
Mata Adrian langsung tertuju pada Dewi yang duduk seorang diri di sisi ranjang. Pria itu menutup pintu lalu berjalan mendekati istrinya itu. Jantungnya berdegup lebih kencang lebih kencang dari biasanya. Mengingat ini adalah malam pertama mereka, akan tidur satu kamar dan satu ranjang bersama.
Perlahan Adrian mendudukkan diri di sisi Dewi. Suasana menjadi hening sejenak, rasanya kata-kata menghilang begitu saja di situasi canggung seperti ini. Hal yang sama berlaku pada Dewi, walau ini adalah pernikahan keduanya, namun bukan berarti wanita itu tidak mengalami kegugupan.
“Arkhan mana?” akhirnya Adrian memecah kesunyian di antara mereka.
“Arkhan tidur sama mama.”
“Nanti malam kalau mau nyusu gimana?”
“Dikasih susu formula aja katanya.”
“Ooh..”
Hanya itu yang keluar dari mulut Adrian. Suasana kembali sunyi di antara keduanya. Pria itu lalu bangun dari duduknya. Dia menuju nakas yang terdapat gelas berisi air putih lalu meneguknya setengah. Kemudian Adrian melihat Dewi yang masih bergeming di tempatnya.
“Ayo tidur, pasti kamu capek.”
Tanpa menunggu jawaban Dewi, Adrian segera naik ke atas kasur kemudian membaringkan diri dengan posisi telentang. Melihat Adrian yang sudah berbaring, Dewi beranjak dari tempatnya. Dia juga membaringkan diri di sisi Adrian dengan dada berdebar kencang. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar.
Tanpa sengaja Adrian menggerakkan tangannya dan menyentuh tangan Dewi. Tak ada reaksi dari Dewi ketika tangan mereka bersentuhan, Adrian memberanikan diri menggenggam tangan sang istri. Gayung bersambut, Dewi ikut menggenggam tangan suaminya.
Perlahan Adrian mengubah posisi berbaringnya menghadap Dewi yang masih berada dalam posisi semula. Tangan Adrian yang satunya terulur mengusap wajah sang istri, membuat Dewi menolehkan kepalanya. Pelan-pelan wanita itu mengubah posisinya. Kini keduanya berbaring dengan posisi saling berhadapan.
Dewi menangkap tangan Adrian yang masih memegangi wajahnya. Mata keduanya saling memandang dan mengunci. Nampak kalau pria itu ingin melakukan lebih, namun masih malu untuk memulainya lebih dulu. Dewi beringsut mendekat, dia yang lebih berpengalaman melakukan malam pertama, sepertinya harus mengambil tindakan lebih dulu, memancing keberanian sang suami.
Begitu Dewi mendekat, Adrian mendaratkan ciuman di kening istrinya itu. Tangannya memeluk pinggang Dewi dan menarik wanita itu lebih dekat lagi dengannya. Kini jarak keduanya hanya beberapa senti saja. Dapat keduanya rasakan hembusan nafas masing-masing di wajah mereka.
Mata Adrian memandangi wajah cantik di depannya, dimulai dari mata dan berakhir di bibir ranum Dewi. Perlahan namun pasti, pria itu mendekatkan wajahnya kemudian menempelkan bibirnya di bibir Dewi. Pertemuan bibir itu terjadi beberapa detik sebelum Adrian memberanikan diri menyesap bibir ranum itu.
Ciuman yang Adrian berikan semakin intens saja ketika Dewi membalas ciumannya. Bukan hanya sesapan, tapi pria itu sudah mulai memagut dan m*lum*t bibir sang istri dengan gerakan pelan dan lembut. Pertautan bibir mereka semakin intens dan dalam, tubuh keduanya semakin rapat saja. Bahkan Adrian sekarang sudah berada di atas tubuh Dewi.
Ciuman mereka belum berakhir. Lidah Dewi mengetuk bibir Adrian, membuat pria itu membuka mulutnya. Wanita itu memasukkan lidahnya, memberikan pengalaman baru bagi suaminya dalam hal berciuman. Dia tahu Adrian adalah pria baik, dan sudah pasti belum pernah berciuman dengan lawan jenis.
Awalnya Adrian terkejut, namun dia mengikuti saja dengan instingnya. Ciumannya yang masih terasa kaku, pelan-pelan sudah bisa mengimbangi Dewi yang sudah terlatih selama dua tahun bersama Aditya.
Berawal dari ciuman, hasrat Adrian mulai terpancing. Tangannya mulai bergerak mengusap tubuh Dewi yang berada di bawahnya. Ciuman keduanya berakhir ketika merasakan pasokan oksigen di antara mereka mulai berkurang. Kembali keduanya saling memandang dengan wajah memerah.
