Naik Ranjang

Naik Ranjang
Tamu Istimewa


__ADS_3

Dewi yang semula tengah berbaring, tiba-tiba saja bangun. Dia duduk di kasur seraya meraba perutnya. Matanya melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Terdengar suara dari perut ibu hamil yang tengah kelaparan. Padahal satu jam lalu, dia baru saja memakan lima potong brownies kukus.


Perlahan Dewi turun dari ranjang kemudian keluar dari kamar. Keadaan di rumah nampak sepi, seperti tidak ada kehidupan. Wanita itu kemudian melangkah menuju dapur. Terlihat bi Parmi tengah menyiapkan sayuran untuk makan siang.


“Mba Dewi mau apa?”


“Aku pengen lotek, bi.”


“Lotek. Aduh beli di mana ya? Tukang lotek yang dekat pos satpam lagi pulang kampung. Tapi rasanya juga kurang enak.”


“Ngga usah beli, bi. Aku mau bikin sendiri, tapi bahannya ada ngga?”


“Kacang tanah ada, mba. Sayurannya butuh apa aja?”


“Kangkung, kol, waluh (labu siam) sama kentang. Tahu kalau ada, bi.”


“Ada semua. Bentar bibi siapin dulu.”


Dengan cepat bi Parmi menyiapkan semua bahan yang diminta Dewi. Dia mulai memotong-motong sayuran, sedang Dewi menggoreng kacang tanah, kemudian menghaluskannya dengan blender. Lalu lanjut menggoreng tahu. Setelah semua sayuran selesai di potong dan direbus, Dewi bersiap untuk membuat lotek.


Bi Parmi hanya memperhatikan saja ketika Dewi mulai mengulek bumbu lotek kemudian memasukkan sayuran juga tahu yang sudah digoreng. Ibu hamil membuat lotek sebanyak tiga porsi, untuk dirinya, Ida dan juga bi Parmi.


“Beres, bi. Cobain deh.”


Melihat lotek untuknya yang tersaji di atas piring, perut bi Parmi mau tak mau ikut berbunyi juga. Wanita paruh baya itu mengambil lotek dengan sendok kemudian menyuapkan ke dalam mulutnya.


“Ehhmm.. enak, mba. Rasanya lebih enak dari tukang lotek yang dekat pos satpam,” puji bi Parmi.


“Hehehe.. Alhamdulillah kalau bibi suka. Ini yang satu piring buat mama, ya. Mama belum pulang bi?”


"Belum, mba."


Dewi menarik kursi di dapur kemudian mulai memakan loteknya. Wanita itu tidak membuatkan lotek untuk Adrian dan Toni, karena kedua pria itu tidak ada di rumah. Sambil memakan loteknya, Dewi terus berbincang dengan bi Parmi.


“Mba Dewi istirahat aja, biar bibi yang bereskan semuanya,” setelah keduanya selesai makan.


“Makasih ya, bi.”


Ibu hamil itu segera kembali ke kamarnya. Diambilnya ponsel yang ada di atas meja. Sebuah pesan dari Aditya baru saja masuk. Dia langsung membalas pesan dari suaminya. Sudah tiga minggu lamanya Aditya melakukan promo tur. Sekarang The Soul sedang berada di kota Surabaya.


Dewi membaringkan tubuhnya di atas kasur. Jarinya sibuk mengetik, membalas pesan dari suaminya. Senyum tak hilang dari bibirnya, karena di waktu luangnya Aditya menyempatkan diri berbalas pesan dengannya.


Sementara itu, Ida baru saja pulang setelah menghadiri rapat di kelurahan. Ibu dari Aditya dan Adrian ini memang menjadi salah satu penggiat kegiatan di lingkungan RT, RW dan kelurahan. Dia baru saja diangkat menjadi ketua pelaksana kegiatan Bayi Sehat. Rencananya kegiatan akan diadakan dua bulan lagi dan para panitia mulai mencari sponsor.


