Naik Ranjang

Naik Ranjang
Healing


__ADS_3

“Bu, Dewi berangkat sekarang ya.”


Dewi berpamitan pada Nenden. Sepulang dari rumah Sheila, gadis itu langsung bersiap untuk pergi mengunjungi paman dan bibinya di Tasikmalaya. Nenden menjeda pekerjaannya, kemudian mengambilkan bungkusan berisi oleh-oleh untuk ipar-iparnya.


“Salam buat bi Iis sama mang Nandang. Ini jangan lupa oleh-olehnya dibawa.”


“Iya, bu.”


“Neng berapa lama di sana?”


“Semingguan, bu.”


“Hati-hati ya, neng. Kalau udah sampai jangan lupa kabari ibu.”


“Iya, bu.”


Dewi mengambil bungkusan dari tangan Nenden, kemudian berjalan keluar rumah ditemani oleh Nenden. Di teras, nampak Sheila duduk menunggu. Gadis itu segera berdiri begitu melihat kedatangan Dewi dan Nenden.


“Kalian hati-hati, ya.”


“Iya, bu. Pergi dulu,” Dewi mencium punggung tangan Nenden, diikuti oleh Sheila.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Bersama dengan Sheila, Dewi meninggalkan kediamannya. Sekilas diliriknya kontrakan Aditya. Pintunya tertutup rapat, pertanda semua penghuninya tidak ada di rumah. Dewi bersyukur tidak bertemu dengan Aditya. Dia ingin menyingkir dulu, baik dari Aditya maupun Adrian.


“Wi.. ke terminal Cicaheumnya mau naik ojek apa angkot?” tanya Sheila.


“Angkot aja, ya. Anggap aja kita lagi backpacker-an.”


“Iya, Wi. Biar seru aja, ya.”


Kedua gadis itu berjalan sampai ke jalan raya. Mereka menunggu angkot warna hijau yang akan membawanya ke terminal Cicaheum. Dewi melambaikan tangannya begitu melihat angkot yang dimaksud melintas. Mereka segera naik ke dalamnya.


“Wi.. kita mau naik apa? Bisa apa elf?”


“Mending bis aja. Kalo elf, gue ngga kuat. Pengen muntah bawaannya.”


“Sama. Jadi kita naik bis apa nih.”


“Naik bis si Budi aja.”


“Hah? Emang si Budi punya bis?”


“Punya, bis Budiman, hahaha..”


“Asem.”


Tak ayal Sheila ikut tergelak mendengar candaan temannya. Angkot yang ditumpangi oleh keduanya terus melaju menuju terminal yang dijadikan lokasi syuting Preman Pensiun. Jarak dari kontrakan haji Soleh ke terminal memang cukup jauh. Jika tak ada kemacetan, sekitar setengah jam, mereka akan sampai di sana.


Udara mulai terasa panas, ketika mereka tiba di terminal Cicaheum. Waktu memang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas, matahari pun sudah mulai bergerak menuju titik tengah. Dewi segera menuju bis Budiman jurusan Tasikmalaya. Seorang calo langsung menyambut keduanya ketika mendekat.


“Tasik teh.. Tasik?”


“Iya.”


“Sok, teh.. masih banyak kursi kosong.”


Dewi dan Sheila segera naik ke dalam bis. Seperempat kursi sudah terisi. Mereka menuju kursi yang masih kosong di bagian tengah. Dewi dan Sheila menaruh tas ransel ke bagasi yang ada di atas mereka. Selain penumpang, pedagang asongan ikut serta naik ke dalam bis menawarkan dagangannya.


“Cangcimen.. cangcimen.. kacang, kuaci, permen. Teh.. cangcimen teh..” tawar pedagang itu pada Dewi, namun gadis itu hanya mengangkat tangannya saja tanda penolakan.


“Dikacangan.. dikacangan.. meni nyeruri hate… (dikacangin.. dikacangin.. sakit hati banget),” sindir pedagang itu, namun tak digubris oleh Dewi.


Tak lama setelah pedangan cangcimen turun, naik lagi seorang pria mengenakan baju koko, peci dan sarung. Dia membagikan amplop pada para penumpang. Kemudian pria itu berdiri di tengah-tengah, bersiap menyampaikan pidatonya.


