Naik Ranjang

Naik Ranjang
Pemujamu


__ADS_3

Setelah melalui serangkaian tes panjang, malam ini, Mahes akan mengumumkan siapa yang akan menjadi brand ambassador Amarta hotel. Dari ratusan peserta yang mendaftar, akhirnya terpilih tiga orang finalis yang salah satunya akan dinobatkan sebagai brand ambassador. Mendampingi Roxas yang sudah lebih dulu menyandang gelar tersebut.


Sorak sorai pendukung ketiga finalis terdengar memenuhi ballroom Amarta hotel. Dewi dan teman-teman yang lain berada di antara para pendukung tersebut, karena Sheila berhasil masuk sebagai finalis. Gadis itu sama sekali tidak menyangka kalau dirinya berhasil sampai ke tahap final. Bersamanya, masih ada dua orang lagi yang akan memperebutkan gelar prestisius tersebut.


Lampu mulai menyoroti panggung dengan berbagai warna. Tiga finalis naik ke atas panggung. Mereka berdiri berjajar mengenakan pakaian terbaik mereka. Tak dapat dipungkiri ketiganya nampak begitu cantik, begitu pula dengan Sheila. Terdengar teriakan Mila memberi semangat pada temannya.


Bersama dengan Sheila, ada Narumi juga Amanda. Di antara mereka, Sheila yang paling muda, 19 tahun. Disusul oleh Amanda 22 tahun dan Narumi 24 tahun. Mahes naik ke atas panggung. Pria itu bersiap untuk mengumumkan sang pemenang. Mahes mengambil mic dari pembawa acara.


“Selamat malam semuanya.”


“Selamat malam..”


“Malam ini.. kami akan mengumumkan siapa kandidat yang akan menyandang predikat sebagai brand ambassador Amarta hotel. Penilaian dilakukan oleh para juri professional dan melalui proses yang sangat ketat. Dari hasil penyaringan, akhirnya muncul tiga orang finalis kita. Amanda!!”


Amanda maju ke depan dengan gaya berjalan bak peragawati. Dia berhenti sebentar di depan panggung kemudian membalikkan tubuhnya lalu kembali ke tempat semula.


“Narumi!!”


Narumi maju setelah namanya dipanggil. Sama seperti Amanda, gadis itu berjalan menuju depan panggung. Sebelah tangannya diletakkan di pinggangnya. Setelah berputar sebentar, dia kembali ke tempatnya.


“Sheila!!”


Suara teriakan Dewi, Mila, Sandra, Micky dan Bobi langsung terdengar ketika nama Sheila disebut. Gadis itu nampak cantik dengan riasan natural dan rambut disanggul sederhana, memperlihatkan leher jenjangnya. Setelah kembali ke tempatnya, Mahes kembali mengambil alih acara.


“Dan untuk brand ambassador Amarta hotel tahun ini, jatuh kepada…”


Bukan hanya peserta yang ikut berdebar menantikan Mahes menyebutkan nama pemenang. Tetapi para pendukung yang datang juga ikut berdebar. Lampu menyorot ketiga finalis tersebut bergantian. Terdengar suara musik yang semakin mendramatisir suasana. Dan akhirnya sorot lampu berhenti di salah satu peserta.


“AMANDA!!!”


Gemuruh tepuk tangan langsung menyambut ucapan Mahes saat menyebutkan nama sang pemenang. Amanda yang terkejut dirinya berhasil menjadi pemenang segera mengulurkan tangannya pada Mahes. Pria itu mengajak Amanda maju ke depan panggung. Seseorang datang membawakan selempang bertuliskan Amarta Hotel’s Brand Ambassador.


Senyum kebahagiaan nampak di wajah cantik Amanda yang memiliki nama panjang Amanda Fransisca. Tangannya melambai pada orang-orang di bawah panggung. Kemudian dia melambaikan tangannya pada Sheila dan Narumi untuk mendekat. Ketiganya berdiri sejajar dengan dirinya berada di tengah.


