Naik Ranjang

Naik Ranjang
Rumah Baru


__ADS_3

“Dewi!”


Dewi baru saja turun dari mobil ketika terdengar teriakan Mila memanggil namanya. Sahabatnya itu bergegas mendekat lalu memeluk leher wanita itu. Mila melemparkan senyuman pada Adrian ketika sang dosen keluar dari dalam mobil. Pria itu berjalan lebih dulu meninggalkan area parkir tanpa mengatakan sepatah kata pun.


“Sumpah ya, pak Adrian gayanya masih aja kaya dulu. Dia sama elo di rumah cuek kaya gitu ngga sih?”


“Kamu naenya?”


“Jiaaahhh.. pen gue getok lo, hahaha..”


Kedua wanita itu berjalan bersama memasuki gedung fakultas. Sekarang Dewi dan Mila sudah tidak satu kelas lagi karena Dewi tertinggal satu tingkat saat mengambil cuti ketika Arkhan lahir.


“Lo ada kuliah?” tanya Dewi.


“Ada, cuma satu matkul aja. Lo sendiri?”


“Sama, cuma satu matkul. Laki gue yang ngajar, hihihi..”


“Bae-bae lo kaga konsen, terbayang-bayang malam pertama, hahaha…”


“Rese…”


Mila tak bisa menahan tawanya, dia terus saja tertawa. Keduanya segera menuju lift untuk sampai di lantai di mana kelas mereka berada. Mila berhenti di lantai tiga, sedang Dewi di lantai lima. Wanita itu segera berjalan menuju kelas paling ujung. Mahasiswa yang dulu menjadi adik tingkatnya, sekarang menjadi teman satu angkatannya.


“Teh Dewi..” sapa Tina, adik tingkat yang sekarang menjadi teman sekelasnya.


“Hai Tina..”


“Sekarang mata kuliah pak Adrian. Harus siap-siap kuis nih. Teh Dewi masih jadi asistennya ngga?”


“Belum tau juga, masih kali.”


“Masuk yuk, teh. Tuh pak Riannya udah datang.”


Tina menarik tangan Dewi masuk ke dalam kelas. Dewi memilih duduk di baris ketiga dari depan. Posisi bangkunya tepat berada di tengah kelas, jadi dia bisa melihat Adrian dengan jelas. Tak lama pria itu masuk ke dalam kelas. Setelah menaruh buku-bukunya, dia mengambil spidol kemudian menuliskan soal kuis di whiteboard.


“Waktu kalian 10 menit!”


Serempak semua mahasiswa yang berada di kelas mulai mengerjakan soal kuis. Mereka tak berani berkasak-kusuk meminta jawaban, karena resikonya akan langsung dikeluarkan oleh dosen tersebut. Seperti biasa, Adrian berjalan mengelilingi kelas, memperhatikan anak didiknya yang tengah mengerjakan soal.


Walau hanya tiga soal yang diberikan Adrian, namun cukup bisa membuat kening mereka berkerut. Dewi yang sudah paham gaya Adrian dalam memberikan soal, dapat mengerjakan soal dengan santai. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyelesaikan soal kuis tersebut.


“Dewi..”


“Iya, pak.”


“Kamu kumpulkan hasil kuis.”


Dengan cepat Dewi bangun dari duduknya lalu mengambil kertas jawaban kuis dari teman-teman sekelasnya. Setelah terkumpul, dia memberikannya pada Adrian, kemudian kembali ke bangkunya. Adrian pun bersiap memberikan materi untuk kuliahnya.


Sepanjang kuliah, Dewi tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Bukannya mendengarkan penjelasan Adrian, wanita itu malah terus menatap wajah tampan suaminya di depan. Pikirannya melayang pada percintaan mereka semalam dan juga shubuh tadi. Suaminya yang gagah dan perkasa, yang selalu membuatnya melayang, menari-nari di kepalanya.


Astaga, Wi.. istighfar.. lo kenapa mesum gini sih. Konsen oii.. lagi kuliah ini. Tapi aa emang ganteng banget sih.. ya ampun, pengen dipeluk sama dicium aa lagi. Haaaiiisshhh.. otak mesum nih gue.. fokus.. fokus..


