
WARNING!!!
MEMBACA BAB INI BISA MENGAKIBATKAN SENYUM² SENDIRI YANG MEMBUAT ORANG CURIGA DAN BISA MEMICU KEBAPERAN. RESIKO TANGGUNG SENDIRI😝
🌸🌸🌸
“Wi.. sorry, kayanya gue ngga bisa ngenter. Gue mau jemput enin di rumah mang Tirta. Mereka tadi jemput enin suruh nginep di rumahnya, eh barusan enin telepon katanya ditinggal mang Tirta. Dia sekeluarga malah nginep di rumah mertuanya mang Tirta.”
“Ya udah sana jemput enin, kasihan. Mamang lo yang satu emang dodol ya. Udah tau punya ibu sakit-sakitan malah ditinggal gitu aja. Dia yang jemput, tanggung jawab kek anterin lagi ke rumah, malah main tinggal aja. Bilang ke enin suruh kutuk mang Tirta jadi centong,” cerocos Dewi mengeluarkan kekesalannya pada adik dari ibunya Roxas yang sangat menyebalkan di matanya.
“Hehehe.. buset tuh mulut merepet udah kaya petasan cabe rawit. BTW lo pulang naik apa? Gue tungguin sampe naik angkot. Atau lo mau naik ojek online?”
“Kaga usah pikirin gue. Sana jemput enin.”
“Beneran?”
Roxas nampak ragu. Dia tak tega meninggalkan Dewi seorang diri. Pemuda itu takut sang sahabat mengalami kejadian yang sama seperti Riska. Namun kekhawatirannya seketika sirna ketika melihat Adrian keluar dari dojang. Bergegas Roxas menghampiri sabeumnya itu.
“Pak.. saya boleh minta tolong ngga?”
“Apa?”
“Euungg.. saya ngga bisa nganter Dewi pulang. Bisa ngga bapak tolong anterin Dewi pulang? Soalnya saya harus jemput enin.”
“Saya kira apa. Ya sudah, biar saya yang antar dia pulang.”
“Makasih ya, pak,” Roxas meraih tangan Adrian kemudian mencium punggung tangannya. Dia lalu bergegas kembali pada Dewi.
“Wi.. lo pulang dianter pak Adrian ya.”
“Ogah.”
“Ngga usah ngebantah napa. Biar gue tenang. Ya.. sono balik sama pak Adrian. Gue cabut.”
Roxas mendorong tubuh Dewi ke arah Adrian lalu segera menaiki motornya. Dewi masih bertahan di tempatnya, melihat sang sahabat yang sudah meluncur meninggalkan dirinya bersama si hejo.
“Dewi, ayo.”
Suara Adrian membuyarkan lamunan Dewi. Dengan sangat terpaksa, gadis itu berjalan menuju mobil Adrian lalu masuk ke dalamnya. Adrian segera memasang sabuk pengamannya kemudian menyalakan mesin mobil. Sekilas dia melihat pada Dewi yang belum mengenakan seat belt.
“Pakai sabuk pengamanmu. Kalau sampai ditilang polisi, kamu yang saya kasih buat jaminan.”
“Biasa aja kali, pak ngomongnya.”
Dewi menarik tali sabuk pengaman kemudian memasangkan ke tubuhnya. Setelah seat belt terpasang, Adrian baru menjalankan kendaraannya. Suasana menjadi hening sejenak. Tangan Adrian kemudian bergerak menyalakan audio mobil. Suara renyah Shawn Mendes terdengar menyanyikan lagu Imagination. Tanpa sadar mulut Dewi bergerak menyanyikan lirik lagu tersebut tanpa suara.
“Kamu tahu juga lagu ini?”
“Ya taulah, pak.”
“Kirain saya kamu cuma tau lagu pembunuhan dan fitnah aja.”
“Lagu pembunuhan maksudnya potong bebek angsa gitu?” Dewi melihat pada Adrian.
