Naik Ranjang

Naik Ranjang
Buat Dewi Tersenyum


__ADS_3

“Ibuuu..”


Roxas masuk ke dalam ruang perawatan Nenden kemudian memeluk wanita itu. Seusai latihan, pria itu langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk wanita yang sudah dianggap ibunya sendiri. Di belakangnya mengekor Pipit. Wanita itu segera mendekati Adrian yang duduk di samping bed.


“Bagaimana keadaanmu, Xas?”


“Alhamdulillah baik. Ibu gimana?”


“Baik.”


Walau mulut Nenden mengatakan baik, namun Roxas tahu kalau keadaannya tidak baik-baik saja. Pemuda itu naik ke atas bed, lalu membaringkan diri di samping Nenden. Karuan Pipit terkejut melihatnya. Dia meminta Roxas untuk turun dari sana.


“Kamu ngapain nemplok di situ. Turun!”


“Jangan ganggu kesenangan saya, bu.”


“Ngga apa-apa. Dia memang suka seperti ini,” ujar Nenden.


“Bu.. itu bu Pipit sering marahin aku, bu. Marahin aja, jewer kupingnya juga,” adu Roxas.


“Kang ngadu. Dasar bocil.”


Adrian hanya bisa tersenyum melihat pertengkaran Pipit dan Roxas. Begitu pula dengan Nenden, kehadiran kedua orang itu bisa sedikit menghiburnya. Nenden memandangi wajah cantik Pipit.


“Kalau ibu Pipit atasannya Roxas?”


“Jangan panggil ibu. Saya masih muda dan imut, hehehe..”


“Kumat narsisnya,” ujar Adrian pelan namun masih bisa didengar oleh Pipit. Sontak sebuah jeweran mendarat di telinga pria itu. Karuan saja Nenden terkejut melihatnya.


“Dia keponakan durhakim saya bu,” jelas Pipit yang melihat keterkejutan Nenden.


“Oh ternyata tantenya nak Rian. Tapi masih muda ya.”


“Iya, bu. Saya sama dia cuma beda tiga tahun. Ngga tau gimana caranya tetiba saya bisa ada di perut ibu saya, hahaha…”


Suasana menjadi sedikit mencair ketika Roxas dan Pipit datang. Senyum tak lepas dari wajah Nenden, mendengar celotehan absurd Roxas yang selalu bersitegang dengan Pipit. Mereka seperti pemain lenong yang saling bersahutan, membuat Nenden dan Adrian terhibur.


“Kamu katanya kepilih jadi apa tuh?” tanya Nenden.


“Brand ambassador, bu.”


“Wah udah lancar aja ngomong Inggrisnya,” celetuk Adrian.


“Terpaksa bang. Noh gurunya galak banget. Kupingku merah ditarik mulu sama dia kalau salah ngomong.”


“Hahahaha..”


Bukan hanya Adrian, tapi Nenden juga ikut tertawa mendengarnya. Sedang sang empu yang jadi topik pembicaraan hanya menanggapinya dengan santai.


“Sebentar lagi kamu bakalan terkenal dong,” ujar Nenden.


“Aamiin.. doain aja bu.”


“Kalau sudah terkenal, jangan lupain Dewi, ya. Jangan tinggalin dia. Kamu kan sahabatnya. Kalau dia bersedih, kamu harus selalu menghiburnya.”


“Pasti dong bu. Setelah enin, ibu sama Dewi itu orang-orang yang sangat berharga buat aku. Makanya ibu juga harus tetap sehat biar bisa lihat aku jadi orang sukses. Jadi nanti aku bisa kenalin ke semua orang kalau ibu itu ibuku.”


Roxas kembali memeluk Nenden. Sebisa mungkin pria itu menyingkirkan perasaan aneh yang menyergapnya ketika Nenden menitipkan Dewi padanya. Sekilas Pipit bisa melihat kesedihan di mata pemuda itu.


Aditya dan Dewi yang baru selesai makan, segera menuju kamar perawatan Nenden. Dewi terkejut melihat Roxas sudah datang bersama dengan Pipit. Apalagi ketika masuk, matanya langsung melihat Pipit yang berdiri di belakang Adrian yang tengah duduk dan mengalungkan tangannya ke leher sang keponakan.