Dewi menggelengkan kepalanya, berharap pikiran mesum di kepalanya bisa menghilang ketika dirinya menggelengkan kepala. Wanita itu berusaha tetap fokus pada materi yang disampaikan. Dia menundukkan kepalanya ketika Adrian melihat padanya, tak ingin ketahuan kalau sedang memandangi wajah sang suami.


Waktu 120 menit tak terasa berlalu dengan cepat. Adrian mengakhiri perkuliahan dan mempersilahkan para mahasiswa untuk meninggalkan kelas. Pria itu masih bertahan di tempatnya, karena jadwal mengajar keduanya masih berada di kelas yang sama. Dia memilih memeriksa hasil kuis tadi sambil menunggu kelas berikutnya.


Dewi sengaja memperlambat pergerakannya ketika membereskan buku dan alat tulisnya. Dia juga meminta Tina keluar lebih dulu. Ketika semua teman sekelasnya sudah pergi, wanita itu bangun dari duduknya lalu mendekati meja Adrian.


“Aa..”


“Hmm..”


“Aku tunggu di kantin, ya.”


“Iya.”


Wanita itu beringsut lebih mendekat pada Adrian. Matanya melihat pada pintu masuk, belum ada tanda-tanda mahasiswa lain akan masuk ke dalam kelas. Kemudian dengan cepat dia memberikan sesuatu yang mengejutkan sang dosen.


CUP


Mata Adrian membulat ketika Dewi mencium pipinya. Wajah wanita itu merona setelah melakukan hal tersebut. Kemudian dengan cepat dia segera keluar dari kelas. Refleks Adrian memegang pipinya yang terkena ciuman Dewi. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya.


Sekeluarnya dari kelas, Dewi segera menuju kantin. Mila, Sheila dan Micky sudah berada di sana. Baru saja dirinya masuk, wanita itu merasa ada seseorang yang mengusak puncak kepalanya, ternyata Roxas yang melakukannya.


“Ada kuliah hari ini?” tanya Dewi.


“Hooh..”

__ADS_1


Keduanya segera menuju meja yang ditempati sahabatnya. Usai menaruh tas, Roxas segera menuju stand yang menyajikan aneka makanan. Dia akan memesan untuk dirinya dan juga Dewi. Tadi ibu dari Arkhan itu minta dipesankan mie ayam dan jus mangga. Usai melakukan pemesanan, Roxas kembali ke mejanya.


“Pengantin baru udah kuliah aja. Kaga bulan madu?” tanya Micky.


“Nanti abis resepsi.”


“Gimana pak Rian?”


Micky menaikturunkan alisnya, menggoda Dewi yang wajahnya sudah bersemu merah. Melihat itu sontak saja memancing yang lain untuk ikut menggoda. Sebisa mungkin Dewi mengabaikan ledekan para sahabatnya itu.


“Oh iya hampir lupa. Dua minggu lagi The Soul mau launching mini album. Isinya lagu-lagu ciptaan Adit. Di album itu juga masih Adit yang nyanyi. Lo dateng ya, Wi,” ujar Roxas.


“Di mana?”


“Di Red Kingdom, sekalian napak tilas. Kan awal kita manggung di sana. Jam tujuh malem mulainya. Kalian juga dateng aja. Nanti gue kasih voucher gratis deh.”


“So pasti dong, apalagi dapet voucher, hahaha..”


“Makanan aja numero uno.”


“Yoi.. perbaikan gizi gitu loh. Hahaha..”


Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan Roxas. Pria itu menaruh mie ayam dan jus mangga di depan Dewi. Tanpa menunggu lama, wanita itu segera menyantap salah satu makanan favoritnya.


“AdRox gimana?” tanya Dewi.


“Alhamdulillah, pengunjung tambah banyak sekarang.”


“Alhamdulillah. Tante Pit stay terus di sana?”


“Ngga, kan ada enin di rumah. Dia cuma tiga kali aja ke café, pas weekend doang, Jumat sampe Minggu.”


“Xas.. bini lo belum ada tanda-tanda tekdung?” celetuk Micky.


“Belum..”


“Jiaahh kaga tokcer cebong lo. Mau gue ajarin?”


“Kaya yang bisa aja, merawanin cewek juga belum pernah.”


“Biar belum praktek, kan ada teorinya.”


