
Beberapa menit sebelum kematian Amanda
PLAK!!
“JANGAN PERNAH BERANI MELAKUKAN ITU!! AKU BISA MELENYAPKANMU KAPAN SAJA!!”
Aditya yang baru saja keluar dari kamar yang ditempati Setya terkejut mendengar suara gaduh yang berasal dari kamar sebelahnya. Pintu kamar memang tidak tertutup, jadi pria itu bisa mendengar pertengkaran yang terjadi. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Indira menampar Amanda tadi.
Indira terkejut melihat Aditya yang menyaksikan apa yang terjadi antara dirinya dengan Amanda. Dia memandangi pria itu hingga Aditya segera pergi. Indira kembali fokus pada Amanda. Wanita itu memegangi pipinya yang terkena tamparan sambil memandang Indira dengan mata nyalangnya.
“Lihat saja, aku akan membalas semua perbuatanmu padaku.”
“Jangan banyak bicara. Tinggalkan saja Mahes, kalau kamu hidupmu tenang.”
Indira menyambar tasnya yang ada di atas nakas. Dia melihat sekilas pada Amanda sebelum keluar dari kamar. Di depan kamar dia melihat Ara tengah berbincang dengan Aditya. Dari bahasa tubuh mereka terlihat kalau keduanya tidak akur.
“Jangan terlalu percaya diri. Cinta bang Ad padamu sudah lama hilang, sejak dia memergokimu bercumbu dengan dosenmu sendiri. Jadi.. berhentilah mengejar bang Ad. Dia bukan pria lugu yang bisa kamu permainkan seenaknya.”
Aditya menepuk bahu Ara tapu kemudian meniupnya seolah bahu tersebut kotor dan penuh debu. Tanpa mempedulikan tatapan tajam Ara padanya, pria itu masuk ke dalam lift dengan santai.
Setelah pintu lift tertutup, Ara membenarkan rambutnya kemudian berjalan ke tempat tujuannya. Di tengah koridor dia berhenti tepat di depan Indira yang melangkah ke arahnya.
“Bagaimana? Kamu sudah berbicara dengannya?” tanya Ara.
“Hmm.. dia cukup keras kepala juga.”
“Tenang saja. Aku yakin Mahes tidak akan mempedulikannya.”
“Tapi aku takut dia mendatangi keluargaku.”
“Kita akan pikirkan cara lain. Ayo kita ke bawah, Jangan tinggalkan suami terlalu lama sendiri. Banyak yang menginginkan suamimu.”
Ara menarik tangan Indira, mereka berjalan menuju lift. Setelah menunggu sebentar, lift yang ditunggu akhirnya tiba juga. Keduanya segera masuk ke dalam lift. Ara memijit tombol G dan kotak besi tersebut bergerak turun ke bawah.
“Aku heran, kenapa kamu masih mempertahankan Mahes? Segitu cintanya kamu sama dia?” tanya Ara.
“Selain itu, aku juga tidak mau kedua kakakku menunjuk keningku. Mereka yang menentang mati-matian hubunganku dengan Mahes. Aku bahkan sampai bersujud di bawah kaki papa agar menyetujui pernikahan kami. Aku tidak mau terlihat kalah dan membiarkan kedua kakakku tersenyum menang karena perkiraannya benar.”
“Tapi hidupmu akan menderita kalau tetap bersama dengan Mahes.”
“Tidak mengapa. Aku akan membuat Mahes tetap di sisiku. Masalah Amanda bisa menekannya untuk tetap di sampingku. Lalu bagaimana denganmu? Mahes adalah temanmu, tapi kenapa kamu berpihak padaku?”
“Mau jawaban jujur? Tentu saja uang jawabannya.”
Ara tersenyum miring. Sejatinya dia tidak peduli dengan permasalahan Mahes, Indira dan Amanda. Dia hanya menginginkan uang saja. Wanita itu bisa mendapatkan uang dari Mahes juga Indira. Tak ada yang lebih berharga untuknya sekarang selain uang. Dan dengan bodohnya Indira percaya saja. Tanpa wanita itu tahu kalau Ara termasuk salah satu selimut hidup suaminya.
