Naik Ranjang

Naik Ranjang
Pengabdian Masyarakat


__ADS_3

Pagi harinya, Adrian bersiap untuk pergi. Dia dan Jiya ditunjuk sebagai perwakilan dari fakultas ISIP untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat. Selain mereka berdua, masih ada empat rekan lainnya yang berasal dari fakultas berbeda.


Kegiatan pengabdian masyarakat ini rencananya akan memakan waktu tiga hari. Sebenarnya Adrian cukup cemas meninggalkan Dewi. Takut kalau ibu hamil itu mengalami ngidam dan menginginkan sesuatu.


Usai menghabiskan sarapannya, Adrian memasukkan traveling bag ke dalam bagasi. Sebelum pergi dia menghampiri Dewi yang duduk berjemur di halaman depan. Dia duduk di samping adik iparnya itu.


“Wi.. abang pergi dulu, ya. Rencana tiga hari di Subang. Kamu baik-baik di sini. Kalau kamu mau sesuatu, jangan sungkan bilang sama mama atau papa. Atau kalau kamu malu, bilang aja ke bi Parmi, nanti bibi yang bilang ke mama.”


“Iya, bang. Tenang aja. Abang yang hati-hati, awas kepincut sama bu Jiya, hihihi…”


“Kamu tuh.”


“Bang.. aku beneran loh waktu bilang abang boleh menjalin hubungan dengan siapa pun. Kali aja bu Jiya beneran jodoh abang. Bu Jiya kan orang baik, cantik lagi.”


“Kamu dibayar berapa sama dia sampe segitunya promo.”


“Ish..”


Kali ini Adrian tidak bisa menahan tawanya melihat wajah cemberut Dewi. Dia selalu gemas jika melihat pipi Dewi menggembung seperti ikan buntal. Adrian melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah waktunya untuk berangkat.


“Abang pergi dulu. Assalamu’alaikum,” Adrian mengusak puncak kepala Dewi.


“Waalaikumsalam.”


Mata Dewi terus memandangi punggung Adrian yang semakin menjauh. Pria itu naik ke dalam mobil kemudian membuka kaca jendela. Seraya melambaikan tangan, Adrian menjalankan kendaraannya. Tiba-tiba saja perasaan Dewi menjadi sedih. Adrian yang biasa menemaninya selama Aditya tidak ada, juga pergi meninggalkannya. Dan yang membuat hatinya sedikit gamang, pria itu akan pergi bersama Jiya.


Dewi… ingat dia cuma masa lalu, kamu udah ngga ada hak buat cemburu. Kamu udah punya Adit sekarang dan juga calon anak kalian. Adit.. aku kangen, hiks.. hiks..


🌸🌸🌸


Kedatangan Adrian sudah ditunggu oleh Jiya. Begitu pria itu datang, Jiya langsung memasukkan traveling bag miliknya ke bagasi, kemudian mengambil duduk di kursi penumpang bagian depan. Sebelum menuju Subang, terlebih dahulu mereka menuju kampus untuk mengambil surat tugas dan juga uang saku.


Sesampainya di kampus, kedua dosen tersebut segera mengambil surat tugas dan uang saku dari pihak kampus. Adrian menyapa dulu empat dosen yang akan berangkat bersama menuju Subang. Total mereka menggunakan tiga buah mobil. Setelah urusan di kampus selesai, ketiga kendaraan tersebut mulai meninggalkan area kampus.


Perjalanan menuju desa Cupunagara, kecamatan Cisalak ditempuh melalui jalur jalan gunung tangkuban parahu. Desa yang akan mereka kunjungi ini adalah satu dari 15 desa yang dijadikan desa wisata kabupaten Subang. Selain memiliki daerah potensi wisata yang baik, desa Cupunagara juga dikenal sebagai desa penghasil kopi arabika.


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam lebih, akhirnya iringan kendaraan tiba di desa Cupunagara. Kedatangan mereka tentu saja disambut gembira oleh kepala Desa dan juga pengurus LAD (Lembaga Adat Desa) Cupunagara. Nantinya keenam orang ini akan menginap di rumah warga selama melakukan kegiatan pengabdian masyarakt.


