
Selesai sarapan dan membersihkan perabotan kotor, semua mulai bersiap-siap. Untuk acara trecking ini, Roxas menugaskan Budi, Micky dan Fathir membawa tas yang berisi perbekalan untuk mereka berupa camilan dan juga air mineral. Kemudian meminta yang sudah siap untuk menunggu di halaman depan, termasuk Dewi.
Adrian memanggil Roxas dan Hardi. Dia perlu berbicara dengan kedua muridnya itu. Melihat kondisi Dewi yang masih kurang fit, pria itu memutuskan untuk melarang Dewi ikut pergi.
“Siapa orang yang akan memandu kalian?” tanya Adrian.
“Pak Oman.”
“Pak Omannya sudah datang?”
“Sudah, pak. Itu nunggu di depan,” jawab Hardi.
“Kalian tidak apa-apa pergi tanpa saya? Kondisi Dewi tidak fit, takutnya dia pingsan kalau dipaksakan ikut. Jadi, saya akan menjaga Dewi di sini.”
“Iya, ngga apa-apa, pak. In Syaa Allah aman, pak,” sahut Roxas.
“Iya, pak. Kasihan Dewi kalau ikut.”
Roxas dan Hardi menyetujui apa yang wali kelasnya itu sampaikan. Kemudian ketiga pria itu berjalan bersama menuju halaman depan. Hardi memperkenalkan Adrian pada Oman. Untuk beberapa saat Adrian berbicara dengan pria berumur lima puluh tahun itu. Dia menitipkan anak didiknya pada pria itu. Kemudian berdiri di depan semua muridnya yang sudah siap untuk pergi.
“Dewi, ke sini.”
Mendengar namanya dipanggil, Dewi mendekati Adrian. Pria itu menarik tangan Dewi untuk berdiri di dekatnya. Kemudian dia kembali melihat pada anak-anak didiknya.
“Salah satu teman kalian, Dewi sedang tidak sehat. Maka untuk acara kali ini, dia tidak diijinkan untuk ikut kegiatan trecking.”
“Pak,” protes Dewi namun diabaikan oleh Adrian. Pria itu melanjutkan ucapannya.
“Maaf saya tidak bisa ikut bersama dengan kalian. Saya tidak bisa membiarkan Dewi sendirian di vila. Jadi untuk kegiatan hari ini, saya mohon bantuannya pada pak Oman menjadi mata dan telinga untuk saya.”
Pria bernama Oman itu hanya menganggukkan kepalanya. Terdengar nada kecewa dari beberapa murid, khususnya kaum hawa begitu mendengar Adrian tidak bisa ikut bersama mereka. Tapi mereka juga tidak bisa memaksa, mengingat kondisi Dewi yang tidak sehat.
“Saya harap kalian bisa bersenang-senang di tempat tujuan. Hati-hati saat perjalanan, jangan bercanda keterlaluan, perhatikan keamanan. Roxas dan Hardi, saya percayakan keselamatan mereka semua pada kalian berdua. Ikuti arahan pak Oman.”
“Siap, pak.”
Usai memberikan wejangannya, Adrian mempersilahkan semua untuk berangkat ke tempat tujuan. Sheila dan Mila menghampiri Dewi kemudian memeluknya bergantian. Mereka cukup sedih karena Dewi tak bisa ikut bersenang-senang bersama mereka.
“Met senang-senang gaess.. maaf ya, gue ngga bisa ikut,” sesal Dewi.
“Ngga apa-apa, Wi. Lo istirahat aja, kesehatan lebih penting,” ujar Sheila.
“Tenang aja, nanti gue ambil spot yang bagus tar tinggal crop foto lo di sana,” sahut Mila sambil terkikik.
Setelah berbicara dengan Dewi, keduanya lalu berpamitan pada Adrian kemudian menyusul teman-temannya yang telah lebih dulu meninggalkan vila. Sepeninggal mereka semua, Adrian mengajak Dewi kembali masuk ke dalam vila.
🌸🌸🌸
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, akhirnya rombongan IPS 3 sampai juga di destinasi pertama mereka, curug Omas. Mereka lebih dulu melepaskan lelah dengan duduk di sekitar area. Ada yang membasahi kerongkongannya, ada pula yang memakan camilan.