🌸🌸🌸


Aditya segera berlari menuju ballroom setelah jam kerjanya usai. Pria itu mendapat shift pagi, namun jam kerjanya baru selesai setengah sembilan malam. Semua tentu saja karena tim kitchen sibuk mempersiapkan acara malam ini. Selain pengumuman brand ambassador, para tamu juga disuguhi makanan dan minuman untuk dinikmati.


Mata Aditya berkeliling ballroom mencari sosok Dewi. Kemudian matanya menangkap kekasihnya duduk di salah satu meja paling sudut bersama teman-temannya. Aditya langsung menghampiri. Dia menarik salah satu kursi di samping Dewi.


“Siapa yang menang?” tanya Aditya.


“Amanda.”


“Kirain Sheila, hehehe.. Sheila mana?”


“Masih belum keluar.” Jawab Dewi.


“Roxas mana?” tanya Sandra.


“Roxas lagi siap-siap. Dia kan brand ambassador cowoknya.”


“HAH?? SERIUS??”


Wajah-wajah penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan langsung terpancar dari mereka, termasuk Dewi. Aditya memang merahasiakan soal ini atas permintaan Roxas. Dan setelah BA wanita terpilih, barulah dia mengatakan yang sebenarnya.


“Gile si leker bisa jadi BA juga,” celetuk Bobi.


“Tapi kan tuh anak kaga bisa speaking English. Kok bisa sih?” heran Budi.


“Yang penting mukanya bule. Ngga kaya elo, buluk, hahaha…” timpal Micky. Budi menoyor kepala temannya ini dengan kesal.


“De.. kamu mau di sini sampai selesai atau mau pulang?” tanya Aditya.


“Pulang aja deh. Udah malam juga, kasihan ibu di rumah.”


“Ya udah, ayo.”


Dewi segera berdiri dari duduknya. Setelah berpamitan dengan semua teman-temannya, dia segera keluar dari ballroom mengikuti langkah Aditya. Keduanya berjalan menuju basement, menuju tempat di mana Aditya memarkir motornya. Pemuda itu menyerahkan helm pada Dewi.


“Dit.. kamu masih marah sama aku?”


“Ngga..” jawab Adit tanpa melihat pada Dewi.

__ADS_1


“Maafin aku, ya. Aku sadar kok udah bersikap kekanakkan. Mulai sekarang aku ngga akan bersikap kasar lagi sama bang Rian.”


Aditya menolehkan kepalanya ketika Dewi menyebut nama Adrian dengan sebutan bang, bukan pak lagi. Cukup lama pemuda itu menatap wajah cantik Dewi. Kemudian segurat senyum terbit di wajahnya.


“Aku senang kalau kamu bersikap lebih lunak sama bang Ad.”


“Bang Rian udah banyak bantu aku juga ibu. Aku marah sama dia tanpa alasan jelas. Maafin ya.”


“Kamu salah alamat kalau minta maaf sama aku.”


“Aku udah minta maaf kok sama bang Rian.”


“Terus bang Ad bilang apa?”


“Harus aku kasih tau? Kamu tau kan modelan abang kamu kaya gimana.”


“Hahaha.. iya juga sih. Ayo pulang.”


Dewi memakai helm kemudian duduk di belakang Aditya. Pemuda itu segera melajukan motornya keluar dari basement hotel. Kemacetan masih sedikit melanda jalan Asia Afrika walau waktu sudah menunjukkan malam hari dan bukan di saat weekend.


“Dit.. Roxas beneran jadi brand ambassador?”


“Iya.”


“Waduh naik kelas sekarang si leker, hahaha…”


“Iya, De. Kayanya bentar lagi tawaran jadi model bejibun tuh.”


“Aamiin… aku senang kalau dia sukses. Lumayan jadi teman artis.”


