
**Karena komentarnya berhasil tembus 300. Sesuai janji, mamake up lagi nih. Makasih untuk semua komennya🙏
🌸🌸🌸**
TOK
TOK
TOK
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Roxas menganggukkan kepalanya pada semua guru yang ada di ruangan lalu berjalan menuju meja Adrian. Wali kelasnya itu nampak tengah berkutat menyelesaikan pekerjaannya dengan laptop. Adrian mengangkat kepalanya ketika mendengar suara Roxas memanggilnya.
“Pak.”
“Duduk.”
Roxas menarik kursi di depan meja Adrian dan mendudukkan diri di sana. Sebenarnya setelah ujian terakhir, pihak sekolah meliburkan anak kelas 12. Namun hari ini pemuda itu sengaja datang ke sekolah untuk menemui wali kelasnya.
“Ada apa?”
“Eung.. gini pak. Maaf, saya mau nanya kira-kira pekerjaan yang dulu bapak janjikan sudah ada belum ya?”
“Saya belum menghubungi orangnya lagi. Tapi masih belum ada pengumuman lulus juga dari pihak sekolah. Emangnya kamu yakin kalau lulus?”
“Ya ampun, pak. Sing karunya atuh ka saya. Piraku kudu ngulang kelas 12 deui (Kasihan napa sama saya. Masa saya harus ngulang kelas 12).”
Adrian terkekeh melihat wajah panik Roxas. Pemuda itu nampak mengusap tengkuknya. Dari raut wajahnya, Adrian melihat anak didiknya ini seperti tengah mengalami masalah yang cukup berat. Pria itu memilih mengakhiri pekerjaannya. Dimatikan laptop dan ditutupnya benda persegi itu. Kemudian dia mulai fokus pada Roxas.
“Bukannya lebih baik kamu sekarang sedikit bersantai, fokus sama latihan band untuk penampilan di malam perpisahan nanti.”
“Maunya sih gitu, pak. Tapi mau gimana lagi, saya juga butuh uang, hehehe..”
Roxas menampilkan cengiran khasnya. Padahal kepalanya benar-benar pusing, bagaimana caranya mendapatkan uang untuk menebus resep enin besok. Dirinya tak yakin kalau Tirta ingat soal itu. Dan untuk berjaga-jaga, Roxas harus mendapatkan uang.
“Biar saya hubungi dulu orangnya. Sekarang kamu ada kegiatan lain?”
“Ngga, pak.”
“Kalau gitu ikut saya.”
Adrian memasukkan laptop ke dalam tas ranselnya. Kemudian dia juga memasukkan beberapa berkas ke dalamnya, lalu berjalan keluar kantor. Roxas bergegas menyusul pria itu dari belakang.
“Kamu bawa motor?”
“Bawa pak.”
“Ikuti mobil saya.”
“Siap, pak.”
Adrian segera masuk ke dalam mobilnya kemudian melajukan dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melihat spion untuk memastikan Roxas mengikutinya dari belakang. Avanza hitam yang dikendarainya kemudian berbelok memasuki sebuah kompleks perumahan dan berhenti di depan rumah type 36. Roxas pun menghentikan motornya tepat di belakang mobil Adrian.
Pemuda itu menatap rumah bercat abu di depannya. Tidak ada plang apapun di depan rumah tersebut. Namun ada sebuah mobil dan tiga buah motor yang terparkir di garasi. Dengan isyarat jari tangannya, Adrian meminta Roxas mengikutinya masuk ke dalam rumah tersebut.
Ketika memasuki rumah, dia melihat dua orang pria seumuran Adrian tengah duduk berbincang di sofa yang ada di ruang depan. Adrian menganggukkan kepalanya pada kedua orang itu dan melanjutkan langkahnya masuk ke bagian dalam rumah. Kemudian dia masuk ke salah kamar yang ada di sana.
