Naik Ranjang

Naik Ranjang
Kehilangan Lagi


__ADS_3

“Ibu.. ibu…”


“Dewi..” panggil Adrian pelan.


“Ibu.. a.. ibu..”


Adrian merengkuh bahu Dewi, matanya menatap nanar pada dokter dan suster yang tengah berjuang menyelamatkan nyawa Nenden. Sambil memeluk pinggang Adrian, Dewi terus memperhatikan dokter Handoko yang tengah memompa jantung ibundanya. Airmata terus mengaliri wajahnya.


Dokter Handoko turun dari bed kemudian menempelkan defribilator ke tubuh Nenden. Seketika tubuh wanita itu terlonjak ketika alat kejut jantung itu bekerja. Jantung Nenden masih belum berdetak, membuat dokter itu kembali naik ke atas bed. Suster menaikkan voltase defribilator sesuai perintah dokter.


Kembali dokter Handoko menempelkan alat tersebut ke dada Nenden. Sekali lagi tubuh itu terlonjak ke atas, namun wanita itu masih belum bereaksi. Tangis Dewi semakin kencang melihat sang ibu masih bergeming. Adrian mempererat rangkulannya, dalam hatinya terus berharap ada keajaiban untuk Nenden.


Suster telah memasang defribilator pada joule tertinggi, namun masih belum bisa membuat jantung Nenden berdetak. Dokter Handoko tanpa putus asa terus melakukan RJP atau Resisutasi Jantung Paru, berharap sang pasien dapat kembali. Namun setelah lima menit berlalu, tetap tidak ada pergerakan dari Nenden. Dengan rambut bersimbah keringat, dokter tersebut turun dari bed.


“Waktu kematian pukul 22.20 WIB.”


“IBU!!!!”


Dewi melepaskan diri dari pelukan Adrian kemudian menghambur ke arah Nenden. Dokter Handoko menyingkir, memberi ruang pada Dewi untuk memeluk sang ibu untuk terakhir kalinya. Tangis gadis itu pecah saat memeluk tubuh kaku ibunya. Suster yang berada di sana segera membereskan peralatan yang tadi digunakan kemudian keluar dari kamar. dokter Handoko menepuk pelan pundak Dewi.


“Sabar… ikhlaskan kepergian ibumu. Dia sudah cukup berjuang melawan rasa sakitnya.”


“IBUUUU!!!”


Adrian pun tak kuasa menahan airmatanya. Tangan pria itu berpegangan pada ujung bed. Kepalanya menunduk dan buliran bening menetes dari kedua matanya. Tangis pilu Dewi terdengar sampai ke seluruh ruangan. Membangunkan beberapa pasien dan juga orang yang menungguinya. Mereka mendekati bed Nenden, ada yang mendoakan dan ada juga yang menenangkan Dewi.


Setelah menguasai dirinya, Adrian menghapus airmatanya kemudian mendekati Dewi. Terdengar suara ponsel gadis itu yang tergeletak di atas nakas. Di layar tertera nama bu Hj. Ratna. Adrian berinisiatif mengangkat panggilan tersebut karena keadaan Dewi tidak memungkinkan.


“Assalamu’alaikum..” jawab Adrian dengan suara bergetar.


“Waalikumsalam. Maaf.. ini dengan hp-nya Dewi kan?”


“Iya, bu.”


“Dewinya mana?”


“Maaf bu. Dewi sedang tidak bisa menerima telepon.”


“Keadaan ibu Nenden gimana? Perasaan ibu ngga enak begini. Apa bu Nenden baik-baik aja?”


“Bu Nenden… baru saja meninggal dunia.”


“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Ya Allah, Dewi… tolong… tolong temani Dewi dulu. Sebentar lagi bapak dan Salim ke sana.”


“Iya, bu.”


Panggilan pun berakhir. Adrian menarik Dewi menjauhi bed ketika melihat suster datang membawakan kain putih untuk menutupi jasad Nenden. Dia mendudukkan Dewi di salah satu kursi kemudian berjongkok di dekat gadis itu.


