Naik Ranjang

Naik Ranjang
Wafer Rasa Vanila


__ADS_3

Di sebuah studio musik, The Soul tengah berlatih menyanyikan lagu baru mereka. Untuk album perdananya, The Soul mempunyai tujuh lagu baru dan tiga lagu recycle. Tiga lagu diciptakan bersama dengan personil band, empat sisanya diciptakan oleh Aditya. Proses rekaman sendiri akan dimulai minggu depan.


Beberapa kali mereka berlatih merubah aransemen lagu recycle, hingga akhirnya mendapatkan komposisi yang tepat. Aditya melihat pada Roxas yang sedari tadi nampak kurang bersemangat. Seperti ada yang tengah dipikirkan olehnya. Setelah tiga jam berlatih, mereka memutuskan mengakhiri latihan.


Rangga, Rivan dan Fay langsung pamit mundur karena kepentingan masing-masing. Hanya tinggal Roxas dan Aditya saja yang tinggal di sana. Aditya bergegas memasukkan gitar ke dalam tasnya dan mengajak Roxas keluar karena studio sudah ada yang akan mengisi.


“Xas.. sinilah ngobrol dulu bentar.”


Aditya mengajak Roxas menuju sofa yang ada di ruang tunggu. Sebelum mendaratkan bokongnya, Aditya membeli dulu minuman dari mesin yang ada di sana. Dengan minuman kaleng di tangannya, pria itu mendekati Roxas lalu duduk di sampingnya. Tangan Roxas meraih kaleng minuman dari sang sahabat.


“Lo kenapa? Dari tadi tuh muka ditekuk mulu.”


“Ngga apa-apa.”


“Amanda gimana?”


“Udah dicoret dari daftar calon pacar.”


“Serius? Kenapa?”


“Tuh cewek bossy banget. Suka seenak jidatnya aja kalo nyuruh-nyuruh gue. Berasa jadi kacung, gue. Roxas ambilin ini dong, ambilin itu dong, jemput gue ya.”


“Hahahaha…”


Tawa Aditya pecah begitu saja ketika Roxas memperagakan gaya bicara Amanda. Sejak awal pria itu mengatakan kalau akan mengejar Amanda, Aditya sudah memperingatkannya. Tapi si bule karbitan tetap saja dengan misinya mendekati Amanda dan hasilnya bisa ditebak sekarang.


“Kemarin dia ngajakin gue makan. Gue tanya mau di mana? Terus dia bilang makan di restoran Jepang. Oke gue turutin. Eh dia pesan sarimin, mana gue doyan coba.”


“Sarimin? Emang ada makanan Jepang judulnya sarimin?”


“Ada. Kemarin si Aman pesen.”


“Bentar-bentar, kok aneh ya namanya sarimin, kaya nama monyet yang pergi ke pasar, hahaha…”


Roxas ikut tertawa juga mendengarnya. Tapi dia yakin sekali kalau nama makanan yang kemarin dipesan oleh Amanda adalah sarimin. Aditya yang tidak percaya terus saja menyangkal sambil berpikir keras siapa si sarimin ini.


“Beneran sarimin, elah lo kaga percaya amat. Itu yang menunya ikan mentah terus dimakan pake kecap ama apa tuh yang ijo-ijo tapi bukan ingus.”


“Bhuahahaha… sashimi, PEA! Bukan sarimin, buset jauh beud hahaha…”


“Nah iya sashimi hahaha… kenapa jadi sarimin hahaha…”


Aditya masih belum bisa menghentikan tawanya. Sahabatnya itu selalu sukses membuatnya terpingkal dengan bahasa-bahasa anehnya.


“Tapi selain itu ada yang bikin gue yakin ngga lanjut ama dia,” lanjut Roxas.


“Apaan tuh?”


“Dia kaga mau gue suruh dorong si hejo. Di dunia ini, seumur hidup gue cuma dua cewek yang mau dorong si hejo.”


“Siapa?”


“Bini lo… ama tante lo..”


