Naik Ranjang

Naik Ranjang
Budi oh Budi


__ADS_3

**Hai.. Hai.. Hai.. Maaf ya kemarin aku ambil cuti sehari. Kamis itu jadwal paksu ada di rumah, jadi aku putusin take a break, ngga urus up, beberes rumah, masak sama nemenin paksu benerin speaker. Spending time sama keluargaku boleh kan?😊 Sekarang baru up lagi.


HAPPY READING GUYS


🌸🌸🌸**


Adrian mengakhiri kuliah pertamanya dengan memberikan tugas tambahan pada para mahasiswanya. Terdengar keluhan dari semua yang berada di dalam kelas. Pria itu hanya menyunggingkan senyum tipis saja. Setelah membereskan peralatan mengajarnya, dia keluar dari kelas.


“Pak Rian!”


Kepala Adrian menoleh pada datangnya suara. Nampak Mila, Sheila, Bobi dan Micky berjalan mendekatinya. Di belakang mereka, nampak Sandra dan juga Budi berlari mendekat.


“Pak.. keadaan Dewi gimana?” tanya Mila.


“Sudah baikan.”


“Alhamdulillah.”


“Kalian masih ada kuliah?”


“Ngga ada, pak.”


“Gimana kalau kalian temui Dewi. Siapa tau kedatangan kalian pasti bisa menghiburnya.”


“Wah boleh pak. Dewi di mana sekarang? Di kontrakan?”


“Dia di rumah saya. Kamu ke rumah saya aja. Kalian tahu alamatnya ngga?”


Kompak semuanya menggelengkan kepalanya. Adrian mengambil ponselnya kemudian mengirimkan alamat rumahnya ke ponsel Micky. Selesai memberikan alamatnya, Adrian bergegas menuju ruang dosen.


“Demi apa kita mau ke rumah pak Rian,” Mila menangkup wajah dengan kedua tangannya.


“Kita harus bawa makanan buat Dewi,” seru Sheila.


“Aaaaa… tetiba gue pengen ada di posisi Dewi. Punya kakak ipar kaya pak Rian,” ujar Mila berkhayal.


“Jadi janda maksud lo?” celetuk Budi.


“Hiiihhh.. nyamber aja lo kaya bensin.”


“Jangan kebanyakan ngayal. Lo sama pak Rian tuh ibarat pungguk merindukan bulan. Lo tau pungguk itu apa? Kodok burik huahahaha…” tawa Budi terdengar begitu keras. Sepertinya pria itu senang sekali meledek temannya itu.


"Pungguk itu burung, dasar ogeb!" kesal Mila.


"Burung kebagusan buat elo. Cocoknya tuh kodok burik kalo elo, hahaha..."


Mila mengambil roti di tangan Bobi lalu memasukkannya ke dalam mulut Budi yang tengah terbuka lebar, sampai pria itu tersedak. Mila langsung mengambil langkah seribu begitu melihat Budi hendak membalasnya.


“Ck.. tuh orang dua berantem mulu,” gumam Sheila.


“Kawinin aja yuk,” usul Bobi.


“Boleh. Tapi kebayang ngga pas mereka malam pertama gimana?” tanya Micky.


“Paling juga gulat, huahahaha…” jawab Bobi.


“Smackdown,” lanjut Sandra.


Terdengar tawa mereka membayangkan andaikan Budi dan Mila dipertemukan di depan penghulu dan disatukan dalam ikatan suci pernikahan. Bisa dipastikan mereka akan menjadi pasangan fenomenal. Sambil terus tertawa, mereka berjalan menuju gerbang kampus.


Adrian baru saja sampai di ruang dosen ketika ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Fajar masuk. Pria itu mendudukkan diri di belakang meja kerjanya, baru kemudian menjawab panggilan.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Ad, gue udah periksa rekaman cctv di kantor Adit. Ternyata Dita datang ke kantor. Coba lo tanya ke dia, apa Adit nitipin sesuatu.”


“Ok.”


Tanpa menutup panggilan dari Fajar, Adrian bangun dari duduknya lalu menghampiri meja. Dita nampak tengah memeriksa tugas dari mahasiswanya. Dia terkejut ketika tiba-tiba Adrian sudah duduk di depan mejanya.


“Ta.. sebelum Adit meninggal, kamu ketemu dia di kantor?”


“Iya. Kok bapak tau?”