Tanpa perlu dijelaskan, Roxas langsung mengerti kalau rumah ini adalah kantor Adrian. Di ruang dalam terdapat tiga buah meja kerja. Dan di dalam ruangan yang dimasukinya juga terdapat sebuah meja kerja, lemari kabinet serta sofa dan meja tamu. Adrian mendudukkan diri di belakang meja kerjanya.
“Ini kantor bapak?” tanya Roxas begitu duduk di hadapan Adrian.
“Ini kantor bersama teman-teman saya. Kami baru menyewa rumah ini seminggu yang lalu. Di sini kita berkumpul membahas proyek yang kami kerjakan. Kamu lihatkan, masih berantakan.”
“Iya sih, pak.”
“Kamu bisa bantu saya merapihkan file-file di sana?” Adrian menunjuk tumpukan file yang ada di pojok ruangan.
“Tolong dipilah berdasarkan tanggal dan juga jenis proposalnya. Di atas map ada keterangannya. Nanti dirapihkan, dikumpulkan sesuai klasifikasinya dan masukkan ke dalam kabinet. Bisa?”
“Bisa, pak.”
“Silahkan dimulai.”
Tanpa membuang waktu Roxas langsung mengambil dus berisi file yang tadi disebutkan Adrian. Pemuda itu membawanya ke sofa dan mulai memilih serta memilah file berdasarkan keterangan yang tertera di atas map. Melihat Roxas yang tidak mengalami atas tugas yang diberikannya, Adrian mengeluarkan laptop dan berkas yang dibawanya dari sekolah dan melanjutkan pekerjaannya.
Tak terasa dua jam sudah keduanya berkutat dengan pekerjaannya masing-masing. Usai memasukkan file ke kabinet, Roxas diminta mendata file tersebut secara manual dan nantinya harus dibuat soft copynya. Adrian melihat jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lebih dua puluh menit. Sebentar lagi waktu shalat dzuhur dan makan siang akan tiba. Pria itu menghentikan pekerjaannya.
“Xas.. di depan kompleks ada rumah makan padang. Bisa tolong belikan makan siang?”
“Bisa, pak.”
“Saya pakai ayam bakar. Kalau kamu terserah mau pakai apa. Jangan lupa beli minumannya juga. Saya air mineral aja. Sisanya buat isi bensin motormu.”
“Makasih, pak.”
Roxas melesat keluar ruangan. Dia segera menaiki si hejo dan memacu Yamaha Veganya menuju rumah makan padang yang dimaksud. Tak sampai setengah jam. Pemuda itu sudah kembali ke kantor, bertepatan dengan kumandang adzan dari masjid yang letaknya tak terlalu jauh dari kantor Adrian.
“Shalat dulu.”
“Iya, pak.”
Roxas menaruh makanan yang dibelinya ke atas meja, kemudian segera menyusul Adrian yang sudah lebih dulu keluar.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Sambil berbincang santai, Adrian dan Roxas menikmati makan siang. Pria itu ingin tahu lebih banyak kenapa tiba-tiba Roxas datang meminta pekerjaan padanya. Merasa tak ada yang perlu disembunyikan, Roxas menceritakan masalah yang menimpanya tanpa merasa malu. Entah mengapa dia merasa nyaman berbagi cerita pada wali kelasnya ini. Sikap hangat dan peduli Adrian membuat Roxas seperti memiliki seorang kakak yang memperhatikannya.
“Terus kamu tinggal di mana sekarang?”
“Di kontrakan Adit, pak.”
“Hmm.. begitu.”
“Alhamdulillah Adit mau nampung saya. Katanya selama tiga bulan saya ngga perlu mikirin uang sewa karena udah dibayarin abangnya. Seketika saya pengen jadi Adit yang punya abang perhatian hahaha..”
Roxas tertawa setelahnya, namun tawa itu terdengar seperti jeritan hati di telinga Adrian. Dia cukup prihatin dengan keadaan anak didiknya itu. Namun tidak mau memperlihatkan secara jelas rasa ibanya.