Adrian memposisikan tubuhnya ke samping Dewi. Tangannya bergerak ke arah pakaian tidur yang dikenakan istrinya itu. Dia mulai membuka kancing pakaian atas istrinya, bibirnya kembali menciumi wajah Dewi yang berakhir di bibir.
Dapat Dewi rasakan usapan hangat telapak tangan Adrian di tubuhnya ketika pria itu berhasil membuka semua kancing pakaian tidurnya. Wanita itu tak bisa menahan d*sah*nnya ketika Adrian mulai menciumi lehernya yang terus berlanjut menuju bahu dan dada bagian atas.
Mata Dewi terpejam merasakan sentuhan di tubuhnya. Gerakan Adrian yang lembut dan pelan membuat bulu di tubuhnya berdiri dan mengirimkan gelombang listrik ke seluruh tubuhnya. Adrian sendiri semakin terhanyut dalam cumbuannya. Mendengar d*sah*n Dewi dan melihat betapa wanita itu menikmati sentuhannya, semakin membuat dirinya bersemangat.
Jantungnya bedebar kencang ketika penutup bukit kembar Dewi sudah terlepas dan memperlihatkan bulatan kenyal yang bentuknya masih terlihat besar dan padat karena masih menyusui Arkhan. Perlahan Adrian meremat squishy bulat itu, membuat sang empu kembali mengeluarkan d*sah*nnya. Hanya rematan yang diberikan Adrian, pria itu belum berani menyesapnya, takut jatah Arkhan terhisap olehnya.
Suasana di dalam kamar mulai memanas. Pasangan pengantin baru itu sudah semakin terbakar g*irah. Adrian menegakkan tubuhnya lalu melepaskan kaos yang dikenakannya. Tangan Dewi meraba dada bidang suaminya. Kemudian tangannya beralih memeluk leher Adrian dan menarik pria itu mendekat. Pertautan bibir kembali terjadi di antara mereka berdua.
Waktu di jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Sepasang pengantin baru masih terhanyut menikmati malam pertama mereka yang baru saja dimulai beberapa menit yang lalu. Tubuh keduanya juga sudah tak terbungkus sehelai benang pun. Dewi membantu suaminya memasukkan senjata pusakanya ke dalam sarung miliknya.
Lama tidak diberi pelumas, Adrian cukup kesulitan memasukkan senjata pusakanya. Namun akhirnya dia bisa memasukkannya dengan sedikit perjuangan. Sang mempelai pria berhasil melepaskan keperjakaannya pada wanita yang sangat dicintai dan diidamkan menjadi pendamping hidupnya.
Hanya deru nafas dan d*sah*n yang terdengar bersahutan memenuhi seisi kamar. Dewi yang sudah lebih dulu sampai ke puncaknya, terus berusaha mengimbangi permainan sang suami agar bisa sampai ke ujungnya dan melepaskan lahar panas yang akan menjadi cikal bakal penerus mereka.
Punggung Adrian sudah lembab oleh keringat, namun dia masih belum berhenti menggerakkan tubuhnya. Penyatuan yang baru pertama kali dirasakannya terasa begitu nikmat ketika melakukan bersama dengan pasangan halalnya. Sesekali dia m*lum*t bibir Dewi di sela-sela pergerakannya.
Tubuh Dewi kembali bergetar ketika wanita itu dihantam gelombang hangat untuk kedua kalinya. Dia memeluk erat punggung sang suami. Adrian yang tahu sebentar lagi dirinya akan sampai ke puncaknya mempercepat gerakannya. Dan tak berapa lama kemudian dia menyusul sang istri, menggapai nirwana. Lahar panasnya menyembur masuk ke dalam rahim Dewi.
Nafas Adrian terdengar terengah ketika mengakhiri perjuangannya memasukkan senjata pusaka ke dalam sarungnya. Perlahan dia melepaskan senjata pusakanya lalu membaringkan diri sejenak di samping sang istri. Diraihnya tangan Dewi kemudian memberikan kecupan di punggung tangannya.
Dewi bangun lebih dulu untuk membersihkan diri. Dengan cepat Adrian bangun dari tidurnya kemudian membopong tubuh istrinya ke kamar mandi. Pria itu membersihkan miliknya dan juga milik sang istri dari sisa-sisa percintaan.
__ADS_1
“Aa gendong aku emangnya ngga berat?”
“Ya berat. Pinggangku sampe encok gini, lututku juga gemeteran. Berasa gendong karung beras 1 kwintal.”
