
Tiga bulan kemudian
Waktu terus berlalu, pernikahan Dewi dan Aditya kini sudah memasuki usia tiga bulan. Hubungan mereka semakin harmonis saja. Walau pertengkaran kerap terjadi, namun keduanya dapat menyelesaikan dengan baik. Kadang Aditya yang mengalah, kadang Dewi yang mengalah. Setelah pertengkaran, hubungan mereka menjadi semakin manis saja.
Toni juga mengijinkan Aditya dan Dewi hidup mandiri, terpisah darinya dan juga Ida. Semua dilakukan demi menjaga hati anak sulungnya agar tidak terlalu sakit melihat kebersaman Dewi dan Aditya jika tingga bersama. Awalnya sang istri menolak keras karena belum bisa melepas Aditya lagi. Namun anak bungsunya itu berhasil meyakinkan Ida. Mereka juga masih tetap datang setiap bulannya, menginap dua sampai tiga hari di rumah.
Kehidupan Adrian pun terus berjalan. Walau sulit tapi pria itu mencoba mengikhlaskan wanita yang dicintainya menjadi pendamping adik tersayang. Di kampus pun, Adrian tetap bersikap professional, membatasi hubungannya dengan Dewi sebagai dosen dan mahasiswa. Dia juga tidak menutup pintu untuk wanita lain. Hanya saja belum ada wanita yang bisa membuat hatinya mencair.
Lain Adrian, lain Roxas. Pria itu serius untuk mengejar dan menaklukkan Pipit. Sebisa mungkin dia membuat celah agar bisa bertemu dengan wanita itu. Dia juga bekerja keras mengumpulkan uang untuk masa depannya. Tak lupa Roxas meminta doa enin agar semua keinginannya tercapai.
Sesekali Roxas membawa enin menginap di kontrakan Aditya yang sekarang sudah menjadi miliknya. Namun pria itu belum berani mengajak enin tinggal bersamanya. Kesibukannya di dapur rekaman, sebagai model dan juga BA membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Nanti saja kalau dirinya sudah berhasil mempersunting Pipit, barulah akan mengajak enin tinggal bersamanya.
Aditya dan Dewi memilih tinggal di kontrakan Herman. Selain tak ingin repot-repot pindah, pasangan itu juga sudah nyaman dengan lingkungan kontrakan haji Soleh. Selama tiga bulan terakhir, Aditya sibuk di dapur rekaman dan di akhir pekan menjadi home band di Red Kingdom café. Namun begitu, dia selalu menyempatkan waktu untuk bisa menghabiskan waktu bersama sang istri.
Pagi ini, keduanya tengah bersiap menuju tempat tujuan masing-masing. Hari ini adalah hari terakhir Dewi mengikuti ujian akhir semester tiga. Wanita itu tengah bersiap di dalam kamar. Buku catatan dan juga buku teks yang dipakai untuk mata kuliah yang Adrian ajar sudah masuk ke dalam tasnya. Mata kuliah terakhir yang diujikan memang mata kuliah yang dipegang Adrian. Sejak semester kemarin Adrian selalu konsisten memberikan ujian dengan sistem open book.
Selesai menyisir rambut, Aditya menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Dia juga akan pergi ke kantor label yang memproduseri album perdana The Soul. Proses rekaman sudah selesai, dan sekarang mereka akan membicarakan rencana kegiatan promo tour album perdana mereka.
“De.. sudah siap?”
“Sebentar.”
Dewi mendekati Aditya, kemudian membenarkan kerah kemeja suaminya yang tidak terlipat di bagian belakang. Aditya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dewi, matanya menatap wajah cantik sang istri. Apalagi melihat pipi Dewi yang bertambah bulat seperti bapao. Kemudian dengan cepat dia memberikan kecupan di bibir Dewi.
“Udah beres. Suamiku ganteng banget sih.”
“Istriku juga cantik. Ayo, sayang.”
Keduanya mengambil tas kemudian menyampirkan ke bahu lalu keluar dari rumah. Di saat bersamaan, dari arah sebrang kontrakan, Roxas juga keluar. Pria itu segera menuju tunggangannya yang sudah siap untuk mengantar.
“Rox.. si hejo masih awet aja. Ngga ada niat ganti bini gitu?” celetuk Dewi.
“Si hejo sehat walafiat, kan udah turun mesin juga. Onderdil udah baru, dijamin ngga akan mogok lagi.”
“Roxas lagi nabung buat ngelamar tante Pit, hahaha,” celetuk Aditya.
