Naik Ranjang

Naik Ranjang
Keluarga Bahagia


__ADS_3

Sehabis makan malam, Adrian dan Dewi meninggalkan gazebo. Mereka berjalan santai menuju vila yang disewa sambil bergandengan tangan. Dewi mendongakkan kepalanya, menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Ditambah bulan purnama yang bersinar terang semakin menambah keindahan malam.


“A.. mas Adit, apa dia sedang melihat kita dari atas sana?” kepala Dewi masih mendongak menatap langit.


“Ngga.. dia lagi sibuk.”


“Sibuk apa?” Dewi menolehkan kepalanya pada sang suami.


“Sibuk ngerayu bidadari pake gitar dan suara merdunya.”


Setelahnya seyum Adrian mengembang, sadar akan kata-kata absurd yang diucapkannya. Dewi menepuk lengan suaminya, namun tak ayal dia ikut tersenyum. Keduanya terus berjalan sampai tiba di vila. Mereka segera masuk ke dalam vila, karena udara semakin dingin.


“Ya ampun lihat kasur kok pengen langsung ngagoler (rebahan),” ujar Dewi.



“Udah ngga sabar ya,” goda Adrian.


“Ish apaan sih, aa. Sana ganti baju. Terus shalat isya.”


“Abis itu ngapain?”


“Tidur.”


Dewi menjulurkan lidahnya lalu mendorong Adrian masuk ke kamar mandi. Dia lalu menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya. Tak lupa mengeluarkan pakaian tidur untuknya. Dewi berjalan menuju kamar mandi lalu mengetuk pintu. Adrian membuka pintu, saat Dewi memberikan pakaian pada suaminya, dengan cepat Adrian menarik tangan Dewi hingga masuk ke kamar mandi.


Tak lama mereka keluar, Dewi terpaksa masuk kembali ke kamar mandi lagi untuk berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, Dewi keluar lalu memakai mukenanya. Adrian sudah bersiap untuk memimpin shalat isya berjamaah.


Selesai shalat dan membereskan alat shalat, Dewi merangkak naik ke atas kasur. Dia langsung merebahkan diri di atasnya. Adrian mematikan lampu utama, dan menyalakan lampu tidur, baru kemudian menyusul Dewi naik ke atas ranjang. Pria itu mendekatkan tubuhnya pada sang istri.


“Kamu cape ya hari ini?” tanya Adrian seraya menyelipkan rambut Dewi ke belakang telinganya.


“Lumayan, tapi aku senang. Udah lama juga kan kita ngga pergi berdua aja.”


“Terakhir waktu ke Bukit Gantole ya?”


“Iya. Waktu kita main ke Sanghyang Tikoro, Sanghyang Kenit, Bedungan Saguling dan Bukit Gantole, itu pengalaman paling indah.”


“Kamu pasti sedih dan sakit hati waktu aku tidak mengakui perasaanku. Maaf..”


“Bukan aku aja yang menderita, aa juga. Bahkan mungkin luka aa jauh lebih dalam dari lukaku. Aku punya mas Adit yang menyembuhkan luka itu, tapi aa..”


“Melihatmu bahagia dengan Adit, aku juga bahagia.”


“Aku bahagia hidup bersama mas Adit. Dan aku juga bahagia hidup dengan aa. Kalian dua lelaki hebat yang datang dalam hidupku. Ngga ada kata yang bisa kuucapkan selain terima kasih.”


“I love you.”


Adrian menarik tubuh Dewi mendekat padanya. Dibelainya pipi mulus istrinya. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya lalu membenamkan bibirnya di bibir Dewi. Pertautan bibir di antara mereka segera terjadi. Dewi memejamkan matanya, sambil terus membalas ciuman sang suami.


Dengan gerakan lembut Adrian mulai mencumbu istrinya. Perlahan dilepaskannya pakaian yang mereka kenakan satu per satu. Mulutnya membisikkan doa di dekat telinga sang istri. Adrian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos, lalu memulai percintaan mereka.


