Naik Ranjang

Naik Ranjang
Rujak Kangkung


__ADS_3

Roxas masuk ke dalam rumah dengan bungkusan berisikan kue balok brownies di tangannya untuk enin tersayang. Sebelum berangkat ke kampus, enin memang minta dibelikan kue itu.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Enin, ieu kue balok brownies pesenan enin,” Roxas memberikan bungkusan di tangannya.


“Hatur nuhun bageur (terima kasih, anak baik).”


“Pipit mana, enin?”


“Di kamar.”


Pria itu segera menuju kamarnya. Ketika masuk dia mendengar suara orang tengah muntah dari dalam kamar mandi. Dengan cepat Roxas masuk ke dalam kamar mandi. Nampak Pipit duduk di depan kloset. Istrinya itu nampak lemas dan wajahnya juga pucat.


“Sayang..” panggil Roxas seraya menghampiri sang istri.


“Kamu kenapa?” tanya Roxas lagi.


“Ngga tau. Dari pagi perutku mual, makan apa aja keluar lagi."


“Kamu masuk angin kali.”


Roxas membantu istrinya bangun lalu membimbingnya keluar dari kamar mandi. Dia mendudukkan Pipit di sisi ranjang. Roxas mengambil tisu lalu mengelap wajah Pipit yang basah oleh air.


“Mau aku buatin teh manis?”


“Boleh.”


Bergegas Roxas keluar dari kamar, dia langsung menuju dapur untuk membuatkan teh manis. Saat sedang membuatkan minuman, telinganya menangkap seseorang mengucapkan salam di depan rumah. Roxas segera keluar untuk melihat siapa yang datang.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Eh pak Slamet,” tegur Roxas begitu melihat security perumahan tempatnya tinggal yang datang.


“Kang, ini tadi enin nitip minta dibelikan test pack.”


“Test pack?”


Walau masih bingung, Roxas menerima barang yang diberikan oleh Slamet. Di dalam plastik putih tersebut terdapat dua buah test pack dengan dua merk berbeda.


“Uangnya sudah belum?”


“Sudah, kang. Ini masih ada kembaliannya.”


“Ambil aja pak, kembaliannya.”


“Nuhun kang.”


Penjaga keamanan tersebut segera meninggalkan kediaman Roxas setelah memberikan pesanan enin. Roxas masuk ke dalam sambil memperhatikan bungkusan di tangannya. dia menghampiri enin yang masih menikmati kue balok brownies.


“Enin tadi miwarang pak Slamet meser test pack (enin tadi nyuruh pak Slamet beli test pack?”


“Muhun.. cigana mah neng Pipit teh tos euisan (iya, kayanya Pipit udah isi).


Mata Roxas berbinar mendengar penjelasan enin. Pria itu segera ke dapur untuk mengambil minuman yang tadi dibuatnya. Dia segera membawa minuman dan bungkusan berisi test pack ke dalam kamar. Ternyata enin sudah berada di dalam kamar menemani Pipit yang masih duduk lemas di atas kasur.


“Sayang, ini coba kamu tes dulu. Kata enin mungkin aja kamu hamil,” ujar Roxas seraya memberikan bungkusan di tangannya.


Pipit mengambil bungkusan dari tangan Roxas, lalu segera menuju kamar mandi. Roxas berdiri di depan kamar mandi, kemudian berjalan mondar-mandir. Sesekali dia menggigiti jari tangannya. Hatinya resah menunggu Pipit keluar dari kamar mandi.


“Ai Aep mundar-mandir kos setrikaan wae, matak lieur ka eninna. Cik calik di dieu cakeut enin. Da neng Pipit mah moal kamana-mana atuh (Aep mondar-mandir kaya setrikaan, jadi pusing enin. Duduk sini dekat enin, Pipit juga ngga akan kemana-mana).”


Hanya cengiran saja yang dilemparkan Roxas mendengar protesan eninnya. Pria itu duduk di samping enin. Matanya terus memandang pintu kamar mandi yang masih tertutup. Tak berapa lama pintu terbuka, Roxas segera bangun menghampiri sang istri.