Mila hanya mengangkat jempolnya saja, karena mulutnya penuh dengan makanan. Micky hanya mengangkat bahunya saja. Padahal ilmu yang akan dibagikan didapat dari dukun beranak tetangganya yang baru saja melahirkan anaknya yang ke delapan.


🌸🌸🌸


Setelah mengisi perutnya di kantin, Dewi berpisah dengan para sahabatnya. Mila, Sheila dan Micky masih ada kelas. Sedang Roxas menuju kedai kopinya. Dewi sendiri memilih mengunjungi perpustakaan. Bukan untuk belajar atau membaca buku, tapi untuk memejamkan matanya.


Wanita itu mengambil asal buku dari rak lalu menuju deretan kubikel yang berada di bagian dalam perpustakaan. Dia memilih kubikel paling ujung. Setelah menaruh tasnya, Dewi membuka buku yang diambilnya tadi, kemudian dengan kedua tangan bertumpu di atas buku dia merebahkan kepalanya.


Tak terasa sudah satu jam lamanya wanita itu tertidur nyenyak di perpustakaan. Suasana perpustakaan yang sepi serta deretan kubikel yang dipilihnya kosong, membuatnya leluasa untuk masuk ke alam mimpi. Dewi terbangun dari tidurnya ketika mendengar ponselnya berdering. Dengan cepat dia menjawab panggilan sebelum terkena teguran.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Kamu di mana?”


“Di perpustakaan.”


“Aku udah selesai. Aku tunggu di mobil.”


“Iya, a.”


Setelah panggilan berakhir, Dewi memasukkan kembali ponsel ke dalam tas. Sambil membawa buku yang tadi diambilnya, dia keluar dari kubikel. Wanita itu menaruh buku kembali ke tempatnya, lalu keluar dari perpustakaan. Sebelum menuju parkiran mobil, dia lebih dulu ke toilet untuk mencuci mukanya.


Sambl berlari kecil, Dewi menuju mobil Adrian. Wanita itu membuka pintu lalu masuk ke dalamnya. Adrian memperhatikan wajah Dewi yang seperti bangun tidur. Tanpa mempedulikan tatapan suaminya, Dewi memasang sabuk pengaman di tubuhnya. Adrian segera menjalankan kendaraannya.


“Kamu di perpus baca buku apa tidur?”


“Baca buku, tapi lama-lama tulisannya kabur, daripada capek ngejar ya mending tidur.”


“Ngeles terus. Bilang aja ke sana buat numpang tidur.”


“Ish..”


“Udah makan?”


“Belum.”


“Tadi katanya ke kantin?”

__ADS_1


“Iya, cuma beli mie ayam sama jus mangga aja.”


“Nah itu makan.”


“Baru mie ayam, belum makan nasi. Maklum kan busui.”


“Kasihan Arkhan, dijadiin tameng terus. Padahal emang emaknya aja yang rewog.”


“Bodo.”


Dewi menjulurkan lidahnya pada Adrian. Pria itu tersenyum melihat tingkah sang istri. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala wanita itu. Mobil yang dikemudikan olehnya terus melaju menuju rumah barunya yang masih dalam tahap penyelesaian. Tak lama kemudian kendaraan tersebut berbelok memasuki kompleks perumahan yang hanya terdapat 20 unit rumah saja di dalamnya.


Kompleks ini memang baru saja dibangun. Dari 20 unit, baru sekitar 12 unit saja yang sudah selesai dibangun dan siap huni. Sisanya masih dalam tahap pengerjaan, termasuk rumah milik Adrian. Pria itu menghentikan kendaraannya di depan rumah yang sedang dicat. Dewi memandangi bangunan bergaya minimalis begitu turun dari mobil. Sambil memeluk bahu sang istri, Adrian masuk ke dalam rumah.


Bangunan berlantai dua itu sudah mulai rapih di bagian dalamnya. Kitchen set sudah terpasang di dapur. Begitu pula shower dan kloset di kamar mandi yang ada di tengah ruangan. Adrian mengajak Dewi menuju kamar utama mereka. Cat abu muda mendominasi rumah ini, termasuk di bagian kamar.