🌸🌸🌸


Empat bulan kemudian


Keramaian nampak di kediaman Adrian. Ruang tamu dan ruang tengah sudah dihiasi dengan balon warna-warni. Di meja makan sudah tersaji aneka hidangan untuk undangan yang datang. Di meja lain, bingkisan ulang tahun sudah tertata rapih. Dan di meja terakhir, kue ulang tahun dengan foto Arkhan terpajang di atas meja.


Hari ini Arkhan merayakan ulang tahun yang kedua. Selain teman-temannya yang ada di kompleks ini, Adrian juga mengundang para sahabatnya, begitu juga dengan Dewi. Roxas dan Pipit sudah lebih dulu datang sambil membawa Zidan. Fajar juga datang bersama Dita yang tengah hamil enam bulan. Begitu pula dengan Doni dan Indira. Tapi sayang sampai saat ini pasangan tersebut belum memperoleh momongan.


Mila datang bersama Ikmal. Gadis itu sudah menyelesaikan kuliahnya bersamaan dengan Sheila, Sandra, Budi, Micky dan Bobi. Dewi juga baru saja menyelesaikan kuliahnya tiga bulan lalu. Sedang Roxas saat ini tengah magang.


Sheila dan Rivan sedang merencanakan pernikahan. Setelah promo tur album terbaru The Soul selesai, mereka akan segera melangsungkan pernikahan. Sandra dan Micky masih belum ada niatan untuk menikah. Mereka masih meniti karir di tempat kerja masing-masing. Bobi bekerja di AdRox, dia bertugas sebagai marketing. Sedang Budi saat ini sudah menjadi CPNS di dinas pemuda dan olahraga Jawa Barat.


“Arkhan ganteng.. happy birthday ya sayang, mmuuaaachhh..”


Mila mencium pipi Arkhan, tak lupa dia menyerahkan kado untuk anak itu. Kemudian gadis itu mengeluarkan undangan dari dalam tasnya. Dia memberikan undangan tersebut pada semua sahabatnya, termasuk Fajar dan Doni.


“Kalian mau nikah?” tanya Fajar.


“Iya, bang. Jangan lupa datang ya.”


“In Syaa Allah.”


“Mil.. lo jadinya mau kerja di mana?” tanya Dewi setelah menerima undangan dari Mila.


“Ngga boleh kerja sama kang Ikmal. Katanya aku di rumah aja ngurus dia sama calon anak kita.”


“Ecieee… ngga nyangka ya, Mil. Akhirnya di antara Sandra dan Sheila, ternyata elo duluan yang nikah.”


“Iya, Alhamdulillah. Ternyata muka cantik ngga jaminan nikah duluan,” Mila terkikik sendiri.


Karena semua tamu undangan sudah hadir, Ida menyarankan agar pesta ulang tahun segera dilangsungkan. Adrian menaikkan Arkan ke atas bangku agar tingginya menyamai meja yang memajang kue ulang tahunnya. Mata anak itu terus memandangi kue dengan gambar dirinya yang mengenakan kostum captain America.


“Selamat ulang tahun kami ucapkan. Selamat panjang umur, kita kan doakan. Selamat sejahtera, sehat sentosa. Selamat panjang umur dan bahagia. Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga.”

__ADS_1


“Tiup lilinnya, nak,” ujar Dewi.


Dengan kekuatan penuh Arkhan meniup lilin berangka dua tersebut. Suara tepuk tangan langsung terdengar ketika lilin padam. Dewi memegang pisau kue bersama dengan Arkhan, lalu membantu anak itu memotong kuenya. Potongan pertama diletakkan di atas piring kertas. Dibantu Dewi, Arkhan menyuapkan kue ke mulut Adrian. Lalu ganti Adrian yang membantu Arkhan menyuapkan kue ke mulut Dewi.


“Selamat ulang tahun ya, sayang. Semoga jadi anak soleh,” Adrian mencium pipi Arkhan.


“Selamat ulang tahun jagoan mama. Sehat selalu, tambah pinter, tambah soleh dan selalu jadi kebanggaan mama,” Dewi mencium pipi anaknya.


Berturut-turut kemudian, semua yang hadir bergantian memberikan ucapan selamat. Seyum tak lepas dari wajah Arkhan. Anak itu nampak begitu gembira. Usai acara pemotongan kue, Roxas mengajak Arkhan dan teman-temannya yang lain main bersama, termasuk Zidan.


