
Mobil yang dikendarai Adrian berhenti di depan kediaman orang tuanya. Sepulang dari kampus, Adrian sengaja mampir ke rumah Toni untuk menjemput anak dan istrinya. Hari ini Dewi tidak ada kuliah dan memilih menghabiskan waktu bersama Ida dan Toni. Kebetulan Toni juga tengah cuti. Mereka sudah sangat merindukan Arkhan.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Bi.. Dewi mana?” tanya Adrian pada Parmi.
“Mba Dewi lagi di taman belakang sama ibu dan Arkhan.”
Adrian langsung menuju ke taman belakang. Benar saja, istri dan ibunya memang berada di taman belakang. Mereka sedang menunggui Arkhan yang tengah bermain air di dalam kolam renang karet. Toni sengaja membelikan kolam renang karet tersebut khusus untuk sang cucu jika ingin berenang di rumah.
“Ad.. sudah pulang,” tegur Ida.
Adrian meraih tangan Ida lalu mencium punggung tangannya. Dewi berdiri lalu mencium punggung tangan suaminya. Melihat kedatangan ayahnya, Arkhan langsung berteriak kesenangan. Adrian segera mendekati Arkhan dan ikut bermain air bersama anaknya itu.
“Aa mau makan ngga? Pasti belum makan,” ujar Dewi.
“Iya, aku laper.”
“Dewi buat lotek, kamu mau kan? Kita juga belum makan, sengaja tunggu kamu. Mama goreng ayam dulu.”
“Aku juga buat lotek dulu. Aa tolong jagain Arkhan.”
“Iya.”
Sepeninggal Dewi dan Ida, Adrian kembali mengajak anaknya bermain. Terdengar teriakan Arkhan ketika Adrian mencipratkan air ke wajahnya. Toni masuk ke halaman belakang dan langsung menghampiri cucunya.
“Wah cucu kakek senang benar. Arkhan suka main air?”
Arkhan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tersenyum, memamerkan lesung pipinya. Toni tertawa senang melihat cucunya yang terlihat begitu bahagia. Pria itu ikut duduk di samping Adrian.
“Papa ngga kerja?”
“Papa ambil cuti sehari, lumayan bisa istirahat di rumah tiga hari. Masuk-masuk hari Senin. Bagaimana di kampus? Desas-desus soal kalian sudah selesai?”
“Sudah, pa. Sudah beres.”
“Papa setuju kamu bertindak tegas. Supaya mereka berpikir ulang kalau mau menyebarkan fitnah.”
“Iya, pa.”
Adrian terjengit ketika Arkhan menepukkan tangannya ke air dan cipratannya terkena wajahnya. Terdengar tawa anak itu melihat apa yang terjadi pada ayahnya. Adrian berpura-pura marah lalu menggelitiki Arkhan. Tawa anak itu disertai jeritannya kembali terdengar.
“A.. Arkhannya udah main airnya, tolong gantiin bajunya. Makanan udah mateng.”
Dengan cepat Adrian mengangkat Arkhan dari kolam lalu mengelap tubuhnya dengan handuk. Dengan dibalut handuk, pria itu membawa Arkhan ke kamar untuk dipakaikan baju. Toni bantu mengeluarkan air dari kolam lalu membereskan kolam karet tersebut. Setelahnya dia masuk ke dalam rumah, bersiap untuk makan siang bersama.
“Loteknya enak,” puji Toni.
“Siapa dulu yang buat,” ujar Ida.
“Mama yang buat?”
__ADS_1
“Ya bukan. Dewi yang buat, mama mana bisa buat bumbu lotek seenak ini.”
Dewi mengulum senyum mendengar pujian sang mama mertuanya. Dia bahagia melihat Toni yang makan begitu lahap dengan lotek buatannya ditambah ayam goreng dan tempe mendoan. Arkhan juga nampak lahap memakan nasi tim ayam buatannya.
“Kalian nginep di sini aja. Besok kan kalian ngga ke kampus.”
“Besok aja ya, ma. Hari ini aku mau beresin kerjaan dulu.”
“Kamu tuh kerja terus. Kasihan anak sama istri kamu kesepian kalau kamu sibuk terus.”
“Ya, ngga ma. Aku kan bagi waktu juga. Ya kan, sayang?” Adrian mencoba mendapatkan dukungan dari Arkhan yang hanya dibalas dengan anggukkan kepala saja.
