Naik Ranjang

Naik Ranjang
Sang Buah Hati


__ADS_3

“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Bi Iis.. masuk, bi.”


Dewi menyambut gembira kedatangan Iis. Wanita itu menepati janjinya untuk datang menjelang persalinan. Bulan ini memang sudah waktunya untuk melahirkan. Dokter memprediksi minggu depan Dewi akan melahirkan anak pertamanya. Di belakang Iis, nampak Amir mengikuti.


“Kang Amir ikut juga. Sehat kang?”


“Alhamdulillah. Aduh meni bulued kitu, Wi.. hahaha (aduh bullet banget, Wi).”


“Akang mah, nyebelin.”


“Bi.. kang..”


Aditya keluar dari kamar kemudian menyalami Iis dan Amir. Pria itu mempersilahkan Iis menaruh barang bawaannya di kamar bekas Nenden. Dewi menuju dapur untuk membuatkan minuman. Aditya meminta Amir duduk bersamanya di ruang depan. Pria itu menepati janjinya tidak mengambil job keluar kota lagi sebelum istrinya melahirkan.


“Tumben kang, ikut ke sini.”


“Iya, sekalian mau wawancara. Alhamdulillah akang dipanggil wawancara.”


“Alhamdulillah, kang. Wawancara di mana?”


“Di perusahaan rokok. Kalau jalan Soekarno Hatta jauh ngga dari sini?”


“Lumayan, kang. Akang wawancara di sana?”


“Ngga, wawancaranya di jalan Otten. Deket ngga?”


“Lumayan juga.”


“Waduh jauh kaditu kadieu atuh (waduh jauh ke sana ke sini).”


“Ngga apa-apa, kang. Demi anak istri, mudah-mudahan berhasil ya wawancaranya.”


“Aamiin..”


Dewi datang membawakan empat gelas minuman dan camilan lalu menaruhnya di atas karpet. Iis keluar dari kamar, kemudian bergabung dengan yang lainnya. Di duduk di sebelah Dewi. Wanita itu mengusap perut buncit keponakannya.


“Sing sehat bageur, sing lungsur langsar, sehat bayina, sehat ibuna (yang sehat anak baik, yang lancar, sehat bayinya, sehat ibunya).”


“Aamiin.. jawab Dewi dan Aditya bersamaan.


“Kamu mau pergi, Wi?”


“Iya, bi. Mau ke dokter, periksa kandungan.”


“Oh ya udah atuh pergi aja.”


“Ini lagi nunggu taksi online.”


Ponsel Aditya berdenting. Supir taksi online mengabarkan kalau sudah sampai di dekat gerbang haji Soleh. Dewi mengambil tasnya, kemudian keluar bersama dengan Aditya. Sesuai jadwal, hari ini mereka akan bertemu dengan dokter kandungan. Aditya membantu sang istri naik ke dalam mobil.


Jalanan kota Bandung pagi ini tidak terlalu ramai. Perjalanan menuju rumah sakit Mitra Sehat tidak terkendala kemacetan. Dengan cepat mereka sampai di sana. Setelah mendaftar, mereka menunggu di depan ruang praktek dokter kandungan. Sudah ada tiga pasang yang sedang mengantri.


Sambil menunggu gilirannya masuk, Aditya terus mengusap perut Dewi sambil membacakan sholawat. Dia merasa bersalah karena lebih banyak berada di luar kota dari pada menemani istrinya selama kehamilan.


“Maaf ya, De.. selama kehamilan aku sering ninggalin kamu.”


“Ngga apa-apa, mas. Kan mas bukannya main, tapi kerja demi anak kita juga.”


“Makasih, sayang.”


Aditya mengecup kening Dewi. Dia tak mempedulikan pasangan lain yang melihat padanya. Dewi adalah istri sahnya, tak masalah kalau dia menciumnya seperti tadi.


“De.. besok aku harus manggung.”


“Di mana, mas?”


“Di Cipedes. Maunya sih ditolak, tapi bang Wira main ambil job aja tanpa nanya ke aku,” kesal Aditya.


