Naik Ranjang

Naik Ranjang
Orang Ketiga


__ADS_3

Kedatangan Aditya di tempat kerja disambut oleh semua kru kitchen. Mereka bersyukur Aditya tidak mengalami luka serius, mengingat darah yang keluar cukup banyak saat itu. Atas nama Jose, Elang meminta maaf pada Aditya. Pemuda itu hanya menanggapinya dengan santai. Dia juga sudah mendengar kalau Jose dipindahkan ke cabang lain. Setidaknya para karyawan lain tidak perlu mendengar makian pria itu lagi.


Tanpa banyak bicara, Aditya langsung memulai pekerjaannya. Menurut Akay, hari ini adalah waktunya serah terima jabatan dari general manager lama ke yang baru. GM baru mereka adalah Maheswara, pria yang minggu kemarin menikahi anak bungsu pemilik hotel ini. Dalam acara serah terima jabatan kali ini, tim kitchen bertugas menangani makan siang para undangan.


Acara serah terima jabatan dilangsungkan di salah satu meeting room, yang dihadiri oleh pemilik dan juga jajaran kepala departemen. Mahes secara resmi menerima jabatan sebagai general manager dari William. Keduanya berjabat tangan sebagai simbol serah terima jabatan.


“Saya harap pak Mahes bisa membawa hotel ini lebih maju lagi.”


“Aamiin.. mohon bantuan dan bimbingannya.”


“Bapak bisa hubungi saya kapan pun juga. Jangan lupa, saya juga meninggalkan warisan untuk bapak. Vanesa, asisten saya yang sekarang menjadi asisten bapak. Semua yang bapak perlukan ada pada Vanesa.”


“Terima kasih, pak.”


Pak Prayoga, pemilik Amarta hotel tersenyum puas melihat Mahes yang bisa berbaur dengan para petinggi hotel. Dia yakin kalau menantu barunya ini akan membuat hotelnya semakin maju. Walau keputusannya ini ditentang oleh anak keduanya, namun pria tersebut tetap menunjuk Mahes sebagai general manager.


“Mahes.. papa harap kamu bisa menjalankan tugasmu dengan baik.”


“Mudah-mudahan, pa. Terima kasih atas kepercayaannya.”


“Jangan kecewakan papa. Buktikan kemampuanmu di sini.”


“Iya, pa.”


Prayoga menepuk pelan punggung menantunya. Indira, anak bungsunya memang tergila-gila pada Mahes, sejak mereka kuliah di kampus yang sama di Singapura. Dia menulikan telinga saat ketiga kakak Indira menentang keputusannya menikahkan putri satu-satunya dengan pria tersebut.


“Nanti akan ada tim audit yang akan membantumu. Papa mempekerjakan tenaga professional. Sebelumnya dia juga menjadi audit di salah satu kantor besar di Jepang.”


“Terima kasih atas dukungannya, pa.”


Senyum terbit di wajah Mahes. Berharap dia dapat mengembangkan hotel ini lebih baik lagi. Sudah banyak rencana yang hendak direalisasikan secepatnya. Dia bertekad menjadikan hotel Amarta menjadi hotel bintang enam bertaraf internasional.


🌸🌸🌸


Sambil berlari, Roxas keluar dari ruang ganti setelah mengganti pakaiannya dengan seragam. Dia segera menuju posnya di depan pintu hotel, menggantikan temannya yang sudah selesai shiftnya. Senyumnya mengembang menyambut tamu yang datang seraya mengucapkan selamat datang.


Semenjak pergantian general manager, harus diakui hotel ini mengalami kemajuan pesat. Tamu banyak berdatangan bukan hanya di waktu weekend tapi juga weekday. Meeting room tidak pernah sepi dari pemesan. Ada saja perusahaan atau instansi pemerintah yang menyewanya.


Roxas merapihkan pakaiannya ketika melihat sebuah mobil memasuki gerbang hotel. Mobil tersebut berhenti tepat di depan pintu masuk. Dari dalamnya keluar seorang wanita mengenakan blazer warna biru yang dipadu dengan celana jeans. Rambutnya dicepol asal dan sebuah kacamata hitam menutupi wajahnya.


