Naik Ranjang

Naik Ranjang
Kotak Pandora


__ADS_3

“Ketemu!”


Dewi turun dari ranjang lalu mengambil kursi dan menaruhnya di dekat lemari. Wanita itu naik ke atas kursi lalu mencoba mengjangkau kotak yang berada di bagian paling ujung lemari. Beberapa kali dia menjinjit dengan jari coba menggeser kotak tersebut ke dekatnya. Akhirnya dengan susah payah, Dewi berhasil mengambil kotak tersebut.


Dewi menaruh kotak yang tutupnya berdebu ke lantai. Dia mengembalikan dulu kursi ke tempatnya semula lalu mengambil kotak milik Adrian. Wanita itu segera keluar dari kamar tersebut setelah mematikan kembali lampu kamar. Dewi masuk ke kamarnya lalu meletakkan kotak di atas karpet.


Sejenak Dewi memandangi kotak berwarna biru tua tersebut. Hatinya sedikit ragu untuk melihat isi di dalamnya. Jika benar apa yang dikatakan Aditya tadi, maka di dalam kotak ini berisi kenangan akan wanita yang dicintai Adrian. Dewi menarik nafas panjang beberapa kali sebelum membuka kotak tersebut.


Perlahan namun pasti, tangan Dewi bergerak membuka tutup kotak. Benda pertama yang dilihatnya adalah helm berwarna hijau. Dewi ingat betul kalau helm itu adalah helm yang dibelikan Adrian untuknya. Kemudian tangannya meraih album foto yang ada di dekat helm.


Mata Dewi memanas melihat foto-foto di dalam album. Foto tersebut berisikan kenangan Dewi bersama dengan Adrian. Saat mereka menghabiskan waktu bersama mengunjungi tempat-tempat wisata. Airmata Dewi menetes melihat foto dirinya yang tengah tersenyum bahagia saat bersama Adrian. Jarinya meraba foto Adrian yang tengah tersenyum.


Kemudian dia mengambil kotak berisi sapu tangan, hadiah yang diberikan olehnya saat perpisahan dulu. Lalu dia mengambil sebuah kertas yang terlipat. Ternyata itu adalah surat penyesalan yang dulu dibuatnya saat ketahuan memberikan contekan pada Roxas. Terakhir, dia mengambil kotak beludru yang ada di bagian paling bawah kemudian membukanya.


“Aa… aa…”


Tangis Dewi pecah mengetahui wanita yang dicintai Adrian ternyata dirinya sendiri. Airmata wanita itu jatuh berderai tak tertahankan lagi saat melihat cincin yang ada di dalam kotak beludru tersebut. Ternyata Adrian berniat melamar dirinya dan sampai sekarang masih menyimpan rapih semua kenangan mereka berdua.


“Aa…”


Hanya kata itu saja yang terucap dari bibir Dewi. Terbayang kembali masa-masa menyakitkan dulu, ketika Adrian menolaknya. Nyatanya pria itu tengah membohongi dirinya sendiri. Adrian ternyata sangat mencintainya. Tangis wanita itu semakin kencang saat mengingat ucapan pedas yang dilontarkannya pada Adrian.


Ida keluar dari kamarnya. Wanita itu hendak melihat apakah bi Parmi sudah bangun apa belum. Wanita itu menghentikan langkahnya ketika mendengar suara tangis Dewi dari dalam kamar. Dia mengetuk pintu sebentar sebelum akhirnya masuk ke dalamnya. Ida terkejut melihat Dewi yang tengah menangis tersedu di atas karpet.


“Dewi.. kamu kenapa?”


“Mama…”


Dewi tak sanggup mengatakan apapun selain memanggil Ida. Wanita itu menghambur dalam pelukan ibu mertuanya. Ida yang awalnya bingung mulai mengerti ketika melihat isi kotak di lantai. Rupanya Dewi sudah menemukan rahasia sang anak yang terpendam. Pantas saja wanita itu menangis tersedu.


“Bang Ad…. Mencintaiku, ma..”


“Iya.. dia memang mencintaimu. Sangat mencintaimu, sayang. Dia mencintaimu dengan caranya sendiri.”


