
Suara teriakan Roxas terdengar dari dalam ruang persalinan. Untuk kelahiran anak keduanya ini, pria itu kembali menjadi pelampiasan rasa sakit sang istri. Jambakan, cubitan dan pukulan diterima oleh Roxas secara bertubi. Dokter, bidan dan suster yang ada di ruang persalinan tak bisa menahan tawanya melihat penderitaan suami berwajah bule tersebut.
Di luar, Ida, Toni, Lisa dan enin hanya bisa meringis mendengar teriakan Roxas. Bahkan berulang kali enin mengucapkan istighfar saat mendengar teriakan cucunya. Adrian dan Dewi yang baru saja tiba langsung dikejutkan mendengar suara Roxas dari dalam ruang persalinan.
“Aaaaarrggghhh!!”
“Ya ampun, itu Oxas ikut ngelahirin juga,” ceplos Dewi.
“Ikut menanggung rasa sakit tepatnya,” jawab Ida.
“Tante emang luar biasa, kalo lagi ngelahirin bar-bar banget deh.”
“Emang kamu, ngga?” tanya Adrian.
“Ngga, aku kan solehah.”
“Aamiin.. anak ayah nanti lahirnya cepat ya, jangan pake lama. Jangan bikin mama sakit dan ayah sakit juga,” ujar Adrian seraya mengusap perut Dewi yang sudah membuncit.
Saat Davira berusia satu setengah tahun, ternyata Dewi terdeteksi sudah berbadan dua. Untung saja anaknya itu tidak rewel saat Dewi harus menghentikan ASI untuknya. Niat mereka memiliki momongan setelah Dewi selesai menyusui tidak menjadi kenyataan. KB yang Dewi pakai jebol dan menghasilkan anak ketiga.
Adrian menuntut Dewi duduk di samping Lisa. Dari dalam ruang bersalin kembali terdengar suara teriakan Roxas. Mendengar teriakan pria itu, perut Dewi jadi mulas sendiri. Kehamilannya kini sudah memasuki usia enam bulan. Hanya selisih tiga bulan saja dari anak kedua Roxas.
Sementara di dalam, Pipit masih berjuang melahirkan anak keduanya. Setelah beberapa kali percobaan sang jabang bayi belum mau keluar, akhirnya di usahanya yang ke sekian, anak keduanya berhasil lahir ke bumi. Suara teriakan Roxas disusul dengan suara tangis sang anak. Pria itu jatuh terduduk di sisi bed partus. Ada kelegaan di wajahnya melihat anaknya sudah keluar dengan selamat.
Suster langsung membawa bayi merah tersebut untuk dibersihkan, ditimbang dan diukur. Sementara bidan masih membersihkan rahim Pipit dari sisa-sisa darah yang menempel. Selesai dibersihkan dan diukur, suster membawa bayi berjenis kelamin perempuan itu pada Roxas untuk diadzani.
Senyum Roxas mengembang melihat buah hatinya yang terlihat cantik. Jika anak pertama mereka mirip dirinya, anak keduanya ini memiliki gabungan wajah dirinya dan juga Pipit. Roxas menggendong anaknya kemudian mengadzani di telinga kanannya. Dengan mata sayu Pipit terus memandangi anaknya.
“Anak bapak dan ibu tidak kekurangan apapun. Beratnya 3,0 kg, tingginya 50 cm.”
“Alhamdulillah.”
Setelah kondisi Pipit dinyatakan baik-baik saja, dia diperbolehkan pindah ke ruang perawatan. Sambil menggendong anaknya, Roxas keluar dari ruang persalinan. Rambut pria itu nampak acak-acakkan, kulit tangannya juga memerah dan banyak tapak bekas kuku sang istri.
“Alhamdulillah tos lahir kasep,” enin langsung bangun menyambut cicit keduanya.
“Alhamdulillah enin, geulis nya? (cantik ya?).”
“Meni geulis pisan (cantik banget),” puji enin.
Dari dalam kamar bersalin suster keluar sambil mendorong kursi roda yang membawa Pipit. Dia terus mendorong kursi roda menuju ruang perawatan yang masih berada di lantai yang sama. Dibantu oleh Adrian, Pipit naik ke atas bed. Roxas memberikan anaknya pada Pipit untuk disusui. Dia menarik tirai pembatas hingga bed tertutup lalu menyusul yang lain duduk di sofa.