Supir mobil tersebut menurunkan koper sang wanita. Setelah mengucapkan terima kasih, wanita tersebut berjalan menuju pintu masuk. Sebelumnya dia berhenti di depan Roxas. Wanita itu cukup kagum hotel ini mempekerjakan bule sebagai concierge.


“Excuse me.. (permisi).”


“Yes miss.”


Dada Roxas berdebar kencang, bukan karena berdekatan dengan wanita cantik yang menggunakan parfum dengan aroma lembut yang memabukkan. Tapi karena wanita itu melakukan hal yang paling ditakutinya. Mengajaknya berbicara Inggris.


“Can I exchange currency at this hotel? (apa saya bisa menukar mata uang di hotel ini?).”


“Euung.. yes..”


“Good.. can you help me bring that suitcase?” wanita itu menunjuk pada kopernya.


Tanpa menjawab lagi, Roxas segera menarik koper tersebut kemudian mengikuti wanita itu menuju meja resepsionis. Dia melepas kacamatanya sebelum berbicara dengan sang resepsionis.


“Di sini bisa tukar mata uang asing?” tanyanya.


Eta geningan bisa bahasa Indo, dasar koplok. Keneh-keneh beungeut urang jiga bule, jadi ngajak ngomong Inggris ka urang (itu bisa bahasa Indo. Mentang-mentang muka gue kaya bule, jadi ngajak ngomong Inggris ke gue).


“Bisa bu, tapi tidak semua mata uang. Hanya dolar Amerika, dolar Singapura, euro dan yen.”


“No problem. Saya mau tukar yen.”


Wanita itu membuka tasnya kemudian mengeluarkan amplop yang didalamnya terdapat sejumlah uang dengan mata uang yen. Sang resepsionis mengeluarkan uang tersebut kemudian menghitungnya.


“Semuanya ada 12.000 yen, bu.”


“Iya.”


Petugas resepsionis itu segera menuju ruangan yang ada di belakangnya. Cukup lama dia berada di sana, kemudian keluar dengan membawa amplop berisi uang yang ditukar. Sang resepsionis memberikan amplop tersebut pada wanita tadi.


“Semuanya jadi satu juta empat ratus tujuh belas ribu rupiah.”


“Terima kasih.”


“Sama-sama, bu. Ada yang bisa dibantu lagi?”


“Saya sudah memesan kamar atas nama Fitria Handayani.”


Resepsionis tersebut nama yang disebutkan pada sistem. Ternyata benar, sudah ada yang memesan kamar atas nama tersebut. Dia mengambil kunci kemudian memberikannya pada wanita bernama Fitria tersebut.


“Semoga betah. Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Fitria segera meninggalkan meja resepsionis lalu berjalan menuju lift yang terletak di sebelah kanan. Roxas terus mengikuti sambil menggeret koper milik wanita itu. Dia segera masuk ke dalam lift begitu pintu terbuka.


“Do you know the tourist attraction in here? (kamu tahu tempat wisata di sini?).”


Tak ada jawaban dari mulut Roxas. Pemuda itu hanya menggaruk kepalanya sambil menggerutu dalam hati, kenapa wanita ini selalu berbahasa Inggris jika berbicara dengannya. Fitria menolehkan wajahnya pada Roxas yang berdiri di belakangnya karena pemuda itu masih belum menjawab.


“Hey.. answer me! (jawab aku!).”


TING


Lift berhenti di lantai 8, lantai di mana kamar Fitria berada. Wanita itu segera keluar dari kotak besi tersebut, kemudian berjalan menuju kamarnya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Roxas tetap mengikuti dari belakang.

__ADS_1


“You didn’t answer my question (kamu belum menjawab pertanyaanku),” Fitria berbalik menghadap Roxas sebelum masuk ke kamarnya.


“Yes miss.”


“Yes? What yes?”


“Euung can you.. eung speak bahasa?”


“What? Oh my God, you can’t speak English? Dasar bule karbitan!”