“Oii sadut dari mana?” tegur Pipit.


“Abis makan, tan.”


“Tan?” Dewi melihat ke arah Aditya.


“De.. kenalin, ini tanteku, tante Pipit.”


Dewi jadi malu sendiri sudah merasa cemburu pada wanita yang ternyata adalah tante dari Adrian dan Aditya. Gadis itu mengulurkan tangannya pada Pipit seraya menyebutkan namanya.


“Oh jadi ini pacar kamu. Pantesan cinta mati, cantik begini,” goda Pipit.


“Tante bisa aja.”


“Kamu tahu, Wi. Si sadut tuh cinta mati sama kamu. Kalau tidur, ngoroknya aja sebut nama kamu.”


“Hahaha.. anjay fitnah tuh,” Aditya tergelak.


“Emang Adit kalau tidur ngorok ya, tan?”


“Hooh.. sampe kedengeran ke kamar tante. Bayangin aja, dari kamarku ke kamar Adit keselang kamar si Ad. Kebayang kan kencengnya tuh suara ngoroknya.”


“Dasar tante durjana,” rutuk Aditya, namun tak ayal pemuda itu ikut tertawa.


Senyum Adrian mengembang melihat wajah Dewi yang sudah bisa tertawa. Sepertinya dia harus berterima kasih pada sang tante yang sudah membawa keceriaan pada gadis yang dicintainya. Dewi melihat pada Adrian sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya pada Roxas yang masih anteng berada di atas bed Nenden.


“Rox.. turun lo! Ngapain di situ. Ngga sadar body, lo. Nyokap gue ngga bisa tidur,” Dewi memukul bokong Roxas dengan kencang.

__ADS_1


“Adaw!! Sakit, Wi.”


Roxas turun dari bed seraya memegangi bokongnya yang terkena pukulan Dewi. Kemudian pemuda itu mendudukkan diri di ujung bed. Adrian berdiri kemudian memberikan kursinya untuk Dewi. Dia berjalan mendekati Aditya, kemudian merangkul bahu adiknya itu.


“Kamu nginep di sini lagi?”


“Iya, bang. Bilangin ke mama ya.”


“Iya. Besok kamu jangan lupa kuliah, Wi,” Adrian melihat pada Dewi.


“Iya, bang.”


“Ibu.. saya pulang dulu.”


“Iya, nak Rian. Hati-hati di jalan.”


“Tante mau ikut aku?”


“Kamu langsung pulang?”


“Aku mau mampir ke kantor dulu.”


“Udah sana duluan. Gampang nanti aku bisa pulang dianter Adit atau Roxas.”


Adrian hanya menganggukkan kepalanya. Pria itu melihat sekilas pada Dewi, kemudian keluar dari ruangan. Setelah Adrian berlalu, Dewi bangun dari duduknya, mempersilahkan Pipit untuk duduk, sedang dirinya pindah ke bed Nenden. Roxas masih duduk di ujung ranjang sambil memijat kaki Nenden.


“Ulang tahun hotel kapan Rox?” tanya Dewi.


“Sabtu ini.”


“Lo naik panggung dong.”


“Huum.. The Soul juga bakalan tampil di sana.”


“Lah terus di café gimana?”


“Udah ijin, kita tampilnya jadi Jumat sama Minggu,” timpal Aditya.


“Kalian bawain lagu sendiri ngga?” tanya Pipit.


“Iya, tante. Kan kita rencana bawain lima lagu. Dua lagu sendiri,”


“Bagus tuh, kali aja ada produser musik nonton, hehehe..”


“Ibu mau pulang sekarang? Aku anterin, terus mau balik lagi ke hotel. Aku janjinya cuma dua jam perginya.”


“Ayo.”


Setelah mengenakan helmnya, Pipit naik ke belakang Roxas. Pemuda itu segera menjalankan kendaraannya. Jarak dari rumah sakit ke rumah Adrian memakan waktu tiga puluh sampai empat puluh menit. Dengan kecepatan sedang dia menjalankan si hejo.