“Kamu tidak punya saudara? Orang tuamu di mana?”
“Saya anak tunggal, pak. Ibu saya udah meninggal. Kalau bapak, saya ngga pernah tau kaya apa bentukannya. Dia cuma nitip benih aja di perut ibu saya terus menghilang tanpa kabar. Saya juga ngga peduli sih sama dia. Bagi saya, orang tua saya cuma ibu sama enin.”
“Sekarang eninmu tinggal sama siapa?”
“Sama mamang saya. Makanya saya pengen kerja, biar bisa punya tempat tinggal sendiri, walau cuma ngontrak, yang penting saya bisa bawa enin tinggal sama saya.”
Roxas membuang pandangan ke samping seraya menyusut sudut matanya yang berair. Sejak pergi meninggalkan rumah enin, dia selalu kepikiran neneknya itu. Apakah sudah makan, sudah minum obat, apa tidurnya nyenyak.
“Kamu anak baik, Xas. Saya percaya Allah akan mengganti semua kesedihanmu dengan kebahagiaan. Dan impianmu membahagiakan enin akan segera terwujud.”
“Aamiin ya Allah.”
Usai makan siang, kedua pria itu kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing. Adrian mengambilkan laptop lain yang ada di ruangan sebelah dan meminta Roxas mengetik data file yang tadi sudah disusun secara manual.
Tepat jam empat, Adrian meminta Roxas mengakhiri pekerjaannya. Dia mengajak pemuda itu duduk di sofa. Di tangannya terdapat dua amplop putih.
“Xas, sampai kamu mendapatkan pekerjaan tetap, sementara kamu bekerja di sini. waktunya fleksibel. Kalau kamu ada kegiatan lain, silahkan saja. Tugas kamu cuma membersihkan kantor dan membantu teman saya kalau butuh bantuan merapihkan file atau foto copy. Tidak setiap hari saya datang ke sini, kamu ngga usah sungkan. Nanti saya kenalkan pada teman-teman saya.”
“Siap, pak.”
“Ini DP untuk honormu membantu saya di sini.”
“Ya ampun, pak makasih banyak.”
“Lalu ini untuk membeli obat enin,” Adrian menyerahkan amplop satunya lagi pada Roxas.
“Aduh maaf, pak. Bukannya menolak rejeki, tapi uang DP yang bapak kasih udah cukup kok. Terima kasih sebelumnya.”
“Uang DP itu buat kebutuhanmu sehari-hari. Kalau itu dipakai untuk membeli obat enin, lalu bagaimana dengan kebutuhanmu setiap harinya? Terima uang ini, anggap saja ini pemberian kakakmu, hmm..”
Adrian menarik tangan Roxas lalu menaruh amplop putih itu di tangan pemuda itu. Mata Roxas berkaca-kaca, bukan karena uang yang diberikan Adrian tetapi kata-kata terakhir wali kelasnya itu menyentuh kalbunya. Tak percaya rasanya mendengar Adrian menyebutkan kata kakak padanya.
“Makasih, pak,” Roxas kembali menyusut matanya yang membasah. Adrian menepuk pelan pundak pemuda itu. Melihat Roxas, dia seakan tengah berhadapan dengan Aditya, adiknya yang keras kepala.
“Sekarang kamu pulang dan belikan obat untuk enin.”
“Iya, pak.”
🌸🌸🌸
Dengan wajah ceria, Roxas memasuki kediaman Tirta. Di tangannya terdapat bungkusan berisi oleh-oleh untuk enin. Ternyata Adrian memberikan DP honor dan obat enin masing-masing lima ratus ribu. Total Roxas mendapatkan uang satu juta rupiah dari wali kelasnya itu. Tak ada kata yang mampu Roxas ungkapkan atas kebaikan Adrian. Dia hanya mendoakan sang wali kelas mendapatkan rejeki yang berlimpah sebagai balasannya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Rani, istri dari Tirta menyambut kedatangan Roxas dengan wajah masamnya. Namun Roxas tak mempedulikan itu semua. Dia langsung menemui enin yang tengah menonton televisi. Roxas mencium punggung tangan nenek tersayang yang sudah dipenuhi keriput.
