Naik Ranjang

Naik Ranjang
Tegar


__ADS_3

“De.. habis 40 hari ibu, aku mau melamarmu. Ayo kita nikah.”


Dewi hanya melongo mendengar perkataan Aditya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Aditya akan melamarnya dengan cara yang sangat tidak romantis. Berbalik terbalik dengan pernyataan cintanya dahulu di halte saat hujan deras melanda. Menurut Dewi momen itu jauh lebih romantis dibanding sekarang.


Melihat Dewi yang hanya terbengong saja, Aditya melambaikan tangannya ke depan wajah gadis itu. seketika kesadaran Dewi kembali, namun dia masih belum menjawab ajakan pria di hadapannya. Dewi malah tersenyum, senyum pertama yang Aditya lihat sejak kepergian Nenden.


“Kok malah senyum?”


“Lucu. Abisnya kamu ngelamar aku ngga romantis gitu.”


“Masa iya?” Aditya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Hahahaha… makasih ya Dit. Udah buat aku ketawa, hahaha..”


“Diihh.. malah ketawa. Aku serius, De. Kita nikah yuk.”


“Kita kan masih muda.”


“Emang ada aturan kalau nikah harus tuaan dikit? Yang penting kan udah siap.”


“Emang kamu udah siap?”


“Udah, dong. Aku udah kerja, bisa nafkahin kamu. Bisa bikin kamu masuk angin juga, hahaha…”


Tawa Dewi kembali terdengar mendengar candaan Aditya. Gadis itu sengaja membawa percakapan menjadi lebih cair. Jujur saja, dia sudah muak mendengar kata pernikahan, yang selalu digaungkan Tita akhir-akhir ini.


“Kamu kenapa ngajak aku nikah tiba-tiba.”


“Pertama, karena aku cinta kamu dan mau menghabiskan waktu denganmu. Kedua, aku ingin menjadi orang yang bertanggung jawab akan hidupmu setelah ibu pergi. Ketiga, aku ngga rela melihat kamu dinikahin sama laki-laki pilihan bibi kamu.”


Dewi terkejut mendengar alasan ketiga Aditya. Rupanya pria itu tahu perihal perjodohan yang diusung oleh Tita. Jika Aditya tahu bisa dipastikan Roxas juga tahu, bahkan mungkin juga Adrian. Terkadang tidak ada rahasia di antara ketiga pria itu kecuali soal perasaannya pada Adrian.


“Kamu tahu soal rencana bi Tita?”


“Iya. Aku dengar waktu dia ngobrol sama bi Iis.”


“Bi Tita emang mau ngejodohin aku sama anak juragan tanah di desanya. Tapi tenang aja, Dit. Aku ngga selemah itu yang mau diatur begitu aja sama dia. Selama ini aku ngga pernah nyusahin dia. Punya hak apa dia ngatur-ngatur aku. Emang sekarang yang jadi wali sah aku itu mang Nandang. Tapi bukan berarti dia bisa mengatur hidupku. Aku akan menikah dengan orang yang mau kunikahi.”


Aditya cukup lega mendengar penuturan Dewi. Dia memang yakin kalau gadis tercintanya ini bukan wanita lemah yang akan menurut begitu saja pada Tita. Namun perasaan was-was bukan berarti hilang begitu saja. Tita pasti tidak akan menyerah, dan mungkin akan melakukan berbagai cara untuk menjodohkan Dewi sesuai kemauannya.


“Aku tahu kamu perempuan yang kuat. Alasanku sebenarnya mengajakmu menikah bukan karena bi Tita juga. Tapi karena aku benar-benar ingin menikah denganmu. Usia kita mungkin masih muda, tapi aku yakin dengan kedewasaan kita, kita bisa membina rumah tangga dengan baik. Dari pada melakukan dosa, lebih baik kita halalkan saja hubungan ini. Pacaran sesudah menikah lebih asik kan.”