Baru sepuluh menit berjalan, si hejo mulai berulah. Tunggangan kesayangan Roxas itu mogok di tengah jalan. Lagi-lagi Roxas lupa memberi makan si hejo. Sialnya motor berhenti di jalan yang cukup sepi dan jauh dari pom bensin.


“Kenapa Xas?”


“Biasa bu, kehabisan bensin, hehehe.”


Maneh mah.. giliran teu dititah mogok kalakah mogok. Mana sepi deui. Ngagawean urang kieu carana. Pan urang kudu ngadorong. Hejo.. hejo.. (lo mah, giliran ngga disuruh malah mogok. Mana sepi. Ngerjain gue gini caranya. Kan harus ngedorong).


“Pom bensin lumayan jauh ya,” ujar Pipit.


“Iya, bu. Lima ratus meteran lah.”


Pipit melepaskan helmnya, kemudian menaruh di atas stang motor. Roxas berdiri di samping si hejo dan bersiap untuk mendorong. Pipit melihat ke kanan dan kiri, suasana jalan memang sepi, tidak ada angkot yang lewat. Kemudian terdengar suara klakson motor dari arah belakang.


“Ojeg bu?” tawar pria yang memakai motor tersebut.


“Boleh, pak. Xas..”


“Iya, bu. Ngga apa-apa.”


Pipit segera naik ke belakang tukang ojeg itu dan kendaraan tersebut segera bergerak maju. Roxas hanya memandangi Pipit yang semakin menjauh. Sudah nasibnya jika mogok akan ditinggal oleh orang yang dibawanya. Dulu Yulita, sekarang Pipit.


Setelah menarik nafas panjang untuk mengisi rongga paru-parunya, Roxas mulai mendorong motornya. Jalanan yang dilewatinya memang cukup sepi, hanya satu dua kendaraan saja yang melewatinya. Pemuda itu terus mendorong motor kesayangannya.


Dari arah berlawanan, terlihat sorot lampu mendekatinya. Ternyata itu adalah motor yang tadi membawa Pipit. Perlahan motor tersebut mendekat kemudian berhenti di depan Roxas. Pemuda itu melongo melihat Pipit turun sambil membawa botol berisikan bensin. Setelah membayar ongkos ojeg, wanita itu menghampiri Roxas.


“Nih..” Pipit menyodorkan botol di tangannya.


“Eh kirain saya, ibu pulang.”


“Mana tega saya ninggalin kamu sendiri. Mana sepi lagi. Kalo ada apa-apa sama kamu, nanti saya juga yang kena semprot pak Mahes.”


“Hehehe.. makasih, bu.”


Roxas membuka jok motornya kemudian mulai memberi makan si hejo. Beberapa kali pemuda itu mencoba menyalakan kembali mesin motor. Tak lama kemudian terdengar bunyi mesin menyala. Dia memberikan helm pada Pipit untuk dipakai kembali. Setelahnya wanita itu segera naik ke belakang Roxas.


Perjalanan selanjutnya hanya ditempuh dalam waktu lima belas menit saja, karena Roxas lumayan mengebut demi mengejar waktu. Si hejo berhenti tepat di depan kediaman Toni. Pipit turun dari motor, membuka helm kemudian memberikannya pada Roxas.


“Kamu langsung pulang ke hotel.”

__ADS_1


“Iya, bu.”


“Besok jangan lupa latihan bahasa Inggris lagi.”


“Siap. Tapi kira-kira besok saya bisa ke rumah sakit lagi, ngga bu?”


“Besok saya ngomong ke pak Mahes.”


“Makasih ya, bu.”


Pipit menganggukkan kepalanya. Roxas menyalakan kembali mesin motornya kemudian segera meninggalkan kediaman Toni yang nampak sepi. Setelah Roxas tak terlihat, Pipit bergegas masuk ke dalam rumah. Kendaraan Adrian belum ada, tandanya keponakannya itu belum pulang.