Curug Omas memiliki ketinggian sekitar 30 meter dan kedalaman 10 meter. Air terjun ini merupakan aliran sungai Cikawari. Terdapat dua buah jembatan di curug ini. Jembatan di atas curug, memungkinkan pengunjung melihat air terjun dan dasar sungai yang merupakan pertemuan dua arus sungai, yakni sungai Cikawari dan sungai Cigulung. Sedangkan jembatan kedua berada di bawah curug. Jembatan melintasi sungai yang mengalir deras.
Setelah beristirahat sebentar, satu per satu mulai mendekati area curug. Bergantian mereka menyusuri jembatan yang ada di atas curug. Tak lupa pula mereka mengambil gambar dari atas jembatan. Sayangnya di sini mereka hanya bisa melihat curug dari kejauhan saja. Dan tidak ada juga yang diperbolehkan bermain di dasar curug karena alirannya begitu desar. Maklum saja karena itu merupakan DAS (Daerah Aliran Sungai) Cikapundung Hulu yang mengalir membelah dan berbelok membelah kawasan Taman Hutan Raya.
Selain berjalan di jembatan atas, ada juga yang berjalan di jembatan bawah, menyisiri sungai yang airnya terlihat begitu jernih. Pak Oman terus mengawasi anak-anak yang tengah menikmati pemandangan di sekitar curug sambil berselfie ria. Beberapa kali terdengar teriakannya memperingati mereka agar tidak terlalu mendekati arus sungai.
Karena tidak ada banyak hal yang bisa dilakukan di sana selain berfoto-foto seraya menikmati udara segar. Setelah beristirahat selama satu jam, mereka melanjutkan perjalanan. Kini tujuannya adalah curug Maribaya. Sebenarnya lokasi curug Maribaya lebih dekat dari vila. Berhubung fasilitas di sana lebih banyak, Hardi memutuskan mengunjungi curug tersebut setelah curug Omas.
Hardi bersama dengan Sheila berdiri di depan loket. Dia menghitung jumlah orang yang masuk ke curug maribaya. Setelah menghitung jumlah keseluruhan, Sheila mengambil dompetnya kemudian membayarkan semuanya. Dia memang bendahara kelas yang dipercaya untuk mengelola uang kas.
Curug Maribaya berada di kawasan wisata Maribaya Natural Hot Springs Resort, makanya tidak aneh kalau tiket masuknya lebih mahal. Di sana juga tersedia berbagai fasilitas yang memanjakan pengunjung. Tujuan pertama mereka sudah tentu adalah curug Maribaya. Mereka sudah tidak sabar untuk bermain air, karena di curug Omas, mereka hanya bisa melihat saja.
Curug Maribaya merupakan kumpulan tiga curug kecil, yakni curug Cikawari, curug Cigulung dan curug Cikolelang. Tinggi curug hanya setengah dari curug Ciomas, sekitar 15 cm. Sama seperti curug Omas, sumber air curug Maribaya berasal dari sungan Cikawari dan Cigulung. Di curug ini, para pengunjung bisa bermain di kolam penampungan air curug. Seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, rombongan IPS 3 langsung menghambur ke arah kolam air dan bermain di sana.
Roxas sibuk mengabadikan teman-temannya yang bermain di curug dalam bentuk foto dan video, lalu mengirimkannya pada Dewi. Dia berharap sang sahabat bisa terhibur dengan gambar dan video kirimannya. Baru saja dia hendak bergabung dengan yang lain, Sheila tiba-tiba datang dan mengajak selfie bersama.
Usai berselfie ria, Roxas menitipkan tas dan juga ponselnya pada pak Oman yang hanya duduk di tempat yang teduh, begitu juga dengan Sheila. Kemudian keduanya segera bergabung dengan yang lainnya. Karena tak hati-hati, Sheila terpeleset dan hampir saja terjatuh. Untung saja Roxas bergerak cepat dengan menahan pinggang gadis itu. Dada Sheila berdebar saat Roxas memeluk pinggangnya. Pipinya seketika merona. Roxas segera melepaskan pelukannya begitu posisi Sheila sudah kembali tegak.