“Wi.. hubungi keluarga ibumu,” Adrian menyodorkan ponsel ke tangan Dewi.


Dengan tangan bergetar, Dewi mengambil ponsel kemudian membuka nomor kontak. Orang pertama yang akan dihubunginya adalah Iis, adik dari Herman. Cukup lama dia menunggu Iis menjawab panggilannya. Mungkin saja wanita itu sudah tidur. Ketika deringan hampir berakhir, barulah wanita itu menjawab panggilannya.


“Assalamu’alaikum..” jawab Iis dengan suara serak.


“Waalaikumsalam.. bi.. hiks.. hiks..”


“Dewi.. kenapa Wi?” tanya Iis dengan nada cemas.


Dewi tak mampu mengatakan apapun. Gadis itu hanya menangis saja, membuat Iis semakin dibuat khawatir. Adrian mengambil ponsel dari tangan Dewi. Dia memberitakan kepergian Nenden pada wanita itu. Tangis Iis terdengar setelah tahu kalau kakak iparnya menyusul kakaknya meninggalkan dunia. Dia berjanji akan langsung datang ke bandung setelah menghubungi Nandang.


“Siapa lagi saudara ibumu yang mau dihubungi?”


Adrian kembali bertanya pada Dewi. Sambil menyusut airmatanya, Dewi mencari nomor kakak dari ibunya, Syarif. Dia memberikan ponsel pada Adrian karena tak sanggup memberikan kabar duka tersebut. Kembali Adrian berbicara pada kakak dari Nenden. Sama seperti Iis, pria itu juga menangis mendengar adik bungsunya meninggal dunia. Dia akan berangkat ke Bandung malam ini juga.


Usai menghubungi semua keluarga Nenden, Dewi kembali ke dekat bed ibunya. Gadis itu merebahkan kepalanya di dekat jenazah ibunya. Airmatanya kembali mengalir dari kedua matanya. Adrian yang hendak masuk ke dalam tertahan oleh kedatangan haji Soleh dan Salim. Keduanya masuk ke dalam ruang perawatan. Pemilik kontrakan tempat Nenden dan Dewi tinggal mendoakan jenazah Nenden bersama dengan Salim.


“Tolong temani Dewi sebentar. Bapak mau mengurus kepulangan jenazah bu Nenden,” ujar haji Soleh pada Adrian.

__ADS_1


“Iya, pak.”


Haji Soleh mengajak Salim mengurus administrasi kepulangan Nenden. Pria itu segera mengurus semua persayaratan agar bisa membawa wanita itu ke kediamannya. Tak lupa dia menghubungi istrinya untuk menyiapkan segala sesuatunya di rumah untuk menyambut jenazah Nenden.


🌸🌸🌸


Aditya berlari menuju parkiran begitu membaca pesan dari Adrian. Sejak setengah jam yang lalu sang kakak terus menghubunginya, namun karena tengah berada di panggung, dia tak bisa menjawab panggilan. Pipit yang melihat kepergian Aditya yang tergesa segera memanggilnya.


“Dit! Kamu mau kemana?”


“Ke rumah sakit, ibunya Dewi meninggal, tan.”


“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Tante ikut.”


“Iya, tan.”


Keduanya bergegas menuju parkiran motor. Di sana mereka bertemu dengan Roxas yang juga bersiap untuk ke rumah sakit. Beberapa kali pemuda itu menghapus airmatanya mendengar kabar meninggalnya Nenden. Dengan kecepatan tinggi, kedua motor tersebut membelah jalanan ibukota provinsi tersebut menuju rumah sakit.


Dengan tak sabar, Roxas terus memencet tombol naik pada sisi kanan pintu lift sesampainya mereka di rumah sakit. Begitu pintu terbuka, ketiganya segera masuk ke dalam. Pergerakan lift untuk sampai ke lantai enam terasa begitu lambat. Dan akhirnya penantian mereka berakhir begitu bunyi dentingan terdengar. Roxas langsung keluar dan berlari menuju ruang perawatan.


“Ibuuuu!!!!”