“Jiaaaahhh… hahaha…”


Kembali Aditya tergelak mendengarnya. Namun tawa pria itu berakhir ketika melihat wajah Roxas yang kembali suram.


“Dit.. lo tahu yang namanya Bayu?”


“Bayu siapa?”


“Temennya tante lo kayanya.”


“Om Bayu? Dokter bukan?”


“Iya, dokter.”


“Dia mantannya tante. Mereka dulu pacaran, tapi udah lama putus, udah tujuh tahun kayanya. Gue juga masih SMP pas mereka putus. Kok lo tau om Bayu?”


“Kemarin pas abis pemotretan, gue ketemu tante Pit di hotel. Terus ketemu sama Bayu.. Bayu itu.”


“Terus tante Pit gimana?” Aditya jadi kepo ingin mengetahui reaksi sang tante setelah bertemu sang mantan. Apakah akan terjadi proses cinta lama balik kampung.


“Ngga tau, gue tanya siapa jawabnya bukan orang penting.”


“Kayanya tante masih sakit hati.”


“Kalo masih ngerasain sakit, berarti masih ada cinta, ya.”


“Bisa jadi. Eh.. tapi kenapa lo tanya-tanya.. jangan bilang lo naksir tante ya?”


Mata Aditya menatap lekat pada Roxas. Bule ngetop itu jadi salah tingkah sendiri. Dia mengusap tengkuknya untuk mengurangi rasa grogi yang merayap. Malu juga ketahuan baper pada Pipit oleh keponakan wanita itu.


“Serius lo naksir? Hahahaha….”


“Tapi saingan gue berat, bro. Dokter spesialis gitu loh. Gue cuma lulusan SMA, kaga ada yang bisa dibanggain.”


“Eh siapa bilang? Lo sekarang udah jadi BA, model dan personil band yang sebentar lagi launching album. Lo ngga kalah keren, bro. Tenang aja, kalo lo bener naksir tante, gue dukung deh. Eh.. btw tar beneran dong gue manggil lo, Orox, hahahaha…”


“Orox? Apaan tuh?”


“Om Roxas, bhuahahaha…”


“Buset, jelek amat. Udah kaya bayi gue, dipanggil Orox.”


“Dari pada gue panggil mang Rox atau mang Aep hahaha…”


“Jiaaaahhhh.. kaga ada yang enak didengar.”


“MangXa (baca : mangsa) ajalah hahahaha…”


“Buset mangXa berasa jadi penjahit, gue hahaha…”


“Udah.. kejar aja bro.. maju terus ****** mundur eh pantang mundur,” Aditya menepuk pundak Roxas.


“Bantuin yak.”


Sebelah jempol Aditya terangkat ke depan wajah Roxas. Senyum pria itu akhirnya terlihat juga. Setelah sesi curhat dengan Aditya, dia menjadi bersemangat untuk mengejar Pipit. Roxas berjanji akan bekerja lebih keras, mengumpulkan uang untuk memenuhi kebutuhannya dan enin serta untuk biaya kuliah.


🌸🌸🌸


Mendengar suara motor memasuki pekarangan rumah, Dewi segera keluar untuk menyambut kepulangan suaminya. Wanita itu juga baru dua jam yang lalu sampai di rumah selesai kuliah. Aditya menjinjing helmnya kemudian mendekati sang istri. Dewi mencium punggung tangan suaminya.


“Hari ini mama jutekin kamu, ngga?” tanya Aditya seraya memeluk pinggang istrinya.


“Ngga, tenang aja.”


“Kangen, Yang,” Aditya mendaratkan ciuman di pipi Dewi.


“Baru juga berapa jam pisah, lebay,” Dewi menyebikkan bibirnya pada Aditya.


“Emang kamu ngga kangen aku?”

__ADS_1


“Kangen,” senyum Dewi mengembang saat menjawabnya.