Saat masuk ke ruang makan, mata Ida langsung menangkap piring berisi lotek di atas meja. Wanita itu menarik kursi makan kemudian mendudukkan diri di sana. Karena perutnya lapar, dia langsung memakan makanan tersebut yang menurut Parmi memang untuknya.


“Sampean tuku lotek nang endi ? (kamu beli lotek di mana?),” tanya Ida pada Parmi, ketika asisten rumah tangga tersebut menaruh segelas air putih untuk Ida.


“Pripun, bu? (kenapa, bu?).”


“Wenak. Sampean nek tuku lotek kudune koyo ngene (enak. Kamu kalau beli lotek harusnya kaya gini).”


“Niku mba Dewi sing ndamel (itu mba Dewi yang buat).”


“Moso? Enak loh.”


Parmi hanya menganggukkan kepalanya. Lotek buatan Dewi memang enak rasanya. Ida dengan cepat menghabiskan loteknya. Setelah meneguk habis segelas air putih, wanita itu bangun kemudian menuju kamar Aditya. Setelah mengetuk pintu, Ida masuk ke dalam kamar. Dewi langsung bangun begitu melihat mama mertuanya masuk.


“Wi.. kamu belajar bikin lotek sama siapa? Enak loh, mama suka.”


“Alhamdulillah kalau mama suka. Aku belajar dari ibu. Kan ibu dulu jualan nasi kuning, nasi uduk sama lotek.”


“Pantes. Kamu bisa bikin nasi uduk atau nasi kuning?”


“Bisa, ma.”


“Kapan-kapan kita bikin, yo.”


“Iya, ma.”


“Habis dzuhur mama mau ke supermarket, mau beli bahan makanan. Malam ini mau ada tamu. Kamu mau ikut nda?”


“Boleh, ma?”


“Boleh. Habis shalat kita berangkat.”


“Iya, ma.”


Ida segera keluar dari kamar anaknya. Wanita itu segera menuju kamarnya untuk bersiap shalat dzuhur. Wajah Dewi nampak berbinar diajak keluar rumah oleh sang mama mertuanya. Dirinya hampir saja komar, karena lebih banyak diam di kamar. Tapi sebelum pergi bersama Ida, terlebih dulu Dewi meminta ijin pada Aditya.


🌸🌸🌸


Ida menyambut kepulangan suaminya ketika mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. Wanita itu mendekati Toni kemudian memeluk tangannya. Sambil mengajaknya masuk ke dalam, Ida menceritakan soal tamu yang akan datang makan malam bersama di rumah.


“Mas.. nanti malam kita kedatangan tamu. Aku lupa kasih tau mas tadi.”


“Siapa?”

__ADS_1


“Ibu Dahlia dan anaknya. Mama kan diangkat jadi ketua panita kegiatan Bayi Sehat, nah bu Dahlia ini katanya mau jadi sponsor. Sebenarnya mama udah niat mau datang ke rumahnya, tapi dia duluan yang inisiatif mau ke sini.”


“Hmm.. bagus dong kalau mama dapat sponsor.”


“Iya, suaminya direktur marketing di perusahaan susu bayi kalo nda salah. Eh tapi kok mama curiga ada udang dibalik bakwan.”


“Maksud mama apa?”


Toni menaruh tas kerjanya di atas meja sesampainya di dalam kamar. Ida membantu suaminya melepas dasi dan kemeja yang dikenakannya. Wanita itu juga mengambilkan handuk untuk sang suami mandi.


“Mama curiga kalau anaknya itu suka sama Ad. Dia bilang anaknya ngajar di kampus yang sama dengan Ad, satu jurusan pula.”


“Fokus saja sama kegiatan mama. Soal anaknya suka atau ngga sama Ad biarkan saja. Kita tidak usah ikut campur. Mama tahu sendiri Ad seperti apa. Mana mau dia dipaksa nikah sama seseorang yang dia ngga suka.”


“Iya, pa.”


“Papa mandi dulu. Nanti tamunya datang jam berapa?”


“Jam tujuh.”