“Kamu sudah menyiapkan nama, Xas?” tanya Toni.
“Sudah, kang.”
“Siapa namanya? Markonah ya?” tebak Dewi asal.
“Bukan. Saeblah,” kesal Roxas.
Gelak tawa Dewi langsung terdengar. Dia senang menggoda sahabat yang sudah bertambah statusnya menjadi pamannya.
“Namanya Yumna Aurellia Hidayatullah.”
“Alhamdulillah, namanya bagus,” ujar Ida.
“Iya, ma. Ngga sia-sia mang Aep tapa tujuh hari tujuh malam buat dapat nama itu.”
“Wi.. sejak hamil anak ketiga mulut lo tambah lemes ya.”
“Hahaha..”
Tawa Adrian terdengar setelahnya. Harus diakui selama kehamilan ketiga, tingkah Dewi semakin absurd saja. Selain itu, Dewi juga malas untuk berdandan. Bahkan untuk mandi saja harus dipaksa. Kadang Adrian terpaksa harus memandikan istrinya karena bertahan untuk tidak mandi selama tiga hari.
Setelah hasil pemeriksaan di bulan keempat, diketahui kalau anaknya berjenis kelamin laki-laki. Sejak itu Dewi jadi senang melihat pertandingan sepak bola, MMA atau voli putra. Untuk selera makan jangan ditanya lagi, sudah pasti wanita itu semakin gembul saja. Bahkan pernah dia berebut makanan dengan Arkhan. Membuat Adrian pusing dibuatnya.
Terdengar suara Pipit memanggil suaminya ketika dia sudah selesai menyusui anak keduanya. Roxas kembali menyibak tirai. Nampak anaknya sudah tertidur pulas. Diambilnya Yumna dari pangkuan Pipit lalu membawanya ke boks. Enin bangun dari duduknya lalu menghampiri boks bayi tersebut.
“Sing janten anak solehah, Yumna, cicit enin (semoga jadi anak solehah, Yumna, cicit enin).”
“Aamiin..”
Lisa ikut bangun lalu memperhatikan bayi cantik itu. Dibalik kebahagiaan yang dirasakannya, terselip kesedihan di hatinya. Sampai saat ini Tuhan belum mempercayai dirinya untuk memiliki momongan. Kini dia dan Karta hanya bisa pasrah saja, mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi.
“Zidan sama siapa?” tanya Lisa pada Roxas.
“Zidan di rumah mba Ida. Dititip ke bi Parmi, di sana ada Arkhan sama Avi juga.”
“Oxas.. kita pulang duluan ya. Kasihan anak-anak. Bi Parmi pasti kerepotan juga jaga anak tiga yang luar biasa,” ujar Dewi sambil berdiri.
“Iya. Titip Zidan ya.”
“Tenang aja,” Adrian menepuk lengan Roxas.
“Mba juga pulang. Nanti mba ke sini lagi bawa makanan buat kamu sama Pipit,” Ida ikutan berdiri.
“Iya, mba. Makasih.”
Setelah berpamitan pada Pipit, Dewi dan yang lainnya meninggalkan ruang perawatan kelas satu tersebut. Enin dan Lisa masih bertahan di sana. Mereka masih belum puas memandagi wajah cantik Yumna.
Tak lama setelah Dewi pulang, para sahabatnya datang untuk melihat anak kedua Roxas. Yang pertama datang adalah Bobi. Dia hanya datang sendiri tanpa Wulan. Istrinya itu baru saja melahirkan sebulan yang lalu. Dia langsung melihat pada boks bayi. Nampak Yumna sedang tertidur lelap.
“Selamat ya, Xas. Namanya siapa?”
“Yumna.”
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Berturut-turut Mila, Sandra, Sheila masuk ke dalam ruang perawatan. Ketiganya tidak didampingi para suami karena sedang sibuk bekerja. Bahkan Ikmal sedang berada di luar kota mengurus pekerjaan. Mereka langsung melihat pada Yumna. Kembali pujian diberikan untuk anak kedua Roxas tersebut.