“Lo beneran mau sama tante Pit? Yakin kaga bakal ditolak?”
“Elo mah, bukannya doain gue,” gerutu Roxas.
“Bukan gitu. Lo tuh perasaan cepet banget move on. Kemarin kak Lita, terus Manda, sekarang tante Pit. Yakin lo beneran serius sama tante Pit? Tar lihat yang lebih tua dari tante, nemplok lagi lo.”
“Haaiisshh.. berisik. Sejak nikah lo tuh jadi tambah cerewet.
Roxas memakai helmnya, kemudian naik ke atas si hejo. Pria itu menoleh sebentar ke arah Aditya, kemudian melajukan kendaraannya. Aditya memakaikan helm ke kepala Dewi. Setelah sang istri duduk di belakangnya, dia segera melajukan kendaraan roda duanya. Sebelum menuju kantor label rekaman, Aditya lebih dulu mengantarkan istrinya ke kampus.
Motor yang dikendarai Aditya berhenti di depan kampus. Kondisi kampus sudah ramai dikunjungi mahasiswa. Dewi turun kemudian membuka helmnya. Aditya merapihkan hijab sang istri yang sedikit miring.
“Nanti pulang jam berapa?”
“Ngga tau.”
“Telepon aja ya, kalau udah beres.”
“Iya, mas.”
“Sukses ujiannya. Aku pergi dulu.”
Dewi meraih tangan Aditya, kemudian mencium punggung tangannya. Aditya membalas dengan mendaratkan ciuman di kening Dewi.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Mata Dewi terus melihat pada kendaraan roda dua milik Aditya yang sudah meninggalkannya. Kemudian dia berbalik dan memasuki gerbang kampus. Wanita itu segera menuju gedung fakultasnya. Waktu ujian akan dimulai lima belas menit. Dewi mempercepat langkahnya.
🌸🌸🌸
Setelah satu jam lebih berkutat dengan soal-soal yang membuat kepalanya berdenyut, akhirnya Dewi bisa menyelesaikan semua soal yang dibuat oleh Adrian. Sambil membereskan alat tulis dan buku-bukunya, dia melihat pada Micky yang satu ruangan dengannya. Pemuda itu nampak menggaruk kepalanya, wajahnya jangan ditanya lagi bagaimana kusutnya.
Soal yang dibuat Adrian memang lumayan memusingkan. Walau judulnya open book, tapi jawaban sama sekali tidak ada dalam buku. Soal analisis yang diberikan oleh pria itu, sukses membuat para mahasiswanya memeras otak untuk bisa menyelesaikan soal tersebut. Setelah alat tulis dan buku masuk ke dalam tas, Dewi bangun dari duduknya. Dia menyerahkan soal pada pengawas ujian kemudian keluar dari kelas.
Dewi melihat jam di pergelangan tangannya. Sebelum pulang, Dewi bermaksud menemui Adrian di ruang dosen. Dia hendak menyerahkan hasil rekap nilai kuis semua kelas yang diajar oleh pria itu. Saat menuju ke sana, tiba-tiba saja Dewi merasakan tubuhnya terasa lemas. Semalam memang dia kurang tidur, perutnya terasa tidak enak.
Selain lemas, Dewi juga merasakan kepalanya terasa pusing. Sebelah tangannya memegangi dinding di sampingnya. Keringat dingin mulai membasahi pakaiannya. Namun begitu, Dewi tetap berusaha kuat untuk mencapai ruang dosen yang jaraknya tinggal beberapa meter lagi. Dengan perlahan, Dewi melanjutkan langkahnya.
TOK
TOK
TOK
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Kepala Adrian langsung terangkat begitu mendengar suara Dewi. Adik iparnya itu nampak berjalan perlahan mendekati mejanya. Melihat ada yang tak beres dengan Dewi, Adrian segera bangun lalu keluar dari meja kerjanya. Begitu pria itu sampai di depan Dewi, tiba-tiba saja tubuh wanita itu ambruk. Dengan cepat Adrian menangkap tubuh Dewi sebelum menyentuh lantai.
Salah seorang dosen yang bersama dengan Adrian, terkejut melihat ada mahasiswi yang pingsan. Adrian segera membopong Dewi dan membawanya keluar. Rekan Adrian yang ada di ruangan bergegas menyusul pria itu. Dengan bantuannya, Adrian memasukkan Dewi ke dalam mobil. Kemudian dengan cepat pria itu duduk di belakang kemudi.