“Kasih tau Ad sama Dewi juga biar bersiap.”


Ida hanya menganggukkan kepalanya. Toni segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ida menyiapkan pakaian untuk suaminya, lalu keluar dari kamar. Dia segera menuju kamar Adrian. Setelah mengetuk pintu, wanita itu masuk ke dalam kamar.


“Ad.. nanti pas makan malam kita bakal kedatangan tamu.”


“Siapa, ma?”


“Yang mau kasih sponsor buat acara Bayi Sehat.”


Adrian melihat pada mamanya kemudian menganggukkan kepala. Dia bingung saja kenapa yang mau memberi sponsor sampai repot-repot mau berkunjung ke kediaman mereka.


“Pake bajunya yang sopan ya.”


Setelah mengucapkan itu, Ida segera keluar dari kamar. Adrian kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Besok dia harus pergi ke Subang untuk melakukan tugas pengabdian masyarakat sebagai perwakilan dari pihak kampus. Akan ada satu orang dosen yang menemaninya ke sana tapi dia belum tahu siapa.


🌸🌸🌸


Tepat pukul tujuh malam, Dahlia datang bersama dengan anak perempuannya. Ida menyambut kedatangan tamunya dengan ramah. Sejenak dia memandangi wanita muda yang datang bersama dengan Dahlia. Dia yakin kalau wanita itu adalah anak dari Dahlia.


“Eh.. sepertinya kita pernah bertemu, tapi di mana ya?” tanya Ida pada wanita muda di sebelah Dahlia.


“Iya tante. Kita ketemu di café, nama saya Jiya.”


Jiya meraih tangan Ida kemudian mencium punggung tangannya. Ida terdiam sejenak mencoba mengingat kejadian yang sudah cukup lama, sekitar satu tahun yang lalu kalau tidak salah.


“Ngga apa-apa, tante.”


“Mari masuk.”


Kedua wanita itu masuk ke dalam mengikuti Ida. Mereka duduk di ruang tamu, sedang Ida masuk ke dapur untuk menyiapkan minuman dan camilan. Mata Jiya langsung tertuju pada pigura berukuran besar yang tergantung di dinding. Di sana terdapat foto keluarga Adrian. Mata wanita itu terus memandangi Adrian yang masih cukup muda saat itu.


“Silahkan diminum, maaf seadanya saja ya, bu,” Ida meletakkan dua cangkir berisi teh manis dan beberapa kue yang dibelinya tadi di supermarket.


“Terima kasih, bu. Maaf loh sudah merepotkan.”


“Apanya yang repot. Saya malah berterima kasih ibu mau berkunjung ke rumah.”


“Adriannya mana bu?”


Sejenak Ida terdiam mendengar pertanyaan Dahlia. Dia tidak menyangka kalau wanita itu akan langsung menanyakan anaknya.


“Ad masih di kamarnya, sepertinya dia masih ada pekerjan.”


“Oh begitu.”


“Saya permisi sebentar ya, bu.”


Ida kembali meninggalkan tamunya. Dia ingin memastikan apakah semua hidangan sudah tersaji di atas meja. Nampak bi Parmi dan Dewi tengah menata makanan dan juga piring serta gelas di atas meja.


“Wi.. tolong panggil papa sama Ad, ya.”


“Iya, ma.”


Melihat Dewi sudah berjalan menuju ruang kerja Toni dan kamar Adrian, Ida segera kembali ke ruang tamu. Dia mengajak Dahlia dan Jiya menuju ruang makan. Ketika ketiganya sampai di ruang makan, Toni tiba di sana. Ida langsung memperkenalkan kedua tamunya pada sang suami.


“Mas.. kenalkan ini bu Dahlia yang kuceritakan dan ini Jiya, anaknya.”


Bergantian Dahlia dan Jiya menyalami Toni, pria yang tahun ini akan berusia 50 tahun. Toni mempersilahkan Dahlia dan Jiya untuk duduk. Sekilas Jiya melihat wajah Toni yang masih cukup tampan di usianya yang sudah setengah abad. Pantas saja Adrian berwajah tampan, rupanya hasil warisan kedua orang tuanya. Hanya saja gurat wajah Adrian lebih mirip Toni.


