
Pagi-pagi Aditya dan Roxas membantu Nenden menyiapkan dagangannya. Kedua pria itu menggelar karpet, menata meja beserta tisu dan air mineral gelas di atas meja. Dewi juga ikutan membawakan termos berisi nasi kuning dan uduk. Di belakangnya Nenden menyusul membawakan lauk pelengkap dagangannya.
Dalam waktu lima belas menit, semua sudah siap. Aditya menata tiga buah kursi di depan tempat lesehan. Dari arah kontrakannya, Roxas keluar sambil membawa dua buah gitar. Mumpung libur di hari yang sama, keduanya berencana menghibur para pembeli. Dewi yang sudah selesai dengan tugasnya menghampiri keduanya.
“Masuk siang, Dit?” tanya Dewi.
“Ngga. Aku libur. Minggu ini displit lagi liburnya. Nanti Jum’at aku masuk. Sini, Yang, kita nyanyi duet. Udah lama kita ngga duet.”
Dewi menuruti apa keinginan Aditya, gadis itu mengambil posisi di tengah, diapit oleh Aditya dan Roxas. Bu Lia, bu Farah dan bu Titin yang sudah lama tak melihat konser Aditya bersama dengan Dewi dan Roxas, bergegas keluar rumah. Mereka ingin sarapan sambil menikmati pertunjukan musik.
Amel yang melihat ketiga wanita itu mendatangi tempat Nenden berjualan, ingin ikut bergabung. Setelah mengambil dompet dari dalam kamar, wanita itu bergegas keluar rumah dan bergabung dengan para tetangganya.
“Eh mbak Amel, mau beli sarapan juga?” sapa bu Lia.
“Iya, bu.”
“Kita makan bareng aja sambil lihat mereka konser,” Farah menunjuk pada Dewi dan yang lainnya.
“Boleh.. boleh.”
“Ibu-ibu tunggu aja di sana, nanti saya antar pesanannya.”
“Ok, bu.”
Amel beserta yang lainnya segera menuju karpet. Mereka mengambil tempat tepat di depan ketiga orang yang tengah bersiap untuk konser. Aditya berdiskusi sebentar, merundingkan lagu apa yang akan dibawakannya. Setelah sepakat, Roxas dan Aditya segera memainkan gitarnya. Mendengar lagu yang akan dinyanyikan bernada ceria, Amel sontak berdiri dan mulai berjoged.
“Sedikit pun ku tak merasa malu. Tanpa ada kekasih di hatiku. Bukan berarti ku tak punya rasa. Untuk menjalin cinta oh,” Aditya menyanyikan bagiannya.
“Ku tak pernah merasa kesepian. Atau mengangap sebuah cobaan. Hidupku ini penuh dengan cinta. Dan ku sangat bahagia,” sambung Dewi.
Melihat Amel yang asik berjoged, Titin pun tak mau kalah. Dia ikut berdiri kemudian berjoged bersama Amel. Tetangga lain yang sedang menjemur atau sibuk membenahi rumah juga ikutan bergabung, meninggalkan pekerjaan mereka.
“Jomblo happy memang pilihan hati. Bukan karena tak mampu untuk cari kekasih. Jomblo happy memang pilihan hati. Biar ku bisa bebas terbang ke sana sini,” Aditya dan Dewi menyanyikan part refrain bersamaan.
Dewi bangun dari duduknya kemudian bergabung dengan Amel dan Titin. Sambil menyanyikan part berikutnya dia ikutan berjoged. Nenden datang membawakan pesanan. Wanita itu hanya tersenyum melihat tingkah para tetangganya. Tak tahan melihat yang bergoyang, Farah dan Lia akhirnya ikutan bergoyang juga.
Melihat yang lainnya ikut bergoyang, Dewi mendekati Aditya yang masih memainkan gitarnya bersama dengan Roxas. Gadis itu berdiri di samping Aditya, bersiap untuk menyanyikan part refrain lagi bersama.
“Jomblo happy memang pilihan hati. Bukan karena tak mampu untuk cari kekasih. Jomblo happy memang pilihan hati. Biar ku bisa bebas terbang ke sana sini.”
Mata Aditya dan Dewi saling bertemu ketika mereka menyanyikan refrain sebanyak dua kali. Senyum tak lepas dari wajah keduanya. Aditya terlihat semakin tampan dengan lesung yang menghiasi pipinya.