Usai makan siang, Toni mengajak Arkhan ke ruang tengah untuk menonton tayangan kartun. Dewi dan Ida membereskan peralatan bekas makan siang, sedang Adrian masuk sebentar ke dalam kamarnya untuk mengerjakan sesuatu.
Bi Parmi bergegas ke ruang depan ketika mendengar suara orang mengucapkan salam. Wanita paruh baya itu segera mempersilahkan tamu yang datang untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Kemudian wanita itu segera menuju dapur untuk memanggil Ida.
“Bu.. itu ada tamu mau bertemu mas Ad sama mba Dewi.”
“Ketemu aku, bi? Siapa?” Dewi nampak terkejut mendengar penuturan bi Parmi.
“I.. itu, mba. Orang tuanya mba Yulita.”
Sejenak Dewi dan Ida saling berpandangan. Ida segera menuju ruang tamu untuk menemui tamunya, sedang Dewi memanggil Adrian di kamar. Adrian terkejut mendengar kedatangan orang tua Yulita. Sejak terakhir bertemu di rumah sakit jiwa, mereka sudah tidak berurusan dengan Yulita lagi. Bersama dengan Dewi, pria itu segera menuju ruang tamu. Toni yang mendengar kedatangan orang tua Yulita, ikut menemui tamunya sambil menggendong Arkhan.
Setelah saling menyalami, Ida mempersilahkan orang tua Yulita untuk kembali duduk. Keadaan sesaat menjadi hening. Mama Yulita nampak menundukkan kepalanya. Melihat istrinya yang hanya diam, papa Yulita berinisiatif memulai percakapan.
“Sebelumnya atas nama Yulita, kami meminta maaf atas perbuatan anak kami. Kami tahu apa yang dilakukan Lita mungkin sulit untuk mendapatkan maaf. Tapi kami mohon bapak, ibu, nak Rian dan juga Dewi sudi memaafkan Lita.”
Tangis mama Yulita pecah mendengar ucapan Adrian. Suaminya hanya bisa memeluk pundak sang istri untuk menenangkannya. Sebenarnya mereka sendiri sudah tidak punya muka bertemu dengan keluarga almarhum Aditya. Namun ini semua mereka lakukan demi ketenangan anaknya.
“Saya bukan ingin membela Lita. Saya tahu apa yang dia lakukan sangatlah kejam dan tidak berkperimanusiaan. Tapi apa yang terjadi padanya, semua ada sebabnya. Ini salah kami juga selaku orang tua yang tidak peka dengan keadaan anak kami.”
Ucapan papa Yulita terhenti. Kerongkongannya terasa tercekat mengingat apa yang sudah menimpa putrinya yang berimbas pada kejiwaan sang anak. Mama Yulita menarik nafas beberapa kali untuk menenangkan diri, kemudian dia menyambung perkataan suaminya.
“Setelah Yulita ditangkap polisi. Kami menemukan diari di kamarnya. Lita.. saat berada di Singapura ternyata mengalami pelecehan seksual dari adik saya. Dia diperkosa, disiksa fisik dan batinnya sampai hampir gila. Dulu dia pernah mencoba bunuh diri waktu saya mengunjunginya di sana. Beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan. Sekeluarnya dari rumah sakit perilakunya mulai berubah. Sepertinya peristiwa yang dialaminya membuatnya trauma hingga memunculkan kepribadian lain dalam dirinya.”
Ida dan Toni tak bisa mengatakan apapun. Sebagai orang tua, mereka bisa memahami kesedihan yang dirasakan orang tua Yulita. Mengetahui sang anak mengalami pelecehan seksual hingga trauma hingga memunculkan kepribadian lain dalam dirinya pasti membuat mereka shock.
“Bagaimana keadaan Lita sekarang?” tanya Ida.
“Setelah nak Rian dan Dewi menemuinya, dia mencoba bunuh diri lagi. Dia membenturkan kepalanya ke cermin sampai mengalami pendarahan melukai kepalanya. Sampai sekarang Lita dalam keadaan vegetatif. Semua organnya tidak berfungsi lagi dan hidup karena ditunjang alat bantu pernafasan.”
Tangis mama Yulita pecah setelah mengatakan kondisi sang anak. Dewi begitu terkejut mendengarnya, dia tak pernah menyangka keadaan Yulita jadi seperti itu. Setelah menemuinya, baik dirinya maupun Adrian memang tidak pernah mendengar kabar soal wanita itu lagi.
