
Setelah memarkirkan kendaraan dinas yang dipakainya, Fajar turun dari mobil. Pria itu segera menuju gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dia bermaksud menemui sahabatnya di tempat kerja. Beberapa mahasiswi yang melintas tak bisa menghilangkan tatapan kagum pada pria itu. Apalagi Fajar mengenakan kaos hitam bertuliskan Bareskrim di bagian belakang
Sambil berjalan, Fajar mengambil ponselnya untuk menghubungi Adrian. Sahabatnya itu memintanya menunggu di kantin. Pria itu juga menghubungi kekasihnya, Dita. Karena kesibukan masing-masing, sudah satu minggu lebih keduanya tidak bertemu.
Fajar terus berjalan menuju kantin yang letaknya ada di samping gedung fakultas. Suasana kantin tidak begitu ramai, hanya ada beberapa mahasiswa saja yang berkumpul menikmati hidangan sambil menunggu jam kuliah berikutnya. Fajar menuju salah satu meja yang kosong dan mendudukkan diri di sana.
Seorang pelayan mengantarkan jus alpukat pesanannya. Di saat bersamaan Dita datang dan langsung menghampirinya. Senyum terbit di wajah Fajar. Terlihat kebahagiaan dari sorot matanya, bisa melepas rindu bersama sang kekasih.
“Tumben abang ke sini,” ujar Dita membuka pembicaraan.
“Aku mau ketemu Ad.”
“Kirain mau ketemu aku,” Dita memanyunkan bibirnya. Berpura-pura kecewa karena kedatangan Fajar bukan untuknya.
“Ya ampun sejak kapan kamu ganti profesi jadi pedagang tutut.”
“Ish nyebelin.”
Fajar hanya terpingkal saja ketika Dita memukul lengannya. Wajah Dita yang awalnya cemberut berubah jadi tersenyum. Sungguh dia tidak menyangka akan jatuh cinta pada sabeumnya yang selalu dalam mode galak jika sudah mengajarinya jurus taekwondo. Pria itu mampu menyembuhkan lukanya ketika cinta tak berbalasnya meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Terdengar deheman Adrian ketika pria itu masuk ke dalam kantin. Fajar dan Dita yang tengah bercanda, langsung menghentikan aktivitas mereka. Dita menundukkan kepala saking malunya. Adrian menarik kursi yang ada di sana kemudian mendudukkan diri.
“Ganggu ngga nih?” seru Adrian setelah duduk.
“Aku pergi aja deh,” Dita bangun dari duduknya.
“Eh mau kemana?” tanya Adrian.
“Aku ada kelas sebentar lagi. Silahkan kalian kencan berdua aja. Tapi pak Rian, tolong jangan godain pacar saya ya.”
“Harusnya kamu ngomong gitu sama Fajar, bukan sama saya. Dia kan cinta mati sama saya.”
“Kampret.”
“Hahaha…”
Bukan hanya Adrian, tapi Dita juga tertawa mendengar celetukan Adrian. Wanita itu segera meninggalkan meja yang ditempatinya tadi. Dia bergegas menuju ruang dosen. Jam kuliahnya sebentar lagi akan mulai. Di dekat pintu masuk kantin, Dita berpapasan dengan Dewi yang hendak ke kantin juga.
“Bu Dita lihat pak Rian ngga?” tanya Dewi.
“Ada tuh di kantin. Lagi kencan sama bang Fajar, hahaha..”
“Astaga, sejak kapan mereka selingkuh.”
Tawa Dita tak bisa berhenti mendengar ucapan Dewi yang sama absurdnya seperti dirinya. Dia segera meninggalkan area kantin, sedang Dewi masuk untuk menemui suaminya. Melihat Adrian sedang bersama dengan Fajar, Dewi segera mendekat.
“Hai.. Wi,” sapa Fajar.
“Hai bang Fajar. Aku ganggu ngga nih?”
“Ngga kok. Kamu sini ikut duduk. Ada yang mau aku obrolin juga sama kamu.”
