Naik Ranjang

Naik Ranjang
Foto Keluarga


__ADS_3

Kericuhan langsung terjadi di Amarta hotel. Security langsung menghubungi ambulans dan juga kantor polisi. Mahes yang mendengar insiden yang terjadi pada Amanda segera keluar untuk melihat langsung. Petugas keamanan hotel terpaksa membuat pagar betis demi membatasi pengunjung hotel melihat jasad Amanda yang masih berada di atas mobil.


Suara sirine ambulans dan mobil polisi saling bersahutan. Seketika kegegeran terjadi. Banyak warga yang awalnya tengah bersantai menikmati malam minggu di sekitar jalan Asia Afrika mulai memenuhi jalan masuk menuju Amarta hotel. Petugas polisi, medis dan forensik langsung datang untuk mengamankan lokasi.


Setelah mengambil foto-foto korban, petugas medis segera memindahkan jasad Amanda ke dalam ambulans. Sedangkan pihak kepolisian bersama petugas forensik menyusuri area hotel sambil mencari barang bukti. Ada juga yang bertanya pada para saksi yang melihat langsung jatuhnya korban. Untuk kasus ini Fajar langsung yang memimpin penyelidikan.


Semua yang ada di dekat lokasi Amanda terjatuh diminta ke kantor polisi untuk memberi kesaksian, termasuk Aditya dan Roxas. Aditya terpaksa menghubungi Amir dan menitipkan Dewi dan Arkhan pada pria itu. Dia tidak memberi tahu alasan dirinya pulang terlambat karena tak ingin membuat Dewi khawatir.


Bukan hanya Roxas, Aditya dan beberapa petugas security hotel. Tapi Mahes juga diminta ikut untuk menjadi saksi. Fajar segera kembali ke kantornya bersama dengan para saksi. Khusus untuk Mahes, Aditya dan Roxas, dia sendiri yang akan melakukan interogasi.


Setelah menginterogasi Mahes dan Roxas, kini giliran Aditya yang akan diminta kesaksiannya. Pria itu masuk ke dalam ruangan khusus bersama dengan Fajar. Mereka berbincang dengan santai. Ada banyak informasi yang hendak disampaikan Aditya.


“Jadi, waktu aku ke kamar bang Setya, ada Indira sama Amanda masuk ke kamar di sebelah kamar bang Setya. Pas aku keluar, aku dengan mereka sempat bertengkar. Indira sampai menampar Amanda dan mengancam akan melenyapkannya.”


“Kamu yakin, Dit?”


“Iya, bang.”


Fajar menjeda pembicaraan dengan Aditya, dia menghubungi dulu anak buahnya yang bertugas untuk mengamankan rekaman cctv. Setelah mendapatkan laporan, dia kembali berbicara dengan Aditya.


“Selain Indira, ada juga Ara. Aku ketemu dia waktu mau masuk lift. Dia juga bisa dijadikan tersangka. Bagaimana Mahes?”


“Alibinya kuat. Dia tidak meninggalkan ballroom sampai acara selesai. Dia baru keluar saat Amanda sudah terjatuh.”


“Tapi bukan berarti dia bukan pelakunya.”


“Memang. Aku masih menyelidikinya, juga dengan Indira. Ada lagi yang mau kamu sampaikan, Dit?”


“Ngga ada, bang.”


“Ok. Kalau gitu kamu pulang aja. Kasihan Dewi sama Arkhan pasti udah nunggu.”


“Iya, bang. Aku pulang dulu, makasih.”


“Sama-sama.”


Bersama dengan Fajar, Aditya keluar dari ruang interogasi. Roxas sudah menunggu di luar. Pria itu langsung berdiri ketika melihat Aditya sudah selesai memberikan kesaksian. Setelah berpamitan dengan Fajar, keduanya segera kembali ke kontrakan. Roxas merasa bersyukur melarang istrinya untuk datang ke acara pergantian BA. Setidaknya Pipit bisa terhindar dari kejadian tadi.


Sepeninggal Roxas dan Aditya, Fajar segera menghubungi anak buahnya untuk menjemput Indira dan Ara ke kantor polisi. Dia harus segera meminta keterangan dari kedua wanita itu berdasarkan kesaksian Aditya. Ada kemungkinan mereka berdua menjadi tersangka kuat dalam kasus ini.


Setelah menunggu sekitar dua jam, akhirnya Indira datang ke kantor polisi. Wanita itu tidak datang sendiri melainkan bersama dengan pengacaranya. Dia sudah menduga kalau akan dipanggil untuk bersaksi mengingat tadi Aditya melihatnya tengah bersitegang dengan Amanda sebelum wanita itu meregang nyawa.


