
Kabar kehamilan Dewi sudah sampai ke telinga Ida dan Toni. Saat masih menunggu antrian di dokter kandungan, Aditya sudah memberi kabar pada keluarganya. Tentu saja Ida dan Toni bahagia mendengarnya. Bahkan Toni berencana pulang cepat, dia ingin mengadakan acara makan malam keluarga demi menyambut anggota baru keluarga. Pria itu juga menelpon Pipit.
“Selamat ya, ibu dan bapak. Dijaga kehamilannya, jangan banyak pikiran, makan makanan bergizi dan susu hamilnya jangan lupa diminum.”
“Iya, dok. Kalau jenis kelaminnya belum kelihatan ya?” tanya Aditya.
“Belum, pak. Usia kandungan ibu Dewi baru 6 minggu. Biasanya untuk kehamilan pertama, sekitar usia 5 bulan baru bisa diketahui jenis kelaminnya.”
“Oh gitu ya, hehehe..”
“Sudah ngga sabar ya?”
“Iya, dok. Tapi buat saya, perempuan atau laki-laki sama aja sih.”
“Nah bagus begitu. Pasrahkan saja pada Allah, laki-laki atau perempuan, yang penting anaknya sehat, begitu pula dengan ibunya.”
“Aamiin..”
“Bulan depan jangan lupa kontrol lagi, dan dibawa bukunya ya, bu.”
“Iya, dok.”
Aditya membantu Dewi untuk berdiri kemudian keduanya keluar dari ruang pemeriksaan. Setelah menebus obat penambah darah dan vitamin yang diresepkan dokter, mereka pun langsung pulang.
“Kita nginep di rumah papa, ya. Mama suruh kita nginep.”
“Iya, mas.”
Aditya mengarahkan kendaraan ke kontrakan haji Soleh. Mereka akan menginap di rumah orang tuanya. Cukup banyak pakaian yang mereka bawa, entah berapa hari mereka akan menginap di sana. Sebenarnya Dewi cukup gugup setiap menginap di rumah mertua. Meski sikap Ida sudah tidak seketus dulu, tapi tetap saja dia masih belum nyaman dengan mertuanya itu.
Usai menunaikan ibadah shalat ashar, Aditya dan Dewi berangkat ke kediaman Toni. Sebelumnya, mereka mampir dulu ke supermarket untuk membeli susu hamil. Aditya mengambil troli, selain susu, dia juga ingin membeli makanan lain untuk sang istri. Dia terkejut ketika saat bersamaan Toni juga mengambil troli.
“Papa..”
“Adit.. kamu ngapain?”
“Mau cari susu hamil. Papa ngapain?”
“Papa mau beli makanan buat istrimu. Mana Dewi?”
“Lagi ke toilet.”
Tak lama wanita yang dibicarakan datang. Sama seperti Aditya, Dewi juga terkejut melihat papa mertuanya. Toni menyambut Dewi dengan hangat. Pria itu memberikan pelukan hangat untuk sang menantu.
“Ayo kita belanja bersama. Kamu boleh ambil apa saja yang kamu mau. Papa yang bayarkan.”
“Biar aku aja, pa.”
“No.. biarkan papa yang belanja untuk menantu dan calon cucu papa.”
Aditya hanya tersenyum melihat papanya yang terlihat begitu bahagia. Pria itu mendorong troli, dan membiarkan sang papa jalan di sampingnya seraya merangkul istrinya. Sesekali dia berhenti untuk mengambil makanan yang ditunjuk Dewi.
“Masih ada yang mau kamu beli?”
“Ngga pa, cukup. Makasih banyak.”
“Ayo kita pulang.”
Aditya mendorong troli menuju meja kasir. Setelah membayar belanjaan, Toni segera mengajak anak dan menantunya pulang. Berturut-turut mobil mereka keluar dari pusat perbelanjaan tersebut.
🌸🌸🌸
Karena terus ditelepon oleh kakaknya, Pipit pulang satu jam lebih awal dari jam kantornya. Setelah membersihkan diri, dia segera bergabung dengan Ida. Kakaknya itu sibuk menyiapkan hidangan untuk Dewi, menantunya yang sedang hamil muda.