Wira adalah manager The Soul. Dia yang mengatur jadwal band tersebut, termasuk menyeleksi tawaran yang masuk. Selain itu, Wira juga aktif mendapatkan endorse untuk band tersebut. Sebenarnya Aditya sudah mewanti-wanti tidak menerima job menjelang hari persalinan, namun karena acara di Cipedes adalah temannya yang memegang EO, Wira tak enak menolaknya.


“Ngga apa-apa, mas. Kan masih di Bandung.”


“Maaf ya, sayang. Tapi besok ngga lama kok. Paling lama 3 jam lah.”


“Ibu Dewi.”


Pembicaraan Dewi dan Aditya terputus ketika suster memanggil nama Dewi. Sambil membimbing Dewi, Aditya masuk ke dalam ruangan. Dokter Citra, dokter kandungan Dewi sudah menunggu di dalam. Wanita itu mempersilahkan Dewi untuk naik ke atas bed pemeriksaan. Sang suster langsung memeriksa tensi Dewi, kemudian bersiap melakukan USG.


Rasa dingin terasa di perut, ketika suster mengoleskan gel ke atasnya. Dokter Citra segera menggerakkan probe di atas perut Dewi. Beberapa kali dia memeriksa perut wanita itu, memastikan kondisi bayi dalam keadaan baik-baik saja.


“Posisinya sudah bagus ya, bu. Beratnya juga sudah cukup. Tapi ini volume air ketubannya kenapa berkurang ya?”


Dokter mempersilahkan Dewi untuk turun dari bed. Aditya membantu istrinya turun, kemudian membawanya ke kursi di depan meja dokter.


“Air ketuban ibu berkurang. Coba ibu banyakin minum air kelapa muda atau boleh juga pocari sweat. Minggu depan ibu periksa lagi, kalau air ketubannya masih berkurang, terpaksa ibu harus diinduksi,” terang sang dokter.


“Induksi, dok?”


“Iya. Tapi tenang aja, In Syaa Allah semuanya baik-baik aja. Jangan lupa minum air kelapa mudanya.”


“Iya, dok.”


“Sehat terus ya, bu. Jangan banyak pikiran.”


Dewi melemparkan senyum pada dokter Citra. Kemudian wanita itu keluar dari ruang pemeriksaan. Perasaan Dewi tak enak mendengar kata induksi, namun dia berusaha untuk tenang dan berdoa yang terbaik untuk anaknya.


Taksi online pesanan Aditya sudah sampai di depan lobi rumah sakit. Setelah Dewi masuk ke dalam mobil, Aditya menyusul masuk. Dewi langsung memeluk lengan sang suami. Dia masih belum bisa mengenyahkan keresahannya.


“Kenapa sayang?”


“Aku takut kalau harus diinduksi. Katanya diinduksi itu lebih sakit dari pada kontraksi alami.”


“Berdoa aja, sayang. In Syaa Allah kamu bisa lahiran normal tanpa harus diinduksi. Anak kita kan soleh, dia pasti ngga akan menyusahkan mamanya.”

__ADS_1


“Aamiin..”


Aditya memeluk bahu sang istri, memeluk tubuh wanita itu untuk menghilangkan keresahan yang dirasakan olehnya. Dalam hatinya terus berdoa, semoga anak dan istrinya diberikan keselamatan.


🌸🌸🌸


Aditya sudah berangkat sejak sejam lalu. Semenjak Aditya pergi, Dewi tidak keluar dari kamar. Dia juga menolak saat Iis memintanya untuk sarapan. Keinginan makannya hari ini hilang entah kemana. Semalam juga dia tidak bisa tidur. Dan sekarang perutnya terasa sakit, dan intensitasnya semakin sering saja.


Tak kuat menahan sakit, Dewi perlahan bangun dari tidurnya kemudian keluar dari kamar. Dia mendekati Iis yang tengah menonton televisi. Amir sendiri tengah melakukan wawancara di tempat kerjanya yang baru. Melihat kedatangan Dewi, Iis bangun kemudian membantu wanita itu untuk duduk.


“Bi..”


“Kenapa?”


“Perut aku sakit banget.”


“Sakit gimana? Mules? Kamu kontraksi kali.”


“Ngga tau, bi. Rasa sakitnya dari sini terus turun ke bawah.”


“Mungkin kamu udah kontraksi.”


“Aku mau pipis dulu, bi.”