“Ayo ibu-ibu sarapannya dimakan dulu. Lagu sekarang agak slow ya biar ngga gatel ikutan goyang. Bahaya nanti bisa keselek.”
Terdengar tawa dari para penonton mendengar ucapan Aditya. Pemuda itu berbisik pada Roxas, mengatakan lagu apa yang kali ini akan dinyanyikannya. Aditya meminta Dewi kembali duduk di sampingnya. Lagu yang akan dinyanyikannya sekarang, khusus dipersembahkan untuk gadis tersebut.
Aditya mulai memetik gitarnya. Dari melodi yang dimainkan pemuda itu, Dewi tahu lagu apa yang akan dinyanyikan olehnya. Dewi melihat jemari Aditya yang tengah memainkan senar gitar. Aditya mengangkat kepalanya, melihat pada Dewi ketika mulai menyanyikan liriknya.
“Di dalam sebuah cinta terdapat bahasa. Yang mengalun indah mengisi jiwa. Merindukan kisah kita berdua. Yang tak pernah bisa akan terlupa. Bila rindu ini masih milikmu.
Kuhadirkan sebuah tanya untukmu. Harus brapa lama, aku menunggumu aku menunggumu.”
Wajah Dewi menyunggingkan senyuman ketika mata Aditya menatapnya dalam saat menyanyikan bait pertama lagu milik Noah tersebut. Namun di lubuk hatinya menangis dan menjerit. Tak tega kalau harus menyakiti pemuda sebaik Aditya. Karena Dewi sudah menyadari kalau perasaannya untuk Aditya hanyalah sayang. Sedangkan cintanya sudah berlabuh pada Adrian.
Sambil memainkan gitarnya, Roxas beberapa kali melirik pada Dewi. Pemuda tersebut seakan ikut merasakan kebimbangan yang dirasakan Dewi saat ini. Jangankan sahabatnya, dirinya pun merasakan kegalauan yang sama. Baik Aditya, maupun Adrian sama-sama orang yang penting dan berarti dalam hidupnya.
Di tempatnya berdiri, Nenden juga seakan ikut hanyut akan lagu yang dibawakan oleh Aditya. Baginya, siapa pun yang dipilih oleh Dewi, yang penting pria itu mampu membahagiakan dan melindungi putrinya. Hanya para penonton yang tidak tahu apa makna lagu yang dibawakan Aditya. Mereka menikmati suara merdu Aditya sambil menikmati nasi kuning dan nasi uduk buatan Nenden.
“Dalam hati kumenunggu. Dalam lelah kumenunggu. Dalam hati kumenunggu. Dalam lelah kumenunggu. Dalam tangis kumenunggu. Dalam sedih kumenunggu. Dalam hati kumenunggu.”
Jika tidak berada di hadapan banyak orang, ingin rasanya Dewi menangis ketika Aditya menyanyikan bait terakhir lagu tersebut. Lirik tersebut seakan sebuah sindiran halus untuknya.
🌸🌸🌸
Berkat konser hari ini, jualan Nenden laris manis dan habis dalam waktu singkat. Waktu masih menunjukkan pukul delapan tapi meja dagangan sudah kosong. Sekarang wanita itu tengah menyiapkan bahan lotek dibantu oleh Dewi. Sementara Roxas dan Aditya yang sudah selesai membereskan tempat lesehan, duduk-duduk di teras sambil ngobrol.
“Si tante Amel semangat banget tadi ya. Dia ikutan nyanyi sambil joged. Gue yakin bapak-bapak yang tadi ngantri nasi kuning ibu, sebenernya pengen lihat tante Amel bukan mau beli sarapan,” Roxas terkekeh setelah mengatakan analisanya.
“Emang tante Amel seksoy banget sih. Kaga heran lo juga demen banget deketan ama dia, hahaha...”
“Ngga gitu konsepnya, bro.”
“Terus?”
Roxas meneguk dulu capucino sachet yang tadi diseduhkan Dewi untuknya sampai habis setengah. Aditya ikut menyeruput kopinya yang panasnya sudah mulai berkurang. Setelah meletakkan gelasnya, barulah Roxas melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Jujur, waktu awal dekat ama tante Amel, gue suka lihat bodinya yang bohay bin semok. Tapi pas gue udah kenal dekat, ternyata tante Amel tuh bukan cuma baik, tapi juga perhatian sama gue. Setiap gue lihat tante Amel, gue jadi inget almarhumah nyokap gue. Nyokap perhatian banget sama gue, tiap punya uang, dia selalu mendahulukan kepentingan gue. Sama kaya nyokap, tante Amel juga suka nyanyi. Itu yang bikin gue betah dekat sama dia.”
