Naik Ranjang

Naik Ranjang
Rewind


__ADS_3

Usai meninggalkan kontrakan haji Soleh, Adrian tidak langsung menuju rumah. Dia memutuskan untuk membawa Dewi ke café, hanya untuk menikmati minuman hangat atau makan siang di sana. Sudah beberapa hari ini, janda dari adiknya itu hanya tinggal di rumah.


Mobil yang dikendarainya berbelok memasuki salah satu café. Setelah memarkirkan kendaraannya, Adrian mengajak Dewi masuk. Café ini adalah café yang biasa dikunjungi Adrian dulu saat sering mengajak Dewi makan. Mereka mengambil tempat di meja yang dekat dengan jendela. Semilir angin dapat mereka rasakan dari jendela café yang terbuka lebar.


“Mau pesan apa, pak?” tanya sang pelayan.


“Coklat hangat dua,” ujar Adrian.


“Tumben pesan coklat,” celetuk Dewi.


“Ngga boleh?”


“Ish..” Dewi membuang pandangannya ke jendela di sampingnya.


“Ada lagi?”


“Tenderloin steaknya satu. Wi.. kamu mau makan?”


“Ngga,” jawab Dewi tanpa menoleh pada Adrian.


“Itu aja dulu.”


“Coklat hangat dua, tenderloin steak satu.”


“Sama air putih ya, mas.”


“Iya, pak.”


Setelah mencatat semua pesanan, pelayan pria itu segera kembali ke meja kasir. Dia memberikan kertas pesanan pada kasir, dan kasir langsung menginput data. Nanti pesanan akan langsung diterima oleh pihak kitchen.


Dewi masih asik memandangi pemandangan dari balik jendela. Lalu lalang kendaraan, orang-orang yang berjalan kaki di trotoar jalan atau pengamen yang tengah mengamen saat lampu berubah merah. Hanya pemandangan biasa, namun saat ini wanita itu begitu menikmatinya.


Beberapa hari hanya berdiam di rumah, terkungkung dalam kesedihan, membuat otak Dewi penat. Berada di suasana seperti siang ini benar-benar menjadi hiburan untuknya. Setidaknya dia tidak akan terus mengingat Aditya yang akan membuat matanya kembali membasah.


Lamunan Dewi buyar ketika pelayan mengantarkan pesanan. Dua cangkir coklat hangat, satu gelas air putih dan sepiring tenderloin steak sudah tersaji di meja. Harum yang berasal dari steak pesanan Adrian langsung menyapa indra penciuman Dewi. Tiba-tiba saja wanita itu menjadi lapar. Menyesal rasanya kenapa dia tadi menolak tawaran kakak iparnya itu.


Diam-diam Adrian memperhatikan dari balik ponselnya. Pria itu berdiri kemudian berjalan menuju toilet. Dia berhenti lalu bersembunyi dibalik pilar. Senyumnya tersungging melihat Dewi yang terus menatap piring berisi pesanannya. Kepala Dewi menengok ke kanan dan kiri. Setelah yakin tidak ada Adrian, wanita itu mencomot dua buah French fries lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


Adrian hampir tak bisa menahan tawanya melihat pemandangan tersebut. Dia memanggil pelayan yang melintas, lalu kembali memesan hidangan yang sama. Adrian segera kembali ke mejanya. Ditatapnya piring berisi tenderloin steak tersebut, kemudian matanya beralih pada potongan French fries. Diambilnya pisau lalu mulai menghitung French fries tersebut.


“Kenapa?” tanya Dewi penasaran.


“French friesnya berkurang.”


Uhuk.. uhuk..


Dewi langsung terbatuk mendengarnya. Tanpa sadar tangannya meraih gelas berisi air putih lalu meneguknya sampai habis setengah. Adrian menatap pada adik iparnya itu penuh curiga.


“Kamu udah makan French friesnya ya?”


“Mana ada.”


“Ini buktinya berkurang. Harusnya ada 20 tapi ini tinggal 17. Kamu makan tiga ya?”


“Ngga! Orang aku cuma makan dua.”


