
Kampus Nusantara sudah banyak didatangi calon mahasiswa baru. Pendaftaran gelombang satu memang sudah dibuka sejak seminggu yang lalu. Kampus ini membuka pendaftaran sebanyak tiga gelombang. Gelombang pertama dilakukan berdekatan dengan jadwal kelulusan. Gelombang kedua, dibuka bersamaan dengan pelaksanaan SNMPTN, sedang gelombang ketiga dibuka setelah pengumuman hasil SNMPTN.
Bersama para pendaftar lainnya, Dewi mengambil formulir pendaftaran kemudian mengisinya di tempat yang sudah ditentukan. Aditya dengan setia menemani Dewi. Sesekali matanya menyapu orang-orang yang berkumpul di dekat loket pendaftaran. Bukan hanya calon mahasiswa baru yang ada di sana, tapi juga beberapa senior ikut nimbrung. Sepertinya mereka tengah mencari mangsa baru di antara kumpulan para calon maba tersebut.
“Kamu rencana ambil jurusan apa?” tanya Aditya.
“Komunikasi.”
Awalnya Aditya terkejut mendengarnya, namun kemudian pria itu menyunggingkan senyuman. Jika Dewi mengambil kuliah jurusan komunikasi, itu artinya dia akan menjadi mahasiswa Adrian. Karena setahunya sang kakak memang mengajar di jurusan tersebut. Jika seperti ini, dia bisa sedikit tenang. Pemuda itu akan meminta bantuan Adrian menjaga Dewi dari godaan para seniornya.
Setelah selesai mengisi formulir dan menandatanganinya, Dewi menyerahkan kembali formulir tersebut ke bagian pendaftaran. Petugas pendaftaran kemudian memberikan kartu tanda peserta ujian saringan masuk pada Dewi. Ujian saringan masuk itu akan dilaksanakan hari Senin depan. Dewi pun segera kembali ke tempat di mana Aditya menunggu.
“Udah selesai?”
“Udah.”
“Kapan ujian saringan masuknya?”
“Senin depan.”
“Jam berapa?”
“Jam.. jam 9,” Dewi melihat kartu tanda pesertanya.
“Hmm.. mudah-mudahan aku shift siang, jadi bisa anterin dan tungguin kamu.”
“Aamiin.”
“Sekarang mau kemana? Mumpung aku libur.”
“Kemana ya?”
“Mau lihat Roxas gawe ngga?”
“Emang bisa?”
“Bisa, ayo”
Aditya menarik tangan Dewi menuju pelataran parkir. Pria itu semakin mengeratkan genggamannya ketika melihat beberapa pasang mata menatap lapar pada Dewi. Seketika perasaan cemburu melandanya. Tak rela rasanya gadis sang pujaan hati dilihat sedemikian rupa oleh deretan kaum adam tersebut. Tanpa berlama-lama dia segera meninggalkan area kampus Nusantara.
🌸🌸🌸
Aditya melambatkan laju motornya ketika memasuki jalan Braga. Letak tempatnya bekerja berada di dekat Gedung Merdeka, sebuah gedung bersejarah yang terkenal di kota Bandung. Kemudian dia membelokkan kendaraannya memasuki pelataran parkir hotel Amarta. Aditya menunjuk pintu masuk hotel, di mana terdapat sepasang wanita dan pria mengenakan seragam hotel tengah berdiri di dekat pintu masuk. Walau dari jarak beberapa meter, Dewi bisa mengenali kalau pria itu adalah Roxas, sahabatnya.
Aditya terus melajukan motornya memasuki area basement. Dia menghentikan kendaraannya itu di tempat biasanya memarkirkan motornya. Ternyata di sana ada Akay yang juga baru datang.
“Pot,” sapa Akay.
“Oii..” jawab Aditya seraya melepas helmnya.
“Keur naon? Libur lain? (lagi apa? Bukannya libur?).”
“Mau lihat Roxas.”
“Saha Roxas? (siapa Roxas?)."
“Itu DW concierge yang baru.”
“Oh nu bule tea. Eta baturan maneh? (oh yang bule. Itu temen lo?).”
“Yoi.”
“Terus eta saha? (terus itu siapa?),” Akay menunjuk pada Dewi.
Aditya turun dari motornya kemudian membawa Dewi mendekat pada Akay. Dia segera mengenalkan gadis itu pada rekan kerjanya.
“De.. kenalin ini temanku, Akay,” ujar Aditya pada Dewi. Gadis itu mengulurkan tangannya pada Akay yang langsung dibalas oleh pria itu.