“Gimana sayang?”


Tak ada jawaban dari Pipit. Wanita itu menyerahkan hasil test packnya. Dengan hati berdebar Roxas mengambil alat tes kehamilan tersebut. Matanya berbinar melihat tanda positif dari benda di tangannya.


“Alhamdulillah!” teriak Roxas kencang.


Pria itu langsung mengangkat tubuh istrinya kemudian berputar beberapa kali untuk mengekspresikan kebahagiaannya. Beberapa kali Pipit mendaratkan pukulan ke pundak sang suami, tanda memintanya untuk menghentikan aksinya tersebut. Akhirnya Roxas berhenti dan menurunkan sang istri.


“Makasih ya sayang, mmmuuuaaccchh..”


Setelah mengangkat tubuhnya, sekarang ciuman bertubi diberikan pria itu. Pipit hanya memejamkan matanya, menahan rasa mual yang tiba-tiba menyeruak. Dia lalu mendorong tubuh Roxas untuk menjauh.


“Kenapa sayang?” tanya Roxas bingung.


“Kamu jangan dekat-dekat, aku mual. Sana keluar!”


Roxas jelas terkejut mendengar ucapan Pipit. Enin hanya tersenyum mendengarnya. Dia bangun dari duduknya, lalu mengajak Roxas untuk keluar kamar. Tak lupa dia meminta cucu menantunya itu untuk meminum teh manis yang tadi dibuatkan Roxas.


“Enin.. naha Pipit kitu? (enin, kenapa Pipit begitu?),” tanya Roxas begitu mereka ada di luar kamar.


“Biasa ibu hamil mah sok kitu. Sok geuleuh ningali salaki (biasa ibu hamil suka begitu. Suka sebel lihat suami).”


“Hah?”


Mulut Roxas menganga mendengar ucapan enin. Tadinya dia berpikir bisa tidur berduaan di atas kasur sambil berpelukan setelah mendapat kabar bahagia. Ternyata usiran yang didapatnya. Dulu saat Dewi mendapat kabar bahagia soal kehamilannya, dia malah terlihat begitu manja pada Aditya. Kenapa nasibnya berbeda. Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


🌸🌸🌸


Sudah tiga hari lamanya setelah diketahui istrinya hamil, Pipit tidak mau didekati Roxas. Dia bisa aman mendekati Pipit kalau wanita itu sudah tertidur. Sehari-hari Roxas menghabiskan waktunya di kampus dan juga kedai kopinya. Bahkan makanan pesanan istrinya lebih sering diantarkan menggunakan jasa ojek online.


“Oii calon bapak, bengong mulu!”


Lamunan Roxas buyar ketika mendengar suara Dewi. Ternyata pasangan pengantin baru sudah duduk di hadapannya. Saking asiknya melamun, dia tak menyadari kedatangan Adrian juga Dewi.


“Kenapa mang?” tanya Adrian sambil mengulum senyum.


“Aku diusir terus sama Pipit. Dia ngga mau dekat-dekat aku.”


“Hahaha… kasihan beud omku yang satu ini,” Dewi tak bisa menahan tawanya.


“Perasaan dulu waktu lo hamil ngga kaya gini deh. Kenapa pas bini gue yang hamil ribet amat.”


“Gimana amal-amalan, mang. Hahaha…”


Tawa Adrian pecah melihat wajah kusut pamannya itu. Dewi juga tak bisa menahan tawanya. Tidak bisa dibayangkan, kalau Pipit tidak mau didekati selama hamil, maka sembilan bulan lamanya dia harus puasa menahan hasratnya. Roxas akan beralih menjadi vocalis solo.


“Sabar aja, mang. Biasanya yang kaya gitu cuma di kehamilan awal aja, kata yang udah pengalaman,” ujar Adrian.


“Eh tapi waktu bu Farah hamil katanya selama sembilan bulan dia ngga mau dekat-dekat suaminya loh.”


