
Sebulan sudah Dita bergabung menjadi dosen di jurusan yang sama dengan Adrian. Kedekatan keduanya semakin terjalin. Mereka kerap berdiskusi bersama atau bertukar pikiran mengenai mahasiswa yang bermasalah dengan studinya. Semakin lama Jiya semakin merasa cemburu pada Dita. Upayanya untuk mendapatkan Adrian semakin jauh saja.
Bukan hanya di kampus mereka bertemu, tapi Dita juga mendaftar di dojang Hero. Sebagai wanita, dia ingin bisa melindungi dirinya sendiri. Kejahatan sekarang marak di mana-mana, tidak kenal orang, waktu dan tempat. Di antara ketiga sabeum yang mengajar, tentu saja Doni yang paling bersemangat.
Dita baru saja berpamitan setelah menyelesaikan latihan. Suasana dojang sudah sepi, semua murid yang belajar hari ini sudah pulang. Kini hanya tinggal Adrian, Doni dan Fajar yang tersisa. Mereka tetap berada di sana sambil berbincang santai. Doni berusaha mengorek informasi tentang Dita dari sahabatnya.
“Ad.. si Dita udah punya pacar belum?”
“Ngga tau.”
“Ada cowok yang deket sama dia atau yang dia sukain?”
“Ngga tau.”
“Haaiisshh… apa sih yang lo tau?” kesal Doni.
“Lagian, lo nanya sama si Ad. Mana peduli dia sama urusan begituan.”
“Atau jangan-jangan laki yang naksir Dita, elo ya? Tumben-tumbenan lo akrab sama cewek. Dulu cuma Dewi doang. Atau lo udah move on terus ngeceng Dita ya? Secara kelakuan mereka kan mirip.”
PLAK
Doni mengusap belakang kepalanya yang terkena tepakan Adrian. Fajar hanya tertawa saja melihat tingkah kedua sahabatnya. Tapi semenjak Dewi menjalin hubungan dengan Aditya dan menikah, memang baru kali ini Adrian dekat lagi dengan seorang wanita. Wajar saja kalau Doni curiga. Sebenarnya dirinya pun lumayan bertanya-tanya.
“Lo ngga ada rasa sama Dita?” tanya Fajar.
“Ngga ada.”
“Yang bener? Tapi lo bisa deket gitu sama dia, asli curiga gue,” sahut Fajar lagi.
“Nah betul, setuju gue,” sambar Doni.
Adrian menghela nafas panjang melihat kedua sahabatnya yang gigih bertanya soal kedekatannya dengan Dita. Entah sejak kapan kedua pria itu menjelma seperti emak-emak yang kepo dan nyinyir abis.
“Alasan gue deket sama Dita, karena dia orangnya asik. Kita punya pemikiran yang sama. Enak diajak diskusi, dewasa juga. Dan yang penting, dia itu tulus mau berteman, bukan karena ada maksud lain.”
“Kaya Jiya? Eh si Jiya buat gue aja, deh. Cantik badai gitu, sayang kalo dianggurin,” Doni kembali berkomentar.
“Kejar aja,” jawab Adrian santai.
“Kalo Dita?”
“Ambil.”
“Hahahaha…”
Tawa terdengar dari mulut Doni. Kalau Jiya, dia pesimis bisa mendekatinya. Sampai saat ini wanita itu masih belum berhenti berharap pada Adrian. Sedang Dita, dia tidak tahu bagaimana perasaan wanita tersebut. Lagi pula repot juga kalau mendapatkan perempuan tipe bar-bar seperti Dita. Doni lebih suka wanita yang lebih kalem dan tenang.
“Ad.. lo sakit?” tanya Fajar yang melihat wajah Adrian sedikit pucat.
“Kayanya kecapean. Seminggu ini gue banyak kerjaan, di kampus sama ngurus proposal juga.”
“Kalau sakit kenapa maksain ngajar?”
“Ngga enak sama Sakti. Kasihan dia, minggu kemarin udah dicancel, masa dicancel lagi.”
“Mending lo pulang deh.”