Setelah penyambutan formil diselingi pembicaraan santai tentang potensi desa dan kendala yang dihadapi, kepala desa mempersilahkan para tamunya untuk beristirahat atau berjalan-jalan mengelilingi desa. Salah seorang bawahannya memandu keenam orang itu menuju rumah warga yang akan mereka tinggali.


Adrian dan Jiya tinggal di rumah yang berbeda. Kediaman mereka hanya berselang lima rumah saja. Nantinya mereka akan mengunjungi sekolah, organisasi desa seperti PKK, LAD dan juga perkebunan kopi. Kedatangan Adrian disambut ramah oleh Deden dan Neneng selaku tuan rumah.


Rumah yang ditinggali oleh Adrian merupakan milik pasangan tua yang hanya tinggal berdua saja. Anak-anak mereka sudah menikah dan tinggal terpisah, bahkan ada yang tinggal di kota. Mereka mempersilahkan Adrian menempati kamar bekas anak mereka.


Adrian menaruh traveling bag ke dalam lemari kayu yang ada di kamar. Tak banyak barang yang ada di rumah ini. Hanya ada dipan dengan kasur kapuk di atasnya, lemari kayu, meja dan kursi. Penutup kamar pun hanya menggunakan gorden saja, tanpa pintu. Setelah menaruh barang-barangnya, Adrian keluar dari kamar.


“Cep Rian bade kamana ayeuna? Supados dijajap ku bapak (Cep Rian mau kemana sekarang? Biar diantar sama bapak).”


“Mau ketemu sama pengurus LAD juga PKK.”


“Hayu ku bapak dijajap (Ayo bapak antar).”


Adrian menganggukkan kepalanya. Dia berjalan bersisian dengan Deden. Beberapa orang yang dilintasinya melemparkan senyum padanya. Inilah salah satu kelebihan bangsa Indonesia yang patut dibanggakan, senyum. Tak peduli mereka kenal atau tidak, tapi senyum selalu tersungging di wajah, menandakan keramahan bangsa ini.


Begitu kedua pria itu melewati rumah yang ditempati Jiya, wanita itu langsung bergabung. Dia juga akan mengunjungi tempat yang sama seperti Adrian. Sepanjang jalan, Deden menceritakan tentang keadaan desa ini. Selain memiliki hasil bumi yang belakangan ini mulai banyak diburu pebisnis. Desa Cupunagara juga memiliki tempat indah yang dijadikan objek wisata.


🌸🌸🌸


Di hari keduanya berada di desa Cupunagara, Adrian dan Jiya mengunjungi kebun kopi Arabika yang akhir-akhir ini permintaannya bertambah banyak. Bukan hanya berasal dari kota Subang, tapi juga dari kota lain. Rasa kopi arabika desa Cupunagara memang cukup unik. Ada rasa manis seperti caramel dan juga asam seperti buah.


Saat ini luas kebun kopi di desa Cupunagara mencapai 200 hektar dan sektar 250 warga terlibat di dalamnya. Setiap harinya para petani kopi bekerja memetik biji kopi matang dari jam tujuh pagi sampai tengah hari. Nantinya biji kopi tersebut akan dikeringkan dengan cara dijemur langsung di bawah matahari atau dikeringkan di ruang pengering seperti green house.


Para wanita juga banyak yang bekerja untuk memisah dan memilah biji kopi yang sudah dikeringkan. Sambil melihat mereka bekerja, Jiya ikut berbincang santai dengan mereka. Begitu pula dengan Adrian yang banyak bercengkrama dengan para penggiat kopi di desa ini.


“Pak Rian, bu Jiya.. ayo kita makan dulu,” ajak salah satu warga yang sudah menyiapkan makan siang untuk mereka.


Bersama dengan yang lain, Adrian juga Jiya menuju salah satu rumah warga untuk menikmati makan siang. Kedatangan Adrian ke desa ini selain untuk memberikan konseling atau penyuluhan, kehadirannya merupakan hiburan tersendiri bagi para wanita muda yang langsung terpincut wajah gantengnya.


