Naik Ranjang

Naik Ranjang
Durian Runtuh


__ADS_3

Tak lama setelah Aditya meninggalkan café, Roxas juga bersiap untuk pulang. Dia memberikan helm pada Yulita. Hatinya bersorak senang, tak menyangka kalau Adrian memberinya kesempatan untuk mengantarkan wanita itu untuk pulang. Pemuda itu segera naik ke atas tunggangannya, disusul oleh Yulita. Tangannya menepuk-nepuk pelan tunggangannya seraya berujar dalam hati.


Sing bageur nya, hejo. Ulah mogok, ulah ngadat, tong ngerakeun urang. Awas mun maneh mogok, ku urang rek dipurutulan, dikilo, dijual ka tukang rongsok (Yang baik ya, hijau. Jangan mogok, jangan ngambek, jangan malu-maluin gue. Awas kalo lo mogok, gue bakal peretelin, ditimbang, dijual ke tukang rongsokan).


“Bismillah.. berangkat.”


Kendaraan roda dua itu meluncur meninggalkan area café yang mulai ditinggalkan para pengunjung. Dari kaca spion, Roxas mengintip wanita di belakangnya. Wajah Yulita nampak masam, sepertinya dia kesal Adrian meninggalkannya begitu saja. Roxas berpikir cepat bagaimana caranya membuat wanita itu tersenyum. Di sebuah lampu merah, dia berhenti kemudian mengajak Yulita berbicara.


“Bu.. gimana kalau mampir ke tukang roti bakar langganan saya? Sekalian cari yang hangat-hangat,” tawar Roxas.


“Boleh,” jawab Yulita pelan.


Sekali lagi Roxas merasa seperti kejatuhan durian runtuh. Yulita dengan mudahnya menerima tawaran dirinya. Setelah lampu berubah hijau, Roxas kembali melajukan kendaraannya. Dia mengambil arah dago, ke tempat warung tenda yang menjual roti dan jagung bakar langganannya mangkal.


Roxas menghentikan kendaraannya di dekat sebuah hotel bintang empat. Di trotoar jalan, nampak sebuah warung tenda berdiri. Yulita turun dari motor kemudian melepas helm yang dikenakannya. Matanya langsung menangkap tulisan yang ada di tenda, PADALOMA.


“Yuk, bu..” ajak Roxas membuyarkan lamunan Yulita. Keduanya kemudian melangkah menuju warung tenda tersebut.


“Mang..” tegur Roxas.


“Eh, Xas. Nembe katingali, kamana wae? (baru kelihatan, kemana aja?”


“Biasa mencari sesuap berlian,” Roxas terkekeh.


“Rek pesen naon? (Mau pesan apa?).”


“Biasa, roti bakar coklat keju, hot cappuccino. Bu Lita pesan apa?”


“Hot cappuccino aja.”


“Hot cappucinona 2.”


Penjual itu hanya mengangkat jempolnya saja. Roxas kemudian mengajak Yulita menuju meja plastik yang berada di luar tenda. Selain bangku kayu panjang yang ada di dalam tenda, penjual juga menyediakan meja dan tempat duduk di sekitar tenda. Padaloma adalah salah satu warung tenda yang cukup banyak memiliki penggemar. Selain harganya yang ramah kantong, rasanya juga enak.


“Kamu sering ke sini?” tanya Yulita begitu mereka menempati salah satu meja.


“Iya, bu. Di sini roti bakarnya the best. Kalau di tempat lain, roti dikejuin, kalo di sini kejunya yang dirotiin.”


“Maksudnya?”


“Saking banyaknya parutan keju, rotinya sampe ngga kelihatan.”


Yulita hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia lalu melihat sekeliling, meja yang tersedia di luar tenda sudah dipenuhi oleh pengunjung, tadi di dalam tenda juga banyak pengunjung yang duduk di sana. Sepertinya ini memang salah satu tempat favorit anak muda menghabiskan malam.


Tak berapa lama, pesanan Roxas datang. Yulita memandangi piring yang berisi roti bakar. Benar apa yang dikatakan pemuda itu. Dia hanya melihat parutan keju yang menggunung, sedang rotinya sama sekali tidak terlihat.


“Bener kan bu?” ujar Roxas setelah pesanannya berada di depannya.


“Iya.”


“Ibu mau pesan juga?”


“Ngga ah.. tapi aku boleh coba punya kamu?”


“Boleh, dong. Bentar, bu.”


Roxas berdiri kemudian menuju tenda, dia hendak meminta satu garpu lagi. Setelah mendapatkannya, dia kembali ke meja. Tangan Yulita terulur menerima garpu dari Roxas, lalu dia mulai mencoba roti bakar tersebut. Rasanya memang enak, paduan coklat, susu dan keju bergitu pas.


