Naik Ranjang

Naik Ranjang
Aa


__ADS_3

WARNING!!!


DILARANG KERAS NGEHALU JADI DEWI🏃🏃🏃🤣🤣


🌸🌸🌸


“Kamu sudah baikan?” tanya Adrian dengan pandangan menatap lurus ke depan.


“Alhamdulillah udah, pak. Udah sehat lagi.”


“Udah ngga demam?”


“Ngga.”


“Ok.”


Dewi tak mengerti apa maksud dari kata ‘ok’ yang dikatakan Adrian. Dia melirik pada Adrian yang tetap fokus menyetir. Pria itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, bahkan dia membiarkan Saddam dan Willy menyusulnya. Tak lama iringan kendaraan sampai di jalan raya.


Mobil Hardi, Sandra, Willy dan Saddam berbelok ke kiri, mengambil jalan yang menuju kota Bandung. Setelah melihat kendaraan keempat muridnya mulai menjauh, Adrian mengambil jalan ke kanan. Dewi bingung melihat Adrian yang mengambil arah berbeda.


“Kok ke kanan, pak? Bukannya kalau ke Bandung itu ke kiri ya?”


“Siapa bilang kita mau pulang sekarang?”


“Hah? Maksudnya?”


Adrian tak menjawab pertanyaan Dewi. Dia terus melajukan kendaraannya masih dengan kecepatan sedang. Kemudian mobilnya berbelok memasuki tempat wisata Maribaya Natural Hot Springs Resort, kemudian menghentikan kendaraannya di area parkir yang tersedia di sana.


“Ayo turun,” ajak Adrian.


“Kita ngapain ke sini?”


“Kan kemarin kamu ngga ikut ke sini. Karena kamu udah sembuh, kita ke sini sekarang.”


Dewi tersenyum senang mendengarnya, dengan cepat dia turun dari mobil. Matanya memandangi nama tempat wisata yang terpampang di dekat pintu masuk. Akhirnya dia bisa merasakan apa yang teman-temannya rasakan kemarin. Gadis itu segera mengikuti langkah Adrian menuju loket.


Setelah membeli tiket masuk, keduanya berjalan memasuki area wisata yang masih terlihat sepi karena baru saja buka setengah jam yang lalu. Adrian melirik Dewi yang tak berhenti tersenyum. Diam-diam pria itu juga mengulum senyumnya.


“Kamu mau kemana dulu? Mau ke curug atau kemana?”


“Iya, pak. Kita curug aja.”


Dewi nampak bersemangat, dia menarik tangan Adrian untuk mempercepat langkahnya menuju curug Maribaya yang jaraknya sekitar 1 km dari pintu masuk. Mata Dewi nampak berbinar melihat curug yang terpampang nyata di hadapannya. Kemarin dia hanya bisa melihat melalui foto dan video yang dikirimkan Roxas padanya.



Gadis itu membuka sepatunya, menggulung celana panjangnya sebatas betis kemudian berjalan menuju kolam air yang banyak bebatuan.


“Hati-hati,” seru Adrian.


Pelan-pelan kaki Dewi menapaki bebatuan lalu menuju ke tengah kolam, yang tidak terlalu dalam. Dia lalu berbalik menghadap Adrian yang masih berada di tepian. Kelihatannya belum ada minat untuk mendekati curug.


“Bapak!” teriak Dewi. Adrian melihat pada gadis itu.


“Tolong fotoin aku dong,” lanjutnya.


Tanpa menunggu diminta dua kali, Adrian mengambil ponsel dari saku celananya lalu mulai membidikkan kameranya pada Dewi. Beberapa kali Dewi bergaya di depan curug, bahkan berpindah-pindah tempat, mencari spot yang bagus.


“Bapak sini juga, gantian aku yang foto.”


Adrian membuka sepatunya, menggulung celananya sebatas betis kemudian berjalan mendekati Dewi. Pria itu menurut saja ketika Dewi memintanya berdiri di dekat bebatuan besar yang di belakangnya terdapat curug dari aliran sungai Cikawari. Dewi mengambil ponsel Adrian kemudian mulai mengambar gambar pria itu. Beberapa kali gadis itu meminta Adrian untuk pindah tempat, dan diikuti tanpa penolakan.


“Sekarang kita foto berdua,” ajak Adrian yang diangguki Dewi.


