Naik Ranjang

Naik Ranjang
Bonchap : Persembahan Istimewa


__ADS_3

14 tahun kemudian


Ruangan yang didominasi warna biru langit terlihat begitu tertata rapih. Sebuah kasur berukuran king size lengkap dengan dua buah bantal, guling dan selimut berada di posisinya masing-masing. Di dekat jendela kamar terdapat meja belajar yang di atasnya terdapat buku-buku dan juga laptop.


Di sisi lain terdapat sebuah lemari dua pintu, cermin besar yang menggantung di dinding dan di sudutnya terdapat gitar peninggalan sang papa. Jangan lupakan sebuah figura besar yang tergantung di dinding dekat lemari pakaian. Sebuah foto Aditya terpampang di sana. Foto yang sejak 13 tahun lalu sudah menjadi penghuni kamar ini.


Dari luar kamar, Arkhan masuk ke dalam kamar. Wajah dan tubuhnya terlihat segar setelah terkena guyuran air. Anak itu sekarang sudah berusia 20 tahun, dan tengah menyelesaikan studinya di jurusan manajemen bisnis. Setelah menghadiri rapat organisasi yang diikutinya di kampus, pemuda itu pulang ke rumah. Nanti selepas isya, dia dan tiga orang sahabatnya akan menghibur pengunjung AdRox Coffee.


Arkhan menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Tangannya meraih ponsel yang berada di atas nakas. Sudah banyak pesan yang masuk ke ponselnya. dibacanya pesan-pesan itu dan dibalasnya satu per satu. Kebanyakan pesan datang dari teman-teman satu organisasinya dan juga sahabatnya.


Sejak kecil Arkhan menjalin persahabatan dengan Zidan yang juga menyandang status sebagai pamannya. Dua orang lagi yang dekat dengannya adalah Satria, anak dari Jaya dan Daniyal, anak dari Fajar. Saking dekat dan kompaknya, mereka membentuk band bersama yang diberi nama Skyline.


Arkhan memang mewarisi bakat bermusik Aditya. Hanya saja pemuda itu tidak menjadikan musik sebagai karirnya. Dia hanya bermain musik bersama para sahabatnya sebagai hobi dan selingan saja. Tiap akhir pekan, mereka selalu menghibur pengunjung AdRox Coffee.



Tawaran yang datang pada Arkhan untuk terjun di bidang entertainment cukup banyak juga. Namun pemuda itu tidak menerimanya sama sekali. Selain kesibukannya kuliah dan mengelola AdRox, dia juga tidak mau kehidupan pribadinya dan orang-orang di sekelilingnya menjadi sorotan publik. Bersama dengan Zidan, Arkhan belajar mengelola AdRox yang langsung dilatih dan dipantau oleh Roxas dan Bobi.


Ketiga sahabatnya yang lain juga memiliki kesibukan yang sama. Zidan sama seperti dirinya, sibuk kuliah dan mengelola AdRox. Pemuda itu mengambil jurusan yang sama dengannya. Mereka hanya berbeda satu angkatan saja. Satria sendiri sedang menempuh pendidikan di jenjang S2, setelah berhasil menyabet gelar sarjana S1 tahun lalu. Pria yang bercita-cita menjadi dosen itu, sekarang sedang mengejar master di jurusan Admnistrasi Negara. Berbeda dengan Daniyal yang mengikuti jejak ayahnya, menjadi abdi negara. Pemuda itu sekarang masih menempuh pendidikan di akademi polisi.


Dua adik Arkhan sekarang pun sudah menjelang dewasa. Davira yang sekarang berusia 17 tahun, sudah berada di kelas 12. Gadis itu mewarisi otak cerdas sang ayah. Selain itu, sifat Adrian yang pendiam, dingin dan irit bicara juga menurun padanya. Tidak sedikit teman-teman pria di sekolahnya harus gigit jari karena ditolak oleh gadis itu. Davira berteman baik dengan tantenya, Yumna. Selain dengan Yumna, dia juga berteman baik dengan Hansa, anak dari Doni dan Cantika, anak dari Mila.


Berbeda dengan Aksa. Walau dari wajah anak itu lebih banyak mewarisi wajah Adrian, namun sifat anak itu lebih cenderung mirip sang mama. Ada saja ucapannya yang selalu membuat orang yang mendengarnya terpingkal. Aksa saat ini berusia 15 tahun, dan baru saja masuk ke sekolah menengah atas. Aksa berteman baik dengan Kalandra, anak Fajar dan Bilal, anak dari Doni.