Ida pun tak bisa menahan haru melihat Dewi yang masih saja menangis. Wanita itu tak bisa menahan airmatanya yang ikut berjatuhan. Dia menarik Dewi ke dalam pelukannya, membiarkan menantunya itu menumpahkan semua kesedihannya.


🌸🌸🌸


Sejak menemukan kotak Pandora milik Adrian, Dewi hanya mengurung diri saja di kamar. Sehabis memandikan anaknya, Arkhan diserahkan pada Ida untuk berjemur. Dewi hanya duduk melamun atau berbaring saja. Dia masih shock setelah mengetahui akan perasaan Adrian padanya. Tidak sabar rasanya menunggu pria itu kembali dan menanyakan padanya secara langsung.


Ida sama sekali tak mengganggu Dewi. Wanita itu membiarkan saja menantunya mengurung diri di kamarnya. Sejak pagi sampai sekarang Dewi masih belum keluar dari kamarnya. Bahkan wanita itu pun kehilangan selera makannya hari ini. Sepertinya Dewi masih membutuhkan waktu untuk menerima semuanya.


Menjelang sore, Ida mengajak Arkhan bermain di teras, sambil menunggu kedatangan Toni dan Adrian. Wanita itu memberikan jus buah untuk cucunya itu. Arkhan didudukkan di kursi makan khusus anak-anak. Kepala Arkhan menoleh ketika mendengar suara mobil Adrian memasuki pekarangan rumah. Tubuh anak tersebut bergerak-gerak melihat kedatangan ayahnya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Arkhan semangat banget lihat ayahnya pulang.”


“Halo jagoan ayah, lagi apa nih?”


Adrian berjongkok di depan Arkhan untuk mensejajarkan tingginya. Tangan Arkhan terulur seperti ingin digendong. Tak ada pergerakan dari Adrian untuk meraih anak itu. Dia baru saja pulang dari luar kota, pakaiannya pasti kotor oleh debu dan keringat.


“Nanti ya, ayah mau mandi dulu. Habis mandi, kita main. Ok?”


Adrian mengangkat sebelah tangannya. Arkhan menepukkan tangannya pada tangan sang ayah sambil tersenyum. Pria itu berdiri lalu mendaratkan ciuman di kening Arkhan. Setelah itu dia bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri.


Kurang dari lima belas menit, Adrian sudah selesai dengan ritual mandinya. Pria itu terlihat lebih segar. Dia segera mencari keberadaan sang keponakan tercinta. Rupanya Arkhan tengah menonton televisi bersama dengan Ida. Diambilnya Akhan lalu didudukkan di atas pangkuannya.


“Dewi mana, ma?”


“Kayanya ada di halaman belakang. Hari ini dia lagi sedih, nangis terus dari pagi. Makan juga cuma sedikit.”


“Kenapa ma? Dewi sakit?”


“Ngga. Coba kamu tengok aja sendiri.”


Mendengar cerita Ida tentang Dewi, pria itu jadi cemas sendiri. Dia menyerahkan Arkhan kembali pada sang mama, lalu Adrian menuju ke halaman belakang. Nampak Dewi tengah duduk termenung di kursi taman. Adrian mendekat lalu duduk di samping Dewi.


“Wi..”


Mendengar suara Adrian memanggilnya, Dewi menolehkan kepalanya. Adrian terkejut melihat wajah bengkak adik iparnya ini. Mata Dewi kembali memanas melihat Adrian. Buliran bening kembali mengalir di wajah cantiknya.


“Kamu kenapa?”


“Kamu sakit?” lanjut Adrian, namun hanya dibalas gelengan saja.


“Kenapa bang?”


“Kenapa apa?”


“Kenapa abang bohong?”


“Bohong apa?”


“Sampai sekarang abang masih pura-pura.”


“Apa maksud kamu?”


Pembicaraan keduanya terhenti ketika terdengar suara Arkhan menangis. Dewi berdiri kemudian menghampiri anaknya. Arkhan menangis sambil mengucek-ngucek matanya. Sepertinya dia mengantuk. Dewi mengambil Arkhan lalu membawanya ke kamar. Adrian yang masih belum mengerti maksud perkataan Dewi, memilih masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.