Sementara itu, sepeninggal Indira, Amanda masih bertahan di tempatnya. Wanita itu menangis tersedu, harga dirinya serasa terhina oleh sikap angkuh Indira. Dia bersumpah akan merebut Mahes dari wanita itu.
Amanda menyeka airmatanya, kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya. Sebuah pesan dari Mahes masuk ke ponselnya. Pria itu memintanya bertemu di rooftop hotel. Mahes sudah menyiapkan kejutan untuknya. Senyum Amanda mengembang membaca pesan tersebut.
Setelah memasukkan kembali ponsel ke dalam tas, Amanda berdiri. Dia menghapus sisa airmata di wajah, baru kemudian keluar dari kamar. Cukup lama wanita itu berdiri di depan lift, menunggu kotak besi tersebut sampai ke lantainya. Setelah pintu lift terbuka, Amanda segera masuk ke dalamnya. Tangannya memijit lantai 20. Lantai tertinggi di hotel ini.
Sesampainya di rooftop, Amanda melihat ke sekeliling. Suasana rooftop sepi dan juga gelap. Kepalanya mendongak ketika melihat sebuah drone melintas di atasnya. Tiba-tiba saja dia merasakan pukulan benda tumpul di kepalanya. Seketika tubuh tersebut ambruk.
Amanda yang sudah tak sadarkan diri terseret menuju pagar balkon. Seseorang nampak menyeret tubuh wanita hamil itu. Kemudian dengan susah payah dia menarik tubuh Amanda hingga berdiri. Disandarkan sebentar Amanda ke tembok pembatas rooftop. Kemudian dengan sekuat tenaga melemparkan Amanda ke bawah.
Tubuh Amanda meluncur turun ke bawah melewati jendela kamar Setya yang gordennya terbuka, membuat pasangan tersebut terkejut. Gaya gravitasi menarik Amanda terus turun ke bawah hingga akhirnya jatuh menimpa sebuah mobil di bawahnya. Seketika suara alarm mobil terdengar, mengejutkan semua orang yang ada di sana.
🌸🌸🌸
Fajar masuk ke dalam ruang interogasi. Ini kedua kalinya dia akan menginterogasi Mahes. Teman di sekolahnya itu duduk sambil menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya menatap lurus pada Fajar. Dia tak pernah menyangka berhadapan dengan Fajar di ruang interogasi.
“Apalagi yang mau kamu tanyakan? Aku sudah mengatakan saat Amanda terjatuh ada di dalam ballroom,” ujar Mahes membuka pembicaraan.
“Kamu memang berada di sana, tapi bukan berarti kamu tidak mengirimkan orang itu melenyapkannya.”
“Untuk apa aku melenyapkannya?”
“Karena dia sedang mengandung anakmu. Posisimu terancam karenanya.”
Mulut Mahes terbungkam mendengar ucapan Fajar. Pria itu tak pernah menyangka hubungannya dengan Amanda akan serumit ini. Hidupnya kacau, rencananya berantakan dan dia harus berhadapan dengan temannya sendiri yang seorang reserse kriminal.
“Dengar.. aku tidak membunuh Amanda, atau menyuruh orang untuk melakukannya.”
“Tapi di hape Amanda terdapat pesan darimu yang menyuruhnya ke rooftop.”
“Hapeku hilang. Berapa kali aku harus mengatakannya,” Mahes menepuk keningnya dengan kesal. Fajar terus memojokkan dirinya.
“Kapan hapemu hilang?”
__ADS_1
“Dua jam sebelum acara. Entahlah aku tidak tahu pasti. Karena kesibukan di hotel aku tidak menyadarinya.”
“Kamu tahu kalau selain dirimu, istrimu juga menjadi tersangka utama?”
“Indira?”