Terlebih dulu mereka mencari spot yang indah. Adrian mengarahkan kameranya pada dirinya juga Dewi dengan latar belakang curug. Dewi mengangkat dua jarinya saat berpose, begitu pula Adrian. Gambar kedua, mereka ambil sambil duduk di bebatuan, kedua kepala mereka saling mendekat. Gambar ketiga diambil di jembatan yang ada di dekat aliran sungai. Adrian merengkuh bahu Dewi kemudian mengambil gambar mereka berdua.


“Masih mau main di sini atau mau ke tempat lain?”


“Di sini dulu bentar, pak. Aku masih belum puas main air.”


Dewi menuruni jembatan kemudian kembali ke kolam air. Dia mendudukkan diri di salah satu batu kemudian mengobok-obok air dengan tangannya. Adrian menyusul Dewi kemudian mendudukkan diri di sebelahnya.


“Airnya sejuk ya, pak. Kalau kemarin perginya bareng teman-teman pasti lebih seru.”


“Kalau kamu perginya kemarin, kamu ngga mungkin bisa menikmati kaya sekarang. Palingan kamu cuma diem di pinggiran, sambil ngetekin tangan terus gemeteran kaya ayam kehujanan.”


“Bapak iihh…”


Dengan kesal Dewi memukul lengan mantan wali kelasnya itu beberapa kali, namun Adrian hanya terkekeh saja. Pukulan Dewi terasa seperti usapan saja. Dewi mencebikkan bibirnya pada Adrian kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Nampak beberapa pengunjung sudah mulai berdatangan.


“Bapak udah pernah ke sini?”


“Belum.”


“Ck.. orang Bandung belum pernah ke sini, sungguh terlalu.”


“Ngga usah ngeledek. Kamu juga belum pernah.”


“Sok tau.”


“Kalau udah pernah, ngga mungkin kamu ngerengek-rengek sambil nangis guling-guling kaya kemarin pas Roxas kirimin foto-foto.”


“Siapa yang nangis!” protes Dewi.


“Oh iya, kamu ngga nangis. Cuma keluar air dari hidung, telinga dan mulut aja.”


“Bapak!!”


Adrian kembali terkekeh, senang sekali bisa menggoda gadis itu. Mendengar teriakannya dan melihat pelototan matanya membuat Adrian yakin kalau Dewi sudah sembuh. Dia semakin terpancing untuk membuat Dewi kesal.


“Kamu bisa berenang?” tanya Adrian.

__ADS_1


“Bisa.”


“Ngga yakin. Palingan kamu bisanya gaya batu sama gaya ngambang. Kaya yang kuning-kuning di kali hahaha.."


“Bapak rese!!”


Kesal terus menerus diledek oleh Adrian, Dewi mencipratkan air pada Adrian, membuat celana dan kaos yang dikenakannya sedikit basah. Gadis itu malah tertawa senang dan meneruskan aksinya. Adrian segera menangkap tangan Dewi untuk menghentikannya. Kedua tangan Dewi dikunci oleh Adrian dengan satu tangan saja, sedang tangan yang satu digunakannya untuk mengusap wajah gadis itu dengan air sungai.


“Bapak!!”


“Kamu panggil lagi bapak, saya ceburin ya,” ancam Adrian.


“Iya.. iya.. ngga panggil bapak lagi. Tapi lepasin dulu tangan saya.”


Adrian melepaskan cekalan tangannya. Untuk beberapa saat Dewi mengusap pergelangan tangannya. Dia lalu berdiri kemudian berjalan menjauhi Adrian. Setelah berada di jarak yang cukup aman, dia melihat pada pria itu.


“Saya mau pindah lokasi, ya. Papay om Rian!”


Dewi menjulurkan lidahnya pada Adrian kemudian buru-buru menjauh. Adrian tersenyum melihat tingkah Dewi yang semakin menggemaskan di matanya. Dia bangun kemudian menyusul Dewi yang sudah lebih dulu ngacir meninggalkan dirinya.


Tanpa mempedulikan Adrian, Dewi terus berlari menjauh dari area curug. Karena lelah, dia berhenti di sebuah hamparan rumput yang cukup luas dengan dibatasi pagar kayu. Dilihat dari beberapa alat yang tersedia di sana, nampaknya ini adalah area bermain untuk anak-anak. Ada jungkat-jungkit, perosotan dan juga terowongan yang di atasnya terdapat bukit kecil yang tertutup rumput.


“Sana masuk!” Dewi terjengit begitu mendengar suara Adrian tepat di belakangnya.