Refleks Dewi menutup mulut dengan kedua tangannya. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus saja. Malu rasanya ketahuan Adrian mencomot makanan miliknya. Sebisa mungkin Adrian menahan tawanya.


Beneran ya, si bang Ad rese banget. Mulai deh kelakuan nyebelinnya kumat. Kemarin-kemarin pas aku ngidam dia baik banget nawarin ini itu, sekarang bikin bengek lagi. Mas Adiiiittt masa iya aku harus nikah sama modelan dia yang ngeselin sih.


Adrian menarik piring ke dekatnya, kemudian memotong-motong daging steak. Setelah semua sudah terpotong, dia menyodorkan piring ke arah Dewi.


“Apaan nih?”


“Kamu aja yang makan. Aku ngga mau makan sisa dari kamu.”


“Ish..”


Dewi mencebikkan bibirnya, namun tak ayal tangannya menarik piring lebih dekat lagi padanya. Wanita itu langsung menikmati steak dengan lahap. Beberapa saat kemudian seorang pelayan datang mengantarkan steak pesanan Adrian. Tanpa menunggu lama, pria itu juga menyantapnya.


Dalam waktu singkat steak di piring Dewi sudah tandas dimakannya, hanya menyisakan beberapa potong kentang, wortel dan buncis saja. Melihat daging steak sudah masuk semua ke dalam perut Dewi, Adrian memotong cukup besar bagian daging miliknya lalu memindahkannya ke piring wanita itu.


Hanya suara deheman saja yang terdengar dari Dewi. Dia langsung memotong daging dan memasukkan kembali ke dalam mulutnya. Entah rasa steaknya yang enak atau selera makannya sudah kembali. Setelah kepergian Aditya, wanita itu memang kehilangan nafsu makannya. Dan baru kali ini dia makan dengan lahap.


“Mau pesan lagi?” tawar Adrian.


“Ish.. emangnya perutku kaya uler apa, bisa melar dan masuk apa aja.”


Adrian berdiri setelah menyelesaikan makannya. Dia berjalan menuju etalase yang memajang aneka donat. Terlihat donat tersebut baru saja matang. Dia meminta satu lusin untuk dibungkus. Pria itu menyelesaikan pembayaran semua pesanannya baru kembali ke mejanya.


“Mau pulang sekarang?”

__ADS_1


“Iya.”


“Ini, bawa. Buat kamu nyemil.”


Bibir Dewi maju beberapa senti yang melihat wajah Adrian seperti tengah mengejek padanya ketika menyerahkan dus donat padanya. Sambil membawa kantung berisi dus donat, Dewi mengikuti langkah Adrian keluar dari café. Wanita itu naik ke dalam mobil. Ditaruhnya dulu dus donat di atas dashboard sebelum memasang seat belt. Setelah itu diambilnya kembali dus tersebut.


Mata Adrian melirik ke samping kiri ketika melihat Dewi mulai membuka dus donat. Wanita itu mengambil satu buah donat lalu menggigitnya. Timbul keisengannya untuk menjahili Dewi lagi.


“Tadi disuruh bawa ogah-ogahan, sekarang dimakan juga.”


“Mubazir, udah dibeli kalau ngga dimakan.”


“Ngeles aja kaya bajaj.”


“Biarin. Kalo aku bajaj, abang bemonya.”


Tawa kecil Adrian terdengar. Dewi memalingkan wajahnya ke samping. Diam-diam wanita itu tersenyum. Itu adalah senyum pertamanya sejak kepergian Aditya. Dia melanjutkan makannya yang tertunda karena kejahilan Adrian.


🌸🌸🌸


Roxas, Rangga, Rivan dan Fay tengah berkumpul di kantor label rekaman. Bersama dengan Wira dan juga pihak manajemen, mereka tengah mendiskusikan nasib The Soul ke depannya setelah ditinggal oleh Aditya. Mereka memang belum ada kontrak untuk manggung di manapun sejak Aditya meminta cuti. Tapi kelangsungan The Soul masih dipertanyakan.


“Bagaimana kalau kita mencari vocalis baru?” usul Wira.