Puas bermain di curug, rombongan mulai berpencar. Hardi mempersilahkan semua untuk berkeliling. Jam setengah dua belas mereka diminta berkumpul di dekat curug untuk menikmati makan siang. Sheila mengajak Roxas menemaninya jalan-jalan ke skybridge Tapak Halimun. Hati gadis itu bertambah senang ketika Roxas menyetujuinya. Sambil menyusuri jembatan, Sheila beberapa kali mengabadikan kebersamaan mereka.
🌸🌸🌸
Sementara itu di vila, setelah rombongan berangkat, Adrian meminta Dewi beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Dewi tidak ingin tidur di kamar, dia ingin berbaring di bale sambil menonton televisi. Adrian memindahkan perlengkapan tidur dari bale, kemudian menggelar surpet di atasnya. Dia ke kamar untuk mengambil bantal dan guling lalu menatanya di atas surpet.
“Sudah minum obat?”
“Sudah, pak.”
__ADS_1
“Mau saya belikan vitamin?”
“Ngga usah, pak. Saya bawa kok.”
“Sudah diminum vitaminnya?”
“Sudah.”
“Kalau begitu sekarang tiduran,” titah Adrian.
Dewi membaringkan tubuhnya di atas bale beralas surpet. Adrian mengambil selimut lalu menutupi tubuh gadis itu sebatas pinggang. Dia lalu duduk tak jauh dari bale, kemudian sibuk berselancar dengan ponselnya.
“Pak..”
“Hmm..”
“Bete... acara tv-nya ngga ada yang rame,” Dewi mematikan layar datar di depannya.
“Terus?”
“Ya bapak ngapain kek buat ngehibur saya.”
“Maksud kamu saya harus jingkrak-jingkrak?”
“Ya ngga gitu juga, pak. Apa kek biar rame. Main topeng monyet juga ngga apa-apa.”
“Ngelunjak kamu sama guru.”
“Dih, saya kan udah lulus. Bapak bukan guru saya lagi.”
“Kalau bukan guru kamu lagi, kenapa manggilnya masih bapak?”
“Terus saya harus panggil apa? Kakak salah, abang juga salah, mas masih salah. Sebenernya bapak mau dipanggil apa? Akang?”
“Emangnya saya, kang Mus.”
“Tuh kan salah terus. Ya udah saya panggil bapak aja.”
Adrian tak menanggapi perkataan Dewi. Dia membuka aplikasi youtube pada ponselnya, kemudian memutar lagu-lagu Shawn Mendes. Adrian sengaja memilih lagu Shawn Mendes karena tahu itu adalah salah satu penyanyi favorit Dewi. Suara merdu kekasih Camila Cabelo itu terdengar saat menyanyikan lagu Imagination.
Oh, there she goes again
Every morning it's the same
I wanna call out your name
I wanna tell you how beautiful you are from where I'm standing
You got me thinking what we could be 'cause
I keep craving, craving, you don't know it but it's true
Can't get my mouth to say the words they wanna say to you
This is typical of love
Can't wait anymore, I won't wait
I need to tell you how I feel when I see us together forever
Pilihan Adrian memutar lagu Shawn Mendes tepat, terlihat betapa Dewi menikmati lagu tersebut. Bahkan terdengar suaranya ikut menyanyikan liriknya. Sepertinya kebosanan gadis itu sedikit berkurang. Sambil bersandar pada bale, Adrian ikut menikmati lagu berirama sedang tersebut.
“In my dreams you're with me. We'll be everything I want us to be. And from there, who knows? Maybe this will be the night that we kiss for the first time. Or is that just me and my imagination?”
Diam-diam Adrian tersenyum ketika Dewi menyanyikan bagian refrain. Lirik Imagination benar-benar menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Tak bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya, karena masih belum tahu bagaimana perasaan Dewi sebenarnya. Ditambah status mereka sebagai murid dan guru, membuat Adrian harus berpikir dua kali untuk mengungkapkan perasaannya. Jadi kebersamaan mereka seperti pasangan kekasih masih dalam imajinasinya saja.