“Ada satu lagi.”
“Apa?”
“Cicak-cicak di dinding.”
“Emang itu lagu pembunuhan?”
Kening Dewi berkerut memikirkan perkataan Adrian tentang lagu yang begitu populer di kalangan anak-anak. Dia masih belum mengerti unsur pembunuhannya ada di bait mana. Kalau potong bebek angsa, sudah jelas tergambar di awal bait.
“Coba kamu nyanyiin.”
“Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap. Datang seekor nyamuk, hap lalu ditangkap.”
“Itu nyamuk dimakan sama cicak, apa bukan pembunuhan namanya?” terang Adrian santai dengan mata tetap menatap ke depan. Dewi mendengus sebal.
“Terus lagu fitnah apaan?”
“Nina bobo.”
“Kok bisa?”
“Coba kamu nyanyiin.”
“Nina bobo.. ooh nina bobo.. kalau tidak bobo digigit nyamuk.”
“Nah lirik terakhirnya itu fitnah namanya. Biar Nina tidur, dia ditakutin kalau ngga tidur bakalan digigit nyamuk. Padahal belum tentu si nyamuk bakalan gigit. Apa bukan fitnah itu namanya.”
“Ya ada lirik lagu begitu karena emang nyamuk suka gigit, pak,” balas Dewi tak mau kalah.
“Nyamuk gigit karena udah terlanjur difitnah, makanya sekalian aja gigit. Tetap awalnya salah yang bikin lagu kenapa sampai fitnah nyamuk segala.”
Lagi-lagi Dewi mendengus sebal mendengar jawaban nyeleneh wali kelasnya itu. Dia heran ada saja jawaban yang terlontar dari mulut pria itu yang banyak berisi cabe dan petasan. Dewi memilih melihat ke jendela samping, malas melanjutkan percakapan dengan Adrian.
“Kita makan dulu, ya. Saya lapar.”
“Ngga mau. Kata ibu ngga boleh pulang malam. Bapak makannya abis anter saya pulang.”
“Telpon ibumu, kalau ngga ijinin, saya antar pulang.”
Dewi mendelik pada Adrian. Tangannya kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia segera menghubungi ibunya itu.
“Di loud speak, biar saya bisa dengar. Takutnya kamu memanupulasi jawaban ibumu.”
“Ish..”
Dewi mengusap ikon speaker. Untuk beberapa saat Nenden belum menjawab panggilannya. Tak lama kemudian terdengar suara wanita itu.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Bu, Dewi ngga boleh pulang malam kan?”
“Emang kamu mau kemana?”
“Maaf bu, saya mau ajak Dewi makan malam. Apa ibu mengijinkan?” Adrian langsung menyela pembicaraan. Tak dipedulikannya pelototan Dewi padanya.
“Oh boleh, pak. Silahkan. Kalau dengan pak Adrian, saya mah percaya.”
“Ibu…” protes Dewi.
“Terima kasih, bu.”
__ADS_1
“Sama-sama pak. Harap maklum kalau Dewi makannya agak rewog (rakus),” terdengar suara tawa Nenden.
“Ibu iiihhh…”
“Ngga apa, bu. Kalau perlu, nanti saya pesankan porsi double jumbo.”
“Hahaha.. bapak tau aja kesukaan Dewi.”
“Ibuuuuu…”
“Selamat bersenang-senang ya, neng. Assalamu’alaikum,” Nenden segera mengakhiri panggilan.
“Waalaikumsalam.”
Sebuah senyuman tercetak di wajah Adrian, akhirnya dia berhasil membawa Dewi untuk makan malam dengannya. Hal tersebut berbanding terbalik dengan reaksi Dewi yang menampilkan wajah cemberut.
“Kamu mau makan di mana?”
“Kenapa nanya saya? Kan yang laper, bapak.”
“Seafood mau?”
“Terserah.”
“Ok.. kita cari seafood terserah, di mana yang jual.”