Kepala Dewi bergerak naik turun tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aditya. Dia juga tahu kalau Aditya adalah pria yang baik dan bertanggung jawan. Pria itu pasti bisa menjadi imam yang baik untuknya. Tapi Dewi tidak bisa mengambil keputusan gegabah. Gadis itu perlu memikirkan semuanya dengan matang, dan tak lupa berdoa pada Sang Maha Kuasa memohon petunjuk.


“Akan aku pikirin, Dit. Kasih aku waktu, ya.”


“Iya, tenang aja. Aku bakal setia nungguin jawaban kamu. Aku… masih di sini untuk setia,” Aditya menyanyikan lagu jaman jebot yang dipopulerkan oleh Jikustik.


“Idiihh apaan sih, gombal hahaha…”


“Aku senang lihat kamu ketawa. Kamu lebih cantik kalau ketawa.”


Pipi Dewi langsung memerah mendengar pujian Aditya. Hatinya meletup-letup tak tentu arah dengan kebersamaan mereka saat ini. Apakah dirinya benar-benar sudah jatuh cinta pada Aditya? Entahlah, mungkin nanti Dewi akan tanyakan pada rumput yang bergoyang atau dinding kamarnya.


“Buat 40 hari ibumu kamu udah siapin apa aja?”


“Ehmm.. apa ya? Kalau makanan atau hidangan buat dibawa pulang buat yang ngaji udah ditanggung pak haji Soleh. Paling aku urus buat Yasiin aja kali ya.”


“Soal Yasiin ngga usah pusing. Bang Ad udah ngurus itu.”


“Ngga mau ah. Malu aku, udah dikasih kerjaan, dapet gaji lumayan sekarang masa Yasiin juga dibayarin dia.”


“Bang Ad cuma bantu pesanin Yasiin aja, uangnya dari tante Pit.”


“Dari tante? Serius? Ya ampun tante kamu baik banget sih.”


“Tante emang baik. Cuma ya gitu somplak, udah gitu jomblo lagi, hahaha..”


“Ish jahat kamu. Cariin jodoh napa.”


“Udah tiga cowok dibikin sawan ama dia. Mama kan lagi rajin cariin jodoh buat dia, ngga ada yang kuat sama kelakuannya. Besok sore dia bakalan ketemu lagi sama calon yang mau dikenalin mama, ngga tau deh apa yang bakal dia lakuin biar tuh cowok ilfil.”


“Emang tante kamu ngelakuin apa sih?”


“Pertama dia bilang kalau udah ngga virgin, malah bilang kalau sering one night stand. Ya auto kabur tuh cowok. Terus kedua, dia berperan jadi cewek matre. Katanya tiap bulan minta uang bulanan 60 juta, buset, hahaha.. yang ketiga lebih parah. Dia ngaku lagi hamil, hahaha..”


“Hahaha.. serius? Terus percaya cowoknya.”


“Percayalah. Orang dia bawa laki yang udah hamilin dia.”


“Siapa.”


“Roxas, bhuahahaha…”


“Hahaha… astaga. Terus si Roxas gimana?”

__ADS_1


“Planga plongo doang. Orang ngga dikodein dari awal. Tau-tau digeret ama tante Pit.”


Aditya tak bisa berhenti tertawa mengingat kembali cerita yang dikatakan Pipit. Andai dia ada di sana mungkin akan tertawa sambil gulang-guling. Dia penasaran juga ingin melihat muka si bule karbitan yang pasti terkaget-kaget.


“Seru banget deh hidup tante kamu. Kayanya cocok buat si Leker. Eh sekarang bukan Leker lagi ya. Kan udah kaga kere dia sekarang, hahaha…”


“Iya, sekarang dia jadi LeTop.”


“Apaan LeTop?”


“BuLe ngeTop, hahaha..”


“Hahaha.. bisa aja.”


"De, laper ngga? Makan yuk."


"Ayo. Aku juga udah laper."


Keduanya kembali keluar dari rumah. Setelah mengenakan helm, keduanya langsung berangkat menuju tempat makan untuk mengisi perut. Aditya berhenti di depan rumah makan sederhana yang menyediakan menu masakan Sunda.


