
“Pit.. tolong bantu mba mu menyiapkan hantaran untuk melamar Dewi,” ujar Toni di tengah acara makan siang mereka. Ida langsung menolehkan kepalanya pada sang suami.
“Mas..”
“Pernikahan itu adalah ibadah terpanjang seorang muslim. Jika anak kita sudah siap untuk melakukannya, maka kita harus mendukungnya.”
Ida terdiam mendengar perkataan suaminya. Walau hatinya masih belum bisa menerima pernikahan anak bungsunya, tapi sebagai istri dia hanya bisa menerima semua keputusan sang suami. Apalagi apa yang dilakukannya tidak bertentangan dengan norma agama. Segurat senyum tercetak di wajah Aditya.
“Makasih, pa.”
“Papa hanya berharap kamu menjalani pernikahan dengan sungguh-sungguh.”
“In Syaa Allah.”
“Kamu ngga usah khawatir soal hantaran lamaran. Biar tante sama mamamu yang urus.”
“Makasih tante.”
Toni melihat pada Aditya, ada perasaan bahagia melihat senyum anaknya. Tapi di satu sisi hatinya terluka melihat anak sulungnya yang menahan rasa sakitnya sendiri. Mungkin ini balasan yang Tuhan berikan padanya. Jika saja dia bisa bersikap adil sejak awal, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi.
Ida menaruh piring beserta nasi dan lauknya di depan Toni. Pria itu masih belum menyentuh makanannya. Dia berdiri kemudian menuju kamar Adrian. Diketuknya pintu kamar sang anak, kemudian masuk ke dalamnya. Adrian masih duduk di kursi kerjanya seraya memejamkan mata.
“Papa sudah mengabulkan keinginanmu. Bisakah kamu bergabung dengan yang lain?”
Perlahan Adrian membuka matanya. Toni berdiri di depan meja kerjanya, menatap sang anak dengan wajah sendu. Perlahan Adrian mengangkat tubuhnya kemudian berjalan mendekati Toni.
“Papa merestui pernikahan Adit dan Dewi. Seperti keinginanmu.”
“Terima kasih, pa.”
“Berjanjilah, jika ini semua terlalu sulit untukmu, berbagilah bebanmu dengan papa. Papa tahu kamu anak yang kuat, tapi ijinkan papa menjadi vitamin untuk menguatkan hatimu. Datanglah pada papa jika kamu merasa lemah. Papa akan menjadi bahu untukmu bersandar.”
“Papa…”
“Papa tahu sudah banyak melakukan kesalahan. Papa sudah bersikap tidak adil pada kalian berdua. Maaf papa sudah menaruh beban berat di pundakmu. Tapi papa sangat menyayangi kalian berdua. Mulai sekarang, giliran papa yang akan mengambil bebanmu. Kamu.. jalanilah hidupmu sendiri. Cari kebahagiaanmu, jangan khawatirkan Adit lagi. Ada papa yang akan menjaga dan menyayanginya.”
“Terima kasih, pa.”
Toni menarik Adrian ke dalam pelukannya. Pria ini tak bisa menahan airmatanya untuk mengalir. Adrian memeluk punggung sang papa erat. Dia tahu perjuangannya menahan sakit akan lebih berat lagi. Namun dirinya yakin bisa melewati itu semua. Waktu akan menyembuhkan luka, entah kapan tapi yang pasti itu akan terjadi.
“Ayo kita makan,” Toni mengurai pelukannya, kemudian mengusap airmatanya.
Adrian hanya menjawab dengan anggukan. Sambil berangkulan, ayah dan anak itu keluar dari kamar. Ida menatap suami dan anak sulungnya yang berjalan mendekati meja makan. Hati kecilnya mengatakan ada sesuatu di antara mereka. Sebuah rahasia yang sepertinya hanya mereka berdua yang tahu.
🌸🌸🌸
Tita yang menempati kamar bekas Nenden berjalan mondar-mandir. Sesekali dia menggigiti kuku jarinya. Perkataan Wahyu yang menuntut uangnya dikembalikan atau anaknya yang menjadi pengganti Dewi, benar-benar membuat hatinya tak tenang. Nandang masuk ke dalam kamar, lalu melihat istrinya yang maju mundur seperti setrikaan.
“Kamu kenapa?”
“Astaghfrullah. Akang ngagetin aja.”
Nandang hanya menggelengkan kepalanya saja. Pria itu menuju kasur kemudian mendudukkan diri di sana. Tita ikut menghampiri suaminya. Dari pada pusing memikirkan semuanya sendirian, lebih baik bertukar pendapat dengan sang suami.