Sementara itu, Adrian berkumpul bersama dengan Fajar, Doni dan Ikmal. Ketiganya asik berbincang di teras rumah. Sedang para wanita berada di dalam. Awalnya mereka membicarakan rencana pernikahan Ikmal, kemudian topik berganti pada momongan.


“Anak lo apa jenis kelaminnya?” tanya Adrian.


“In Syaa Allah, cowok.”


“Asek.. pakpol dapet jagoan,” seru Doni.


“Lo sendiri gimana, Ad?”


“Dewi udah berhenti KB dan sekarang kita masih promil. Doain aja mudah-mudahan cepat isi lagi.”


“Aamiin..”


“Terus elo gimana, Don?”


“Indi masih menjalani pengobatan. Kalau ngga ada halangan, bulan depan selesai. Habis itu kita langsung promil.”


Setelah tiga bulan menikah, Indi diketahui bermasalah dengan rahimnya. Dia harus menjalani terapi dan pengobatan. Mereka masih menunggu satu bulan lagi, dan jika terapi dan pengobatannya berhasil, barulah mereka memulai program hamil.


“Jiya ngga diundang?” tanya Doni.


“Diundang, tapi ngga bisa datang. Kata mas Bayu, dia lagi mabok. Maklum lagi hamil muda, baru dua bulan.”


“Wah lagi musim hamil ternyata. Mal, nanti abis nikah kalian mau langsung punya anak?” Doni melihat pada Ikmal.


“In Syaa Allah, langsung lah. Mumpung masih muda.”


“Baguslah. Begitu punya anak, pada besanan deh, hahaha…”


Ucapan Fajar langsung disambut gelak tawa lainnya. Mereka berharap persahabatan mereka bisa terus berlangsung sampai anak cucu mereka. Dan persahabatan mereka bisa berkembang menjadi hubungan persaudaran lewat pernikahan anak-anak mereka nantinya.


Sementara di dalam, Dewi tengah berkumpul dengan para sahabatnya. Dita juga ikut berkumpul dengan mantan anak didiknya. Wanita itu sering kali bolak-balik ke kamar mandi karena terus tertawa mendengar celotehan absurd Bobi dan kawan-kawannya. Roxas tak ikut bergabung karena sedang mengasuh anaknya yang sedang bermain dengan Arkhan dan teman-temannya.


“Doain aja, mudah-mudahan kita jodoh. Sekarang Khayra lagi magang di kantor gue.”


“Widih ajib, pedekate terus tiap hari.”


“Lo kalau jadi sama Khayra, perbaikan keturunan ye,” seru Mila.


“Elo juga, Mil. Lo nikah sama bang Ikmal juga perbaikan keturunan. Hidung bang Ikmal kan mancung, mudah-mudahan nanti anak lo ngikutin hidung bapaknya, jangan kaya elo nyungsep, hahaha…”


“Rese lo!”


Mila menoyor kepala Budi, tapi pria itu malah terpingkal saja. Dewi hanya menggelengkan kepalanya. Sampai sekarang Budi dan Mila masih seperti anjing dan kucing, padahal mereka sudah memiliki pasangan masing-masing. Untung saja mereka tidak berjodoh, entah apa jadinya kalau mereka bersanding di pelaminan.


🌸🌸🌸


Malamnya, keseruan pesta berakhir sudah. Rumah pun sudah dibersihkan dari sampah dan juga piring kotor. Hanya menyisakan balon-balon saja yang belum diturunkan. Arkhan sudah terlelap dalam tidurnya. Sejak sebulan lalu dia sudah dibiasakan tidur di kamarnya sendiri, ditemani oleh asisten rumah tangganya. Adrian sengaja mengambil asisten rumah tangga untuk meringankan pekerjaan Dewi. Dia tak mau istrinya kelelahan karena tengah menjalani promil.


