Naik Ranjang

Naik Ranjang
Pasangan Bahagia


__ADS_3

Dengan langkah perlahan, Dewi keluar dari dapur sambil membawakan minuman untuk suaminya. Kandungannya kini sudah berjalan tujuh bulan. Perut Dewi juga sudah membuncit. Apalagi wanita itu semakin besar saja keinginan untuk makan. Dia meletakkan gelas di samping Aditya yang tengah santai menonton televisi.


Tangan Aditya terulur membantu sang istri untuk duduk. Sebenarnya Aditya sudah mengusulkan pada Dewi untuk membeli sofa, tapi wanita itu bersikeras untuk membiarkan ruang depan kontrakan mereka hanya beralas karpet saja. Uang untuk membeli sofa lebih baik ditabungkan untuk keperluan lain.


Selama tiga bulan terakhir ini Aditya juga sibuk manggung bersama dengan personil band-nya. Tak jarang mereka harus bolak balik ke Jakarta, ketika ada tawaran wawancara atau mengisi acara musik salah satu stasiun televisi. Aditya juga sering mengajak Dewi bersamanya jika perjalanan tidak terlalu jauh dan membuat ibu hamil lelah.


Setiap melihat suaminya manggung, Dewi harus pandai menekan rasa cemburunya, karena Aditya memiliki banyak fans perempuan. Bahkan tak jarang banyak yang meminta berfoto dan menjadikan suaminya status di media sosial mereka. Aditya selalu menghibur sang istri jika sudah merajuk. Pria itu selalu bisa membuat istrinya tersenyum lagi.


Selain mereka, ada dua pasangan lain yang tengah berbahagia, yakni Rangga dan Fay, serta Rivan dan Sheila. Sheila sudah sepenuhnya move on dari Roxas dan melabuhkan hatinya pada Rivan, teman satu band Roxas. Sedang Roxas, masih berjuang mendapatkan hati Pipit yang sampai saat ini masih bergeming dan hanya menganggapnya keponakan saja.


“De… besok kita ada acara di Purwakarta. Kamu mau ikut ngga?” tanya Aditya seraya merangkul bahu istrinya.


“Hmm.. boleh, kebetulan di kampus juga lagi libur. Kita lagi minggu tenang sebelum UAS.”


“Bagus deh, kalau gitu besok pagi kita berangkat ke Purwakarta. Sheila juga ikut.”


“Asyik ada temannya. Kalau tante Pit ikut ngga?”


“Mana bisa. Kan besok hari kerja.”


“Oh iya, lupa. Tapi dia sama Roxas gimana perkembangannya? Aku lihat muka si Rox kusut mulut udah kaya benang gelasan nyangkut di kabel listrik, hihihi…”


Aditya tak langsung menjawab pertanyaan sang istri. Dia ikut tertawa membayangkan calon pamannya itu yang selalu uring-uringan karena Pipit masih belum menanggapi cintanya. Walau wanita itu tidak menolak ketika diajak untuk melihat pertunjukkan mereka, tapi Pipit belum menjawab soal lamaran Roxas yang dianggapnya hanya candaan saja.


“Roxas sama tante Pit tuh sama-sama ngotot.”


“Ngotot gimana?”


“Yang satu ngotot pengen nikah, yang satu ngotot nolak, hahaha…”


“Ish jahatnya mas..”


Sebuah pukulan pelan mendarat di lengan Aditya. Namun tak ayal wanita itu ikut tertawa juga. Membayangkan nasib sahabatnya yang kisah cintanya terkatung-katung karena belum dapat ijin bersandar.


“Bantuin dong, mas. Kasihan Rox galau terus.”


“Biarin aja dia usaha dulu. Nanti kalau udah mentok baru aku sama bang Ad maju, kasih jurus kamehame buat mereka, hahaha..”


“Jurus apaan tuh?”


“Ada deh,” Aditya mengedipkan sebelah matanya.


Dewi menatap curiga pada suaminya. Jika melibatkan Adrian, sudah pasti rencana tersebut bukan rencana biasa.


“Rencana apa sih? Kasih tau, dong.”