“Kang..”
"Apa?"
“Ehmm.. i.. itu.. so.. soal juragan Wahyu.”
“Ada apa dengan juragan Wahyu?”
“Begini… euung.. juragan Wahyu minta uangnya dikembalikan.”
“Uang apa?”
“Uang yang kita pakai buat nebus rumah ke bank.”
Sontak Nandang terkejut mendengarnya. Dia memandangi sang istri dengan tatapan tajam. Kemarin wanita itu mengatakan kalau uang tersebut dipinjamkan oleh orang tuanya yang habis menjual sawah. Mereka hanya tinggal menyicil pada orang tua Tita saja. Tapi sekarang istrinya itu malah mengatakan itu uang dari juragan Wahyu.
“Maksudmu apa? Katanya uang itu dipinjamkan bapak, hasil dari jual sawahnya.”
“Maaf, kang. Aku bohong. Sebenarnya itu uang dari juragan Wahyu, waktu aku bujuk dia nerima Dewi jadi mantunya. Makanya kang, biar gimana pun juga kita harus menikahkan Dewi dengan den Soka.”
“TITA!!!”
Wanita itu terlonjak mendengar suara kencang suaminya. Baru kali ini Nandang berteriak padanya. Matanya menatap tak percaya pada suaminya. Namun tatapan itu hanya sebentar, dia kemudian menundukkan kepalanya. Rasanya takut melihat wajah suaminya sekarang. Belum pernah dia melihat Nandang semurka ini.
“Keterlaluan kamu! Sama saja kamu menjual Dewi namanya! Kembalikan uang juragan Wahyu! Berapa dia memberimu?”
“Du.. dua puluh lima juta.”
“Dua puluh lima? Untuk menebus rumah kita hanya 15 juta! Kamu kemanakan sisanya?!”
“A.. aku kasih ke bapak. Ba.. bapak mau nambah ternak kambingnya.”
“Astaga, Tita!!”
Nandang meremat rambutnya dengan kasar. Dia benar-benar kesal pada istrinya ini. Sudah melakukan sesuatu di belakang dirinya. Dan sekarang melemparkan masalah tersebut ke wajahnya. Ibarat buah nangka, Tita yang makan buahnya, dirinya kebagian getahnya.
“Ka.. kalau uangnya ngga dikembalikan, juragan mau Nita yang nikah sama den Soka.”
__ADS_1
“Kalau memang itu maunya juragan Wahyu, ya sudah nikahkan saja Nita dengan den Soka. Bukannya baik kita dapat menantu anak juragan.”
“Tapi… den Soka udah punya dua istri,” suara Tita semakin mengecil.
“APA??!!”
Kepala Nandang seperti dipukul oleh godam mendengar penjelasan sang istri. Terdengar suara teriakan kerasnya. Tita semakin ketakutan saja melihat suaminya. Wanita itu duduk sambil berjongkok di sudut ruangan. Mulutnya tak bisa mengeluarkan kata-kata pedas yang kerap dia katakan. Hanya isak tangis saja yang terdengar kini. Nandang keluar dari kamar, kemudian pergi dari rumah dengan perasaan kesal.
Dewi dan Iis yang kebetulan ada di ruang depan hanya saling berpandangan saja. Mereka tadi tanpa sengaja mencuri dengar pertengkaran keduanya. Dewi benar-benar bersyukur bisa terlepas dari jeratan Soka. Tapi dia juga kasihan pada Nita, yang harus menjadi tumbal keserakahan ibunya.
Dari arah luar, masuk Nita yang baru saja membeli beberapa makanan di mini market haji Soleh. Dia menaruh barang belanjaannya di dekat Dewi. Iis memandangi Nita dengan perasaan iba, tapi dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Itu semua kesalahan Tita yang terlalu serakah.
“Wi.. ehmm… kakaknya Adit siapa namanya?” tanya Nita membuka percakapan.
“Bang Rian. Kenapa emang?”
“Ganteng, ya. Udah punya pacar belum?”
“Kamu ngga usah ketinggian ngarep Adrian. Mending kamu pikirin apa yang akan terjadi sama kamu,” Iis menyalip pembicaraan.
“Emang ada apa, bi?” tanya Nita bingung.
“Tanya saja sama ibumu. Bibi mah ngga ikutan, lieur (pusing).”
Kening Nita berkerut mendengar ucapan bibinya ini. Lamunannya buyar ketika Roxas masuk ke dalam rumah seraya mengucapkan salam. Pria itu langsung duduk di dekat Dewi. Dia heran melihat wajah-wajah di depannya yang bingung.