Sebelum masuk ke kamarnya, lebih dulu Dewi menuju lantai dua, tempat di mana kamar Arkhan berada. Lampu kamar Arkhan sudah berganti lampu tidur. Di dalam terdapat dua ranjang. Satu ranjang Arkhan yang berbentuk mobil. Satu lagi ranjang untuk sang asisten. Selain ranjang, di sana juga terdapat lemari pakaian Arkhan dan foto-foto dirinya yang terpajang di dinding. Tak lupa Adrian menaruh foto Aditya dengan ukuran besar.


Dewi mendekati Arkhan yang sudah terlelap. Dia membenarkan selimut yang menutupi tubuh anaknya, lalu mendaratkan ciuman di kening. Dibelainya puncak kepala Arkhan beberapa kali, baru kemudian keluar dari kamar. Dengan gerakan pelan, Dewi menutup pintu kamar.


Perlahan Dewi menuruni anak tangga. Sang suami sudah menunggunya di bawah. Sambil merangkul bahu Dewi, Adrian masuk ke dalam kamar. Dewi langsung naik ke atas kasur. Tubuhnya benar-benar lelah mempersiapkan ulang tahun Arkhan sejak kemarin, dan merayakannya sampai tadi sore. Adrian naik ke atas kasur lalu memijat pundak istrinya.


“Cape ya?”


“Iya, a. Badanku lemas banget.”


“Kamu juga makan cuma sedikit, tumben.”


“Ngga laper aja, mungkin karena terlalu senang melihat Arkhan. Tadi dia bahagia banget.”


“Besok istirahat aja, ya. Jangan kemana-mana.”


“Iya, a.”


“Sekarang tidur.”


Adrian mengakhiri pijatannya dengan sebuah kecupan di puncak kepala. Dewi merebahkan tubuhnya di kasur. Adrian mematikan lampu utama, kemudian menyalakan lampu tidur lalu menyusul berbaring di samping sang istri. Dewi beringsut mendekat kemudian menyurukkan kepala ke dada suaminya. Tangan Adrian terus mengusap punggung Dewi, hingga akhirnya wanita itu jatuh tertidur.


🌸🌸🌸


Sayup-sayup suara adzan shubuh terdengar, Dewi membuka matanya, saat merasakan tepukan pelan di pipinya. Untuk sejenak dia masih bertahan di posisinya, baru kemudian bangun. Nampak Adrian sudah mengenakan baju koko dan sarung. Pria itu sudah siap untuk shalat berjamaah di masjid.

__ADS_1


“Bangun, sayang. Aku ke masjid dulu.”


“Iya, a.”


Adrian mengusap puncak kepala istrinya lalu keluar dari kamar. Setelah Adrian pergi, Dewi turun dari ranjang, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Baru sebentar, Dewi keluar lagi. Dia menuju lemari untuk mengambil sesuatu, lalu masuk kembali ke kamar mandi.


Mata Dewi terus memandagi test pack di tangannya. Hatinya bahagia mengetahui dirinya akhirnya berbadan dua. Hasil buah cintanya bersama Adrian. Dewi memang sudah terlambat datang bulan selama dua minggu, tapi dia sengaja menunggu waktu lebih lama untuk melakukan pengetesan. Pasalnya sebulan setelah promil, dia pernah terlambat datang bulan dan langsung mengeceknya, dan ternyata hasilnya negatif.


Dengan test pack di tangannya, Dewi keluar dari kamar mandi. Dia meletakkan test pack di laci nakas dekat ranjang, kemudian menggelar sajadah. Setelah mengenakan mukena, wanita itu mulai menunaikan shalat shubuh.


Pintu kamar terbuka, ketika Dewi sedang melipat mukenanya. Adrian menaruh kopeah di atas meja kemudian menghampiri istrinya. Dipeluknya tubuh Dewi dari belakang sambil mencium pundaknya.


“A..”


“Hmm..”


“Aku punya hadiah buat aa.”


“Hadiah apa?”


Perlahan Dewi melepaskan pelukan Adrian. Dia berjalan menuju nakas lalu mengambil test pack dari dalamnya. Setelah berdiri di hadapan suaminya, Dewi memberikan alat tes kehamilan tersebut pada Adrian. Mata pria itu membulat melihat dua garis merah di atas test pack. Diambilnya alat tersebut dari tangan Dewi untuk memastikan apa yang dilihatnya.