Bahkan ada beberapa ibu yang tak segan menawarkan anak gadisnya pada pria itu. Namun Adrian selalu dapat menghindar dengan bahasanya yang halus dan juga sikap ramahnya. Jiya yang cantik juga tidak terhindar dari godaan para pria lajang yang memegang motto tebak-tebak buah manggis. Siapa tahu ada yang membuat hati Jiya tercantol.


Aneka makanan sudah tersaji di atas tikar. Banyak sekali warga yang menyumbangkan makanan untuk acara makan bersama ini. Ada nasi timbel, nasi liwet, tempe, tahu, ayam dan ikan goreng, tumis kangkung, tumis toge tahu, sambal bawang, sambal terasi, aneka lalapan dan juga buah.


“Mangga pak Rian, bu Jiya..”


Adrian memulai acara makan dengan mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi serta lauknya. Jiya juga menyusul seperti yang Adrian lakukan. Dia sedikit malu karena diperhatikan orang-orang yang bersamanya.

__ADS_1


“Bu Jiya.. kalau bu Jiya itu siapanya pak Rian?” tanya salah satu warga paling kepo.


“Dia rekan kerja saya, bu. Kami mengajar di kampus yang sama.”


“Cuma rekan kerja aja? Ngga ada yang lain gitu?”


“Bu Jiya sendiri sudah punya pasangan belum?”


“Bu Jiya ngga suka gitu sama pak Rian? Kan ganteng.”


Begiulah rentetan pertanyaan yang dilancarkan oleh para ibu kepo itu. Jiya sampai kewalahan menjawabnya dan memilih diam saja. Di sisi lain, Adrian juga sibuk menjawab pertanyaan beberapa pria dan wanita yang makan bersamanya.


“Neng Jiya pacarnya kang Rian bukan?”


“Bukan, bu.”


“Euleuh sugan teh bobogohan (kirain pacaran).”


“Pak Rian suka yang seperti apa, nanti saya carikan,” ujar seorang ibu sambil mesem-mesem.


“Terima kasih, bu.”


“Kalau bu Jiya sudah punya pacar belum, pak?”


“Saya tidak tahu. Silahkan tanyakan sendiri.”


Rentetan pertanyaan terus terdengar seperti tembakan mesin yang mengeluarkan peluru terus menerus. Sebisa mungkin Adrian berusaha menghindari tembakan mereka sambil memasang senyuman di wajahnya.


Setelah kegiatan di hari kedua selesai, Adrian kembali ke tempatnya menginap sambil mengantar Jiya kembali ke rumah warga yang ditinggalinya. Banyak warga yang berbisik-bisik saat keduanya melintas. Banyak juga dari mereka yang mengatakan kalau Adrian dan Jiya adalah pasangan serasi.


“Warga di sini ternyata banyak yang kepo juga ya, pak,” Jiya tertawa kecil.


“Ya begitulah sifat manusia. Selalu ingin tahu.”


“Banyak yang nanya hubungan kita apa.”


Tak ada tanggapan dari Adrian, pria itu melemparkan senyum tipis saja. Sebenarnya Jiya ingin melihat bagaimana tanggapan Adrian soal gossip hubungan mereka. Tapi nampaknya Adrian sama sekali tidak mempedulikan hal tersebut.


“Banyak juga yang mau jodohin bapak ya?”


“Untuk sekarang, saya belum memikirkan soal menikah. Belum ada yang cocok,” jawab Jiya seraya melihat pada Adrian.


“Selamat beristirahat bu Jiya. Besok bersama yang lain kita ke curug Cikaruncang. Saya jemput besok jam delapan.”


“Baik, pak.”


Adrian menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan langkahnya menuju rumah pak Deden. Beberapa kali dia membalas salam warga yang berpapasan dengannya. Sebagai orang asing yang tinggal beberapa hari di desa ini, sambutan warganya terbilang ramah.