“Kita memang harus secepatnya mencari vocalis baru. Band ini baru seumur jagung, rasanya sayang kalau harus dibubarkan. Lagi pula kalian semua memiliki potensi besar,” ujar Faisal, direktur marketing dan promosi.


“Maaf sebelumnya, pak. Sejak Adit meninggal, aku pribadi memutuskan untuk berhenti. Jujur aja, salah satu penyemangat aku bermusik dan bermain band adalah Adit. Aku rasa sekarang passionku sudah tidak di sana lagi,” ujar Roxas tiba-tiba.


“Xas..” panggil Rangga.


“Kamu yakin, Xas? Ngga akan menyesal?” tanya Faisal.


“In Syaa Allah, pak. Aku juga mau beresin kontrak pemotretan, ngga akan ambil kontrak lagi. Mau fokus kuliah sama ngurus kedai kopi. Kalau ngga ada halangan akhir bulan ini udah buka kedainya.”


Diam-diam Roxas dan Aditya memang merencanakan membuka usaha bersama. Mereka tahu tidak selamanya bisa mengandalkan hidup dari The Soul. Sedikit demi sedikit, mereka mengumpulkan uang dari hasil manggung dan kontrak iklan untuk membangun usaha kedai kopi.


Mereka menyewa tempat yang cukup strategis dan banyak dilalui jalur angkot. Walau tempatnya tidak terlalu besar, namun berada di pusat kota. Semua persiapan sudah matang, pegawai pun sudah mulai direkrut, bahkan Pipit sudah bersedia mundur dari pekerjaan dan mengelola kedai. Rencananya akhir bulan ini kedai akan grand opening. Namun takdir berkata lain, Aditya lebih dulu dipanggil Sang Maha Kuasa sebelum melihat kedainya buka.


“Alhamdulillah selamat ya, Xas.”


Faisal cukup senang mendengar rencana Roxas. Walau dirinya juga sedih The Soul kembali kehilangan personil, tapi setidaknya pria itu sudah memiliki rencana bagus untuk masa depannya.


“Kalau itu pilihan Roxas, kita bisa apa,” ujar Rangga.


“Semangat, Xas. Semoga sukses ya biar pun ngga bersama kita,” ujar Fay.


“Biar ngga bareng lagi, kita tetap sahabat,” cetus Rivan.


“So pastilah. Oh iya, Adit ngasih gue lagu gubahan dia, ada enam lagu. Coba kalian dengerin, siapa tahu cocok dan mau kalian pake di album terbaru.”


“Adit…”


Fay tak dapat menahan airmatanya mendengar penuturan Roxas. Setelah kepergiannya, pria itu masih meninggalkan sesuatu untuk mereka semua. Rivan yang sudah mengenal Aditya sejak SMA juga tak bisa menahan tangisnya. Wira juga ikut terharu mendengarnya.


“Adit nyanyi biasa apa rekaman di studio?” tanya Wira.


“Di studio.”


“Coba kita dengar. Kalau bagus, kita tinggal mix aja. Kita keluarin album mini mengenang kepergiannya. Xas, kamu ngga keberatan kan kalau ikut dalam pembuatan album mini?”


“Iya, aku mau. Aku udah dengar lagunya, semua enak-enak kok. Isinya ada cerita tentang cintanya pada istrinya, pada Arkhan, orang tua, sahabat dan juga abangnya. Tapi asli, gue nangis waktu dengar lagu yang isinya tentang dia dan bang Ad.”


Roxas menyusut air di sudut matanya. Kesedihannya masih belum sepenuhnya hilang ditinggal sang sahabat. Hanya saja dia berusaha ikhlas dan merelakan kepergiannya. Satu yang dia yakini, Aditya kini sudah berada di tempat yang lebih baik lagi, tanpa rasa sakit.


“Jadwalin aja kapan kita dengar bareng-bareng,” ujar Wira.


Semua menganggukkan kepalanya mendengar perkataan pria itu. Suasana mendadak menjadi mellow. Semua kembali teringat akan kenangan mereka bersama dengan Aditya. Pria supel, ramah, humoris dan selalu menampakkan lesung pipinya jika sedang tersenyum.