“Emangnya saya anak kecil apa.”


“Badan kamu masih muat masuk terowongan itu. Terus naik perosotan juga masih cocok. Tuh temenin anak itu yang lagi main jungkat-jungkit.”


“Bapak iiihhh..”


“Bapak lagi.”


“Iya.. iya.. om Rian.”


PLETAK


Dewi mengusap keningnya yang terkena sentilan Adrian. Mulut gadis itu nampak komat-kamit seraya memonyongkan bibirnya. Adrian hanya tergelak saja melihatnya. Kemudian dia berjalan menjauhi area bermain anak. Mau tak mau Dewi mengikuti langkah pria itu.


“Mau kemana lagi.. eeuung..” Dewi bingung harus memanggil dengan sebutan apa.


“Ke skybridge mau?”


“Mau.”


Keduanya kemudian berjalan menuju lokasi skybridge yang berada di bagian kiri area wisata ini. Tapak Halimun skybridge yang terbuat dari kayu. Disebut Tapak Halimun, karena di jembatan ini, kadang terdapat kabut saat melintasinya.



Adrian kemudian berhenti di salah satu spot, di sampingnya berdiri Dewi. Udara di sekitar jembatan cukup dingin, bahkan mereka bisa melihat kabut yang melingkupi sekitar.


“Terima kasih untuk hadiahnya. Saya suka.”


“Sama-sama, pak.”


“Terus saya harus panggil apa?”


“Terserah. Apa saja yang membuatmu nyaman, asal jangan om.”


Dewi tertawa kecil. Dia tadi iseng saja memanggil Adrian dengan sebutan om. Gadis itu berpikir sejenak, memikirkan panggilan yang tepat untuk pria di depannya. Sebenarnya ada satu panggilan yang ingin dikatakannya, tapi dia ragu juga malu untuk melakukannya.


“Euung.. foto-foto lagi, yuk,” Dewi mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Sana bergaya.”


Dewi segera mencari spot yang bagus kemudian bergaya di tempat itu. Layaknya seorang fotografer professional, Adrian terus mengarahkan kamera ponselnya pada Dewi. Sesekali dia mengarahkan gadis itu berpose seperti apa.


“Gantian.”


Tanpa menunggu persetujuan Adrian, Dewi mengambil ponsel pria itu lalu mendorong Adrian ke tempat tadi dia berfoto. Beberapa kali gadis itu menjepretkan kamera ponsel.


“Foto berdua,” ajak Dewi.


Kini giliran Adrian yang memegang ponsel. Dewi berdiri di sampingnya, bersiap untuk foto berdua. Adrian merengkuh bahu Dewi, membuat tubuh mereka sedikit merapat. Kamera ponsel pun langsung mengabadikan gambar keduanya. Mereka lalu berpindah tempat, Dewi memeluk lengan Adrian saat berfoto.


Di tempat berbeda, Adrian meminta Dewi berdiri di depannya, dia sedikit menundukkan kepalanya sebelum mengambil gambar. Dewi melihat-lihat hasil foto, dia masih berdiri di depan Adrian.


“Foto lagi,” ajak Dewi seraya menyodorkan ponsel pada Adrian.


Beberapa kali Adrian mengambil gambar, namun gambar yang diambil masih dirasa kurang bagus dan Dewi meminta Adrian untuk menghapusnya. Kesal karena Dewi tak kunjung puas dengan gambar-gambar yang diambil, akhirnya Adrian meminta bantuan orang yang tengah melintas untuk mengambil gambar mereka.


Pilihannya kali ini tepat, Dewi dengan bebas bergaya dengannya. Sebelah kakinya diangkat dan dilipat ke belakang dengan tangan berpegangan pada Adrian. Kemudian mereka berdiri agak jauh tapi kedua tangan mereka terentang dan saling menaut. Lalu berdiri dengan posisi saling memunggungi. Terakhir Dewi kembali berdiri di depan Adrian, tapi kali ini tangan Adrian melingkari perut Dewi.


Jantung Dewi berdebar kencang saat pose terakhir. Namun begitu dia tak kuasa menolak ketika Adrian memeluk perutnya. Fotografer dadakan yang diminta tolong Adrian sampai dua kali mengambil gambar mereka dengan posisi seperti itu. Setelah selesai, dia mengembalikan ponsel pada Adrian kemudian berlalu pergi.


