
Pintu lift terbuka. Dengan cepat Adrian melangkah keluar. Kakinya menyusuri deretan kamar. Kemudian langkahnya terhenti di depan kamar 912. Pria itu mengambil nafas sejenak sebelum memencet bel yang ada di sisi pintu. Tak berapa lama pintu terbuka.
“Ad..” Toni terkejut melihat anak sulungnya berdiri di depan pintu.
Tanpa mengatakan apapun, Adrian segera masuk ke dalam kamar. Matanya memandang berkeliling, lalu memeriksa kamar mandi. Dia tak menemukan siapa pun di kamar ini. Toni yang bingung dengan kelakuan anaknya hanya mengikuti dari belakang.
“Apa yang kamu cari?”
“Papa sedang apa di sini?” bukannya menjawab, Adrian malah balik bertanya.
“Bukannya pada ada tugas keluar kota? Apa papa sedang menunggu seseorang di sini? Siapa pa?”
Adrian menghempaskan tubuhnya ke sofa. Toni kini paham apa yang dicari oleh anaknya. Dengan tenang pria itu mendudukkan diri di sisi ranjang. Menatap sang anak yang masih menunggu jawaban darinya.
“Papa terpaksa berbohong pada mamamu karena Adit.”
“Adit? Ada apa dengannya?”
“Dia sedang ada masalah, makanya pulang. Dari pada dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran papa, lebih baik papa yang mengalah.”
Adrian cukup terkejut mendengar penuturan ayahnya. Pria itu menatap pada Toni tanpa berkedip. Orang tua yang egois, itulah yang ada dalam benaknya tentang Toni. Alih-alih merengkuh sang anak yang tengah mengalami masalah. Pria itu malah memilih pergi.
“Bukankah lebih baik kalau papa tetap berada di rumah? Bukankah lebih baik kalau papa bertanya pada Adit, masalah apa yang mengganggunya? Dia anakmu, pa. Di luar sifat keras kepalanya, dia tetap membutuhkan papa untuk merangkulnya. Tidak bisakah papa mengalah kali ini? Kenapa papa selalu bersikap egois? Apa papa sadar dengan sikap papa yang seperti ini semakin membuatnya terpuruk? Apa susahnya merangkulnya, memberinya bahu untuk bersandar ketika dirinya kesulitan. Sesulit itukah untuk melakukannya?”
Hanya diam dan diam saja yang Toni perlihatkan ketika mendengar penuturan panjang anaknya. Pria itu malah mengambil remote televisi, kemudian menyalakan layar datar di depannya. Adrian menghembuskan nafas panjang. Rasanya percuma saja berbicara dengan ayahnya ini. Dia memilih untuk pergi saja.
“Aku harap papa merenungi apa yang kukatakan. Tolong jangan tambah bebanku dengan sikap papa yang seperti ini.”
Adrian segera meninggalkan kamar Toni. Sepeninggal Adrian, Toni mematikan televisi. Pikirannya menerawang, memikirkan kembali semua sikapnya pada Aditya. Sejatinya dia sadar sudah bersikap tak adil pada anak bungsunya itu. Tapi tiap kali dia hendak mengambil sikap, menghampiri sang anak lebih dulu, gengsi dan keegoisannya kembali muncul. Pria itu hanya bisa mengesah panjang.
🌸🌸🌸
Hari yang ditunggu mahasiswa baru akhirnya tiba. Kampus mulai dibuka, perkuliahan pun dimulai. Untuk mengganti acara ospek, para senior di fakultas FISIP menggantinya dengan sesuatu yang lain. Para mahasiswa baru dilarang memakai tas atau backpack ketika kuliah selama seminggu. Mereka boleh menggantinya dengan apapun, asalkan tidak berbentuk tas. Tas plastik, tote bag atau keresek, tidak diperbolehkan.
Dengan adanya kebijakan ini, alhasil para mahasiswa baru memutar otak. Mereka mencari apa saja yang bisa dipakai untuk membawa buku dan alat tulis. Berbondong-bondong para mahasiswa baru ini memasuki kampus dengan memakai bermacam alat sebagai ganti tasnya.
Dewi memasukkan buku dan alat tulis ke dalam termos nasi yang biasa dipakai ibunya jualan. Mila memasukkan alat tulisnya ke dalam bakul kemudian menggendongnya menggunakan samping atau kain seperti mbok jamu. Sheila membawa buku dan alat tulis di dalam ember. Sedang Sandra membawanya dengan keranjang belanjaan yang ditemui di mini atau super market.
Sementara itu Micky, membentuk dus mie instan seperti pedangan cangcimen. Tak lupa dia memberikan tali di sisi kanan dan kirinya agar bisa digantungkan di bahunya. Sedangkan Bobi memakai sangkar burung bapaknya, untuk dijadikan backpack. Dan Budi memasukkan buku dan alat tulis ke dalam karung. Membawanya seperti tukang rongsok.
“Buset cocok banget lo, Bud. Hahaha…” perut Bobi bergerak turun naik saat pemuda itu tertawa.
“Udah cocok emang. Tinggal baju aja lo ganti, muka juga udah menunjang,” sambung Micky.
“Sue lo pada. Elo, Bob, kaga kasihan apa sama yang lain. Makan tempat noh sangkar burung lo. Udah badan gede, tuh sangkar juga sama gedenya.”