“Kamu udah telepon Roxas?” tanya Ida.
“Ngapain?”
“Ini kan kabar bahagia. Apalagi Dewi dan Adit itu sahabatnya, ya harus diundang juga. Lagian dia kan calon suamimu.”
“Mba.. please deh.”
“Kamu itu jangan bohongin orang tua terus. Ingat, kamu sudah ngenalin Roxas sama bapak dan ibu. Sebenarnya kamu itu maunya gimana sih? Kamu mau balikan sama Bayu atau sama Roxas?”
“Kakak nih, Roxas.. Roxas terus.. aku sama dia ngga ada apa-apa.”
“Tapi bapak sama ibu taunya dia calon kamu. Mba sih terserah sama kamu aja, mau sama Roxas atau Bayu, yang penting kamu nikah. Lihat Dewi, sekarang dia sedang hamil. Apa kamu ngga mau punya anak? Perempuan kalau hamil pertama di atas umur 30 tahun itu lebih riskan. Pokoknya sebelum ganti tahun, kamu harus udah nikah.”
Pipit tak menanggapi ucapan kakaknya. Tidak biasanya wanita itu mencecarnya seperti ini. Pasti ibundanya tercinta yang sudah memberinya mandat untuk mendesaknya menikah cepat-cepat. Untung saja Toni, Aditya dan Dewi datang tepat waktu, hingga dirinya bisa terhindar dari ucapan sang kakak yg merepet seperti petasan cabe rawit.
“Assalamu’alaikum..”
“Waalaikumsalam..”
Ida mengelap tangannya dengan lap, kemudian bergegas menyambut kedatangan anak dan suaminya. Wanita itu mencium punggung tangan Toni, kemudian memeluk Aditya. Dewi yang berdiri paling belakang, hanya menundukkan kepalanya.
“Selamat sayang, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah,” Ida memberikan pelukan hangat pada Aditya.
“Makasih mama sayang.”
Pelukan Ida terurai kemudian matanya melihat pada Dewi yang masih menundukkan kepala. Wanita itu mendekat kemudian memeluk Dewi. Sontak Dewi mengangkat kepalanya. Hatinya bahagia, ini pertama kalinya Ida memeluknya sejak menjadi istri Aditya.
“Menantu mama sekarang sedang mengandung. Selamat, Wi… terima kasih kamu akan menjadikan mama, nenek.”
“Sama-sama, ma..”
Didorong rasa haru dan kebahagiaan yang datang bersamaan, tak terasa Dewi menangis. Airmatanya mengalir membasahi pipi bulatnya. Ida mengusap airmata yang membasahi wajah menantunya.
“Kenapa nangis? Ibu hamil jangan sedih-sedih, harus bahagia. Dit.. kamu bawa pakaian ke kamar ya. biar Dewi sama mama.”
__ADS_1
“Iya, ma.”
Senyum terbit di wajah Aditya. Hatinya senang, akhirnya Ida mau juga menerima Dewi sebagai istrinya. Kehamilan Dewi memang membawa berkah dan kebahagiaan sendiri dalam keluarganya. Sambil berjalan menuju kamar, matanya terus melihat pada Ida yang tengah membawa Dewi menuju meja makan.
“Makanannya banyak banget, ma,” ujar Dewi ketika melihat aneka makanan tersaji di meja.
“Ibu hamil itu harus banyak makan. Karena sekarang kamu bukan makan untuk sendiri tapi juga untuk anakmu. Berapa minggu usia kehamilanmu?”
“10 minggu, ma.”
“Masih muda banget. Kamu ngga boleh banyak gerak dulu, banyak istirahat dan yang penting, suamimu harus puasa dulu.”
Wajah Dewi memerah mendengar ucapan Ida. Wanita itu menundukkan kepala saking malunya. Ida menarik kursi kemudian mendudukkan Dewi di sana. Dia mengambilkan pangsit kuah isi ayam yang dibuatnya sendiri.
“Cobain ini.”
“Makasih, ma.”
