
Pipit terkejut ketika tiba-tiba Roxas membuka matanya. Pandangan keduanya terus beradu dan saling mengunci. Perlahan Roxas mendekatkan wajahnya. Jantung Pipit semakin tak karuan detaknya. Kemudian dia merasakan bibir Roxas sudah menempel di bibirnya. Matanya membulat, namun begitu dia hanya mampu diam tanpa dapat menolak.
Setelah beberapa saat, Pipit tersadar. Bibir mereka masih menempel tanpa ada sesapan atau pagutan. Perlahan Pipit menarik wajahnya, kemudian menaruh telunjuk ke kening Roxas. Dengan gerakan pelan, dia mendorong telunjuknya hingga wajah sang suami sedikit menjauh.
“Dasar jorok. Gosok gigi dulu!”
Pipit segera bangun dari tidurnya kemudian menuju pintu. Beberapa kali dia mencoba membuka pintu, namun tak bisa. Wanita itu mencari kunci pintu, tapi tak menemukannya. Kemudian pandangannya tertuju pada Roxas yang masih berbaring di kasur. Dia ingat semalam kalau Roxas yang mengunci pintu.
“Mana kuncinya?”
“Kunci apa sayang?” tanya Roxas seraya menyangga kepala dengan sebelah tangannya.
“Ngga usah sok manis gitu. Mana kunci pintunya? Udah mau shubuh ini,” geram Pipit.
“Mintanya yang manis dong.”
“Roxas…”
“Ini.. ambil sendiri, Yang.”
Roxas menepuk kantong celananya yang terdapat kunci kamar. Sedang dirinya masih dalam posisi yang sama. Dengan cepat Pipit menghampiri suaminya. Dirogohnya saku celana Roxas untuk mengambil kunci kamar. Tubuh Roxas menggelinjang karena merasakan geli. Setelah bersusah payah, akhirnya kunci berhasil diambil.
Bergegas Pipit membuka pintu kamar lalu segera menuju kamar mandi. Cukup lama dia berada di sana untuk mencuci muka, menggosok gigi dan berwudhu. Tak lama kemudian dia keluar. Roxas sudah menunggu di depan kamar mandi, pria itu segera masuk ke dalam.
Suara adzan baru saja berakhir ketika Roxas telah selesai menggosok gigi dan berwudhu. Di dalam kamar sudah tergelar dua buah sajadah, dan Pipit sudah mengenakan mukenanya. Tanpa menunggu lama, Roxas segera memimpin shalat dua rakaat tersebut. Dada Pipit berdesir ketika mendengar Roxas membacakan ayat suci Al-Quran dengan tartil.
Pipit mencium punggung tangan Roxas setelah mengucapkan salam. Dia terjengit ketika Roxas mencium keningnya. Sebenarnya itu hal yang wajar karena sekarang mereka suami istri. Hanya Pipit masih belum terbiasa dengan semua ini. Apalagi usia Roxas masih muda, dirinya masih sedikit canggung bersikap hormat pada suami bocilnya itu.
“Pit.. aku tau kamu pasti masih canggung dengan hubungan kita sekarang. Sama, aku juga masih canggung. Tapi kalau kita sama-sama berusaha, aku yakin kecanggungan ini akan hilang dengan cepat. Aku juga mau kamu berusaha, kalau cuma aku, hubungan kita mungkin akan lebih banyak makan di tempat.”
Pipit hanya melongo saja mendengar ucapan panjang lebar Roxas yang sangat dewasa. Berbeda dengan sikapnya tadi malam. Tanpa sadar wanita itu menganggukkan kepalanya, seolah terhipnotis oleh kata-kata suaminya.
“Boleh kan aku peluk kamu?” tanya Roxas.
Lagi Pipit hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian dengan cepat Roxas merengkuh tubuh Pipit masuk ke dalam pelukannya. Lama-kelamaan, pelukan Roxas semakin erat, dia mendusel-duselkan kepalanya ke kepala Pipit.
“Aduh tiris-tiris kieu dibere nu haneut jeung empuk meni atoh pisan. Deudeuh neneng Pipit, abi teh bogoh pisan ka anjeun. Cik atuh dibere sorodot gaplok saeutik mah (Aduh dingin-dingin gini dikasih yang anget dan empuk. Neng Pipit sayang, aku tuh cinta banget sama kamu. Kasihlah ciuman bibir sedikit mah).”
Kening Pipit langsung berkerut mendengar ucapan Roxas. Ternyata suaminya sudah kembali pada mode somplaknya. Wanita itu segera melepaskan diri dari pelukan Roxas. Dilihatnya wajah sang suami yang tengah cengar-cengir tak jelas.
“Apaan sorodot gaplok?”
“Eta silaturahim bibir,” Roxas memajukan bibirnya.