“Wuaduh.. apa dosa Roxas ya, Allah,” Roxas mengangkat kedua tangannya seperti tengah berdoa.


“Hahaha…”


Hanya gelak tawa saja yang terdengar ketika Roxas berdoa ala Baim. Sejak awal menikah pria itu sudah sangat ingin memiliki keturunan. Ketika akhirnya Pipit hamil, sang istri justru enggan didekati olehnya. Roxas hanya bisa mengelus dada saja. Semoga ujian hidup ini segera berakhir.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Pagi-pagi di kediaman Roxas, Pipit, enin dan pria itu tengah sarapan bersama. Roxas sengaja mengambil tempat duduk yang jauh dari Pipit. Setelah periksa ke dokter kandungan, istrinya itu diberi obat mual. Pipit akhirnya bisa makan walau porsinya tidak banyak.


Wanita itu melihat pada suaminya yang tengah memakan sarapannya. Jika melihat Roxas dari kejauhan seperti ini, dia merasa iba pada suaminya. Tapi jika Roxas mendekat, dia justru kesal. Untung saja Roxas terus bersabar dengan sikapnya yang aneh ini.


“Mas,” panggil Pipit.


“Iya, kenapa sayang?”


“Nanti siang aku mau makan ayam goreng, tempe goreng sama rujak kangkung.”


“Mau aku pesenin, sayang?”


“Ngga. Aku mau mas yang masak. Ayamnya bumbu kuning, harus mas sendiri yang ngulek, ngga boleh beli jadi bumbunya. Tempe gorengnya juga. jangan lupa rujak kangkungnya.”


“Rujak kangkung sama ayam goreng bumbunya apa?”


“Hape mas bagus kan?”


“Lumayan.”


“Bisa dipake buat searching kan?”


“Bisa.”


“Ya udah tanya aja mbah gugel, gitu aja kok repot.”


Pipit mengakhiri makannya lalu meninggalkan meja makan. Roxas hanya melongo saja mendengar ngidam pertama istrinya. Dia melihat pada enin, berharap wanita tua itu mau membantunya. Tapi belum sempat Roxas bertanya pada enin, suara Pipit kembali terdengar.


“Awas jangan berani-berani nanya sama enin, mba Ida, atau bi Lisa!”


Mulut Roxas langsung terkatup lagi mendengar ucapan Pipit. Enin hanya terkikik saja melihat wajah sang cucu yang kebingungan. Selesai sarapan, Roxas bergegas ke pasar untuk membeli daging ayam, kangkung, tempe dan bumbu untuk membuat itu semua.


Roxas memarkirkan kendaraannya di tempat parkir, kemudian segera masuk ke pasar yang biasa dijadikan lokasi syuting preman pensiun. Dia segera menuju penjual ayam yang berada di bagian dalam pasar.


“Meser naon kasep? (beli apa ganteng?).”


“Ayam sekilo, bu.”


“Campur dada jeung paha?”


“Iya, boleh.”


Sang pedagang segera menimbang ayam kemudian memotong-motongnya menjadi dua belas bagian. Dia memasukkan ayam ke dalam kantong plastik putih, memberinya garam dan perasan jeruk nipis baru kemudian mengikatnya. Roxas segera membayar ayam yang dibelinya, kemudian menuju pedagang yang menjual sayuran.


Pria itu memilih-milih kangkung yang masih segar, lalu mengambilnya sebanyak dua ikat. Kemudian matanya tertuju pada bumbu dapur dan juga bahan lain yang terpajang di depannya. Tadi dia sudah mencatat bahan apa saja yang harus dibelinya.


“Bu, bawang beureum, bawang bodas, laja, koneng, jahe, cikur, salam, sereh, katuncar, merica pokona bumbu dapur we, bu (bu, bawang merah, bawang putih, lengkuas, kunyit, jahe, kencur, salam, sereh, ketumbar, merica, pokoknya bumbu dapur deh).”