“Assalamu’alaikum, selamat siang, aa dan teteh sekalian. Dimohon keikhlasannya membantu saudara kami di yayasan Nurul Falah, di Desa Nagrok, Kecamatan Cipatujah. Sedikit harta yang diberikan oleh aa dan teteh sangat bermanfaat untuk kami semua.”


Dewi terkejut mendengar nama desa yang disebutkan pria itu. Dia mengambil amplop tersebut, di sana tertera alamat yayasan Nurul Falah yang ada di desa Nagrok, tempat paman dan bibinya tinggal. Gadis itu mengambil selembar lima ribuan lalu memasukkan ke dalam amplop.


“Itu beneran, Wi?” tanya Sheila.


“Kaga tau. Itu desa yang mau kita datengin. Gue kasih aja lima ribu, kalo zonk ngga gondok-gondok amat.”


Sheila mengikuti apa yang dilakukan temannya itu. Dia mengambil selembar lima ribuan dari dalam dompetnya lalu memasukkannya ke dalam amplop. Pria yang membagikan amplop tersebut segera mengambil kembali titipannya, setelah itu dia turun dari mobil.


“Tararahu.. tararahu.. hararaneut.. lepet na tahunya..” tawar pedagang asongan yang baru saja naik.


“Buset banyak banget yang promo dagangan,” Sheila terkikik geli.


“Namanya juga bis si Budi,” jawab Dewi asal yang langsung disambut tawa Sheila.


Hampir setengah jam lamanya mereka menunggu sang supir menjalankan kendaraannya. Para pedagang turun naik silih berganti menawarkan dagangannya. Ada yang menjual tisu, pulpen, tts, manisan manga atau mengamen. Akhirnya penantian panjang para penumpang berakhir ketika orang yang ditunggu naik ke dalam bis dan mulai melajukan kendaraan meninggalkan terminal Cicaheum.


🌸🌸🌸


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Dewi dan Sheila sampai juga di tempat tujuan. Dengan semangat 45, Dewi memasuki kediaman Iis, adik dari bapaknya. Herman adalah anak pertama dari tiga bersaudara, Iis adalah adik bungsunya, sedang adik pertamanya adalah Nandang. Kedua adik Herman menikah lebih dulu, sedang Herman paling akhir.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.. ya Allah, Dewi..”


Iis menyambut keponakannya ini dengan penuh sukacita. Dia sudah mendapat kabar dari Nenden kalau anak dari kakaknya akan datang ke mari. Dewi mencium punggung tangan Iis, disusul oleh Sheila.

__ADS_1


“Sehat, bi?” tanya Dewi.


“Alahmdulillah. Kamu sendiri gimana?”


“Alhamdulillah.”


“Ayo masuk-masuk. Ieu neng geulis saha namina? (Ini neng cantik, siapa namanya?).”


“Sheila, bi.”


“Ayo masuk, Sheila.”


Iis merangkul Dewi kemudian masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu, sedang Iis langsung menuju dapur untuk membuatkan minuman. Mata Dewi memandangi foto yang terpajang di dinding. Amir, anak tertua bi Iis sudah menikah. Sedang anak keduanya kini masih kuliah. Suami Iis, Karta, sehari-hari bekerja mengolah sawah salah satu juragan tanah di sini.


Tak lama Iis datang dengan membawakan minuman dingin beserta dengan camilan. Dia meletakkannya di atas meja. Kemudian wanita itu mendudukkan diri di samping Dewi. Iis senang Dewi mau main ke rumahnya. Sejak sang kakak meninggal, baik Dewi maupun Nenden belum datang menemuinya lagi.


“Bi.. ini oleh-oleh dari ibu.”


“Makasih, Wi. Sekarang ibumu sibuk apa?”


“Jualan makanan, bi. Ada nasi kuning, nasi uduk, lotek. Kadang terima pesanan nasi kotak juga.”


“Ibumu memang pintar masak. Pasti dagangannya laris.”


“Alhamdulillah, bi. Kalau mang Karta mana?”


“Tadi mau beli pupuk dulu, bentar lagi juga pulang. Ayo diminum dulu.”