Jiya menolehkan kepalanya ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Dadanya berdebar kencang begitu melihat Adrian memasuki ruang makan. Namun wanita itu terkejut melihat Dewi yang datang bersamanya. Perasaan Jiya langsung tak enak. Melihat keakraban keduanya di kampus, Jiya jadi berpikiran ada hubungan spesial di antara keduanya.


“Ad.. kenalkan ini ibu Dahlia dan Jiya,” Ida memperkenalkan tamunya pada sang anak.


“Apa kabar pak Rian?” sapa Jiya.


“Bu Jiya..”

__ADS_1


Bukan hanya Adrian, Dewi juga terkejut melihat kedatangan Jiya ke rumah mertuanya. Ida langsung menjelaskan siapa Dahlia dan Jiya. Adrian hanya menganggukkan kepala seraya melemparkan senyum tipis. Dia menarik sebuah kursi untuk Dewi kemudian mendudukkan diri di samping adik iparnya itu.


Melihat perlakuan manis Adrian pada Dewi, perasaan Jiya bertambah tak enak. Selera makannya langsung hilang. Dia hanya diam saja ketika Ida mempersilahkan tamunya untuk mencicipi hidangan yang dibuat olehnya. Apalagi ketika melihat Adrian mengambilkan lauk untuk Dewi.


“Kalau Dewi anak bungsu ibu?” tanya Dahlia yang juga penasaran akan sosok wanita muda itu.


“Ya ampun, saya lupa kenalin. Ini Dewi, menantu saya.”


Jiya langsung tersedak mendengar penuturan Ida. Sang mama segera menyodorkan minuman untuk anaknya ini. Dia juga terkejut mendengarnya. Matanya terus memandangi Dewi yang mulai menikmati makanannya.


“Pak Adrian nikah kok ngga undang-undang,” ujar Jiya setelah acara keseleknya selesai.


Kali ini giliran Dewi yang tersedak. Refleks Adrian mengusap punggung adik iparnya itu seraya memberikan minuman untuknya. Toni juga menghentikan makannya mendengar perkataan Jiya.


“Bukan istrinya Ad. Dewi ini istrinya anak bungsu saya, Aditya. Tapi sekarang dia sedang tidak ada di rumah, sedang promo tur.”


“Ooh.. maaf tante.”


Terlihat kelegaan di wajah Jiya mendengar kalau Dewi bukanlah istri dari Adrian. Berarti dia masih punya peluang mendekati pria tersebut. Begitu pula dengan Dahlia, kesempatannya menjadikan Adrian sebagai menantunya terbuka lebar. Acara Makan kembali berlanjut diselingi pembicaraan tentang kegiatan Bayi Sehat.


Usai makan malam, pembicaraan berlanjut ke ruang tamu. Kali ini Toni ikut bergabung dengan istrinya, begitu pula dengan Adrian. Sementara Dewi memilih masuk ke kamar, Aditya berjanji akan menghubunginya di atas jam delapan malam.


“Kalau nanti konsep acaranya sudah siap, bu Ida tinggal bilang saja apa yang diperlukan. Biar nanti saya bilang pada suami saya.”


“Terima kasih bu Dahlia. Saya senang sekali, mudah-mudahan kegiatan Bayi Sehat ini berjalan lancar dan memberi banyak manfaat.”


“Aamiin..”


“Kalau bapak ngga sekalian diajak?” kali ini giliran Toni yang bicara.


“Bapak sedang dinas keluar kota. Biasa pak, mengecek penjualan di beberapa kantor cabang.”


“Sibuk ya, bu.”


“Begitulah.”


Hanya Adrian dan Jiya yang tidak ikut larut dalam pembicaraan. Keduanya masih setia mengatupkan mulutnya. Jiya melihat pada Adrian, sepertinya dia harus mengambil inisiatif mengajaknya bicara lebih dulu.