“Soal apa?” tanya Dewi sambil mendudukkan diri.
Fajar tidak langsung menjawab pertanyaan Dewi. Pria itu memandangi dulu pasangan pengantin baru di depannya. Apa yang akan dikatakan bukan kabar baik, dan Fajar sendiri tidak tahu bagaimana reaksi keduanya.
“Ada apa?” tanya Adrian.
“Ini soal Yulita.”
“Kenapa sama dia?” nada suara Adrian terdengar begitu dingin. Pria itu masih belum bisa memaafkan Yulita atas perbuatannya melenyapkan nyawa sang adik.
“Yulita mau ketemu kalian.”
“Buat apa?”
“Aku ngga tau. Aku cuma dapat info dari dokter yang merawatnya. Dia mau ketemu kalian. Dia sekarang lagi menjalani perawatan di panti rehabilitasi mental yang ada di daerah Lembang.”
Masih belum ada jawaban dari Adrian. Wajah pria itu juga berubah menjadi keruh. Hanya mendengar nama Yulita saja sudah berhasil menghancurkan moodnya. Dewi memegang tangan suaminya, mencoba menurunkan tensinya yang mulai naik.
“Selain itu, gue juga mau kasih kabar. Ara sama Mahes bakalan nikah akhir minggu ini. Acaranya di masjid Al-Fur’qon yang di daerah Citarum.”
“Wah ulet bulu nikah,” ceplos Dewi. Namun wanita itu langsung menutup mulut dengan tangannya begitu sang suami dan Fajar melihat padanya.
“Gue cuma mau kabarin itu aja sih. Terserah elo mau dateng apa ngga nemuin Yulita atau ke nikahan Mahes. Gue ngerti kalau lo ngga mau dateng.”
Fajar menghabiskan dulu jus alpukatnya. Melihat tak ada respon apapun dari Adrian, pria itu memilih untuk pergi. Jika dirinya menjadi Adrian, belum tentu mau menemui orang-orang yang sudah menjadi penyebab meninggalnya Aditya.
“Gue cabut dulu. Wi..”
“Iya, bang.”
Sepeninggal Fajar, Adrian masih bertahan di tempatnya. Pria itu juga tidak mengatakan apapun. Dewi jadi bingung sendiri bagaimana menghadapi suaminya yang dalam mode emosi. Kabar yang dibawa Fajar sukses membuat sang suami terlihat menyeramkan. Tiba-tiba Adrian bangun dari duduknya.
“Kamu masih ada kuliah?” tanya Adrian.
“Udah ngga ada.”
__ADS_1
“Ayo pulang.”
Dewi buru-buru bangun dari duduknya, kemudian bergegas menyusul Adrian yang sudah lebih dulu keluar dari kantin. Dia menuju parkiran, sedang Adrian kembali ke ruang dosen lebih dulu untuk mengambil tas kerjanya. Dewi berdiri di dekat mobil Adrian sampai pria itu datang dan membukakan kunci mobil.
Tak ada pembicaraan selama perjalanan pulang. Beberapa kali Dewi melirik Adrian yang masih membungkam mulutnya. Matanya menatap lurus ke depan, berkonsentrasi untuk menyetir. Dewi juga tidak berani untuk bertanya atau mengajak bicara. Aura Adrian saat ini benar-benar membuatnya takut.
Sesampainya di rumah, Adrian langsung masuk ke dalam kamarnya. Dewi hanya menghela nafas saja melihat sikap diam suaminya. Ida yang menyadari hal tersebut langsung menghampiri Dewi.
“Ad kenapa?”
“Tadi bang Fajar ke kampus. Katanya Yulita minta ketemu aa sama aku. Abis itu aa diem aja, ma. Aku juga seram lihat mukanya.”
Terdengar helaan nafas Ida. Pasti anak sulungnya itu masih memendam amarah pada pelaku pembunuhan anak bungsunya.
“Kalian sudah makan?”
“Belum, ma.”
“Panggilkan Ad, ayo makan dulu.”
“Takut, ma.”
