangannya. Apalagi alat tersebut menunjukkan hasil positif. Dia melihat pada Amanda yang terlihat bahagia.
“Kamu hamil?”
“Iya, mas. Kita akan punya anak,” Amanda memeluk lengan Mahes. Dengan cepat Mahes melepaskan pelukan Amanda kemudian berdiri.
“Apa kamu gila? Kamu bilang kamu minum pil pencegah kehamilan.”
“Maaf, mas. Aku lupa.”
“Lupa? Kamu pasti sengaja kan? Kamu pasti mau jebak aku kan? Apa kamu yakin itu anakku?”
Emosi Amanda langsung terpancing mendengar kalimat terakhir Mahes. Wanita itu bangun dari duduknya kemudian berdiri di hadapan Mahes. Sebuah tamparan keras mendarat di wajah pria itu.
PLAK!!
“Bisa-bisanya mas mengatakan itu. Ini anakmu!! Anakmu!!”
“Manda, diam.”
“Kamu harus bertanggung jawab, mas. Aku hanya melakukannya dengamu. Kamu juga yang pertama untukku, jangan mengelak. Aku tidak menuntut banyak padamu. Aku hanya ingin namamu di belakang anak kita, nikahi aku setelah anak ini lahir. Aku ngga peduli jadi yang kedua, yang penting anak ini punya ayah.”
Tanpa menunggu jawaban dari Mahes, Amanda segera keluar dari ruangan general manager. Hatinya kesal dituduh sedemikian rupa oleh pria yang sudah merenggut segalanya darinya. Mahes meremat rambutnya dengan kasar. Kalau Indira sampai tahu dirinya mempunyai anak dari Amanda, maka tamat hidupnya.
Lamunan Mahes buyar ketika mendengar suara bel. Pria itu bergegas bangun lalu membukakan pintu. Senyum Ara langsung menyambut dirinya begitu pintu terbuka. Wanita itu mengalungkan tangannya ke leher Mahes seraya memberikan kecupan di bibirnya.
“Tumben kamu memintaku datang, ada apa?”
“Apa kamu harus bertanya? Lakukan saja tugasmu. Kamu dibayar untuk itu.”
“Ooouuhh.. gemesnya,” Ara memegang dagu Mahes dengan tangannya.
“Mau langsung atau mandi bersama dulu?” tawar Ara.
Senyum Mahes terbit mendengar penawaran wanita itu. Dia mengajak Ara masuk ke dalam kamarnya. Dia melucuti semua pakaian yang melekat di tubuhnya kemudian berjalan masuk ke kamar mandi. Ara menaruh tasnya kemudian menyusul Mahes yang sekarang menjadi kliennya ke kamar mandi. Dia siap memberikan pelayanan maksimal untuk temannya itu sesuai bayaran yang diterimanya.
🌸🌸🌸
__ADS_1
**Aduuhh Mahes, Ara diembat juga🤦
Nah partner Mahes siapa ya yang niat bunuh Pipit**?