Naik Ranjang

Naik Ranjang
Kemesraan


__ADS_3

Sore harinya rombongan IPS 3 sudah kembali ke vila. Wajah-wajah lelah namun bahagia terlihat pada mereka. Dewi menyambut kedatangan teman-temannya dengan penuh sukacita. Tak sabar rasanya ingin mendengar cerita mereka.


Roxas berbaring di atas bale, melepaskan lelah. Di sampingnya Micky juga ikut berbaring. Berbeda dengan Hardi yang langsung menuju halaman belakang. Walau lelah, dia harus menyiapkan peralatan dan bahan untuk acara api unggun plus barbeque nanti malam. Pemuda itu terbengong ketika melihat di halaman belakang semua yang dibutuhkan untuk acara malam nanti sudah tersedia.


“Pak..” Hardi menghampiri Adrian yang tengah menyusun kayu bakar untuk dijadikan api unggun.


“Bapak yang nyiapin ini semua?” tanya Hardi tak enak hati.


“Iya, tapi saya tidak melakukannya sendiri. Tadi Dewi membantu saya. Dari pada bosan tidak ada kerjaan..”


“Ya ampun, makasih, pak. Makasih banyak.”


“Ayam dan ikan juga sudah dibumbui. Tadi saya minta tolong bu Lina untuk membersihkan dan membumbui.”


“Wah pak Rian the best lah,” Hardi mengangkat kedua jempolnya.


“Sekarang mending kamu istirahat, mandi. Pasti capek kan.”


“Iya, pak.”


Hardi segera masuk ke dalam, meninggalkan Adrian yang masih menyusun kayu bakar. Kepalanya mendongak ke atas, cuaca hari ini cukup cerah. Dia yakin kalau nanti malam tidak akan turun hujan, dan acara api unggun serta barbeque bisa berjalan dengan lancar.


Setelah shalat maghrib, semua anak bersiap untuk menggelar api unggun. Anak lelaki bertugas menyalakan api unggun dan pembakaran untuk barbeque. Anak perempuan menyiapkan bahan makanan yang akan dipanggang, seperti ayam dan juga ikan. Ada juga yang kebagian menyiapkan minuman, seperti kopi, teh manis dan bandrex.


Roxas bertugas di bagian pemanggangan, mulai membakar ayam dan ikan dengan bantuan kipas angin. Dewi, Sheila, Mila dan Sandra tengah sibuk memotong-motong buah. Ada semangka, melon dan mangga. Tak jauh dari mereka, Adrian sedang membuat minuman untuknya sendiri.


“Wi.. kemarin siapa yang nganterin lo ke sekolah?” tanya Mila penasaran. Sebenarnya sudah sejak kemarin mulutnya gatal ingin bertanya, tapi berhubung Dewi sedang sakit, dia terpaksa menundanya.


“Teman,” jawab Dewi singkat.


“Teman apa pacar?” goda Sheila seraya menyenggol bahu Dewi.


“Teman. Gue mana boleh pacaran sama ibu,” tegas Dewi.


“Teman tapi mesra maksudnya,” timpal Mila.


“Ganteng loh, Wi. Lo nemu di mana?” kini Sandra mulai bersuara.


“Nemu di angkot hahaha…” jawab Dewi asal.


“Kalau bukan pacar, boleh dong kenalin ke gue,” bujuk Mila. Usahanya mendekati Anto selama ini sia-sia. Ternyata gebetannya itu diam-diam sudah pacaran dengan teman sekelasnya sendiri.


“Anto mau dikemanain?” tanya Dewi.


“Buang aja ke laut,” jawab Mila kesal.


Adrian yang tak sengaja mendengar percapakan keempat gadis itu, jadi ikutan menyimak setelah tahu yang menjadi topik pembicaraan adalah Dewi. Dia penasaran juga dengan lelaki yang dibicarakan oleh mereka. Selain penasaran, terselip juga rasa cemburu di sana.


“Namanya siapa, Wi?” tanya Sheila.