Iis kembali bangun, kemudian membantu Dewi menuju kamar mandi. Dia sengaja tidak menutup rapat pintu, takutnya terjadi sesuatu pada keponakannya. Tak lama Dewi keluar, wajahnya menunjukkan kepanikan.


“Kenapa Wi?”


“Kok ada darah keluar ya, bi?”


“Itu tandanya kamu udah mau lahiran. Ayo atuh kita ke rumah sakit. Ya Allah Adit sama Amir ngga ada di rumah. Coba kamu telepon Adit. Hape kamu di mana?”


“Di kamar, bi.”


Bergegas Iis masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel Dewi. Dia keluar untuk memberikan benda pipih persegi itu pada keponakannya. Lalu wanita itu masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian. Dia juga masuk lagi ke kamar Dewi untuk mengambil tas berisi pakaian ganti dan perlengkapan bayi.


“Gimana?” tanya Iis.


“Ngga diangkat, bi. Mungkin mas Adit lagi manggung.”


“Ya udah kita naik taksi online aja. Kamu kirim pesan aja ke Adit suruh nyusul ke rumah sakit.”


“Iya, bi.”


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Di tengah kepanikan, terdengar suara seorang pria mengucapkan salam. Iis terlihat lega saat melihat Adrian yang datang. Wanita itu bergegas menghampiri Adrian yang masih berdiri di depan pintu.


“Ya Allah, nak Rian. Alhamdulillah.”


“Kenapa, bi?”


“Adit mana?”


“Adit lagi manggung.”


Iis segera membantu Dewi untuk bangun. Dia memberikan tas pada Adrian seraya membawa Dewi keluar. Setelah mengunci pintu, mereka bergegas menuju mobil Adrian. Adrian meminta Iis duduk di belakang menemani Dewi. Pria itu segera menjalankan kendaraannya.


“Adit udah ditelepon?” Adrian menoleh ke belakang sebentar.


“Ngga diangkat, bang. Tapi aku udah kirim pesan.”


Kaki Adrian menekan pedal gas, melajukan kendaraannya lebih kencang lagi. Melihat Dewi yang kesakitan, dia tak tega dan harus secepatnya tiba di rumah sakit. Lima belas menit kemudian mereka tiba di rumah sakit. Adrian cepat-cepat turun untuk membukakan pintu. Dia meminta pada petugas security mengambilkan kursi roda untuk adik iparnya itu.


🌸🌸🌸


Dokter Citra menyambut kedatangan Dewi. Pantas saja kemarin air ketubannya sudah berkurang, ternyata waktu lahir anak dalam kandungan Dewi sudah dekat. Sepertinya air ketuban wanita itu merembes.


“Baru pembukaan empat, bu. Ibu berbaring aja, jangan jalan-jalan. Air ketuban ibu udah rembes, takutnya banyak keluar nanti,” ujar dokter Citra setelah memeriksa keadaan Dewi.


Adrian yang berada di depan ruang rawat terus menghubungi Aditya, namun sang adik belum juga mengangkat panggilannya. Dia kemudian memilih menghubungi kedua orang tuanya. Setelah mengabarkan tentang Dewi, Adrian kembali menghubungi Aditya, tapi pria itu masih belum menjawab panggilan. Dia lalu menghubungi Roxas, dan sama saja, Roxas tak menjawab panggilannya.


“De.. kamu makan dulu biar ada tenaga. Kamu kan belum makan dari pagi,” ujar Iis yang menemani Dewi di kamar.


“Aku ngga laper, bi.”


“Paksain. Kamu butuh tenaga buat ngelahirin nanti.”


“Kamu mau makan apa? Biar abang belikan.”


“Ngga tau, bang.”


“Beli roti sobek atau apalah, yang penting ada yang masuk. Beli juga minuman manis. Dewi belum makan apa-apa dari pagi,” ujar Iis.


“Ya udah, abang keluar dulu.”


Pria itu mengusak puncak kepala Dewi sebentar, kemudian bergegas keluar dari ruang perawatan tersebut. Dia menuju mini market yang ada di lobi rumah sakit. Setelah membeli roti, Adrian juga membeli jajanan pasar yang tokonya berada di sebelah mini market tersebut. Dia juga membeli coklat hangat untuk adik iparnya itu.