Adrian melihat hasil jepretan pria tadi, sedang sebelah tangannya masih memeluk pinggang Dewi. Wajah Dewi memanas ketika melihat hasil foto mereka begitu bagus dan terlihat sangat mesra. Matanya melirik tangan Adrian yang masih berada di perutnya.


“Gambarnya bagus,” ujar Adrian.


“I.. iya, bagus.”


“Mau kemana lagi sekarang?”


“Terserah aa aja.”


Sejenak keduanya terdiam. Adrian masih belum percaya panggilan yang barusan keluar dari mulut Dewi. Sedangkan gadis itu merutuki diri dalam hati karena keceplosan memanggil Adrian dengan sebutan ‘aa’.


“Aa.. aku suka panggilannya. Teruskan, ya. Ayo.”


Adrian melepas pelukannya, kemudian menarik tangan Dewi untuk meninggalkan skybridge. Dewi memandangi tangannya yang digenggam oleh Adrian. Jangan ditanyakan bagaimana perasaannya saat ini. Sudah pasti sangat bahagia.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Menjelang dzuhur, keduanya meninggalkan Maribaya Natural Hot Springs Resort. Mereka tak langsung pulang ke Bandung. Adrian memilih berputar-putar di daerah Lembang sebentar, sambil membeli oleh-oleh. Selain yoghurt, susu murni, mereka juga membeli tahu susu untuk dibawa pulang.


Selanjutnya mereka menunaikan ibadah shalat dzuhur di masjid yang ada di sana. Usai shalat, Adrian mengajak Dewi makan di salah satu tempat makan yang ada di alun-alun Lembang. Mereka memesan ayam goreng lengkap dengan sambal dan lalapan. Saat sedang menunggu pesanan siap, datang dua orang pengamen menghampiri meja mereka. Satu orang bermain gitar, satu lagi menyanyi.


“Sabtu malam ku sendiri hi.. hi.. hi..” suara pengamen terdengar bergetar.


“Tiada temanku lagi hi.. hi.. hi..”


Dewi menundukkan kepalanya, mencoba menahan tawa yang hendak meledak. Demikian pula Adrian. Pria itu berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Karena tak tahan mendengar suara sang pengamen yang terdengar menggigil, Adrian memberikan selembar sepuluh ribuan, dan kedua pengamen itu segera berlalu.


“Hahaha… astaga itu yang nyanyi. Vibra apa lagi kelaperan. Hi.. hi.. hi..” Dewi memperagrakan gaya menyanyi pengamen tadi, membuat Adrian tergelak.


“Kayanya dia kedinginan, makanya nyanyinya sambil menggigil,” timpal Adrian. Dewi semakin dibuat terpingkal.


Keseruan mereka menertawakan sang pengamen terjeda, ketika pelayan mengantarkan pesanan mereka. Tanpa menunggu lama, keduanya segera menyantap masakan, karena perut sudah keroncongan.


“Habis dari sini mau langsung pulang apa mau ke tempat lain?” tanya Adrian setelah acara makan mereka berakhir.


“Terserah aa.”


“Kok terserah aku. Kamu mau kemana?”


“Ehmm.. pengennya sih makan es krim.”


“Es krim di mana?”


“Es krim rasa.”


“Kalau gitu kita pulang ke Bandung sekarang.”


Dewi menganggukkan kepalanya antusias. Adrian berdiri kemudian membayarkan pesanan mereka. Setelah itu keduanya kembali ke mobil. Tawa Dewi kembali pecah ketika melihat pengamen tadi. Sekilas gadis itu masih bisa mendengar suara sang pengamen yang bergetar, menyanyikan lagu yang sama.


🌸🌸🌸


Setelah mengabulkan permintaan Dewi makan es krim di tempat yang diminta, Adrian pun mengantarkan gadis itu pulang. Perasaan Adrian begitu bahagia bisa menghabiskan waktu hampir seharian dengan gadis yang sudah benar-benar mencuri hatinya. Namun begitu, dia masih belum mau bertindak lebih jauh mengungkapkan perasaannya. Pria itu masih butuh sedikit waktu untuk menyelami perasaan Dewi untuknya.


Kendaraan roda empat yang dikemudikan Adrian berbelok menuju kontrakan haji Soleh. Waktu sudah sore ketika mereka sampai. Pria itu menghentikan kendaraannya di dekat gerbang. Dewi melepaskan tali seat belt yang membelit tubuhnya.


“Boleh aku minta jaketku?” ujar Adrian.