“Ibu Indira, apa yang ibu lakukan saat jam 21.23 tadi?”


“Saya sedang bersama Ara.”


“Anda tadi sempat bersitegang dengan Amanda. Apa anda tahu kalau anda bisa saja menjadi tersangka utama?” lanjut Fajar.


“Anda belum punya bukti untuk menuduh klien saya,” bela sang pengacara.


“Setelah saya berbicara dengan Amanda, saya langsung pergi bersama dengan Ara. Anda bisa tanyakan sendiri padanya.”


“Ada urusan apa anda dengan Ara?”


“Ara itu teman suamiku, tidak aneh kan kalau aku berteman dengannya?”


Fajar hanya memperhatikan saja saat sang pengacara berbisik di telinga Indira. Setelah mendapatkan pengarahan dari pengacaranya, Indira tidak menjawab apa-apa lagi dan menyerahkan semuanya pada sang pengacara.


Tak banyak informasi yang bisa didapatkan Fajar dari Indira. Pengacara yang dikirimkan keluarganya, terus saja menghalangi dengan menyuruh wanita itu bungkam. Proses interogasi pun berjalan cepat. Fajar terpaksa memperbolehkan Indira pulang karena tidak ada bukti untuk menahannya.


Setelah bertemu dengan Indira, kini dia masuk ke ruangan lain untuk bertemu dengan Ara. Teman masa sekolahnya itu duduk tenang di depan meja interogasi seraya memainkan kuku jarinya. Dia melemparkan senyuman manis ketika melihat Fajar datang. Dengan wajah tanpa ekspresi, Fajar menarik kursi di depan Ara.


“Fajar.. kok kamu tambah ganteng aja sih?” goda Ara.


“Apa yang kamu lakukan di lantai 14?”


“Bertemu dengan Indira.”


“Apa yang kalian bicarakan?”


“Urusan wanita, tepatnya masalah ranjang. Apa kamu mau mendengarnya?” tantang Ara sambil mengedipkan matanya.


Fajar menyandarkan punggungnya ke kursi seraya menghembuskan nafas panjang. berbincang dengan Ara lebih sulit dari pada Indira. Ini sudah ketiga kalinya dia berhadapan dengan Ara di ruang interogasi. Dua kasus sebelumnya wanita itu diminta sebagai saksi saat klien yang dilayaninya tertangkap tangan oleh KPK.


“Apa kamu bertemu dengan Amanda?”


“Tidak. Untuk apa aku bertemu dengannya? Aku tidak kenal dan tidak punya urusan dengannya.”


“Setelah dari lantai 14, kalian kemana?”


“Kita turun ke bawah. Indira mau kembali ke ballroom menemui suaminya. Tapi ternyata insiden Amanda terjadi dan suasana jadi kacau,” Ara tersenyum setelahnya.


“Sekarang kamu boleh pulang. Tapi jika kami membutuhkan kesaksianmu lagi, aku harap kamu mau bekerja sama.”


“Ok, sayang. Anything for you.”


Ara memajukan bibirnya seperti orang tengah mengecup, kemudian bangun dari duduknya. Dia segera keluar dari ruang interogasi yang sebenarnya membuat dadanya sesak. Dengan langkah cepat wanita itu segera keluar dari kantor polisi.


🌸🌸🌸


“Mas.. berita di tv itu benar?” tanya Dewi saat mereka tengah sarapan bersama.

__ADS_1


“Iya. Makanya semalam mas pulang terlambat.”


“Amanda bunuh diri atau gimana?”


“Belum tahu juga. Tapi menurutku dia dibunuh. Aku sempat dengar pertengkarannya dengan Indira. Sepertinya Amanda hamil anak kak Mahes.”


Dewi menutup mulut dengan tangannya. Dia terkejut mendengar berita kehamilan Amanda. Berarti wanita itu mempunyai affair dengan general manager Amarta hotel.


“Sayang, hari ini kita ngga jadi renang, ya. mendadak ada job. Bang Wira ngga bisa nolak soalnya yang ngundang bupati Subang. Sebelum berangkat aku antar kamu ke rumah mama, ya.”


“Ngapain ke sana? Kan mas ngga nginep.”


“Aku ngga tenang ninggalin kalian di sini, apalagi kang Amir lagi mudik. Kamu sama tante Pit ke rumah mama dulu. Pulang dari Subang, aku jemput. Aku takut Indira celakain kamu. Soalnya dia lihat aku pas lagi berantem sama Amanda. Bisa jadi dia yang bunuh Amanda.”