Pintu kamar Arkhan terbuka, dari luar masuk Aksa. Anak itu langsung menghempaskan tubuhnya di samping sang kakak. Arkhan menaruh ponsel di atas nakas lalu melihat pada adik bungsunya ini.


“Bang.. nanti manggung di AdRox?”


“Iya, kenapa?”


“Temen gue mau ke café. Boleh dong minta voucher gratisnya hehehe..”


“Bayar, minta gratisan mulu.”


“Yaelah, bang. Ngga tiap hari juga.”


“Ya udah, gratis minuman aja. Tapi makannya bayar.”


“Wokeh. Thanks, bang.”


“Sa.. lo serius mau kuliah di kedokteran nanti?”


“In Syaa Allah, bang. Tapi pasti biayanya mahal. Gue kasihan sama ayah. Kan ayah harus biayain abang sama kak Avi juga.”


“Lo kuliah kan gue udah beres kuliah. Avi juga paling masuk tugas akhir.”


“Tapi dengar-dengar kak Avi mau lanjut ambil S2. Kan kak Avi pengen jadi dosen kaya ayah.”


“Ya doain aja ayah tetap sehat, rejekinya lancar, jadi cita-cita lo jadi dokter bisa kesampaian. Lagian kalau abang udah kerja, pasti abang bantu. Asal sekolah yang bener.”


“Pasti, bang. Makasih ya, bang. Best bro deh..”


Percakapan mereka terhenti ketika ponsel milik Aksa berdering. Melihat nama sang pemanggil adalah salah satu teman perempuannya di kelas, Aksa langsung keluar dari kamar. Tidak ingin percakapannya terdengar oleh Arkhan.


“Oii Aksa! Jangan pacaran! Masih bocil udah mau lope-lopean!”


“Kaga, bang!” jawab Aksa sambil keluar dari kamar.


Arkhan bangun dari duduknya lalu mengambil gitar dari sudut ruangan. Bersamaan dengan itu, Davira masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu mendudukkan diri di sisi ranjang. Dengan gitar di tangannya, Arkhan mendudukkan diri di samping sang adik.

__ADS_1


“De.. latihan yuk buat tar malam.”


“Boleh, bang.”


Arkhan mulai memetik gitarnya. Rencananya malam ini dia akan mengajak sang adik berduet saat tampil di AdRox nanti. Davira mewarisi suara merdu mamanya, tidak seperi Aksa. Anak itu seperti Adrian, yang memiliki suara pas-pasan walau masih layak didengar dan tidak membuat telinga sakit.


🌸🌸🌸


Usai menunaikan shalat maghrib berjamaah di masjid kompleks bersama dengan ayah dan adiknya, Arkhan kembali ke kamarnya. Dia segera melepas baju koko yang dikenakannya lalu menggantinya dengan kaos oblong berwarna putih. Pria itu juga mengganti sarung dengan celana jeans. Lalu dia melapisi kaos yang dikenakannya dengan kemeja lengan panjang motif kotak-kotak. Lengan baju dilipat sampai ke siku.


Arkhan menyisir kembali rambutnya, lalu menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Pria itu nampak puas dengan penampilannya sekarang. Diambilnya ponsel yang ada di atas nakas lalu memasukkan ke saku celananya. Tangannya kemudian meraih gitar yang akan digunakannya untuk tampil. Seperti biasa sebelum pergi, dia berdiri di depan foto sang papa.



“Pa.. malam ini aku mau manggung sama teman-teman. Ini malam spesial, pa. aku mau nyanyi buat mama dan ayah juga. Mudah-mudahan mereka suka dengan nyanyianku. Nanti sepulang dari café, aku juga mau nyanyi buat papa. Bye, pa.. aku pergi dulu.”


Arkhan mengecup dua jarinya lalu menempelkan ke wajah Aditya yang ada dalam figura. Sambil menggendong tas gitarnya, pemuda itu menuruni anak tangga. Di bagian bawah kedua orang tua dan adiknya sudah menunggu. Mereka semua akan berangkat ke AdRox untuk melihat penampilan Skyline.


Setelah menaruh gitarnya di bagasi, Arkhan naik di belakang kemudi. Di sampingnya Adrian duduk menemaninya di bagian depan. Sedang kedua adiknya juga Dewi duduk di belakang. Setelah semua siap, Arkhan mulai menjalankan kendaraannya. Jarak rumah dengan AdRox café tempatnya bekerja tidaklah terlalu jauh. Dalam waktu dua puluh menit mereka sudah tiba di sana.


