Naik Ranjang

Naik Ranjang
Dan Terjadi Lagi...


__ADS_3

“Can you tell me, how can I get to Lembang by using public transportation? (bisakah kamu katakan bagaimana caranya sampai ke Lembang pake angkot?).”


“Pardon..” hanya satu kata itu yang terucap dari mulut Roxas. Dia bisa menangkap kata Lembang tapi sisanya benar-benar tak mengerti.


“What public transportation can take me to Lembang? (angkot apa yang bisa membawaku ke Lembang?),” ulang bule tersebbut.


“Aahh.. Lembang?”


“Yes..”


Roxas terdiam sebentar. Dia sebenarnya mengerti apa yang ditanyakan oleh bule itu. Tapi masalahnya bagaimana caranya menerangkan naik angkot apa supaya bisa sampai ke sana. Tidak mungkin juga dia menerangkan menggunakan bahasa Sunda. Bisa-bisa jadi Jaka Sembung makan permen, ngga nyambung men..


“To be honest, I want to feel what it's like to travel around using public transportation. The feeling is definitely different. Moreover, public transportation here is not the same as in my country (sejujurnya saya ingin merasakan bagaimana rasanya jalan-jalan menggunakan angkot. Sensasinya pasti beda. Apalagi angkot di sini tidak sama seperti di negara saya).”


Untuk yang satu ini Roxas benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan bule tersebut. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya melemparkan cengiran khasnya. Matanya melirik ke arah front desk, Petra masih belum kembali ke tempatnya. Yuni juga belum kembali. Entah menyangkut di mana mereka semua.


“You know, I really like Indonesia, this country have so many culture and uniquennes. You must be agree with me (kamu tahu, saya sangat suka Indonesia, negara ini punya banyak budaya dan keunikan. Kamu pasti setuju denganku).”


Duh sumpah, aing mah kajeun dititah manggul beas sapuluh kali balikan dari pada panggih jeung nu kieu patut. Ai sia ngomong naon? Teu ngarti aing, Gusti.. tulungan atuh (sumpah, gue mending disuruh angkut beras 10 kali balikan dari pada ketemu orang model gini. Lo ngomong apa sih? Ngga ngerti gue, Tuhan.. tolong aku).”


“So what public transportation I can use? (jadi angkot apa yang harus saya pakai?).”


Dipandanginya sejenak pria bule berusia tiga puluh tahunan ini. Tidak jawab salah, mau jawab pun bingung harus bagaimana. Roxas mengambil nafas dalam-dalam, mau tak mau dia harus menjawab.


“Bapak kedah jalan heula ka jalan Dewi Sartika. Ti dinya bapak tiasa naik angkot nu ka Ledeng, turun di terminal Ledeng terus naik elf ka Lembang. Tah kitu carana pak (bapak harus jalan dulu ke jalan Dewi Sartika. Dari situ bapak naik angkot yang ke Ledeng, turun di terminal Ledeng terus naik elf ke Lembang).”


KRIK


KRIK


KRIK


Mungkin begitulah bunyi kepala sang bule ketika Roxas menjawab pertanyaannya dengan bahasa Sunda. Mata pria itu mengerjap beberapa kali. Dia tahu kalau Roxas menjawabnya dengan bahasa Sunda, tapi masalahnya dia tidak mengerti apa yang dikatakannya.


“Wait.. I’m confuse (tunggu, saya bingung).”


“Sarua pak, abe ge lieur. Kudu kumaha ngajawab pertanyaan bapak. Cik atuhlah make bahasa Indo we lah tong bahasa Inggris, sumpah lieur pak. (sama pak, saya juga pusing. Harus gimana jawab pertanyaan bapak. Coba pak pake bahasa Indo aja jangan bahasa Inggris, sumpah pusing pak).”


“You trying to fool me? Why you answer me using Sundanesse. I can’t understand what you say (kamu coba membodohi saya? Kenapa kamu menjawab dengan bahasa Sunda? Saya ngga ngerti apa yang kamu bilang).”


Roxas menggaruk kepalanya, bukan hanya pria itu, tapi dirinya juga pusing tujuh keliling. Matanya berputar mencari bala bantuan yang sialnya, mereka seolah menghilang. Tak mungkin juga dia mengarahkan sang bule ke resepsionis. Mereka terlihat sibuk menangani beberapa tamu.