“Enin.. kalau mang Tirta sudah tebus obat belum?” tanya Roxas seraya mendudukkan diri di samping enin.
“Belum sepertinya.”
“Ini Aep udah tebus obat buat dua minggu.”
“Ya Allah kasep, gaduh artos timana? (Ya ampun ganteng, dapet uang dari mana?),” enin mengusap rahang Roxas.
“Alhamdulillah Aep kening DP tina padamelan (Aep dapat DP dari kerjaan).”
“Alhamdulillah rejeki anak soleh. Sing gede milik (mudah-mudah banyak rejeki).”
“Aamiin..”
Roxas memberikan kantung obat untuk enin. Kemudian dia membuka bungkusan satu lagi yang berisikan oleh-oleh. Pemuda itu menuju dapur lalu mengambil mangkok berukuran sedang. Dituangkannya soto ayam yang dibelinya tadi ke dalam mangkok. Selain itu, dia juga mengeluarkan kotak kue berisi brownies kukus kesukaan enin.
“Enin, ieu soto ayam kangge enin emam. Ieu Aep oge meser brownies karesep enin (enin, ini soto ayam buat enin. Ini Aep juga beli brownies kesukaan enin).”
“Ya Allah, Alhamdulillah.”
“Enin emam ayeuna (enin makan sekarang).”
Enin menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Roxas bergegas menuju dapur dan kembali dengan piring berisi nasi yang tidak terlalu banyak. Pemuda itu kemudian mulai menyuapi enin. Neneknya itu selalu lahap jika makan disuapi olehnya. Pemandangan itu tertangkap oleh Rina dan Tirta yang baru saja pulang, namun keduanya tak bereaksi apapun. Baginya wajar saja kalau Roxas memperhatikan enin karena wanita itu yang mengurusnya sejak kecil.
“Enin.. Aep uih ayeuna nya. In Syaa Allah, enjing Aep kadieu deui. Enin hoyong dipangmeserkeun naon? (Enin, Aep pulang sekarang. In Syaa Allah besok Aep ke sini lagi. Enin mau dibeliin apa?).”
Enin hanya menggelengkan kepalanya. Roxas memeluk wanita yang sangat disayanginya itu. Sebenarnya berat meninggalkan enin di rumah sang paman. Namun dia harus menahan diri sampai mampu menyewa tempat sendiri dan membawa enin pergi dari rumah ini.
“Mang, nitip enin. Landongna tos ditebus ku Aep (Mang, titip enin. Obatnya udah ditebus sama Aep).”
Tirta hanya menganggukkan kepalanya saja. Pemuda itu segera pergi meninggalkan kediaman sang paman. Kali ini tujuannya adalah toko kelontong koh Abeng. Dia akan membeli kasur lipat, karena mulai malam ini akan tinggal bersama Aditya.
__ADS_1
“Kang…” panggil Roxas pada Hari begitu memasuki toko. Dia memang sudah kenal dengan semua pegawai di toko ini karena sering mengantar Nenden atau Dewi berbelanja.
“Eh osas. Amang?”
“Alhamdulillah.”
“Ai afa?”
“Ai asur ifa,” Roxas menjawab pertanyaan Hari dengan gaya bicara yang sama dengan pegawai kepercayaan koh Abeng tersebut.
“Oeh.. oeh..”
Hari berjalan menuju tempat di mana tumpukan kasur lipat berada. Roxas melihat-lihat sebentar kasur yang terdiri dari berbagai ukuran dan corak.
“Au an ana?”
“An ura aja.”
Hari kemudian menunjuk kasur lipat berukuran single dan tebalnya tidak seberapa. Roxas melihat-lihat sebentar kasur lipat tersebut.