“Iya, mas. Mas juga hati-hati.”


“Iya.”


Dewi segera berkemas setelah menyelesaikan sarapannya. Wanita itu mengganti pakaian Arkhan lalu keluar dari kamar sambil menenteng tas. Aditya juga sudah siap untuk pergi. Dia memesan dulu taksi online untuk mengantar istri dan anaknya ke rumah orang tuanya.


Di kediaman Roxas, Pipit juga sedang bersiap. Dia menurut saja ketika Roxas memintanya untuk tinggal di kediaman Toni selama dirinya pergi ke Subang. Sambil merangkul istrinya, Roxas keluar dari kontrakan. Di luar dia bertemu dengan Aditya yang juga sudah siap pergi.


Aditya memberikan kunci motor pada Roxas. Pamannya itu yang akan membawa motornya ke rumah orang tuanya. Sedang dirinya bersama dengan Dewi dan Pipit pergi menggunakan taksi online. Setelah pesanan taksinya datang, semuanya segera berangkat menuju kediaman Toni.


🌸🌸🌸


The Soul baru saja mengakhiri penampilan terakhirnya, gemuruh tepuk tangan penonton langsung terdengar. Bupati Subang yang menjabat saat ini tengah menggelar hajatan syukuran kelahiran cucunya. Dia meminta The Soul yang menghibur para tamu undangan. Apalagi tamu yang datang banyak berasal dari teman-teman anaknya yang masih berjiwa muda.


Aditya mendudukkan diri sambil meneguk minuman untuk membasahi kerongkongannya yang kering setelah menyanyikan empat buah lagu. Seseorang duduk di sebelahnya dan mengajaknya bicara.


“Eh bang Setya,” tegur Aditya melihat Setya yang duduk di sampingnya.


“Makin banyak job ya, Dit.”


“Alhamdulillah.”


“Abang ngapain di sini?”


“Aku EO yang atur acara ini.”


“Oh, pantes.”


“Gimana perkembangan kasus Amanda?” tanya Setya penasaran.


Saat kejadian terjadi, Setya dan istrinya masih berada di dalam kamar. Mereka terkejut ketika melihat ada sesuatu yang meluncur jatuh melewati jendela kamarnya. Melihat yang terjatuh adalah manusia bukan barang, keduanya bergegas keluar kamar. Dan mereka terkejut saat tahu sang korban adalah mantan brand ambassador tempat menginap.


“Ngga tahu juga, bang.”


“Iya, bang. Aku sama Roxas kaget banget. Kita lagi bercanda sambil lihat orang yang mau…”


Perkataan Aditya terhenti ketika dia mengingat sebelum kejadian Amanda jatuh, ada dua drone yang melintas di atas hotel Amarta sambil membawa spanduk kecil. Aditya langsung mengambil ponselnya kemudian menghubungi Fajar.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Bang, bukti kasus Amanda sudah dapat?”


“Belum.”


“Aku inget sebelum Amanda jatuh ada drone yang terbang di atas hotel bawa spanduk. Orang itu mau ngelamar pacarnya kalau ngga salah. Coba abang cek aja siapa yang punya drone itu. Kali aja pelakunya terekam kamera. Tapi kayanya mereka ngga ada di hotel, soalnya tulisan menghadap arah luar hotel.”


“Ok, makasih, Dit. Abang periksa sekarang.”


Setya yang mencuri dengar pembicaraan Aditya dan Fajar terkejut ketika dia mendengar Aditya membahas soal drone yang membawa spanduk bertuliskan WILL YOU MARRY ME. Saking terkejutnya dengan kejadian tersebut, dia lupa akan hal tersebut.


“Dit.. drone yang kamu maksud yang bawa tulisan WILL YOU MARRY ME, bukan?”


“Iya, bang. Kenapa?”


“Yang ngelamar waktu itu, adikku. Kok aku sampai lupa ya.”


Setya mengingat kembali pembicaraannya dengan sang adik yang mengatakan acara melamarnya nyaris batal karena insiden Amanda. Untung saja sang kekasih sudah melihat spanduk tersebut.


“Wah yang bener, bang? Bisa minta tolong adiknya ngga buat ngecek dronenya?”


“Ok, Dit. Nanti pas pulang aku kabarin.”


“Makasih ya, bang.”


