Naik Ranjang

Naik Ranjang
Pengungkapan


__ADS_3

"Ya ampun, bikin kaget tahu gak? Untung aku gak ada riwayat sakit jantung." Kesal Dina. Kemudian ia pun mengambil susu dan melanjutkan perkerjaannya, yaitu membuatkan kopi untuk sang big bos.


Sammy melipat kedua tangannya di dada. "Gimana? Kamu nyaman kan di sini? Kalau ada yang bikin kamu gak nyaman, bilang aja. Aku bakal buat kamu senyaman mungkin di sini."


Dina melirik Sammy sekilas. "Nyaman kok."


"Syukurlah kalau kamu nyaman."


Dina pun terlihat fokus membuat kopi, dan mencoba mengingat apa yang Sammy minta.


"Susunya jangan banyak-banyak." Kata Sammy saat melihat Dina menuangkan susu ke dalam kopi terlalu banyak.


"Ah, maaf. Aku lupa." Katanya merasa bersalah.


Sammy tersenyum lagi. "Gak masalah, ini kali pertama buat kamu. Aku yakin kamu bakal terbiasa setelahnya."


Dina menoleh dengan tatapan tak senang. "Ini semua salah kamu, buat kopi aja banyak permintaannya. Sebaiknya kamu duduk manis aja deh, yang ada kamu di sini bikin aku nervous tahu."


Sammy tertawa kecil. "Jadi aku bikin nervous ya? Ya udah, aku tinggal dulu. Kalau kangen tinggal bilang aja. Jangan sungkan."


"Dih, narsis." Ledek Dina. Sammy yang mendengar itu pun tertawa, setelah itu ia pun meninggalkan Dina sendirian.


"Huh, bisa tua sebelum waktunya kalau gini terus." Keluh Dina sambil mengocek kopi dengan kesal.


Beberapa jam kemudian, Dina pun terlihat gelisah dan sejak tadi terus m*nd*s*h kecil karena sedari tadi dirinya hanya di suruh nonton Sammy kerja. Jika seperti ini, bisa-bisa ia akan mati karena bosan.


Sammy melirik Dina dengan ujung ekor matanya, lalu tersenyum geli. "Kamu bosen?"


Dina pun menoleh dengan malas. "Udah tau nanya." Gumamnya dengan bibir manyun.


"Sini, bantu aku." Pinta Sammy. Dengan patuh Dina pun bangkit dan berjalan ke arahnya.


"Bantu apa?"


"Pijitin di sini." Titahnya seraya menunjuk bahunya. Mulut Dina sedikit terbuka dibuatnya.


"Kamu itu nyuruh aku kerja apa jadi pembantu sih? Dari tadi aku cuma di suruh buatin kopi, ambilin minum, terus disuruh nonton kamu kerja. Sekarang di suruh mijit, emangnya aku ini pembantu apa?" Omel Dina mengeluarkan semua aral di hatinya.


"Kamu lupa ya, kamu itu sekretaris pribadi aku. Jadi harus nurut apa pun yang aku suruh. Udah pijit yang enak." Titah Sammy lagi tanpa rasa bersalah sedikit pun.


Dengan kesal Dina pun memijat kedua bahu Sammy sambil mengomel dalam hati.


Dasar otoriter, seenaknya aja dia nyuruh-nyuruh aku. Kalau bukan bos udah aku jitak.


"Gak perlu ngedumel, aku denger loh isi hati kamu." Kata Sammy yang berhasil membuat Dina kaget.


"Dih, siapa juga yang ngedumel." Alibinya.


Sammy tersenyum penuh arti.


Maaf, sayang. Sebenarnya aku udah punya sekretaris pribadi. Itu cuma aku jadiin alasan supaya bisa deket kamu terus. Pelan-pelan aku bakal buat kamu jatuh cinta.

__ADS_1


"Siang ini kamu mau makan apa?" Tanya dengan tangan masih setia membuka lembaran demi lembaran dokumen penting.