🌸🌸🌸


Tepat pukul delapan Adrian sudah sampai di kediaman yang ditempati Jiya. Setelah mengambil tasnya, wanita itu segera mengikuti langkah Adrian menuju tempat rekan yang lainnya berkumpul. Kali ini mereka akan mengunjungi salah satu objek wisata yang ada di desa Cupunagara, yaitu curug Cikaruncang.



Curug Cikaruncang berada dalam kawasan Wisata Alam Bumi Pertiwi Subang. Curug ini masih sangat asri, belum ada fasilitas seperti warung, spot berfoto dan lainnya di sini. jalur untuk menuju lokasi curug juga masih berupa tanah merah. Beruntung Adrian dan yang lain datang saat musim penghujan sudah lewat.


Bersama dua orang pemandu yang merupakan penduduk setempat, enam orang itu berjalan menyusuri jalan setapak, melewati hutan yang masih dipenuhi pepohonan. Beberapa kali mereka berhenti untuk mengambil gambar.



Setelah menempuh perjalanan dengan trekking yang cukup menantang, akhirnya mereka tiba di lokasi utama curug Cikaruncang.



Suara air yang jatuh dari ketinggian langsung menyapa indra pendengaran mereka. Udara juga terasa lebih sejuk. Letih mereka saat menempuh perjalanan, terbayar dengan keindahan panorama curug. Kompak semuanya langsung mengabadikan diri dengan air terjun sebagai latar belakang.


Adrian duduk di bebatuan untuk melepaskan lelah. Di tangannya terdapat ponsel yang digunakan untuk membuat video tempat yang dikunjunginya. Sekeliling curug ini masih terlihat asri, belum ada fasilitas yang biasanya ada di tempat wisata yang sudah dikelola secara professional.


Jiya berjalan hati-hati melewati bebatuan kemudian duduk di dekat Adrian. Hijab yang dikenakannya nampak bergerak tertiup angin. Dia menyerahkan makanan yang dibawakan pemilik rumah tempatnya menginap pada Adrian. Hanya lontong dan gorengan saja. Adrian mengambil lontong dan memakannya bersama dengan gorengan. Jiya ikut mengambil lontong dan gorengan kemudian memakannya.


Tak ada pembicaraan di antara keduanya. Jiya juga bingung bagaimana memulai pembicaraan. Jawaban Adrian yang seadanya, kadang membuatnya sulit untuk melanjutkan perbincangan. Diliriknya Adrian yang terlihat masih menikmati keindahan alam curuh Cikaruncang.


Puas bermain air, mengeksplore curug yang masih terjaga keasriannya serta menghabiskan bekal makan siang yang dibawakan warga setempat, menjelang dzuhur semuanya bersiap untuk kembali pulang. Adrian memilih berjalan di depan sambil berbincang dengan salah satu rekan sesama dosen.


Sedang Jiya berjalan paling belakang dengan dosen dari jurusan teknik pangan. Beberapa kali pria itu mencoba mengakrabkan diri dengan Jiya. Melihat Jiya yang cantik dan pintar, dosen muda itu tertarik untuk menjadi lebih akrab dengan Jiya.

__ADS_1


Selesai menunaikan shalat dzuhur dan berpamitan dengan warga dan juga aparat desa, Adrian dan yang lainnya pulang ke Bandung. Jiya masih ikut bersama dengannya. Sebelum pulang, pria itu terlebih dahulu mampir untuk membeli oleh-oleh. Nanas si madu sudah pasti menjadi pilihan oleh-oleh. Dan untuk Dewi, Adrian membelikan penganan yang terbuat dari nanas, seperti cake nanas, cupcake, pie atau keripik nanas. Tak lupa dia juga membelikan pineapple drink kesukaan sang mama.


Pukul empat sore Adrian tiba di kediamannya, tentunya pria itu mengantarkan Jiya terlebih dulu ke rumahnya. Dia meletakkan oleh-oleh yang dibelinya di atas meja. Dewi dan Ida yang memang berada di meja makan, menyambut kedatangan pria itu.