Sungguh Aditya berharap kalau drone tersebut merekam pelaku pembunuhan Amanda. Dengan begitu pelaku sebenarnya bisa tertangkap dan dirinya bisa tenang meninggalkan Dewi dan Arkhan jika harus keluar kota.


🌸🌸🌸


Kediaman Toni terlihat ramai, semua anggota keluarganya berkumpul di tanggal merah ini. Aditya dan Roxas yang baru pulang semalam, memutuskan menginap di rumah Toni. Dan paginya pria itu meminta yang lain tidak langsung pulang ke rumah. Dia ingin menghabiskan waktu bersama seluruh keluarga.


Pipit dan Dewi bolak balik membawakan menu makan siang ke halaman belakang. Mereka ingin makan bersama di halaman belakang. Tikar sudah disiapkan oleh Aditya dan Roxas. Mereka ikut bantu menata makanan. Toni sibuk bermain dengan Arkhan, sedang Adrian hanya sebagai mandor saja.


Menu makan siang kali ini cukup lengkap. Ida juga memasak makanan kesukaan Aditya. Sudah lama dia tidak memasakkan untuk anak bungsunya itu. Sepanjang makan mereka berbincang ringan. Pembicaraan tentang kematian Amanda juga sempat mewarnai makan siang mereka.


Selama makan, Aditya terus memangku anaknya. Dia melarang Dewi mengambil sang anak darinya. Bahkan di sela-sela makannya, dia juga menyuapi Arkhan. Anehnya Arkhan nampak anteng dalam gendongan papanya. Dia sama sekali tak menggubris ketika Dewi, Adrian, Ida atau Toni hendak menggendongnya.


“Dih dede.. somse sama mama,” cetus Dewi.

__ADS_1


“Kali-kali dong, sayang. Arkhan kan sayang sama papa, ya,” Aditya mencium pipi anaknya.


Dewi menyebikkan bibirnya, namun tak ayal dia tersenyum juga. Sesekali dia menyuapi Arkhan jus buah yang dibuatnya. Adrian memandangi keluarga bahagia tersebut tanpa berhenti tersenyum. Dia sudah sangat yakin kalau Aditya bisa membahagiakan Dewi. Sekarang dia sudah siap melepaskan Dewi untuk selamanya.


“Bang, mumpung kumpul, kita foto-foto, yuk,” usul Aditya.


“Hmm.. boleh juga.”


Adrian bangun dari duduknya kemudian berjalan menuju kamarnya. Tak lama kemudian dia kembali membawa kamera DSLR lengkap tripod-nya. Dia menaruh tripod di tengah-tengah seraya memasang kamera di atasnya. Pria itu meminta semua keluarga berkumpul untuk foto bersama. Setelah mengatur timer, Adrian segera bergabung dengan yang lainnya.


“Sekarang foto mba sama keluarga,” usul Pipit.


Kali ini Roxas yang berada di belakang kamera. Dia memberi arahan pada Toni dan Ida, kemudian Adrian, Aditya dan Adrian. Arkhan masih belum mau lepas dari sang papa. Sambil menggendong Arkhan, Aditya menatap kamera seraya menyunggingkan senyumnya.


“Tante sama mamang sekarang,” seru Aditya sambil terkekeh.


Keduanya segera berpose, kali ini Adrian yang mengambil gambarnya. Pria itu mengarahkan pasangan suami istri tersebut untuk berpose semesra mungkin. Tanpa malu-malu Roxas memperagakan gaya yang terkadang membuat Pipit risih. Ida hanya terkikik saja melihat adiknya yang salah tingkah.


“Dit, ayo sekarang giliranmu sama Arkhan dan Dewi.”


Kembali Adrian mengarahkan gaya keluarga adiknya supaya hasilnya bagus di kamera. Beberapa kali mereka berganti gaya, ada yang duduk, berdiri atau saling memeluk dengan Arkhan di tengah-tengah mereka.


“Abang sini foto bareng kita,” ajak Aditya.


“Sebentar.”


Lebih dulu Adrian mengatur timer di kameranya. Dia mengambil Arkhan dari Aditya agar adiknya itu bisa memeluk Dewi. Di saat timer bergerak menuju waktu pemotretan otomatis, tiba-tiba saja ponsel Aditya. Refleks dia menjawab panggilan seraya menjauh. Ketika Aditya out of frame, terdengar suara shuter kamera mengabadikan gambar Adrian, Dewi dan Arkhan.


“Oke, bang. Kita ketemu di dekat kantor labelku aja ya,” ujar Aditya mengakhiri panggilannya.


“Mas..”


“Dit..”