“Enak, bu?”


“Enak. Eh.. jangan panggil ibu terus. Ini kan bukan di tempat kerja.”


“Hehehe.. maaf bu eh.. panggil apa atuh, teteh?”


“Sesukamu aja.”


“Wokeh.. teteh aja ya.”


Yulita mengangguk setuju, dia kembali menikmati roti bakar tersebut bersama dengan Roxas. Sejenak dia memperhatikan wajah pemuda di depannya. Roxas memang tampan, pantas saja dia langsung terkenal seantero hotel, di hari pertamanya bekerja.


“Bu.. eh teteh.. kenapa cemberut terus? Gara-gara ditinggal bang Rian ya?”


“Tau ah.. sebel aku kalo inget dia. Orangnya ngga peka, telepon aku kalau ada butuhnya doang. Kemarin dia ngajak ke café buat lihat penampilan Adit, eh pulangnya ditinggal, mana ngga pamit. Dasar tuh orang dari dulu ngga berubah,” cerocos Yulita kesal.


Wanita itu mengeluarkan keluh kesah serta kekecewaannya pada Adrian. Roxas hanya menyimak saja, sambil menyeruput cappucinonya. Dia memang sudah tahu kalau Yulita menyukai Adrian dari Aditya, dan memang benar kalau mantan wali kelasnya itu tak pernah membalas perasaan Yulita sedikit pun.

__ADS_1


“Sabar aja, teh. Bang Rian kan emang lempeng orangnya. Ngga usah sedih, ngga usah bête, kan ada aku, hehehe..”


“Xas.. kamu kenapa ngga kuliah?” Yulita mengalihkan pembicaraan. Membahas Adrian hanya membuatnya kesal.


“Belum ada biaya. Aku mau kumpulin uang dulu buat kuliah, sama buat enin.”


“Enin?”


“Iya, nenekku. Sejak ibu meninggal, yang ngurus aku, enin. Prioritas hidupku sekarang selain ngejar impian, ya bahagiain enin.”


Kepala Yulita mengangguk-angguk ketika Roxas terus bercerita tentang enin. Tak menyangka kalau Roxas yang usianya masih muda, adalah seorang pekerja keras dan semua dilakukan demi neneknya. Di tengah perbincangan, seorang pria dengan membawa plastik berisi dagangan datang menghampiri.


“Cep bule..” panggilanya pada Roxas.


“Eh mang Kuru..”


“Ah ncep mah meni kitu manggilna, mang Kuru, asa teu ngeunah (ah ncep gitu banget manggilnya, mang Kuru, ngga enak banget),” pria itu langsung duduk di dekat mereka.


“Terus rek dipanggil naon atuh? Geus alus mang kuru, singkatan tina kurupuk (terus mau dipanggil apa? Udah bagus mang kuru, singkatan dari kerupuk).”


Tawa Yulita terdengar saat mengetahui kalau kata kuru yang diucapkan Roxas ternyata singkatan dari kurupuk. Bukan tanpa alasan Roxas memanggilnya mang Kuru, karena pria itu kerjanya menjual kerupuk. Beberapa kali Roxas bertemu dengannya, dia selalu membeli dagangan mang Kuru sambil mengobrol.


Mang Kuru mengeluarkan beberapa bungkus kerupuk dari plastik yang dibawanya lalu menaruhnya di atas meja. Dia yakin kalau Roxas akan membeli dagangannya satu atau dua bungkus.


“Kuat ku segutnya si mamang, wayah kieu dagang keneh (semangat amat si mamang, jam segini masih dagang),” ujar Roxas.


“Kagok, tinggal saeutik deui. Sok lah beuli ku ncep (kagok tinggal sedikit lagi. Beli aja sama ncep).”


“Kagok mah mun keur taeun aya nu keketrok rek meuli kurupuk (kagok tuh pas lagi ehem-ehem ada yang ketok-ketok mau beli kerupuk) hahaha..”


Tak ayal Yulita ikut tertawa mendengarnya. Ada-ada saja kalimat yang terlontar dari mulut bule kamuflase itu. Yang semakin membuat Yulita terpingkal, aksen Roxas yang begitu nyunda berbanding terbalik dengan wajah bulenya.


“Neng.. peser atuhlah. Ieu aya kurupuk Rosalinda (neng, beli atuh. Ini ada kerupuk Rosalinda).”


“Apaan Rosalinda?” tanya Yulita penasaran.


“Nya raos, nya lada (enak dan pedas). Atawa ieu si Dewi Persik, disangrai na keusik (atau ini si Dewi Persik, disangrai di pasir).”