Kalau tidak ingat dirinya tengah bekerja, ingin rasanya Roxas mencubit pipi wanita di depannya. Sudah mengajaknya bicara bahasa Inggris, ditambah meledeknya dengan sebutan bule karbitan. Semakin menambah banyak gelar padanya.


Fitria membuka pintu kamar. Dengan kasar ditariknya koper dari tangan Roxas. Wanita itu lalu berdiri di depan pintu kamar seraya berkacak pinggang.


“Heran.. hotel bintang lima tapi pegawainya ngga bisa bahasa Inggris. Sudah sana!”


Tanpa menunggu jawaban Roxas, Fitria segera masuk ke dalam kamar dan menutupnya dengan kencang. Roxas mengepalkan kedua tangannya lalu menggerakkan ke arah pintu, seperti tengah memukul.


“Lamun lain tamu, kuurang direndos sia (kalau bukan tamu, gue ulek juga lo),” kelutus Roxas sambil ngeloyor pergi.


🌸🌸🌸


“Hahaha..”


Tawa Aditya dan Dewi pecah ketika Roxas menceritakan pengalamannya tadi bertemu dengan tamu wanita yang selalu mengajaknya berbicara bahasa Inggris. Aditya sampai menyusut air di sudut matanya karena tak berhenti tertawa.


“Ketawa aja terus... ketawa,” kesal Roxas.


“Sorry..Xas.. abis lo sih, hahahaha…”


“Makanya gue bilang apa. Belajar bahasa Inggris. Akhirnya kena juga kan lo sama tamu yang ngajak ngomong Inggris, hahaha,” sambung Dewi.


“Yang bikin gue kesel, tuh cewek giliran ngomong sama resepsionis pake bahasa Indonesia. Pas ke gue pake bahasa Inggris. Kan ngeselin.”


“Ya wajar, Rox. Kan muka lo bule, walau topeng doang hahaha..”


Roxas hanya mendengus kesal mendengar ucapan Dewi. Kedua sahabatnya ini malah puas menertawakannya. Harusnya mereka berempati dan ikut mengumpat tamu wanita tadi. Biar cantik, tapi sudah membuat Roxas kesal setengah hidup.


“BTW tuh cewek cantik ngga?”


“Cantik sih, cuma asli nyebelin.”


“Umurnya berapa kira-kira?”


“Di atas gue, kayanya lebih tua dari bang Ad, deh.”


“Nah lo pacarin aja biar lo sekalian diajarin bahasa Inggris.”


“Rese lo!” bule kere itu melempar gulungan tisu pada Aditya atas usulan nyelenehnya barusan.


Dewi bangun dari duduknya lalu melesat ke kamar mandi. Dia sudah tak bisa menahan diri lagi untuk membuang hajat karena terlalu banyak tertawa. Roxas mendelik pada Aditya yang masih saja tertawa.


“Solusinya cuma satu, lo belajar bahasa Inggris, set dah Xas.. hahaha…”


Roxas membaringkan tubuhnya di kasur lipat miliknya. Hari ini dia benar-benar sial. Selama beberapa bulan bekerja di hotel, baru kali ini dia mendapat tamu yang mengajaknya bicara bahasa bule. Harusnya dia membuat tato di keningnya, dengan tulisan no speaking English, please.


Selesai dengan urusannya, Dewi keluar dari kamar mandi. Dia kembali mendudukkan diri di samping Aditya. Tangannya mengambil ponsel yang tergeletak di lantai. Sebuah notifikasi pesan dari Adrian masuk. Gadis itu memang membuka kembali blokirnya atas nomor Adrian demi kepentingan asistensi. Nama yang ditulisnya sekarang adalah Dosen Nyebelin. Senyum di wajahnya terbit begitu membaca pesan berisikan informasi kalau honornya sudah ditransfer.


“Kenapa senyum-senyum?” tanya Aditya.


“Honor bulan ini udah keluar, nih lihat.”


Dewi memperlihatkan pesan dari Adrian. Namun bukan itu yang menjadi fokus pemuda itu, melainkan nama yang diberikan Dewi untuk abangnya itu.


“Kamu namain abang aku begitu?” tanya Aditya.


“Iya, kenapa? Kamu ngga suka?”