“Cantik banget sih. Kan jadi gemes,” seru Mila.
“Bisa kali besanan,” celetuk Sheila. Dari pernikahannya dengan Rivan, wanita itu dikaruniai anak laki-laki.
“San.. udah berapa bulan?” tanya Roxas ketika melihat perut Sandra yang sudah membuncit.
“Tujuh bulan.”
“Beda sebulan doang sama Dewi. Kaya anak gue ama Bobi. Ini namanya lahiran estafet.”
“Bener juga.”
“Kabarnya si Budi gimana? Cebongnya udah nyangkut belum?”
“Terakhir sih belum. Kayanya cebongnya mikir-mikir dulu kalau mau berbuah. Malu punya bapak kaya dia, hahahaha..”
Jawaban nyeleneh Bobi tentu saja disambut gelak tawa lainnya. Setelah menikah dengan Khayra, bukan berarti penderitaan Budi berakhir. Pria itu tetap menjadi sasaran bullyan para sahabatnya. Dan seperti biasanya Budi tetap menanggapi dengan santai. Selain memiliki kepercayaan diri yang tinggi, mental Budi juga kuat seperti baja.
Pintu ruangan kembali terbuka, pria yang baru dibicarakan masuk bersama sang istri. Tangannya nampak memeluk erat pinggang Khayra. Sepertinya pria itu takut kalau sang istri diincar oleh para pebinor. Makanya jika keluar rumah, tangannya tidak pernah lepas memeluk tubuh istrinya.
“Buset dikekepin mulu. Kaga bakal ada yang berani ambil Khayra dari elo keles. Secara muka lo lebih nyeremin dari herder, hahaha..”
__ADS_1
Pipit yang sedang minum sampai tersedak mendengar ucapan suaminya. Lisa juga tidak bisa menahan senyumnya. Namun sekali lagi, sang korban seperti tidak terpengaruh apapun. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri.
“Namanya siapa, kang?” tanya Khayra.
“Yumna Aurellia Hidayatullah.”
“Pasti panggilannya Yayat,” ceplos Budi.
“Bosen hidup lo?”
“Hahaha…”
“Khay.. kamu udah isi belum?” tanya Sheila.
“Udah, pasti isinya bubuk rangginang.”
Jawaban Bobi kembali mengundang tawa. Khayra sampai terbatuk mendengarnya. Wanita itu sudah sangat terbiasa mendengar celotehan para sahabat suaminya. Meskipun senang sekali membully suaminya, namun mereka semua sangat setia kawan. Terbukti ketika Budi terkena musibah, motor, dompet dan ponselnya dirampas gank motor. Roxas dan yang lainnya mengejar gank motor tersebut lalu menyerahkannya ke kantor polisi.
Adrian sampai memaksa para orang tua pelaku perampasan untuk bertanggung jawab atas biaya perawatan medis yang dialami Budi. Pihak keluarga minta berdamai dan meminta anak mereka dilepaskan. Namun Adrian bergeming, apa yang mereka lakukan bukan lagi kenakalan remaja tapi sudah tindakan kriminal. Karenanya harus diberi hukuman setimpal.
“Alhamdulillah, tadi habis periksa. Aku lagi hamil enam minggu.”
“Alhamdulillah. Akhirnya cebong lo namper juga.”
“Khay.. kamu ada rasa sebel ngga sama si Budi?” tanya Roxas.
“Ngga, kang. Kenapa emangnya?”
“Bagus deh. Kalo kamu sebel sama suami katanya anaknya mirip sama suami. Kasihan kalau anak kamu mirip Budi.”
“Sue lo.. kalo ngga mirip gue masa iya mirip kang bakso,” sewot Budi.
“Lah mending mirip kang bakso yang suka lewat depan rumah lo. Mukanya mendingan dia dari pada elo.”
“Hahahaha..”
Dengan kesal Budi menjitak Mila yang sejak jaman sekolah sampai sudah memiliki buntut tetap tanpa saringan jika bicara. Khayra tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah sang suami bersama para sahabatnya. Pipit yang sedari tadi hanya menyimak dari bed tempatnya berbaring, sampai harus menyusut air di sudut matanya karena tak berhenti tertawa. Bahkan enin sampai terbatuk-batuk.