Adrian menganggukkan kepalanya, kemudian bangun untuk berganti pakaian. Tanpa membersihkan tubuh lebih dulu, pria itu memilih langsung pulang ke rumah. Kondisi tubuhnya sudah tidak enak. Dia mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di rumah, Adrian langsung masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuhnya yang tiba-tiba meriang, ditambah kepalanya juga mulai memberat. Pria itu mencoba memejamkan matanya. Keringat dingin mulai bermunculan membasahi dahinya.
🌸🌸🌸
“Assalamu’’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Alhamdulillah, kalian ke sini juga. Tadinya mama mau telepon kalian.”
Ida menyambut senang kedatangan Aditya, Dewi dan Arkhan. Wanita itu langsung mengambil cucunya dari gendongan Dewi. Dia senang melihat Arkhan yang sekarang berusia tiga bulan terlihat gemuk dan semakin menggemaskan. Pipi chubby-nya membuat orang-orang yang melihatnya ingin mencubit atau menciumnya.
“Kenapa ma?” tanya Aditya.
“Mama mau pergi sama ibu-ibu pengajian ke Sumedang. Papamu juga kerja. Abangmu sakit. Tolong jagain ya.”
“Sakit apa? Udah ke dokter belum?” tanya Aditya cemas.
“Kecapean kata dokter, kondisinya drop. Badannya panas. Ingetin dia buat makan sama minum obat.”
Melihat jam di pergelangan tangannya, Ida mengembalikan Arkhan pada Dewi. Wanita itu segera mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi. Dia mencium lebih dulu pipi Arkhan yang gembul. Kemudian wanita tersebut segera keluar ketika mendengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Sepeninggal Ida, Aditya segera menuju kamar Adrian. Nampak kakaknya itu tengah berbaring, dengan ponsel di tangannya. Aditya mendekat, kemudian mendudukkan diri di sisi ranjang.
“Bang.. gimana keadaannya?”
“Udah lumayan. Cuma badan masih lemas aja.”
Aditya menaruh tangannya ke kening Adrian. Dapat dirasakan suhu tubuh sang kakak masih tinggi.
__ADS_1
“Badannya masih panas gini. Abang ngga usah ngurus kerjaan, istirahat aja.”
Tangan Aditya mengambil ponsel dari sang kakak, kemudian menaruhnya di nakas. Pria itu menuruti saja apa kata adiknya. Lagi pula kepalanya pusing setelah membaca beberapa file kiriman Rudi via e-mail. Aditya menarik selimut untuk menutupi tubuh Adrian. Pria itu memejamkan matanya.
Setelah memastikan sang kakak sudah tidur, Aditya keluar dari kamar. Di saat bersamaan, ponselnya berdering. Pria itu menjauh dari kamar Adrian untuk menjawab panggilan. Setelah panggilannya berakhir, Aditya mencari sang istri di dalam kamar.
“Yang..”
“Hmm..”
“Aku pergi dulu, ya. Disuruh ke kantor, ada tawaran manggung bulan ini di luar kota. Tapi mereka belum terima, mau tanya pendapat kita-kita dulu. Ngga apa-apa kan aku tinggal bentar?”
“Iya, mas. Pergi aja.”
“Aku titip bang Ad. Badannya panas. Kalau Arkhan tidur, kamu lihat bang Ad, ya.”
“Iya.”
Aditya mendaratkan ciuman di kening Dewi, lalu mencium kening anaknya. Setelahnya pria tersebut segera berangkat menuju kantor label rekamannya. Dewi meneruskan memberi asi untuk anaknya sambil menepuk-nepuk pelan bokong Arkhan.
Pelan-pelan Dewi menutup pintu kamar, walau tak sampai rapat. Dia lalu menuju kamar Adrian. Wanita itu mendekat kemudian menempelkan tangan ke kening kakak iparnya. Suhu badannya memang masih tinggi. Dewi bergegas menuju dapur untuk mengambil air untuk mengompres.
Dewi meletakkan baskom berisi air hangat, kemudian memeras handuk kecil yang sudah dibasahi. Ditempelkan handuk kecil tersebut ke kening Adrian. Untuk beberapa saat Dewi memandangi Adrian yang masih tertidur. Baru kali ini dia melihat pria itu dalam keadaan sakit.