“Nanti aja tunggu tanggal mainnya. Tau-tau meledak aja, hahaha…”


Aditya tak bisa menahan tawanya jika mengingat rencana yang sudah disusunnya bersama sang kakak. Sebuah rencana yang bisa menjadi jalur ekspres bagi Roxas dan Pipit untuk menikah. Dia tidak menyangka kalau sang kakak bisa memikirkan rencana tersebut.


“De.. kita belanja kebutuhan baby boy kita, yuk,” ajak Aditya.


Sejak dua bulan lalu, pasangan muda itu sudah mengetahui jenis kelamin anaknya. Menurut hasil USG, anak mereka berjenis kelamin laki-laki. Tentu saja Aditya senang mendengarnya, akan ada Aditya junior yang akan menjadi penerusnya.


“Boleh. Kita belanja di mana?”


“Kita ke mall aja, yuk. Biar kamu ngga gerah, sekalian beli baju buat kamu. Kan yang ini udah ngga muat lagi.”


“Bajuku masih banyak, mas.”


“Beli baju buat wawancara nanti ya. Aku kan rencananya mau kenalin kamu ke publik.”


“Ngga ah, malu. Aku bullet gini kaya bola. Emangnya mas ngga malu apa?”


“Ngapain malu? Kan kamu lagi hamil anak kita, jagoan kita. Aku malah bangga lihatin kamu ke semua orang. Ini loh istri Aditya yang cantik badai.”


“Ish.. apaan sih,” Dewi mencubit lengan Aditya.


“Biar ngga ada yang godain aku, Yang. Oke ya?”

__ADS_1


“Iya, deh. Aku nurut aja sama kamu.”


“Siap-siap, Yang. Abis dzuhur kita berangkat ya. Kita naik taksi online aja.”


“Ok, mas.”


Sebuah ciuman mendarat di pipi Aditya. Perlahan Dewi bangun kemudian menuju kamar mandi. Gema suara adzan sudah terdengar memanggil umat muslim untuk menunaikan shalat dzuhur.


🌸🌸🌸


Udara dingin yang berasal dari air conditioner langsung menyapa tubuh Dewi yang terbalut gamis warna hijau muda. Keduanya berjalan memasuki lobi mall, kemudian menuju escalator yang akan membawa mereka menuju lantai tiga.


Sambil menggandeng tangan Dewi, Aditya membaca pesan yang masuk ke ponselnya. dengan cepat dia membalas pesan tersebut lalu memasukkan ponsel ke saku celananya. Sesampainya di lantai tiga, mereka langsung masuk ke toko tempat yang menjual perlengkapan bayi.


Mata Dewi terus memandangi deretan pakaian yang terpajang di etalase. Tangannya menunjuk beberapa stel pakaian bayi yang dirasa bagus dipakai oleh anaknya. Aditya berjalan melihat baby stroller yang berderet di bagian kanan toko. Sebenarnya dia ingin membeli kereta bayi tersebut, namun Adrian sudah mewanti-wanti kalau dia yang akan membelinya.


Selain membeli pakaian, Dewi juga membeli tas bayi, gendongan, peralatan mandi, makan dan beberapa mainan bayi untuk melatih indra pendengaran dan penglihatannya. Aditya mendekat kemudian memeluk ibu hamil itu dari belakang. Seorang pelayan yang membantu Dewi sampai iri plus baper melihatnya.


“De.. bang Ad lagi ke sini.”


“Ngapain?”


“Katanya mau beliin baby stroller buat anak kita.”


“Ya ampun, bang Ad tuh ngga ada bosennya beliin ini, itu buat aku sama anak kita. Aku jadi malu.”


“Biarin aja, yang penting bang Ad bahagia. Dia juga request nanti anak kita jangan panggil om atau uwa, tapi ayah.”


“Hahaha.. ada-ada aja deh, bang Ad.”


Tawa yang keluar dari mulut Dewi tak sesuai dengan perasaannya sekarang. Ada desir aneh ketika mendengar Adrian ingin anaknya memanggil ayah padanya. Dia memeluk tangan Aditya yang masih berada di perutnya.