“Pak Rian, bisa kita bicara sebentar?”


Adrian melihat pada Jiya sebentar, kemudian menganggukkan kepalanya. Dia berdiri lalu mengajak wanita itu menuju teras. Dahlia menyunggingkan senyuman ketika melihat anaknya dan Adrian beranjak meninggalkan mereka. Dan itu tertangkap oleh Toni dan juga Ida.


“Pak Rian dapat tugas pengabdian masyarakat ke Subang?” Jiya langsung membuka pembicaraan setelah mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di teras.


“Kok bu Jiya tahu?”


“Kan saya juga dapet tugas ke sana, pak.”


“Oh yang pergi bareng saya itu, bu Jiya?”


“Iya, pak. Surat tugasnya sudah ada. Besok sebelum berangkat sudah bisa diambil sekalian uang sakunya,” terang Jiya seraya melemparkan senyum manis.


“Kalau begitu kita berangkat bareng aja. Besok pagi saya jemput bu Jiya. Kita ke kampus dulu, baru ke Subang.”


“Boleh, pak. Kalau tidak merepotkan.”


Tak bisa digambarkan bagaimana senangnya perasaan Jiya saat ini. Sepertinya dia harus mengucapkan terima kasih pada ketua prodi karena sudah menjadwalkan dirinya melakukan tugas pengabdian masyarakat bersama dengan Adrian. Kesempatan ini tentu saja tidak akan disia-siakan olehnya. Dia ingin lebih dekat lagi dengan Adrian, di luar kedekatan mereka sebagai rekan kerja.


“Saya baru tahu kalau Dewi itu adik ipar bapak.”


“Mereka baru menikah sekitar empat bulan.”


“Masih muda ya, pak. Tapi sudah berani mengambil keputusan untuk berumah tangga. Bapak sendiri belum ada niatan untuk menikah?”


Dada Jiya berdebar menantikan jawaban apa yang akan diberikan oleh Adrian. Andai jika pria ini melamarnya, maka tanpa pikir panjang Jiya akan langsung melepas masa lajangnya bersama dengan Adrian.


“Saat ini saya masih fokus dengan karir saya. Saya juga masih sibuk dengan banyaknya pekerjaan. Kasihan istri saya nanti kalau harus sering ditinggal keluar kota,” jawab Adrian diplomatis.


Ada perasaan kecewa merayapi hati Jiya. Sepertinya pria yang duduk di sebelahnya ini masih betah menyendiri. Sikapnya yang tenang dan wajahnya yang terkadang tanpa ekspresi membuat Jiya kesulitan menebak apakah sudah ada wanita lain yang singgah di hati Adrian.


“Jiya.. ayo kita pulang. Kamu sudah selesai bicaranya?” Dahlia tiba-tiba saja muncul dari arah dalam.


“Eh.. su.. sudah, ma.”


Jiya segera berdiri kemudian menghampiri sang mama. Wanita itu segera berpamitan pada Ida, Toni dan juga Adrian. Ketiga orang itu mengantarkan Dahlia dan Jiya menuju mobil yang terparkir di depan rumah. Seraya melambaikan tangan, Jiya menjalankan kendaraan roda empatnya.


“Jiya itu rekan kerjamu?” tanya Ida pada Adrian seraya masuk ke dalam rumah.


“Iya, ma.”


“Sepertinya dia menyukaimu. Dari tadi dia tidak lepas memandangmu.”


Tak ada tanggapan dari Adrian, pria itu segera melangkahkan kakinya menuju kamar. Ida hanya menggelengkan kepalanya saja melihat reaksi anak sulungnya itu. Toni juga tidak berkomentar. Tanpa mengatakan apapun, dia tahu kalau saat ini perasaan Adrian masih tertuju pada Dewi.


🌸🌸🌸


Buat fans gaker Ad-Tili, mohon maaf bu Jiya mau coba nikung dulu ya, tolong kasih kesempatan🤭🏃🏃🏃🏃

__ADS_1


__ADS_2