Dewi hanya menganggukkan kepalanya kemudian melepaskan jaket Adrian yang dipakainya lalu mengembalikan pada pria itu. Adrian menaruh jaket ke kursi belakang seraya mengambil paper bag dan bungkusan berisi oleh-oleh dari jok belakang kemudian memberikannya pada Dewi.


“Ini untukmu.”


“Apa ini, a?”


“Itu hadiah ulang tahunmu. Maaf kalau aku baru sempat memberikannya sekarang.”


Dewi membuka paper bag di tangannya lalu mengeluarkan isinya. Ternyata itu adalah jaket dengan warna senada seperti jaket Adrian, hanya saja modelnya untuk perempuan. Dewi melihat pada Adrian.


“Pakai itu kalau berpergian sama Roxas. Kamu bisa masuk angin kalau naik motor ngga pake jaket.”


“Makasih, a.”


“Sama-sama. Dan Dewi.. terima kasih untuk hari ini.”


“Harusnya aku yang terima kasih. Sampai ketemu lagi, a.”


“Oh iya. Minggu besok, aku tidak bisa melatih kalian, karena harus keluar kota. Nanti sabeum Doni atau Fajar yang akan menggantikanku.”


“Iya, a. Sekali lagi, terima kasih.”


Sebenarnya Dewi terkejut sekaligus kecewa mendengar Adrian tidak bisa melatih taekwondo. Padahal itu satu-satunya harapan dia bisa bertemu dengan pria yang beberapa waktu terakhir ini terus merasuki hati dan pikirannya.


“Assalamu’alaikum,” Dewi membuka pintu mobil.


“Waalaikumsalam.”


Dewi turun dari mobil dengan ransel dan paper bag di tangannya. Setelah menutup pintu, gadis itu berjalan memasuki gerbang lalu membalikkan tubuhnya. Adrian memutar kendaraannya, kemudian melajukan kendaraannya meninggalkan Dewi yang masih terpaku di tempatnya.


🌸🌸🌸


Dewi baru saja selesai menunaikan shalat ashar, ketika terdengar suara Aditya mengucapkan salam. Gadis itu buru-buru melipat mukena dan sajadah, lalu membukakan pintu seraya membalas salam. Wajah Aditya yang full senyum muncul dari balik pintu.


“Baru pulang, Dit?” tanya Dewi.


“Iya. Kamu kapan pulang?”


“Baru sejaman.”


“Ini.. buat kamu.”


Aditya menyerahkan paper bag kecil pada Dewi. Gadis itu mengeluarkan isi di dalamnya yang ternyata adalah sebuah dessert box.


“Tadi aku pesan ke anak pastry buatin dessert box buat kamu. Dimakan ya.”


“Iya, makasih.”


“Kamu udah baikan?” Aditya meraba kening Dewi.


“Udah, kok.”


“Syukur, deh. Kamu istirahat gih, pasti cape. Aku juga mau istirahat. Bye honey.”


Aditya mengusap puncak kepala Dewi kemudian berjalan menuju kontrakannya. Dewi memandangi punggung Aditya yang menjauh lalu menghilang dibalik pintu. Dia pun menutup pintu kemudian masuk ke kamarnya. Sejenak dipandanginya dessert box pemberian Aditya. Tiba-tiba matanya memanas, buliran bening membasahi pipinya. Dia merasa sangat berdosa pada Aditya.


“Maafin aku, Dit.. maafin aku..” ujar Dewi seraya mengusap pipinya. Selama bersama dengan Adrian, Dewi benar-benar melupakan Aditya. Dan kini perasaan bersalah mulai menghantamnya. Gadis itu terus menangis menyesali tindakannya.


🌸🌸🌸


**Kasihan Dewi dilema.. Jangan salahin aku, Wi. Salahin readers. Mereka pada pro Adrian ama Aditya, jadi akunya bingung🏃🏃🏃

__ADS_1


Yang pengamen itu kisah nyata loh. Aku sendiri yang ngalamin. Aku sama temen² harus tahan ketawa selama dia nyanyi. Dan abis itu kita nyanyi² di mobil niruin vibrasi dia tadi, hi.. hi.. hi..🤣🤣🤣


Yang jawab kemarin foto Abi, yess kalian benar. Kalian dapet salam dari papa Abi si bon cabe level 100. Miss you all dan terima kasih masih terus mengingatnya dan semua keluarga Hikmat🤗**


__ADS_2