Gumam Adrian yang semakin membuat Dewi dongkol. Gadis itu kembali menolehkan kepalanya ke jendela samping seraya melipat kedua tangan di dada.
🌸🌸🌸
Adrian mengarahkan kendaraannya menuju gedung sate. Di dekat lapangan gasibu banyak berjajar warung tenda yang menjual beraneka makanan. Namun Adrian tak berniat mengisi perutnya di sana. Dia terus melajukan kendaraan menuju daerah Cilaki. Di sini terdapat tempat makan yang menyediakan menu seafood dan sudah terkenal kelezatannya selama berpuluh tahun.
Avanza hitam milik Adrian berhenti di depan tempat makan yang sudah ramai didatangi pengunjung. Di bagian atas terdapat plang besar yang menuliskan nama tempat tersebut HDL 293. HDL sendiri adalah singkatan dari Hidangan Laut. Diam-diam Dewi menelan ludahnya kelat saat membaca nama tempat tersebut. Sudah lama dia ingin mencicipi seafood di sini. namun karena harganya yang lumayan mahal, harus membuatnya berpikir dua kali.
“Ayo.”
Suara Adrian sukses membuyarkan lamunan Dewi. Gadis itu membuka tali sabuk pengaman lalu keluar dari mobil. Saat memasuki ruangan, Adrian sempat kesulitan mencari tempat yang kosong karena rata-rata meja sudah terisi. Salah satu pelayan mengarahkan pria itu menuju meja yang masih kosong. Setelah kedua pengunjungnya duduk, pelayan tersebut menyodorkan buku menu.
“Kamu mau makan apa?”
Adrian melihat sekilas menu yang ditawarkan kemudian menyodorkan menu tersebut pada Dewi. Dia sendiri sudah cukup hafal menu apa saja yang disediakan, karena sudah cukup sering berkunjung ke sini bersama teman atau Aditya. Dewi melihat-lihat gambar di menu yang hampir saja membuat air liurnya menetes.
“Bapak kenapa nanya saya, kan yang mau makan bapak,” jawab Dewi dengan gengsi yang masih setinggi langit. Padahal perutnya sudah meronta ingin diisi.
“Saya sudah hafal menu di sini, dan sudah mencoba semua. Untuk makan malam sekarang, kamu aja yang pilih menunya. Coba gengsinya turunin dikit, kasihan cacing di perutmu sudah hampir sekarat.”
“Enak aja nuduh sembarangan. Siapa juga yang kelaperan.”
KRIUK
Lagi-lagi Dewi harus merutuki organ tubuhnya yang hari ini sudah mengkhianatinya dua kali. Tadi siang dia sampai malu karena kelepasan kentut di depan Adrian. Dan sekarang cacing di perutnya langsung berdangdut ria begitu melihat aneka gambar olahan seafood yang bikin ngiler.
“Masih mau ngeles?” ledek Adrian.
“Ya wajar dong kalo laper. Kan tadi abis latihan yang menguras energi,” Dewi kembali berkilah. Sepertinya keahlian ngeles gadis itu meningkat tajam hari ini.
“Makanya cepat pesan makanan. Nanti kamu pingsan, saya juga yang repot.”
“Ish..”
“Nanya mulu kaya reporter. Cepetan mau pesan apa?”
“Euung.. bingung, pak. Kayanya semuanya enak hehehe..”
“Kamu ngga ada alergi makan hidangan laut kan?”
“Ngga.”
“Suka kepiting?”
“Suka.”
Adrian melambaikan tangannya pada pelayan yang melintas tak jauh darinya. Pelayan tersebut segera menghampiri meja yang ditempati Adrian, dengan buku catatan kecil di tangannya.
“Pesan kepiting saos padang satu. Sapo tahu satu dan udang tempuranya satu. Nasi dua porsi, dan minumnya iced lemon tea satu… kamu mau apa?” Adrian melihat pada Dewi.