“Sorry mister.. sorry.. I can’t speak english banyak-banyak..”


“What?”


“Duh.. kumaha nya.. mister walking-walking to Dewi Sartika.. ngke naik angkot jurusan Ledeng nepi ka terminal Ledeng. Ngarti teu? (duh gimana ya.. mister jalan-jalan ke Dewi Sartika, nanti naik angkot jurusan Ledeng sampe ke terminal Ledeng. Ngerti ngga?).”


“What are you talking about?! (apa yang kamu bicarakan?!).”


Suara pria bule itu mulai meninggi. Dia juga sudah kehilangan kesabaran berbicara dengan Roxas. Dipikirnya pemuda itu tengah meledeknya. Pria tersebut sampai berkacak pinggang pada Roxas. Petra yang baru saja kembali segera berlari menghampiri mereka.


“Excuse me, sir. Can I help you?”


“Who the hell is he? (dia siapa?).”


“Can you come with me, Sir.. (bapak bisa ikut saya?).”


Petra segera membawa bule itu pergi dari hadapan Roxas. Dia mempersilahkan pria itu duduk di depan front desk. Dengan sabar Petra mendengarkan keluh kesal amu tersebut yang merasa dipermainkan oleh tamu. Dengan hati-hati Petra menerangkan kondisi Roxas. Dia juga meminta maaf atas nama Roxas. Secara detil dia memberitahu bagaimana caranya menuju Lembang dengan menggunakan angkot.


🌸🌸🌸


“Kubilang juga apa? Roxas itu ngga cocok ada di bagian depan. Kan kejadian yang aku khawatirkan. Untung aja tuh tamu ngga complain,” cerocos Pipit.


Saat ini Pipit tengah rapat bersama dengan kepala bagian HRD, chief concierge dan juga GM. Kemarin dia mengusulkan untuk memindahkan Roxas ke bagian belakang, tidak berhadapan dengan tamu secara langsung. Tapi tidak ada yang menanggapinya. Dan setelah kejadian tadi siang, dia kembali mencetuskan ide tersebut.


“Maaf sebelumnya bu Fitria. Selama ini kinerja Roxas bagus di depan. Banyak tamu yang menyukainya. Anggap saja tadi dia sedang sial. Kebetulan staf concierge sedang tidak ada di tempat. Lagi pula ini kasus pertama dan tidak fatal juga,” ujar Asra, chief concierge.


“Gimana ngga fatal? Dia jawab pertanyaan tamu itu pake bahasa Sunda. Gimana tamu itu ngerti coba?”


Asra hanya mengulum senyum saja. Tadi Petra sudah menceritakan semua yang terjadi. Dan sebenarnya tidak ada masalah juga dengan sang tamu. Malah tadi dia sempat berfoto ria dengan Roxas. Kesalahpahaman di antara mereka sudah terselesaikan.


“Sebentar-sebentar.. boleh saya berbicara bu Fitria?” tanya Mahes yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


“Silahkan, pak.”


“Kalau menurut saya, Roxas tidak perlu dipindahkan. Dia itu icon hotel kita. Lihat wajahnya yang bule tapi fasih berbahasa Sunda. Mempertahankan Roxas berada di garda terdepan hotel kita justru memperlihatkan kalau hotel kita yang bertaraf internasional masih mempertahankan kebudayaan Sunda, ngamumule istilahnya. Dan saya malah berpikiran untuk mengangkat dia sebagai brand ambassador hotel ini.”


“What??!!!”


Mata Fitria membelalak mendengarnya. Dia tak percaya Mahes mempunyai ide segila itu. dari segi wajah, Roxas memang oke, tapi untuk menjadi brand ambassador, dia tak berpikir sejauh itu.


“Pak Mahes serius mau menjadikan Roxas brand ambassador kita?” tanya Asra yang juga terkejut mendengarnya.


“Iya. Saya kasih bapak waktu dua bulan untuk membentuknya menjadi brand ambassador. Beri dia pengetahuan tentang hotel kita, kalau perlu sewa guru kepribadian untuk mengajarinya. Dan bu Susan, umumkan kepada public kalau kita membuka audisi untuk brand ambassador, pesertanya harus wanita. Nanti yang terpilih akan mendampingi Roxas.”


