
Mendengar Aditya kecelakaan, semua segera menuju rumah sakit, kecuali Roxas dan Pipit. Keduanya diminta menjaga Arkhan di rumah. Adrian bersama dengan Dewi dan kedua orang tuanya bergegas menuju rumah sakit. Perasaan Dewi tak karuan. Dia takut sesuatu terjadi pada suaminya.
Kedatangan mereka disambut oleh Fajar yang membawa Aditya ke rumah sakit. Saat ini Aditya sedang berada di ruang operasi. Karena kecelakaan yang menimpanya, pria itu mengalami cedera parah di bagian kepala. Dokter bedah spesialis kegawatdaruratan dan bedah spesialis saraf didampingi oleh dokter ahli anestesi dan perawat berjibaku di ruang operasi menyelamatkan nyawa Aditya.
“Kenapa Adit sampai kecelakaan?”
“Motornya ditabrak mobil di perempatan lampu merah. Pelakunya kabur dan saat ini masih dalam pengejaran.”
Hanya itu saja yang dapat Fajar katakan saat ini. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada sang sahabat. Pria itu tidak bisa memprediksi apa yang akan dilakukan Adrian jika tahu nyawa sang adik memang tengah diincar oleh pembunuh Amanda. Fajar juga sedari tadi tak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Andai dia datang lebih cepat, mungkin hal tadi bisa dicegah.
Dua jam berlalu, namun tanda-tanda operasi akan berakhir belum terlihat. Dewi yang sedari tadi mencoba untuk tegar mulai rapuh. Wanita itu tak bisa lagi menahan airmata yang jatuh menetes. Ida memeluk menantunya ini, sama seperti Dewi, dia pun merasakan ketakutan yang sama.
“Sabar, Wi… berdoa saja pada gusti Allah. Semoga Adit bisa selamat,” ujar Ida seraya mengusap punggung menantunya.
Toni menyandarkan kepalanya ke tembok di belakangnya. Matanya terpejam, hatinya terus berdoa untuk keselamatan sang anak.
Kamu harus kuat, Dit. Kamu harus kuat. Masih ada Dewi dan Arkhan yang menunggumu. Papa juga belum puas menghabiskan waktu bersamamu. Kamu harus kuat, nak. Harus..
Sedari tadi pun Adrian tak mengeluarkan sepatah kata pun. Pria itu hanya duduk terdiam menanti jalannya operasi yang terasa begitu lambat dan lama. Fajar sedikit menyingkir saat mendapat telepon dari salah satu anak buahnya yang mengurus kecelakaan Aditya.
“Bagaimana?” tanya Fajar.
“Kami sudah melacak mobil yang menabrak Aditya dan juga motor yang mengejarnya. Untuk pengendara motor kami kehilangan jejaknya. Tapi mobil ditemukan di dekat stadio Bandung Lautan Api. Tidak ada penumpang, mobil ditinggalkan begitu saja.”
“Terus lacak keberadaan mereka.”
Fajar mengakhiri panggilan dengan perasaan kesal. Jika tidak sadar dirinya sedang berada di rumah sakit, ingin rasanya dia berteriak kencang. Barang bukti yang disebutkan Aditya tidak ada, sudah diambil oleh pengendara motor yang mengejar Aditya. Fajar melihat pada Adrian yang masih bergeming di tempatnya.
Sambil menepuk pundak sahabatnya, Fajar mendudukkan kembali di samping sahabatnya. Pandangannya tertuju pada Dewi yang masih menangis dalam pelukan Ida. Ketakutan mulai merayapi perasaan Fajar. Jika Aditya tidak bisa selamat, apa yang akan terjadi pada Dewi dan Arkhan. Dan jika sampai Adrian tahu kebenarannya, pria itu pasti akan mengamuk.
Keheningan yang melingkupi ruang tunggu terpecahkan ketika terdengar suara pintu terbuka. Seorang dokter yang mengoperasi Aditya keluar dari dalamnya. Serentak semua maju mendekati dokter tersebut. Ternyata Bayu yang memimpin operasi Aditya.