“Hahaha…”


Kendaraan roda dua itu terus melaju membelah jalanan kota Bandung. Kekesalan Aditya pada Dewi sebenarnya sudah hilang sejak beberapa hari yang lalu. Mendengar kalau kekasihnya itu sudah berdamai dengan Adrian, membuatnya semakin bahagia. Senyum terus menghiasi wajahnya.


🌸🌸🌸


Kendaraan roda dua dan empat sudah banyak terparkir di pelataran parkir Red Kingdom café. Seperti biasa di saat weekend, The Soul akan tampil menghibur pengunjung yang datang. Sesuai janjinya, Pipit datang untuk melihat penampilan Roxas. Dia datang bersama dengan Adrian. Keduanya mengambil tempat di meja yang ada di dekat panggung.


“Oh My God. Pak Rian dateng sama cewek!”


Mendengar ucapan Mila, sontak Dewi langsung menolehkan kepalanya ke meja yang ditunjuk Micky. Di sana terlihat Adrian duduk bersama Pipit. Keduanya tengah berbincang santai, sesekali terlihat senyum Adrian saat berbicara dengan tantenya itu. Jujur saja, Dewi lumayan geram melihat kebersamaan mereka. Baru beberapa hari yang lalu dia mengijinkan Adrian bersama dengan wanita dan sekarang pria itu benar-benar menggaet seorang wanita.


Dasar playboy kabel. Belum juga seminggu, sekarang udah gaet cewek baru. Mana cantik lagi, dewasa juga. Bodo aahh.. gue juga udah punya Adit.


Dewi langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hatinya benar-benar dongkol melihat Adrian bersama dengan wanita yang tidak dikenalnya. Kemudian wajahnya kembali tersenyum saat melihat Aditya menghampirinya.


“Weh udah pada ngumpul aja nih,” seru Aditya.


“Eh Dit.. Fay mana?” tanya Micky.


“Lagi siap-siap.”


“Dit.. itu cewek pak Rian ya,” ujar Bobi.


Aditya langsung mengikuti pergerakan tangan Bobi. Bukannya menjawab pertanyaan Bobi, pemuda itu langsung berjalan mendekati meja sang kakak. Dia ikut duduk bersama mereka dan berbincang. Mata Dewi terus mengawasi apa yang ketiga orang itu lakukan.


Ternyata Adit juga kenal sama tuh cewek. Emang calonnya aa kali ya. Ternyata benar dia sama sekali ngga ada perasaan sama gue.


Belum selesai prediksi Dewi akan wanita yang bersama dengan Adrian. Kini Roxas ikut bergabung bersama dengan mereka. Seperti halnya Aditya, ternyata Roxas juga terlihat akrab dengan wanita itu. Dewi semakin dibuat geram. Ternyata sahabatnya itu juga tau soal wanita yang bersama dengan Adrian.


Kampret lo Rox.. kalo lo udah tau siapa ceweknya aa, ngapain juga waktu itu lo belaga kaya mak comblang segala.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, itu artinya sudah waktunya untuk The Soul tampil menghibur pengunjung. Satu per satu personil The Soul naik ke panggung. Mereka segera menyiapkan peralatan masing-masing. Begitu pula dengan Aditya dan Roxas.


Dari arah pintu masuk, muncul Mahes bersama dengan Indira. Pasangan pengantin yang masih terbilang baru ini memutuskan duduk bersama dengan Adrian. Indira menyalami tangan Adrian dan Pipit bergantian. Sambil menunggu The Soul tampil mereka berbincang ringan. Hanya Indira yang tak ikut berbicara. Wanita itu memilih menjadi pendengar saja.


“Selamat malam semua,” Aditya mulai menyapa para pengunjung.


“Malam..”


“Sehat semua?”


“Sehat..”