Mata Ida terus memperhatikan pasangan pengantin baru itu sampai masuk ke dalam kamar. Bisa wanita itu lihat betapa sang anak begitu mencintai Dewi. Dia terus berusaha mensugesti dirinya bahwa Dewi memang wanita terbaik untuk Aditya. Dengan begitu dia bisa menerima sepenuh hatinya kehadiran Dewi sebagai menantu.


“De.. sini deh, aku mau cerita.”


Aditya menepuk ruang kosong di sebelahnya. Dewi merangkak naik ke atas kasur, kemudian duduk di samping suaminya. Tangan Aditya terulur merengkuh bahu sang istri lalu menarik lebih dekat padanya.


“De.. dari tadi pas latihan, Roxas bad mood mulu.”


“Kenapa?”


“Dia lagi produksi wafer rasa vanilla, hahaha…”


“Maksudnya?”


“Roxas terlalu mendalami perannya jadi pacar abal-abal tante Pit.”


“Si Rox naksir tante?”


“Iya,” Aditya kembali tersenyum membayangkan sang sahabat yang kepincut tantenya sendiri.


“Buset tuh anak, cepet banget jatuh cintanya. Menclak-menclok, pertama kak Lita, terus Manda, sekarang tante Pit.”


“Soalnya cuma tante Pit yang mau dorong si hejo, hahaha…”


“Aku juga dorong si hejo.”


“Kamu kan ngga dianggap cewek ama dia?”


“Apa?? Seenaknya aja ya.”


“Ampun.. ampun sayang, hahaha…”


Tubuh Aditya sampai berbaring di kasur karena terus dikelitiki oleh Dewi. Berkali-kali suaminya itu meminta maaf dan ampun, namun tak digubris oleh wanita itu. Dia terus saja melancarkan jurus kelitikan mautnya. Aditya yang sudah tak tahan, menarik tubuh Dewi kemudian membalikkan posisi mereka. Kini Aditya berada di atas Dewi.


Sekarang Dewi yang tak kuasa menahan serangan suaminya. Aditya mendaratkan ciuman bertubi di wajah Dewi dengan gerakan cepat. Dewi hanya tertawa saja, merasakan geli akibat ciuman Aditya. Aksi suaminya itu berhenti ketika akhirnya mendaratkan bibirnya di bibir Dewi.


“De.. minggu depan aku mulai rekaman.”


“Berapa lama biasanya?”


“Ngga tau juga, kita ada 10 lagu, paling cepat dua bulan atau bisa juga lebih. Abis itu kita siap-siap buat promosi dan launching. Nanti manajer yang atur jadwal promo album. Biasanya ke luar kota juga. Aku kayanya bakalan mulai sibuk. Kamu kalau aku sering tinggal, ngga apa-apa?”


“Ngga apa-apa. Itu kan impian mas. Aku hanya bisa mendoakan dan mendukung semua yang mas lakukan.”


“Makasih ya, sayang.”


Cukup lama Aditya mencium kening Dewi, lanjut ke mata, dua pipi dan berakhir di bibirnya. Setelah memagut bibir Dewi sebentar, Aditya membuka hijab instan yang dikenakan sang istri, kemudian melanjutkan ciuman ke lehernya.


🌸🌸🌸


Setelah membereskan barang-barangnya, Pipit bersiap untuk pulang. Ketika wanita itu keluar dari ruangannya, dua orang anak buahnya masih berada di tempatnya. Pipit segera menghampiri kedua stafnya itu.


“Belum pulang?”


“Sebentar lagi, bu. Lagi input data dulu.”


“Simpan yang benar. Jangan sampai kejadian kemarin terulang.”


“Iya, bu.”


Pipit segera meninggalkan ruang kerja para stafnya. Dia berjalan menuju tangga yang akan membawanya ke lantai dasar. Wanita itu memutuskan untuk menggunakan tangga saja, hitung-hitung olahraga sore. Sesampainya di lantai dasar, dia menuju alat absensi elektronik dan menempelkan jarinya ke sana. Wanita itu kemudian meninggalkan ruangan tersebut.


“Pit.. bisa kita bicara?”