Begitu pelayan mengantarkan pesanan, Aditya dan Dewi langsung melahapnya. Akhir-akhir ini Dewi memang lebih banyak makan di luar karena tidak ada yang memasakkan untuknya. Kalau dirinya paling bisa masak nasi goreng, telor ceplok, dadar dan mie instan. Dia mulai menyesal kenapa tidak mau belajar masak dari sang ibu sebelumnya.


“De.. kamu coba mulai belajar masak deh. Biar irit pengeluaran juga. Kalau makan di luar terus kan boros jatuhnya.”


“Iya, Dit. Nanti deh aku belajar masak sama tante Amel.”


“Gitu dong. Belajar masak makanan favoritku ya.”


“Apaan?”


“Ayam rica-rica.”


“Oke.”


Dewi menyunggingkan senyuman manisnya. Hari ini genap tiga minggu sejak kepergian Nenden. Sedikit demi sedikit dia sudah bisa merelakan kepergian ibunya. Walau berat, dia harus kuat. Kini dia tidak bisa bergantung pada siapapun selain dirinya sendiri. Karena itulah dia harus cepat bisa menerima dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru. Bisa dikatakan kondisi Dewi saat ini lebih tegar dibanding saat Herman meninggalkannya.


“Dit.. abis ini anterin aku ke kampus bentar ya.”


“Emang kamu masih ada kuliah?”


“Ngga ada. Aku lupa harus kumpulin kuis matkul bang Ad. Jam tiga ini jadwal terakhir dia ngajar.”


“Ok deh.”


“Kamu masuk malem ya?”


“Yang semangat ya kerjanya. Cari uang buat kita.”


Tak ayal wajah Dewi memerah saat mengatakan itu semua, namun entah mengapa dia memang ingin mengatakan itu. Diberanikannya menatap wajah tampan Aditya yang semakin terlihat manis dan menggemaskan saat tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya.


🌸🌸🌸


Setelah menunaikan shalat ashar, Adrian memilih untuk langsung mengoreksi kuis dari kelas terakhirnya tadi. Dewi masih setia menunggu di dalam ruangan, sementara Aditya harus bertemu dulu dengan personil band-nya membahas tawaran dari pak Joko, produser yang dikenalkan Toni padanya.


Dewi memperhatikan Adrian yang tengah serius memeriksa kuis. Kemudian matanya melirik pada Jiya yang mejanya bersebelahan dengan Adrian. Sedari tadi dia tahu kalau Jiya sering mencuri pandang pada dosen tampan itu. Tapi nampaknya Adrian tidak menyadarinya atau tidak peduli.


Gadis itu jadi bertanya-tanya apakah yang menyebabkan Adrian tidak menggubris wanita secantik Jiya. Dari bahasa tubuhnya bisa diketahui kalau wanita itu menaruh hati padanya. Tapi Adrian benar-benar tak tersentuh oleh Jiya.


Bu Jiya yang cantik badai aja ngga digubris sama aa Rian. Apalagi gue yang modelan gini. Sebenernya cewek yang dia suka yang kaya gimana sih? Jadi penasaran gue. Aahh bomat, ngapai juga ngurusin perasaan orang lain. Udah ada Adit yang cinta sama gue udah cukup. Soal dia yang ngajakin nikah, apa gue iyain aja ya?


“Ok selesai. Kamu tinggal rekap nilai aja.”


Suara Adrian menarik kembali kesadaran Dewi. Gadis itu menganggukkan kepalanya, kemudian meraih kertas yang disodorkan oleh Adrian. Dia merapihkan itu semua kemudian memasukkan ke dalam tas.


“Kamu pulang sama siapa?”


“Sama Adit. Tapi dia lagi ketemuan ama The Soul bahas soal kontrak rekaman.”


“Masih lama?”


“Ngga tau juga sih. Bentar aku telepon.”


Dewi beranjak dari duduknya, kemudian keluar dari ruang dosen. Rasanya tidak sopan saja kalau harus menelpon di ruangan tersebut. Setelah berbicara dengan Aditya sebentar, Dewi kembali ke ruangan.