Pipit menepuk keningnya mendengar penuturan Mahes. Tak mengerti jalan pikiran pria itu. Bisa-bisanya dia ingin menjadikan Roxas brand ambassador. Asra hanya bisa mengulum senyum saja. Dibalik musibah ternyata ada keuntungan tersendiri. Tentu saja dia senang salah satu pegawai DW di departemennya bisa menjadi brand ambassador.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Di bawah pohon besar, Dewi, Sheila, Mila dan Sandra tengah bersantai di sana. Mereka baru saja mengambil jadwal untuk ujian akhir semester 2. Tak terasa sebentar lagi genap setahun mereka menyandang status sebagai mahasiswi. Sejauh ini mereka cukup puas dengan hasil belajarnya.


Sheila sedari tadi sibuk berselancar dengan ponselnya. Gadis itu melihat iklan yang ada dikeluarkan oleh Amarta hotel. Hotel bintang lima tersebut sedang mencari brand ambassador. Ada keinginan Sheila untuk mengikuti kontes tersebut.


“Gaeess menurut kalian, aku kalau ikut ini peluangnya gimana?”


Sheila memperlihatkan ponsel di tangannya. Sontak semuanya langsung melihat pada benda pipih persegi tersebut. Dewi langsung mengenali hotel tersebut, karena di sana Aditya bekerja.


“Ini kan hotel tempat Adit sama si Rox kerja,” celetuk Dewi.


“Eh bener, Wi?” Sheila cukup terkejut mendengarnya.


“Iya. Lo mau ikutan Shei? Ikut aja, siapa tahu menang,” Dewi menyemangati temannya itu.


“Ngga tau juga sih. Pasti saingannya berat.”


“Udah modal nekad aja dulu,” Mila ikut menyemangati.


“Iya, Shei.. udah ikut aja, gue dukung.”


“Gitu ya? Ya udah deh, gue daftar aja sekarang. Audisinya masih lama juga, abis ujian.”


“Buruan daftar.”


Sheila segera mengakses formulir pendaftaran yang ada di situs. Dia mengisi semua data pribadi yang tertera di sana. Dewi dan yang lainnya membantu saat Sheila memilih foto yang hendak dikirimkan. Gadis itu berharap dirinya bisa lolos seleksi tahap pertama. Semoga ini menjadi jalan untuknya menekuni dunia model.


“Eh gue balik duluan, ya,” ujar Mila seraya menyampirkan tas ke pundaknya.


“Bareng, Mil. Kalian mau pulang ngga?” tanya Sandra.


“Bentar lagi, kita mah. Dewi masih nunggu mahasiswa yang mau setor tugas.”


“Ok deh. Kita duluan, papayo..”


“Papay,” jawab Dewi dan Sheila bersamaan.


Selepas kedua temannya pergi, beberapa mahasiswa datang untuk menyetorkan tugas mereka pada Dewi. Ini adalah waktu terakhir yang diberikan Adrian untuk menyetor tugas. Banyak yang minta keringanan waktu pada Dewi sampai jam tiga sore. Karena tak tega, akhirnya Dewi menyetujuinya.


Sheila membantu Dewi menyusun tugas-tugas tersebut sesuai dengan kelas mereka. Lumayan banyak juga yang belum menyetor tugas. Entah keteteran mengerjakan tugas dari tiap mata kuliah, atau malas saja.


Tepat jam tiga, Dewi membawa semua tugas ke ruang dosen. Nampak Adrian juga baru masuk ke dalamnya. Pria itu baru selesai mengisi materi di kelas lain. Dewi langsung menaruh tumpukan tugas di atas meja sang dosen.


“Sudah semua?” tanya Adrian.


“Ok.. terima kasih.”


“Sama-sama, pak. Saya permisi dulu.”


Ketika Dewi berbalik, Jiya masuk ke dalam ruangan. Wajah wanita itu nampak pucat. Dia melemparkan senyum pada Dewi dan Sheila. Saat tengah melintasi kedua gadis itu, tubuh Jiya ambruk. Terkejut dan refleks, Dewi dan Sheila menangkap tubuh Jiya. Adrian bergegas mendekat lalu membopong dosen wanita itu ke sofa. Beberapa dosen yang ada di ruangan ikut terkejut, mereka segera mendekati Jiya.