__ADS_1


Usai menyusu, Arkhan jatuh tertidur. Dewi bangun dari posisinya berbaring. Dia mengambil kotak milik Adrian yang ada di atas meja. Sambil membawa kotak tersebut, Dewi keluar dari kamar, lalu menuju kamar Adrian.


TOK


TOK


TOK


“Masuk.”


Adrian yang tengah berbaring, langsung menegakkan tubuhnya begitu melihat pintu terbuka. Matanya membulat melihat Dewi masuk sambil membawa kotak warna biru tua di tangannya. Melihat kotak tersebut, pria itu mulai paham akan maksud perkataan adik iparnya tadi. Dewi meletakkan kotak di atas meja. Adrian beranjak dari ranjang lalu mendekati Dewi.


“Wi…”


“Kenapa bang? Kenapa abang bohong? Kenapa abang membuatku membenci abang? Kenapa?!!”


“Maaf Wi.. maaf.. maaf kalau aku menyakitimu. Kamu pasti tahu apa alasanku melakukan itu.”


“Aa jahat!! Jahat!!”


Dewi mengambil guling dari atas kasur lalu memukulkannya pada Adrian beberapa kali. Setelah puas, Dewi melemparkan guling begitu saja lalu menjatuhkan diri duduk di sisi ranjang. Adrian berjongkok di depan Dewi.


“Dulu aku merasa aku adalah korban. Aku satu-satunya orang yang tersakiti. Tapi ternyata aku salah. Aku sudah membencimu, aku menyalahkanmu atas segalanya. Aku sudah menyakiti aa tanpa sengaja.”


Ada perasaan bahagia menelusup dalam hati Adrian, ketika Dewi memanggilnya dengan sebutan aa lagi. Pria itu memegang kedua tangan Dewi lalu menggenggamnya erat. Kepala Dewi terangkat lalu melihat pada Adrian.


“Dengar Wi.. lupakan itu semua. Itu hanya masa lalu. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku yang memilih jalan ini, dan membuatmu terluka. Tapi aku tidak menyesal, aku bahagia bisa melihat Adit bahagia. Terima kasih kamu sudah menjadikan Adit laki-laki sempurna, menjadi suami dan juga ayah. Terima kasih kamu sudah memberikan kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Kalau waktu bisa diputar ulang, aku akan mengambil jalan yang sama.”


“Maafin aku, a..”


“Ngga ada yang perlu dimaafin. Tidak ada yang salah di antara kita. Hanya saja aku memilih jalan yang berbeda untuk kita. Maaf kalau aku sudah membohongimu. Aku.. mencintaimu, dulu sampai hari ini dan seterusnya.”


Tangis Dewi kembali pecah. Kalimat yang dulu sangat ingin didengarnya kini keluar dari mulut pria yang ternyata masih dicintainya. Cintanya pada Adrian masih tersimpan rapih di hatinya. Dan kini pria itu sudah membuka kunci untuk melepaskan kembali perasaan itu keluar dari tempat persembunyiannya.


Adrian berdiri kemudian menuju kotak birunya. Diambilnya kotak beludru dari dalamnya, lalu pria itu kembali ke dekat Dewi. Dia kembali berjongkok di depan Dewi. Tangannya mengambil cincin dari dalamnya lalu menyematkannya di jari manis sebelah kiri wanita itu. Niat ingin melakukan hal manis, namun apa daya cincin hanya masuk sampai pertengahan jari Dewi.


"Kok ngga masuk ya? Tangan kamu melarnya banyak banget."


"Ish... Aa aja yang ngga bisa ngukur cincin!"


"Ya aku kan belinya pas kamu belum mekar kaya gini."


Mata Dewi melotot mendengarnya. Momen haru menguap begitu saja gara-gara masalah cincin. Adrian melepaskan cincin lalu memasukkan kembali ke dalam kotaknya.


"Kenapa dimasukkin lagi? Ngga niat banget ngasihnya."


"Dasar Sanghyang Nyebelin!"


Adrian meringis ketika Dewi memukuli pundaknya. Namun pria itu hanya terkekeh saja. Tangisan Dewi sudah berubah menjadi angkara murka.