🌸🌸🌸
Tiga bulan kemudian
Sejak sepuluh menit lalu Dewi nampak gelisah. Dia tidak bisa diam, sebentar-sebentar terdengar ringisannya menahan rasa sakit yang mendera. Dian yang melihat majikannya tak enak diam segera menghampiri.
“Bu, kenapa? Sudah mulai kontraksi?”
“Sepertinya.”
“Mau telepon bapak sekarang.”
“Jangan, nanti aja. Masih jarang kontraksinya. Mungkin baru pembukaan awal.”
“Iya, bu.”
Dian kembali ke dapur. Dia berinisiatif membuatkan teh manis hangat untuk Dewi. Wanita itu membawa cangkir berisi teh hangat lalu memberikannya pada Dewi. Istri Adrian itu mendudukkan diri lalu meminum tehnya pelan-pelan.
Arkhan yang baru selesai mengejar PR-nya nampak menuruni anak tangga. Dia menggenggam tangan Davira yang ikut turun bersamanya. Melihat Davira, Dian bergegas mendekat lalu menggendong anak itu sampai turun ke bawah. Mata Arkhan langsung melihat pada sang mama yang sedang menahan sakit.
“Mama kenapa?”
“Perut mama sakit, sayang. Sebentar lagi adeknya abang mau keluar.”
“Mama cakit. Cini Avi elus.”
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Ayah cepat pulang, dede udah mau keluar.”
“Mamanya mana sayang?”
Arkhan berlari keluar kamar lalu memberikan ponsel pada Dewi. Wanita itu terkejut saat tahu Arkhan menghubungi Adrian.
“Halo, a.”
“Kamu sudah mau lahiran, sayang? Aa pulang sekarang.”
“Ngga usah buru-buru, a. Pembukaannya masih jauh. Aa hati-hati nyetirnya.”
“Iya, sayang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Dewi mengakhiri panggilan, lalu meletakkan ponsel di meja. Dia menyandarkan punggungnya ke sofa. Beberapa kali wanita itu menarik dan mengeluarkan nafas secara teratur untuk mengurangi rasa sakit yang menerpanya. Arkhan masih setia duduk di dekat sang mama bersama dengan Davira.
“Mama masih sakit?” tanya Arkhan cemas.
“Mama ngga apa-apa, sayang.”
Tangan Arkhan ditaruh di perut Dewi, anak itu mendekatkan wajahnya. Kemudian dengan suara pelan dia membacakan surat-surat pendek yang diketahuinya. Berharap dengan mendengar itu, sang adik tidak membuat mamanya kesakitan lagi. Tangan Dewi bergerak mengusap puncak kepala anaknya.
“Dede.. jangan buat mama sakit. Sabar ya, sebentar lagi ayah pulang. Abang sama teteh udah ngga sabar mau lihat dede. Tapi dedenya jangan buat mama sakit, ya.”
Mata Dewi berkaca-kaca mendengar ucapan sang anak. Dia mengusap sudut matanya yang berair. Davira yang melihat apa yang dilakukan Arkhan, mendekat. Anak itu juga melakukan hal yang sama.
“Dede cepet kelual.. main cama teteh.”
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Adrian masuk dengan tergesa. Dia langsung menghampiri Dewi yang sedang menyusut airmatanya. Melihat itu tentu saja membuatnya semakin cemas.
“Kamu kenapa, sayang? Sakit banget?”
“Ngga, a. Aku cuma terharu aja. Anak-anak kita benar-benar anak yang soleh dan solehah.”
Kelegaan nampak di wajah Adrian. Pria itu berdiri lalu menuju kamarnya. Tak lama dia keluar membawa traveling bag yang sudah disiapkan sebelumnya. Adrian menaruh tas ke dalam mobil lalu kembali masuk ke dalam.
“Ayah sama mama ke rumah sakit dulu, ya. Nanti genpa ke sini jemput kalian. Abang sama teteh di rumah genpa dulu ya.”
“Iya ayah,” jawab Arkhan dan Davira.
Adrian mencium kening Arkhan dan Davira bergantian. Kemudian dia membantu Dewi berjalan menuju mobil. Dian ikut keluar untuk mengantar majikannya, bersama dengan Arkhan dan Davira. Tangan kedua anak itu melambai ketika roda kendaraan mulai bergerak.