Dewi membuka pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar. Di sana sudah terpasang wastafel yang menyatu dengan lemari di bagian bawahnya. Lalu shower dipasang bersebelahan dengan kloset dan dibatasi dinding yang terbuat dari kaca akrilik. Kemudian di bagian ujung samping terdapat bath tube.


Usai melihat kamar mandi, Dewi melihat ruangan lain yang masih ada di dalam kamar. Di sana terdapat lemari pakaian, nakas untuk menyimpan barang-barang pribadi, rak sepatu dan meja rias. Ruangan tersebut dibatasi dengan pintu yang terbuat dari kaca.


“Ini walk in closet ya, a?”


“Iya.”


“Kamarnya bagus, aku suka.”


“Besok kasurnya baru datang. Syukurlah kalau kamu suka.”


“Aa waktu bangun rumah ini udah kebayang belum yang bakal nempatin siapa? Maksud aku, aa mau nempatin bareng siapa?”


“Belum. Tujuanku hanya membangun rumah aja, kalau aku sudah bertemu dengan jodohku, aku bisa membawanya ke rumah ini. Tapi barang-barangnya aku beli baru dua bulan lalu. Aku buat walk in closet dan kamar mandi pastinya buat kamu.”


“Aa..”


Dewi tak bisa berkata-kata lagi. Perasaannya benar-benar senang mendapatkan kejutan seperti ini. Dia sudah tidak sabar menghuni rumah ini bersama dengan Adrian dan juga Arkhan. Dewi memeluk leher suaminya sambil menatap mata pria di depannya dalam. Adrian memeluk pinggang Dewi, menarik tubuh wanita itu lebih dekat dengannya.


“Semoga aku bisa menjadi imam yang baik untukmu dan anak-anak kita.”


“Aamiin.. semoga aku bisa menjadi istri yang baik untuk aa dan ibu yang baik untuk Arkhan dan anak kita nantinya.”


“Aamiin.. Kita akan memulai hidup baru di sini. Aku, kamu, Arkhan dan calon anak-anak kita. I love you.”


“I love you too, aa.”


Adrian sedikit mengangkat Dewi kemudian mendaratkan ciuman di bibir sang istri. Keduanya langsung terlihat tautan dalam ketika Dewi membalas ciuman sang suami. Perlahan Adrian menurunkan tubuh istrinya ketika ciuman mereka berakhir.


“Mau lihat ke lantai dua?”


“Mau.”


Dengan tangan saling bertautan, keduanya keluar dari kamar lalu menuju lantai dua untuk melihat-lihat ruangan yang ada di sana. Di lantai dua terdapat tiga buah kamar dan satu ruangan santai serta balkon yang cukup luas.


“Nanti anak-anak kita akan tidur di sini.”


Mata Dewi memandang sekeliling, ruangan di lantai dua memang tidak seluas di lantai satu, tapi setiap sudut berhasil dimanfaatkan dengan baik. Puas melihat lantai dua, mereka kembali ke lantai satu. Dewi menuju halaman belakang yang berdekatan dengan dapur. Di taman kecil itu tumbuhi beberapa tanaman dan tanahnya ditanami rumput Jepang.


“Kira-kira kapan kita bisa pindah ke sini?”


“Mungkin dua minggu lagi.”


“Aku udah ngga sabar.”


“Kamu masih mau di sini atau mau pulang?”


“Pulang, tapi mampir makan dulu ya, a.”


“Mie ayamnya udah habis diolah sama lambung kamu ya.”


“Ish… nanti pulang pasti Arkhan mau nyusu. Harus nyiapin stok.”


“Alasan.”


Dewi memajukan bibirnya mendengar ucapan sang suami. Dengan cepat Adrian mengecup bibir itu, kemudian membawa istrinya keluar dari rumah. Sebelum pergi, Adrian berpamitan dulu pada mandor dan pekerja lainnya. Meminta segera menyelesaikan rumah secepat mungkin.


🌸🌸🌸


**Makin uwu aja nih pengantin baru. Awas jangan ngiri ya😄


Seperti aku bilang sebelumnya, jadwal up masih ngga tentu, kadang pagi, siang, sore atau malam. Menjelang puasa, kesibukan bertambah, apalagi anak² mau ujian. Harap maklum ya🙏**

__ADS_1


__ADS_2