Aditya terdiam mendengar penuturan Roxas. Dia bisa merasakan kesedihan dan kerinduan yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Mendengar cerita Roxas, Aditya tiba-tiba merindukan mamanya. Terakhir kali dia bertemu ketika mengambil motor Adrian di rumah. Itu pun dia tak sempat berpamitan ketika pulang karena kehadiran sang ayah.
“Makanya, Dit. Mumpung nyokap lo masih ada, lo harus berbakti sama dia. Sesekali pulang, tengokin nyokap, dia pasti kangen banget sama elo. Coba singkirin dulu ego lo. Tengok nyokap, lihat keadaannya. Jangan nunggu bokap lo ngga ada di rumah baru lo mau datang. Kadang kita ngga tau kapan maut datang buat misahin kita dari orang tercinta.”
Tak ada tanggapan dari Aditya, namun dalam hati pemuda itu membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya. Harusnya dia bersyukur masih mempunyai orang tua yang lengkap, tidak seperti Dewi dan Roxas yang sudah kehilangan orang-orang tercintanya.
“Lo tau ngga, Dit kenapa gue sering nganterin tante Amel ke pasar?”
“Biar dapet sunyoto, hahaha…” Aditya tergelak sendiri mendengar ucapannya. Roxas menoyor kepala sahabatnya itu.
“Noh kang ojek yang mangkal di depan sana suka godain tante Amel. Makanya gue suka sempetin nganter dia ke pasar. Dia emang janda, tapi ngga pantes dilecehin kaya gitu.”
“Buset lo bentes amat ngomong jandanya. Emang lo yakin tante Amel janda? Bisa digibeng kalau kedengeran dia.”
“Lah dia pindahnya sendirian. Terus di rumahnya juga ngga ada nempel foto nikahannya. Apa coba kalau bukan janda namanya?”
Sebenarnya Aditya gemas sekali ingin memberitahukan status Amel yang sebenarnya. Namun dia ingat larangan Dewi. Akhir bulan ini suami Amel akan pulang, biar itu menjadi kejutan untuk sahabatnya.
“Sebenernya tante Amel janda atau bukan, ngga ngaruh juga buat gue. Yang lagi gue pikirin sekarang, gimana caranya deketin Yulita.”
“Lo beneran suka sama kak Lita?”
“Iya. Makanya lo bantuin gue. Apa yang Lita suka atau ngga kasih tau gue dong.”
“Gue ngga terlalu kenal sama kak Lita. Bang Ad noh yang tahu. Lo tanya aja ama dia.”
“Malu, ah. Mana Lita naksir bang Rian lagi. Kesannya gue malah minta info sama rival.”
“Hahahaha… santai aja keles. Bang Ad ngga ada hati sama kak Lita. Tapi setahu gue, hidup kak Lita tuh flat banget. Dia tuh orangnya pendiam, agak pemilih juga, anggun dan jaga image banget. Tapi pas lah sama elo yang somplak, siapa tau dia bisa ketularan bengeknya dan bikin hidupnya turun naik gunung, hahaha…”
Roxas menggaruk kepalanya yang tak gatal. Beberapa kali berkesempatan ngobrol bareng dengan Yulita, semua yang dikatakan Aditya benar adanya. Yulita selalu bersikap tenang dan hati-hati ketika berbicara dengannya.
“Kali-kali lo ajak kak Lita jalan-jalan naik si hejo. Jangan isi bensin dulu biar si hejo mogok di jalan kehabisan bensin. Kalian berdua dorong tuh motor, terus hujan pula. Kan romantis tuh, hahahaha…”
“Romantis pala lo peyang. Yang ada dia ilfil ama gue.”
“Hahaha….”
“A, punten. Kalau Aditya yang mana?”
“Saya Aditya. Ada apa, pak?”
“Ini. Saya disuruh antar barang buat Aditya. Kiriman dari pak Adrian.”
“Barang apa pak?”
“Kasur, lemari dan tv.”