“Bang Ad udah di sini atau masih lama?” tanya Dewi.


“Lagi parkir mobil katanya. Kita bayar ini dulu, ya.”


Pegangan tangan Dewi di Aditya terlepas ketika dia melihat Ara tengah berjalan mendekat. Mata wanita itu terus melihat padanya juga Aditya. Menyadari kedatangan Ara, Aditya menjaga jarak dengan Dewi hingga akhirnya wanita itu berdiri tepat di depannya juga Dewi.


“Wow.. ada apa ini? Kenapa istrinya Ad akrab benar sama adik ipar?” mata Ara memicing, menatap curiga pada pasangan di depannya.


“Emangnya ngga boleh?” tanya Aditya.


Dia ingat kalau Dewi pernah cerita berpura-pura menjadi istri Adrian di depan Ara. Kalau sampai Ara tahu kebenarannya, bukan tidak mungkin wanita itu akan kembali mengejar sang kakak.


“Apa Ad tahu kalau kalian pergi bersama?”


“Bang Ad tau apa ngga, bukan urusan kamu. Kenapa kamu yang repot,” sengit Aditya.


“Cih.. aku ngga nyangka kalau Ad ditikung adiknya sendiri.”


“Eh jaga ya mulut lo…”


“Dit..”


Belum selesai Aditya berbicara, Adrian yang sudah sampai di dekat mereka langsung menegurnya. Melihat kedatangan sang kakak, Aditnya mendorong pelan tubuh Dewi ke arah Adrian.


“Abang lama banget datangnya. Kasihan kan Dewi jadi jamuran nungguin,” Aditya mengedipkan sebelah matanya pada Adrian. Kemudian dia melihat kembali pada Ara.


“Lo ngapain masih di sini? Sana pergi, ngga usah gangguin orang lain. Dan gue ingetin, ngga usah ganggu abang gue lagi. Dia udah nikah, udah bahagia dengan pasangannya, lebih baik lo cari mangsa lain.”


Kompak Adrian dan Dewi melihat pada Aditya. Ara yang kesal, langsung meninggalkan tempat tersebut. Dalam hati kecilnya masih belum percaya kalau Adrian dan Dewi adalah sepasang suami istri.


“Dit.. kamu apa-apaan sih?” Adrian langsung menegur adiknya begitu Ara berlalu.


“Santai aja, bang. Tuh cewek emang harus dikasih pelajaran biar ngga ganggu abang terus.”


“Ya ngga gini caranya, Dit. Kamu ngga pikirin perasaan Dewi apa?”


“Maaf ya, Yang. Kamu pasti kaget, tapi aku cuma nerusin akting kamu aja waktu itu.”

__ADS_1


“Apaan sih, mas? Ngga lucu tau.”


Dewi langsung meninggalkan Aditya begitu saja. Apa yang tadi dilakukan suaminya benar-benar membuatnya terkejut. Dia tidak habis pikir Aditya bisa melakukan hal tersebut. Adrian juga langsung meninggalkan Aditya. Dia memilih masuk ke toko perlengkapan bayi untuk membeli baby stroller yang sudah dijanjikannya.


Aditya segera melangkah untuk menyusul sang istri yang tengah kesal padanya. Namun hal lain justru terpikir di benaknya melihat reaksi kedua orang tersebut.


Bang Ad kenapa marah banget? Dewi juga, padahal dia duluan yang akting pura-pura jadi istrinya bang Ad. Apa sebelumnya mereka sudah punya perasaan? Apa perempuan yang disuka bang Ad itu, Dewi? Aah.. lo mikir apa sih, Dit. Ngga mungkin lah tuh cewek Dewi. Kalau iya, pasti bang Ad ngomong sebelum lo jadian sama Dewi.


🌸🌸🌸


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam, akhirnya kendaraan yang membawa rombongan The Soul beserta Dewi dan Sheila tiba di Purwakarta. Purwakarta dikenal sebagai Kota Pensiunan lantaran suasananya yang jauh dari hiruk-pikuk kendaraan dan lalu-lalang manusia. Namun, julukan Kota Pensiun bagi Purwakarta sudah tak berlaku lagi. Pemerintah kabupaten menyulap Purwakarta dari tempat yang biasa saja menjadi luar biasa. Purwakarta saat ini telah dikenal masyarakat se-Indonesia bahkan ke mancanegara. Hal ini terjadi berkat pembangunan infrastruktur yang berbasis budaya.