🌸🌸🌸


Dua minggu berlalu sejak kepergian Aditya. Semua yang ditinggalkan mulai menjalani aktivitas seperti biasanya. Adrian sudah kembali mengajar di kampus. Roxas juga sudah menjalani kegiatan seperti semula, kuliah, melakukan pemotretan yang sudah dikontrak sebelumnya, sambil menyiapkan usaha kedai kopinya. Pipit tetap bekerja di hotel sampai akhir bulan. Wanita itu sudah mengajukan surat pengunduran diri. Rendi menyediakan pengawalan ketat untuk wanita itu setelah kejadian yang menimpa Aditya.


Sebuah mobil jeep berhenti di depan rumah Toni, Fajar turun dari dalamnya. Dia sengaja mengunjungi Adrian di rumah, di hari liburnya. Selain untuk melihat keadaan sang sahabat, dia juga ingin bertukar pikiran tentang kasus yang ditanganinya. Kedatangan Fajar disambut oleh Ida, wanita itu segera memanggil sang anak.


“Ngobrol di sini aja, Jar,” ajak Adrian.


Fajar bangun dari duduknya kemudian mengikuti Adrian menuju halaman belakang. Keduanya duduk di kursi yang ada di sana. Udara pagi ini masih terasa sejuk, matahari juga belum terlalu kencang memancarkan sinarnya.


“Kamu udah mulai ngajar?”


“Sudah.”

__ADS_1


“Tante Pit, masih kerja di hotel?”


“Iya. Bagaimana perkembangan penyelidikan?”


“Masih menemui jalan buntu. Anak buahku masih terus melacak dua pengendara motor dan juga pelaku penabrakan Adit. Aku yakin mereka juga yang sudah berusaha mencelakai tante dan membunuh Amanda.”


“Kamu ngga punya petunjuk apapun?”


Fajar menggelengkan kepalanya lemah. Baru kali ini dia merasa tak berdaya menangani kasus yang menyangkut Aditya. Semuanya seperti sudah direncanakan dan begitu rapih. Cctv di hotel juga sudah dihapus, dia curiga kalau pelaku adalah orang dalam atau mempunyai kaki tangan di sana.


“Soal Adit, rencananya kalian akan bertemu di mana?”


“Awalnya kita mau ketemu di dojang. Tapi gue dapet telepon kalau dia diikuti, jadi gue milih nyusul ke tempat dia mengirim lokasi. Dan sayangnya gue terlambat datang. Bukti yang dibawa Adit juga hilang diambil pelaku.”


Terdengar helaan nafas berat Fajar. Seandainya dia meminta Aditya tetap di kantornya, mungkin peristiwa naas tersebut tidak akan terjadi. Adrian terdiam mencoba memahami jalan pikiran sang adik di saat terdesak seperti kemarin. Dia yakin adiknya itu tidak akan berbuat sembrono membawa barang bukti tanpa menyiapkan rencana cadangan.


“Sebelum ketemu, dia ada di mana?”


“Di kantornya.”


“Adit bilang dia punya bukti apa?”


“Rekaman drone. Dia bilang drone itu jelas merekam wajah pelaku.”


“Adit tahu kalau dirinya dalam bahaya, jadi dia tidak semudah itu pergi tanpa membuat rencana cadangan. Gue yakin dia sudah menyalin bukti rekaman, tapi kita ngga tahu dia menyimpan di mana.”


“Lo benar, pasti dia udah nyalin. Jaga-jaga kalau bukti yang dipegangnya berhasil diambil. Adit ngga ngomong apa-apa sebelum meninggal?”


Adrian hanya menggelengkan kepalanya. Selain permintaan maaf, satu-satunya amanat yang diucapkan adiknya itu hanyalah menitipkan Dewi padanya. Meminta dirinya menikahi Dewi setelah masa iddah wanita itu selesai.


“Kenapa lo ngga coba ke kantor Adit? Coba cek, siapa aja yang dateng ke kantor sebelum Adit pergi ketemu elo. Siapa tahu dia menitipkannya ke orang yang kita kenal.”