Dengan kecepatan tinggi, Adrian terus memacu kendaraannya. Dia membelokkan mobil yang dikendarainya memasuki pelataran parkir rumah sakit Mitra Sehat dan berhenti di depan pintu masuk IGD. Bergegas Adrian turun, kemudian membawa Dewi masuk ke dalam IGD.
Melihat kedatangan pasien, seorang suster dan dokter langsung membimbing Adrian, meminta pria itu membaringkan Dewi di atas blankar. Adrian kembali ke luar untuk memarkirkan kendaraannya, kemudian segera kembali ke IGD. Dia menunggu di depan bilik pemeriksaan. Matanya terus memperhatikan dokter yang tengah memeriksa Dewi.
Setelah berhasil menyadarkan Dewi dan memeriksa keadaan wanita itu, sang dokter jaga tersebut keluar dari bilik pemeriksaan. Adrian segera menghampiri dokter pria itu.
“Bagaimana, dok?”
“Keadaannya baik-baik aja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Tapi dia tadi pingsan.”
“Dia hanya kurang tidur dan sedikit kelelahan saja. Istirahat yang cukup dan minum vitamin juga cukup. Saya sarankan bapak untuk segera memeriksannya ke dokter kandungan.”
__ADS_1
“Dokter kandungan?”
“Iya, istri bapak sedang mengandung. Selamat ya,” dokter tersebut menepuk pelan lengan Adrian kemudian berlalu.
Adrian masih terbengong mendengar ucapan dokter tadi. Bukan hanya terkejut mendengar Dewi hamil, tapi juga perkataan dokter tersebut yang mengira kalau dirinya adalah suami dari Dewi. Adrian segera menyadarkan diri, kemudian menghubungi Aditya. Cukup lama adiknya itu menjawab panggilannya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Kamu lagi di mana?”
“Di kantor label rekaman, bang. Kenapa?”
“Dewi..”
“Dewi kenapa? Udah selesai ujiannya?”
“Dewi ada di rumah sakit sama abang.”
“Hah?? Dewi kenapa?” suara Aditya terdengar panik.
“Ngga usah panik, tadi dia pingsan, tapi keadaannya baik-baik aja. Kamu ke sini aja dulu, bisa kan?”
“Bisa, bang. Titip Dewi bentar, aku langsung ke sana sekarang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Adrian memasukkan kembali ponsel ke saku celananya. Pria itu lalu masuk ke bilik pemeriksaan. Nampak Dewi masih berbaring di atas blankar. Adrian mendekati blankar dan berdiri di sisi kanan wanita itu.
“Aku kenapa, bang?” tanya Dewi dengan suara pelan.
“Ngga apa-apa. Kata dokter kamu cuma kurang tidur dan kecapean.”
“Beneran itu aja? Badanku juga lemas banget.”
“Kata dokter itu wajar, karena kamu sedang hamil.”
“Hamil? Aku hamil, bang?”
Mata Dewi membelalak mendengar berita kehamilannya. Adrian menganggukkan kepala seraya melemparkan senyuman. Refleks Dewi memegang perutnya yang masih rata. Dia baru ingat kalau sudah dua minggu terlambat datang bulan. Karena sibuk belajar menghadapi ujian akhir semester, dia lupa soal siklus bulanannya.
“Abang sudah telepon Adit, dia lagi jalan ke sini. Kamu istirahat dulu. Abang mau daftarin kamu periksa dokter kandungan.”
“Makasih, bang.”
Hanya senyuman yang diberikan Adrian sebagai jawaban. Pria itu mengusap puncak kepala Dewi sebelum pergi meninggalkannya. Dewi kembali memegangi perutnya. Senyum kebahagiaan tercetak di wajahnya. Akhirnya dia bisa menjadi wanita sempurna sekarang. Setelah menikah, kini dia dipercaya untuk mengandung anak pertamanya.
“Alhamdulillah, ya Allah,” gumamnya pelan.
🌸🌸🌸
Adrian baru saja selesai mendaftarkan Dewi ke dokter kandungan. Ketika pria itu kembali ke IGD, Aditya dan Roxas juga baru saja tiba. Mendengar sahabatnya masuk rumah sakit, Roxas juga ikut ke rumah sakit. Dia takut Dewi mengalami sakit serius.
“Bang.. Dewi mana?”
“Di sana.”
“Kamu ngga apa-apa, sayang?”
“Iya, mas. Aku baik-baik aja.”
“Kata bang Ad, kamu tadi pingsan. Kenapa?”
“Ngga apa-apa. Kata dokter aku kecapean sama kurang tidur, dan…”
“Dan apa?”
“Aku hamil.”