Kembali Yulita terkikik geli mendengar penjelasan mang Kuru akan produk yang dijualnya. Roxas mengambil sebungkus Rosalinda dan Dewi Persik. Melihat itu, mang Kuru mengeluarkan satu bungkus kerupuk lagi.


“Gaya si mamang make nyebut skin krekers sagala, dorogdog we atuh (gayanya si mamang pake sebut skin krekers segala, dorogdog aja).”


“Eh meh keren atuh. Sok neng, cobian geura, raos pisan skin krekers nu mamang mah, lain tinu sejen (eh biar keren. Ayo neng, cobain, enak banget skin krekers yang mamang, beda dari yang lain.)


Yulita mengambil kerupuk yang disodorkan oleh mang Kuru, setahunya ini adalah kerupuk kulit. Kerupuk ini memang enak, dimakan langsung atau dengan bakso. Kabarnya kerupuk ini juga ampuh dimakan saat diare. Bisa menyumbat feses agar tidak terus keluar.


“Aku beli tiga bungkus deh, skin krekersnya,” Yulita terkikik sendiri mendengar dirinya ikutan menyebut skin krekers.


“Alhamdulillah, ai cep bule moal meser ieu skin krekers?”


“Sok lah dua bungkus we.”


“Sakalian atuh opatannana, kagok. Moal rugi da raos pisan (sekalian empat-empatnya, kagok. Ngga akan rugi, enak banget).”


“Raos mang, ngan mun loba teuing dahar eta bisi hesmod (enak mang, tapi kalo kebanyakan makan takutnya hesmod).”


“Naon hesmod? (apa hesmod?).”


“Hese modol hahaha.. (susah bab).”


Uhuk.. uhuk..


Yulita yang tengah menyesap minumannya sampai terbatuk mendengar celetukan Roxas. Mang Kuru juga tak bisa menahan tawa, salah satu pelanggannya ini memang ajaib sekali. Ada saja kalimat nyeleneh yang keluar dari mulutnya.


“Jadi kumaha yeuh? Erek moal, kagok dua deui meh bisa balik mamang. Tos ditungguan caroge di bumi hoyong digojang ganjing (jadi gimana? Mau ngga? Kagok dua lagi, biar mamang bisa pulang. Udah ditungguin istri di rumah, mau digonjang ganjing).”


“Hahaha.. sok lah mang, jadi sabarahaeun? (ya udah mang, jadi berapa?).”


“Kabehna salapan puluh rebu (semuanya sembilan puluh ribu),” mang Kuru menghitung semua kerupuk yang dibeli, termasuk milik Yulita.


“Eh yang aku biar bayar sendiri,” tolak Yulita.


“Ngga apa-apa, teh.”


Roxas mengeluarkan dompet dari saku celananya lalu mengambil selembar seratus ribuan dari dalamnya. Tadi The Soul mendapatkan bonus dari pemilik café, karena penampilannya berhasil menarik banyak pengunjung. Mang Kuru menerima uang pemberian Roxas. Saat akan memberikan uang kembalian, Roxas menolaknya.

__ADS_1


“Keur mamang we, keur naek angkot atawa ojol (buat mamang aja, buat naik angkot atau ojol).”


“Hatur nuhun cep bule, neng geulis. Mamang bade uih heula. (terima kasih cep bule, neng cantik. Mamang mau pulang dulu).”


“Kade mang, eta dina panto tulisan ulah ganggu. Bisi aya nu keketrok keur taeun hahaha… (awas mang, di pintu kasih tulisan jangan ganggu. Takut ada yang ketok-ketok pas lagi ehem-ehem).”


Mang Kuru hanya menggelengkan kepalanya saja. Pria itu segera beranjak pergi. Dia menyetop sebuah angkot yang melintas untuk membawanya pulang ke rumah. Sepeninggal mang Kuru, Roxas dan Yulita kembali melanjutkan pembicaraan.


“Teh.. kapan-kapan mau ngga jalan-jalan, nonton gitu,” ajak Roxas. Dia nekad saja mengatakan itu, mumpung ada kesempatan.


“Boleh aja. Tapi pas aku libur.”


“Susah atuh, teh. Teteh liburna Sabtu sama Minggu, kan aku kerja.”


“Jum’at sore aja gimana?”


“Boleh, teh. Abis latihan band, kita jalan ya. Jumat depan mau?” Roxas nampak bersemangat.


“Boleh.”


Tidak bisa dikatakan bagaimana perasaan Roxas saat ini. Dia tak menyangka Yulita dapat dengan mudahnya diajak jalan-jalan. Untung saja Senin besok dia gajian, jadi sudah punya modal untuk mengajak wanita itu kencan.