Mata Mahes membulat mendengarnya. Jika Indira menjadi tersangka utama, berarti istrinya tahu soal hubungan gelapnya dengan Amanda. Pria itu meremat rambutnya dengan erat. Kepalanya seperti mau pecah.
Proses interogasi terhenti ketika ponsel Fajar berdering. Pria itu segera menjawab panggilannya ketika dia melihat nama Aditya tertera di layar ponsel.
“Halo..”
“Halo, bang. Aku udah dapet rekaman dari drone.”
“Kamu di mana?”
“Aku lagi di kantor. Aku masih nunggu bang Setya. Dia yang punya rekaman itu.”
“Kamu tunggu di sana. Abang ke sana sekarang.”
“Kita ketemu di dojang hero aja, bang.”
“Oke.”
Setelah panggilan dari Aditya berakhir, Fajar bergegas keluar dari ruangan interogasi. Dia meninggalkan Mahes begitu saja dan menitipkan pada anak buahnya untuk melanjutkan interogasi. Pria itu masuk ke dalam mobil kemudian meluncur pergi.
🌸🌸🌸
Baru saja Aditya selesai menghubungi Fajar, Setya sudah sampai di kantor label rekaman The Soul. Demi keamanan mereka sepakat bertemu di kantor. Aditya mengajak Setya menuju ruangan Wira. Dia membuka rekaman drone melalui laptop yang ada di sana. Wajah pembunuh Amanda tertangkap jelas melalui kamera drone tersebut.
Aditya sungguh tak menyangka melihat sang pelaku pembunuhan. Hatinya tiba-tiba resah, takut kalau orang-orang terdekatnya terancam keselamatannya. Selain pria itu, Setya juga merasakan keresahan yang sama.
“Sebenarnya setelah aku mengambil rekaman, ada yang datang menemui adikku. Beruntung dia sudah menghapus rekaman di drone. Tapi aku ngga yakin kalau mereka percaya. Kamu harus berhati-hati.”
“Abang sendiri gimana?”
“Tenang aja, aku ke sini ngga sendiri. Ada beberapa teman yang menemani untuk jaga-jaga. Kamu jangan pergi sendiri. Sepertinya aku diikuti oleh mereka.”
“Iya, bang.”
“Aku pergi dulu. Hati-hati, Dit.”
Setelah mengosongkan usb, Aditya menyalin rekaman drone ke dalam usb. Sejenak dia menimbang, kemana dia harus menyimpan usb ini. Terlalu riskan jika menitipkan pada personil band-nya atau Adrian. Mereka pasti yang disasar lebih dulu. Tangan pria itu terus men-scroll deretan kontak di ponselnya. Kemudian dia berhenti di nama Dita. Aditya memutuskan menghubungi wanita tersebut.
“Halo.”
“Halo, Ta. Lagi sibuk ngga?”
“Ngga, kenapa?”
“Bisa ke kantor labelku ngga, sekarang?”
“Bisa. Di mana?”
“Aku kirim lokasinya. Nanti langsung naik aja ke lantai dua.”
“Ok.”
Panggilan pun berakhir. Sambil menunggu Dita datang, Aditya kembali menghubungi Fajar. Dia bermaksud merubah lokasi pertemuan, namun pria itu tak kunjung menjawab panggilannya. Akhirnya dia memilih mengirimkan pesan. Mengatakan akan mengirimkan lokasi keberadaannya jika sudah meninggalkan kantor.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit, Dita sampai di kantor. Wanita itu segera menuju ke lantai dua. Aditya meminta Dita masuk ke dalam ruangan Wira. Kini dia sudah duduk berhadapan dengan Aditya.
“Ada apa, Dit?”
“Aku mau minta tolong. Kamu bisa ngga simpan ini untukku?” Aditya memberikan usb di tangannya.
“Simpan aja?”
“Iya. Jangan kasih siapa pun kecuali aku atau bang Ad yang minta. Bisa kan?”
“Ok.”
“Makasih ya, Ta.”
“Sama-sama, Dit.”