Untuk sejenak Aditya hanya terpaku mendengar jawaban Dewi. Pria itu nampak terbengong. Dia terbangun dari lamunannya ketika Dewi melambaikan tangan ke depan wajahnya.
“Kok bengong, mas?”
“Ka.. kamu beneran hamil?”
“Iya, mas,” senyum Dewi mengembang.
“Alhamdulillah, ya Allah.”
Aditya langsung memeluk Dewi. Hatinya begitu bahagia tahu sang istri tengah mengandung Aditya junior. Dia memberikan ciuman bertubi di wajah Dewi tanpa mempedulikan ada Adrian dan Roxas yang melihat aksinya.
“Ehem! Udah napa mesra-mesraannya. Ada yang jomblo nih,” protes Roxas.
“Sirik aja, lo, hehehe… Dewi hamil, Xas.. gue mau punya anak!”
“Iya, gue udah dengar. Selamet ya, Dit, Wi.. bentar lagi gue punya ponakan.”
“Bang.. aku mau jadi ayah.. aku mau jadi ayah..”
Aditya menghampiri Adrian dengan wajah sumringah. Adrian menyambut sang adik dengan bahagia. Aditya memeluk erat sang kakak. Hatinya benar-benar bahagia, menikah di usia muda dan langsung diberi kepercayaan untuk memiliki momongan. Tak berapa lama pelukan mereka terurai.
“Abang udah daftarin Dewi ke dokter kandungan. Lebih baik kamu bawa Dewi ke lantai dua sekarang. Nama dokternya, dokter Suci. Soal di sini biar abang yang urus.”
“Iya, bang. Makasih.”
“Oh ya, kamu bawa aja mobil abang, biar abang bawa motor kamu.”
Adrian mengambil kunci mobil dari saku celana, lalu memberikannya pada sang adik. Aditya menerima kunci tersebut lalu memberikan kunci motornya. Setelah itu dia mengajak Dewi menemui dokter kandungan.
“Kamu ngga ikut mereka?” tanya Adrian pada Roxas.
“Ngapain bang? Nyumbang benih juga ngga.”
“Hahaha… dasar semprul. Abang urus pembayaran dulu.”
__ADS_1
“Iya, bang.”
Adrian bergegas menuju kasir untuk membereskan pembayaran pelayanan di IGD. Roxas masih menunggu di IGD. Setelah Adrian menyelesaikan pembayaran. Dia segera mendekati pria itu.
“Bang.. lagi sibuk, ngga?”
“Ngga, kenapa?”
“Mau ngobrol bentar.”
“Ayo. Kita ke kantin aja.”
Roxas menganggukkan kepalanya. Mereka segera menuju kantin yang ada di dekat lobi. Keduanya memesan minuman kemudian mengambil duduk di dekat pintu masuk.
“Mau ngobrol apa?” tanya Adrian membuka pembicaraan.
“Aku ada rencana mau kuliah. Kira-kira ambil jurusan apa ya, bang? Yang sesuai sama kapasitas otakku.”
“Hahaha… ada-ada aja kamu. Kamu sendiri mau ambil bidang apa?”
“Jujur masih belum tau sih. Bagusnya apa ya?”
“Banyak pilihan kalau untuk jurusan sosial. Atau kamu mau ambil komunikasi kaya Dewi?”
“Hmm… susah ngga, bang?”
“Susah atau gampang, itu tergantung kamu sendiri. Asal kamunya rajin, pasti bisa kok.”
“Tapi aku udah mulai banyak kegiatan manggung kayanya kalau pas tahun ajaran baru. Bakalan banyak bolos kayanya.”
“Bisa diatur waktunya.”
“Gitu ya, bang. Boleh deh, aku kuliah di kampus abang ngajar ya, hehehe…”
Senyum Adrian mengembang mendengar kalau Roxas mau melanjutkan studinya. Kalau memang pria itu bersungguh-sungguh akan mengambil jurusan komunikasi seperti Dewi, maka dia akan membantunya.
“Bagaimana pertemuan tadi?”
“Beres, bang. Akhir bulan ini kita udah mulai promo tour, rencananya ke 10 kota besar.”
“Kemana aja?”
“Jakarta, Bogor, Semarang, Yogya, Surabaya, Malang, Medan, Makassar, Bali sama Bandung.”
“Sudah mulai sibuk berarti.”
“Iya, bang.”
Tangan Adrian langsung mengambil iced coffee begitu sang pelayan meletakkan di atas meja, kemudian menyeruputnya pelan. Begitu pula dengan Roxas yang memesan iced cappuccino. Sambil menyeruput minumannya, Roxas memandangi Adrian. Masih ada hal lain yang hendak dibicarakannya.