Mata Pipit membulat mendengarnya. Dengan cepat dia berdiri kemudian membuka mukenanya. Dia segera melipat alat shalatnya tanpa mempedulikan rayuan dan rengekan Roxas soal sorodot gaplok. Setelah melipat semua alat shalat, wanita itu hendak keluar kamar. Namun lagi-lagi Roxas mengunci pintu tersebut.
“Xas.. mana kuncinya? Kamu senang banget sih kunciin pintu.”
“Ya senang dong kalo dikunciinnya sama neneng geulis, karesep abi (neneng cantik, kesukaan aku).”
“Haaiisshh.. dasar bocil.”
Pipit segera berbalik, dari pada berdebat meminta kunci, lebih baik dia kembali tidur saja. Roxas menarik tangannya, membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan terjatuh di atas kasur. Roxas segera menjatuhkan diri di atas sang istri.
“Biar bocil, aku udah bisa bikin bocil juga, Yang,” Roxas mengedipkan sebelah matanya.
“Berat, Xas, bangun.”
Roxas sedikit mengangkat badannya, kemudian kedua tangannya dipakai untuk menyangga tubuhnya. Dia masih berada di atas Pipit. Menatap dalam mata istrinya itu sampai sang wanita salah tingkah.
Perlahan Roxas mendekatkan wajahnya. Pipit menahan nafas saat bibir mereka hanya tinggal beberapa senti lagi akan bertemu. Dan akhirnya silaturahim bibir untuk yang kedua kali terjadi. Namun kali ini Roxas tidak hanya menempelkannya saja, tapi sudah mulai menyesapnya perlahan.
Jantung Pipit berdebar kencang. Ini adalah pengalaman pertamanya berciuman dengan seorang pria. Roxas tak menghentikan sesapannya, walau ini juga pengalaman pertamanya, namun dia sering melihat di utube atau film yang menyuguhkan adegan sorodot gaplok. Jadi dia mengandalkan instingnya untuk menjadi best kisser.
Lama-lama Pipit mulai menikmati pertemuan bibir mereka. Matanya terpejam dan tangannya meremat kaos yang dikenakan Roxas. Sedikit demi sedikit tubuh Roxas kembali merapat, sebelah tangannya menelusup ke belakang kepala Pipit. Selain sesapan, kini dia mulai berani m*lum*t bibir istrinya itu.
Roxas mengakhiri ciumannya, matanya menatap netra sang istri yang masih terpejam. Perlahan mata Pipit terbuka ketika tak merasakan lagi sentuhan di bibirnya. Kini dua netra saling menatap dengan posisi yang sangat intim. Tangan Roxas membelai wajah Pipit dengan lembut, kemudian bibirnya menciumi wajah cantik istrinya.
__ADS_1
“Boleh ngga, Pit?”
“Ngga kubolehin juga pasti kamu maksa.”
“Aku ngga akan maksa. Paling bikin kamu rungsing (pusing), hehehe..”
“Ngga usah ketawa.”
“Kenapa? Aku tambah ganteng ya kalau ketawa?”
“Narsis kamu ngga abis-abis ya.”
“Ya ngga bakalan habis. Kan aku refill tiap hari, hahaha..”
Tawa Roxas terhenti ketika Pipit menjewer telinganya. Pria itu mengaduh kesakitan, tapi sekarang justru Pipit yang tertawa. Melihat sang istri tertawa di atas penderitaannya, Roxas dengan tanpa henti menciumi wajah dan leher Pipit, sampai wanita itu kegelian.
“Roxas.. udah.. hahaha.. udah…”
Tanpa mempedulikan rengekan Pipit, Roxas terus menciuminya. Bahkan kini sebelah tangannya sudah berada di balon Pipit. Sontak wanita itu terdiam, apalagi ketika tangan sang suami mulai memijat-mijat balon tersebut. Pria itu nampak senang saja, seperti tengah bermain dengan squishy.
Ingin rasanya Pipit mendorong tubuh pria di atasnya. Namun dia masih sadar kalau Roxas adalah suaminya. Dia mendiamkan saja, membiarkan Roxas puas bermain dengan dua balonnya. Dadanya semakin berdebar kencang ketika Roxas mulai melepaskan pakaian yang dikenakan wanita itu dan mengeluarkan balon dari bungkusnya.
Roxas meneguk kelat ludahnya melihat dua balon yang bentuknya bulat sempurna. Apalagi ujungnya juga nampak menggemaskan. Langsung saja dia melahap balon tersebut. Pipit mulai tak enak diam mendapatkan sensasi baru untuk pertama kali. Roxas yang sudah dikuasai hasrat terus bermain dengan balon sang istri.