“Senang bisa kenal sama kamu. Maaf ya kalau aku punya salah atau nyinggung kamu.”
“Apaan sih kamu. Lebaran masih jauh keles,” Dita tertawa kecil, mencoba mengenyahkan perasaan aneh yang menghinggapinya.
__ADS_1
“Udah nih?” tanya Dita.
“Udah.”
“Kalau gitu, aku pulang ya.”
“Ok. Sekali lagi terima kasih.”
Dita hanya mengangkat jempolnya saja, kemudian wanita itu beranjak dari duduknya. Aditya hanya memandangi saja kepergian Dita. Berharap pembunuh Amanda tidak mengetahui keberadaan Dita sebagai salah satu orang yang dekat dengannya.
Sepuluh menit setelah Dita pergi, barulah Aditya beranjak pergi. Pria itu naik ke atas tunggangannya lalu mengenakan helmnya. Pandangannya mengedar beberapa saat, mencoba mencari tahu apakah ada orang yang menguntitnya. Dia lalu segera melajukan kendaraannya.
Aditya memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sesekali dia melihat kaca spionnya. Sejak dirinya meninggalkan kantor hingga kini, ada sebuah sepeda motor yang terus mengikutinya. Terdapat dua orang bertubuh tegap yang ada di atas motor yang mengikutinya.
Sadar keadannya berada dalam bahaya, Aditya menepikan kendaraannya di depan kios rokok. Dia membeli minuman terlebih dahulu, kemudian mendudukkan diri di atas motornya. Motor yang mengikutinya juga ikut berhenti. Aditya mengambil ponsel di saku jaketnya kemudian kembali menghubungi Fajar.
“Halo.”
“Kamu di mana? Abang udah di dojang,” tanya Fajar dari sebrang.
“Aku masih di jalan. Aku kirim lokasinya sekarang, bang. Ada yang ikutin aku.”
“Tetap di tempat ramai, supaya mereka tidak bisa melukaimu.”
“Iya, bang.”
Aditya kembali memasukkan ponsel ke saku jaketnya setelah panggilan berakhir. Di tempatnya sekarang ada beberapa ojek online yang berkumpul. Sepertinya orang yang mengikutinya tidak akan berani menyerangnya di sini.
Sepuluh menit berlalu, namun Fajar belum juga tiba. Dari kaca spion Aditya bisa melihat salah seorang yang mengikutinya turun dari motor lalu mendekatinya. Sebelah tangannya seperti mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Pria itu semakin mendekat, kini Aditya bisa melihat dengan jelas benda di tangan pria itu adalah pisau.
Dengan cepat Aditya berkelit ketika pria itu mencoba menusuknya. Ternyata perkiraan Aditya salah, berada di tempat terbuka pun dia berani menyerangnya. Perkelahian segera terjadi. Para pengojek online berusaha memisahkan, namun mereka mundur melihat pisau di tangan penyerang Aditya.
Pria itu terus menyerang Aditya dengan pisau di tangannya. Beberapa kali Aditya berkelit, lalu melayangkan tendangan ke tangan pria tersebut hingga pisaunya terlepas. Lagi Aditya melayangkan tendangan hingga pria tersebut jatuh tersungkur. Ayah dari Arkhan itu segera naik ke atas motornya dan pergi dari sana.
Kejar-kejaran segera terjadi di jalan raya. Aditya memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Di sebuah perempatan, dia berpapasan dengan mobil Fajar. Mengetahui Aditya tengah dikejar, Fajar segera memutar balik mobilnya dan menyusul adik dari sahabatnya.
Mata Aditya menatap lampu lalu lintas yang berwarna merah. Dia mulai menurunkan kecepatannya. Beberapa meter menjelang perempatan, lampu sudah berubah hijau. Aditya langsung tancap gas. Baru saja motornya melewati lampu merah, sebuah kendaraan dari arah kiri menghantamnya dengan keras.