Baru kali ini Adrian mendengarkan dengan seksama lagu penyanyi asal Kanada itu. Ternyata selain bersuara renyah, musiknya juga easy listening. Bagitu pula dengan liriknya, sepertinya lagu pria tampan itu akan masuk dalam daftar lagu pilihan Adrian.
“Pak, ganti dong.”
“Kamu mau lagu apa?”
“Kotak, yang Sendiri.”
Adrian mengetik judul lagu berikut nama band di kolom pencarian. Kemudian dia memilih lagu Sendiri yang dinyanyikan Kotak secara live. Lagu berirama pelan ini ternyata juga enak didengar.
Aku terus bertahan. Kucoba untuk lupakan. Semua beban dihati. Ku jatuh terhempas. Tak sanggup ku lalui. Jiwa ini tlah terluka. Kekosongan yang ada. Melingkupi raga diriku.
Adrian memejamkan mata saat mendengarkan lagu tersebut. Dalam bayangannya yang menyanyikan lagu itu adalah Dewi. Lamunannya terhenti ketika lagu yang diputar berakhir. Dia menolehkan kepalanya ke belakang, ternyata Dewi telah tertidur. Adrian meletakkan ponsel di dekat bale. Dia memilihkan lagu-lagu berirama lambat untuk menemani Dewi tidur.
Tangan Adrian menarik selimut dan membenarkan letaknya. Setelah itu dia keluar dari vila. Pria itu memilih berkeliling di sekitar vila. Mencari warung atau kios yang menjual makanan atau camilan. Takut jika terbangun dari tidurnya, Dewi kelaparan.
__ADS_1
🌸🌸🌸
“Bapak.. bapak.. hiks… Dewi kangen, pak.. bapak.. hiks..”
Dewi mengigau dalam tidurnya. Dalam bayangannya saat ini dia sedang berjalan bersama dengan Herman. Namun di sebuah persimpangan, tiba-tiba turun kabut kebal. Herman yang terus berjalan, menghilang ditelan kabut. Dewi terus memanggil sang ayah, tangannya berusaha menggapai Herman yang berjalan semakin jauh.
“Bapak… hiks.. bapak… hiks.. hiks..”
Adrian baru saja kembali setelah berkeliling. Di tangannya terdapat bungkusan berisi aneka kue basah. Dia terkejut ketika mendengar Dewi menangis. Bungkusan di tangannya diletakkan begitu saja di atas meja. Pria itu bergegas menghampiri Dewi.
“Bapak… hiks.. hiks..”
Dengan mata terpejam, Dewi terus memanggil sang ayah. Airmata mengalir dari sela-sela matanya yang terpejam. Adrian mendudukkan diri di sisi bale, kemudian dengan gerakan pelan menepuk lengan Dewi.
“Dewi.. bangun.. Wi.. Wi..”
Mendengar ada suara yang memanggilnya, perlahan Dewi membuka matanya. Dalam bayangan gadis itu, yang tengah duduk di dekatnya adalah Herman. Dia segera bangun dari tidurnya kemudian memeluk Adrian.
“Bapak.. Dewi kangen hiks.. jangan pergi lagi, bapak hiks.. jangan tinggalin Dewi.”
Untuk sejenak Adrian hanya terpaku, kemudian tangannya mulai bergerak memeluk punggung Dewi dan mengusapnya lembut. Dewi masih terus menangis, membuat kaos polo yang dikenakan pria itu basah.
“Bapak.. hiks..”
“Bapak sudah tenang, Wi. Bapak sudah bahagia di tempatnya sekarang. Kamu juga harus bahagia, jangan bersedih. Perjalananmu masih panjang, doakan bapak jika kamu merindukannya.”
Perkataan Adrian sukses memasuki relung hati Dewi. Kondisi gadis itu mulai tenang. Isaknya sudah tidak terdengar lagi. Hanya tangannya saja yang masih memeluk pinggang Adrian. Perlahan Adrian melepaskan diri dari pelukan Dewi. Ternyata gadis itu kembali tertidur. Pelan-pelan dia menidurkan kembali Dewi di bale. Jarinya bergerak mengusap airmata yang tersisa di pipi.