“Namanya…”


“Pak… itu di depan ada pak Oman,” ujar Hardi.


Adrian segera beranjak dari tempatnya kemudian segera menuju ke depan vila. Dia memang meminta Hardi untuk memanggil pak Oman. Adrian bermaksud memberikan sedikit uang lelah pada pria itu karena sudah mau menggantikan tugasnya tadi. Ucapan Dewi menggantung begitu saja saat melihat sang wali kelas melintas di dekatnya.


“Namanya siapa?” desak Mila.


“Adit.”


“Oh Adit..” seru Mila, Sandra dan Sheila bersamaan.


“Beneran bukan pacar?” Sheila masih belum percaya.


“Bukan. Tapi dia bilang gue calon makmumnya, terus udah nembak gue juga.”


“Oh my God. Terus jawaban lo apa?” seru Sheila girang.


“Belum jawab juga. Abis gue bingung.”


“Bingung kenapa?”


“Bingung aja. Kita kan kenal juga belum lama, sekitar tiga bulanan lah. Tapi dia udah ngobrolin soal nikah. Malah dia simpen ATM yang isinya gaji dia ke gue.”

__ADS_1


“Ya ampun, Wi. Dia serius itu. Udah ganteng, baik, tanggung jawab lagi. Kurang apa, Wi? Terima aja. Kalau lo kelamaan jawab, tar ditikung si Mila,” Sheila terkikik geli.


“Gitu, ya. Tapi.. tau aah gue pusing.”


“Pusing kenapa sih? Jangan-jangan lo naksir cowok lain?” terka Sandra.


“Oh my God. Jangan bilang lo naksir Roxas,” seru Mila. Sontak Sheila terkejut mendengarnya.


PLETAK


Sebuah sentilan mendarat di kening Mila, dan pelakunya adalah Dewi. Gadis itu mengusap keningnya yang terkena sentilan sambil misah-misuh. Sheila terpingkal melihatnya, reaksi Dewi barusan cukup menjelaskan kalau laki-laki itu bukan Roxas.


“Gaeesss… yuk kita kumpul. Makanan udah mateng semua. Ladies.. tolong ya minumannya sekalian dibawa sama buah-buahannya juga.”


Terdengar instruksi Hardi. Semua pun bergerak melakukan apa yang diperintahkan oleh ketua kelas tersebut. Dewi membawa piring yang berisi irisan buah lalu bergabung dengan yang lainnya. Sandra, Mila dan Sheila terpaksa mengikuti langkah Dewi. Padahal mereka masih penasaran, dengan pertanyaan terakhir yang belum dijawab temannya itu.


Semuanya duduk mengelilingi api unggun yang sudah berkobar dan memancarkan kehangatan. Udara malam yang dingin sedikit tereliminir oleh pendaran hawa panas yang berasal dari pembakaran tersebut.


Sambil berbincang santai mereka menikmati makanan yang tersaji. Ada yang memakan langsung, ada juga yang ditemani nasi. Roxas memainkan gitarnya untuk menyemarakkan acara malam ini. Sheila yang awalnya duduk dekat Dewi, berpindah ke samping Roxas. Gadis itu menyuapi Roxas makanan, agar perutnya tak keroncongan saat menghibur teman-temannya.


Sambil memakan buah-buahan, Sandra terus memandangi Adrian yang tengah berbicara dengan Micky dan Hardi. Sesekali terlihat senyum pria itu yang semakin membuatnya terlihat tampan. Dan pastinya membuat Sandra bertambah cenat-cenut.


“Wi.. tadi pas di vila lo ngapain aja sama pak Rian?” tanya Sandra.


“Ngga ngapa-ngapain. Gue kebanyakan tidur. Terus bantuin dia nyiapin buat api unggun sama barbeque.”


“Beuh.. gue kalo jadi elo udah gue modusin tuh pak Rian.”


“Modusin gimana?”