Fajar langsung mengerem kendaraannya ketika melihat tubuh Aditya terpisah dari motor yang ditungganginya kemudian jatuh dengan keras ke aspal. Salah satu orang yang mengejarnya bergerak cepat menuju Aditya kemudian menggeledah saku celana dan jaket pria itu. Setelah berhasil mendapatkan usb yang diberikan Setya, dia segera pergi.
Bertepatan dengan itu Fajar sampai di dekat Aditya. Beberapa orang sudah mengerubunginya. Fajar mendekati Aditya yang terkapar di aspal. Dari sela-sela helmnya merembes cairan merah.
“ADIT!!”
Samar-samar Aditya mendengar suara Fajar memanggilnya. Namun pria itu tak bisa menggerakkan tubuhnya. Matanya menatap ke arah langit yang mulai menggelap. Dapat dilihatnya wajah Dewi dan Arkhan tengah tersenyum padanya. Perlahan Aditya menutup matanya.
🌸🌸🌸
PRANG!!
Piring di tangan Dewi terlepas ketika tangan Arkhan yang sedang mengamuk menepaknya hingga jatuh. Sudah sejak setengah jam lalu anak itu mengamuk, menangis tak berhenti. Dewi sudah berusaha menenangkan, mencoba untuk menyusuinya namun tidak berhasil. Pipit dan Roxas juga berusaha menenangkan namun anak itu masih terus mengamuk.
Adrian datang bersama Toni dan Ida. Mereka baru saja pulang dari rumah tetangganya yang mengadakan pengajian. Mendengar cucunya mengamuk, Ida segera mendekat, namun Arkhan menolaknya. Anak itu menangis histeris. Toni berusaha menenangkannya namun tetap tak berhasil.
“Arkhan kenapa, Wi? Kenapa tiba-tiba ngamuk?” tanya Ida.
“Ngga tau, ma. Aku susuin juga ngga mau.”
“Dia kangen papanya kali. Coba kamu telepon Adit.”
“Udah, ma. Hapenya ngga aktif.”
“Aduh.. anak itu kemana. Katanya cuma sebentar tapi sampai sekarang kenapa belum pulang.”
Melihat keponakannya terus saja menangis tanpa berhenti, Adrian pun ingin menenangkannya. Saat akan mendekat, langkahnya tertahan saat ponsel di saku celananya bergetar. Adrian segera menjawab panggilan yang berasal dari sahabatnya, Fajar.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Ad.. Adit…”
“Adit kenapa?”
“Adit… kecelakaan. Dia cedera parah di bagian kepala dan sekarang ada di ruang operasi. Lo bisa ke rumah sakit sekarang? Di rumah sakit Mitra Sehat. Ad.. Ad…”
Tangan Adrian jatuh terkulai mendengar berita dari Fajar. Dirinya seperti habis tersambar petir di siang bolong. Dengan tatapan nanar, dia melihat pada Dewi yang tengah menenangkan Arkhan yang masih mengamuk.
🌸🌸🌸
**Kemarin² banyak nanya kapan naik ranjang, minta cepet² naiknya, minta Adit meninggoy. Sekarang gerbangnya udah kebuka malah pada senam jantung, ada yang minta ganti judul juga🤣 Kalo diganti jadi apa? RANJANG GOYANG ya🤭
__ADS_1
Aku nemu 1 akun lagi yg julid. Baca novelku ngga, cuma mampir kasih rate bintang 1 di sini. Udah 2x dia kasih bintang 1 di novelku, ngga tau maksudnya apa. Dia ngga tau apa kalo bikin novel itu susah. Kalo ngga mau baca ngga usah julid kasih bintang 1. Penilaian entuun 1 akun kasih bintang 1 ngga sebanding dengan 100 akun kasih bintang 5. Kalo dia cuma kasih di 1 novel aku bomat ya, tp dia udah 2x ngelakuinnya, berarti ada unsur kesengajaan. Mudah²an dia insyaf, ngga sembarangan kasih bintang 1 ke novel lain. Aku langsung blokir akunnya biar dia ngga bisa akses novel lainnya dan kasih bintang 1**.