Yeyen, salah satu dosen di sana mendekati Jiya. Dia mengeluarkan minyak kayu putih dari saku bajunya lalu menempelkan jarinya. Didekatkan jari itu ke dekat hidung Jiya. Tak berapa lama wanita itu terbangun. Yeyen membantu Jiya untuk duduk. Adrian memberikan segelas air putih untuknya. Dewi dan Sheila masih terpaku di tempatnya, mereka masih terkejut dengan apa yang terjadi.


“Bu Jiya ngga apa-apa?”


“Iya, bu. Makasih, maaf sudah merepotkan.”


“Sebaiknya ibu ke dokter aja. Biar saya antar,” tawar Adrian.


“Nah ide bagus itu. Ayo bu.”


Yeyen dan juga Vira, membantu wanita itu untuk berdiri. Adrian membawakan tasnya kemudian berjalan lebih dulu menuju tempatnya memarkir mobil. Dewi dan Sheila juga ikut keluar. Mata Dewi hanya memandangi Adrian yang nampak cekatan membantu Sheila. Ada rasa panas menjalari hatinya.


Adrian menghentikan mobil di dekat Jiya. Yeyen membukakan pintu lalu membantu wanita itu untuk duduk. Setelahnya mobil tersebut langsung melaju meninggalkan area kampus. Tak satu pun pemandangan tadi luput dari tatapan Dewi. Tak sadar tangannya mengepal erat, menahan rasa cemburu yang melandanya.


“Wi.. lo kenapa?” tanya Sheila yang aneh melihat gerak-gerik temannya.


“Gue pikir gue udah ngga ada perasaan lagi sama dia. Ternyata gue salah.”


Dewi jatuh terduduk di trotoar kampus. Sheila segera menarik gadis itu, kemudian menuju bangku semen yang ada di dekat pintu masuk fakultas. Dewi masih terdiam, dadanya terasa sesak melihat Adrian begitu perhatian pada Jiya. Bahkan pria itu menawarkan diri mengantar Jiya ke dokter.


“Kondisi bu Jiya lagi ngga baik. Wajar aja sih kalo pak Adrian nawarin nganter ke dokter. Lo cemburu, Wi? Katanya lo udah ngga ada perasaan lagi sama dia.”


“Ngga tau, Shei.. kenapa sakit ya lihat dia perhatian sama cewek lain. Gue beneran ngga suka dengan situasi ini. Harusnya gue fokus aja ke Adit, ngga usah mikirin dia lagi. Tapi kenapa dia kaya gitu? Apa dia sengaja mau manasin gue?”


“Kalo menurut gue ngga, Wi. Udah lo ngga usah pikirin pak Rian lagi. Lo sekarang udah ada Adit. Fokus aja ke Adit. Ngelupain perasaan cinta ngga segampang balikin telapak tangan, tapi bukan berarti ngga mungkin. Lo cuma harus lebih berusaha lagi. Ingat bagaimana perjuangan Adit buat elo selama ini. Jangan kecewain dia, karena dia ngga salah apa-apa. Tapi kalau lo ngga sanggup, berhenti. Jangan siksa dia.”


Dewi terdiam merenungi semua ucapan Sheila. Gadis itu masih shock setelah menyadari rasa itu masih ada, tersimpan jauh di lubuk hatinya. Beberapa kali Dewi menarik nafas panjang, kemudian bangun dari duduknya.


“Lo bener, Shei.. gue ngga boleh terus terkungkung sama masa lalu. Hubungan gue dan pak Rian udah ngga mungkin. Sekarang gue cuma mau fokus ke Adit. Dia yang selama ini ada di samping gue, bantu gue nyembuhin luka yang diberi abangnya.”


“Nah gitu dong, Wi. Ayo kita move on, jangan terpaku sama orang yang tidak mencintai kita. Masih banyak orang yang sayang sama kita.”


“Lo sendiri sama Rivan?”


“Gue lagi coba jalanin. Mudah-mudahan aja, Wi.”

__ADS_1


“Aamiin..”


Kedua gadis itu melanjutkan perjalanannya lagi. Mereka segera menuju gerbang kampus. Sesampainya di sana, nampak dua buah motor tengah menunggu. Penunggangnya adalah Aditya dan Rivan. Senyum Dewi mengembang melihat Aditya datang menjemputnya. Dia segera menghampiri pemuda tersebut.


“Kok ngga bilang mau jemput?”


“Iseng aja tadi ke sini, siapa tau kamu belum pulang.”


“Hai.. Riv,” sapa Sheila.