Ida hanya menjawab dengan senyuman. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala Dewi. Aditya yang sudah selesai menaruh tasnya, ikut tersenyum melihat sang mama yang sudah bersikap baik pada istrinya. Pria itu mendekat kemudian menarik kursi di samping Dewi. Sebelumnya dia menyempatkan mencium pipi Dewi.
“Makan apa, Yang?”
“Pangsit buatan mama.”
“Makan yang banyak. Pangsit buatan mama tuh rasanya juara.”
“Kamu juga makan, Dit,” ujar Ida.
“Iya, ma.”
Ida mengambilkan pangsit untuk anak bungsunya, kemudian dia kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya yang lain.
🌸🌸🌸
Pipit terkejut saat melihat Roxas dan Bayu datang ke rumah. Padahal dia sama sekali tidak menghubungi kedua pria itu. Jika Roxas, mungkin saja Aditya yang menghubunginya. Tapi Bayu, entahlah.
“Sepertinya ada acara,” ujar Bayu melihat aneka makanan yang tersedia.
“Iya. Syukuran kecil-kecilan buat Dewi.”
“Dewi ulang tahun?”
“Ngga, dia hamil.”
“Ooh..”
Hanya itu saja yang keluar dari mulut Bayu. Tak menyangka keputusannya mendatangi Pipit di kediamannya malam ini ternyata keputusan yang tepat. Semua keluarga berkumpul untuk menyambut kedatangan calon anggota keluarga baru. Kemudian matanya menangkap Roxas yang tengah berbincang dengan Aditya dan Adrian.
Bertepatan dengan itu, Roxas juga melihat pada Bayu. Sejujurnya pria itu terkejut, namun sebisa mungkin Roxas tetap bersikap biasa. Adrian melirik pada Bayu kemudian Roxas. Walau tipis, dia masih bisa menangkap perubahan wajah Roxas.
“Roman-romannya ada yang cemburu nih,” ujar Aditya sambil terkekeh.
“Makanya lo harus gercep.”
“Percuma gercep kalo tante cuma anggap gue ponakan doang..”
“Jiaahhh makan wafer rasa vanilla lagi nih, hahaha… maju terus pantang kendor. Masa LeTop kalah sama sang mantan, hahahaha..”
“Semangat, Xas.. tante juga belum jatuhin pilihan kan?”
“Iya, bang.”
Dalam hati Roxas bersyukur banyak orang yang mendukungnya. Tapi percuma mendapat banyak dukungan kalau yang bersangkutan sama sekali tidak meliriknya. Jantung pria itu berdegup kencang ketika melihat Pipit mendekati Bayu. Ingin rasanya dia mendekat dan menguping pembicaraan mereka.
“Roxas lumayan dekat juga sama keluarga kamu,” mata Bayu melihat pada Roxas.
“Dia kan sahabat keponakanku.”
“Pantas. Aku harap kamu ngga ada hubungan apa-apa sama dia. Lagi pula umurnya lebih muda dari kamu. Belum pantas jadi pendamping kamu.”
“Lalu, siapa yang pantas? Aku pikir usia ngga jadi patokan seseorang siap berumah tangga atau ngga. Mas lihat sendiri bagaimana Adit, dia masih muda tapi sudah siap berumah tangga. Bahkan sebentar lagi bakalan punya anak.”
“Bagaimana denganmu? Apa kamu siap berumah tangga sekarang?”
“Apa maksud mas?”
“Kalau kamu siap? Aku akan segera melamarmu pada bapak dan ibu. Aku akan berangkat ke Magelang.”
“Aku belum mau menikah.”
Bayu tak melanjutkan pembicaraan soal pernikahan. Dia tahu kalau Pipit belum sepenuhnya memaafkan dirinya. Wanita itu masih terluka dan kecewa. Sekarang yang menjadi fokus utamanya adalah mendapatkan kepercayaan dan cinta Pipit lagi.
🌸🌸🌸
“Tan.. kita bisa ngobrol sebentar ngga?” tanya Roxas ketika acara syukuran kecil-kecilan berakhir. Bayu juga sudah pamit pulang.
“Mau ngobrol apa?”