Beberapa kali Dewi mondar-mandir ke kamar Adrian, kamarnya dan dapur. Wanita itu sedang membuatkan bubur untuk Adrian. Kebetulan bi Parmi sedang pulang kampung, jadi tidak ada yang bisa diminta tolong olehnya. Dewi mengecilkan api kompor sambil terus mengocek buburnya.
Tak berapa lama, bubur yang dimasaknya matang. Ketika wanita itu hendak menuangkan bubur ke kompor, terdengar suara Arkhan menangis. Buru-buru Dewi menuju kamarnya, ternyata Arkhan sudah bangun. Dewi mengambil gendongannya, kemudian memasukkan Arkhan ke dalam gendongan lalu kembali ke dapur.
Pelan-pelan dia memasukkan bubur ke dalam mangkok. Dewi menambahkan kecap, irisan daun seledri, bawang goreng, potongan telur rebus ke dalam bubur kemudian membawanya ke kamar Adrian. Wanita itu keluar lagi untuk mengambilkan minum.
“Bang.. makan dulu,” Dewi mengguncang pelan tubuh Adrian.
Setelah beberapa kali, Adrian baru terbangun dari tidurnya. Pria itu bangun dari tidurnya kemudian menyandarkan punggung ke headboard ranjang. Dewi duduk di sisi ranjang lalu mengambil mangkok bubur.
“Arkhan..” panggil Adrian dengan suara pelan.
“Abang makan dulu, ya. Aku suapin.”
“Ngga usah. Abang bisa makan sendiri.”
“Ngga usah ngeyel. Nurut.”
Dewi tak memberikan mangkok bubur pada Adrian. Dia malah menyendokkan bubur kemudian menyuapkannya ke mulut Adrian. Pelan-pelan Adrian mengunyah bubur yang masuk ke dalam perutnya.
“Enak ngga enak telan aja ya, bang. Hehehe..”
“Ish.. itu mulutnya ngga bisa diapause dulu ngomong ngga enaknya pas lagi sakit?”
Adrian hanya terkekeh mendengar kekesalan Dewi. Wanita itu terus saja menyuapkan bubur pada Adrian. Memaksa pria tersebut menelan makanan lebih banyak. Sesekali Adrian memainkan tangan Arkhan. Anak itu terus saja menatap sang ayah yang sedang tidak sehat.
“Adit mana?”
“Adit lagi ke kantor. Katanya lagi ngurus jadwal manggung.”
Tangan Adrian terangkat ketika Dewi hendak menyuapkan kembali bubur ke dalam mulutnya. Dewi terpaksa mengikuti keinginan pria tersebut. Dia mengambilkan gelas berisi air putih hangat, lalu memberikannya pada Adrian.
“Sekarang jam berapa?”
“Jam satu. Abang minum obatnya, terus tidur lagi.”
“Abang mau shalat dulu.”
Dewi menganggukkan kepalanya. Dia segera berdiri kemudian mengambil mangkok dan gelas. Dia hendak mengisi kembali gelas yang sudah kosong. Di belakangnya Adrian mengekor. Dengan tubuh sedikit sempoyongan, Adrian berjalan menuju kamar mandi.
Setelah mengambil wudhu, Adrian segera menunaikan ibadah shalat dzuhur. Matanya langsung menatap gelas berisi air putih di atas nakas selesai mengucapkan salam kedua. Pria itu berdoa sebentar, kemudian melipat sajadahnya. Dia berjalan menuju ranjang. Diambilnya bungkus obat yang ada di atas nakas, kemudian membukanya satu per satu. Adrian memasukkan semua obat ke dalam mulutnya, kemudian mendorongnya dengan air.
Pria itu kembali merebahkan tubuhnya setelah meminum obat. Tubuhnya masih terasa lemas, kepalanya juga masih berdenyut, lidahnya terasa pahit dan masih merasakan meriang. Dia kembali menutupi tubuhnya dengan selimut. Matanya mulai memberat efek dari obat yang diminumnya.