“Erafa?” tanya Aep.
“Emfilan uluh.”
“Ison.”
“Eeuuhh.. afan ima.”
“Utuh uluh.”
“Afan uluh, uah fas.”
“Oeh,” Roxas mengangkat jempolnya.
Akhirnya transaksi dengan bahasa yang sulit dimengerti usai sudah. Setelah membayar harga kasur, Hari membantu mengikat kasur lipat tersebut di motor Roxas.
“Uhun ang,” Roxas mengangkat tangannya dan hanya dibalas acungan jempol saja oleh Hari. Bule kere itu langsung tancap gas meninggalkan daerah Cicadas.
🌸🌸🌸
Roxas sampai di kontrakan Aditya bersamaan dengan sang pemilik kontrakan. Aditya baru saja pulang kerja. Hari ini dia mendapat giliran shift pagi. Dia menyambut senang kedatangan sahabat barunya itu.
“Weh udah beli kasur. Baru aja gue mau telepon, ngajakin beli bareng,” ujar Aditya.
“Alhamdulillah abis dapet rejeki.”
Aditya memasukkan anak kunci kemudian memutarnya. Dibukanya lebar-lebar pintu untuk memudahkan Roxas membawa masuk kasur. Dia meletakkan kasur di ruangan depan.
“Ah poho can meuli bantal (lupa belum beli bantal),” Roxas menepuk keningnya.
“Tenang aja. Ada kok. Eh elo beli kasur di mana?”
“Di toko koh Abeng.”
“Ketemu kang Hari?”
“Ketemu atuh. Cees eta mah.”
“Sumpah gue ngga ngerti dia ngomong apa.”
“Belajar dari gue kalau mau ngobrol sama kang Hari.”
“Emang lo ngerti?”
“Eh afih au eli afa? Anan inta ison uluh.”
“Hahahahaha… wuanjiirrr bule sumbing.”
Aditya tak bisa menahan tawanya mendengar gaya bicara Roxas yang sama persis seperti kang Hari. Pemuda itu sampai memegangi perutnya karena tak berhenti terpingkal.
“Makan yuk, Dit sekalian ajak Dewi, gue yang traktir.”
“Widih gaya, emang punya duit?”
“Punya dong. Gue dapet kerjaan dari wali kelas, terus tadi dikasih DP.”
“Baik bener tuh walas. Kerja baru sehari udah dapet DP.”
“Iya, emang the best deh walas gue tuh. Udah ganteng, kaga pelit lagi. Cuma kadang suka galak dan kalo kasih hukuman ngga kaleng-kaleng.”
“Hahahaha… ya cocok buat murid durjana kaya elo.”
“Hahaha.. anjiiirrrr.”
“Mandi dulu ahh.. sono ke rumah Dewi, suruh dia siap-siap. Abis Isya kita keluar cari makan.”
“Lo aja.”
“Gue mau mandi dulu, biar gantengan dikit. Masa ketemu ayang mbeb kucel.”
“Jiaahhh ayang mbeb, jijai gue dengernya.”
Aditya hanya terkekeh saja mendengar komentar temannya itu. Dia menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu kemudian segera masuk ke kamar mandi. Sementara itu Roxas bergegas menuju rumah sahabatnya yang letaknya tepat di depan kontrakan Aditya. Sudah bisa dipastikan makan malam nanti dirinya hanya akan menjadi makhluk tak kasat mata, berada di antara dua orang yang tengah bucin.
🌸🌸🌸
__ADS_1
**Terjawab ya, Adit kemarin beli bantal dan guling 2 pasang, siapa yang pake. Yg nebak Dewi salah bingits, ternyata yg merawanin tuh bantal n guling si Leker🤣🤣🤣
Di sini udah mamake selipin part Adrian ya, biar pada bisa tidur tar malem. Sama mamake kasih part percakapan Leker vs Kang Hari. Puyeng² dah🤣🤣🤣**