“Kenapa? Ada masalah?” tebak Roxas.
“Ngga..” jawab Iis.
“Wi.. nanti malam mau ke café ngga? Kan sejak ibu meninggal lo belum pernah lihat penampilan gue sama Adit lagi. Nanti malam ke café ya,” ajak Roxas.
“Benar apa kata Roxas. Mending kamu ke café, healing hihihi…” timpal Iis.
“Iya, Rox. Tapi si hejo masih diopname kan?”
“Iya. Tenang aja, kita naik taksi online aja. Bibi sama Nita mau ikut juga?”
“Ngga ah, bibi mau di rumah aja. Penasaran mau ikutin kelanjutan si Aldeburik,” Iis terkikik geli. Dia memang penggemar sinteron Indonesia. Walau jalan ceritanya dirasa semakin absurd saja, tapi dirinya masih tetap setia mengikuti.
“Aku ikut boleh?” tanya Nita.
“Boleh. Abis maghrib kita berangkat.”
Wajah Nita terlihat sumringah. Dia tak memusingkan lagi apa yang dikatakan Iis barusan. Gadis itu berharap di sana bisa bertemu dengan Adrian. Dewi berdiri kemudian mengajak Roxas keluar dari rumah.
“Rox.. lo punya duit ngga? Gue pinjem dong. Nanti bayarnya gue cicil.”
“25 juta.”
“Buat apa? Biaya nikah lo? Kan udah ada Adit yang tanggung. Lagian kalo buat nikahan elo, ngga usah pinjem, gue bakalan kasih cuma-cuma.”
“Bukan buat gue.”
“Terus buat siapa?”
Dewi menceritakan pertengkaran Tita dan Nandang yang didengarnya tadi. Jujur saja, walau masih kesal pada Tita, tapi dia tidak tega kalau sampai Nita yang dijadikan alat pembayar hutang pada juragan Wahyu.
“Buset si Biti bener-bener keterlaluan. Jadi kemarin lo mau dijadiin istri ketiga? Kampret tuh laki. Kaga puas apa udah punya bini dua,” sewot Roxas.
“Lo punya kan uangnya? Gue pinjem ya.”
“Gue ada uangnya, tapi gue ngga bakal kasih. Biar aja si Biti cari jalan keluarnya sendiri. Itu kan salahnya dia, lo ngga usah repot ngurusin dia. Lo lupa apa yang udah dia lakuin kemarin?”
“Tapi gue kasihan ama teh Nita.”
“Bukannya gue tega, tapi sorry kalo buat si Biti gue ngga bakalan kasih. Lagian kalo emang jodohnya Nita emang si Basoka, biar lo bayarin utangnya, tetap aja mereka bakalan nikah. Gitu juga kalo dia bukan jodohnya si kampret, kaga bakalan jadi nikah mereka. Tenang aja, Wi.”
“Iya, sih. Tapi gue kasihan sama teh Nita dan mang Nandang.”
“Dari pada buat mereka, mending uangnya buat elo. Buat kebutuhan lo sehari-hari. Tapi ngga akan gue kasih sekarang, tar lo kasihin sama si Biti.”
“Ngga usah, Rox. Gue masih ada uang, kok. Mending kasih ke enin.”
“Enin udah punya jatah sendiri. Gue emang pengen ngasih ke elo sebagai hadiah pernikahan. Selama ini lo juga udah sering bantuin gue. Sekarang saat gue ada, ngga salahnya kan kalo gue juga pengen berbagi rejeki sama elo. Anggap aja itu pemberian dari abang lo,” Roxas mengusak puncak kepala sahabatnya.
“Ya ampun Rox, gue jadi terhura.”
“Apa yang elo, bapak dan ibu lakuin ke gue ngga sebanding dengan uang yang gue kasih. Dan ingat, jangan dikasih ke si Biti, gue ngga ikhlas dunia akhirat.”
“Hahaha… iya.. iya..”
Senyum Roxas terbit mendengar jawaban Dewi. Sekali lagi dia mengusak puncak kepala gadis di depannya. Sejak pertama kali bertemu, Roxas memang sudah menganggap Dewi seperti adik sendiri. Apalagi mereka sama-sama anak tunggal. Kebersamaan mereka seperti sebuah takdir. Roxas bisa mendapatkan adik, dan Dewi mendapatkan kakak.