Dewi menaambil minuman dingin yang disediakan oleh Iis, begitu pula dengan Sheila. Gadis itu senang karena Iis menyambut mereka dengan baik. Setelah menghabiskan minumannya, Iis menyuruh Dewi dan Sheila untuk beristirahat, dia sudah menyiapkan kamar untuk keponakannya itu.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Dewi bermaksud mengunjungi Nandang, adik pertama Herman. Dia membawa bungkusan yang berisi oleh-oleh untuk pamannya itu. Karena tidak ada kerjaan, Iis mengantarkan sang keponakan ke rumah kakak keduanya. Rumah mereka kebetulan tidak terlalu jauh.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Eh Dewi..” sambut Nandang. Pria paruh baya itu segera mengajak Dewi untuk masuk.


“Ada angin apa ini, tumben mau main ke sini.”


“Angin barat, mang hehehe…”


“Bisa aja kamu. Gimana kabar ibumu?”


“Alhamdulillah baik. Ini mang, ada oleh-oleh untuk mamang dan bibi.”


Dewi memberikan bungkusan di tangannya. Nandang segera memanggil istrinya yang masih berkutat di dapur. Wanita itu terkejut melihat kedatangan keponakan suaminya. Dewi berdiri kemudian mencium punggung tangan wanita itu.


“Kapan datang, Wi?”


“Baru aja, bi.”


Dewi geli sendiri mendengar Nandang memanggil ibunya dengan sebutan ‘ceu’ padahal usianya lebih tua dari Nenden. Tapi karena menghargai kakaknya, baik Nandang maupun Iis memanggilnya dengan sebutan ‘ceu’. Perbedaan usia Herman dan Nenden memang cukup jauh, sembilan tahun.


“Ibumu kenapa ngga mau pindah ke sini saja. Kalau ada apa-apa kan kita bisa bantu cepat. Kalau kuliah, di sini juga ada kampus yang bagus,” cerocos Tita. Dewi hanya membalas dengan senyuman saja.


“Biarkan saja, itu sudah pilihan ceu Nenden,” ujar Nandang bijak.


“Bapakmu juga kenapa dimakamkan di Bandung, kenapa ngga di sini aja?” kembali terdengar ucapan Tita.


“Maaf, bi. Waktu itu kejadiannya mendadak, kita ngga kepikiran menguburkan bapak di sini.”


“Ya ngga apa atuh, ceu. Mau dikuburkan di mana pun, doa yang kita kirimkan pasti sampai juga.”


Iis yang semula hanya diam mendengarkan, akhirnya membuka suaranya. Dia kesal saja pada kakak iparnya ini yang selalu memojokkan Dewi. Wanita itu segera mengajak Dewi untuk pulang ke rumahnya.


“Hayu, Wi.. sebentar lagi mang Karta pulang,” ajak Iis.


“Kang.. aku pulang dulu, hayu ceu..” lanjut Iis.


Nandang berdiri kemudian mengantarkan adik dan keponakannya sampai ke depan pintu. Sepanjang perjalanan Iis terus saja membicarakan Tita yang terlalu banyak mengatur. Dirinya kerap menjadi sasaran kakak iparnya itu. Dewi hanya tersenyum saja mendengar keluh kesah Iis.


“Bi.. besok Dewi sama Sheila mau ke Tonjong Canyon.”


“Sok atuh, represing.”


Dewi tak bisa menahan tawa mendengar Iis mengatakan kata refreshing. Kebiasaan orang Sunda yang tidak bisa mengucap huruf F. Tapi anehnya selalu mengganti pelafalan huruf P dengan huruf F. Entah siapa yang salah, ku tak tahu.


“Nanti biar Amir yang antar.”


“Makasih, bi.”


Dewi bersyukur adik dari ayahnya ini menyambut kedatangan dirinya dengan senang. Gadis itu berharap, berada di sini bisa sedikit melupakan Adrian. Semoga saja sekembalinya nanti, luka yang ditancapkan pria itu sudah berkurang sakitnya, semoga saja.


🌸🌸🌸


“Wi.. bawa timbel jangan lupa,” ujar Amir anak pertama dari Iis. Pria itu yang akan mengantar Dewi dan Sheila ke Tonjong Canyon hari ini.