“Pura-pura sakit bagian ini, bagian itu biar dipegang-pegang sama dia, hahaha…”


“Dasar..”


Tak ayal Dewi ikut tertawa mendengarnya. Namun tawanya terhenti ketika mengingat khayalan mesumnya tadi. Pipinya kembali memerah membayangkan dirinya berciuman dengan Adrian. Gadis menggelengkan kepalanya demi mengusir pikiran mesum itu lagi.


“Kenapa lo? Pusing?” tanya Sandra bingung.


Dewi mengibas-ngibaskan tangannya seperti tengah mengusir binatang pengengat itu. Sekali lagi sang nyamuk terkena fitnahan keji. Padahal mereka masih asik bergerombol di belakang pohon rimbun yang ada di dekat pagar.


“Gaaeess mohon perhatiannya sebentar ya..”


Suara Hardi langsung menghentikan kasak-kusuk yang sedari tadi terdengar bersahutan. Semua mulai fokus pada pemuda itu. Jika Hardi sudah mulai berbicara, itu tandanya, acara inti malam ini akan dimulai. Suasana seketika menjadi hening.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”


“Malam teman-teman semua, pak Rian. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih pada teman-teman sekalian dan tak lupa pada pak Rian yang ikut berpartisipasi memeriahkan acara perpisahan kelas kita tercinta. Terima kasih buat teman-temanku yang sudah menemani hari-hariku selama setahun belakangan ini. Banyak suka duka kita alami bersama. Sampai tiba waktunya kita untuk berpisah. Saya secara pribadi minta maaf kalau selama menjadi ketua kelas pernah menyinggung kalian baik sengaja atau tidak. Saya berharap persahabatan kita tetap terjaga sampai nanti. Walau kita terpisah waktu dan jarak, tapi jangan sampai terputus komunikasi supaya tali silaturahim di antara kita tetap terjaga.”


“Aamiin..” jawab yang lainnya.


Suasana mendadak menjadi sendu, perkataan Hardi barusan mengingatkan mereka kalau malam ini mungkin yang terakhir untuk mereka bisa bersama, berbagi cerita dan tawa. Momen yang sulit untuk terulang lagi ke depannya, karena mereka akan mulai sibuk dengan kehidupan masing-masing.


“Kelas IPS 3 adalah kelas yang beruntung karena mendapatkan dua wali kelas yang hebat. Bu Cahya yang baik dan selalu menyemangati kita, selalu membela di saat para guru memojokkan kita. Setelah bu Cahya pindah, kita dapat pengganti yang ngga kalah hebatnya. Terima kasih untuk pak Rian yang sudah sabar menghadapi tingkah kami yang menyebalkan, terima kasih sudah memacu semangat kami untuk belajar, terima kasih selalu meluangkan waktu untuk kami, membantu kami dan mendengarkan keluh kesah kami.


Saya tahu, jasa bapak mungkin tidak bisa diganti dengan apapun. Tapi ijinkanlah saya sebagai perwakilan teman-teman memberikan sesuatu untuk bapak. Ini hadiah dari kami, jangan dilihat dari hadiahnya, tapi lihatlah makna di baliknya. Apa yang kami berikan menandakan perasaan kami yang mendalam pada bapak. Setiap waktu yang kami habiskan bersama bapak, adalah kenangan indah untuk kami.”


Hardi berdiri kemudian mengambil benda kotak persegi yang terbungkus kertas kado. Dia berdiri kemudian berjalan mendekati wali kelasnya. Adrian berdiri menyambut kedatangan Hardi. Tangannya meraih hadiah tersebut.


“Boleh saya buka sekarang?”


“Boleh, pak,” jawab yang lain serempak.


Adrian membuka kertas kado tersebut. Ternyata isi di baliknya adalah sebuah figura yang berisikan kolase foto-foto kebersamaan penghuni IPS 3 dengan Adrian. Ada yang diambil secara candid, ada juga yang diambil dengan sengaja, seperti saat hari kelulusan dan malam perpisahan. Adrian begitu terharu menerima hadiah dari anak didiknya.