Baru saja dirinya sampai, berturut-turut Zidan, Daniyal dan Satria sampai di AdRox. Keempat pria itu lalu masuk ke dalam café disusul oleh Adrian, Dewi dan kedua anak mereka. Para punggawa band Skyline segera bersiap untuk menghibur pengunjung yang datang. Di antara mereka hadir juga sahabat dari Davira dan Aksa.


Arkhan meminta Dewi dan Adrian duduk di meja bagian depan. Dia sengaja meminta kedua orang tuanya duduk di sana karena persembahan malam ini khusus diberikan untuk mereka berdua. Selain kedua orang tuanya, Roxas dan Pipit juga sudah berada di sana. Kedua orang tua Daniyal dan Satria juga turut datang. Mereka ingin menyaksikan anaknya tampil di atas panggung.


“Selamat malam semua..”


Suara Arkhan langsung menarik perhatian pengunjung. Mereka langsung melihat ke atas panggung. Di sana, Zidan sudah siap dengan bass-nya, Daniyal dengan gitarnya, Satria duduk di belakang drum dan Arkhan berdiri menghadap stand mic dengan gitar tersampir di bahunya.


“Seperti biasanya, setiap malam minggu kami akan menghibur semua yang ada di sini. Tapi khusus untuk malam ini, kami ingin mempersembahkan pertunjukkan khusus untuk orang tua kami tersayang.”


Senyum bahagia dari keempat orang tua personil Skyline terlihat. Waktu berjalan begitu cepat, dan tidak terasa anak-anak mereka sudah tumbuh dewasa. Dewi menatap sang anak yang masih berbicara di atas panggung. Dia seperti melihat jelmaan Aditya. Dulu sebelum tampil, mendiang suaminya itu juga kerap menyapa pengunjung yang datang. Apalagi wajah Arkhan sangat mirip dengan Aditya, sudah seperti foto copyan saja.


“Lagu pertama aku persembahkan untuk mamaku tersayang. Mama.. terima kasih sudah merawatku dengan kasih sayang selama ini. Tidak ada yang sanggup mewakili rasa terima kasih dan rasa sayangku pada mama. Lirik dalam lagu ini menggambarkan perasaanku pada mama.”


“I was a foolish little child. Crazy things I used to do. And all the pain I put you through. Mama, now I'm here for you. For all the times I made you cry. The days I told you lies. Now it's time for you to rise. For all the things you sacrificed. Oh, if I could turn back time rewind. If I could make it undone. I swear that I would. I would make it up to you.”


Tak dapat digambarkan bagaimana perasaan Dewi saat ini. Antara bahagia dan bangga bercampur menjadi satu. Matanya berkaca-kaca mengartikan lirik yang dinyanyikan oleh sang anak untukya. Adrian memegang tangan sang istri yang sebentar lagi akan menangis. Dia menarik tisu lalu memberikannya pada Dewi.


Selama bernyanyi, Arkhan tak lepas melihat pada Dewi. Dirinya benar-benar bangga memiliki ibu yang kuat dan sabar seperti Dewi. Ketabahan wanita itu saat ditinggalkan orang-orang yang disayanginya, membuatnya semakin menyayangi mamanya itu. Arkhan mencabut mic dari gagangnya, lalu dia berjalan menuju Dewi sambil menyanyikan part refrain.


“Mum, I'm all grown up now. It's a brand new day. I'd like to put a smile. On your face every day. Mum, I'm all grown up now. And it's not too late. I'd like to put a smile. On your face every day.”


Dewi menyusut air di sudut matanya. Wanita itu tak berhenti menatap sang anak yang terus mendekatinya. Arkhan meraih tangan Dewi, sambil berlutut, pemuda itu meneruskan nyanyiannya.


“You know, you are the number one for me. You know, you are the number one for me. You know, you are the number one for me. Oh, oh, number one for me.”


Arkhan mengakhiri nyanyiannya dengan ciuman di punggung tangan sang mama. gemuruh tepuk tangan langsung terdengar. Dewi memeluk anak sulungnya itu. Airmata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh luruh membasahi pipinya. Perlahan Arkhan mengurai pelukannya. Dihapusnya airmata yang membasahi wajah mamanya.


“I love you, mama. Aku hanya ingin melihat mama tersenyum. Terima kasih sudah merawat dan menjagaku selama ini. Sekarang biarkan aku yang membahagiakan mama.”


“Melihatmu tumbuh dengan baik sudah membuat mama bahagia.”