🌸🌸🌸
Rapat dadakan yang dihadiri The Soul sudah berakhir. Aditya bermaksud segera pulang ke rumah. Namun pria itu mendapat pesan dari Dewi yang minta dibawakan kue dan juga mie kocok. Alhasil dia harus mampir ke dua toko berbeda. Pertama-tama Aditya membeli dulu kue di café langganannya. Baru kemudian menuju kedai mie kocok tempatnya dan Dewi biasa makan.
Pengunjung mie kocok mang Dadi siang ini cukup ramai. Aditya memesan dua bungkus mie kocok, lalu memilih duduk menunggu di luar. Dia masih harus menunggu lima pesanan yang sudah lebih dulu datang. Saat tengah duduk menunggu pesanan, seseorang menghampiri dan menepuk bahunya.
“Eh, kak Dita.”
“Beli mie kocok juga?”
“Iya. Sini duduk, kak.”
“Jangan manggil kak, gatel aku dengarnya. Dita aja biar lebih akrab.”
“Oke, deh.”
Lesung pipi langsung terlihat, ketika Aditya tersenyum. Dita ikutan tersenyum melihat wajah tampan Aditya. Dia tak menyangka bisa bertemu dengan Aditya, saat mengantri mie kocok yang dipesan oleh kakaknya.
“Tumben sendiri, Dewi mana?”
__ADS_1
“Di rumah. Ini juga beli pesanan buat dia. Mau ikut ke rumah ngga?”
“Ngapain?”
“Bang Ad, sakit.”
“Masa? Sakit apa? Kemarin padahal masih ketemu di dojang.”
“Kecapean katanya.”
Dita hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Kemarin dia memang melihat wajah Adrian sedikit pucat. Tapi dia tak menyangka kalau kondisi pria itu akan drop seperti ini.
“Mau nengok bang Ad, ngga?”
“Nanti deh. Aku ditungguin sama kakak, dia pesan mie kocok. Salam buat abangmu, cepat sembuh.”
“Ok, deh. Kasih tahu aja kalau mau ke rumah.”
Selain dengan Adrian, hubungan Dita dengan Aditya juga cukup dekat. Rumah wanita itu ternyata dekat dengan studio yang biasa dipakai The Soul latihan. Tak jarang Dita sering melihat Aditya berlatih di waktu senggangnya. Mereka lebih mudah akrab, karena memiliki selera musik yang sama, kesomplakkannya juga satu frekuensi. Bukan hanya dengan Aditya, Dita juga akrab dengan Roxas.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya pesanan Aditya selesai juga. Pria itu segera naik ke tunggangannya. Dita melambaikan tangannya saat sepeda motor Aditya meninggalkan area parkir kedai mie kocok mang Dadi.
🌸🌸🌸
“Mas.. bang Ad bangunin, belum shalat ashar.”
“Iya, bentar sayang.”
Aditya bangun kemudian membaringkan Arkhan yang tertidur dalam pangkuannya. Setelah menaruh Arkhan, Aditya berjalan memasuki kamar Adrian. Pria itu membangunkan sang kakak. Untuk sejenak Adrian berbaring, mengumpulkan tenaganya lebih dulu. Kemudian dia bangun lalu menuju kamar mandi.
“De.. mau kemana?” tanya Aditya saat melihat istrinya sudah berpakaian rapih.
“Tadi bu Sugeng ke sini, katanya ada pengajian di rumahnya. Berhubung mama belum pulang, jadi aku yang wakilin.”
“Mau bawa keresek ngga?”
“Buat apa?”
“Bungkus makanan, hahaha…”
“Ish..”
Tak ayal Dewi tersenyum mendengar ucapan suaminya. Sudah menjadi kebiasaan emak-emak sering membawa pulang makanan dari tempat pengajian atau syukuran. Dewi menyampirkan tasnya ke bahu. Setelah mencium punggung tangan Aditya, Dewi segera menuju rumah bu Sugeng yang berbeda dua blok dari kediaman mertuanya.