🌸🌸🌸


Aditya mendorong kursi roda yang dinaiki Nenden keluar dari tempat kemoterapi. Wanita itu meminta Aditya membawanya ke taman yang ada di dekat sana. Dia ingin menghirup udara di luar rumah sakit. Mencoba mengurangi rasa mual yang melandanya. Aditya mengunci roda kursi kemudian mendudukkan diri di bangku yang ada di sana.


Tak ada pembicaraan di antara keduanya. Aditya membiarkan Nenden menikmati udara sore hari yang lumayan sejuk. Dewi masih belum kembali dari kampus, hari ini jadwal kuliahnya memang padat, sampai sore. Sedang dirinya libur kerja. Nenden menolehkan kepalanya pada Aditya yang duduk tak jauh darinya.


“Dit..”


“Iya, bu.”


“Terima kasih, kamu selalu menemani Dewi.”


“Sama-sama, bu. Ibu ngga usah sungkan.”


“Apa kamu mencintai Dewi?”


“Iya, bu.”


Nenden tersenyum mendengar jawaban malu-malu Aditya. Dia sungguh merasa bersyukur, putri tunggalnya dicintai dua orang pria yang benar-benar baik. Baik Adrian mau pun Aditya sama-sama memiliki kriteria ideal untuk menjadi pendamping anaknya. Dirinya hanya memasrahkan diri pada Tuhan, siapa yang akan menjadi jodoh anaknya.


“Ibu minta, kamu jangan meninggalkan Dewi, ya. Kamu selalu bisa membuatnya tertawa dan tersenyum.”


“In Syaa Allah, bu.”


“Ibu titip Dewi, seandainya ibu tidak bisa tinggal lebih lama lagi.”


Aditya langsung bangun dari duduknya, kemudian menghampiri kursi roda Nenden. Pemuda itu berjongkok di depan Nenden, memegang kedua tangan wanita itu. Entah mengapa dia merasakan kalau kata-kata Nenden barusan seperti pertanda buruk untuknya.


“Ibu jangan bilang gitu. Ibu harus kuat, harus tetap sehat untuk Dewi. Dewi masih membutuhkan ibu.”


“Kalau boleh jujur.. ibu sudah ngga kuat.”


Airmata Nenden jatuh berderai setelah mengatakan itu. Dia merasakan kondisi tubuhnya semakin hari semakin lemah. Obat juga tidak berpengaruh banyak pada tubuhnya. Rasa sakit kerap menggerogotinya, dan terkadang wanita itu menangis diam-diam demi menahan rasa sakitnya.


“Setiap malam, ibu bermimpi didatangi bapak. Bapak mengajak ibu pergi.”


“Ibu…”


Aditya tak mampu menahan airmatanya. Jika Nenden benar-benar meninggalkan dunia ini, entah apa yang akan terjadi pada Dewi. Dia akan menjadi gadis yatim piatu dan sebatang kara. Tangan Nenden bergerak mengusap puncak kepala Aditya.


“Tolong buatlah Dewi tetap tersenyum. Kalau pun dia menangis dan bersedih, jangan biarkan dia berlama-lama terkungkung dalam kesedihannya. Ibu minta tolong padamu, Dit.”


Hanya anggukan kepala saja yang dapat diberikan oleh Aditya. Pemuda itu masih terus menangis sambil memegangi kedua tangan Nenden. Perlahan awan mulai menutupi matahari yang masih memancarkan sinarnya, membuat suasana menjadi sedikit redup. Seakan semesta turut bersedih atas apa yang terjadi pada kedua orang tersebut.


🌸🌸🌸


Kemeriahan sudah terasa di ballroom Amarta hotel. Sejak setengah jam lalu, pesta ulang tahun hotel sudah dimulai. Tamu sudah mulai berdatangan memenuhi tempat acara. Cuplikan perjalanan hotel yang baru berdiri lima tahu lalu diputar melalui layar putih yang terpampang di depan panggung.


Setelah tampilan film berakhir, Mahes naik ke atas panggung untuk memberikan sambutannya. Pria tampan yang mengenakan tuxedo berwarna hitam itu naik ke atas mimbar dengan percaya diri. Prayoga tersenyum bangga melihat menantunya berdiri di atas sana.