Roxas langsung menghambur ke arah jenazah Nenden yang sudah tertutup kain putih. Pemuda itu langsung memeluk Nenden dan menangis tersedu. Baru kemarin malam dia bercanda dengan Nenden dan kini wanita itu telah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Airmata Dewi kembali menetes melihat tangis Roxas.


Dengan langkah pelan Aditya masuk ke kamar perawatan. Matanya langsung tertuju pada sosok dibalik kain putih. Matanya mulai berair, pandangannya kabur ketika mendekati bed. Aditya menjatuhkan diri di dekat bed Nenden. Pemuda itu pun tak bisa menahan tangisnya.


“Ibuuu..” lirihnya di sela tangisnya.


Pipit hanya mampu memandangi tubuh kaku Nenden yang tertutup kain putih. Perlahan buliran bening berjatuhan dari kedua matanya. Dewi yang tak sanggup melihat dua orang pria menangisi kepergian ibunya, memilih menyingkir. Dia berdiri menyandar di depan kamar perawatan seraya menutup mulutnya agar suara tangisnya tak keluar.


Aditya berdiri seraya menghapus airmatanya. Matanya melihat pada Roxas yang masih menangis tersedu. Pemuda itu melihat sekeliling mencari keberadaan Dewi namun tak menemukannya. Kemudian dia berjalan keluar kamar dan melihat Dewi berdiri di dekat pintu. Dia menghampiri gadis itu.


“De… maaf… aku datang terlambat.”


Hanya isak tangis yang keluar dari mulut Dewi. Matanya yang bersimbah airmata menatap pada Aditya. Pemuda itu mendekat kemudian menarik Dewi ke dalam pelukannya. Tangis Dewi semakin kencang dalam pelukan Aditya.


“Ada aku.. aku ngga akan meninggalkanmu. Ada aku, sayang.”


Pelukan Aditya bertambah erat di tubuh Dewi. Matanya kembali berair, merasakan apa yang dirasakan oleh kekasihnya ini. Dua orang suster yang hendak memindahkan jenazah Nenden, datang mendekat. Di belakangnya menyusul Adrian. Sejenak pria itu terdiam melihat Aditya yang tengah memeluk Dewi dengan erat.


“Punten kang.. jenazah bu Nenden mau dipindah,” ujar salah satu suster pada Roxas yang masih memeluk Nenden.


Pipit maju kemudian menarik pemuda itu menjauhi bed. Masih bercucuran airmata, Roxas melihat kedua suster itu memindahkan tubuh Nenden untuk dibawa ke kamar jenazah sebentar, baru kemudian dibawa menggunakan ambulans ke rumah duka.


Masih dalam pelukan Aditya, Dewi berjalan mengikuti kemana suster membawa tubuh ibunya. Di belakang mereka ada Pipit dan Roxas menyusul. Sedang Adrian berada tepat di belakang suster. Semuanya kemudian masuk ke dalam lift.


🌸🌸🌸


Tepat pukul sembilan pagi, pemakaman Nenden dilaksanakan setelah semua keluarga berkumpul. Ketiga kakak Nenden tak berhenti menangis melihat jasad sang adik dimasukkan ke liang lahat. Tak menyangka adik bungsu mereka justru meninggalkan mereka lebih dulu.


Dewi masih menangis dalam pelukan Iis, menatap Aditya, Roxas dan Adrian yang tengah membantu menidurkan jenazah Nenden di rumah barunya. Semua tetangga di kontrakan haji Soleh ikut mengantarkan wanita yang terkenal ramah ini. Begitu pula dengan teman-teman Dewi di kampus atau mantan IPS 3 ikut mengantarkan Nenden ke pembaringan terakhir.


Adrian memang membagikan postingan tentang kepergian Nenden di grup IPS 3 dan dosen komunikasi. Sedang untuk grup kelas di kampus, Sheila yang melakukannya. Bahkan Hardi rela datang dari Jakarta untuk memberikan dukungan pada temannya itu. Jiya dan beberapa dosen juga datang untuk mengucapkan bela sungkawa.