Merasakan sentuhan di pipinya, perlahan Dewi membuka matanya. Adrian yang masih duduk di bale menatap ke arahnya. Pandangan mereka dan saling mengunci, perlahan desiran aneh mulai merasuki hati keduanya. Adrian mendekati Dewi, tangannya terulur memegang wajah gadis itu, kemudian menempelkan bibir mereka. Dengan gerakan pelan Adrian memagut bibir Dewi dengan lembut.
“Wi..”
BYAR
Adegan pertautan bibir seketika buyar saat terdengar suara Adrian. Dewi yang tersadar baru saja berkhayal dicium oleh mantan wali kelasnya, jadi malu sendiri. Semburat merah langsung terlihat di wajahnya.
“Wi.. kamu baik-baik aja?”
“I.. iya, pak.”
“Kenapa muka kamu merah gitu?”
“Hah?”
Dewi refleks memegang kedua pipinya yang menghangat. Dalam hati dia merutuki kenapa sampai bisa berkhayal seperti tadi. Kalau saja Adrian tahu pikiran mesum yang barusan melintas di kepalanya, sudah pasti ceramah Aa Gym-nya akan keluar.
Duh kenapa bisa mikir mesum kaya gitu sih. Ini pasti efek nonton film kemarin. Ish Dewi… sadar-sadar.. kenapa bayangin ciumannya sama pak Rian, kenapa ngga sama Adit.
“Kamu lapar ngga? Saya beli kue basah.”
“La laper, pak.”
Dewi terpaksa berbohong demi menutupi rasa malunya, padahal cacing di perutnya belum minta diisi. Adrian bangun dari tempatnya duduk, kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil piring. Dia memindahkan kue yang dibelinya ke dalam piring. Setelah itu dia membuatkan teh manis untuk Dewi dan kopi hitam untuknya sendiri.
Baru saja Adrian mendudukkan diri di bale ketika ponsel Dewi berdenting. Kiriman gambar dan video masuk ke ponsel gadis itu. Dewi bangun dari tidurnya kemudian duduk di sisi Adrian. Dia memperlihatkan kiriman dari sang sahabat.
“Tempatnya bagus banget, pak. Huaaaa…. Saya ngiri ngga bisa ikut. Lihat mereka senang banget. Huaaa… bapak jahat ngga ijinin saya ikut.”
“Kamu itu lagi sakit. Kalau maksa ikut, yang ada malah ngerepotin mereka. Bisa-bisa kamu pingsan di jalan.”
“Tapi saya pengen ke sana juga, pak.”
“Nanti kita jalan-jalan ke sana kalau kamu sudah sehat.”
“Bener ya, pak.”
“Iya.”
“Jangan JJTJ BMHM loh.”
“Apaan tuh?”
“Janji-janji Tinggal Janji. Bulan Madu Hanya Mimpi.”
Adrian tergelak mendengarnya. Ada-ada saja istilah yang keluar dari mulut mantan muridnya itu. Karena gemas, tanpa sadar tangannya bergerak mengusap puncak kepala Dewi. Hal itu sukses membuat dada Dewi berdesir. Gadis itu buru-buru menundukkan kepalanya ketika merasakan pipinya mulai menghangat.
🌸🌸🌸
**Yang ngarep Dewi ikut terus digendong Adrian.. TETOT... Anda salah. Ini NR bukan drakor🤣
Untuk readers sekalian, dimohon untuk tidak nabung bab ya. Kalau kalian nabung bab sampai banyak baru baca, itu ngaruh ke popularitas, dan nurunin level novel, apalagi menjelang akhir bulan. Butuh usaha buat naikin level novel tapi gampang banget buat nuruninnya🤧 Maaf curhat, pengalaman di KPA soalnya. Jadi biar sama² enak, yuk langsung baca begitu up🙏
__ADS_1
Kemarin ada yang minta visual Arland versi baru yg sudah dipotong rapih rambutnya. Nih mamake kasih. Yang masih nanya, Arland ada di mana sih? Ada di rumah Paijo ya🤣**