“Ngga. Cuma aneh aja. Dia nyebelin tapi kamu masih mau jadi asistennya,” Aditya berusaha menahan tawanya.


Mulut Dewi terbungkam, Aditya tidak tahu dari mana nama itu berasal. Walau sekarang Dewi meyakini sudah tak ada cinta lagi di hatinya untuk Adrian. Tapi tetap saja setiap mengingat perkataannya dulu, membuatnya kesal juga.


“Dit.. anterin aku yuk.”


“Kemana?”


“Aku mau belanja, beli baju, sepatu, tas buat kuliah. Kan aku belum pernah pake honor dari pak Rian.”


“Bisa ngga kamu ngga panggil bapak kalau lagi ngomongin dia.”


“Terus aku harus panggil apa?”


“Panggil abang aja kaya aku. Dia kan kakak aku, berarti nanti bakal jadi kakak kamu juga kalau kita berjodoh.”


Mata Roxas membuka sedikit, mencoba mencuri lihat bagaimana ekspresi Dewi saat ini. Dewi hanya terdiam saja menanggapi ucapan Aditya. Dia pernah mengganti panggilan Adrian dulu, sebelum pria itu menancapkan duri tajam ke hatinya.


“Mau anter aku ngga?”


“Ayo boleh. Xas, gue pergi dulu.”


“Hem..”


Itu saja yang keluar dari mulut bule kere tersebut. Dewi keluar dari kontrakan Aditya lalu menuju rumahnya. Tak lama dia keluar dengan mengenakan jaket dan tas selempangnya. Gadis itu segera menghampiri motor Adrian. Keduanya segera meluncur pergi menggunakan motor milik Aditya.


Setelah berkendara selama lima belas menit, akhirnya mereka tiba di mall. Aditya memarkirkan kendaraannya di basement, kemudian masuk ke dalam mall menggunakan lift yang ada di sana. Udara dingin dari penyejuk udara langsung menerpa kulit mereka begitu masuk ke dalam gedung.


Dewi mengajak Aditya menuju departemen store yang ada di lantai lima. Dia hendak membeli kebutuhannya. Baju, sepatu, tas dan tak lupa membelikan untuk ibunya. Aditya dengan setia menemani gadis itu berkeliling departemen store.

__ADS_1


“Dit.. kamu mau beli apa? Aku yang beliin.”


“Ngga usah. Mending uangnya kamu simpen.”


“Ish.. aku kan pengen beliin kamu sesuatu. Masa kamu terus yang beliin aku.”


“Ya kan kodratnya cowok begitu.”


Lesung pipi langsung tercetak di wajah tampannya ketika tersenyum. Dewi membawa semua belanjaan ke kasir untuk dihitung. Dia tidak akan memaksa lagi, nanti saja dirinya akan membelikan Aditya sesuatu tanpa sepengetahuannya. Dewi mengeluarkan ATM milik Aditya yang sudah menjadi ATM bersama untuk membayar belanjaan.


“Sekarang mau kemana?” tanya Aditya setelah urusan pembayaran selesai.


“Nonton yuk,” ajak Dewi.


“Boleh.”


Keduanya keluar dari departemen store lalu menuju escalator yang ada di sisi kiri mereka. Baru saja mereka akan naik, mata Aditya menangkap sosok Adrian di toko buku terkenal.


“De.. ada bang Ad.”


“Mana?”


“Tuh.”


Aditya menunjuk seorang pria yang berada di meja kasir. Adrian tengah membayar belanjaannya. Terlihat beberapa tumpukan buku berada di meja kasir. Aditya menarik tangan Dewi untuk mendekati sang kakak.


“Bang..”


Kepala Adrian menoleh mendengar suara yang tak asing di telinga. Dilihatnya Aditya juga Dewi sudah berdiri di sampingnya. Adrian segera membayar buku yang dibelinya setelah sang kasir menghitungnya.


“Udah beres, bang?”


“Udah.”


“Sekarang mau kemana?”


“Pulang.”


“Jangan pulang. Ikut kita aja, yuk. Nonton.”


“Malas.”