🌸🌸🌸
OEK
OEK
OEK
“Alhamdulillah.”
__ADS_1
Adrian mengusap wajah dengan kedua tangannya ketika anaknya lahir dengan selamat ke dunia. Diciuminya kening Dewi yang berkeringat setelah berjuang melahirkan anak kedua mereka.
“Terima kasih, sayang. Anak kita lahir dengan selamat.”
Mata Adrian terus melihat pada sang anak yang sedang dibersihkan oleh suster. Tak dapat dikatakan bagaimana perasaannya saat ini, yang pasti sangat bahagia. Dari pernikahannya dengan Dewi, akhirnya dia memperoleh sepasang anak. Apalagi proses kelahiran kali ini terbilang cepat dan lancar. Dewi juga tidak perlu merasakan sakit terlalu lama.
Adrian menerima sang anak dari suster. Dia segera mengadzani anaknya. Suaranya terdengar bergetar karena masih diliputi perasaan haru. Usai mengadzani, Adrian mendekatkan sang anak pada Dewi, agar istrinya bisa melihat wajah tampan anak mereka. Senyum Dewi mengembang melihat bayi mungil di tangan suaminya.
“Berapa beratnya, sus?” tanya Dewi.
“Beratnya 2,9 kg, tingginya 49 cm.”
“Alhamdulillah.”
Suster menaruh bayi mungil itu di dada Dewi untuk diinisiasi dini. Sementara sang ibu seperti biasa akan menjalani penjahitan. Adrian terus berada di samping istrinya. Matanya tak henti memandangi wajah tampan anaknya yang tengah mencari-cari sumber kehidupannya. Tangan Dewi membelai puncak kepala anaknya dengan lembut.
Dewi segera dipindahkan ke ruang perawatan setelah kondisinya stabil. Ida dan Toni yang langsung meluncur ke rumah sakit begitu mendengar menantunya akan melahirkan, segera menyambut anak dan menantunya. Dia mengambil cucu ketiganya dari gendongan Adrian.
“Cucu nenek sudah lahir. Alhamdulillah ya, Allah. Mama bahagia sekali. Terima kasih, Wi.”
Hanya senyuman yang diberikan oleh Dewi. Adrian mengambil alih pegangan kursi roda lalu mendorongnya menuju ruang perawatan. Toni dan Ida mengikuti dari belakang. Keduanya tak henti memandangi wajah sang cucu yang wajahnya lebih banyak didominasi oleh wajah Adrian.
Ida meletakkan cucu ketiganya di dalam boks. Kemudian dia mendekati Dewi yang baru saja berbaring. Diciumnya kening sang menantu, lalu menggenggam tangannya dengan erat.
“Terima kasih ya, Wi. Kamu sudah memberikan tiga orang cucu buat mama.”
“Sama-sama, ma.”
“Mama pulang dulu, ya. Mama mau masak makanan kesukaan kamu. Anak-anak di mana?”
“Di rumah Oxas, ma.”
“Ya sudah biar papa yang jemput anak-anak. Mama, papa antar pulang dulu,” ujar Toni.
“Ad.. jaga Dewi dan cucu mama. Nanti mama ke sini lagi.”
“Iya, ma.”
Dewi dan Adrian mencium punggung tangan Ida dan Toni bergantian. Kedua orang itu segera keluar dari ruangan. Adrian mendudukkan diri di sisi bed, kedua tangannya menggenggam tangan sang istri. Sebuah kecupan diberikan di punggung tangan Dewi.
“Anak kita ganteng ya, a.”
“Iya. Matanya mirip kamu.”
“Tapi mukanya banyakan mirip aa.”
“Kan benihnya dari aku.”
“Ish..” Dewi menepuk tangan suaminya.
Pintu ruangan terbuka, seorang suster masuk membawakan makanan untuk Dewi. Dia meletakkan makanan di atas nakas. Kemudian wanita itu mendekati bed di mana Dewi berbaring.
“Maaf, bapak, ibu. Nama anaknya sudah ada?”
“Sudah, sus.”
“Kami harus mencatatnya.”
“Namanya Aksa Faidhan Pratama.”