“Sayang.. kamu.. hamil.”


“Iya, a. Aku hamil.”


“Alhamdulillah.”


Dengan senang Adrian menciumi wajah istrinya. kabar bahagia yang ditunggunya beberapa bulan terakhir, akhirnya terdengar juga. Dewi tersenyum melihat kebahagiaan sang suami. Adrian mendudukkan Dewi di sisi ranjang, lalu menciumi perut istrinya.


“Kita ke dokter kandungan,” ajak Adrian.


“Nanti sore aja, a. Kita ke dokter Puspa.”


“Iya, sayang. Alhamdulillah, akhirnya kita akan punya anak lagi.”


“Semoga aja anak perempuan, seperti keinginan aa.”


“Aamiin..”


Adrian memeluk pinggang Dewi, seraya membenamkan kepalanya ke perut istrinya. Dewi membelai puncak kepala sang suami. Seperti halnya Adrian, dia juga merasakan kebahagiaan yang sama. Dirinya bisa memenuhi impian Adrian, memiliki anak.


Di tengah keharuan terdengar suara ketukan di pintu. Tak lama pintu terbuka, dan Arkhan masuk ke dalam. Adrian melepaskan pelukannya lalu menyambut anaknya.


“Arkhan udah bangun, sayang.”


Tak ada jawaban dari anak itu. Dia langsung duduk di pangkuan Adrian. Matanya masih setengah mengantuk. Adrian memeluk anaknya itu, kemudian dengan suara pelan membisikkan sesuatu di telinga putranya.


“Arkhan mau punya adik.”


Sontak kepala anak itu menoleh pada Adrian. Mata bulatnya menatap sang ayah dengan lekat. Adrian menganggukkan kepalanya.


“Ade..” ujar Arkhan dengan suara pelan.


“Iya, Arkhan mau punya adik. Di perut mama ada adik Arkhan sekarang.”


Kali ini Arkhan menolehkan kepalanya pada Dewi. Dia bangun dari posisinya lalu mendekati Dewi. Tangan kecilnya meraba perut sang mama. Segurat senyum terlihat di wajahnya.


“Cium adeknya.. cium perut mama,” ujar Adrian.


Arkhan mendekat lalu mencium perut Dewi. Mata Dewi berkaca-kaca mendapat ciuman dari anaknya. Tangannya membelai kepala Arkhan dengan lembut. Adrian menarik Arkhan lalu menggendongnya. Pria itu mengajak Dewi keluar kamar untuk menghirup udara segar di luar rumah. Ketiganya berjalan keluar dari kamar dan menuju halaman belakang. Adrian menurunkan Arkhan.


“Arkhan kita latihan ya, biar badannya segar.”


“Eh Arkhan mau jadi kakak, jadi panggilnya abang sekarang,” ujar Dewi.


“Oh iya, abang Arkhan, ayo kita latihan.”


“Mau.. mau..”


Arkhan menggerakkan tangannya mengikuti gerakan sang ayah. Walau gerakannya masih asal, tapi dia berhasil mengikuti semua yang dilakukan oleh Adrian. Dewi datang dengan membawa dua gelas susu, satu untuk Arkhan dan satu untuk Adrian.


“Susu buat mama mana?” tanya Adrian seraya memeluk pinggangnya.


“Belum beli, ayah. Ayah beliin ya buat mama, yang rasa coklat.”


“Siap, mama,” jawab Adrian seraya mencium pipi Dewi.


Arkhan menepuk-nepuk tubuh Adrian, mengajaknya berlatih lagi setelah menghabiskan susunya. Buru-buru Adrian meminum susunya, lalu mengikuti keinginan sang anak. Dewi hanya duduk di kursi sambil memperhatikan anak dan suaminya. Kebahagiaan benar-benar melingkupi dirinya.


🌸🌸🌸


**Selamat Dewi dan Adrian, akhirnya kalian bakal punya momongan🤗


Kepada para penggenar NR dimohon untuk mengencangkan sabuk pengaman, pesawat akan segera landing😉**

__ADS_1


__ADS_2