“Ayolah, bang. Kapan lagi kita bisa pergi bertiga.”


Adrian menghela nafas pelan. Kalau sudah melihat wajah Aditya yang memelas, dia tidak akan tega. Dengan sangat terpaksa kepalanya mengangguk. Tentu saja hal tersebut membuat Aditya senang. Dia segera mengajak sang kakak juga Dewi menuju lantai teratas gedung ini.


🌸🌸🌸


Adrian menatap layar lebar di depannya tanpa ekspresi apapun, padahal film yang ditontonya bergenre komedi. Sedari tadi Aditya dan Dewi tidak berhenti tertawa, namun pria itu tetap mempertahankan wajah datarnya. Baginya pemandangan di sampingnya lebih menyakitkan dan tayangan di depannya tidak mampu mengeliminir rasa sakitnya.


Seratus menit yang menyiksa akhirnya selesai juga. Lampu studio menyala menandakan pertunjukan selesai dan penonton dipersilahkan keluar studio. Bersama dengan penonton lainnya, Adrian, Aditya dan Dewi keluar dari sana. Mereka langsung menuju lantai dasar menggunakan lift.


Aditya terpaku di tempatnya ketika melihat hujan turun dengan derasnya. Di motornya hanya terdapat satu jas hujan saja. Dia tak mau kejadian terakhir terulang. Dewi bisa sakit kalau hujan-hujanan lagi. Pemuda itu melihat pada sang kakak.


“Bang.. aku titip Dewi, ya. Tolong anterin ke rumah.”


“Ngga ah. Aku pulang sama kamu aja,” tolak Dewi.


“Aku cuma bawa satu jas hujan, De.”


“Tinggal aja motormu di sini. Kamu pulang bareng abang.”


“Jangan ngadi-ngadi, bang. De.. kamu ikut pulang sama bang Ad. Aku maksa loh.”


“Ya udah.”


Mau tak mau Dewi menerima usulan Aditya. Mereka berpisah untuk menuju tempat mereka memarkir kendaraan. Mobil Adrian berada di B1, sedang motor Aditya berada di B3. Tanpa bersuara, Dewi mengikuti langkah Adrian menuju mobil. Gadis itu membuka pintu lalu masuk ke dalamnya. Setelah keduanya mengenakan seat belt, Adrian langsung menjalankan kendaraan.


Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang ada. Satu sama lain tidak ada yang berniat memulai percakapan. Adrian fokus menatap ke depan, wiper mobil bergerak menyapu air yang membasahi kaca mobil. Dewi juga hanya melayangkan pandangannya ke jendela samping.


Perjalanan berakhir ketika mobil Adrian memasuki kontrakan haji Soleh. Pria itu menghentikan kendaraannya di depan rumah Dewi. Gadis itu melepas sabuk pengamannya, kemudian mengambil tas belanjaannya. Sebelum turun, dia menoleh pada Adrian.


“Makasih, pak.”


Tanpa menunggu jawaban Adrian, Dewi segera turun kemudian berlari menuju rumahnya. Adrian memutar mobilnya kemudian melajukan kembali kendaraan keluar dari sana. Tangannya terulur menghidupkan audio mobil yang sedari tadi dalam mode off. Suara merdu Shawn Mendes langsung menyapa menyanyikan lagu Stitches yang liriknya sama dengan keadaannya saat ini.


You watch me bleed until I can't breathe


I'm shaking, falling onto my knees


And now that I'm without your kisses


I'll be needing stitches


I'm ripping over myself


I'm aching, begging you to come help


And now that I'm without your kisses


I'll be needing stitches


🌸🌸🌸


**Adit tega beud jadiin abangnya orang ketiga. Sini peyuk dulu aa Ad🤗


Mamake mau promo nih. Mampir yuk ke karya teman mamake. Ceritanya juga keren kok, cerita tentang perjuangan hidup seorang gadis muda bernama Tan Palupi Gulizar. Sambil nunggu NR dan Hate is Love tayang, bolehlah mampir ke sana. Jangan lupa like, komen dan rate bintang 5 ya. Maacih😘😘😘**

__ADS_1



__ADS_2