“Dia itu suami kamu, masa takut. Semarah-marahnya dia, ngga mungkin makan kamu. Lagian dia marahnya bukan ke kamu. Sana, susul suamimu.”
Ragu-ragu Dewi menuju kamar Adrian. Tangan wanita itu terangkat untuk mengetuk pintu. Karena tak ada jawaban dari dalam, Dewi memberanikan diri untuk masuk. Nampak Adrian tengah berdiri di depan jendela. Perlahan Dewi mendekat. Cukup lama dia berdiri di belakang Adrian, sebelum akhirnya dia memberanikan diri memeluk pria itu dari belakang.
Adrian terjengit ketika merasakan pelukan dari arah belakangnya. Kepala Dewi menyandar pada punggungnya. Dipegangnya kedua tangan Dewi yang melingkari perutnya. Mendapat respon dari Adrian, Dewi memberanikan diri untuk bertanya.
“Aa ngga apa-apa?”
“Aku ngga apa-apa.”
“Aku takut lihat aa kaya gini.”
Tangan Adrian bergerak melepaskan pelukan Dewi dari perutnya. Kemudian membalikkan tubuhnya. Dipandanginya wajah sang istri yang sedang melihat padanya. Diusapnya puncak kepala wanita itu kemudian menariknya ke dalam pelukannya.
“Maaf kalau sudah membuatmu takut.”
“Aa pasti marah soal Yulita. Sama, aku juga marah. Aku juga masih belum bisa maafin perbuatannya. Tapi kalau aa seperti ini, aku jadi takut.”
“Maaf, sayang.”
“Aa mau ketemu Yulita?”
“Hmm..”
“Aku boleh ikut?”
“Aku cuma ngga mau aa kehilangan kontrol saat bertemu dia. Aa harus ingat, sekarang ada aku dan Arkhan yang jadi tanggung jawab aa. Jangan gegabah dan melakukan hal-hal yang akan aa sesali.”
“Iya, sayang.”
“Aku boleh ikut?”
“Kamu benar mau ikut?” tanya Adrian seraya melepaskan pelukannya.
Dewi hanya membalasnya dengan anggukan saja. Adrian mengusap wajah Dewi dengan lembut. Dia mendekatkan wajahnya kemudian mendaratkan ciuman di bibir Dewi. Emosinya menguap begitu saja setelah mendapat pelukan dan mendengar kata-kata istrinya. Dewi memejamkan matanya seraya membalas ciuman suaminya.
🌸🌸🌸
Mobil yang dikendarai Adrian berhenti di pelataran parkir pusat rehabilitasi milik swasta yang ada di daerah Lembang. Bersama dengan Dewi, dia turun dari mobil. Sejenak mereka memandangi bangunan bercat putih di depannya. Di sini, semua orang yang menderita gangguan mental dirawat di sini, termasuk Yulita.
Sambil menggenggam tangan Dewi, Adrian masuk ke dalam gedung. Terlebih dulu mereka menuju meja resepsionis. Seorang petugas wanita menyambut ramah kedatangan mereka berdua.
“Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu?”
“Saya mau bertemu dokter Fatima.”
“Sudah buat janji sebelumnya?”
“Belum. Tapi kami datang ke sini atas permintaan beliau. Ini terkait salah satu pasiennya.”
“Oh, sebentar.”
Petugas resepsionis tersebut segera menghubungi ruangan dokter Fatima. Setelah berbicara sebentar, dia mempersilahkan Adrian dan Dewi menuju ruang praktek psikiater tersebut yang ada di lantai dua. Setelah mendapat ijin, pasangan suami istri itu segera menuju lantai dua.
Tak butuh waktu lama bagi keduanya menemui ruangan dokter Fatima. Adrian mengetuk pintu ruangan yang tertutup. Terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk. Adrian membuka pintu, kemudian masuk ke dalamnya. Dokter Fatima segera berdiri menyambut kedatangan Adrian dan Dewi.
“Dengan bapak Adrian dan ibu Dewi?”
“Iya, dok.”