“Bayu, bagaimana keadaan Adit?” tanya Toni.
“Operasinya berhasil. Tapi kondisi Adit masih kritis. Luka di kepalanya cukup parah. Kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU sebentar lagi. Tetaplah berdoa.”
Perasaan Dewi semakin kalut mendengar keterangan Bayu. Hampir saja tubuhnya jatuh jika Adrian tidak cepat menangkapnya. Tak lama pintu ruang operasi terbuka, seorang suster keluar seraya mendorong blankar yang membawa tubuh Aditya. Dewi langsung menghambur ke arah suaminya. Airmatanya kembali jatuh melihat keadaan ayah dari anaknya.
“Mas.. mas..” panggil Dewi dengan suara pelan.
Tak ada reaksi apapun dari Aditya. Mata pria itu tetap terpejam. Kepalanya terbungkus perban dan wajahnya terlihat sangat pucat. Dewi terus mengikuti kemana suster membawa suaminya. Dia berhenti di depan pintu masuk ruang ICU. Tangisnya langsung pecah saat tubuh suaminya sudah tak terlihat lagi.
“Mas Adit.. mas Adit!” panggil Dewi seraya menangis.
“Sabar, Wi. Kita berdoa saja, semoga keadaan Adit lekas membaik,” ujar Adrian sambil terus memeluk adik iparnya itu.
🌸🌸🌸
Dengan mata tak berkedip Adrian memandangi sang adik yang masih memejamkan matanya. Sudah tiga hari sejak operasi yang dilakukan, Aditya masih belum tersadar dari komanya. Sejumlah peralatan medis masih terpasang di tubuhnya untuk memantau tanda-tanda vital pria itu.
Adrian langsung meminta ijin ke pihak kampus untuk tidak datang mengajar sejak Aditya mengalami kecelakaan. Pria itu hanya menitipkan tugas saja untuk semua mahasiswanya. Dita cukup terkejut mendengar kecelakaan yang menimpa Aditya. Satu jam sebelum kecelakaan, dia masih bertemu dan berbincang dengannya. Pantas saja dia merasakan sesuatu yang aneh saat bertemu dengan pria itu.
Setiap hari wanita itu datang untuk menjenguk Aditya. Dia juga menyempatkan diri menghibur Dewi yang terlihat shock dan begitu putus asa. Lingkaran hitam terlihat di wajah ibu muda itu. Setiap malamnya Dewi tak pernah bisa tidur tenang. Takut ketika bangun tak bisa melihat suaminya lagi.
“Dit.. kamu harus sembuh. Ingat ada Dewi dan Arkhan yang menunggumu. Bukan hanya mereka, tapi mama, papa, tante Pit, Roxas dan abang yang menunggumu. Kamu harus kuat, kamu harus bangun. Abang yakin kamu bisa, kamu kuat, kamu pasti bisa.”
Dengan suara parau Adrian terus memberikan semangat pada sang adik. Dia yakin, walau Aditya berada dalam keadaan tidak sadar, namun masih bisa mendengar apa yang dikatakan olehnya.
Setelah puas melihat dan memberi semangat pada Aditya, Adrian keluar dari ruangan tersebut. Memberi kesempatan pada Toni untuk melihat anak bungsunya. Adrian mendudukkan diri di samping Ida, kedua tangannya langsung memeluk tubuh sang mama dari samping. Baru kali ini dia merasa rapuh dan tak berdaya.
“Mbah-mu dan juga pakdemu baru saja sampai di rumah. Sebentar lagi mereka akan ke sini. Kamu nda mau pulang? Sejak Adit masuk rumah sakit, kamu belum pulang ke rumah.”
“Aku mau di sini, ma. Aku mau menunggu Adit sampai dia sadar.”
Ida menghembuskan nafas panjang. Dia dan Dewi harus bergantian datang ke rumah sakit karena harus menjaga Arkhan. Rivan, Rangga dan Fay juga selalu datang untuk melihat keadaan temannya. Begitu pula dengan Wira, pria itu sangat terkejut mendengar kecelakaan yang menimpa Adit. Dia langsung membatalkan jadwal manggung The Soul.