“Selamat malam semuanya.”


“Selamat malam.”


“Suatu kehormatan bagi saya berdiri di sini dalam perayaan ulang tahu Amarta hotel yang kelima. Tidak banyak yang akan saya sampaikan. Hanya ungkapan terima kasih pada semua karyawan, baik tetap maupun kontrak yang sudah bekerja keras menjadikan hotel ini sebagai hotel bintang lima terbaik selama lima tahun terakhir ini. Dan kini kita kembali harus bekerja keras, untuk menjadikan Amarta hotel sebagai hotel bintang enam terbaik di Indonesia!”


Gemuruh tepuk tangan menyambut ucapan menantu dari Prayoga ini. Indira menyunggingkan senyum tipis, melihat betapa bersemangatnya sang suami memberikan sambutannya malam ini. Hanya ketiga kakaknya yang tidak terlihat antusias. Mereka masih beranggapan kalau Mahes masih belum cocok mengelola hotel ini.


“Dan untuk meningkatkan citra hotel, maka ijinkanlah kami memperkenalkan brand ambassador kami, Roxas dan Amanda!!”


Sepasang pria dan wanita naik ke atas panggung. Lampu sorot langsung mengarah pada keduanya. Roxas nampak gagah dalam balutan tuxedo hitam, dan Amanda nampak cantik mengenakan dress panjang berwarna gold. Keduanya melambaikan tangan ke arah tamu undangan.


Suara merdu Amanda terdengar ketika gadis itu memaparkan tentang Amarta hotel menggunakan bahasa Inggris. Setelah selesai, Roxas menyambung, mengatakan hal yang sama hanya saja pemuda itu menggunakan bahasa Sunda.


Setelah keduanya selesai melakukan tugasnya, Mahes bergabung bersama mereka. Kemudian secara bersama-sama menekan tombol yang ada di atas panggung. Perlahan layar putih bergerak turun dan menampilkan logo baru Amarta hotel. Suasana semakin meriah ketika kembang api di sekitar panggung menyala yang kemudian disusul oleh tepuk tangan penonton.


Setelah acara pengenalan logo dan brand ambassador, para tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang tersedia. Mereka juga dihibur oleh pengisi acara yang sudah dipilih oleh panitia acara. Ada tarian tradisional, modern dance dan juga musik. The Soul didapuk sebagai salah satu pengisi acara, mendampingi artis ibu kota lainnya yang juga diminta mengisi acara.


Mila, Sandra, Sheila, Micky, Bobi dan Budi yang juga diundang menghadiri acara tersebut bersorak senang saat The Soul tampil di panggung. Hanya Dewi yang tidak hadir di sana karena tengah menunggui ibunya di rumah sakit. Pipit yang berada satu meja dengan Yulita melihat ke arah panggung. Wanita itu bangga melihat keponakannya dapat tampil menghibur membawakan lagu ciptaannya sendiri. Kemudian pandangannya beralih pada Roxas yang begitu lihai memainkan bassnya.


🌸🌸🌸


Kemeriahan di ballroom hotel berbanding terbalik dengan keadaan di rumah sakit. Nampak beberapa suster berlari menuju ruang perawatan Nenden. Seorang dokter naik ke atas bed Nenden, berusaha membuat jantung wanita itu berdetak kembali. Setengah jam lalu, kondisi Nenden memburuk, satu per satu tanda vitalnya mulai menurun.


Adrian yang mendapat telepon dari Dewi segera menuju rumah sakit begitu mendengar kabar tentang Nenden. Sambil berlari, pria itu menuju ruang perawatan. Bed Nenden dikelilingi suster dan dokter yang tengah membantu wanita itu bertahan hidup. Kemudian pandangannya tertuju pada Dewi yang berdiri tak jauh dari sana dengan bersimbah airmata.


“Ibu.. ibu…”

__ADS_1


🌸🌸🌸


Hadeeuuhh.. Alamat banjir lagi nih, ngepel lagi🏃🏃🏃🏃


__ADS_2