“Dih kaya mau ngapain aja bawa timbel segala.”


“Eh dibilangin ngga percaya. Udah bawa aja, enak makan di sana. Akang juga sering bawa timbel kalo lagi nganter tamu ke sana.”


“Emang di sana tempatnya cozy abis ya, kang?” tanya Sheila.


“Pokoknya keren deh. Ngga kalah sama grand canyon yang di Amerika, apalagi yang di Pangandaran. Pokoknya edun lah.”


“Wah jadi ngga sabar, nih.”

__ADS_1


Iis memasukkan nasi timbel buatannya ke dalam kantong plastik beserta lauk pauknya. Setelah semuanya siap, Amir segera membawa dua gadis cantik itu ke Tonjong Canyon, sebuah tempat wisata yang memiliki keindahan alam namun masih belum terkena sentuhan tangan professional untuk mengelolanya.


Setelah berjalan kaki hampir setengah jam lamanya, akhirnya mereka tiba juga di lokasi. Mata Dewi dan Sheila membulat melihat keindahan di hadapan matanya. Relief batuan purba karya sempurna dari goresan alam terbentang di sepanjang aliran sungai, menyuguhkan lanskap yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata.  Batuan purba berwarna kecoklatan dibatasi dengan kontur hitam, putih dan abu terlihat begitu indah.





“Ya ampun bagus banget!” seru Sheila.


Dalam hati Dewi mengiyakan apa yang dikatakan temannya itu. Melihat kontur bebatuan yang ada di Tonjong Canyon mengingatkan Dewi akan Sanghyang Heuleut. Mengingat tempat itu, Dewi kembali mengingat Adrian. Tiba-tiba saja air mulai menggenangi kedua matanya.


Dewi menaiki bebatuan yang ada di dekatnya. Susah payah gadis itu untuk sampai ke sana. Dia terdiam sejenak di sana, mencoba menetralkan perasaan yang menderanya. Kemudian gadis itu menaruh kedua tangan di sisi mulutnya.


“ADRIAN!!! I HATE YOU!! I HATE YOU SO MUCH!!”


Airmata Dewi berderai saat mengatakan itu semua. Sheila dan Amir hanya terdiam melihat apa yang dilakukan gadis itu.


“Dewi kenapa?” tanya Amir.


“Biasa, kang. Sakit hati.”


Sheila meninggalkan Amir. Gadis itu menyusul Dewi. Dia juga ingin mengeluarkan isi hatinya yang terpendam. Sesampainya di atas, dia berdiri di samping Dewi yang mulai menangis. Seperti halnya Dewi, dia juga melakukan hal yang sama.


“ROXAS!! KE LAUT AJA, LO!! DASAR COWOK NGGA PUNYA HATI!!!”


“Haissshhh dasar ABG labil.”


Amir hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Apa yang dilakukan Dewi dan Sheila karuan menarik perhatian pengunjung lain. Pria itu hanya melemparkan cengiran saja, seakan ingin mengatakan kalau dirinya bukan Adrian apalagi Roxas.


Setelah puas meneriakkan kata-kata yang membuat perasaan sedikit lega, Dewi dan Sheila mulai bermain air. Mereka berenang sambil tertawa-tawa, tak ingin lagi memikirkan pria yang sudah membuat hati mereka patah jadi dua. Amir kebagian menjaga barang-barang kedua gadis itu. Dia hanya duduk di sisi sambil bermain game cacing.


“Ya ampun kang Amir, itu timbelnya jangan dimakan sendiri,” protes Dewi ketika Amir terus mengambil timbel milik Dewi. Puas berenang, Dewi dan Sheila naik ke daratan dan mulai menyantap bekal timbel.


“Tadi katanya ‘ngapain bawa timbel segala’,” Amir mengulang kata-kata Dewi dengan nada suara seperti perempuan, membuat kedua gadis itu tergelak.


“Biasa aja, kang. Keki banget kayanya, hahaha..”


“Ai Adrian saha, Wi ?(Adrian itu siapa?).” tanya Amir. Dia penasaran sekali dengan sosok yang diteriakin Dewi tadi.