“Hahaha... Udah jangan marah. Nanti aki beliin yang baru. Tapi kamu mau kan menikah denganku?”


“Ngga mau.”


“Hah? Ngga mau? Kenapa? Apa kamu sudah punya calon lain? Aku ngga rela Arkhan punya papa baru.”


“Aku ngga mau nikah sama aa.”


“Kenapa?”


“Aa tuh ngga niat nikah ama aku. Ngelamar ngga ada romantis-romantisnya.”


“Hah?”


Sejenak Adrian hanya terbengong saja mendengar jawaban dari Dewi. Wanita itu tak bisa menahan tawanya melihat wajah cengo Adrian.


“Pokoknya aku ngga mau nikah sama aa, kalau aa ngelamarnya kaya tadi. Aku maunya yang romantis!”


“Terus kamu mau lamaran kaya gimana?”


“Pikir aja sendiri. Lihat contekan dari utube atau tiktok. Kreatif dikit napa.”


Dewi menjulurkan lidahnya pada Adrian kemudian keluar dari kamar kakak iparnya itu. Perasaannya sudah lebih ringan setelah berbicara dengan Adrian dan meminta maaf pada pria itu. Dewi lalu berjalan menuju meja makan. Setelah berbicara dengan Adrian, tiba-tiba saja perutnya terasa lapar.


“Kamu mau makan, Wi? Tadi siang kamu cuma makan sedikit.”


“Iya, ma. Aku laper.”


Dari arah dapur, bi Parmi keluar membawakan lauk pauk untuk makan malam nanti. Dewi melihat ayam kemangi yang di atasnya ada irisan tomat segar dan cabe rawit merah dan masih nampak mengepul asapnya. Cacing diperutnya langsung meronta melihat hidangan tersebut.


“Ini makanan kesukaan Ad. Nanti kamu belajar masaknya.”


“Iya, ma.”


Dengan semangat empat lima, Dewi menyendokkan nasi ke dalam piringnya. Setelah menangis seharian, wanita itu butuh asupan untuk merefil tenaganya yang tadi sudah terbuang.


🌸🌸🌸


Sejak mengungkapkan isi hatinya, hubungan Dewi dan Adrian semakin membaik saja. Pria itu sudah tidak sungkan lagi menunjukkan rasa cintanya pada Dewi, namun tetap dengan gayanya yang sering membuat Dewi naik darah. Ida sendiri sudah mulai melakukan persiapan pernikahan sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Namun dibalik antusiasme sang mama mempersiapkan pernikahannya, Adrian justru pusing akan syarat yang diajukan Dewi. Dia yang belum pernah menjalin hubungan dengan siapa pun harus melamar Dewi dengan cara romantis. Pria itu mencoba mencari inspirasi di utube atau tiktok seperti yang dibilang Dewi, namun kebanyakan caranya terlihat norak di matanya.


Demi mendapatkan ide brilian yang romantis, Adrian memilih menemui Roxas di kedai kopinya. Melihat kunjungan keponakannya, Roxas menghentikan pekerjaannya lalu menghampiri Adrian.


“Tumben sendiri,” tanya Roxas sambil mendudukkan diri.


“Aku mau minta tolong.”


“Soal apa?”


“Dewi.. dia minta dilamar pake cara romantis.”


“Hahaha…”


Roxas langsung terbahak mendengarnya. Tidak menyangka saja, sahabatnya yang somplak itu ternyata menginginkan lamaran yang romantis. Dia semakin terpingkal melihat wajah Adrian yang nampak kusut. Apalagi masa iddah Dewi hanya tinggal seminggu lagi. Berarti tenggat waktunya semakin dekat saja.


“Jangan ketawa. Bantuin cari ide.”


“Aduh bingung. Kamu tau sendiri aku kan nikahnya gara-gara digerebek, mana sempet ngelamar Pipit waktu itu.”


“Hahaha..”


Kali ini giliran Adrian yang tertawa. Dia teringat ide konyolnya bersama Aditya untuk menyatukan sang tante dengan brondong yang tergila-gila padanya. Apa yang terjadi saat itu sangat jauh dari kata romantis.