“Saha euy?” desak Akay.
“Calon makmum,” jawab Aditya seraya memperlihatkan lesung pipinya. Dewi juga tak keberatan Aditya menyebutnya seperti itu, karena sudah biasa juga.
“Walah si Nindi patah hati kieu carana hahaha.. (Nindi patah hati gini caranya).”
Aditya membulatkan matanya ketika Akay menyebut nama Nindy, salah satu pegawai di pastry. Sudah menjadi rahasia umum sejak pertama Aditya bekerja, gadis itu memang sudah jatuh hati pada Aditya. Namun sayang, Aditya menganggapnya tak lebih dari teman saja.
“Masuk jam berapa?” Aditya coba mengalihkan pembicaraan.
“Middle. Rek ka kitchen heula moal? (mau ke dapur dulu ngga?).”
“Ngga ah. Males, pasti ada si Jose.”
“Huuh, puguhan males urang. Asup heulanya, Dewi.. (Iya, emang males gue. Masuk dulu ya).”
Akay menganggukkan kepalanya pada Dewi kemudian segera menuju ruang ganti di mana lokernya berada. Sedang Aditya mengajak Dewi keluar dari area basement. Dia mengajak Dewi untuk menemui Roxas.
Sementara itu di bagian depan hotel, Roxas dan rekannya masih setia berdiri, menunggu tamu yang datang. Erika, rekan kerjanya, sesekali menggerakan kakinya yang terasa pegal. Bukan hanya pegal berdiri, tapi juga pegal mengenakan high heels. Roxas yang merasa kasihan, meminta Erika untuk beristirahat sebentar.
“Istirahat heula (istirahat dulu),” usul Roxas.
__ADS_1
“Nanti kamu sendirian.”
“Teu nanaon. Asal ulah lila teuing (ngga apa-apa, asal jangan lama-lama).”
Erika menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menuju front desk, di mana staf concierge berjaga. Dia mendudukkan diri di salah satu kursi yang ada di sana seraya memijit betisnya yang terasa pegal.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan bercat putih berhenti di depan pintu masuk hotel. Dari dalamnya turun dua orang gadis muda. Sambil menggeret koper kecilnya, mereka melangkahkan kaki mendekati pintu masuk. Roxas langsung memasang senyum manis menyambut dua gadis berwajah oriental tersebut.
“Selamat datang di hotel Amarta. Welcome to Amarta Hotel,” sambut Roxas.
“Oh my God, tiga bulan ngga ke sini, baru tahu ada cogan yang nyambut kita,” ujar salah satu gadis sambil terkikik.
Gadis yang satunya mendekati Roxas, kemudian melihat tag name yang menempel di dada pemuda tersebut. Walau risih, Roxas tetap berusaha bersikap professional dan menyunggingkan senyum manisnya.
“Namanya Roxas. Keren, sekeren penampilannya,” puji gadis itu.
“Terima kasih, kakak,” balas Roxas sopan.
“Xas.. boleh foto bareng? Boleh ya?”
“Eung.. bo.. boleh.”
Langsung saja kedua gadis itu berpose di dekat Roxas. Beberapa kali salah satunya membidikkan kamera dan mengambil gambar mereka. Jelita, salah seorang resepsionis yang juga deretan pemuja Roxas, melihat dengan tatapan cemburu. Sontak saja itu memancing rekannya untuk menggoda.
“Biasa aja keles lihatnya, ngga usah sampe manyun-manyun gitu tuh bibir.”
“Apaan sih.”
“Resiko ngeceng cogan ya gitu. Banyak saingan hihihi..”
“Ish..”
Kecemburuan Jelita berakhir begitu melihat kedua gadis tersebut mengakhiri prosesi foto-fotonya. Kini dirinya yang bersiap menyambut kedatangan dua tamu tetap tersebut. Kedua gadis itu memang sering menginap di hotel ini setiap berkunjung ke Bandung. Beberapa pegawai hotel sudah mengenali mereka.
Dewi dan Aditya yang memang sudah berada di dekat pintu masuk, memilih diam memperhatikan saat Roxas melayani permintaan foto bersama. Dalam hati Dewi mendesis, tidak di sekolah, tidak di tempat kerja, Roxas selalu saja menarik perhatian.
“Ehem!”
Roxas menolehkan kepalanya ke arah kanan saat mendengar suara dehem. Matanya membulat melihat kedua sahabatnya berdiri tak jauh darinya. Pemuda itu meninggalkan posnya sebentar untuk menghampiri Dewi dan Aditya.