"Apa aja, yang penting perut kenyang." Jawab Dina dengan kedua tangan masih setia memijat bahu Sammy.


"Ck, aku tanya kamu lagi pengen apa?"


"Apa aja." Sahut Dina lagi dengan nada malas.


Sammy menoleh ke belakang. "Kamu marah?"


Dina menggeleng. "Mana berani aku marah sama bos." Katanya penuh penekanan.


Sammy menghela napas, lalu bangkit dari posisinya. "Jangan marah." Pintanya seraya berdiri di hadapan Dina. Ditatapnya wajah manis gadis itu lamat-lamat. "Atau kita percepat aja pernikahannya ya?"


Mendengar itu Dina kaget. "Loh, kok malah bahas pernikahan sih?"


"Soalnya aku gak sabar buat milikin kamu, Di."


Dahi Dina mengerut. "Kamu itu aneh tahu gak? Ujuk-ujuk datang ke rumah lamar aku, terus sengaja pecat aku dari kantor lama. Sekarang kamu ngurung aku di sini. Sebenarnya kamu sengaja kan?"


Sammy terkejut karena Dina bisa menebak semuanya. Ah, dia lupa jika gadis didepannya itu sangat pintar.


"Iya, aku sengaja supaya kamu gak berpaling dari aku. Aku gak main-main pengen nikah sama kamu, Dina."


"Alasan?" Tanya Dina menatap Sammy malas.


"Apa perlu aku katakan alasannya?" Sammy balik bertanya.


Sammy menghela napas, kemudian diraihnya kedua tangan Dina. Lalu menggenggamnya dengan erat. Sontak Dina pun dibuat semakin bingung.


"Alasannya cuma satu, aku cinta sama kamu, Dina." Ungkap Sammy yang berhasil membuat jantung Dina berdetak kencang.


Apa katanya? Dia... dia cinta sama aku? Dina menelan air liurnya dengan susah payah.


"Mungkin terdengar aneh, tapi itu kenyataannya. Aku cinta sama kamu jauh sebelum ini."


"Kapan?" Tanya Dina penasaran.


Ya ampun, jangan bilang dia suka sama aku sejak Maira masih hidup. Ini gila! Dina memekik dalam hati. Detak jantungnya pun semakin tak terkendali.


"Tujuh tahun lalu."


Deg!


Jantung Dina benar-benar hampir copot sekarang.


"Eh? Ttt__tujuh tahun lalu?" Gugup Dina sangking kagetnya. Itu artinya Sammy sudah menyukainya sejak lama dan sebelum menikah dengan Maira.


Dina menarik tangannya dari Sammy dengan cepat. Lalu tertawa sumbang. "Kamu bercanda kan? Mana mungkin kamu cinta sama aku. Kalau emang kamu cinta sama aku, kenapa yang kamu nikahin Maira? Bukan aku."


Sammy menatap Dina lekat tanpa memberikan jawaban.

__ADS_1


"Udah ah, gak perlu menyakinkan aku sampai harus bohong segala."


"Aku gak mungkin bohong soal hati, Dina. Ada alasan kenapa harus menikahi Maira. Tapi aku gak bisa bilang itu sekarang." Karena kenyataan itu akan membuat kamu terluka, Dina. Aku minta maaf. Imbuh Sammy dalam hati.


Dina menatap Sammy lekat, lalu tersenyum hambar. "Gak masuk akal."


Sammy meraih wajah Dina dengan lembut. "Aku gak tahu harus jujur dengan cara apa lagi, Dina? Tapi aku gak pernah bohong kalau aku cinta sama kamu. Dari dulu sampe detik ini. I love you so much."


Dina menunduk dengan mata berkaca-kaca. "Kamu bohong." Katanya seraya memukul lengan Sammy pelan.


Sammy menggeleng seraya menarik dagu Dina. "Tatapa mata aku, Di. Dan lihat, apa ada kebohongan di sana?" Pintanya.


Dina pun menurutinya, melihat jauh ke dalam mata lelaki itu. Dan ia sama sekali tak melihat kebohongan di sana.