__ADS_1


“Alhamdulillah.. Ok.. malam ini, karena saya dan yang lain sedang bahagia. Maka lagu pertama yang akan kami nyanyikan adalah lagu tema cinta. Dan lagu ini khusus saya persembahkan untuk gadis yang saya sayang.”


Aditya menatap pada Dewi kemudian mengedipkan matanya. Gadis itu menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan semburat merahnya. Pipit yang penasaran akan sosok kekasih keponakannya, terus melihat pada Dewi. Sementara Adrian memilih tak peduli walau hatinya terasa panas.


Suara melodi gitar, bass dan keyboard mulai mengalun. Saat ini Aditya memutuskan tidak memainkan gitarnya. Dia berdiri di depan stand mic. Matanya terus menatap Dewi saat akan mulai bernyanyi.


“Kali ini ku tlah jatuh ke dalam. Dosa begitu besar. Terlalu mencintai


Begitu dalam. Mata itu berhasil hipnotisku. Menjerat nafsu jiwa


Mengurungku ke dalam keindahan.”


Rivan langsung menyambung dengan menabuh drumnya. Aditya terus menyanyikan part refrain dengan mata tak melepaskan Dewi sedetik pun. Mila, Sheila dan Sandra sampai meleleh dibuatnya. Budi hanya mencibir saja. Andai dia bisa bernyanyi, pasti dia juga akan menyanyikan lagu Kangen band untuk gadis pujaannya.


“Rasanya ingin malam ini, menciummu hingga lemas. Rasanya ingin malam ini, memelukmu hingga terlelap. Ku ingin ini bukan hanya, sekedar mimpi belaka. Ku ingin ini menjadi, dosa terindah dalam hidupku.”


Lagu berirama sedang itu berakhir yang diiringi oleh tepuk tangan para pengunjung. Dewi ikut bertepuk tangan sambil terus memperlihatkan senyum manisnya. Hatinya semakin mantap menjatuhkan pilihan pada Aditya. Sudah tak dipedulikannya lagi Adrian yang mash bersama dengan Pipit.


“Suara Adit keren ya, Ad,” ujar Mahes.


“Iya.”


“Udah ada label yang nawarin rekaman belum?”


“Udah. Cuma mereka masih ngumpulin lagu katanya.”


“Yakin band-nya bakal sukses.”


“Aamiin.. mudah-mudahan aja.”


“Nanti pas ultah hotel, gimana kalau mereka tampil jadi pengisi acara?” Mahes melihat pada Pipit.


“Jangan lihat ke aku. Kamu bilang aja sama panitianya.”


“Nanti aku bilangin. Lagian ada Roxas kan, kerenlah brand ambassador kita ternyata salah satu personil The Soul,” Mahes semakin terlihat bersemangat.


Dia melirik pada Indira, berharap istrinya itu merespon apa yang dikatakannya tadi. Namun Indira hanya diam saja. Wanita itu hanya diam sambil menyeruput minumannya. Indira memang mencintainya, namun dia terlalu pendiam dan pasif. Harus selalu dirinya yang memulai lebih dulu.


“Malam ini ijinkan kami membawakan lagu milik sendiri. Semoga saja kalian suka lagu gubahanku.”


Aditya melihat pada rekan-rekannya, kemudian terdengar suara musik mengalun. Kali ini pemuda itu juga memainkan gitarnya. Sambil berdiri di depan stand mic, dia memetik gitar dan mulai bernyanyi.


“Di hati ku bertanya, tentang aku di hatimu. Dapatkah kau terima, kesungguhan hatiku. Waktu.. yang terus menemaniku. Masih… membawa ke hatimu. Kuterbangkan tinggi membawaku pergi. Dapatkah diriku bertahan menunggu. Jejak warna hati yang telah kau tinggalkan. Terangi hatiku bertahan jiwaku.”