“Ada deh? Gimana kalau kita jalan-jalan keliling kompleks gitu hehehe..”
“Ya udah, ayo.”
Pipit masuk ke kamarnya sebentar untuk mengambil sweater, kemudian keluar kembali dengan tubuh terbalut sweater berwarna putih. Sambil berjalan pelan, keduanya menyisiri deretan rumah yang ada di bagian kanan kediaman Toni.
“Kamu mau ngobrol apaan?”
“Hubungan tante sama om Bayu gimana?”
“Tumben kepo.”
__ADS_1
“Kepo dikit, hehehe..”
“Kamu mau ngomong apaan sih? Ngga usah nyerempet-nyerempet mas Bayu, lah.”
Roxas melangkahkan kakinya menuju taman kecil yang ada di kompleks tersebut. Pipit mengikuti pria itu kemudian mendudukkan diri di kursi yang ada di sana. Sesaat suasana hening, Roxas masih berusaha menenangkan hatinya dulu sebelum mengungkapkan perasaannya. Ini adalah pertama kalinya dia menyatakan perasaan pada perempuan. Sebelumnya pada Yulita dan Amanda, pria itu tidak bisa mengatakannya karena hilang di tengah jalan.
“Tan.. sebenarnya yang jadi patokan tante pilih suami tuh apa sih?”
“Kenapa kamu tiba-tiba nanya soal itu?”
“Nanya aja, masa ngga boleh, hehehe..” Roxas menggaruk kepalanya yang tak gatal saking groginya.
“Yang pasti dia siap untuk komitmen, bertanggung jawab dan bisa menjadi imam yang baik.”
“Emang om Bayu ngga masuk kategori tante?”
“Dia udah pernah bikin aku sakit hati sekali. Bukan ngga mungkin dia akan ngelakuin hal yang sama ke depannya.”
Kepala Roxas mengangguk-angguk tanda mengerti. Dalam hatinya bersorak, ternyata Pipit belum menerima Bayu kembali dalam hidupnya. Kesempatan ini tidak akan disia-siakan olehnya. Pria itu siap menyalip di tikungan tajam, seperti Rossy.
“Tan.. aku.. aku suka sama tante. Maksudku suka dalam artian yang sebenarnya, aku kayanya terlalu mendalami peran jadi pacar abal-abal tante. Aku maunya ngga jadi pacar pura-pura lagi, tapi beneran.”
Sontak saja Pipit terkejut mendengar pengakuan Roxas. Pria yang usianya berada tujuh tahun di bawahnya, yang selama ini hanya dianggap keponakan saja olehnya, tiba-tiba menyatakan perasaannya. Wanita itu memandangi lekat-lekat wajah pria di sampingnya.
“Kamu ngga lagi mabok kan, Xas?”
“Astaghfirullah ngga, tan. Lagian mana pernah aku mabok. Masa minum bandrex bisa mabok.”
“Ya abisnya kamu ngomong kaya gitu.”
“Aku serius, tan. Aku emang jatuh cinta sama tante.”
“Terus Yulita sama si Aman apa namanya? Kamu jangan terlalu cepat mengartikan itu cinta. Bisa aja itu karena kekaguman sesaat. Lagi pula umurku itu tujuh tahun lebih tua dari kamu. Kamu tuh cocoknya jadi keponakanku.”
“Tapi aku ngga mau jadi keponakan tante.”
“Ck.. Xas.. Xas.. udah deh jangan ngaco. Pulang yuk.”
Pipit segera bangun dari duduknya, kemudian mendahului Roxas keluar dari taman. Roxas menghela nafas panjang kemudian mengikuti wanita itu dari belakang. Seperti dugaannya, Pipit akan bereaksi seperti tadi. Jika melihat reaksi Pipit, sepertinya dia ingin berhenti saja. Tapi mengingat orang yang mendukungnya, semangatnya kembali berkobar.
Sesampainya di kediaman Toni, Roxas segera menuju tunggangannya. Pipit masih berada di dekat motor Roxas, memperhatikan pria itu yang tengah memakai helmnya. Sebelum melajukan si hejo, Roxas melihat pada Pipit.