Setelah mendapatkan semua yang dibutuhkan, Adrian segera kembali ke ruang perawatan. Terdengar rintihan Dewi ketika langkah pria itu semakin mendekat. Wajah Dewi menunjukkan ekspresi kesakitan. Melihat itu, Adrian jadi panik sendiri.


“Bi.. Dewi kenapa?”


“Ngga apa-apa. Wajar itu, dia lagi kontraksi.”


“Mas Adit…” panggil Dewi pelan.


“Sabar ya, Wi. Abang akan terus telepon Adit. Kamu makan dulu, ya.”


Kepala Dewi menggeleng, namun Iis dan Adrian terus membujuknya. Mau tak mau, Dewi mengikuti saran Iis. Sedikit demi sedikit dia memakan roti yang disuapkan oleh Adrian. Pria itu juga memberikan coklat hangat untuknya.


“Kalau sakit, kamu cubit aja tangan abang,” Adrian mengulurkan tangannya.


“Ngga apa-apa, bang. Aku.. aaaarrggghhhh..”

__ADS_1


Karena rasa sakit yang dirasakan, tanpa sadar Dewi mencengkeram erat tangan Adrian. Cengkeraman tersebut bertahan beberapa saat dan mengendur saat rasa sakit yang menderanya mereda. Terlihat tangan Adrian yang putih jadi memerah akibat cengkeramannya.


“Abang, maaf.”


“Ngga apa-apa.”


Dari arah luar kamar, terdengar suara gaduh. Ida rupanya sudah datang. Wanita itu tidak datang sendiri, melainkan bersama dengan Wardani dan Cahyadi. Kedua orang tuanya baru saja datang dua jam yang lalu. Sedang Toni masih berada di kantor. Pria itu janji akan secepatnya menuju rumah sakit.


“Dewi… kamu udah mau melahirkan,” Ida segera mendekati menantunya.


“Iya, ma.”


“Adit mana?”


“Adit lagi manggung, ma. Aku udah kirim pesan sama dia, suruh langsung ke sini,” jawab Adrian.


“Udah pembukaan berapa?”


“Tadi pas diperiksa lagi, pembukaan enam katanya.”


“Duh.. cucu mbah.. yang kuat ya, nak. Da, itu pinggangnya coba dielus, sakitnya di situ kalau hamil anak laki-laki.”


Ida menuruti apa yang dikatakan ibunya. Tangannya mengusap pinggang menantunya dengan pelan. Rasa sakit kembali mendera Dewi. Tangannya meremat erat seprai bednya. Ingin rasanya dia menangis atau berteriak, tapi itu hanya akan menguras energinya saja.


Seorang bidan masuk ke dalam ruangan. Dia hendak memeriksa pembukaan Dewi. Adrian dan Cahyadi keluar dari kamar. Ida, Iis dan Wardani terus menatap bidan yang tengah memeriksa Dewi.


“Ibu pindah ke ruang persalinan sekarang ya. Sudah pembukaan delapan soalnya.”


Bidan tersebut mendekatkan kursi roda ke bed. Iis dan Ida membantu Dewi turun kemudian mendorongnya menuju ruang persalinan. Adrian dan Cahyadi mengikuti mereka sampai ke depan ruang persalinan. Ida dan Iis memilih berada di dalam ruangan menemani Dewi sampai Aditya datang. Sedang Wardani keluar, mengajak suaminya juga Adrian menunggu di depan ruang persalinan.


🌸🌸🌸


Sambil berlari Aditya memasuki gedung rumah sakit. Dia terkejut saat melihat ponselnya terdapat banyak panggilan tidak terjawab dari Dewi dan Adrian. Beberapa pesan juga masuk, yang menyuruhnya langsung ke rumah sakit. Begitu The Soul selesai manggung, Aditya bergegas menuju rumah sakit. Roxas juga ikut pergi bersamanya.


“Bang.. Dewi mana?”


“Dewi di ruang persalinan. Kamu ke sana sekarang.”


“Iya, bang.”


Dengan langkah panjang Aditya segera menuju ruang persalinan. Di saat bersamaan, sang bidan mengatakan pembukaan Dewi sudah komplit. Dokter Citra segera masuk ke dalam ruangan, dia meminta Ida dan Iis menunggu di luar. Cukup hanya Aditya saja yang berada di dalam.