“Apa Adit nitipin sesuatu padamu?”


Dita terdiam sejenak, mencoba mengingat peristiwa di mana dia datang ke kantor label rekaman The Soul. Wanita itu menepuk keningnya, karena terlalu sedih akan kepergian Aditya, dia lupa kalau pria itu menitipkan sesuatu padanya. Dita ingat betul kalau dia harus menjaga barang tersebut, dan hanya boleh diberikan padanya atau Adrian.


“Oh iya, pak. Dia nitip usb. Dia bilang jangan kasih siapa pun, kecuali dia atau bapak. Maaf pak, saya lupa.”


“Ngga apa-apa. Apa saya bisa minta usb-nya?”


“Bisa, pak. Tapi usb ada di rumah. Gimana kalau nanti sore pas latihan saya bawa ke dojang?”


“Boleh-boleh. Makasih ya, Ta.”


Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Adrian berdiri seraya menaruh ponsel ke telinganya lagi. Panggilannya dengan Fajar belum berakhir.


“Lo dengar sendiri. Nanti sore di dojang.”


“Ok.”


Kali ini panggilan benar-benar berakhir. Wajah Adrian terlihat cukup senang. Semoga saja tebakannya benar. Usb yang dititipkan Aditya pada Dita adalah rekaman drone yang merekam wajah pembunuh Amanda. Dan sudah pasti dia juga pelaku yang sama yang sudah melenyapkan nyawa sang adik.


🌸🌸🌸


“Assalamu’alaikum,” ucap Sheila dan yang lain berbarengan di depan kediaman Toni.


“Waalaikumsalam.”


Dari arah dalam muncul Parmi menyambut kedatangan teman-teman dari Dewi tersebut. Wanita itu segera membukakan pintu pagar. Dia memandangi semua yang berdiri di hadapannya.


“Dewinya ada, bu? Kita teman-temannya.”


“Ada. Oh temannya mba Dewi. Ayo masuk.”

__ADS_1


Setelah mendapat ijin dari Parmi, keenam orang tersebut segera masuk ke rumah di mana Dewi tinggal sekarang. Parmi mempersilahkan mereka menunggu di ruang tamu. Sedang dirinya memanggilkan Dewi.


“Mba Dewi itu ada teman-temannya.”


“Teman aku, bi?”


Parmi hanya mengangguk saja menjawab pertanyaan Dewi. Dengan senang Dewi mengganti pakaian lalu memakai hijabnya. Tak lupa dia menggendong Arkhan untuk dibawa bersamanya. Wajahnya langsung sumringah melihat teman-temannya yang datang.


“Dewi…. Kangen…”


Mila langsung menghambur ke arah Dewi. Kedua wanita itu berpelukan untuk beberapa saat, disusul kemudian oleh Sandra dan Sheila. Bobi dan Micky menyalami Dewi, sedang Budi berharap bisa seperti Mila, memeluk Dewi. Namun apa daya, akhirnya hanya tangannya saja yang terulur.


“Kalian tau aku di sini dari siapa?” tanya Dewi seraya mendudukkan diri.


“Dari pak Rian. Kita disuruh ke sini. Biar kamu ngga bête katanya.”


“Pantes.”


“Kakak ipar kamu mah emang the best lah, Wi,” ujar Sandra.


Melihat Arkhan yang terus melihat padanya, Sheila langsung menggendong anak sahabatnya itu. Anak itu tertawa ketika Sheila mengajaknya bicara. Mila dan Sandra juga ikut mengajak bicara Arkhan yang sekarang sudah berusia tujuh bulan.


“Anak lo ganteng banget, Wi..” ujar Sheila.


“Ya ganteng lah, bibit unggul semua. Coba kalau si Dewi nikahnya sama Budi. Kasihan gen cantiknya si Dewi kalah bersaing sama gen buluknya si Budi, hahaha…” Mila tertawa puas.


Bukan hanya Mila yang tertawa, tapi semua yang mendengarnya juga ikut tertawa. Perut Bobi yang buncit sampai bergoyang-goyang. Budi hanya mendengus kesal saja mendengar ledekan Mila.


“Oh iya, Wi. Nih kita bawa oleh-oleh. Busui kan pastinya lagi seneng-senengnya ngemil,” Sandra menyerahkan bungkusan yang sedari tadi ada di atas meja.