“Memang masih ada yang harus dibicarakan?”


“Ayolah, Pit.”


“Ngga usah jauh-jauh, di restoran aja.”


“Oke.”


Pipit kembali melangkah masuk ke lobi hotel. Dia menuju restoran yang ada di lantai dasar. Di belakangnya Bayu terus mengikuti Pipit yang masuk ke dalam restoran. Wanita itu menuju meja yang ada di bagian sudut. Seorang pelayan langsung menghampiri mereka.


“Jus melon,” ujar Pipit.


“Black coffee,” lanjut Bayu.


Setelah mencatat pesanan, sang pelayan segera meninggalkan meja. Bayu masih belum mengatakan apapun. Mata pria itu sibuk memindai wanita cantik di hadapannya. Pipit terlihat lebih dewasa dan cantik pastinya. Ada rasa menyesal sudah meninggalkan wanita ini begitu saja. Bayu sungguh berharap bisa meraih hati Pipit lagi.


“Kamu baik-baik saja?”


“Menurut mas?”


“Apa kamu sudah menikah?”


“Belum.. tapi bukan berarti aku tidak punya pasangan.”


“Maaf..”


“Untuk apa?”


“Karena memutuskan hubungan kita. Pergi tanpa pesan dan kabar apapun padamu.”


“Kita sudah berpisah saat mas pergi. Jadi tidak ada kewajiban apapun untuk mas memberi kabar untukku.”


Apa yang dikatakan Pipit berbanding terbalik dengan perasaannya saat itu. Dirinya yang masih labil, hampir tiap hari menangis karena kehilangan pria yang dicintainya. Kalau saja Bayu memintanya untuk menunggu sampai dirinya kembali, tentu saja Pipit akan melakukannya. Tapi pria itu pergi begitu saja.


“Aku.. juga belum menikah. Jujur saja, aku masih memikirkanmu. Aku memang sempat punya kekasih saat di Berlin, tapi… hanya kamu yang ada di hatiku.”


“Jangan buang waktumu untukku, mas. Hubungan kita sudah berakhir, aku juga sudah memiliki pasangan. Jadi.. kita jalani saja hidup kita masing-masing.”


Pelayan datang membawakan pesanan mereka. Hal tersebut dimanfaatkan Pipit untuk mengirimkan pesan pada Roxas. Dia tidak mau kembali terjatuh dalam pelukan Bayu. Jika pria itu terus mendekatinya, bukan tidak mungkin hatinya akan luluh.


To Roxas :


Xas, kamu sibuk ngga? Jemput aku di hotel. Aku lagi di resto.


From Roxas :


Siap, tan.


Pipit cukup lega mendengar jawaban Roxas. Dia meraih gelas di dekatnya, kemudian menyeruputnya pelan. Sebisa mungkin Pipit menghindari bersitatap dengan Bayu. Sorot mata pria itu yang dulu membuatnya jatuh cinta. Bayu mengambil cangkir di depannya, kemudian menyeruputnya pelan.


“Aku tidak akan menyerah padamu. Sebelum kamu bertemu penghulu dengan lelaki pilihanmu, aku akan terus mengejarmu.”


“Jangan buang waktumu, mas.”


“Aku membuang waktu atau tidak, bukan urusanmu. Ijinkan saja aku untuk terus berusaha mendapatkanmu.”


“Bagimana kalau aku tidak mengijinkan?”

__ADS_1


“Aku akan terus melakukannya.”


Bayu mengakhiri kalimatnya dengan senyuman. Dari cara Pipit menghindari tatapan matanya, dia yakin kalau wanita di hadapannya ini masih memendam perasaan padanya. Walau tak tahu berapa persen perasaan Pipit yang tersisa untuknya. Tapi dia akan terus mengejarnya. Dia sadar telah menyia-nyiakan waktu selama tujuh tahun dan mengabaikan wanita sebaik Pipit.


“Dua bulan lagi aku berulang tahun. Aku harap kamu mau makan malam denganku nanti.”