“Kenalkan, saya Fatima. Saya yang merawat Yulita di sini. Silahkan duduk.”
Adrian dan Dewi segera mendudukkan diri di sofa yang ada di sana. Fatima menyusul duduk berhadapan dengan kedua tamunya. Saat konsultasi terakhir dengan Yulita, pasiennya itu ingin bertemu dengan Adrian dan juga Dewi.
“Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas kesediaan bapak dan ibu untuk datang. Yulita memang sangat ingin bertemu dengan kalian.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan keadaannya saat ini, dok?” tanya Dewi.
“Sejujurnya masih belum ada perkembangan berarti. Dua kepribadian yang dimilikinya bergantian masuk menguasai dirinya. Dan sejauh ini, kepribadian asli Yulita sangat tidak berdaya. Pribadinya yang agresif lebih dominan dan selalu memaksa muncul ke permukaan. Jika Yulita asli yang muncul, dia selalu menangis dan mengatakan penyesalannya atau perbuatan yang dilakukan.”
Tak ada respon dari Adrian maupun Dewi saat mendengarnya. Melihat itu, Fatima berdiri kemudian menghubungi salah satu staf. Dia meminta stafnya itu menyiapkan ruangan untuk Yulita bertemu dengan pengunjung. Wanita itu juga meminta pengamanan untuk Yulita. Berjaga-jaga jika pribadinya yang aktif yang muncul.
“Silahkan ikut saya.”
Dewi dan Adrian beranjak dari duduknya, kemudian mengikuti Fatima yang keluar dari ruang kerjanya. Wanita itu terus berjalan menuju lift. Tangannya memijit tombol lima ketika berada di dalam lift. Kotak besi itu bergerak naik menuju lantai lima.
Suasana lengang begitu terasa di lantai ini. Fatima terus memandu keduanya menuju sebuah ruangan. Adrian dan Dewi dipersilahkan duduk menunggu sampai Yulita diantarkan ke ruangan tersebut. Tak lama kemudian Yulita ditemani salah seorang petugas masuk ke dalam ruangan. Wanita itu duduk berhadapan dengan Dewi dan Adrian yang terhalang kaca akrilik sebagai pembatas.
“Ad.. Dewi.. terima kasih sudah datang menemuiku.”
“Apa maumu?” tanya Adrian tanpa basa-basi.
“Maafkan aku.. maafkan aku..”
Tak ada jawaban baik dari Adrian maupun Dewi. Pria itu hanya menatap Yulita tanpa berkedip dengan wajah tanpa ekspresi. Melihat tidak ada reaksi dari dua orang di depannya, Yulita melanjutkan ucapannya.
“Aku tidak bermaksud melakukan itu. Aku tidak bermaksud membunuh Adit, sungguh. Aku juga menyayanginya seperti adikku sendiri.”
“Tutup mulutmu! Berhentilah berpura-pura. Aku tidak peduli kamu memiliki berapa kepribadian, yang kutahu kamu yang sudah membunuh Adit!” kecam Adrian tanpa berkedip.
“Aku mohon, Ad. Maafkan aku. Kita adalah teman baik, tidak bisakah kamu memaafkanku?”
Tangis Yulita pecah. Wajahnya nampak memelas dan bersimbah airmata. Dewi sempat terharu mendengar isak tangis wanita di depannya. Tapi tidak dengan Adrian, pria itu bergeming. Yulita menundukkan kepalanya, kemudian perlahan kepalanya kembali terangkat. Wajah sedihnya berubah menjadi seringaian licik, kemudian terdengar tawanya.
“Hahahaha…. Hahaha…”
PROK
PROK
PROK
Terdengar tepukan kedua tangan Yulita membahana ke seluruh ruangan. Dewi memegang tangan Adrian. Dia terkejut melihat perubahan sosok Yulita. Dengan mata nyalang wanita itu melihat pada Adrian.
“Adrian.. kamu masih seperti dulu. Angkuh, arogan dan menyebalkan. Aku tidak tahu apa yang wanita bodoh ini lihat darimu.”