Hari masih gelap, matahari masih belum menunjukkan sinarnya. Udara pun masih menunjukkan taringnya, dinginnya menggigit sampai ke tulang. Tapi Roxas sama sekali tidak merasakan hal itu. Dia malah melepaskan kaos yang dikenakannya karena kegerahan. Setelah itu dia kembali melanjutkan kegiatannya.
Melihat Pipit yang tak menolak sentuhannya, Roxas berniat memberikan nafkah batin pertamanya di shubuh ini. Jika kebanyakan para pengantin melakukan malam pertama, dirinya akan melakukan shubuh pertama. Tidak apa shubuh, yang penting dirinya bisa merasakan ganti oli juga. Jangan hanya si hejo yang selalu ganti oli setiap bulannya. Sang pemilik juga harus merasakannya.
Tak dapat dipungkiri, Pipit juga sudah mulai terpancing hasratnya. Hanya karena dirinya masih malu dan gengsi, jadi wanita itu membiarkan suaminya saja yang bekerja. Dia pasrah ketika Roxas melepaskan semua benang yang melekat di tubuhnya kemudian bermain sesuka hatinya.
Pergerakan Roxas semakin aktif dan intens saja. Dia benar-benar mempraktekkan cara-cara untuk membuai wanita dari satu-satunya film dewasa yang pernah ditontonnya saat masih perjaka. Dan ternyata itu berhasil. Pipit kini sudah benar-benar pasrah jiwa raga padanya. Kini saatnya dia memainkan tongkat biliarnya, menyodok bola masuk ke lubang sisi meja biliar.
Roxas nampak serius mengarahkan cue atau stick biliarnya ke salah satu bola. Dia berkonsentrasi penuh, jangan sampai bola salah masuk. Setelah mendorong dan menarik stick beberapa kali, akhirnya dia menyodok bola dengan kencang dan akhirnya bola masuk ke dalam hook yang ada di dalam lubang dan menjebolnya.
Mata Pipit terpejam saat merasakan bola biliar Roxas berhasil masuk dan menjebol hooknya. Rasanya sakit dan perih, melihat sang istri yang kesakitan, Roxas menghentikan sejenak permainannya. Dia membelai rambut Pipit dengan lembut, kemudian mencium keningnya dengan mesra. Setelah dirasa Pipit mulai terbiasa dengan bola yang dimasukkan, pria itu kembali melanjutkan permainannya.
Bantal, guling dan selimut sudah tak berada di tempatnya lagi. Benda-benda tersebut sudah pindah ke lantai akibat pergerakan dua insan di atas kasur. Rambut Pipit sudah acak-acakan, begitu pula dengan Roxas. Beberapa kali sang istri meremat dan mengacak-acak rambutnya. Keduanya masih asik memadu kasih di sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.
Pasangan pengantin terkulai di atas kasur setelah selesai dengan ritual pertama mereka. Nafas keduanya terdengar memburu, titik-titik keringat memenuhi hampir seluruh pasangan itu. Roxas membalikkan tubuhnya, kemudian meraih Pipit ke dalam pelukannya. Beberapa kali dia mendaratkan ciuman ke puncak kepala istrinya.
“Makasih ya, Pit. Makasih sudah jadi yang pertama untukku. Makasih buat semuanya. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Aku janji akan menjagamu dan membuatmu bahagia.”
Roxas mengakhiri kalimatnya dengan kecupan di bibir sang istri. Pipit tak mengatakan apapun, berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya. Antara senang, malu, canggung, gengsi dan bahagia bercampur jadi satu. Perlahan tangannya terulur memeluk punggung suaminya yang lembab.
“Lagi ya, Pit.”
“Cape.”
“Iya ngga sekarang. Kita mandi dulu, sarapan, baru kuda-kudaan lagi, hehehe..”
“Dih.. kecanduan.”
“Banget. Emangnya kamu ngga?”
“Apaan sih.”
Pipit melepaskan pelukannya, kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya. Roxas hanya terkekeh melihat sikap malu-malu sang istri. Dia mendekatkan tubuhnya kemudian memeluk Pipit dari belakang.
“Mandi bareng, yuk.”
“Ngga mau.”
“Ayolah.. mau ya. Nanti aku sabunin, aku gosokin juga punggung kamu. Ya.. ya.. ya..” Roxas terus membujuk istrinya sampai akhirnya Pipit menganggukkan kepalanya.
Keduanya kemudian bangun dan bersiap untuk ke kamar mandi. Pipit mengambil handuk lalu membungkus tubuhnya dengan handuk tersebut. Begitu pula dengan Roxas. Saat akan membuka pintu, dia sadar kalau tadi menguncinya.
“Kuncinya mana?” tanya Pipit.
__ADS_1
“Di mana ya?”
Mata Roxas berkeliling mencari trainingnya yang tadi dilemparkan entah kemana. Dia menemukan trainingnya teronggok di dekat lemari. Pria itu itu segera memungutnya dan merogoh saku celananya, namun kunci pintu tidak ada.