“Makasih ya. Eh kita ngobrolnya di halaman belakang aja, yuk. Biar lebih santai.”


“Ayo.. ayo..”


Dewi berjalan lebih dulu sambil membawa bungkusan yang diberikan Sandra. Dia memindahkan makanan ke dalam piring dan meminta Parmi menggelar karpet plastik di halaman belakang. Ida yang mendengar suara ramai sekeluarnya dari kamar, segera menuju dapur.


“Ada siapa, Wi?”


“Teman-teman, ma. Mereka disuruh bang Ad main ke sini buat nemanin aku.”


“Bagus itu. Kamu kan belum bisa kemana-mana. Jadi biar mereka aja yang ke sini.”


“Iya, ma.”


“Sini mama bantu.”


Ida bantu membawakan makanan ke halaman belakang. Di sana semua teman Dewi sudah duduk berkumpul di atas karpet. Melihat Ida, semuanya bangun lalu menyalami wanita itu dengan mencium punggung tangannya.


“Maaf tante kalau kita berisik,” ujar Sheila.


“Ngga apa-apa. Silahkan lanjutkan ngobrolnya.”


Wanita itu segera meninggalkan halaman belakang, memberikan waktu untuk anak-anak muda berkumpul. Ida terlihat senang karena Dewi nampak bahagia mendapat kunjungan dari teman-temannya. Dia memilih duduk di meja makan sambil berbincang bersama Parmi.


“Shei.. sini dong, gue juga mau gendong Arkhan,” celetuk Budi.


“Sorry Bud, ternyata lo bukan cuma ditolak emaknya, tapi juga ditolak anaknya, hahaha….” celetuk Sheila.


Ucapan Sheila bukan isapan jempol belaka. Nyatanya Arkhan berhenti menangis setelah Budi menjauhinya. Lagi-lagi pria itu hanya mendengus kesal. Jika Arkhan tidak mau digendong olehnya, bagaimana bisa dia mendekati Dewi. Padahal peluang sudah terbuka lebar. Dewi sekarang sudah menjadi janda.


“Wi.. lo udah tau belum kalau Roxas juga ngundurin diri dari The Soul?” tanya Sheila.


“Wah, masa? Gue belum tau. Udah beberapa hari ini gue ngga ketemu dia.”


“Dia bilang udah ngga ada semangat bermusik lagi sejak Adit pergi. Dia juga lagi mulai usaha, buka kedai kopi.”


“Oh gitu. Mereka emang dekat, jadi wajar sih kalau Roxas sedih banget dengan kepergian mas Adit.”


Wajah Dewi mendadak muram membicarakan Aditya kembali. Sandra dan Mila segera memeluk sahabatnya itu. Micky dan Bobi yang juga mengenal Aditya cukup dekat bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Dewi juga Roxas.


“Eh Wi.. lo ada niatan nikah lagi ngga? Secara lo masih muda, Arkhan juga butuh sosok ayah,” ujar Sheila.


Mendengar perkataan Sheila, Budi langsung memasang telinga baik-baik. Jika Dewi berencana menikah lagi, maka dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan Dewi. Siapa tahu Dewi adalah jodohnya yang tertunda.


“Belum tahu,” hanya itu jawaban yang bisa dikatakan Dewi.


“Kenapa ngga sama pak Rian aja? Jadi jatohnya naik ranjang,” celetuk Bobi.


“Nah bener tuh. Apalagi Arkhan juga dekat banget sama pak Rian. Terus pak Rian juga manggil dirinya ayah kalau lagi ngobrol sama Arkhan. Cocok itu, Adit juga pasti tenang kalau pak Rian yang jadi suami lo,” tutur Sandra panjang lebar.


“Betul, Wi. Ya walaupun gue itu pemuja pak Rian. Tapi demi elo, gue ikhlas ngelepasnya. Nanti anak kedua lo dan seterusnya pasti ganteng sama cantik. Bibit unggulnya ngga berubah,” ceplos Mila.


“Nah bener itu. mending sama pak Rian, dari pada sama Budi, bhuahahaha..”


Micky semakin menambah penderitaan Budi. Hati Budi pun semakin panas saja mendengar teman-temannya mendukung Dewi menikah dengan Adrian.