“Terima kasih untuk hadiahnya. Akan saya pajang di kamar, supaya saya bisa terus mengingat kalian.”


“Kalau boleh, bapak tetap ada di grup WA kami ya, pak. Biar kita tidak putus komunikasi,” ujar Hardi.


“Iya.”


“Bapak… huaaaa…”

__ADS_1


Bobi menghambur pada Adrian kemudian memeluk pria itu. Pemuda bertubuh gempal itu menangis sambil memeluk Adrian. Selama ini wali kelasnya itu dengan sabar membimbingnya belajar, hingga perolehan nilainya naik. Setelah melepaskan pelukannya, berturut-turut Micky, Hardi, Usep dan yang lain memeluk Adrian.


Roxas yang juga larut dalam keharuan hanya duduk di tempatnya sambil memainkan gitar. Jemarinya memetik senar gitar, memainkan lagu yang lawas yang selalu dinyanyikan saat perpisahan seperti ini.


“Kemesraan ini.. janganlah cepat berlalu, kemesraan ini ingin kukenang selalu. Hatiku damai.. jiwaku tenang di sampingmu. Hatiku damai.. jiwaku kutenang di sampingmu..”


Suara merdu Dewi terdengar menyanyikan lagu yang tak lekang dimakan masa. Tak terasa airmatanya mengalir saat bernyanyi. Satu per satu yang ada di sana menghampiri Adrian, mencium punggung tangan dan memeluknya. Mata Adrian pun nampak berkaca-kaca, keharuan memenuhi hatinya.


Roxas menaruh gitarnya kemudian menghampiri Adrian. Pemuda itu memeluk Adrian dan menangis tersedu. Di antara yang lain, mungkin dirinyalah yang paling merasakan perhatian Adrian. Bagaimana pria itu membantunya keluar dari zona degradasi, memberinya semangat sampai membantunya dalam hal finansial dan mencarikan pekerjaan. Adrian menepuk pelan punggung Roxas.


“Terima kasih, pak. Untuk semua yang bapak lakukan untuk saya. Entah bagaimana saya bisa membalas kebaikan bapak.”


“Berbakti pada enin, jadi pribadi yang lebih baik lagi, bekerja keras dan jadilah orang sukses. Itulah caramu membalasnya,” ujar Adrian seraya mengurai pelukannya.


“Iya, pak,” Roxas mengusap airmatanya.


Selain ucapan terima kasih dan pelukan, ternyata setiap murid sudah menyiapkan kado untuk wali kelas tercintanya itu. Satu per satu mereka memberikan bingkisan pada Adrian. Dan bibir pria itu tak henti mengucapkan terima kasih. Hanya Dewi yang masih bergeming di tempatnya. Gadis itu hanya memandangi teman-temannya yang bergantian menyerahkan hadiah.


Keharuan dan kemeriahan api unggun berakhir sudah. Semua sudah masuk ke dalam vila untuk beristirahat. Di saat teman-temannya sudah tidur, pelan-pelan Dewi turun dari ranjang. Dia membuka tas lalu mengambil bingkisan dari dalamnya. Kemudian gadis itu keluar dari kamar.


Suasana di luar kamar juga sudah sepi. Semuanya telah tertidur. Dewi berjalan menuju kamar Adrian, berniat meletakkan kado di depan kamar pria itu. Sejenak dia terdiam di depan pintu yang tertutup rapat.


“Belum tidur?”


Dewi terlonjak mendengar suara di belakangnya. Refleks dia membalikkan badan seraya menyembunyikan kado di belakang punggungnya. Nampak Adrian berdiri di depannya dengan gelas di tangannya.


“Eung.. i.. ini pak.. sa.. saya..”


“Kenapa?”


“Cuma mau kasih ini.”


Dewi menyerahkan kado ke tangan Adrian kemudian bergegas masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya. Adrian memandangi kotak kecil terbungkus kertas kado berwarna hijau muda. Senyumnya mengembang mengingat tingkah Dewi tadi yang menggemaskan.