🌸🌸🌸
Seperti biasa, suasana Red Kingdom café akan bertambah semarak jika The Soul tampil. Pengunjung yang datang selalu melebih kapasitas. Terkadang para pegawai sampai kerepotan mengatur tempat duduk untuk para pengunjung. Hingga akhirnya mereka memindahkan panggung ke taman belakang yang memiliki ruang lebih besar.
Dewi bersama dengan Nita sudah datang. Keduanya berangkat dari kontrakan bersama dengan Roxas. Pria itu langsung bergabung ke atas panggung bersama personil The Soul lainnya. Pipit yang juga datang bersama Adrian, langsung menyambut kedatangan Dewi. Dia mengajak calon istri Aditya itu duduk bersama di satu meja.
Melihat ada Adrian di meja yang ditempati Pipit, tentu saja Nita senang bukan kepalang. Akhirnya dia bisa bertemu lagi dengan pria yang langsung membuat hatinya terpikat sejak pertama bertemu. Sayang dia belum pernah bertegur sapa dengan pria itu, bahkan berkenalan pun tidak.
__ADS_1
“Malam bang Rian,” sapa Nita memberanikan diri.
Kening Adrian berkerut melihat Nita yang tiba-tiba menegurnya. Dia melihat pada Dewi, dari sorot matanya seolah bertanya, siapa dia. Dewi yang tahu apa yang ada dalam benak calon kakak iparnya itu, segera menjelaskan.
“Kenalin, ini teh Nita, anaknya mang Nandang.”
“Ooh..”
Itu saja yang keluar dari mulut Adrian. Nita yang hendak mengulurkan tangan, mengurungkan niatnya begitu melihat sikap Adrian yang cuek. Dia mendudukkan diri di samping Adrian, sedang Dewi berada di sebelahnya. Posisi duduk mereka menghadap panggung dan meja mereka berada di bagian tengah.
Aditya menarik kursi ke atas panggung, untuk penampilan kali ini mereka akan mengusung konsep akustik. Tiga buah kursi berjejer di bagian depan panggung. Begitu pula dengan Fay yang memilih duduk saat memainkan keyboardnya. Roxas dan Rangga duduk di kursinya seraya menyetem gitar juga bass. Aditya menarik standing mic ke depannya. Dia melihat pada kedua temannya. Begitu semua siap, pria itu pun memulai dengan sambutannya.
“Selamat malam semuanya..”
“Malam..”
“Untuk pertunjukkan kali ini kita konsepnya akustikan ya. Yang tahu lagunya, silahkan ikut nyanyi bareng sama kita.”
Fay lebih dulu memainkan keyboardnya, kemudian disusul dengan Rivan yang menabuh drum, dan terakhir Rangga serta Roxas masuk memainkan gitar dan bass secara bersamaan. Aditya menggenggam standing mic dengan tangannya. Terdengar suara merdunya menyanyikan salah satu lagu milik Noah, Dilema Besar.
Alunan musik tenang mengiringi semua pengunjung café menikmati hidangan. Ada beberapa di antara mereka yang mengabadikan dengan kamera ponselnya. Sementara itu, tim juru rekam The Soul mulai mengambil gambar mereka. Sudah enam bulan lalu, The Soul selalu merekam penampilannya di Red Kingdom yang kemudian di upload ke channel youtube. Itu juga yang membuat Red Kingdom semakin ramai dikunjungi saat weekend dan The Soul semakin terkenal.
Usai menyanyikan lagu pertama, kini keduanya bersiap menyanyikan lagu kedua. Setelah lagu kedua nanti, seperti biasa, The Soul akan memberikan kesempatan pada para penonton untuk merequest lagu.
“Ok.. untuk lagu kedua, saya persembahkan khusus untuk calon istri saya.”
“Aaaaaaaaa!!”
Terdengar teriakan tak rela dari para penonton ketika Aditya menyebut calon istri. Mereka tak percaya sang vocalis berlesung pipi yang ganteng habis, akan segera mengakhiri masa lajangnya.
“Dewi.. lagu ini menyuarakan isi hatiku padamu. I love you..”
“Aaaaaaaa!!!”
“Dasar gombal..”
Adrian tertawa kecil mendengar kelutusan Pipit. Sementara Dewi tak mampu berkata-kata, hanya wajahnya yang menunggingkan senyuman. Sekilas Adrian melihat padanya, sudah waktunya dia melepas gadis itu pergi dari hatinya.
“Jangan tanya bagaimana esok. Ku tak ingin menerka perasaan ini. Yang kutahu, hari ini ku mencintaimu. Yang kutahu, ku sangat menyayangimu. Biarlah semua berlalu. Jalani seperti apa adanya. Bunga 'kan mekar meski kemarau melanda. Bunga 'kan mekar meski kemarau melanda.”