Kendaraan berbelok memasuki hotel mewah yang ada di kota ini, kemudian berhenti tepat di depan lobi. Semua personil beserta manager dan kru keluar dari bis tiga perempat tersebut. Aditya turun lebih dulu, lalu membantu istrinya turun. Sambil merangkul bahu sang istri, Aditya masuk ke dalam hotel.


Salah seorang panitia langsung menyambut kedatangan The Soul. Mereka mempersilahkan mereka masuk ke kamar untuk menaruh barang bawaan. Acara meet and greet dengan para fans sekaligus interview dan diakhiri penampilan The Soul akan dilaksanakan setengah jam lagi.


Dewi membaringkan tubuhnya di kasur begitu memasuki kamar hotel. Dia ingin meluruskan punggungnya yang terasa pegal duduk di dalam bis hampir dua jam lamanya. Aditya memasukkan koper ke dalam lemari, kemudian masuk ke kamar mandi. Tak lama pria itu keluar setelah mencuci mukanya.


Dia membuka lemari kemudian mengganti pakaian yang akan dikenakannya saat acara meet and greet. Sebuah pakaian yang tentu saja hasil endorse pabrikan yang memakai jasa The Soul untuk mempromosikan produknya. Dewi bangun kemudian membantu sang suami untuk bersiap.


“Udah ganteng, suamiku beneran ganteng,” puji Dewi.


“Kamu juga cantik,” Aditya menarik pinggang Dewi lalu mendaratkan kecupan di bibir istrinya.


“Ayo sayang, acaranya udah mau dimulai.”


Aditya menggandeng tangan Dewi kemudian keluar dari kamar. Bersama yang lain, mereka turun ke lantai tiga, tempat di mana meet and greet dilaksanakan. Kehadiran mereka segera disambut oleh panitia. Mereka mempersilahkan Aditya dan kawan-kawan menuju panggung untuk menyanyikan dua buah lagu sebagai pembukaan. Sementara Dewi dan Sheila dipersilahkan menempati kursi yang sudah disiapkan.


Mata Dewi terus menatap ke arah panggung. Rasanya tak pernah bosan melihat suaminya beraksi di atas panggung. Suaranya yang merdu serta gaya panggungnya yang sangat ciamik, membuat para penonton selalu terhipnotis olehnya. Teriakan para fans terus terdengar sepanjang The Soul melakukan pertunjukkan.


Usai mempersembahkan dua buah lagu, acara dilanjut dengan sesi tanya jawab antara fans dengan seluruh personil The Soul. Masing-masing personil memiliki fans tersendiri, namun tetap Aditya yang paling banyak penggemar, disusul oleh Roxas dan Fay sebagai satu-satunya personil perempuan di grup ini.


Bergantian para personil menjawab pertanyaan para penonton yang datang. Terkadang mereka menyelingi acara tanya jawab dengan memberikan kuis seputar mereka. Beragam hadiah sudah disiapkan panitia, seperti kaos, mug atau boneka. Setelah kuis, sesi tanya jawab kembali dilanjutkan. Panitia memberikan mic pada penonton yang sedari tadi sudah mengangkat tangannya.


“Aku mau nanya sama Adit. Siapa inspirasi terbesar dalam hidupmu?”


Terdengar gemuruh tepuk tangan disertai elu-elu para penonton. Aditya hanya tertawa kecil melihat para penggemarnya yang terus meneriakkan namanya. Setelah panitia berhasil menenangkan penonton, barulah Aditya menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya.


“Inspirasi terbesarku, sudah pasti keluargaku. Mama dan papaku yang selalu memberikan doa dan dukungannya. Abangku yang selalu mensupportku tanpa henti. Dan yang terpenting, istriku tersayang, Dewi.”