Di antara yang lain, Pipit yang paling tidak berdaya. Inginnya mengambil cuti agar bisa menunggui keponakan tersayangnya. Namun keadaan hotel kacau sejak insiden yang menimpa Amanda. Mahes pun baru dua hari yang lalu kembali ke hotel. Kematian Amanda berdampak pada occupancy hotel. Banyak klien yang membatalkan pesanan. Dan pekerjaan Pipit juga bertambah banyak.
Setiap harinya Roxas selalu mengantar dan menjemput istrinya. Entah mengapa dia yakin kecelakaan yang menimpa Aditya ada hubungannya dengan kasus Amanda, walau Fajar belum mengatakan apa-apa. Melihat kedatangan Rivan, Rangga, Fay dan Sheila, Roxas segera menghampiri teman-temannya.
“Adit masih belum sadar?” tanya Rivan.
“Belum,” jawab Roxas seraya menggelengkan kepalanya.
“Dewi mana, Xas?” kini giliran Sheila yang bertanya.
“Dewi di rumah. Arkhan juga kurang sehat. Sepertinya anak itu tahu kalau papanya sedang terbaring di rumah sakit.”
Suara Roxas terdengar serak, sebisa mungkin pria itu menahan tangis yang hendak keluar. Dia sampai tidak berani masuk ke ruang ICU. Karena bisa dipastikan pria itu hanya bisa menangis melihat keadaan sahabatnya.
__ADS_1
“Sabar, Xas. In Syaa Allah, Adit akan selamat. Dia akan baik-baik saja,” Rivan mencoba menghibur temannya ini.
“Sudah malam. Kalian ngga mau pulang?”
“Iya, kita mau pulang sekarang. Tapi besok kita ke sini lagi,” ujar Rivan.
Rivan, Rangga, Sheila dan Fay berpamitan pada Adrian, Ida dan Toni. Besok pagi mereka berencana untuk kembali ke rumah sakit. Semoga saja besok sudah ada kabar baik dari sang sahabat.
Bayu masuk ke dalam ruang ICU, dia bermaksud mengecek kondisi Aditya. Saat tengah melihat tanda vital pasiennya itu. Matanya menangkap pergerakan jari-jari Aditya. Dengan cepat Bayu memeriksa kondisi sang pasien.
Perlahan mata Aditya terbuka. Sinar lampu berada di langit ruangan membuat pria itu harus membuka matanya pelan-pelan. Dilihatnya sudah ada dokter dan perawat yang mengelilinginya. Sayup-sayup dia mendengar suara dokter memanggilnya.
“Adit.. Adit..”
Aditya hanya mampu mengerjapkan matanya, tanda dia merespon panggilan Bayu. Seorang dokter mendekat kemudian memeriksa kedua matanya. Kesadaran Aditya akhirnya bisa kembali sepenuhnya.
“Alhamdulillah, welcome back, Dit,” ujar Bayu seraya menyunggingkan senyuman.
“Saya.. kenapa dok?”
“Kamu mengalami kecelakaan.”
Sejenak Aditya terdiam, berusaha mengumpulkan kepingan ingatan akan apa yang menimpanya. Kepalanya terasa sakit ketika pria itu berusaha mengingat semuanya. Bayu yang merupakan dokter spesialis bedah saraf, meminta Aditya untuk beristirahat dan tidak memforisr otaknya untuk mengingat.
“Dok.. saya mau bertemu keluarga saya.”
“Sabar, ya. Kamu lebih baik istirahat. Kami akan memanggil mereka satu per satu.”
Kepala Aditya menggeleng lemah tanda tak setuju dengan perkataan dokter. Tangannya menggapai jubah medis yang dikenakan oleh Bayu.
“Pindahkan saya ke ruangan, dok.”
“Maaf, Dit. Keadaanmu masih lemah. Kamu masih harus berada di sini.”
“Pindahkan saya, dok. Saya mohon. Saya ingin berkumpul dengan semua keluarga. Tolong,” ujar Aditya dengan suara lemah.