“Kutu kupret,” jawab Dewi asal, membuat Sheila tersedak.


“Ck.. sakitu nyeri hatena ku kutu kupret, tinggal pites we (segitu sakit hatinya sama si kutu kupret, tinggal dipites).”


“Hahaha…”


Sheila tak bisa menahan tawanya sampai terbatuk-batuk. Sepupu Dewi ini memang memiliki selera humor yang tinggi.


“Kang.. teh Wiwin cantik gitu, jangan-jangan dipelet sama akang, ya,” ujar Dewi saat tadi melihatnya sebelum berangkat ke Tonjong Canyon. Wiwin adalah istri dari Amir. Mereka baru menikah tiga bulan.


“Sembarangan. Kamu ngga lihat kalo akang mirip Jeff Nichols.”


“Wew.. mirip engkol mah iya, kang. Hahaha…”


“Dasar adik durhakim. Dikutuk jadi cengek, meh direndos ku Wiwin tercintah.”


“HOEK,” kompak Dewi dan Sheila.


Amir hanya tertawa melihat reaksi kedua gadis itu. Setidaknya melihat mereka seperti ini lebih baik dari pada melihat mereka menangis. Setelah puas bermain, pria itu mengajak Dewi dan Sheila pulang. Besok dia akan mengajak keduanya bermain di sawah. Lumayan buat dijadikan pegawai magang mencari belut.


🌸🌸🌸


Dewi duduk di bale-bale bambu yang ada di depan rumah Iis. Matanya memandang lurus ke atas langit, melihat bintang-bintang yang bertaburan di atas sana. Dibalik kekecewaan dan rasa sakit hatinya, sesungguhnya dirinya sangat merindukan Adrian. Di saat dia sudah terbiasa menerima semua perhatian Adrian, pria itu dengan mudahnya mengatakan kalau apa yang dilakukannya hanya untuk Aditya saja.


“Aku benci kamu aa.. benci…”


Gadis itu menekuk lututnya kemudian menaruh wajah di atasnya. Punggungnya bergetar saat Dewi mulai menangis. Amir keluar dari dalam rumah, pria itu hendak kembali ke kediaman mertuanya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Dewi menangis. Dia memilih menghampirinya.


Mengetahui ada yang duduk di sampingnya. Dewi mengangkat kepalanya, lalu menghapus airmatanya dengan cepat. Amir memperhatikan wajah adik sepupunya ini yang nampak sembab.


“Kamu kenapa, Wi?”


“Ngga apa-apa, kang.”


“Pasti ingat Adrian, ya?”


“Ngga usah sebut nama itu lagi, kang.”


“Kamu masih muda, Wi. Jangan habiskan waktu kamu untuk menangisi laki-laki ngga penting itu. Jadikan rasa sakit yang kamu rasakan sekarang untuk membuatmu menjadi lebih kuat. Allah memberikanmu ujian ini supaya kamu kuat, nangis boleh aja tapi jangan keterusan. Ingat, masih banyak hal penting yang harus kamu kejar. Impian bapakmu harus kamu wujudkan.”


“Iya, kang.”


“Kalau kamu mau nangis, sok nangis yang kencang sekarang. Tapi besok akang ngga mau lihat kamu nangis lagi. Cukup malam ini aja. Besok kamu harus kembali menjadi Dewi yang ceria.”


Dewi hanya menganggukkan kepalanya dengan airmata berderai. Amir menarik Dewi ke dalam pelukannya. Walau tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, namun dia berharap Dewi bisa melewati semuanya dengan baik. Gadis itu masih menangis dalam pelukannya. Menghabiskan airmata untuk malam ini, karena esok dia bertekad untuk tidak menangis lagi.


🌸🌸🌸


**Duh maaf ya klo cerita agak gaje. Mamake habis dapat kabar duka, salah satu teman baik saat jaman kuliah dipanggil Yang Maha Kuasa.


Sesuai janji mamake, novel terbaru udah terbit ya. Yang mau kepoin, silahkan klik profilku. Cari aja yang judulnya HATE IS LOVE**.


__ADS_1


Jangan lupa, like, comment, favorit dan rate bintang 5🙏


__ADS_2