Mata Dewi terus memandangi Aditya yang masih menyanyikan bait demi baik lagu milik Arief yang banyak dicover dalam berbagai versi. Namun baginya, versi Aditya tentu yang paling enak dan pas di telinga. Apalagi pria itu membawakannya dengan penuh cinta.
Beberapa penonton juga ikut terbawa suasana ketika mendengarkan lagu tersebut. Ada yang menggerak-gerakkan kepala, mengetukkan jari ke meja, atau ikut membuka mulut menyanyikan lirik lagu tanpa suara.
Setelah part refrain, Aditya melepas mic dari gagangnya kemudian beranjak dari duduknya. Pria itu turun dari panggung menghampiri penonton yang ada di meja bagian depan. Mila cs yang ada di sana langsung berteriak ketika melihat Aditya mendekat.
“Yuk yang bisa lagunya, kita nyanyi bareng.”
Aditya menyanyikan kembali lagu dari bait pertama, sebelah tangannya memberi tanda untuk semua yang menonton ikut bernyanyi. Dia mendekati meja Mila, kemudian menyodorkan mic ke mulut gadis itu.
“Biarlah semua berlalu. Jalani seperti apa adanya. Bunga 'kan mekar meski kemarau melanda. Bunga 'kan mekar meski kemarau melanda.”
Suara cempreng Mila terdengar menyanyikan bait tersebut. Aditya hanya tertawa melihat salah satu teman Dewi yang begitu bersemangat menyanyi. Sedang yang duduk bersamanya, kompak menutup telinganya. Pria itu menyelamatkan telinga para pengunjung café ketika mengambil alih part refrain.
“Bukan ku ingin memastikan. Akulah cinta sejatimu. Yakinkan hatimu. Akulah takdir yang engkau nantikan. Ku ingin kau merasa tent'ram. Biarlah berada di sampingku
Kar'na diriku sangat menyayangimu.”
Mata Aditya terus melihat pada Dewi saat menyanyikan part refrain. Dia berjalan mendekati gadis pujaannya sambil terus menyanyikan bait selanjutnya.
“Ku akan membuktikan cinta di hatimu. Satu rasa menggapai bahagia.”
Aditya berhenti di depan Dewi, kemudian berlutut di depan gadis itu. Diraihnya tangan Dewi kemudian melanjutkan nyanyinnya.
“Kupinang dirimu s'bagai teman hidupku. Berjanjilah, Kasih, setia bersamaku.”
Pria itu mengakhiri lagu dengan kecupan di punggung tangan Dewi. Sontak saja hal tersebut membuat para pengunjung, khususnya para wanita menjerit histeris. Ingin rasanya mereka juga diperlakukan begitu romantis oleh Aditya. Wajah Dewi bersemu merah mendapatkan perlakuan yang begitu manis dari calon suaminya.
Aditya berjalan kembali menuju panggung seiring dengan irama musik di akhir lagu. Budi mendelik pada pria itu, hatinya perih tak tertahankan melihat gadis yang disukainya ternyata sudah menerima lamaran Dewi. Dia terjengit ketika tiba-tiba Micky mengusap telinganya dan Bobi mengusap hidungnya. Matanya melotot pada kedua teman durjananya, membuat wajahnya semakin tidak enak dilihat.
“Dasar sadut, bisa aja tuh anak. Awas Wi.. kamu bisa diabetes lama-lama digituin dia,” seru Pipit.
“Tante sirik aja,” celetuk Adrian.
“Mana ada. Udah ngga jaman ya tante pengen digituin.”
“Terus maunya gimana?”
“Dikasih hujan duit hahahaha…”
“Dasar matre.”
“Ngga hidup kalau ngga matre, hahaha….”
Adrian hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian pria itu melihat pada Dewi. Wajah gadis itu terlihat bahagia. Sepertinya Aditya sudah benar-benar mengalihkan hati Dewi darinya. Adrian hanya bisa mendoakan kebahagiaan mereka dan berharap dirinya tidak terlalu sakit menerima kenyataan. Dia yakin akan ada pelangi setelah hujan dalam hidupnya.
🌸🌸🌸
**Aa Ad sini sama mamake aja, peyuk.. Peyuk..
Dih othor lagunya Noah bae.. Budu, aku kan penggemar Noah😜
__ADS_1
Kalau lagu satu lagi cari aja di utube yee, judulnya Satu Rasa Cinta. Kalo mamake suka yang versinya Maulana Ardiansyah😉**