Dari tempatnya berdiri, Jiya memandangi Adrian yang mau turun membantu pemakaman Nenden. Terbersit kecurigaan sedekat apakah hubungan pria itu dengan Dewi sampai mau ikut serta dalam prosesi ini. Dia kemudian melihat Dewi yang ada dalam pelukan Iis. Wajah gadis itu nampak bengkak karena tak berhenti menangis sejak semalam.


Setelah lubang tertutup sempurna dan nisan bertuliskan nama Nenden ditancapkan di atasnya, Dewi beserta yang lain mendekat. Pak haji Soleh memimpin doa yang diamini oleh semua yang ada di sana. Dewi duduk terpekur di dekat nisan Nenden. Di sebelah makam wanita itu, terdapat makam Herman.


“Ayo.. Wi.. kita pulang,” ajak Iis.


Setengah jam setelah para pelayat meninggalkan area pemakaman, Dewi masih bertahan di sana. Tangannya memeluk nisan Nenden dengan airmata berderai. Beberapa kali Iis membujuknya untuk pulang, namun gadis itu bergeming. Aditya mendekat kemudian mengajak Dewi pulang.


“De.. ayo pulang. Jangan seperti ini. Ibu bakalan sedih kalau kamu seperti ini.”


Dengan sabar Aditya terus membujuk Dewi, hingga akhirnya gadis itu bersedia untuk pulang. Tangan Aditya merangkul Dewi, memapahnya menuju kendaraan Adrian yang terparkir di dekat pintu masuk tempat pemakaman umum tersebut. Setelah Aditya dan Dewi masuk, berturut Pipit dan Roxas masuk ke dalamnya. Adrian segera menjalankan kendaraannya kembali ke kontrakan haji Soleh.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Malam harinya diadakan pengajian atau tahlilan untuk mendoakan Nenden. Ratna dan ibu-ibu yang ada di kontrakan haji Soleh membantu menyiapkan semua keperluan untuk pengajian. Makanan, minuman tikar dan buku yasin. Sedang Dewi hanya mengurung diri di kamar. Gadis itu masih shock ditinggal ibu tercinta.


Adrian dan Pipit mengikuti acara pengajian sampai selesai, begitu juga dengan Aditya, Roxas dan beberapa teman Dewi. Usai pengajian, Adrian berbincang dengan kakak Nenden. Mereka menitipkan Dewi dan meminta pria itu membantu Dewi keluar dari kesedihannya. Adrian hanya bisa menjanjikan memastikan Dewi selesai kuliah seperti keinginan orang tuanya. Sedang untuk hal lain, dia yakin Aditya mampu melakukannya.


Ketiga kakak Nenden memutuskan kembali ke Jakarta malam ini juga. Besok mereka harus bekerja dan tidak bisa tinggal lama. Mereka juga mengucapkan terima kasih pada Iis yang bersedia tinggal lebih lama, membantu Dewi sampai tujuh hari Nenden.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Adrian mengajak Pipit untuk pulang. Pria itu mendekati Aditya yang tengah berbicara dengan Roxas, Micky, Bobi dan Budi di depan rumah.


“Dit.. abang pulang dulu.”


“Iya, bang.”


“Tante juga pulang, ya.”


“Iya, tan. Makasih udah mau datang.”


Pipit mengusak puncak kepala keponakannya ini. Kemudian dia melihat pada Roxas yang seharian ini lebih banyak diam. Wanita itu melangkah mendekati Roxas.


“Xas.. aku pulang dulu.”


“Iya, bu. Makasih udah mau bantu.”


“Kamu jangan sedih lagi. Kalau kamu terus-terusan sedih bagaimana dengan Dewi? Kamu harus kuat biar bisa menguatkan Dewi.”


“Iya, bu.”


Setelah menepuk pelan pundak pemuda itu, Pipit meninggalkan Roxas. Bersama dengan Adrian, dia segera menuju mobil yang terparkir di dekat gerbang. Aditya juga ikut mengantarkan kakak dan tantenya itu ke sana. Adrian membunyikan klaksonnya ketika kendaraan roda empatnya bergerak pergi. Aditya pun memutuskan untuk kembali ke kontrakan Dewi.