Sheila melihat pada Dewi. Gadis itu tidak berani berkomentar karena tahu sejarah hubungan mereka berdua. Dewi sendiri hanya melemparkan senyum tipis saja. Apa yang para sahabatnya itu katakan sesuai dengan wasiat Aditya. Namun Dewi sendiri masih ragu untuk menjalankan wasiat tersebut.


Di depan rumah, nampak si hejo berhenti. Pipit turun dari motor lalu membuka pintu pagar. Roxas memasukkan si hejo ke pekarangan rumah. Setelah meletakkan helm di atas motor, keduanya masuk ke dalam rumah. Mereka heran melihat banyak sepatu yang ada di teras.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Ada siapa, mba?”


“Teman-temannya Dewi. Itu di halaman belakang.”


Mendengar yang datang adalah teman-teman Dewi, Roxas bergegas menuju halaman belakang. Kedatangannya langsung disambut gembira oleh yang lain. Micky berlari kemudian meloncat ke punggung Roxas.


“Woi bule! Buset.. kangen gue sama elo,” seru Micky.


“Turun, monyet. Berat!”


Micky segera turun dari punggung Roxas. Pria itu mendekati Bobi dan Budi sambil menyalami tangan mereka. Dia lalu mendudukkan diri di dekat Sheila. Diambilnya Arkhan yang masih berada dalam gendongan Sheila. Arkhan terlihat anteng dalam pangkuan kakeknya.

__ADS_1


“Beuh.. anteng banget ama omnya. Beda pas mau digendong Budi,” celetuk Mila.


“Om dari mana, kakek,” celetuk Dewi.


“Hahaha.. oh iya, gue lupa. Arkhan.. seneng ya digendong KiRox,” ceplos Mila.


Tak ada protesan dari Roxas. Percuma mau protes juga, memang kenyataan kalau Akhan adalah cucunya, bukan keponakan. Budi kembali mencoba mendekati Arkhan, dan kali ini berhasil. Anak itu tidak menangis lagi.


“Ya ampun Arkhan udah ngga nangis lagi. Om kan emang baik. Jadi anak om mau kan?” bujuk Budi.


HOEK


Kompak semua langsung memeragakan ekspresi muntah mendengar kata-kata Budi. Roxas terpingkal mendengarnya. Sejak jaman sekolah sampai Dewi dikaruniai anak dan menyandang status janda, Budi tetap tidak menyerah pada wanita itu. Dan Dewi juga istiqomah terus menolaknya.


“Kaga usah ngarep, Bud. Dewi mau naik ranjang, hihihi..” ujar Sandra.


“Saingan lo berat, pak Rian,” sambung Bobi.


“Pasrah aja, pasrah.. dari pada nyesek dua kali Dewi dibayar tunai orang lain,” Micky.


“Cari cewek yang sesuai ama level muka lo aja napa,” seru Mila.


“Elo dong, Mil, hahaha…” sahut Roxas.


"Hahahaha..."


“Kalian jangan mendahului Tuhan. Kalian boleh mendukung Dewi naik ranjang sama pak Rian. Tapi gue juga ngga akan menyerah. Kejar Dewi sampai dapat, pak Rian mah lewat,” Budi mengepalkan tangannya tinggi-tinggi.


HOEK


Budi hanya mengendikkan bahunya saja merespon ekspresi teman-temannya. Sedang Dewi tak mengatakan apapun, karena wanita itu sedang berada di kamar mandi. Jadi dia tak mendengar tekad baja Budi untuk mendapatkannya. Namun tidak dengan Ida. Wanita itu dengan jelas bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Budi.


“Ya ampun itu anak narsisnya kebangetan. Mosok anakku yang ganteng mau saingan sama dia. Nda ngaca apa ya,” gumam Ida.


“Hahaha… si mba julid banget. Istighfar mba.. istighfar.. ya emang muka si Budi memprihatinkan, tapi jangan dipertegas juga kali, hahaha…”


“Astaghfirullah..”


“Hahaha… tenang aja, mba. Mata Dewi masih normal juga kali.”


Pipit tak bisa menahan tawa melihat kakaknya yang sedikit meradang melihat Budi yang pantang menyerah mendapatkan Dewi. Ida ikut tertawa mendengar kata-kata Pipit diakhir kalimatnya.