“Mas..” panggil Dewi.


“Sayang.. yang kuat, ya.”


Dokter Citra mulai memberi aba-aba pada Dewi. Aditya juga memandunya untuk melakukan pernafasan. Kurang tidur dan juga hanya makan sedikit, membuat Dewi tak punya tenaga untuk mendorong bayinya keluar. Aditya terus berada di sampingnya memberikan semangat.


Sudah hampir dua jam Dewi berjuang untuk melahirkan buah hatinya, namun sang bayi masih belum keluar. Baru bagian kepalanya saja yang keluar sedikit. Tangan Dewi menggenggam erat tangan Aditya yang terus berada di sampingnya.


“Mas.. aku ngga kuat.”


“Ayo sayang, kamu pasti bisa. Ayo sayang, masa bikinnya kuat, keluarinnya ngga kuat?” canda Aditya agar sang istri tidak terlalu tegang.


“Mas iihh..”


“Ayo sayang. Kamu kan kuat, ayo ada aku di sini. Pengennya bantu dorong, tapi gimana caranya? Kamu kan bukan si hejo.”


Sambil meringis menahan sakit, Dewi tak ayal tertawa juga mendengar celotehan suaminya. Suster, bidan dan dokter Citra yang ada bersama mereka juga tak bisa menahan senyum mendengarnya.


“Kita gunting aja ya, bu. Kasihan anaknya kalau terlalu lama di dalam,” putus dokter Citra.


“Digunting dok? Bukan pake gunting rumput kan?”


PLAK


“Aduh, sakit sayang,” Aditya mengusap lengannya yang dipukul Dewi.


KREK


Terdengar bunyi daging yang digunting saat Citra membuka lebih lebar jalan lahir untuk bayi di perut Dewi. Aditya membimbing Dewi untuk mengambil nafas. Dan ketika kontraksi terjadi, wanita itu sekuat tenaga mencoba mendorong sang bayi keluar. Percobaan pertama gagal. Dewi kembali mengambil nafas beberapa kali, kemudian dengan sisa-sisa tenaganya dia mengejan, dan


OEK


OEK


OEK


Tubuh Dewi terkulai setelah anak yang dikandungnya selama sembilan bulan berhasil dikeluarkan dengan selamat. Aditya langsung mengucapkan puji syukur pada sang Maha Kuasa. Tak lupa dia memberikan ciuman di wajah istrinya.


“Makasih, sayang. Alhamdulillah anak kita sudah lahir.”


Suster segera membawa bayi mungil itu untuk dibersihkan dan ditimbang. Dokter Citra meminta bidan untuk membersihkan sisa darah yang menempel di rahim Dewi dan menjahitnya. Suster membawa bayi mungil di tangannya pada Aditya untuk diadzankan.


“Silahkan pak, diadzani dulu.”


Tangan Aditya sedikit bergetar saat menerima bayi mungil berjenis kelamin laki-laki, buah hatinya. Dia mulai mengumandangkan adzan di telinga kanan anaknya. Selesai diadzani, dia mengembalikan sang anak pada suster. Lalu suster tersebut menaruhnya di atas dada Dewi untuk diinisiasi dini.


“Alhamdulillah bayi ibu dan bapak lahir dalam keadaan normal tanpa kekurangan apapun. Beratnya 3 kg dan panjangnya 48 cm.”


“Alhamdulillah,” Aditya mengusap wajah dengan kedua tangannya.


Matanya kemudian melihat pada sang anak yang sedang menyesap sumber kehidupannya. Dewi mengusap lembut puncak kepala anaknya. Sekarang dirinya sudah menjadi wanita sempurna, dengan kehadiran anak pertamanya.


“Siapa nama anak kita, mas?”


“Muhammad Arkhan Bramasta.”


“Nama yang bagus.”


Senyum Dewi mengembang. Rasa sakitnya terobati sudah melihat buah hatinya yang sehat dan masih berada di atas dadanya. Aditya ikut membelai puncak kepala sang anak. Kebahagiaannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kini dia sudah resmi menyandang status sebagai seorang papa.


🌸🌸🌸


Selamat ya, Dewi & Adit, kalian udah jadi orang tua🤗

__ADS_1


__ADS_2