“Gimana kalau gini..”


Adrian mendekatkan telinganya. Roxas berbicara dengan suara pelan, seolah-olah ide briliannya itu takut dicuri oleh orang. Nampak kepala Adrian mengangguk-angguk tanda mengerti. Sepertinya apa yang dikatakan om bulenya itu bisa direalisasikan. Tidak muluk-muluk, tapi cukup romantis.


“Gimana? Oke kan?”


“Oke,” Adrian mengangkat jempolnya.


Senyum tercetak di wajah Roxas. Senang rasanya sudah berbagi ide brilian dengan keponakannya itu. Semoga saja sang sahabat bisa tersentuh dengan ide yang dikatakannya barusan. Dia sudah tidak sabar melihat Dewi dan Adrian bersanding di pelaminan.


“Gimana tante Pit udah isi?”


“Belum..”


“Udah promil kan?”


“Ini kita lagi program promil. Emang belum rejeki kali.”


“Anggap aja masa pacaran kalian diperpanjang.”


“Iya. Tapi kasihan Pipit. Kayanya dia udah pengen punya anak. Aku juga sih.”


“Sabar, yang penting jangan putus usaha sama doanya.”


“Kalau kalian sudah nikah nanti, kalian jangan dulu punya anak dulu. Biar Arkhan besaran dikit.”


“Heleh pake alasan Arkhan. Bilang aja ngga mau kesalip.”


“Hahaha… tau aja.”


Terdengar gelak tawa keduanya. Pipit yang baru keluar dari dapur menatap penuh curiga pada suami juga keponakannya. Melihat sang istri, Roxas segera meninggalkan meja Adrian. Dia membantu Pipit melayani pelanggan yang baru saja datang.


🌸🌸🌸


Dewi yang tengah bermain di halaman belakang dengan Arkhan, terkejut ketika bi Parmi datang dan mengatakan ada teman yang mencarinya. Sambil menggendong sang anak, Dewi segera menuju ruang tamu. Keningnya berkerut saat melihat Budi datang seorang diri. Pria itu duduk di ruang tamu. Dia langsung memasang senyum terbaiknya begitu melihat kedatangan Dewi.


“Bud.. tumben ke sini. Sendirian aja?”


“Iya.”


“Ada apa?”


Budi tak langsung menjawab. Pria itu nampak berpikir sejenak, seperti tengah merangkai kata-kata yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya. Sebelum pergi ke rumah Dewi, pria itu sudah memikirkan matang-matang apa yang akan dikatakan olehnya.


“Bud..” panggilan Dewi membuyarkan lamunan pria itu. Dia melihat pada Dewi seraya menetralkan degup jantungnya yang sudah seperti drum band saja.


“Ehmm.. Wi.. sebelum aku minta maaf kalau kedatangan aku terkesan mendadak. Tapi bukan berarti tanpa persiapan. Aku sudah memikirkan ini matang-matang.”


Kening Dewi berkerut mendengar kata-kata Budi yang belum bisa ditebak kemana arahnya. Apalagi pria itu mengganti panggilannya dari gue menjadi aku. Mendadak telinga Dewi terasa gatal.


“Aku tahu, mungkin ini terlalu cepat bagimu. Tapi aku cuma ngga mau kehilangan momen. Setelah masa iddahmu selesai, aku dan kedua orang tuaku akan melamarmu.”


“Hah??”


🌸🌸🌸


**Jiaaaahhh si Budi beneran nyalip🤣🤣🤣


Yang merasa aneh dengan mimpi Dewi, ngga usah dipikirin. Namanya juga halu, bebas aja dong. Kalo dipikirin nanti kepala jadi pitak, ane kaga tanggung janab yeee🤣🤣🏃🏃🏃


Aku ngga nyangka ya kalian begitu suudzon ama aku🤧 Mana sempet aku ganti isi kotak bang Ad, aku tuh lagi sibuk jodohin si ondel² Stella ama Tamar si polkam😝**


Yang minta visual Arkhan aku kasih nih. Maaf yoo kalo tidak sesuai ekspektasi😉


__ADS_1


__ADS_2