“Aku ngga akan nyerah. Aku akan terus mengejarmu, Pit.”
“Apa?” mata Pipit membelalak mendengar Roxas hanya memanggil nama padanya tanpa embel-embel tante.
“Mulai sekarang aku ngga mau manggil kamu dengan sebutan tante lagi. Biasakan dirimu mendengarku memanggilmu Pipit, just Pipit.”
“Xas.. jangan kurang ajar kamu.”
“Aku ngga bermaksud kurang ajar. Aku hanya berusaha mendapatkan wanita yang kucintai. Jika aku terus memanggilmu dengan sebutan tante, maka selamanya kamu akan menganggapku seperti anak kecil. Jadi, tidak ada lagi sebutan tante untukmu. Aku pulang dulu, Pit. Assalamu’alaikum.”
“Wa.. waalaikumsalam.”
Roxas langsung melajukan kendaraannya setelah berpamitan. Pipit masih termangu di tempatnya. Dia terkejut mendengar Roxas memanggilnya tanpa sebutan tante. Jika saat bersandiwara, dia tak masalah, tapi sekarang adalah kenyataan. Ada perasaan aneh merayapi hatinya mendengar Roxas memanggilnya hanya Pipit saja.
🌸🌸🌸
Di dalam kamar, sesekali terdengar tawa Dewi ketika merasakan geli di perutnya. Aditya sedari tadi tak henti menciumi perutnya yang masih rata. Pria itu merebahkan kepala ke perut sang istri sambil mengusapnya dengan lembut.
“Sehat-sehat ya sayang. Jangan buat mamamu susah. Papa akan bekerja keras, untuk semua kebutuhanmu. Kamu adalah kebahagiaan papa dan mama.”
Tangan Dewi mengusap puncak kepala Aditya. Bibirnya menyunggingkan senyuman, ada rasa bahagia menyelip dalam hatinya mendengar perkataan Aditya pada sang anak. Walau usia Aditya masih tergolong muda, tapi dia adalah pria yang sangat bertanggung jawab dan begitu menyayanginya. Dewi tak menyesal menjatuhkan pilihan pada pria itu.
“De.. dua minggu lagi, aku bakalan mulai promo tur. Rencananya kita bakal promo di 10 kota. Bandung sendiri jadi kota terakhir kita promo. Lama stay di kota tujuan, bisa tiga atau empat hari. Kamu ngga apa-apa aku tinggal selama itu?”
“Ngga apa-apa, mas.”
“Nanti kalau kamu ngidam mau makan sesuatu gimana?”
“In Syaa Allah, calon anakmu ini soleh. Aku yakin dia ngga akan merepotkan mamanya, karena tau papa lagi cari uang.”
Aditya bangun dari posisinya. Setelah menurunkan kembali pakaian Dewi, dia beranjak mendekatinya. Kedua tangannya menangkup wajah cantik sang istri, kemudian mendaratkan ciuman di bibirnya.
“I love you,” bisik Aditya.
“I love you too,” balas Dewi seraya tersenyum.
“Aku.. akan bekerja keras untukmu dan anak kita.”
“Iya, mas. Aku akan selalu mendoakan mas. Jangan pernah berubah. Kalau mas sudah bosan padaku, bilang saja. Tapi jangan duakan aku.”
“Mana mungkin aku duain kamu. Kamu anugerah terindah yang Allah kasih buat aku.”
Tangan Aditya langsung meraih tubuh Dewi kemudian memeluknya erat. Tak ada dalam kamus hidupnya mengkhianati wanita yang begitu dicintainya. Jikalau dirinya harus berpisah dengan Dewi, biar saja maut yang memisahkan.
🌸🌸🌸
**Duh calon mahmud sama pahmud makin sweet aja😍
Bang Ad yang sabar, masih ada mamake😘😘😘
Cieee... Roxas manggilnya cuma Pipit aja sekarang. Kira² tante bakalan ikut makan wafer rasa vanila ngga🤭
Kemarin ada yang minta penampakan si hejo. Nih mamake kasih.
Si Hejo, alat buat cari jodoh Roxas**
__ADS_1