"Kenapa baru sekarang kamu ngomongnya?" Lirihnya dengan air mata yang mulai merembes keluar.


Sammy mengusap air mata itu dengan lembut. "Kan udah aku bilang, aku punya alasan yang gak bisa aku katakan buat sekarang. Mungkin pelan-pelan kamu bakal paham."


Dina menatap lelaki itu sendu. "Kamu jahat tahu gak? Selama bertahun-tahun aku simpen perasaan sendiri, bahkan harus nelen pahitnya kekecewaan karena kamu tiba-tiba datang ke rumah dan malah lamar Maira. Apa kamu tahu apa yang aku rasakan saat itu? Sakit, itu yang aku rasakan, Sammy." Ungkap Dina memukul dada lelaki itu. Seketika tangisannya pun pecah.


Sammy terbengong dan mencoba untuk mencerna setiap kata-kata yang Dina ungkapkan. "Dina."


"Iya! Aku suka sama kamu dari dulu, Sammy Barasatia. Kakak kelas yang udah nyuri hati aku, kamu puas!" Bentak Dina dengan air mata yang berderai. "Tapi kamu malah datang ke rumah buat ngelamar Maira. Bukan aku. Di situ aku tersadar, kalau aku gak mungkin bisa dapatin kamu. Kita itu beda jauh. Aku gak pantes buat kamu."


Sammy menengadahkan kepala dengan mata terpejam. Kenyataan yang didapatnya hari ini benar-benar berhasil menampar dirinya.


Ya Tuhan, jadi selama ini aku sudah menyakiti perasaan wanita yang aku cintai? Batin Sammy.


"Maaf." Ucap Sammy yang langsung memeluk Dina. Sontak tangisan Dina pun semakin menjadi.


"Kamu jahat, Sammy. Kamu mainin perasaan aku." Lirih Dina terus memukuli Sammy. "Kalau kamu emang cinta sama aku dari dulu, kenapa bukan aku yang kamu lamar? Justru kamu buat aku patah hati sepatah-patahnya. Bahkan aku harus susah payah tersenyum di depan semua orang. Aku juga berusaha buat bangkit sendirian. Sampe aku trauma buat jatuh cinta sama orang lain."


Mendengar itu hati Sammy pun seolah terhunus ribuan belati. Sakit. Akan tetapi apa yang terjadi di masa lalu bukan terjadi tanpa alasan. Ada alasan kuat kenapa Sammy menikahi Mahira. Hanya saja untuk saat ini ia belum berani mengatakan semua kebenaran itu pada Dina. Karena semua itu hanya akan menyakitinya.


"Maaf." Dan hanya kata itu lagi yang terus keluar dari bibirnya.


Dina pun menangis sesegukkan. Kini hatinya kembali porak poranda karena pengakuan Sammy. Padahal sudah lama ia mencoba untuk mengubur perasaannya itu. Dan kini Sammy malah mengorek luka itu kembali.


"Ayo kita nikah." Ajak Sammy semakin mengeratkan pelukannya. "Aku gak mau nyia-nyiain waktu lagi, Dina."


"Aku gak mau." Sahut Dina disela tangisannya. "Aku gak mau nikah sama bekas adek aku." Imbuhnya.


Mendengar itu Sammy pun tersenyum tipis. "Gimana kalau aku masih ori?"


"Hah?" Seketika tangisan Dina pun terhenti. Lalu gadis itu pun mendongak.


"Aku gak pernah nyentuh Maira sama sekali." Ungkap Sammy sembari menyeka sisa air mata di pipi Dina.


Mata Dina terbelalak saat mendengar itu. Mana mungkin orang yang sudah menikah tidak pernah melakukan hal itu.


"Udah aku bilang, aku punya alasan kenapa nikahin dia. Kamu gak harus tahu sekarang."

__ADS_1


Dina terdiam karena bingung. Sebenarnya rahasia apa yang dia tidak tahu soal Maira?


__ADS_2