“Adit masih di studio. Kayanya belum selesai.”


“Biar aku antar.”


“Ngga usah, pak.”


“Saya ngga terima penolakan.”


Dewi hanya menyebikkan bibirnya dan ditanggapi senyuman tipis saja dari Adrian. Kemudian pria itu menoleh pada Jiya. Wanita itu langsung berpura-pura membereskan buku-buku di mejanya. Malu kalau ketahuan sedari tadi menyimak perbincangan Adrian dengan Dewi.


“Bu Jiya bawa kendaraan?”

__ADS_1


“Eh euung.. ngga, pak.”


“Kalau begitu sekalian saya antarkan saja.”


“Ngga ngerepotin?”


“Ngga kok.”


Dengan wajah sumringah, Jiya bangun dari duduknya. Diambilnya shoulder bag miliknya kemudian menyampirkan ke bahunya. Dewi juga langsung berdiri. Bersama dengan Adrian dan Jiya dia keluar dari ruang dosen tersebut.


Dewi mempersilahkan Jiya duduk di depan, memberi kesempatan pada dosen wanita itu bisa berduaan dengan Adrian di depan. Walau masih sedikit cemburu, tapi dia tidak bisa bersikap egois. Dewi sudah memantapkan hati memilih Aditya sebagai lelaki pilihannya, jadi dia tidak ada alasan menahan Adrian agar bisa bersama dengan wanita lain. Lagi pula Jiya terlihat seperti wanita yang baik dan pantas mendampingi Adrian.


Dengan tenang Dewi duduk di belakang sambil memainkan ponselnya. Dia berbalas pesan dengan Aditya, Sheila dan grup mantan IPS 3. Sesekali terdengar tawanya karena banyolan teman-teman mantan sekelasnya dulu. Diam-diam Adrian memperhatikan dari spion. Dia bersykur Dewi sudah lebih ceria sekarang.


Kendaraan Adrian berhenti di depan rumah Jiya. Dia memutuskan mengantar dosen wanita itu lebih dulu. Sebenarnya Jiya berharap Adrian mengantarkan Dewi lebih dulu hingga dia bisa sedikit berlama-lama dengan pria itu. Dengan gerakan pelan dia membuka sabuk pengaman.


“Terima kasih pak Rian.”


“Sama-sama bu Jiya.”


“Dewi, saya duluan ya.”


“Iya, bu.”


Jiya membuka pintu mobil kemudian turun dari dalamnya. Dia menganggukkan kepala pada Adrian sebelum menutup pintu. Dewi mencondongkan tubuhnya ke depan sambil memegang ponselnya.


“Sesuai titik ya pak, hahaha,” canda Dewi.


“Hahaha..”


“Bang, aku dari sini aja ya pindahnya. Males turun.”


Tanpa menunggu jawaban Adrian, Dewi melompat ke kursi depan. Adrian hanya menggelengkan kepala saja melihat tingkah gadis itu. Setelah Dewi memakai sabuk pengamannya, dia segera menjalankan kendaraan.


“Bagaimana keadaanmu?” Adrian membuka percakapan.


“Alhamdulillah baik, bang.”


“Jujur, saya senang melihatmu seperti ini. Kamu tidak terlalu lama terpuruk dalam kesedihan. Kamu benar-benar anak yang kuat,” Adrian mengusak puncak kepala Dewi.


“Setelah ibu pergi, aku ngga punya siapa-siapa lagi. Aku juga ngga bisa bergantung sama keluarga bapak atau ibu. Jadi aku harus kuat, aku cuma bisa mengandalkan diriku sendiri. Lagi pula, banyak orang yang sayang sama aku. Ada Adit, Rox, Shei, Mila, Sandra dan abang juga.”


Dewi melihat pada Adrian ketika menyebut pria itu. Adrian menolehkan kepalanya, sebuah senyum menghiasi dirinya. Hatinya senang kalau gadis itu mengakui keberadaannya, walau mungkin statusnya saat ini hanyalah kakak dari Aditya saja.