“Hai.. ayo naik,” ajak Rivan seraya memberikan helm pada gadis itu.


“Kita jalan-jalan dulu gimana? Double date gitu,” usul Rivan setelah Sheila duduk di belakangnya.


“Kamu mau, De?” Aditya menoleh ke belakang.


“Boleh.”


“Ayo.”


Aditya mulai menjalankan kendaraannya. Kedua kuda besi itu berjalan melintasi jalan raya yang kondisinya sudah mulai dipadati kendaraan. Mereka mengambil jalan menuju Ciumbuleuit, Rivan mengajak mereka makan di saung neneknya. Nenek Rivan memang membuka rumah makan di sana. Perasaan Dewi yang tadi galau, sedikit demi sedikit mulai membaik.


🌸🌸🌸


Adrian menghentikan kendaraannya di depan rumah bercat putih. Setelah mengantarkan Jiya memeriksakan diri ke dokter, pria itu mengantarkannya ke rumah. Dia turun dari mobil kemudian membantu Jiya yang kondisinya masih sedikit lemah. Dokter mengatakan kalau wanita itu kelelahan dan harus banyak istirahat.


Kedatangan Jiya langsung disambut oleh mamanya. Wanita paruh baya itu terkejut melihat anaknya datang dalam keadaan lemas dan wajahnya pucat. Adrian menjelaskan apa yang terjadi dengan Jiya tadi. Mama Jiya segera membawa anak bungsunya itu ke kamar. Setelah membantu Jiya berbaring, wanita itu keluar dari kamar. Dia kembali menghampiri Adrian di ruang tamu.


“Terima kasih ya, nak…”


“Adrian, bu. Saya rekan kerjanya di kampus.”


“Ah ya. Adrian.. terima kasih sudah mengantar Jiya pulang. Mau minum apa?”


“Tidak usah repot-repot, bu. Terima kasih, saya langsung pulang saja.”


“Sekali lagi terima kasih.”


“Iya, bu.”


Adrian berdiri dari duduknya kemudian keluar dari rumah yang ukurannya cukup besar tersebut. Sepertinya keluarga Jiya termasuk keluarga berada. Ruang tamunya saja dipenuhi oleh barang-barang bermerk. Saat Adrian akan masuk ke mobilnya, sebuah Mercedes Benz berhenti di belakang kendaraannya. Dari dalamnya turun seorang pria paruh baya. Adrian menganggukkan kepala padanya. Menurut perkiraan, pria itu adalah ayah Jiya.


“Pa.. sudah pulang,” sambut sang istri.


“Iya.”


“Kenalkan, ini Adrian. Dia tadi mengantar Jiya pulang. Jiya sakit.”


“Sakit? Sakit apa?” suara pria itu terdengar cemas.


“Kecapean katanya.”


“Makasih nak Rian. Sudah mau mengantarkan Jiya pulang,” pria itu menyalami Adrian.


“Sama-sama, pak. Saya permisi dulu, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Adrian segera naik ke mobilnya kemudian menjalankan kendaraan roda empat itu. sepasang suami istri tersebut masih terpaku di tempatnya. Mereka terus melihat mobil Adrian yang bergerak semakin menjauh.


“Jiya benar tidak apa-apa?”


“Iya, pa. Tadi juga sudah diantar ke dokter.”


“Syukurlah, papa takut terjadi sesuatu pada Jiya.”


“Laki-laki tadi, pria yang disukai anakmu.”


“Benarkah?”


“Huum.. Jiya pernah cerita di jurusan tempatnya mengajar ada dosen muda, namanya Adrian. Pasti dia orangnya, mama yakin sekali.”


“Apa dia menyukai Jiya?”


“Ngga tau juga, pa. Semoga aja. Jarang-jarang kan Jiya tertarik lebih dulu sama lelaki.”


“Semoga dia punya perasaan yang sama ke Jiya.”


“Aamiin..”


Sambil merangkul bahu sang istri, pria itu masuk ke dalam rumah. Sedangkan sang supir memasukkan mobil ke dalam garasi.


🌸🌸🌸


**Nah loh ortunya Jiya ngarep🙈


Roxas... Sengsara membawa berkah yee🤣

__ADS_1


To all readers... Selamat tahun baru, terima kasih sudah menemaniku setahun ini. Sampai bertemu tahun depan, papayo🖐️🖐️🖐️**


__ADS_2