“Dewi sudah tidur?” tanya Iis pada Amir.


“Kayanya sudah, bu.”


“Dia pasti cape dari kemarin kayanya ngga tidur. Kamu mau tidur di mana?”


“Kayanya di kontrakan sebrang, di tempat Adit.”


Iis hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia, Karta, Nandang dan Tita masih berkumpul di ruang depan. Mereka membicarakan nasib Dewi ke depannya. Iis ingin membawa gadis itu ke tempatnya, namun Dewi sendiri masih menyelesaikan kuliahnya di sini.


“Gimana kang? Kalau Dewi tinggal sendiri di sini kasihan. Tapi kalau diajak ke Tasik, gimana kuliahnya nanti,” ujar Iis membuka pembicaraan.


“Dia kan bisa pindah kuliah di Tasik,” jawab Nandang.


“Biaya lagi, kang. Lagi pula belum tentu jurusan yang diambilnya ada.”


“Kalau Dewi terusin kuliah memangnya ada biayanya? Biaya kuliah itu ngga murah. Mending bawa aja ke Tasik. Dewi itu perempuan, ngga usah sekolah tinggi-tinggi, kan nanti juga cuma di dapur aja. Lebih baik carikan Dewi jodoh, nikahkan dia biar ada yang bertanggung jawab dengan hidupnya,” timpal Tita.


“Ya Allah ceu.. Dewi masih muda, belum waktunya nikah. Lagi pula kang Herman juga udah ninggalin uang buat kuliah Dewi.”


“Uangnya kan sudah habis dipakai berobat ceu Nenden.”


“Pokoknya saya ngga setuju kalau Dewi nikah,” kesal Iis.


“Coba kamu pikirkan. Siapa yang akan bertanggung jawa sama Dewi sekarang? Kalau dia nikah, sudah ada yang menjaga dan menanggung hidupnya. Dia juga masih bisa melanjutkan kuliahnya kalau menikah. Kan anaknya juragan Dirman ada yang belum nikah, kita jodohkan saja sama Dewi pasti juragan Dirman setuju. Kan Dewi cantik, pasti anaknya ngga akan nolak.”


Iis melihat kesal pada Nandang yang hanya diam saja mendengar ucapan istrinya. Karta sendiri tak ingin terlibat perdebatan dengan kakak iparnya ini. Sudah dipastikan tidak akan menang. Wanita itu selain cerewet juga tidak mau kalah. Ada saja kata-kata untuk membalas ucapan orang yang menentang keinginannya.


“Atau kalau Dewi mau meneruskan kuliah di sini, bisa dijodohkan dengan anak juragan Wahyu. Anaknya kan ada yang buka usaha di sini. Dewi bisa melanjutkan kuliah dan sudah ada yang bertanggung jawab atas hidupnya,” Tita terus bersikukuh tentang pernikahan Dewi.


“Eceu keterlaluan.. Ceu Nenden baru aja meninggal, tanah kuburannya juga masih basah. Bisa-bisanya eceu ngomongin pernikahan Dewi.”


Iis bangun dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamar Dewi. Nampak keponakannya itu sudah tertidur pulas. Wanita itu mengusap puncak kepala keponakannya ini, kemudian membaringkan tubuh di sisi Dewi.


Perlahan Dewi membuka matanya, menatap punggung Iis yang sudah terlelap tidur. Sedari tadi dia belum memejamkan matanya. Gadis itu mendengar semua pembicaraan Tita yang hendak menikahkannya. Hatinya yang masih sedih ditinggal ibu tercinta, harus kembali terluka mendengar ucapan wanita itu. Airmatanya kembali meleleh membasahi pipinya.


🌸🌸🌸


Tisunya bu.. teteh... akang.. 10 ribu 3, wkwkwk.. Kabooorrr🚴🚴🚴🚴

__ADS_1


__ADS_2