Setelah kondisi Dewi tenang, Arkhan bangun dari posisinya. Dia mendekati meja yang ditempati adik dan juga para sahabatnya. Pemuda itu mengulurkan tangannya pada Davira. Sekarang dia akan menyanyikan lagu duet untuk ayah tercintanya. Arkhan kembali ke atas panggung disusul oleh Davira.


“Ok.. untuk lagu kedua, aku persembahkan untuk ayahku tercinta. Ayah.. ini lagu spesial dariku dan Avi buat ayah.”


Satria mulai menabuh drumnya disusul oleh Zidan dan Daniyal yang memainkan alat musik yang dipegangnya. Ingatan Dewi kembali melayang saat dirinya pertama kali berduet dengan Aditya. Menanyanyikan lagu favorit bapaknya, Yang Terbaik Bagimu milik Ada Band. Mata Adrian menatap dua anaknya tanpa berkedip.


“Teringat masa kecilku. Kau peluk dan kau manja. Indahnya saat itu. Buatku melambung. Di sisimu terngiang. Hangat napas segar harum tubuhmu. Kau tuturkan segala. Mimpi-mimpi serta harapanmu,” Arkhan menyanyikan partnya.

__ADS_1


“Kau ingin ku menjadi. Yang terbaik bagimu. Patuhi perintahmu. Jauhkan godaan. Yang mungkin kulakukan. Dalam waktu ku beranjak dewasa. Jangan sampai membuatku. Terbelenggu, jatuh, dan terinjak,” Davira menyambung nyanyian Arkhan.


Sema seperti halnya Dewi, Adrian pun merasakan keharuan yang sama. Senyum tersungging di bibirnya melihat anak kesayangannya bernyanyi bersama di atas panggung. Arkhan dan Davira pun tak lepas melihat pada Adrian. Seorang pria pekerja keras yang tak lelah bekerja demi memenuhi kebutuhan mereka dan tak lupa mengajarkan nilai-nilai kebajikan, baik lewat kata-kata maupun sikap.


Instrument musik terus terdengar. Bersama dengan Davira, Arkhan kembali turun ke bawah panggung, keduanya mendekati meja yang ditempati sang ayah. Adrian langsung berdiri ketika kedua anaknya mendekati dirinya. Davira langsung memeluk lengan sang ayah, Arkhan berdiri di samping Adrian seraya merangkul bahu pria itu. Keduanya kembali menyanyikan part refrain.


“Tuhan, tolonglah. Sampaikan sejuta sayangku untuknya. Ku t'rus berjanji. Takkan khianati pintanya. Ayah, dengarlah. Betapa sesungguhnya ku mencintaimu. 'Kan kubuktikan. Ku mampu penuhi maumu.”


Adrian mencium kening kedua anaknya bergantian setelah lagu mereka berakhir. Dipeluknya kedua buah hati yang begitu disayanginya. Aksa bangun dari duduknya lalu ikut menghambur pada sang ayah. Adrian menarik tangan Dewi, wanita itu juga ikut memeluk suami dan anak-anaknya.


Apa yang dilakukan Arkhan dan Davira juga diikuti oleh ketiga temannya. Zidan turun dari panggung, lalu memeluk Roxas dan Pipit. Daniyal menghampiri Dita dan Fajar, memeluk kedua orang tuanya dengan erat. Begitu pula dengan Satria, pria itu turun dari panggung dan langsung menghampiri Jaya dan Gemini. Rasa haru juga dirasakan oleh semua pengunjung yang datang. Tak sedikit yang ikut menyusut airmata yang menggenang.


🌸🌸🌸


Setelah menghibur pada pengunjung AdRox, semua personil Skyline berkumpul bersama sambil menikmati makanan. Suasana penuh canda tawa langsung terjadi di antara mereka. Fajar dan Doni sangat senang, persahabatan mereka dan Adrian diteruskan oleh anak-anak mereka.


Tepat pukul sembilan, semua membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing. Arkhan kembali bertugas menyetir mobil sampai ke rumah. Setelah memarkirkan mobil dan mengunci pintu pagar, pemuda itu masuk ke dalam rumah. Dia langsung menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.


Arkhan masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi serta mengganti pakaiannya. Pemuda itu lalu masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil gitar lalu menarik kursi dan menaruhnya di depan foto Aditya. Sesuai janjinya, sepulang dari AdRox, dia akan menyanyikan lagu untuk papa tercinta.


“Pa.. ini lagu buat papa.”


Kepala Arkhan tertunduk, melihat pada jemarinya yang sedang memetik senar gitar. Untuk menggambarkan perasaannya, pemuda itu memilih menyanyikan lagu lawas yang tak lekang oleh jaman berjudul Ayah. Lagu diciptakan dan dipopulerkan oleh Rinto Harahap. Lagu yang sudah ada bahkan sebelum Aditya lahir ke dunia. Arkhan mengangkat kepalanya, lalu melihat pada foto Aditya saat mulai bernyanyi.