Tanpa sadar tangan Pipit bergerak mengetuk meja mengikuti irama lagu yang dimainkan The Soul. Lagu berirama sedang namun menyiratkan kesedihan karena penantian hati dari seseorang yang dicinta langsung menarik perhatian pengunjung café. Wajah Aditya terlihat bahagia melihat orang-orang menikmati lagu ciptaannya.


Kemudian matanya menatap pada Dewi. Sama seperti yang lain, gadis itu pun terlihat senang dan begitu menikmati. Sebuah lagu yang diciptakan olehnya di saat kegalauan hati melanda. Ketika menunggu jawaban dari sang kekasih hati, mencoba bertahan dengan perasaan yang dimilikinya. Dan kini kesabarannya membuahkan hasil. Dewi menerima cintanya.


Gemuruh tepuk tangan menyambut ketika pemuda tampan itu menyelesaikan lagunya. Adrian menghentikan rekamannya ketika sang adik selesai bernyanyi. Dia mengabadikan penampilan perdana The Soul membawakan lagu ciptaan sendiri.


🌸🌸🌸


Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Nenden masih menyiapkan bahan untuk dagangannya besok sambil menunggu Dewi yang belum kembali dari café. Setelah menaruh semua bahan ke dalam kulkas. Wanita itu masuk ke dalam kamarnya. Tiba-tiba saja dia merasakan sakit yang begitu sangat di area perutnya.


“Astaghfirullah…”


Nenden memegangi perutnya sambil mulutnya tak henti mengucapkan istighfar. Karena tak sanggup menahan rasa sakit, wanita itu berbaring di atas kasur. Tubuhnya meringkuk dengan tangan memegangi perutnya. Keningnya dipenuhi titik-titik keringat. Dia teringat apa yang dikatakan dokter saat memeriksakan diri beberapa hari yang lalu.


“Dari hasil pemeriksaan, ternyata ada pertumbuhan tumor baru di perut ibu. Dan ini kanker. Saya sarankan pada ibu untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut supaya kita bisa mengambil tindakan cepat.”


“Apa saya harus dioperasi lagi, dok?”


“Iya. Tapi kami harus melihat dulu penyebarang jaringannya seperti apa. Mudah-mudah penyebarannya tidak cepat. Semakin cepat melakukan biopsy, maka akan semakin baik hasilnya. Saya tunggu jawaban ibu secepatnya.”


“Baik, dok. Saya akan membicarakannya dulu dengan anak saya.”


Airmata Nenden menetes mengingat itu semua. Rasa sakit di perutnya terus berlangsung hingga dirinya tidak bisa menahannya lagi. Mata Nenden perlahan menutup ketika kehilangan kesadaran.


🌸🌸🌸


**Terima kasih untuk Reman Picisan yang sudah mengijinkan lagu gubahannya dipakai di novel ini sebagai lagu ciptaan Aditya🙏 Andai bisa kasih audio, mamake bakal kasih dengar lagunya. Kalau memungkinkan nanti aku up di IG😁


Sekali lagi judul novel ini Naik Ranjang. Artinya Adrian tetap bakal jadi sama Dewi tapi alur naiknya yang masih berproses. Kalau ada yg tidak berkenan dengan hubungan Dewi dengan Aditya, mamake ngga maksa. Tapi kalau Dewi langsung nikah sama Adrian bukan Naik Ranjang judulnya, tapi Ranjang Pengantin. So, buat yang kecewa Adrian ngga jadi sama Dewi sampai ngancam mau berhenti baca, silahkan.. Mamake ngga bisa maksa kalian tetap stay kan.. Tapi sekali lagi, pahami judul novelnya. Kalau paham, pasti sedikit banyak bisa menebak alurnya seperti apa dan tidak memaksakan cerita sesuai keinginan kalian. Terima kasih untuk semua yang masih mengikuti alur ini sampai selesai. Kalau yang udah ngga mampu, silahkan left tanpa meninggalkan komen yang ngga enak🙏**

__ADS_1


__ADS_2