Dewi dan Adrian memanggil Aditya bersamaan. Tahu kalau dirinya tiba-tiba keluar dari lokasi pemotretan, dia hanya melemparkan cengiran khasnya. Lalu pria itu kembali ke tempatnya.


“Maaf sayang. Sorry, bang. Ada telepon penting. Ayo foto lagi.”


Kembali Adrian mengatur timer kamera. Kali ini gambar mereka berempat dapat terekam dengan baik. Adrian memberikan kembali Arkhan pada Aditya. Anak itu meronta ingin digendong sang papa. Pria itu kemudian memeriksa hasil jepretan kameranya. Aditya ikut melihat hasil foto-foto mereka.


“Yang ini hapus aja,” Adrian hendak menghapus fotonya bersama dengan Dewi dan Arkhan tadi.


“Eh jangan, bang. Bagus ini fotonya, sayang kalau dibuang.”


Melihat Aditya yang bersikukuh mempertahankan foto tersebut, Adrian mengalah dan tidak menghapusnya. Aditya berjalan mendekati Dewi yang tengah membereskan sisa-sisa piring kotor.


“Yang.. aku mau pergi dulu sebentar, ketemu sama bang Setya.”


“Jangan lama-lama, mas.”


“Iya.”


Aditya mencoba memberikan Arkhan pada Dewi, namun anaknya itu menolak. Dia membalik tubuh sang anak menghadapnya. Kemudian dia mendaratkan ciuman bertubi pada Arkhan.


“Papa pergi dulu sebentar ya, sayang. Dede di sini sama mama, sama ayah dan mbah. Jagain mama ya, sayang. Dede jangan nakal, jangan rewel. Papa sayang banget sama Arkhan.”


Dengan erat Aditya memeluk Arkhan. Anaknya itu juga nampak nyaman dalam pelukan sang papa. Kembali Aditya mendaratkan ciuman di kening dan pipi anaknya. Kemudian mengarahkan bibir Arkhan ke kening dan kedua pipinya.


“Jagoan papa sama ayah dulu, ya.”


Adrian mengambil Arkhan dari tangan Aditya. Anak itu terlihat meronta dan menangis begitu lepas dari gendongan sang papa. Adrian sengaja mengajaknya ke kamar untuk bermain. Tangis anak itu berhenti ketika melihat mainan yang ada di atas kasur Adrian.


Sambil merangkul Dewi, Aditya berjalan ke depan. Sebelum pergi dia berpamitan dulu pada Ida, Toni, Pipit dan Roxas. Pria itu berhenti di dekat motornya. Dia membalikkan badannya kemudian memeluk istrinya cukup lama.


“Kenapa, mas?”


“Ngga apa-apa. Pengen peluk kamu aja. Cium aku dong sayang,” ujar Aditya seraya melepaskan pelukannya.


“Di sini?”


“Iya. Kenapa? Malu? Kan ngga ada siapa-siapa.”


Dewi berjinjit kemudian memeluk leher Aditya. Dia mendaratkan ciuman di kening, kedua pipi dan terakhir di bibir Aditya. Tangan Aditya menahan tengkuk Dewi untuk membalas ciumannya. Beberapa kali dia memagut dan m*l*mat bibir sang istri. Aditya mengakhiri ciuman dengan sesapan panjang kemudian menyatukan kening mereka.


“Aku sayang kamu, De. Love you so much. Kamu dan Arkhan adalah hidupku.”


“Aku juga mencintaimu, sayang.”


Aditya segera mengenakan helmnya. Sebelum naik ke atas tunggangannya, dia mengecup bibir Dewi lebih dulu. Kepalanya menoleh pada Dewi, menatap dalam ke arah istrinya itu untuk beberapa saat.


“Aku pergi dulu, sayang. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Ketika motor Aditya melaju meninggalkan pekarangan rumah, Dewi meraba dadanya. Entah mengapa perasaannya tak enak melepas suaminya pergi. Namun Dewi berusaha mengenyahkan perasaan tersebut. Dia segera masuk ke dalam rumah setelah motor Aditya tidak terlihat lagi.


🌸🌸🌸


**Kalau sampai bab ini masih aja nanya kapan naik ranjangnya, jawabannya : nanti lebaran monyet😝🏃🏃🏃


Aku udah males jelasin, mau lanjut atau ngga, bad mood atau kesel, bodolah. Buat aku yg bikin bad mood itu review yg kelamaan.

__ADS_1


Mamake mau ikut foto keluarga dulu sama yayang Ad💃💃💃**


__ADS_2