“Entahlah, mas. Dari pada mengajakku, lebih baik mas ajak saja perempuan lain.”


“Aku hanya mau dirimu, bukan yang lain.”


“Aku sudah punya pasangan.”


“Aku tidak peduli. Bawa sekalian pasanganmu, aku ingin berkenalan dengannya.”


“Dasar gila.”


Terdengar tawa pelan Bayu. Dia kembali menyeruput kopinya yang sudah berkurang panasnya. Dari arah pintu masuk, muncul Roxas. Pria itu mengedarkan pandangannya dan berhenti di meja paling sudut. Dengan langkah lebar, pria itu mendekati meja yang ditempati oleh Pipit.


“Sudah menunggu lama?” tanya Roxas pada Pipit, membuat wanita itu menolehkan kepalanya.


“Ngga. Ayo kita pulang.”


Pipit segera berdiri begitu melihat kedatangan Roxas. Bayu langsung menegakkan tubuhnya. Pria yang menjemput Pipit adalah pria yang sama saat mengantar Pipit pulang beberapa hari yang lalu. Bayu menebak, mungkin saja ini adalah pria yang dimaksud Pipit sebagai pasangan. Tapi pria ini nampak masih muda sekali.


“Apa kamu tidak akan mengenalkanku padanya?” Bayu melihat pada Pipit.


“Xas.. kenalkan, ini mas Bayu.”


“Roxas,” Roxas mengulurkan tangannya pada Bayu.


“Bayu.”


“Maaf, kami permisi dulu,” ujar Roxas.


“Silahkan.”


Senyum terhias di wajah Bayu ketika mempersilahkan Roxas dan Pipit pergi. Namun dalam hatinya cemburu, melihat kebersamaan mereka. Dia harus berusaha lebih keras mendekati Pipit. Tekadnya kembali pada wanita itu sudah bulat.


🌸🌸🌸


“Mau langsung pulang, tan?” tanya Roxas ketika mereka sudah berada di dekat si hejo.


“Aku laper, tadi ngga sempat makan siang.”


“Jangan nunda makan, nanti tante sakit gimana? Ayo kita makan dulu. Tante mau makan di mana?”


“Di tempat yang kemarin, apa tuh namanya?”


“Rorompok Mak Ipah?”


“Nah iya, di situ aja.”


“Ok.”


Pipit mengambil helm dari tangan Roxas lalu memakainya. Dia segera naik ke belakang pria itu, seraya memeluk pinggangnya. Tak lama kemudian, Roxas mulai melajukan kendaraannya. Dia terkejut ketika Pipit tiba-tiba menyandarkan kepala ke punggungnya. Namun dalam hati pria itu tentu saja senang.


Motor yang dikendarai Roxas berhenti di depan tempat makan Rorompok Mak Ipah. Pipit bergegas turun kemudian melepas helmnya, sambil menunggu Roxas memarkirkan si hejo. Setelah menaruh helm, keduanya masuk ke dalam tempat makan tersebut. Ternyata pengunjung yang datang cukup banyak juga.


Setelah mengambil makanan, Roxas mengajak Pipit menuju meja yang masih kosong. Selepas jam kerja memang tempat makan mak Ipah banyak didatangi pengunjung. Pipit langsung melahap makanan yang dipilihnya. Perutnya benar-benar sudah lapar, tanpa mempedulikan tatapan Roxas, dia langsung menyantap makanannya.


“Mau tambah ngga, tan?”


“Ngga, udah penuh perutku.”


“Hehehe.. tante makannya kaya orang yang ngga nemu makanan tiga hari.”


“Masa?”


“Iya.”


Tangan Pipit menyambar gelas berisi teh tawar hangat kemudian mereguknya sampai tinggal setengah. Roxas memandangi wajah Pipit yang mencoba terlihat santai. Ingin rasanya dia bertanya langsung tentang Bayu, tapi ditahannya. Dia tidak mau membuat Pipit tidak nyaman dengan dirinya.