“Samain aja, pak.”
“Iced lemon teanya dua.”
“Kepiting saos padang satu, sapo tahu satu, udang tempura satu, nasi dua, iced lemon tea dua. Ada lagi?” tanya pelayan seraya menyebutkan kembali pesanan.
“Sudah cukup.”
Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya kemudian meninggalkan meja tersebut. Baru saja Adrian hendak mengajak Dewi berbicara, ketika ponselnya bergetar. Melihat nama pemanggil adalah salah satu klien yang memberikan proyek proposal padanya, Adrian langsung menjawab panggilan tersebut.
Dewi hanya diam mendengarkan Adrian berbicara entah dengan siapa. Apa yang dibicarakan oleh pria yang duduk di depannya ini, dia pun tak tahu. Sepertinya sang wali kelas tengah menggarap sebuah pekerjaan. Keasikan mencuri dengar percakapan Adrian terusik, ketika ponselnya berdenting. Senyum mengembang di wajah Dewi melihat pesan masuk dari Aditya.
From Lesung Pipi Kesayangan :
Lagi di mana?
To Lesung Pipi Kesayangan :
Lagi makan di luar.
From Lesung Pipi Kesayangan :
Sama siapa?
To Lesung Pipi Kesayangan :
Wali kelas nyebelin.
From Lesung Pipi Kesayangan :
Awas jangan sampai kepincut. Inget, udah punya calon imam😘😘😘
To Lesung Pipi Kesayangan :
Ish.. ngga mungkin lah sama orang nyebelin kaya dia😤 Kamu belum pulang?
From Lesung Pipi Kesayangan :
Belum. Extend nih, rame banget hotel.
__ADS_1
To Lesung Pipi Kesayangan :
Jangan lupa makan.
From Lesung Pipi Kesayangan :
Iya, sayang. Udah dulu ya, mau balik kerja. Mmmuuuaacchh💋💋💋
Dewi tak membalas lagi pesan Aditya. Namun melihat senyum di bibirnya sudah menandakan kalau hati gadis itu berbunga-bunga mendapat pesan dari sang pujaan hati. Adrian mengakiri panggilannya kemudian melihat pada Dewi yang tengah senyam-senyum sendiri.
“Ternyata efek kelaperan bisa membuat otak oleng.”
“Apaan sih, pak. Ganggu aja deh,” Dewi memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dari gerak-gerik Dewi, Adrian menebak kalau gadis itu baru saja mendapatkan pesan dari seseorang yang spesial. Jujur saja, Adrian mulai merasa cemburu.
“Bapak jomblo akut ya, sampai malam minggu nyeret saya buat nemenin makan.”
Tak ada jawaban dari Adrian. Pria itu membantu menaruh makanan di meja, karena sang pelayan baru saja mengantarkan pesanan mereka. Dia menaruh satu porsi nasi putih ke depan Dewi.
“Cukup nasinya? Atau mau tambah lagi?”
“Ini juga belum dimakan udah nanya mau nambah.”
“Kata ibumu, kamu kalau makan porsi jumbo.”
“Mana ada!”
Adrian menyendok sapo tahu lalu menaruh ke atas piringnya. Dia juga mengambil sepotong udang tempura, lalu memakannya tanpa nasi. Dewi sendiri masih bingung harus mulai mencicipi apa. Sebenarnya dia ingin sekali langsung memakan kepiting, tapi bingung cara membukanya.
“Jangan dilihatin aja, cepat makan. Cacing di perutmu ngga akan kenyang kalau makanannya cuma dipelototin.”
Dewi mengambil udang tempura lalu mulai memakannya. Adrian menyendok kembali sapo tahu, namun kali ini menaruhnya di piring Dewi. Dengan isyarat mata, dia meminta Dewi mencobanya.
“Kenapa kepitingnya ngga dimakan? Katanya suka.”
“Euung..”