🌸🌸🌸


Hari Minggu pagi, usai sarapan, semua sudah bersiap untuk pulang. Sebelumnya mereka membereskan dahulu vila juga sisa-sisa api unggun dan barbeque tadi malam. Roxas membantu Adrian membereskan hadiah yang diberikan teman-temannya lalu membawanya ke mobil wali kelasnya itu. Adrian meminta Roxas menaruh semua hadiah ke bagasi. Sebelum menutup bagasi, Adrian mengambil paper bag yang ada di sana lalu memindahkannya ke jok tengah.


“Gaeess.. berhubung barang bawaan udah ngga ada kecuali tas masing-masing. Jadi untuk kepulangan, kita atur berdasarkan tujuan rumah masing-masing, ya. Yang cowok semua ikut Saddam sama Willy. Nah yang cewek, ikut gue sama Roxas. Yang rumahnya searah sama Sandra, silahkan ikut Roxas.”


“Gue ikut mobil pak Adrian aja,” seru Mila.


“Elo ikut gue, kan rumah lo deket sama Sandra. Irma sama Sheila juga, terus Puspa. Semuanya ikut gue. Sisanya ikut Hardi.”


“Termasuk Dewi?” tanya Hardi.


“Kaga, dia ikut pak Rian.”


“Dih, curang. Kok Dewi ikut pak Rian?” protes Sandra.


“Kan rumahnya pak Rian searah sama rumahnya Dewi,” Roxas beralasan.


Sandra langsung terdiam begitu mendengarnya. padahal Roxas sama sekali tidak tahu di mana kediaman Adrian. Dia hanya asal saja mengatakan itu agar sang sahabat bisa naik mobil berdua saja dengan wali kelasnya. Anggap saja apa yang dilakukannya ini sebagai bentuk balas budinya pada Adrian. Memberikan mereka waktu berduaan.


Setelah sepakat dengan apa yang dikatakan Roxas, semua pun menaiki mobil yang telah ditentukan. Roxas mendekati Dewi lalu mengatakan kalau gadis itu akan ikut mobil Adrian. Dewi jelas menolak, namun Roxas tak mempedulikannya. Dia tahu dibalik penolakan Dewi, ada kebahagiaan yang terselip.


Heleh api-api sia. Padahal mah atoh balik duaan hungkul jeung pak Rian (Heleh pura-pura aja, lo. Padahal seneng pulang berdua aja sama pak Rian).


Roxas membukakan pintu depan mobil Adrian lalu mendorong sahabatnya itu untuk masuk. Adrian tersenyum tipis melihatnya. Tak lama pria itu naik ke mobil. Dewi menundukkan kepalanya, tak berani melihat pada Adrian. Karena setiap beradu mata, maka secara otomatis barisan marching band akan bermain di jantungnya. Adrian menjalankan kendaraannya begitu melihat mobil Hardi dan Roxas mulai bergerak.


🌸🌸🌸


**Kemarin banyak yang kecewa adegan kissing Dewi & Adrian cuma khayalan. Oalah ternyata mak emak ini pada ngeres pikirannya. Wes tak sapu dulu biar bersih🤣🤣🤣


Aku ngakak pas ngeuh typo tinggi curug 15cm, maksudnya 15 meter🤭 Kalau yang 15cm mah panjang anu🏃🏃🏃🏃


Terima kasih buat yang ngga nabung bab. Cukup aku aja yang nabung bab, biar lancar up date dan Jumat ngga bolong😉


Tiap hari In Syaa Allah, aku rutin up novel jam setengah 6, paling telat jam 6. Kalau nongolnya siang, berarti proses reviewnya yang lama. Yang tanya visual Dewi sama Adrian, ada di bab 1 dan 2 ya.


BTW ada yg nyasar di mari nih. Ada yg kenal ngga?🏃🏃🏃**


__ADS_1


__ADS_2