Aditya menepuk keningnya. Benar dugaannya kalau sang kakak pasti mengirimkan barang-barang untuk mengisi kontrakannya. Roxas terkekeh melihat wajah kesal Aditya. Dia segera mengarahkan sang pengirim barang untuk menurunkan barang dan membawanya masuk ke kontrakan.
Sebuah kasur spring bed berukuran 120x200 cm, lemari dua pintu dan televisi 21 inci lengkap dengan antenanya sudah diturunkan oleh supir dan juga seorang teman yang ikut bersamanya. Setelah mendapatkan tanda tangan Aditya, supir tersebut segera meninggalkan kontrakan haji Soleh.
“Biasa aja tuh muka, kaga usah ditekuk gitu. Tinggal bilang makasih sama abang lo.”
“Bukannya gitu. Dia udah sering banget bantu gue. Kapan gue mandiri kalau dibantu terus sama dia.”
“Ibarat anak kecil nih, lo baru belajar jalan. Masih sedikit oleng, kadang jatoh, jadi wajar kalo abang lo bantu elo belajar jalan biar lebih lancar. Terima aja, bro. Rejeki jangan ditolak.”
“Iya, sih. Tuh kasur gue pake aja sama elo, terus lemari juga. Dari pada baju lo ditaro di kardus.”
“Beneran? Wah tengkyu, bro.”
Kedua pemuda itu segera membereskan barang-barang yang baru saja diantarkan. Aditya mengeluarkan isi lemari kemudian memindahkannya. Posisi lemari plastik tersebut digantikan oleh lemari yang dibelikan Adrian untuknya. Begitu pula dengan kasur yang dipakai, kini sudah diwariskan pada Roxas.
Selesai mengatur ulang barang, Aditya membuka dus televisi, hendak memasang layar datar sebesar 21 inci tersebut di dinding.
"Widih kaga kaleng-kaleng ngasihnya langsung smart tv jadi kaga perlu set up box lagi," seru Roxas.
"Pinjem tangga, Xas. Buat pasang antena."
"Lo pasang aja dulu tuh tv. Gue pinjem tangga sekalian pasang antena."
"Sip," Aditya mengangkat jempolnya.
__ADS_1
Setelah meminjam tangga, Roxas kembali naik turun untuk memasang antena, sedang Aditya menyeting televisi. Dalam waktu satu setengah jam, semua pekerjaan sudah selesai dilakukan. Mereka kemudian bersiap untuk mengunjungi enin. Aditya dan Dewi berencana ikut Roxas menengok enin. Aditya juga ingin mengenal nenek yang begitu disayangi sahabatnya.
🌸🌸🌸
Jam sepuluh, ketiganya sudah bersiap untuk berangkat ke rumah Tirta, di mana enin tinggal sekarang. Dewi akan ikut motor Aditya, tak lupa dia membawakan makanan buatan mamanya yang khusus dibuat untuk enin. Aditya memakai helmnya kemudian menduduki tunggangannya. Di belakangnya, Dewi juga sudah duduk cantik.
Roxas keluar dengan membawa bungkusan berisi oleh-oleh yang diberikan Adrian. Dia menaiki si hejo kemudian memakai helmnya. Beberapa kali dia menyelah motornya yang kadang suka ngambek dihidupkan.
“Ngga ada yang ketinggalan?” tanya Aditya.
“Ngga.”
“Bensin udah diisi belum?” kini Dewi yang bertanya.
“Udah.”
“Yuk ah, cabut.”
Aditya membiarkan Roxas berjalan lebih dulu, baru kemudian dia mengikuti dari belakang. kedua motor tersebut mengambil arah menuju Tegallega, daerah di mana keluarga Roxas tinggal. Aditya terus mengikuti Roxas yang melintasi taman Tegallega, lanjut ke Tegallega Skate Park. Motornya kemudian berbelok memasuki salah satu gang yang ada di sana.
Aditya memperlambat kecepatan motornya ketika menyusuri jalanan gang yang lebarnya hanya cukup untuk dua motor saja. Dia terus mengikuti Roxas, melewati deretan rumah penduduk yang berdempetan. Roxas menghentikan motornya di sebuah rumah kecil bercat hijau yang sudah pudar warnanya. Aditya menyusul berhenti di belakang motor sang sahabat.