“Sebenarnya kedatangan kami ke sini, selain untuk meminta maaf pada bapak, ibu, nak Rian dan Dewi. Kami juga ingin meminta kehadiran nak Rian dan Dewi besok ke rumah sakit. Kami berencana mencabut alat penunjang hidupnya. Kami sudah mengikhlaskannya jika Lita harus pergi.”
Dewi dan Adrian saling berpandangan. Dewi memeluk suaminya sambil menatapnya lekat. Pandangan wanita itu seakan meminta ijin pada sang suami agar mau mengabulkan permintaan kedua orang tua Yulita.
“Baiklah tante. Jam berapa kami harus datang besok?”
“Jam 10 pagi. Kami juga sudah meminta Fajar, Bayu, Mahes dan Ara untuk datang. Kalian adalah teman dekat Lita. Mungkin kata maaf yang kalian berikan untuk Lita bisa membuatnya pergi dengan tenang.”
“Baik, bu. In Syaa Allah, kami akan datang ke rumah sakit.”
__ADS_1
“Terima kasih nak Rian, terima kasih.”
Sambil menangis mama Yulita terus mengungkapkan rasa terima kasihnya. Hatinya lega mendengar Adrian dan Dewi mau datang ke rumah sakit untuk melepas kepergian anaknya. Satu beban berat di pundak mereka akan terlepas dan mereka juga sudah mengikhlaskan kepergian anaknya.
🌸🌸🌸
Keesokan harinya di rumah sakit, semua keluarga Yulita sudah berkumpul di kamar perawatan wanita itu. Satu per satu teman Yulita datang untuk melepas kepergiannya. Fajar datang bersama Dita, Bayu datang bersama dengan Indira, Mahes dengan Arad an Adrian dengan Dewi. Selain mereka, Roxas juga menyempatkan diri untuk datang. Pria itu datang sendiri tanpa didampingi Pipit yang tengah hamil tua.
Semua yang berkepentingan sudah hadir di ruang perawatan. Kedua orang tua Yulita dan kedua kakaknya beserta pasangan masing-masing juga sudah datang. Dokter yang menangani Yulita beserta perawat bersiap untuk melepas alat penunjang hidup wanita itu. Dokter mempersilahkan anggota keluarga dan teman-teman Yulita mengucapkan kata perpisahan. Orang tua Yulita mendekat, mama Yulita menggenggam erat tangan sang anak.
“Lita, sayang.. maafkan mama dan papa yang kurang memperhatikanmu. Maafkan kami yang kurang peka akan penderitaan yang kamu lalui. Pergilah, nak. Mama sudah mengikhlaskanmu. Penderitaanmu akan berakhir hari ini. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu.”
“Lita.. kamu pernah menjadi anak kebanggaan papa. Sampai sekarang papa masih sangat menyayangimu. Pergilah, sayang. Semoga Allah memberikan tempat terbaik untukmu.”
Setelah kedua orang tua Yulita mengucapkan kata perpisahan, kedua kakak Yulita maju dan melakukan hal yang sama. Tangis mereka pecah saat mengucapkan kalimat perpisahan pada sang adik. Setelah semua keluarga selesai, kini giliran teman-teman Yulita yang mengucapkan kata perpisahan.
“Lita, kita pernah berteman baik. Dan sekarang aku juga akan melepasmu sebagai teman baikku, terlepas dari apa yang sudah kamu lakukan. Aku harap kamu tenang di tempatmu yang baru,” Fajar.
“Lita, senang bisa mengenalmu. Aku akan mengenang kebersamaan kita saat sekola dan kuliah dulu. Selamat jalan, Ta,” Doni.
Usai Fajar dan Doni mengucapkan perpisahan, Mahes maju dan mendekati bed wanita yang pernah menjadi kekasih hatinya. Pria itu menangis melihat Yulita yang terbaring dengan alat medis di tubuhnya sebagai penunjang hidup. Diraihnya tangan Yulita lalu digenggamnya erat.
“Lita…. Sayang… banyak kenangan indah yang kita lalui bersama. Aku minta maaf kalau sudah menyakiti hatimu. Maaf karena aku meninggalkanmu di saat terberatmu. Dan maaf kalau aku sudah mengkhianatimu. Kamu adalah wanita terindah yang datang dalam hidupku. Saat bersamamu, aku merasa sangat bahagia. Apa yang kamu lakukan semua karenaku. Maafkan aku… selamat jalan, Ta. Aku tidak pernah menyesal mengenal dan mencintaimu.”