Tak kunjung ada jawaban dari muridnya itu, Adrian mengerti apa yang membuat Dewi tak menyentuh kepiting yang dipesan. Kemudian dia mengambil sebuah kepiting dan tang untuk membuka cangkangnya. Cangkang bagian kaki kepiting terbuka, kemudian menyodorkannya pada Dewi untuk diambil dagingnya.
“Ini.”
“Makasih, pak.”
Dengan lahap Dewi memakan daging kepiting yang lembut sambil mencocolnya pada saos padang yang membuat rasanya semakin lezat. Adrian terus membukakan kepiting untuk anak didiknya itu, dan melupakan nasinya yang masih tersisa setengah.
“Bapak juga makan. Masa saya mulu yang makan.”
“Saya sudah sering makan ini. Untuk kamu saja.”
Adrian sudah selesai membukakan semua cangkang kepiting, kemudian menyodorkan piringnya ke dekat Dewi. Dia melanjutkan kembali makannya hanya dengan sapo tahu dan udang tempura saja. Sesekali pria itu memperhatikan Dewi yang begitu asik menikmati hidangan kepiting saos padang.
Tangan Adrian bergerak menarik tisu lalu mengusap sudut biibir Dewi yang terkena saos. Dada Dewi sedikit berdesir menerima perlakuan seperti itu. Terlebih ketika menatap mata Adrian yang begitu lembut saat melihatnya.
“Pelan-pelan makannya. Ngga akan ada yang minta juga.”
Dewi meneruskan makannya demi mengusir perasaan aneh yang menyergapnya tiba-tiba. Jantungnya berdetak tak karuan, namun tak dipungkiri terselip perasaan senang saat menerima perlakuan lembut wali kelasnya itu.
Dua buah kepiting akhirnya ludes juga dimakannya ditambah satu porsi nasi, beberapa potong tempura dan juga setengah porsi sapo tahu, dan terakhir segelas iced lemon tea. Perut gadis itu terasa penuh, dan dia hampir tak percaya bisa makan sebanyak itu dengan tidak tahu malunya di hadapan sang wali kelas.
Dewi melirik pada Adrian yang sepertinya terlihat biasa saja. Tak ada pandangan meledek, justru terlihat senang melihat dirinya menghabiskan semua makanan. Tangan pria itu kembali bergerak mengusap sudut bibir Dewi yang lagi-lagi terkena saos dengan tisu. Untuk kejadian kedua ini, harus diakui Dewi sedikit sengaja mengotori bibirnya supaya mendapatkan perlakuan yang sama dari Adrian.
“Gimana? Enak rasa makanannya?”
“Enak, pak. Lihat aja semua abis, cuma piringnya aja yang ngga saya makan,” kadung malu Dewi menjawab seperti itu. Tak disangka, Adrian justru terkekeh mendengarnya. Mata Dewi memandang tak berkedip pada sabeumnya itu. Adrian terlihat begitu tampan malam ini.
Buset.. gara-gara kepiting, kenapa pak Adrian kelihatan ganteng dan sweet banget ya. Ish.. sadar Wi… jangan tertipu sama si robot gedeg.
“Mau pulang sekarang?”
“Iya, pak.”
Kalau boleh jujur, Dewi tidak ingin cepat-cepat pulang. Dia ingin menikmati kebersamaan dengan Adrian lebih lama lagi. Tapi dia terlanjur bilang kalau ibunya tak mengijinkan pulang malam. Sepanjang jalan menuju parkiran mobil, Dewi terus menggelengkan kepalanya, mencoba menghalau pikiran aneh yang terus mencecarnya.
Saat perjalanan pulang, tak ada percakapan apapun di dalam mobil. Mata Dewi mulai memberat akibat hidangan laut yang disantapnya tadi. Tak kuasa menahan kantuk, Dewi menyandarkan kepalanya ke kaca jendela kemudian memejamkan matanya. Adrian melihat pada Dewi yang sudah tertidur pulas.