“Ngapain lo ke sini? Kangen?” tanya Roxas.
“Pede gila. Gue diajakin Adit lihat lo kerja. Ck.. ck.. ck.. ngga di mana-mana kerjaan lo tebar pesona mulu.”
“Weh jangan salahin gue. Salahin para cewek yang ngga bisa nahan lihat muka ganteng gue.’
Aditya hanya terpingkal mendengar perdebatan dua sahabat itu. Kabar kalau Roxas menjadi DW paling populer di hotel ini memang sudah sampai ke telinganya. Bahkan ada tamu hotel yang memberikan ulasan tentang bule kere tersebut. Komennya tentang Roxas adalah, The most handsome concierge that I ever seen (concierge paling ganteng yang pernah aku lihat). Rasanya tidak salah Yulita menempatkan Roxas di bagian ini.
“Abis dari mana?” tanya Roxas.
“Dari kampus.”
“Udah daftarnya?”
“Udah.”
Perbincangan mereka tidak bisa berlanjut, ketika dari arah gerbang terlihat sebuah mobil masuk. Roxas buru-buru kembali ke tempatnya bertugas. Aditya pun segera mengajak Dewi meninggalkan hotel. Dia berencana mengajak Dewi makan siang di tempat makan yang ada di sekitar sana. Sebelum pergi, Dewi menyempatkan mengambil gambar Roxas yang tengah menyambut kedatangan tamu hotel. Rencananya dia akan mengirimkan gambar tersebut pada Adrian.
🌸🌸🌸
Pagi-pagi Dewi sudah berkutat di dapur. Gadis itu sibuk di depan wajan, sutil di tangannya bergerak mengaduk nasi goreng buatannya. Setelah bumbu nasi goreng, nasi dan telor sudah tercampur rata, dia memasukan sawi hijau, suiran ayam goreng dan sosis ke dalam wajan. Tak lupa menambahkan garam, penyedap dan kecap manis.
Gadis itu terus mengaduk sampai semua tercampur rata. Diambilnya sedikt nasi kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Dewi mengangguk-anggukkan kepalanya setelah dirasa nasi goreng buatannya cukup enak. Dia mematikan kompor, lalu membagi nasi goreng ke dalam empat piring. Di atas piring dia memberi hiasan irisan tomat dan timun.
“Tara… nasi goreng ala chef Dewi sudah siap,” ujarnya pelan. Nenden yang masuk ke dapur segera menghampiri anaknya itu.
“Buat apa, neng?”
“Nasi goreng. Satu buat ibu, aku, Adit sama Rox. Cobain, enak ngga bu?”
Nenden mengambil sendok kemudian mengambil sedikit nasi goreng dari piring. Wanita itu terdiam sejenak, mencoba merasakan masakan buatan anaknya. Dewi menunggu dengan cemas komentar sang ibu. Dirinya sudah seperti kontetas Master Chef Indonesia yang harap-harap cemas menunggu komentar dari chef Renatta.
“Gimana bu?”
“Lumayan, tapi kurang garem dikit. Tambah aja garem meja, dikit aja lagi biar lebih enak.”
“Ok, bu.”
Dewi mengambil garam kemudian menaburkan di tiga piring nasi goreng tersebut. Dengan gerakan pelan, dia mengaduk-aduk supaya garam tercampur rata. Baru dua piring yang diaduk ketika terdengar dentingan suara ponsel. Buru-buru dia menyambar ponsel di atas meja. Senyumnya merekah ketika melihat sebuah pesan masuk dari Adrian. Setelah menunggu semalaman, akhirnya pria itu membalas pesannya.
From Aa :
Maaf, semalam ketiduran. Bagaimana Roxas?
To Aa :
Baik-baik aja. Kayanya dia enjoy banget sama kerjaannya. Makin banyak fans-nya.
From Aa :
__ADS_1
Bagus dong.
To Aa :
Aa masih di Tanjung Lesung?
From Aa :
Iya, hari ini mau ke pulau Liwungan.
To Aa :
Enak jalan-jalan terus. Aku juga mau kaya gitu🥺
From Aa :
Nanti aku pulang. Kita jalan-jalan.
To Aa :
Beneran? No PHP, no JJTJ BMHM?
From Aa :
Iya. Udah dulu, ya. Aku mau berangkat sekarang.
To Aa :
Iya, aa. Semangat, hati-hati di jalan. Kalau jatuh bangun sendiri ya.
Chat yang sukses membuat Dewi bahagia berakhir. Gadis itu memasukkan ponsel ke dalam saku bajunya. Kemudian dia mengambil garam meja dan menaburkannya ke piring terakhir, baru mengaduknya. Dibawanya piring terakhir dan piring satunya ke luar.