“Dasar gila,” desis Adrian.
“Gila? Kamu mengataiku gila? Harusnya kamu bersyukur aku membunuh Adit. Dengan begitu kamu bisa menikahi wanita yang sangat kamu cintai. Kalau tidak, kamu hanyalah pria sedih yang melihat adik dan adik iparmu hidup bahagia.”
“Brengsek!!”
Adrian bangun dari duduknya, tangannya terkepal erat, sorot matanya penuh dengan kemarahan. Dewi ikut berdiri kemudian memeluk lengan Adrian. Kepalanya nampak menggeleng, meminta sang suami untuk bersabar.
“Hahahaha… kamu marah? Kamu tidak bisa menerima kebenaran dari ucapanku?”
“Jangan dengarkan dia, a. Ayo kita pulang,” sebelum mengajak Adrian keluar, Dewi melihat pada Yulita.
“Tertawalah sepuasmu. Kami tidak peduli apa yang terjadi padamu. Aku berharap hidupmu menderita. Tidak mengapa kamu tidak mendapatkan hukuman penjara. Aku yakin Tuhan sudah menyiapkan balasan yang setimpal untukmu. Kamu.. seumur hidupmu tidak akan pernah merasa bahagia. Kamu mungkin berharap untuk mati tapi tidak bisa. Jadi nikmati saja penderitaanmu.”
Dewi menarik tangan Adrian keluar dari ruangan tersebut. Yulita kembali emosi mendengar kata-kata Dewi. Dia berteriak kencang sambil menggedor-gedor kaca pembatas.
“BERHENTI KALIAN!! AKU BELUM SELESAI BICARA!! KALIAN PIKIR HANYA KALIAN YANG MENDERITA?!! AKU JUGA MENDERITA!! MENDERITA!!”
Seorang petugas yang berjaga segera menarik Yulita keluar dari ruangan tersebut. Dua orang petugas yang berada di luar ikut masuk lalu membantu mengeluarkan Yulita dan membawanya kembali ke dalam kamar.
Yulita berjalan mondar-mandir setelah dikembalikan ke dalam kamarnya. Dia masuk ke kamar mandi lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Dia mengepalkan kedua tangannya lalu memukulkannya ke arah cermin.
“KAMU PUAS SEKARANG?!! PUAS?!!”
“Kembalilah ke tempatmu. Biarkan aku kembali. Aku akan menjalani hukumanku.”
“Coba saja kalau kamu bisa kembali. COBA SAJA!! Ini semua terjadi karena dirimu yang lemah!! Aku tercipta KARENA DIRIMU YANG LEMAH!!”
“Aku tidak pernah memintamu!”
“Tidak pernah? Hahaha… dirimu yang selalu menangis dan tersiksa tak berdaya yang memohon padaku untuk datang. DIRIMU!!”
“Kita akhiri saja semua ini sekarang. Kembalilah. Aku berjanji akan lebih kuat mulai sekarang.”
“Janji? Aku tidak percaya padamu. Kamu ingin kembali? Kembalilah kalau kamu bisa.”
Yulita menatap nanar pantulan dirinya di cermin. Kemudian dia menghantamkan kepalanya ke arah cermin sampai hancur berkeping. Wanita itu tidak berhenti. Dia terus menghantamkan kepalanya. Yulita tak peduli walau kepalanya sudah bersimbah darah. Dia terus melakukannya, sampai akhirnya tubuhnya jatuh ke lantai. Darah segar keluar dari kepalanya.
🌸🌸🌸
**Hiiii syerem... Aku bikin part terakhir merinding sendiri😬
Banyak yang nanya kepanjangan TITEL apa. Daripada penasaran, ini aku kasih jawabannya.
TI... (itu kependekan dari perabotan cowok)
TEL kependekan dari ngaganTEL kalo dalam bahasa Indo artinya menggantung.
__ADS_1
Nah kalian sambungin aja sendiri ya🏃🏃🏃
Ini kenapa nongolnya di atas ya? Aku coba up lagi, mudah²an normal nih abis diedit**