“Dimana, akan ku cari. Aku menangis, seorang diri. Hatiku, slalu ingin bertemu. Untukmu, aku bernyanyi. Untuk, papa tercinta. Aku, ingin bernyanyi. Walau air mata, di pipiku. Papa, dengarkanlah. Aku, ingin berjumpa. Walau hanya dalam mimpi.”


Tak terasa airmata membasahi pipi Arkhan. Dirinya sengaja mengganti lirik ayah menjadi papa. Arkhan yang sudah ditinggal saat berumur enam bulan, terkadang sangat merindukan Aditya. Tidak ada kenangan yang bisa diingatnya dari sosok pria yang mengalirkan darah ke tubuhnya. Hanya cerita dari mama dan ayahnya saja sebagai pengobat rindu.


“Papa.. sekarang aku sudah tumbuh dengan sangat baik. Ayah dan mama merawat dan menjagaku dengan baik. Aku tahu papa sudah tenang di sana. Aku akan selalu mengirimkan doa untuk papa. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya, aamiin..”


Arkhan bangun dari duduknya lalu mendekati foto Aditya. Diciumnya dua jarinya lalu menaruhnya di pipi Aditya. Dia melemparkan senyuman pada foto Aditya yang juga tengah tersenyum. Setelah menaruh gitar dan mematikan lampu, pemuda itu naik ke atas kasur lalu merebahkan diri.


Adrian dan Dewi juga tengah bersiap untuk tidur. Dewi yang baru keluar dari kamar mandi segera menghampiri suaminya yang berdiri di depan jendela kamar, memandangi taman bunga yang terdapat di depan sana. Wanita itu memeluk pinggang suaminya dari belakang.


“Apa yang aa pikirkan?”


“Ngga ada, sayang. Hanya saja melihat Arkhan tadi, mengingatkanku pada Adit.”


“Arkhan memang sangat mirip mas Adit. Ngga kerasa ya, a. Anak-anak kita sudah besar sekarang.”


“Iya, sayang.”


Adrian melepaskan tangan Dewi dari pinggangnya. Pria itu membalikkan tubuhnya. Menatap wanita yang sudah menemaninya selama 20 tahun. Sampai sejauh ini perasaan cintanya tidak pernah berkurang, justru bertambah dalam saja. Adrian membelai wajah Dewi dengan lembut.


“Terima kasih sudah menemaniku sampai sekarang. Sudah bersabar denganku yang penuh dengan kekurangan. Terima kasih sudah menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita. Aku mencintamu, Dewi. Dulu, sekarang dan selamanya.”


“Aku juga mencintai aa. Setiap harinya perasaanku semakin bertambah padamu. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, membantuku menghapus luka dan menguatkan diriku. Aa sudah menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anak kita.”


Adrian menarik Dewi ke dalam pelukannya. Dibelainya dengan lembut surai sang istri. Tangan Dewi melingkari pinggang suaminya. Setiap detik yang dihabiskan bersama suaminya ini sangat berharga dan membuatnya bahagia. Semoga saja Tuhan terus menyatukan cinta mereka sampai di surga-Nya kelak, aamiin.


🌸🌸🌸 OFFICIALLY END 🌸🌸🌸


**Alhamdulillah kisah ini berakhir sudah. Terima kasih atas atensi besar kalian sampai karya ini berakhir. Kisah Arkhan cs akan datang pada waktunya nanti, seperti HIL yang tiba² nongol🤭


Mamake dan seluruh keluarga besar Naik Ranjang pamit mundur. Semoga saja cerita ini tidak hanya memberikan hiburan tapi ada pelajaran yang bisa diambil🙏


Semoga saja karakter di novel ini juga bisa menjadi kenangan indah untuk kalian🥰


Jangan lupa intip karya terbaruku, SUDDENLY MARRIED. Kisah Evan yang harus menjalani pernikahan dengan Alya, perempuan yang dijodohkan sang ayah untuknya. Perbedaan karakter, gaya hidup dan tidak ada perasaan di antara keduanya menghiasi perjalanan rumah tangga mereka. Dapatkah mereka mempertahankan rumah tangganya?

__ADS_1


Yang tertarik baca, langsung klik aja profilku atau klik kolom pencarian dan ketik judulnya. Aku tunggu kalian di rumah baruku🤗**



__ADS_2