“Ish.. lebay..”
“Hahaha..”
Usai membersihkan diri mereka tidak langsung keluar. Adrian mengangkat tubuh Dewi lalu mendudukkan di depan wastafel. Dia berdiri di depan sang istri. Tangannya merapihkan rambut Dewi yang berantakan akibat permainan mereka tadi. Kemudian pria itu kembali memagut bibir Dewi yang sudah menjadi candu untuknya.
“Kamu masih KB?” tanya Adrian setelah ciumannya berakhir.
“Masih.”
“Jangan diputus dulu. Biarkan Arkhan selesai ASI sampai dua tahun, baru kita promil. Bagaimana?”
“Aku terserah aa aja.”
“Sepertinya kita tidak bisa bulan madu sekarang. Kamu sudah mulai kuliah, aku juga sudah mengajar. Bagaimana kalau bulan madunya setelah resepsi?”
“Boleh, a.”
“Besok pulang kuliah kita lihat rumah.”
“Rumah?”
“Iya. Dua tahun lalu aku sudah beli kavling dan pembangunannya baru dimulai setahun yang lalu. Aku nyicil bangunnya, karena ngga mau berhutang sama bank, jadi kalau ada uang masuk baru lanjut pembangunan. Tapi sekarang sudah selesai, hanya tinggal membenahi yang kurang-kurang sedikit.”
Tak ada kata-kata yang mampu diucapkan oleh Dewi. Pria di depannya ini sudah mempersiapkan segalanya untuknya. Dipeluknya leher Adrian kemudian mendaratkan kecupan di bibirnya.
“Sekarang kita hanya tinggal menabung untuk pendidikan anak-anak. Cicilan mobilku juga sudah beres.”
“Kamu mau kerja apa, sayang? Anak-anak kita lebih membutuhkanmu. Tapi kalau kamu bosan di rumah, kamu bisa membantu di kedai kopi.”
“Makasih, a.”
Adrian menyelipkan tangannya ke tengkuk Dewi, kemudian pria itu kembali menyatukan bibir mereka. L*mat*n dan pagutan kembali terjadi di antara keduanya. Adrian mengangkat tubuh Dewi kemudian menggendongnya seperti induk koala menggendong anaknya.
Pria itu berjalan keluar kamar mandi, kemudian menuju ranjang. Perlahan dibaringkan tubuh Dewi ke atas kasur tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Tangannya meraih selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Sepertinya keduanya siap mendayung nirwana untuk kedua kalinya.
🌸🌸🌸
Dewi terbangun dari tidurnya ketika sayup-sayup terdengar suara Arkhan menangis. Baru saja dia hendak turun dari ranjang ketika tangis Arkhan tidak terdengar lagi. Matanya kemudian melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah empat shubuh.
Wanita itu masih terduduk di tempatnya. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuhnya yang belum mengenakan apapun. Matanya melihat pada Adrian yang masih terpejam. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya, apalagi ketika mengingat ronde kedua yang mereka lakukan.
Dewi menutupi wajahnya dengan selimut saat membayangkan kembali betapa liar dan panasnya percintaan kedua mereka. Adrian ternyata bukan hanya pintar mentransfer ilmu pada mahasiswanya. Tapi pria itu juga cepat belajar dalam melakukan percintaan. Jika di ronde awal dia masih malu-malu, di ronde kedua Dewi dibuat tidak berdaya dengan permainannya.
Mama dari Arkhan itu terjengit ketika merasakan punggungnya diciumi seseorang. Dewi yang asik melamun tak menyadari kalau Adrian sudah bangun dan saat ini tengah menciumi punggungnya yang polos. Tangan pria itu terulur memeluk pinggangnya dari belakang.
“Kenapa bangun?”
“Tadi aku dengar Arkhan nangis, tapi sekarang udah ngga nangis lagi. Lagian sebentar lagi shubuh.”
“Masih setengah empat. Masih punya waktu.”
“Tanggung tidur jam segini, nanti malah terlambat bangun.”
“Dingin ngga sih, Yang?” tanya Adrian sambil menduselkan wajahnya ke tengkuk sang istri.
“Dingin.”
__ADS_1
“Olahraga yuk biar ngga dingin.”
“Dih modus. Bilang aja mau nambah. Emang yang semalam masih kurang?”
“Selalu kurang.”