🌸🌸🌸


Setelah tugas mengajarnya berakhir, Adrian segera menuju dojang Hero. Dita yang sudah lebih dulu pulang berjanji akan membawakan titipan Aditya dan langsung menuju ke dojang untuk berlatih taekwondo. Di sana sudah ada Fajar dan Doni. Keduanya baru saja selesai melatih anak buahnya.


Adrian mendudukkan diri di dekat Fajar dan Doni, melepaskan lelahnya karena hari ini jadwal mengajarnya padat merayap seperti lalu lintas saat mudik menjelang lebaran. Doni cukup lega melihat Adrian yang sudah bersikap seperti biasanya. Sepertinya sahabatnya itu sudah mengikhlaskan kepergian sang adik.


“Don.. ajarin gue ngegitar, dong,” celetuk Adrian.


“Tumben. Tapi bukannya lo dulu pernah belajar sama Adit?”


“Iya, basicnya doang. Itu juga cuma belajar kunci dasar aja. Metik gitarnya masih belum bisa. Ajarin lah.”


“Mau ngapain lo belajar ngegitar? Mau ngerayu Dewi ya? Hahaha..”


“Kampret.”


Tak ayal Fajar ikut tersenyum mendengar pembicaraan Adrian dan Doni. Biasanya dirinya yang sering beradu mulut dengan Doni, kini giliran Adrian. Kalau dipikir-pikir, Doni itu sudah seperti enemy of the state saja.


“Gimana perkembangan kasus Adit?”


“Kita udah berhasil identifikasi dua orang yang ngejar Adit waktu itu. Anak buah gue lagi ngejar mereka, tunggu aja.”


“Kapan lo mau mulai belajar gitar?” Doni langsung mengalihkan pembicaraan pada hal lain. Jika Adrian sudah membicarakan soal kasus Aditya, pasti wajah dan auranya langsung berbeda.


“Secepatnya lah.”


“Tapi ngga gratis ya.”


“Lo mau bayaran apa?”


“Jiya.”


“Ambil. Pepet aja, kapan gue ngehalangin.”


“Ya bantuin PEA.”


“Ngga bisa deketin sendiri sampe minta bantuan gue? Percuma punya gelar playboy,” ledek Adrian.


“Ganti aja jadi sadboy, hahahaha..” lanjut Fajar.


Doni memilih untuk diam. Jika Adrian dan Fajar sudah berkolaborasi, maka dirinya akan habis menjadi bulan-bulanan keduanya. Perbincangan ketiganya terputus ketika ponsel Fajar berdering. Melihat panggilan berasal dari anak buahnya, pria itu cepat-cepat mengangkatnya.


“Halo.”


“Halo, pak. Tersangka sudah berhasil di tangkap. Kita mau jalan ke kantor sekarang.”


“Jangan langsung ke kantor. Bawa dulu ke dojang. Saya kirim alamatnya.”


“Siap, pak.”


Fajar segera mengirimkan lokasi dojang Hero pada anak buahnya. Mereka baru saja berhasil menciduk kedua tersangka yang telah menyerang Aditya. Mau tidak mau mereka menuruti permintaan Fajar. Selain Fajar yang memimpin kasus tersebut, mereka juga tahu kedekatan antara Fajar dengan Aditya. Membiarkan atasannya membuat wajah para tersangka bonyok sedikit rasanya bukan masalah.


“Siapa yang mau ke sini?” tanya Adrian.


“Anak buah gue udah berhasil dapetin tersangka yang kabur. Gue suruh mereka bawa ke sini. lo gue kasih waktu 10 menit.”


“Waduh..”


Doni terkejut mendengar penuturan Fajar. Melihat wajah Adrian yang nampak mengeras, bisa dipastikan kedua tersangka tersebut akan menjadi samsak hidup sahabatnya. Jangankan 10 menit, lima menit saja mungkin keduanya sudah babak belur dan remuk tulang.


🌸🌸🌸


**Budiiiii🤣🤣🤣

__ADS_1


Maju terus ya Bud, walau ditolak terus ama emaknya. Malah sekarang ditolak juga sama anaknya. Bud.. Bud... mup on napa🤣


Kemarin pasti banyak yang bolak balik ngintip NR up apa ngga. Jadi spesial hari ini, aku bakal up 2x. Ngga tau siang, sore atau malam, tergantung review dari neneng entuuun aja ya. Jangan lupa komen yang banyak, ok😉 Sama kasih sajen buat neneng entuuun biar cepet reviewnya😜**


__ADS_2