“Ehhmm.. bang.. kalau tante Pit sering curhat ngga sama abang?”
“Tante Pit? Kadang-kadang cerita, kenapa?”
“Tante kayanya lagi clbk ya, sama mantannya.”
Dengan menyingkirkan rasa malunya, Roxas memulai pembicaraan tentang Pipit dan Bayu. Dia ingin mencari tahu, sejauhmana hubungan kedua orang itu. Apakah Pipit bersedia menyambung kembali hubungannya dengan Bayu yang sempat terputus.
“Setahuku, om Bayu emang lagi pdkt sama tante Pit. Dia juga berapa kali datang ke rumah. Tapi.. kayanya tante ngga ngerespon berlebihan. Tante juga ngga ada bilang soal hubungannya sama om Bayu, kayanya mereka belum clbk.”
“Oh syukur deh, hehehe…”
Mata Adrian menyipit, dia menatap curiga pada Roxas. Sepertinya mantan anak didiknya ini memendam perasaan pada sang tante. Apalagi dia juga sudah mulai bertanya-tanya soal Bayu.
“Kamu suka sama tante Pit?” terbak Adrian.
Roxas tersentak mendengar pertanyaan Adrian. Untuk beberapa saat pria itu hanya diam sambil cengar-cengir ngga jelas seraya mengusap tengkuknya. Mau bohong, pasti Adrian tidak akan percaya. Kalau jujur, malu juga.
“Kamu… beneran suka sama tante?” ulang Adrian.
“Hehehe… iya, bang. Cuma kayanya ngga ada harapan. Sainganku berat, bang. Om Bayu selain dewasa, dia juga dokter spesialis. Jauh banget sama aku.”
“Kamu anak yang baik, soleh, sangat menyayangi orang tua, pekerja keras. Apa yang membuatmu minder? Soal pekerjaan? Setiap orang punya keahlian di bidang masing-masing. Om Bayu mungkin dokter spesialis yang mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan penyakit. Tapi.. kamu pun punya keahlian yang ngga dimiliki dia. Posisi kalian seimbang. Apa yang kamu takutkan?”
Jujur saja, Roxas melongo mendengar penuturan Adrian. Dia tidak menyangka keponakan dari wanita yang dicintainya, bisa melontarkan kata-kata yang langsung membuat semangatnya berkobar untuk mendapatkan Pipit.
“Abang setuju kalau kalau aku deketin tante?”
“Memang ada alasan aku ngga setuju?”
“Ya kan aku masih muda, seumuran Adit. Tante aja lihat aku kaya gitu.”
“Itu PR-mu untuk membuktikan pada tante. Biar masih muda, tapi kamu serius mau menjalin hubungan dengannya. Bersikaplah lebih dewasa, karena dewasa tidak bisa diukur dari usia dan yang ngga kalah penting, bertanggung jawab.”
“Berarti abang dukung aku? Hehehe..”
“Kalau kamu benar menyayangi tante Pit, iya.. aku dukung.”
“Alhamdulillah… makasih bang.”
“Tunjukkan pada tante kalau kamu adalah laki-laki yang layak untuknya. Dan jangan lupa, kamu itu punya kartu truff.”
“Kartu truff?”
Adrian tersenyum melihat Roxas yang nampak bingung dengan ucapannya. Tangan pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia melihat pada Adrian, memohon petunjuk dari kakak ipar sahabatnya itu.
“Mbah putri dan mbah kakung menyukaimu. Mereka juga sudah merestuimu dengan tante. Manfaatkan itu. Saran abang, nanti saat kamu promo tour ke Yogya, sempatkan mampir ke Magelang ketemu sama camer kamu, hahaha..”
“Aamiin.. aamiin.. mudah-mudahan jadi camer beneran. Hehehe..”
Wajah Roxas nampak sumringah. Restu dua keponakan Pipit sudah berhasil dikantonginya. Dan dia juga akan mengikuti nasehat Adrian, mengunjungi Wardani dan Cahyadi saat promo tour nanti. Kegalauan yang melanda akhir-akhir ini, perlahan mulai memudar. Di kepalanya mulai tersusun apa yang akan dilakukan untuk menaklukkan hati Pipit.
🌸🌸🌸
__ADS_1
**Selamat ya, Dewi & Aditya, kalian mau jadi orang tua.
Roxas, yang semangat kejar tante Pit, kamu udah punya 2 beking duo A😂**