Ara mendekat lalu menarik suaminya yang masih menangis di dekat bed. Matanya melihat pada teman masa sekolah dan kuliahnya yang masih bergeming di tempatnya. Dengan suara parau, wanita itu juga mengucapkan kalimat perpisahan.
“Ta.. maafkan aku kalau selama hidup, aku tidak pernah bersikap baik padamu. Aku harap kamu tenang di sana. Selamat jalan.”
Butuh waktu bagi Ara membujuk Mahes untuk mundur dan memberikan kesempatan pada yang lain untuk mengucapkan perpisahan pada Yulita. Akhirnya pria itu menjauh dari bed dan memberikan kesempatan pada Roxas untuk mendekat. Untuk sejenak Roxas memandangi Yulita.
“Bu Lita.. terima kasih atas bantuan ibu selama saya bekerja di hotel. Saya tahu ibu sebenarnya orang yang baik, hanya masalah yang menimpa ibu menjadikan ibu orang yang berbeda. Saya hanya bisa mendoakan semoga Allah mau mengampuni dosa-dosa ibu. Saya juga yakin kalau Adit sudah memaafkan ibu, jadi tidak ada alasan bagi saya untuk tidak memaafka ibu. Selamat jalan, bu. Semoga ibu mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.”
Roxas mundur dari tempatnya berdiri. Kini Adrian dan Dewi yang datang mendekat. Melihat keadaan Yulita, Dewi tak kuasa menahan airmatanya. Walau wanita yang tengah berbaring di hadapannya adalah orang yang sudah merenggut nyawa suaminya, namun tak ayal membuatnya bersedih juga melihat keadaannya.
“Kak Lita.. kalau mengingat mas Adit, jujur aku masih sangat membencimu. Tapi aku juga tahu ketika kakak melakukan itu, kakak tengah dikuasai diri kakak yang lain. Aku.. sudah mengikhlaskan kepergian mas Adit. In Syaa Allah, aku juga sudah memaafkanmu. Aku berharap kakak bisa pergi dengan tenang.”
Dewi menghapus airmata di wajahnya. Adrian menarik sang istri ke dalam pelukannya. Pria itu masih memandangi Yulita sebelum mengungkapkan apa yang dirasakannya kini.
“Lita.. kita sudah mengenal lama dan jujur akhir-akhir ini aku tidak bisa mengenalimu lagi. Tanpa belas kasihan, kamu menghilangkan nyawa Adit, adik tersayangku. Ingin rasanya aku membencimu, tapi aku sadar kalau kebencian hanya akan menimbulkan dendam. Aku memaafkanmu, dan semoga saja waktu bisa membuatku melupakan apa yang sudah kamu lakukan pada Adit. Jika kepergianmu bisa membuatmu tenang dan penderitaanmu berakhir, maka pergilah. Aku dan yang lain akan berusaha mengenang semua hal baik dalam dirimu. Semoga Allah mengampunimu.”
Sambil memeluk Dewi, Adrian menjauh dari bed Yulita. Dokter menanyakan kembali kesiapan keluarga untuk melepas alat penunjang hidup wanita itu. Berturut-turut kedua orang tua dan kakak Yulita mendekat untuk memberikan ciuman terakhir mereka. Ayah Yulita memberi tanda pada sang dokter kalau mereka sudah siap.
Dibantu oleh dua orang perawat, dokter tersebut mulai melepaskan satu per satu alat penunjang hidup di tubuh Yulita. Grafik yang menunjukkan detak jantungnya yang semula naik turun kini sudah menunjukkan garis lurus. Tangis keluarga Yulita terdengar ketika dokter menyatakan waktu kematian wanita itu. Sang perawat segera menutup tubuh Yulita dengan kain putih.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu,” gumam Adrian pelan.
Mahes jatuh terduduk melihat Yulita sudah tak bernyawa lagi. Tangis pria itu pecah dalam pelukan Ara. Kebersamaannya bersama dengan Yulita dulu kembali terbayang di pelupuk matanya, membuat pria itu semakin tak berhenti menangis. Fajar dan Doni hanya menepuk pelan pundak Mahes, disusul oleh Adrian. Mereka mulai meninggalkan ruang perawatan Yulita bersama-sama.
🌸🌸🌸
**Selamat jalan Yulita, semoga para readers memaafkanmu🤭
Maaf ya kemarin ngga up. Paksu libur lebih dari sehari jd family timenya ditambah🙏**
__ADS_1