“Oh iya, lo benar. Kenapa ngga kepikiran ya. Besok gue bakal ke kantor Adit. Mudah-mudahan ada petunjuk.”


Wajah Fajar yang semula kusut kini mulai memancarkan harapan. Mudah-mudahan saja apa yang dipikirkan Adrian benar adanya. Tak sia-sia dirinya datang dan bertukar pikiran dengan sahabatnya itu. Pria itu mengambil ponselnya yang berdering, ternyata salah satu anak buahnya yang menghubungi.


“Halo..”


“Halo, pak. Kita dapat rekaman saat dua pengendara menyerang Adit. Saya sudah mulai melacak keberadaannya. Saya juga cari di data base residivis dan preman yang pernah terciduk. Wajahnya terekam jelas. Ada pengojek online yang merekam saat mereka menyerang Adit.”


“Lacak terus dan kirimkan videonya padaku sekarang.”


Tak butuh waktu lama, sebuah kiriman video masuk ke dalam ponsel Fajar. Bersama dengan Adrian, dia melihat rekaman yang baru dikirimkan. Tangan Adrian terkepal melihat salah satu pria itu mencoba menikam sang adik dengan pisau.


“Brengsek!”


“Sabar, Ad. Anak buah gue masih ngelacak. Mereka pasti akan ditemukan dengan cepat.”


“Kalau mereka ditemukan, berikan dulu padaku. Aku tidak akan membuat mereka ke kantor polisi dengan kaki tegak.”


Hanya anggukan pelan saja yang diberikan oleh Fajar. Dia sudah paham akan keinginan sahabatnya ini. Meski tidak dibenarkan, tapi dia juga ingin menghajar lebih dulu orang-orang yang sudah melenyapkan Aditya sebelum diserahkan pada hukum. Diam-diam, Dewi mendengar pembicaraan kedua pria tersebut. Mata wanita itu kembali berkaca-kaca.


“Ad.. gue pulang dulu. begitu pelaku ketangkep, gue bakalan telepon elo.”


“Ok.”


Langkah Fajar terhenti ketika melihat Dewi di dekat pintu masuk ke dalam rumah. Dia menganggukkan kepala pada Dewi sebelum melanjutkan langkahnya. Perlahan Dewi mendekati Adrian yang masih berada di tempatnya. Dewi mendudukkan diri di samping wanita itu, membuat pria itu menolehkan wajah padanya.


“Bang..”


“Hmm..”


“Apa abang mau menghukum sendiri orang yang sudah mencelakai mas Adit?”


“Wi..”


“Aku takut, bang. Aku takut mereka juga bakal celakain abang. Sekarang Arkhan cuma punya abang sebagai ayahnya. Kalau terjadi sesuatu dengan abang, bagaimana dengan Arkhan? Bagaimana denganku? Aku ngga mau kehilangan lagi, aku ngga mau ditinggalkan lagi. Biarkan polisi saja yang mengurusnya. Aku takut, bang. Aku takut..”


Tangis Dewi pecah, airmatanya jatuh bercucuran, tangannya yang saling menaut nampak bergetar juga. Dia tidak ingin kehilangan lagi orang-orang di sekelilingnya. Jika sesuatu terjadi pada Adrian, dia tak berani membayangkannya. Mungkin dia akan benar-benar terpuruk.


“Jangan takut, Wi. Abang akan baik-baik aja. Percayalah.”


“Aku takut, bang. Takut..”


Melihat Dewi yang terus menangis, Adrian menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Isak wanita itu semakin kencang dalam pelukan Adrian. Kedua tangannya memeluk erat pinggang sang kakak ipar. Ida yang melihat pemandangan tersebut dari jendela dapur, hanya bisa berharap keduanya bisa cepat bersatu dalam ikatan pernikahan.


🌸🌸🌸


**Nangisnya dipause dulu ya. Kita bernostalgia dikit ke jaman saat Adrian pedekate ke Dewi.


Udah ada yang bisa nebak siapa pelaku pembunuhan Amandan dan Adit**?

__ADS_1


__ADS_2