“Baik, baby Aksa ya.”
Setelah berhasil mendapatkan nama bayi yang baru dilahirkan, suster tersebut keluar dari ruangan. Dewi menarik tangan Adrian lalu mencium punggung tangannya. Segurat senyum tercetak di wajah dosen tampan itu. Dia berdiri lalu mendaratkan ciuman di kening, kedua mata, kedua pipi, hidung dan terakhir di bibir sang istri.
“Arti nama anak kita apa, a?”
“Anak lelaki yang penuh dengan kebajikan dan memiliki air muka yang jernih.”
“Artinya bagus banget.”
“Itu doa untuk anak kita. Semoga dia menjadi anak yang bijak dan selalu bisa menenangkan hati orang yang melihatnya.”
“Aamiin.”
🌸🌸🌸
Tidur Dewi terusik ketika mendengar suara gaduh di ruang perawatannya. Ketika membuka matanya, nampak para sahabatnya sudah berkumpul di kamar, termasuk Roxas dan Pipit. Mila, Sheila, Wulan dan Khayra mengelilingi boks bayi di mana baby Aksa tertidur. Pujian demi pujian terus dilontarkan untuk anak yang belum genap berusia sehari.
“Ya ampun bang Ad, anak-anak kalian kenapa pada ganteng dan cantik sih. Kan aku jadi nganan,” seru Mila.
“Emang anak lo ngga cantik, apa?” ceplos Roxas.
“Cantik dong.”
“Pasti cantik, kan mirip bang Ikmal. Kalo mirip si Mila auto ambyar, hahaha..”
Mila mengeluarkan mata lasernya pada Budi, tapi pria itu nampak tak peduli dan melanjutkan tawanya. Ikmal yang sedang duduk bersama dengan Adrian, hanya mengulum senyumnya saja.
Semua yang ada di ruangan menoleh ketika pintu terbuka. Fajar dan Dita masuk ke dalam, disusul oleh Doni dan Indira dari belakang. Mereka langsung menghampiri boks bayi. Dita terlihat gemas melihat anak kedua dari Adrian itu. Begitu pula dengan Indira. Sekarang istri dari Doni itu sedang hamil anak kedua.
“Daniyal sama Fawwaz di mana?” tanya Adrian ketika Fajar mendudukkan diri di sampingnya.
“Di rumah neneknya.”
Fajar dan Dita sudah dikaruniai dua orang anak. Semuanya berjenis kelamin laki-laki. Sedang Doni baru akan dapat anak kedua yang diprediksi laki-laki. Anak pertamanya berjenis kelamin perempuan.
“Yang.. kita produksi anak lagi, yuk. Biar bisa besanan sama Dewi,” Mila melihat pada suaminya.
“Buset produksi. Lo kata dodol diproduksi,” celetuk Bobi.
“Nyamber aja lo kaya bensin.”
“Untung anak gue cewek,” seru Budi.
“Emang kenapa?” tanya Micky.
“Jadi ngga akan besanan ama si Mila. Bisa bengek gue besanan ama dia.”
“Hahaha..”
“Dih.. siapa juga yang mau besanan sama elo. Kasihan anak gue punya bapak mertua kaya elo.”
Ikmal hanya menggelengkan kepalanya saja melihat perdebatan istrinya dengan Budi. Kedua orang itu tidak pernah mau kalah dalam beradu mulut. Adrian segera berdiri ketika mendengar Aksa menangis. Dia mengambil anaknya itu lalu memberikannya pada Dewi untuk disusui. Pria itu menarik tirai untuk menutupi bed.
“Berisik lo, Mil. Jadi bangun kan baby Aksanya,” seru Bobi.
“Bukan karena gue baby Aksa bangun. Dia serem dideketin Budi, hahaha..”
Kembali suara gelak tawa terdengar. Sementara baby Aksa yang menjadi bahan pembicaraan sibuk mengisi perutnya. Dengan lahap dia menyedot ASI dari sumbernya langsung. Adrian yang duduk di samping Dewi tak lepas memandang anaknya itu. Sebuah kecupan diberikan oleh pria itu di bibir sang istri.
“I love you,” bisiknya.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Selamat buat kelahiran baby-nya. Dah ah udah kepanjangan🤭