Bayu beradu pandang dengan rekannya. Akhirnya kepalanya mengangguk. Dia segera meminta suster untuk menyiapkan kamar isolasi untuk Aditya. Pria itu kemudian mengabarkan soal Aditya pada pihak keluarga.
“Adit sudah sadar?” tanya Ida dengan mata berbinar.
“Iya. Sesuai permintaan, dia akan dipindahkan ke kamar isolasi sebentar lagi. Adit ingin bertemu dengan kalian.”
“Iya. Terima kasih, Bay. Ad, coba kamu telepon Dewi. Dia pasti senang Adit sudah sadar.”
Semua mengangguk setuju dengan yang dikatakan pria itu. Adrian menyerahkan kunci mobilnya pada Roxas. Dia segera bergegas pulang ke rumah untuk menjemput Dewi.
🌸🌸🌸
Cukup lama Dewi terpekur di atas sajadahnya. Setiap hari sesudah shalat, tak pernah henti dia berdoa untuk kesembuhan sang suami. Derai airmata selalu mengiringi doanya yang tulus dipanjatkan pada Sang Maha Kuasa. Setelah cukup berdoa dan berkeluh kesah pada Sang Pemilik kehidupan, Dewi bangun dari duduknya lalu melipat alat shalat yang dipakainya tadi.
Wanita itu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya menatap anak satu-satunya yang sudah tertidur lelap setelah menghisap asinya. Airmatanya kembali mengalir melihat Arkhan. Setiap hari anak itu selalu menangis mencari keberadaan papanya.
“Mas.. lihat anakmu. Dia sangat merindukanmu. Setiap hari dia selalu mencarimu. Cepatlah bangun, mas. Aku dan Arkhan sangat merindukanmu.”
Tangan Dewi menghapus buliran bening yang membasahi pipi. Kepalanya menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Wanita itu segera bangun dari berbaringnya saat melihat Wardhani yang datang.
“Cucu mbah.. baik-baik sayang?” Wardhani menghampiri Dewi kemudian memeluknya.
“Mbah.. mas Adit, mbah.. mas Adit.”
“Sabar sayang. In Syaa Allah, Adit akan baik-baik saja.”
Wardhani langsung merengkuh tubuh cucu menantunya itu. Untuk sesaat keduanya menangis sambil berpelukan. Pipit memperhatikan keduanya dari dekat pintu seraya menghapus airmatanya. Dia terkejut ketika mendengar kedatangan suaminya.
“Pit.. ayo kita ke rumah sakit, Dewi juga.”
“Ada apa?” tanya Pipit cemas.
“Adit.. Alhamdulillah sudah sadar.”
“Alhamdulillah,” jawab Pipit dengan senang. Dia segera ke kamar untuk berganti pakaian.
“Wi.. ayo ke rumah sakit. Adit udah sadar.”
Mendengar ucapan Roxas, Dewi segera melepaskan diri dari pelukan Wardhani. Dengan bibir tak henti mengucapkan syukur, wanita itu segera bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Dia mendekati Wardhani yang masih duduk di sisi ranjang.
“Mbah..”
“Kamu pergi saja ke rumah sakit. Biar mbah yang jaga Arkhan.”
__ADS_1
“Makasih, mbah,” Dewi mencium punggung tangan Wardhani.
“Sampaikan peluk cium mbah buat Adit.”
“Ya, mbah. Aku pergi dulu, assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Sambil membawa tasnya, Dewi keluar dari kamar. Bersama dengan Pipit, Cahyadi dan kedua paman Aditya, mereka berangkat ke rumah sakit malam itu juga. Roxas segera menjalankan kendaraan roda empat dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sahabat sekaligus keponakannya itu.
🌸🌸🌸
Adrian, Toni dan Ida berdiri mengelilingi bed Aditya. Setelah sang perawat memasang alat-alat medis di tubuh Aditya, dia meninggalkan ruangan isolasi tersebut. Memberikan waktu pada pihak keluarga menghabiskan waktu bersama pasien.