Teriakan para fans kembali terdengar ketika Aditya menyebutkan nama Dewi. Apalagi ketika pria itu turun dari panggung lalu membawa sang istri naik ke atas. Teriakan dan tatapan iri ketika melihat Aditya merangkul mesra pinggang istrinya terus saja terdengar. Aditya berdiri di tengah panggung bersama dengan Dewi. Dia melihat istrinya tercinta dengan penuh rasa cinta.


“Sayang.. terima kasih sudah datang dalam hidpku. Menyempurnakan hidupku dengan kehadiran calon anak kita.”


Aditya berjongkok kemudian memeluk pinggang sang istri seraya memberikan kecupan di perut buncitnya. Bukan hanya para fans-nya yang dibuat baper, tapi semua personil The Soul, termasuk pembawa acara juga dibuat baper. Mereka seakan turut merasakan besarnya cinta Aditya untuk istrinya itu. Tak terkecuali Roxas.


Duh iraha teuing urang bisa kitu. Pipit.. neng geulis, gusti meni hese pisan ngajakan didinya panggih jeung penghulu. Akang tos teu kiat yeuh… (Duh kapan ya gue bisa kaya gitu. Pipit, yang cantik, susah banget ngajakin kamu ketemu penghulu. Akang udah ngga kuat nih).


Panitia terus melanjutkan sesi tanya jawab. Aditya juga meminta Dewi tetap berada di sisinya, sambil terus menggenggam tangannya. Bahkan dia juga mengajak Dewi berduet saat kembali menghibur para penggemarnya.


🌸🌸🌸


Semua personil The Soul memutuskan untuk tinggal semalam di Purwakarta. Mereka ingin menghabiskan waktu dengan mencicipi kuliner khas kota ini, seperti sate maranggi dan juga mendatangi salah satu tempat wisata terkenal, yakni Taman Air Mancur Sri Baduga. Setelah menikmati makan malam dengan menu sate maranggi, semua personil The Soul diajak menuju air terjun dimaksud.


Sesampainya di alun-alun Purwakarta, tempat di mana Taman Air Mancur Sri Baduga berada, Aditya dan yang lainnya segera masuk untuk menikmati pertunjukkan air mancur. Konon air mancur ini adalah yang terbesar dan termegah se-Asia Tenggara. Air mancur warna warni ini, kemegahannya dapat disandingkan dengan Time of Wings, Singapura.


Taman Air Mancur Sri Baduga berada di kawasan Situ Buleud, yang memiliki luas sebesar empat hektar. Konon, situs atau danau Buleud dulunya merupakan sebuah kubangan besar yang digunakan oleh badak bercula sebagai tempat pangguyangan atau mandi. Menurut kisah yang ada, di depan Situ Buleud terdapat patung badak bercula satu yang cukup besar.


Pada 2013 dibuat sebuah taman air mancur yang dijadikan sebagai ikon Purwakarta. Tepat di tengah situ, dibangun sebuah patung Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi yang tengah duduk bersila dengan dikawal oleh empat harimau putih. Sebanyak 1.000 selang air mancur bertekanan tinggi menghiasi setiap sisi Situ Buleud dan terdapat 30 selang air mancur yang dapat menari.



Sambil memeluk tubuh sang istri dari belakang, Aditya menikmati pertunjukkan air mancur dengan diiringi lagu. Pancaran air disertai cahaya warna-warni bergerak mengikuti irama lagu. Sambil terus memeluk istrinya, Aditya mengabadikan pertunjukkan tersebut sambil sesekali mengambil gambar mereka yang terlihat begitu bahagia.


🌸🌸🌸


**Alhamdulillah mamake bisa menyapa kalian lagi. Walau belum benar² fit, tapi bosen aja tiduran di kasur ngga ngapa²in, malah jadi kepikiran yang lain dan ngga enak.


Akhirnya hari ini coba ngetik lagi dan up buat kalian. Sambil recovery, up nya santuy ya, ngga bisa pagi kaya biasanya. Masih menyesuaikan dengan kondisi badan. Semoga part ini bisa mengobati kerinduan kalian semua🤗**

__ADS_1


__ADS_2