“Iya, kamu ngga usah khawatir. Banyak orang yang menyayangi dan mendukungmu. Kamu harus menyelesaikan kuliahmu, seperti keinginan almarhum bapak.”


“Bang..”


“Hmm..”


“Adit.. tadi Adit ngajakin aku nikah.”


“Terus?”


“Aku masih belum jawab, bingung juga.”


“Kenapa bingung?”


“Aku sama dia masih muda. Adit juga punya impian yang belum terwujud, aku takut pernikahan kami nanti malah menghambat impiannya.”


Untuk sesaat Adrian tak menanggapi ucapan Dewi. Pria itu terus saja menjalankan kendaraannya. Saat mobilnya berhenti di lampu merah, barulah dia membahasnya.


“Adit itu orang yang penuh perhitungan. Dia tidak akan mengajakmu menikah kalau belum memperhitungkan itu semua. Soal impiannya, bukankah lebih baik ada orang yang mendampinginya saat meraih impiannya?” Adrian menoleh pada Dewi.


“Kalau Adit nikah sama aku, abang bakalan dirunghal (dilewati) dong, hihihi...”


“Emangnya aku cewek. Aku justru khawatir sama tante Pit, hahaha..”


Senyum Dewi kembali mengembang mengingat sosok tante kekasihnya ini. sudah pasti bola panas akan terus bergulir padanya kalau dia menerima lamaran Aditya.


“Kalau kamu sudah yakin dengan Adit, menikahlah. Kalau belum, jangan dipaksakan.”


Adrian mengakhiri kalimatnya dengan senyuman. Sebuah senyuman yang dilayangkan setulus mungkin. Melepas wanita yang dicintainya bersanding dengan lelaki lain yang notabene adiknya sendiri. Tapi dia yakin kalau Aditya mampu membahagiakan Dewi.


Selanjutnya hanya keheningan yang ada sampai mereka tiba di kontrakan haji Soleh. Dewi turun dari mobil. Dia melambaikan tangan pada Adrian sebelum menutup pintu mobil. Setelah kendaraan Adrian tak terlihat lagi, Dewi melangkahkan kakinya menuju rumah. Gadis itu menarik nafas panjang sebelum masuk ke dalamnya.


Mata Dewi memandang berkeliling. Biasanya ada sang ibu yang menyambut kepulangannya. Namun kini hanya keheningan yang menyapanya. Mata gadis itu memanas mengingat momen kebersamaannya dengan Nenden di rumah ini. Namun buru-buru dia menguatkan hati.


Lo harus kuat, Wi. Ibu bakalan sedih kalau lo terus-terusan sedih. Percayalah Allah tidak akan memberikan ujian melebih batas kemampuan hamba-Nya. Ibu pergi lebih dulu pergi karena tahu, lo bisa melewati ini semua dan bertambah dewasa dengan kepergiannya. Semangat Dewi! Fighting!


Sambil menaruh tas di dalam kamarnya, Dewi terus menyemangati dirinya. Gadis itu mengambil handuk kemudian berjalan ke kamar mandi. Dia ingin membersihkan dirinya dari debu dan keringat yang menempel di tubuhnya.


Sepuluh menit kemudian Dewi telah selesai dengan ritual mandinya. Setelah menjemur handuk di belakang rumah, gadis itu kembali ke kamarnya. Baru saja dirinya selesai memoles wajahnya dengan bedak tipis, sebuah ketukan di pintu terdengar. Dia menyambar kerudung di atas kasur kemudian mengenakan sambil berjalan keluar. Dalam pikirannya mungkin saja Aditya yang datang.


Tangan Dewi meraih gagang pintu kemudian membukanya. Matanya membelalak dua orang yang berdiri di depannya. Matanya menatap bergantian dua orang di depannya. Mulutnya hanya mampu terdiam tanpa bisa mengatakan apa-apa.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Siapa yang datang tuh?


__ADS_2