Sang pedagang langsung menimbang bahan-bahan yang disebutkan Roxas tadi. Untung saja dia tahu nama-nama yang biasa digunakan untuk memasak, karena enin pernah memintanya berbelanja dulu. Tapi dia tidak tahu kegunaan masing-masing bumbu dapur itu.


“Cabe beureum, cengek, tomat, asem, sareng roycona bu (cabe merah, cabe rawit, tomat, asem sama royconya).”


“Mangga (ok).”


“Tempe aya, bu? (tempe ada bu?).”


“Aya, bade sabaraha papan? (ada, mau berapa papan?).”


“Hiji we, bu. Eh sareng gula beureumna (satu aja, bu. Sama gula merahnya).”


Sesampainya di rumah, Roxas langsung menuju dapur. Dia segera menghubungi Dewi untuk memberinya tutorial memasak. Wanita itu tidak masuk dalam daftar larangan Pipit. Sebenarnya dia bisa melihat di gugel atau utube. Tapi pria itu lebih senang merepotkan sahabat sekaligus keponakannya itu. Sambil memakai celemeknya, dia menunggu Dewi menjawab panggilan video callnya.


“Assalamu’alaikum,” wajah Dewi langsung memenuhi layar ponsel.


“Waalaikumsalam,” Roxas meletakkan ponselnya dengan posisi berdiri yang disandarkan pada tempat sendok sebagai penyangga.


“Apaan?”


“Wi.. bini gue lagi ngidam pengen dimasakin ayam goreng, tempe goreng sama rujak kangkung.”


“Rujak kangkung?”


“Iya, lo tau ngga cara buatnya?”


“Ya cari aja di gugel.”


“Lo aja yang cari. Ribet gue, mau bikin ayam goreng dulu.”


“Ngerjain aja.”


“Bodo.”


Dewi segera mencari resep rujak kangkung di ponselnya. Sambil menunggu Dewi menemukan resep yang dimaksud, Roxas membersihkan ayam lebih dulu. Dia lalu bersiap untuk membuat bumbu ayam goreng.


“Wi, bumbu ayam goreng apa aja?”


“Tinggal beli yang udah jadi.”


“Kaga boleh sama Pipit. Harus ngulek sendiri katanya.”


“Buset, sadis amat.”


“Buruan apa bumbunya.”


“Bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, jahe, ketumbar. Diblender aja biar cepet.”


“Ngga boleh, harus diulek.”


“Buset beneran sadis. Ya udah ulek sono.”


Roxas mengupas bahan-bahan yang disebutkan Dewi tadi. Tapi baru mengupas tiga siung bawah merah, dia kembali bertanya pada Dewi.


“Ini berapa banyak bawangnya?”


“Kira-kira aja sendiri. Katanya sih bawang merah itu jumlahnya dua kali lipat bawang putih. Kalo bawang putihnya dua, bawang merahnya bisa empat, lima atau enam.”


Pria itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Dia segera mengupas empat siung bawang putih, dua belas siung bawang merah, jahe, lengkuas dan kunyit. Setelah dicuci bersih, dia memasukkan semuanya ke dalam cobek.


“Dosen killer udah dateng, lanjut nanti ya. Ulek aja dulu semua bahannya.”


Dewi segera memutuskan sambungan. Roxas meneruskan pekerjaannya, mengulek bumbu ayam yang tadi disebutkan Dewi. Setelah perjuangan panjang menghaluskan bumbu yang disertai kasih sayang tulus, Roxas kembali menghubungi sahabatnya ini. Setelah tiga kali panggilan, Dewi baru menjawab panggilannya.


“Udah beres si dosen?”


“Udah, cuma ngasih tugas doang. Udah beres nguleknya?”


“Udah.”


“Masukin ayam sama bumbunya terus tambahin air, ungkep. Jangan lupa kasih garem sama boyke.”

__ADS_1


“Boyke?”


“Iya. Boyke ayam ya jangan sapi.”


“Royco, PEA!” kesal Roxas.


“Elah salah dikit doang, hahaha..”