“Kok ngga ada,” gumamnya bingung.
“Mana?” tanya Pipit.
“Bentar, tadi keluar dari saku kali, pas aku lempar celana. Kemana ya.”
Sambil berjongkok, Roxas mencari-cari keberadaan kunci pintu. Pipit pun terpaksa ikut membantu mencarinya. Terdengar ocehan dari mulutnya karena masih belum menemukan kunci yang dicari.
“Makanya kamu tuh hobi banget ngunci pintu. Emangnya aku mau kabur kemana? Sekarang repot kan nyari kuncinya.”
“Ketemu!”
Roxas menemukan kunci di dekat lemari, masuk sedikit ke dalam celah antara lemari dan tembok. Setelah mengambil kunci, pria itu segera membukanya. Digandengnya tangan Pipit menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar rintihan sang istri.
“Kenapa?”
“Sakit. Jalannya pelan-pelan.”
Tanpa banyak bicara, Roxas langsung menggendong Pipit. Terdengar jeritan Pipit ketika Roxas mengangkat tubuhnya. Dengan Pipit dalam gendongannya, pria itu segera menuju kamar mandi.
🌸🌸🌸
Tanpa jemu Aditya memandangi wajah Arkhan yang tengah tertidur pulas. Sudah sejak setengah jam lalu, pria itu masih belum beranjak dari sisi anaknya yang tidur di tengah kasur. Dewi yang baru selesai membantu Ida dan Iis membuat sarapan, masuk ke dalam kamar.
“Ya ampun anaknya udah ganteng, udah mandi, udah berjemur, udah nyusu, sekarang udah bobo lagi, tapi papanya masih bau asem. Mandi mas..”
“Bentar, sayang. Aku lagi seneng lihatin Arkhan. Anak kita ganteng banget ya. Aku masih belum percaya kalau kita udah punya anak. Lihat Arkhan kaya gini, aku jadi betah di rumah, males ngapa-ngapain.”
“Kalau papanya males, nanti dari mana dapet uang buat beli kebutuhan dede Arkhan,” Dewi mencium pipi Aditya dengan gemas.
Aditya menarik tangan Dewi hingga jatuh di atas tubuhnya. Dengan cepat kedua tangannya mengunci pinggang wanita itu, hingga tak bisa lepas darinya. Beberapa kali dia mendaratkan kecupan di bibir Dewi.
“Yang.. masih lama ya?”
“Baru juga seminggu, ditanyain mulu. Kemarin waktu promo tur, dua bulan ngga minta jatah anteng-anteng aja.”
“Ya beda, Yang. Waktu itu kan aku kerja, banyak kegiatan juga. Kalo sekarang diam di rumah, apalagi lihat kamu semok kaya gini kan bikin aku mupeng, hehehe…”
“Ish.. udah jadi papa, malah tambah omesh.”
“Tapi kamu suka, kan.”
Aditya menarik tengkuk Dewi kemudian membenamkan bibirnya pada bibir sang istri. Dewi membiarkan saja Aditya m*lum*t bibirnya, dia bahkan membalasnya dengan mesra. Aditya membalikkan tubuh Dewi, hingga wanita itu berada di bawahnya sekarang. Ciuman mereka terus berlanjut.
“Ah, Yang…. Bangun kan. Tanggung jawab,” ujar Aditya setelah ciuman mereka berakhir.
“Yang mulai siapa, yang suruh tanggung jawab siapa.”
“Ke kamar mandi, yuk.”
“Malu iih.. kaya di rumah sendiri aja. Di luar kan ada papa, mama, mbah, bi Iis sama bang Ad.”
Dewi menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Mau taruh di mana mukanya masuk ke kamar mandi berdua dengan Aditya. Di rumah ini memang hanya kamar utama dan kamar tamu saja yang memiliki kamar mandi di dalam. Sedang sisa kamar yang dihuni Aditya, Adrian dan Pipit harus menggunakan kamar mandi di luar kamar.
“Terus gimana?”
“Mas aja sendiri, hihihi..”
“Tega kamu, Yang. Awas aja kalau udah beres, ngga akan aku kasih turun dari kasur.”
Aditya beranjak dari tempat tidur kemudian keluar dari kamar. Dia buru-buru menuju kamar mandi, sebelum semua orang menyadari kalau ular kobranya sudah berdiri. Cukup lama pria itu berada di kamar mandi. Berjuang sendiri menidurkan ular kobranya.
🌸🌸🌸
__ADS_1
**Beuh ni bocil yang udah punya anak sama yang lagi produksi bikin mupeng emak²🏃🏃🏃
Maaf yo, malem pertamanya terpaksa aku ajak main bilyar. Dari lama, digantung dan ditolak reviewnya😜**