Dewi hanya mendesis mendengar ucapan suaminya. Dia pasrah saja ketika Adrian menarik wajahnya, kemudian mendaratkan ciuman di bibirnya. Pria itu membaringkan tubuhnya dan memposisikan Dewi berada di atasnya. Untuk olahraga di waktu shubuh, dia meminta sang istri yang memimpin permainan. Dewi yang sudah berpengalaman, tentu saja sudah tahu apa yang harus dilakukan. Sebelum masuk ke ronde ketiga, wanita itu lebih dulu memberikan service spesial untuk sang suami. Mengajaknya bermain karaoke.
🌸🌸🌸
Pagi harinya, semua keluarga sudah berkumpul di ruang makan untuk menikmati sarapan, tidak terkecuali pengantin baru. Dewi mengambil Arkhan dari gendongan Ida kemudian mendudukkan di pangkuannya. Semalam tidak tidur bersama anaknya, seperti ada yang hilang.
“Jagoan ayah udah ganteng.”
Adrian mendaratkan ciuman di pipi gembul Arkhan, kemudian mendudukkan diri di samping Dewi. Pria itu mengambil porsi makan lebih banyak untuk dimakan berdua dengan dengan Dewi karena istrinya itu tengah menyuapi Arkhan. Pria itu menyendokkan nasi goreng ke sendok kemudian menyuapkan ke mulut Dewi.
Senyum Ida mengembang di wajahnya melihat kemesraan pengantin baru di depannya. Dia bahagia melihat anak sulungnya akhirnya bisa melepas masa lajangnya bersama wanita yang dicintainya. Dan dia juga senang melihat Dewi yang sudah lepas dari kesedihannya setelah ditinggal Aditya.
“Kamu langsung kerja, Ad?” tanya Wardhani.
“Iya, mbah. Aku kan ngga ambil cuti. Nanti aja kalau resepsi baru ambil cuti, sekalian bulan madu.”
“Bulan madunya ketunda, tapi malam pertamanya pasti ngga dong,” goda Wardhani.
Uhuk.. uhuk..
Adrian yang tengah mengunyah nasi goreng langsung terbatuk mendengar ucapan frontal wanita itu. Dewi menyembunyikan wajahnya yang memerah dibalik Arkhan. Ida, Toni dan Cahyadi hanya mengulum senyum saja melihat tingkah pengantin baru yang malu-malu. Adrian segera menyelesaikan makannya, kemudian bersiap untuk pergi. Begitu pula dengan Dewi bersiap berangkat ke kampus bersama suaminya.
“Ma.. aku titip Arkhan,” ujar Dewi setelah siap untuk pergi.
“Iya, tenang aja. Asinya udah kamu peras?”
“Sudah ma, ada di kulkas.”
“Nanti pulang dari kampus, kita mau lihat rumah dulu, ma,” sambar Adrian yang datang bergabung.
“Rumah kamu sudah selesai?”
“Tinggal finishing aja.”
“Kalian mau langsung pindah? Mama ngga bisa main sama Arkhan lagi dong,” keluh Ida.
“Kalau Dewi kuliah pasti Arkhan dititip di sini.”
“Iya, ma. Kalau aku libur kuliah pasti aku ke sini. Kan bête di rumah nunggu aa pulang kerja.”
“Oh bagus kalau gitu. Kalian cuma pindah tidur aja.”
Dewi tertawa kecil mendengar ucapan Ida. Jika dipikir-pikir ucapan wanita itu ada benarnya. Waktu Arkhan akan lebih banyak dihabiskan di rumah sang nenek di saat dirinya dan Adrian berada di kampus. Pasti saat menjemput mereka tidak akan langsung pulang. Rumah mereka sementara hanya dijadikan tempat untuk tidur saja.
“Mama pergi dulu, ya sayang. Mmmuuaacchhh..” Dewi mencium pipi anaknya.
“Ayah juga pergi dulu, sayang. Jangan nakal ya. Jadi anak soleh.”
Ciuman di pipi dan usapan di kepala diberikan Adrian pada Arkhan. Anak itu hanya tertawa saja memperlihatkan lesung pipinya. Sambil melambaikan tangan, Dewi mengikuti langkah Adrian keluar dari rumah. Dia segera masuk ke dalam mobil dan mengenakan sabuk pengamannya.
Tak lama Adrian masuk. Setelah seat belt terpasang di tubuhnya, pria itu melajukan kendaraannya. Dia memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang, menikmati perjalanan bersama istri tercinta. Adrian meraih tangan Dewi kemudian memdaratkan kecupan di punggung tangannya lalu menggenggamnya erat. Sebelah tangannya digunakan untuk mengendalikan setir mobil. Senyum tak lepas dari wajah pengantin baru tersebut.
🌸🌸🌸
Puas ngga puas, dipuasin aja ya MP mereka, wkwkwk...
__ADS_1