“Dasar kampret.”


Dewi terus tertawa mendengar umpatan dari suami Pipit itu. Roxas mengikuti arahan Dewi, memasukkan bumbu, ayam dan memberi air ke dalam panci, lalu menaruhnya di atas kompor. Tak lupa dia memasukkan garam dan penyedap rasa ayam.


“Sesekali diaduk biar bumbunya rata,” ujar Dewi.


“Iya.”


“Nah sekarang siapin kangkungnya. Jangan dipetik ya, dipotong kaya mau bikin lotek.”


Roxas terus mengikuti arahan Dewi. Pria itu memotong dua ikat kangkung yang dibelinya tadi, mencuci dan meniriskannya. Kali ini dia menyiapkan bahan untuk sambal rujaknya.


“Cabe merah, cengek, bawang merahnya dikukus, direbus juga boleh sih. Tapi kalo direbus banyak airnya, mending dikukus aja.”


“Cabenya berapa?”


“Kira-kira sendiri.”


Pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Dia menyiapkan bahan yang tadi disebutkan Dewi. Setelah mencuci bersih dan memotongnya, dia memasukkan ke dalam wadah plastik anti panas.


“Eh.. udah masak nasi belum? Tar makanan jadi, nasinya belum ada.”


Sebagai pecinta nasi, Dewi wajib mengingatkan Roxas akan hal ini. Dan kekhawatirannya terbukti. Pria itu lupa belum memasak nasi. Dia segera mengambil wadah magic com, mengisi dengan beras lalu mencucinya.


“Itu bahan rujaknya dikukus di magic com aja bareng nasi.”


“Nanti nasinya pedes.”


“Ya pake wadah. Kan ada saringannya, taro wadahnya di atas saringan. Gitu aja kok lemot.”


Terdengar desisan kesal Roxas saat Dewi meledeknya lemot. Dia pun segera melakukan apa yang dikatakan Dewi. Sekarang dirinya akan segera menggoreng tempe. Setelah memotong menjadi beberapa bagian, dia menyiapkan air rendaman tempe.


“Buat rendam tempe bumbunya apa?”


“Garem ama boyke aja yang praktis.”


“Boyke deui boyke deui.. dasar Markonah.”


Bukannya marah, Dewi malah tergelak mendengar kelutusan Roxas. Pria itu menyiapkan air rendaman, kemudian memasukkan tempe ke dalamnya. Dewi kembali mengakhiri panggilan, karena merasa tugasnya sudah selesai.


Diam-diam Pipit mengintip kesibukan suaminya yang tengah berkutat di dapur. Ada keharuan menyeruak dalam hatinya melihat perjuangan Roxas membuatkan makanan pesananannya. Wanita itu kembali masuk ke dalam kamar, ketika melihat Roxas membalikkan badannya.


Empat puluh menit kemudian, nasi sudah matang. Ayam yang diungkepnya pun sudah matang, begitu pula kangkungnya sudah direbus. Kini hanya tinggal tinggal menggoreng ayam dan tempe serta membuat bumbu rujak.


Dengan puas, Roxas melihat ayam dan tempe goreng buatannya yang sudah tertata cantik di atas piring. pria itu kembali menghubungi Dewi untuk menanyakan bumbu rujak kangkung. Kali ini bukan hanya wajah Dewi, tapi Adrian juga sudah ada di samping wanita itu.


“Wi.. bumbu rujaknya apa?”


“Itu yang tadi dikukus diulek aja. Nanti tambahin gula merah, garem, asem sama terasi bakar.”


“Wokeh.”


Roxas memasukkan bahan yang dikukusnya tadi ke dalam cobek. Setelah menguleknya, dia menambahkan gula merah dan garam. Sebelum menambahkan asem, dia lebih dulu membuka satu bungkus kecil terasi.


“Wi.. ini terasinya harus dibakar?”


“Di resepnya gitu.”


“Bakarnya di mana? Masa harus cari areng dulu.”