Aditya masuk ke dalam kamarnya, melihat sang anak yang masih tertidur pulas, dia menutup sedikit pintu kamar. Kemudian masuk ke kamar Adrian. Sang kakak baru saja selesai shalat dan tengah bersiap kembali ke kasurnya. Rasa kantuk dan lemas masih melandanya, membuat pria itu hanya ingin berbaring saja.
“Gimana, bang? Masih lemas ngga?” tanya Aditya seraya merangkak naik ke atas ranjang.
“Badan masih lemas.”
“Istirahat aja, bang.”
Adrian kembali membaringkan tubuhnya, Aditya membantu menyelimuti badan sang kakak. Dia masih bertahan di tempatnya, duduk di samping Adrian. Pria itu teringat kalau tadi bertemu dengan Dita.
“Bang, tadi aku ketemu buat Dita. Dapet salam, katanya cepat sembuh.”
“Aamiin.. waalaikumsalam.”
“Dita tuh orangnya kocak banget ya, bang. Ada aja omongannya yang bikin ngakak. Abang ngga ada rasa gitu sama Dita? Udah cantik, supel dan enak diajak ngobrol. Kurang apa coba, bang?”
“Kurang garem,” jawab Adrian asal.
Aditya terus saja berbincang dengan Adrian, membicarakan tentang Dita. Dia ingin menjodohkan sang kakak dengan dosen muda itu. Setelah beberapa saat Aditya berbicara, namun tidak ada tanggapan dari Adrian. Pria itu menolehkan kepalanya. Ternyata sang kakak sudah tertidur lagi.
Bosan tak melakukan apa-apa, Aditya beranjak dari ranjang. Dia berjalan menuju meja kerja Adrian. Dilihatnya tumpukan kertas dan buku yang ada di atasnya. Tak ada yang menarik di meja sang kakak, bahkan foto seorang perempuan pun tak ada. Ketika pria itu hendak keluar, tanpa sengaja matanya melihat kotak yang berada di atas lemari Adrian.
Didorong rasa penasaran, Aditya pelan-pelan mengangkat kursi, kemudian naik ke atasnya. Diambilnya kotak yang bagian atasnya sudah dipenuhi debu. Aditya melihat sekilas pada Adrian. Kakaknya itu masih tertidur pulas. Aditya menurunkan kotak ke lantai lalu mulai membukanya.
Barang pertama yang dilihatnya adalah helm berwarna hijau. Kemudian tangannya meraih kotak beludru berwarna biru. Ternyata di dalamnya ada sebuah cincin. Kening Aditya berkerut melihat cincin tersebut.
“Ini cincin buat siapa? Oh buat cewek yang dulu disuka abang kali,” gumam Aditya pelan.
Kemudian tangannya bergerak mengambil sebuah kotak panjang. Setelah dibuka, ternyata isinya adalah sapu tangan. Tangannya mengambil sebuah kartu yang ada di dalamnya, kemudian membukanya.
Thanks for everything. Thank you being close to me when I’m down. Wish you all the best (Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah dekat denganku di saat aku jatuh. Aku mendoakanmu yang terbaik).
Lalu Aditya mengambil album foto yang ada di dalam kotak. Ketika tangannya membuka album foto tersebut, matanya membulat melihat foto kebersamaan Dewi dengan Adrian. Dia terus membalik album foto tersebut. Banyak kebersamaan mereka di sana. Senyum keduanya menunjukkan kalau mereka begitu bahagia.
Pandangan Aditya berhenti di sebuah foto ketika Adrian memeluk Dewi dari belakang. sebuah foto yang diambil saat di Maribaya. Wajah Aditya memerah, tangannya mengepal erat. Pria itu langsung menolehkan kepala pada Adrian yang masih tertidur. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya.
Jadi perempuan yang abang suka itu Dewi. Kenapa, bang? Kenapa abang menutupinya?
Lamunan Aditya buyar ketika mendengar Arkhan menangis. Pria itu segera memasukkan kembali barang-barang ke dalam kotak lalu menutupnya. Dia meletakkan kembali kotak dan kursi ke tempatnya, kemudian segera menuju kamarnya.
🌸🌸🌸
Waduh reaksi Adit gimana nih😱
__ADS_1