🌸🌸🌸


Dewi duduk termenung di teras rumah Sheila. Matanya masih sedikit bengkak sisa menangis semalam. Dari dalam Sheila keluar membawakan dua gelas teh manis hangat lalu meletakkan di atas meja dekat Dewi. Sama seperti Dewi, mata Sheila juga masih menyisakan sembab. Dua gadis itu tengah merasakan patah hati di saat bersamaan.


“Shei.. lo beneran suka sama Rox?” Dewi membuka percakapan.


“Iya, Wi. Lo tau sendiri dari kelas dua, gue kan udah suka sama dia.”


“Mending lupain aja, dari pada lo sakit hati. Rox itu suka sama cewek yang umurnya lebih tua dari dia.”


“Yang duduk sama pak Rian itu, kecengannya ya?”


“Huum.. kata Adit, dia yang masukin Adit sama Rox ke hotel. Dia teman kuliahnya pak Rian.”


“Cantik.. gue ngga ada apa-apanya dibanding dia.”


Wajah Sheila kembali menunjukkan kesedihan. Padahal dirinya sudah berharap banyak pada Roxas. Saat perpisahan dia merasa hubungannya dengan Roxas sudah ada kemajuan. Pemuda itu juga selalu membalas pesan yang dikirimkan olehnya. Tapi ternyata Roxas menganggapnya tak lebih dari teman.


Dia lalu melihat pada Dewi. Dibanding sakit yang dirasakannya, hati Dewi jauh lebih hancur. Bukan hanya terkejut mengetahui kalau Aditya dan Adrian bersaudara, gadis itu juga merasa dibohongi dan diberi harapan palsu oleh Adrian. Terlebih dia sudah mengabaikan perasaan Aditya yang tulus padanya.


“Lo sendiri gimana, Wi?”


“Ngga tau, Shei.. gue masih belum bisa mikir jernih. Yang pasti gue masih ngerasa sakit dengan semua kelakuan si brengsek itu. Harusnya gue ngga luluh dengan semua sikap baik dan perhatiannya. Dia udah bikin gue baper dan sekarang dia hancurin perasaan gue seenak jidatnya. Gue benci dia, Shei.. gue sumpahin tuh orang ngga akan bahagia seumur hidupnya.”


“Tapi… mungkin ngga sih kalau pak Rian itu ngalah karena tahu kalo adeknya suka sama elo?” tanya Sheila hati-hati.


“Ngga mungkin. Dia sendiri yang bilang kalau dia udah tahu soal perasaan Adit ke gue. Coba lo pikir aja, dulu pas awal-awal ngajar tau sendiri kan jutek dan nyebelinnya kaya apa. Tapi terus tiba-tiba dia bersikap manis sama gue, perhatian juga, sering ajak jalan, kirim pesan, telepon. Ternyata itu semua cuma buat cari tahu gue seperti apa. Laki-laki brengsek!”


Tak ada tanggapan dari Sheila, dia tidak terlalu paham hubungan Adrian dengan Dewi. Setahunya sikap Adrian memang sedikit berbeda pada Dewi. Tapi apa maksud dibalik sikap itu, dia juga tak bisa menebak-nebak.


“Terus sekarang, rencana lo sekarang apa?”


“Gue mau healing, Shei.. untuk sekarang gue rasanya belum sanggup ketemu Adit. Apalagi nanti pas kuliah, gue bakalan ketemu pak Rian. Gue mesti nyiapin hati.”


“Lo mau kemana? Gue juga mau healing.”


“Tadi gue udah telpon nyokap. Gue mau ke kampung keluarga bokap, di Tasik. Gue mau nginep di rumah bi Iis, seminggu ajalah.”


“Gue ikut dong, boleh ya?”


“Beneran mau ikut?”


“Huum.. lo mau berangkat kapan? Biar gue ijin sama bonyok (bokap nyokap-red).”


“Rencananya hari ini.”


“Ya udah, gue ijin dulu.”


Sheila nampak bersemangat. Dia bergegas masuk ke dalam untuk menemui orang tuanya. Mudah-mudahan saja dengan acara healing ini, dia bisa sedikit melupakan sakit hatinya. Sementara itu Dewi masih tetap bertahan di tempatnya. Dia menyalakan ponselnya lalu membuka folder galeri. Dihapusnya semua foto-foto dirinya bersama Adrian, bahkan gadis itu memblock kontak Adrian. Dia sudah tidak ingin berurusan dengan pria tersebut.


🌸🌸🌸


**Maaf ya nongolnya siang. Hari Minggu, kerja bakti di rumah, ditambah harus ngepel kolom komentar NR karena kemarin habis kebanjiran🏃🏃🏃

__ADS_1


Kemarin ka udah sedih²an.. Mamake selipin part Roxas biar ngga sedih terus. Kalau Senin, bum tau ya part-nya kaya gimana🙈**


__ADS_2