“Udah adzan, tante mau shalat dulu ngga? Ada mushola di sini.”


“Boleh.”


Keduanya bangun dari duduknya, kemudian berjalan menuju mushola. Sudah ada beberapa pengunjung yang datang untuk menunaikan shalat maghrib. Rupanya tempat makan ini juga menyediakan mushola bagi para pengunjung. Pipit segera masuk menuju toilet perempuan untuk berwudhu.


“Langsung pulang, tan?” tanya Roxas setelah shalat mereka selesai.


“Ke tempat lain dulu bentar, mau ngga?”


“Boleh. Mau kemana?”


“Terserah kemana aja. Yang penting tempatnya enak buat nongkrong.”


Otak Roxas berpikir cepat memikirkan tempat yang sesuai dengan keinginan Pipit. Sepertinya wanita itu hendak mengeluarkan kesedihan dan beban pikirannya. Roxas memilih membawa wanita itu ke daerah atas saja. Di sana banyak tempat untuk mengeluarkan keluh kesah.


Udara terasa semakin dingin ketika motor yang dikendarai Roxas menuju daerah Dago atas. Pria itu berbelok menuju daerah Dago pakar. Roxas menghentikan motornya di sebuah bukit yang pemandangannya langsung menuju kota Bandung di waktu malam. Mata Pipit tertuju pada kelap kelip lampu nun jauh di sana. Wanita itu berdiri di sisi bukit. Roxas memilih berdiri di belakangnya.


“Bayu brengsek!! Kamu pikir aku apa? Seenaknya aja kamu datang dan pergi!!!”


Teriakan kencang Pipit mengejutkan Roxas, namun pria itu bisa memaklumi. Sepertinya wanita itu masih memendam sakit hati karena ditinggal begitu saja oleh Bayu. Dia membiarkan Pipit mengeluarkan uneg-unegnya.


“Kamu pikir hatiku terbuat dari batu??!! Kamu pikir aku ngga sakit hati??!! I HATE YOU!!!”


Pipit menundukkan tubuhnya dengan kedua tangan berada di atas lutut. Hatinya sedikit plong bisa meneriakkan kekesalannya. Air yang sedari tadi sudah menggenangi matanya mulai berjatuhan ke tanah yang dipijaknya. Untuk beberapa saat dia masih bertahan dengan posisi seperti itu.


Perlahan Pipit menegakkan tubuhnya. Kedua tangannya menghapus sisa airmata di pipinya. Sudah cukup dia menangis untuk pria bernama Bayu itu. Kini hanya tinggal menguatkan hati agar tidak jatuh ke dalam pesona pria itu lagi. Roxas membuka jaketnya kemudian memakaikan ke tubuh Pipit.


“Aku ngga apa-apa,” Pipit mencoba melepaskan jaket di tubuhnya.


“Pake aja, tan. Di sini dingin.”


Pipit memakai jaket Roxas dengan benar kemudian menarik resletingnya. Udara di daerah atas ini memang dingin. Kini Roxas sudah berada di sampingnya. Kondisi Pipit pun sedikit tenang.


“Bayu itu… laki-laki yang tadi ya?”


“Hem..”


“Dia pasti udah bikin tante sakit hati banget. Sabar ya, tan. kalau tante butuh teman ngobrol, ada aku kok.”


“Makasih, Xas. Kamu emang anak yang baik.”


Senyum tercetak di wajah Roxas. Jauh di dalam lubuk hatinya dia berharap Pipit akan melihatnya sebagai pria, bukan anak kecil atau lelaki seumuran ponakannya. Mulai malam ini dia sudah bertekad untuk menaklukkan hati Pipit. Dia akan menjadi pria masa depan wanita itu.


🌸🌸🌸


**Go Roxas, taklukkan tante Pit💪


Yang dukung Roxas ngacung🙋


Yang dukung Bayu angkat tangan☝️

__ADS_1


BTW itu sashimi kenapa jadi sarimin🤣🤣🤣 dasar bule sengklek🤣**


__ADS_2