Dewi masih belum terbangun dari tidurnya ketika mobil yang dikendarai Adrian berhenti di depan rumahnya. Untuk beberapa saat pria itu terdiam, kemudian membuka sabuk pengamannya. Dia mendekatkan tubuhnya pada Dewi lalu mengguncang pelan bahu anak muridnya itu.
“Wi.. bangun.. sudah sampai. Wi..”
Adrian mencoba membangunkan Dewi. Gadis itu nampak bergerak sebentar, namun kembali melanjutkan tidurnya. Akhirnya Adrian memutuskan untuk turun kemudian berjalan menuju rumah Dewi. Setelah mengetuk dan mengucapkan salam, Nenden membukakan pintu rumah.
“Eh, pak Adrian. Dewinya mana?”
“Itu, bu. Dewinya tidur.”
“Hah?? Ya ampun anak itu.”
Bersama dengan Adrian, Nenden berjalan menuju mobil. Adrian membukakan pintu dan terlihatlah Dewi yang tengah tertidur pulas, dengan kepala menyandar ke jok. Nenden langsung membangunkan anak gadisnya itu. Namun usahanya itu sia-sia, Dewi sudah seperti kebo saja. Tak terusik dengan panggilan dan guncangan tangan sang ibu.
“Aduh nih anak, bener-bener, ya,” Nenden mengangkat tangannya, hendak memukul lengan sang anak dengan kekuatan lebih besar, tapi segera ditahan oleh Adrian.
“Jangan dipukul, bu. Dewi sepertinya kecapean dan kekenyangan juga. Biar saya gendong saja.”
“Maaf ya, pak Adrian.”
Adrian melepaskan pengait sabuk pengaman yang membelit tubuh Dewi, kemudian membopong gadis itu. Nenden bergegas membukakan pintu kamar Dewi. Merasakan sedikit goyangan, perlahan Dewi membuka matanya. Namun gadis itu segera memejamkan matanya lagi begitu sadar tengah berada dalam gendongan Adrian. Malu rasanya untuk membuka mata.
Perlahan Adrian membaringkan tubuh Dewi di kasur. Kalau tidak ada Nenden dan tidak ingat statusnya sebagai guru gadis itu, ingin rasanya Adrian mencium keningnya. Cepat-cepat pria itu meninggalkan kamar Dewi. Nenden menutup pintu kamar sang anak, lalu mengantar Adrian sampai ke teras.
“Terima kasih, pak Adrian. Maaf kalau Dewi merepotkan.”
“Tidak repot kok, bu. Saya permisi pulang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” Nenden langsung masuk ke dalam rumah setelah kendaraan Adrian melaju.
Mendengar suara mobil Adrian yang sudah menjauh, Dewi segera bangun dari tidurnya. Dia mengetuk-ngetuk kepalanya sambil merutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia tertidur dan tidak terbangun saat Adrian maupun Nenden membangunkannya. Bahkan wali kelasnya itu sampai harus menggendong dirinya.
“Duh Dewi, malu-maluin banget sih. Mau ditaruh di mana muka gue nanti,” gumam Dewi pelan.
Gadis itu beringsut bangun dari kasur lalu mengganti pakaiannya. Kemudian dia bergegas menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan berwudhu karena belum shalat Isya. Sambil menggosok giginya, dia kembali membayangkan kebersamaannya dengan Adrian.
Pak Adrian bisa sweet juga. Senang banget yang bakal jadi pasangannya nanti. Pantes banyak yang nge fans sama dia. Ish.. kenapa gue jadi mikirin pak Adrian mulu sih. Inget Wi, udah ada Adit.. Aahh lesung pipi kesayanganku lagi ngapain sekarang.
🌸🌸🌸
Ternyata pak guru bisa sweet juga ya. Kayanya pada auto ngarep jadi Dewi nih🤣🤣🤣
__ADS_1