“Apa ini, bang?” tanya Dewi melihat bungkusan yang dibawa Adrian.


“Itu cake nanas, ada cupcake sama pie juga. Buat mama, aku beliin pineapple drink.”


“Kamu emang paling tahu kesukaan mama. Gimana kegiatan di sana?”


“Alhamdulillah lancar.”


“Jiya juga ikut sama kamu, kan? Gimana? Kamu tertarik nda sama Jiya?”


Bukan Adrian bereaksi, melainkan Dewi yang menolehkan kepala pada ibu mertuanya. Sedang Adrian sama sekali tak menanggapi ucapan sang mama. Pria itu segera beranjak menuju kamarnya.


“Anak itu… kapan mau dapet jodoh kalo sikapnya seperti itu terus,” gumam Ida pelan.


Dewi memilih mengalihkan perhatiannya pada oleh-oleh yang dibawa oleh Adrian. Kakak iparnya itu tahu sekali kalau dirinya sangat menyukai cake. Apalagi di saat hamil seperti ini, rasanya tak pernah bosan menikmati penganan manis tersebut.


🌸🌸🌸


Dewi nampak mondar-mandir di kamarnya. Karena melihat status WA temannya, dia jadi ingin makan martabak telor buatan kang Ewok yang mangkal di daerah Pungkur. Dan yang paling aneh, dia juga ingin melihat kang Ewok membuat martabak. Pria itu sering memamerkan keahliannya memutar-mutar adonan kulit martabak.


Mata Dewi tertuju pada jam yang terpajang di dinding ruangan. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dewi bingung sendiri, pergi seorang diri pasti tidak diijinkan, mau minta tolong Adrian tidak tega. Sore tadi dia baru pulang dari Subang. Minta tolong pada papa mertua apalagi.


Akhirnya Dewi memilih untuk membaringkan tubuhnya. Dia mencoba untuk tidak memikirkan martabak kang Ewok lagi. Namun ketika matanya terpejam, bayang-bayang makanan yang terbuat dari telur itu malah menari-nari di depan matanya. Wanita itu terjengit ketika mendengar ponselnya berdering. Ternyata sang suami yang melakukan panggilan.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Istriku yang cantik gimana kabarnya?”


“Baik… tapi anak mas..”


“Kenapa anakku?”


“Dia mau makan martabak kang Ewok, tapi udah malam mau beli keluar.”


“Pesan online aja, sayang.”


“Aku mau lihat langsung kang Ewok bikin martabaknya. Kan keren tuh pas lagi ngelebarin adonan kulit martabak.”


“Hahaha.. ada-ada aja kamu, sayang. Minta antar bang Ad aja.”


“Ngga enak, bang Ad baru pulang dari Subang tadi sore, pasti cape.”


“Terus gimana dong?”


“Ngga apa-apa deh. Kayanya si dede juga mau diajak kompromi.”


“Ya udah aku nyanyiin aja ya buat si dede.”


Dewi menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Aditya menaruh ponselnya di posisi yang benar, pria itu lalu mengambil gitarnya dan mulai memainkannya. Dewi ikut bernyanyi ketika sang suami menyanyikan salah satu lagu ciptaannya.


“Dede bobo ya, besok aja beli martabaknya,” ujar Aditya usai bernyanyi.


“Iya, papa,” Dewi menirukan suara anak kecil.


“Tidur ya, sayang. Mimpi indah, love you..”


“Love you too..”


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Panggilan video call pun berakhir, layar ponsel Dewi kembali menampilkan wallpaper foto pernikahannya dengan Adit. Wanita itu menaruh ponsel di atas nakas kemudian membaringkan tubuhnya kembali. Mencoba untuk tidur demi menghalau bayang-bayang martabak telor.


🌸🌸🌸


**Eh martabak kang Ewok mampir di mari🤣


POV Jiya :


Kalian para pendukung Ad-Tili sungguh terlalu. Kalian bisikin apa sampe Adrian kayanya males ngomong sama aku😏

__ADS_1


Lihat aja, aku bakalan terus kejar Adrian😝**


__ADS_2