“Astaga dongo beud. Tinggal nyalain kompor, tusuk tuh terasi pake garpu terus panasin ke apinya, beres.”


“Buset, dasar ponakan durhakim ngatain gue dongo seenaknya.”


“Kalo bukan dongo apa namanya. Masa bakar terasi pake areng segala. Sekalian aja pake kayu bakar,” cerocos Dewi tak mau kalah.


“Hahaha…”


Perasaan Roxas bertambah kesal melihat Adrian yang tertawa lepas mendengar perdebatan dirinya dengan Dewi. Pria itu segera melakukan apa yang dikatakan Dewi. Setelah membakar terasi di atas kompor, dia memasukkan ke dalam cobek. Diuleknya kembali bersama bumbu yang sudah jadi kemudian ditambahkan asem. Sambal rujak kangkung akhirnya beres juga.


“Beres. Nih kenapa muka lo masih nongol aja di mari?” mata Roxas melihat pada layar ponsel.


“Jiaaahhh dasar kampret yang lupa sama kulitnya.”


Dewi segera mengakhiri panggilan sebelum semburan Roxas kembali terdengar. Roxas segera menata makanan yang sudah dibuatnya ke meja makan. Dia melepaskan celemek yang menempel di tubuhnya, lalu mengetuk pintu kamarnya.


TOK


TOK


TOK


“Sayaaaang.. masakan udah siap.”


Tak berapa lama pintu terbuka. Pipit keluar kemudian mengajak enin ke meja makan. Roxas yang masih berdiri di depan pintu kamar ditinggalkan begitu saja. Pria itu bergegas menyusul istri dan eninnya. Roxas mengambilkan nasi dan juga lauknya ke dalam piring lalu memberikannya pada Pipit.


“Gimana rasanya?” tanya Roxas harap-harap cemas.


“Lumayan.”


Hanya itu saja jawaban yang keluar dari mulut Pipit. Enin hanya mengulum saja melihat wajah cucunya yang sudah seperti kertas lipat. Ketiganya menikmati makanan dengan tenang.


Sehabis makan, enin segera menuju kamar mandi. Dia hendak berwudhu untuk menunaikan shalat dzuhur. Roxas masih membereskan piring kotor bekas mereka makan lalu membawanya ke dapur. Dia langsung mencuci piring-piring kotor tersebut. Pria itu terjengit ketika merasakan pelukan dari arah belakang.


“Makasih ya, sayang. Udah buatin aku makan siang. Rasanya enak kok.”


Senyum terbit di wajah Roxas. Kerja kerasnya terbayar sudah dengan ucapan manis sang istri disertai pelukan hangatnya. Dia buru-buru menyelesaikan pekerjaan mencucinya. Saat hendak berbalik, Pipit menahannya.


“Ngga usah balik badan, gini aja. Aku males lihat lihat muka kamu.”


Astaghfirullah.. gusti sing dibere kasabaran. Lamun lain pamajikan, mun teu nyaah, geus direndos jeung bumbu rujak (Ya Tuhan beri hamba kesabaran. Kalau bukan istri, kalau ngga sayang, udah diulek bareng bumbu rujak).


Roxas menuruti permintaan Pipit. Dia memegangi kedua tangan sang istri yang bertumpu di atas perutnya. Biar hanya dipeluk dari belakang, dia sudah bersyukur. Mudah-mudah lewat trimester pertama, sikap sang istri berubah.


🌸🌸🌸


**Sabar Oxas🤣


Oh iya aku lupa mau bahas soal pakpeng. Ada yg nanya ada gitu penghulu somplak kaya gitu? Jawabannya ada. Penghulu yg nikahin adek ipar kemarin somplak kaya gitu. Saking groginya digodain terus, ijabnya diulang sampe 3x🤣


Singkatan Macan Gersang dan STNK juga dari dia, aku tinggal nyomot doang🤭 malah ada kepanjangan TITEL, tapi ngga berani up di sini, pasti kena sensor🤣


Sekian penjelasannya dan terima gaji😂**

__ADS_1


__ADS_2