Gadis itu menghampiri Roxas dan Aditya yang tengah duduk di atas karpet, di dekat Nenden berjualan. Piring terakhir diberikan pada Roxas. Kemudian dia kembali masuk ke dalam, tak lama muncul lagi dengan piring di tangannya. Dewi mendudukkan diri di samping Aditya.
“Nasgor buatan siapa nih?” tanya Roxas.
“Gue dong,” bangga Dewi.
“Tumben masak. Tapi gue ngga yakin sama rasa masakannya,” ledek Roxas.
“Awas aja ngeledek tapi diabisin.”
Aditya lebih dulu menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Dia hanya mengangkat jempolnya, menandakan nasi goreng buatan gadis pujaannya enak. Dewi pun mulai memakan nasi goreng. Namun keduanya terkejut saat mendengar Roxas terbatuk ketika baru menyuapkan sedikit nasi ke dalam mulutnya.
Uhuk.. uhuk..
“Kenapa lo?” Aditya menepuk-nepuk punggung Roxas.
“Buset Wi.. lo mau ngeracunin gue?”
“Lah emangnya kenapa?”
“Asin banget. Lo mau bikin gue kena darah tinggi ya,” protes Roxas kesal.
“Masa sih? Punya gue ngga,” sangkal Dewi.
“Punya gue juga ngga,” timpal Aditya.
“Cobain aja,” Roxas menyodorkan piring di tangannya.
Tak percaya dengan ucapan sahabatnya, Dewi segera mencoba nasi di piring Roxas, begitu pula dengan Aditya. Dewi melirik pada Roxas kemudian melemparkan cengirannya. Sepertinya karena asik berbalas pesan dengan Adrian, dia lupa menambahkan garam lagi ke piring Roxas.
“Bener kan asin? Lo kilo man ama gue ya,” kesal Roxas.
“Sorry, Rox. Gue lupa kayanya nambahin lagi garem ke piring lo, hehehe.. sini gue ganti deh. Tapi nasinya abis. Gue bikin mie goreng special aja, ya.”
“Bikinnya nanti aja. Habisin dulu makanan kamu,” ujar Aditya.
“Iya, makan aja dulu,” sahut Roxas.
Dewi pun melanjutkan makannya, sedang Roxas menyibukkan diri dengan ponselnya. Grup WA departemen FO sedari tadi tak berhenti chat. Ada saja pesan yang masuk, baik yang berkaitan dengan pekerjaan, maupun sekedar gossip pagi.
Usai menghabiskan nasi goreng, Dewi bergegas kembali ke dapur. Dia sudah berjanji membuatkan mie goreng untuk sahabatnya itu. Dewi menyiapkan semua bahan di meja. Mie instan goreng, sawi hijau, telor dan sosis.
Sementara itu di luar, Roxas, Aditya dan Nenden dikejutkan dengan kedatangan sebuah mobil pick up. Mobil tersebut berhenti di depan kontrakan kosong yang letaknya di samping kontrakan bu Farah. Bukan hanya mereka bertiga, namun para penghuni kontrakan lain pun terkejut.
Dari dalam pick up, turun seorang wanita cantik. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, hanya 160 cm. Rambutnya yang bergelombang berwarna coklat kepirangan. Dan yang paling menarik perhatian adalah bodinya yang sudah seperti gitar Spanyol.
“Buset semok bener, depan belakang nonjol,” celetuk Roxas yang langsung mengundang toyoran Aditya.
Wanita itu membuka pintu rumah kemudian mengarahkan dua orang pekerja yang datang bersamanya untuk memasukkan barang-barang ke dalam rumah. Tidak banyak yang dibawa wanita itu, hanya kasur ukuran queen size tanpa ranjang, kulkas, mesin cuci, lemari, meja rias, televisi dan perabotan dapur.
Dua pekerja tersebut meletakkan barang-barang sesuai perintah wanita itu. Sedang barang-barang lain yang ukurannya lebih kecil ditaruh begitu saja di ruang depan. Setelah menurunkan semua barang, kedua pekerja itu langsung meninggalkan kontrakan haji Soleh beserta mobil pick upnya.
🌸🌸🌸
**Weh cewek tipe Roxas nongol lagi, cewek dewasa yang depan belakang nonjol🤣
Yang kangen ama Roxas, puas²in deh ye. Yang kangen babang Ad... tahan... tahan.. Kasih giliran si Leker buat show off😂**
__ADS_1