Mata Aditya memandangi wajah orang-orang yang disayangnya. Perlahan tangannya melepaskan masker oksigen yang dikenakannya. Adrian mencoba memasangkan kembali masker tersebut namun Aditya menolaknya. Akhirnya pria itu mengalah.
“Dewi…. Mana… bang?” tanya Aditya dengan suara pelan.
“Dewi lagi di jalan ke sini.”
“Ma…”
“Iya, sayang.”
Adrian menggeser posisi berdirinya, memberikan ruang untuk sang ibu. Ida berdiri di dekat Aditya kemudian menggenggam tangan anaknya erat. Wanita itu tak bisa menahan airmatanya melihat keadaan anak bungsunya.
“Maafin Adit, ma. Aku selalu membuat mama menangis.”
“Nda, sayang. Mama bahagia memilikimu, kamu anak mama paling baik. Kamu juga sudah memberi mama menantu dan cucu yang baik. Mama menangis bahagia, sayang,” Ida mengusap wajah sang anak.
“Maafin aku, ma. Maaf aku belum bisa membahagiakan mama. Maaf belum bisa menjadi anak yang mama harapkan.”
“Nda.. sayang, nda..”
Ida tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Hanya airmatanya saja yang jatuh bercucuran. Toni mendekati istrinya, kemudian memeluknya. Mata sayu Aditya memandangi sang papa dengan mata berkaca-kaca.
“Papa.. maafkan anakmu yang keras kepala ini.”
“Harusnya papa yang minta maaf. Maaf papa belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kamu. Kamu harus kuat, nak. Kamu harus sembuh. Kita akan menghabiskan banyak waktu bersama nanti.”
“Aku.. bahagia, pa. Kedekatan kita dua tahun belakangan ini adalah masa terindah dalam hidupku. Bagiku, papa adalah ayah terbaik.”
Tangis Ida pecah mendengar percakapan anak dan suaminya. Toni pun tak bisa menahan airmatanya. Dia berjongkok di depan bed Aditya, kemudian memegangi tangan anaknya itu dengan erat. Airmatanya terus bercucuran. Kemudian pandangan Aditya beralih pada Adrian.
Nampak wajah sang kakak juga sudah bersimbah airmata. Aditya mengulurkan tangannya pada Adrian. Pria itu mendekat dan menyambut uluran tangan sang adik. Tak ada kata-kata yang mampu dikeluarkan selain isak tangis saja. Entah mengapa dia merasa Aditya tengah mengucapkan kata perpisahan.
“Bang.. maafin aku.”
Kepala Adrian menggeleng pelan. Genggamannya di tangan Aditya semakin erat saja. Buliran bening terus turun menetes membasahi lantai di bawahnya. Mata Aditya pun tak henti mengeluarkan cairan beningnya.
“Bang.. maaf kalau aku belum bisa menjadi adik yang baik untukmu.”
“Stop, Dit. Jangan bilang apa-apa lagi.”
“Banyak yang mau aku bicarakan pada abang..”
Melihat nafas Aditya mulai tersengal, Adrian memasangkan kembali masker oksigen pada sang adik. Untuk beberapa saat Aditya mengisi rongga paru-parunya dengan oksigen. Kemudian tangannya melepaskan kembali masker tersebut.
“Bang.. boleh aku minta sesuatu?”
“Apa?”
“Tolong jaga Dewi dan Arkhan untukku.”
“Aku akan menjaga mereka, kamu tenang saja. Kamu harus cepat pulih dan kembali pada anak istrimu, mengerti?”
“Aku…. Sudah ngga kuat, bang.”
“Dit…”
“Bang… maaf kalau aku sudah merebut kebahagiaanmu. Maaf aku sudah merebut cintamu.”
“Apa maksudmu?”
“Aku tahu, bang. Aku tahu.. wanita yang abang cintai adalah Dewi.”
🌸🌸🌸
**Kemarin pada ribut manggilin Adit, jadi bangunkan Aditnya😜
__ADS_1
Demi mencegah banjir bandang datang, episode kali ini sampai sini dulu ya. Mamake mau jualan kanebo, pasti bayak yg butuh🏃🏃🏃
Mana nih readers yang kena second lead syndrom?🤭**