“Assalamu’alaikum, enin…”
Roxas mengetuk pintu rumah yang tertutup. Beberapa kali pemuda itu mengetuk, namun tak ada jawaban juga. Roxas mencoba membuka pintu rumah yang ternyata tidak dikunci. Roxas mencari keberadaan enin di dalam rumah yang nampak sepi, namun tak menemukannya.
“Enin…”
Roxas kembali memanggil sang nenek, namun hanya kesunyian yang menjawab. Pemuda itu mulai panik, karena tak menemukan enin di mana pun. Dia kembali ke luar rumah. Mencari enin barangkali ada di rumah tangga. Aditya dan Dewi ikutan mencari enin.
“Bu.. lihat enin ngga?” tanya Roxas pada tetangga dekat rumah Tirta yang tengah menjemur baju.
“Ngga.”
Roxas berlarian di seputar gang dekat rumah Tirta, mencari-cari enin. Matanya kemudian menangkap Rani tengah bergosip di depan warung bersama beberapa tetangganya. Pemuda itu bergegas menghampiri Rani.
“Bi.. enin mana?” tanya Roxas.
“Ya di rumah atuh,” jawab Rani ketus.
“Ngga ada. Tadi Aep ti bumi teu aya sasaha (tadi Aep dari rumah ngga ada siapa-siapa).”
“Teangan sing bener. Aya di kamar mandi meureun. Da enin mah moal kamana-mana atuh (cari yang bener. Ada di kamar mandi kali. Enin ngga akan kemana-mana).”
“Teu aya, bi (ngga ada, bi).”
Sebenarnya Roxas sudah kesal setengah mati pada istri dari pamannya ini. Namun dirinya berusaha untuk tetap bersabar. Kesal karena Roxas terus mengganggunya, Rani berdiri kemudian berjalan menuju rumahnya. Sepanjang jalan dia mengeluhkan enin yang banyak maunya. Roxas berusaha mengabaikan apa yang dikatakan Rani, pikirannya hanya tertuju pada enin saja.
Sesampainya di rumah, Rani mencari-cari keberadaan ibu mertuanya. Dia mulai panik karena tak menemukan enin di dalam rumah. Dia lalu menghubungi Tirta yang tengah menjaga toko sembakonya tak jauh dari gang tempat tinggalnya.
“Ngga ada kan, bi? Enin mana, bi? Masa jagain enin aja ngga bisa sih!” nada suara Roxas mulai meninggi.
“Sabar atuh, mang Tirta ge keur neangan. Biasana enin sok ka toko menta jajan ka mamang (Sabar, mang Tirta juga lagi nyari. Biasanya enin suka ke toko minta jajan ke mamang).”
Roxas yang kadung kesal keluar dari rumah. Sekali lagi dia menyisiri deretan rumah di sekitar gang tersebut. Dewi dan Aditya bantu mencari di gang sebelah. Mereka juga ikut khawatir karena belum menemukan keberadaan enin di manapun.
Dari kejauhan nampak motor Tirta memasuki gang kemudian berhenti di depan rumah. Roxas berlari menghampiri sang paman. Aditya dan Dewi yang tak menemukan keberadaan enin di gang sebelah, bergegas kembali ke rumah Tirta.
“Mang.. mana enin?”
Tirta tak menjawab pertanyaan Tirta, pria itu bingung karena tak menemukan keberadaan ibunya di toko makanan dekat tokonya. Roxas mendekati Tirta kemudian mengguncang kedua bahu pria itu.
“Enin mana, mang? Mana??!!!”
“Aep! Maneh ulah kurang ajar ka mamang! (kamu jangan kurang ajar),” hardik Rani.
Roxas tak mempedulikan hardikan Rani, amarahnya sudah tak bisa terbendung lagi. Tangannya yang semula berada di bahu Tirta kini sudah berpindah ke kerah kemeja yang dikenakan pria itu. Dengan kasar Roxas menarik kerah kemeja Tirta, matanya sudah berkilat penuh amarah.
“Enin mana, mang. MANA?!! Salila ieu Aep teu menta nanaon, ngan ukur nitip enin!! (selama ini Aep ngga minta apa-apa, cuma nitip enin). MANA ENIN??!! MANA??!!!”
🌸🌸🌸
**Hayo yang ngumpetin enin, ngaku!!🤭
Berhubung hari libur paksu tercinta digeser ke Kamis, jadi untuk hari ini dan seterusnya, In Syaa Allah Jumat tetap up. Kemungkinan libur di hari Kamis😁**
__ADS_1