“Bodo amat. Sono balik ke kelas lo.”
Bobi menendang bokong Budi, untung saja pemuda itu langsung berkelit. Kalau tidak bisa dipastikan Budi akan langsung nyungsep. Bobi dan Micky segera menemui kaum hawa yang nongrong di dekat tangga. Bobi langsung menghampiri Mila yang gayanya persis seperti tukang jamu.
“Cocok lo, Mil. Kenapa ngga sekalian pake samping aja.”
“Tar lo naksir berabe,” jawab Mila sekenanya yang langsung mendapat toyoran dari Bobi.
“Wi.. tuh isinya nasi kuning apa buku?” celetuk Micky yang melihat Dewi menenteng termos nasi.
“Kaga usah banyak ngemeng. Buruan masuk ke kelas.”
Dewi, Sheila dan Micky memang berada dalam satu kelas. Mereka tergabung dalam kelas B. sedang Bobi berada di kelas F, dan Mila tergabung dalam kelas D. Untuk jurusan komunikasi memang terdapat enam kelas. Jumlahnya lebih banyak dibanding jurusan lain di fakultas yang sama.
“Mata kuliah pertama apa nih?” tanya Micky.
“Pengantar Ilmu Politik,” jawab Sheila.
“Siapa dosennya?”
“Ngga tau, belum kenalan,” jawab Dewi asal.
“Woi.. masuk woi..” seru Micky.
Dewi, Sheila dan Micky segera bergegas menuju lantai tiga, tempat di mana kelas mereka berada. Sebagian meja sudah terisi, mereka menempati meja yang masih kosong. Tak lama seorang pria berumur lima puluh tahun dengan kumis tebal memasuki ruangan.
“Buset, dosennya mas Adam mba Inul,” Sheila berbisik di telinga Dewi sambil terkikik.
Pelajaran pertama dimulai. Sang dosen mencatat beberapa buku yang bisa dijadikan referensi untuk mata kuliah ini. Dia juga menjelaskan sistem penilaian yang akan diterapkan nanti. Selanjutnya barulah dia memulai pelajarannya. Micky beberapa kali mengerjapkan matanya. Entah mengapa suara pak Bondan seperti nyanyian lagu Nina Bobo yang membuat matanya memberat.
Pelajaran Pengantar Ilmu Politik akhirnya selesai. Micky menguap lebar sambil menggerakkan badannya ke kanan dan kiri. Pria itu kemudian merebahkan kepalanya ke meja dengan tangan sebagai bantal.
“Bangun, oii.. nih kelas mau dipake,” Sheila mengguncang tubuh Micky.
“Bentar elah..”
“Noh udah pada dateng. Kuy lah kita ke kantin,” ajak Dewi.
Mau tak mau Micky mengangkat tubuhnya. Dengan malas dia menyampirkan tas buatannya ke bahu kemudian keluar dari kelas. Jadwal kuliah berikutnya masih satu jam lagi. Mereka memilih menunggu di kantin saja.
“Abis ini pelajaran apa?” tanya Micky yang lagi-lagi merebahkan kepala di meja.
“Pengantar Ilmu Komunikasi.”
“Weh, pak Rian ya,” ujar Micky.
Sheila hanya menganggukkan kepalanya saja. Sedang Dewi memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mendengar nama Adrian saja sudah membuat jantungnya berdegup tak karuan. Gadis itu memilih menenggelamkan diri dengan ponselnya.
“Wi.. ayo,” ajak Sheila. Sudah waktunya mereka masuk kelas.
__ADS_1
Dewi menarik nafas panjang sebelum mengikuti langkah Sheila. Perkuliahan kali ini berada di lantai lima. Ketiganya menunggu di depan lift, menanti kotak besi itu untuk membawa mereka. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Ketiganya masuk ke dalamnya. Baru saja pintu lift akan menutup, sebuah tangan menahannya.
“Pak..” panggil Micky begitu melihat Adrian yang menahan lift. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya saja.
Dewi tak ingin melihat pada Adrian. Gadis itu hanya menundukkan pandangannya saja. Sheila hanya diam mendengarkan Micky yang tengah berbincang dengan Adrian. Akhirnya lift yang mereka naiki berhenti di lantai lima. Adrian keluar lebih dulu, disusul oleh lainnya. Mereka masuk ke dalam kelas yang dimasuki oleh Adrian lebih dulu.
“Selamat pagi menjelang siang,” sapa Adrian.
“Pagi menuju siang, pak,” jawab yang lain.
“Ok.. sebelum mulai perkuliahan, saya akan menerangkan soal kriteria penilaian. Untuk penilaian akan terbagi dalam empat item.”
Adrian mengambil spidol, kemudian menuliskan item apa saja yang masuk dalam penilaiannya. Kuis 25%, Tugas 15%, UTS 25% dan UAS 35%. Selesai menuliskan keempat hal tersebut, Adrian membalikkan tubuhnya menghadap pada para mahasiswa dan mahasiswinya.
“Penilaian untuk mata kuliah ini berdasarkan empat hal tersebut. Bagi saya absen tidak terlalu penting. Yang penting kalian semua ikut kuis. Kuis diadakan 10 menit pertama. Toleransi waktu keterlambatan adalah 15 menit. Lewat dari itu, tidak usah masuk.”
Terdengar kasak-kusuk di antara para mahasiswa tersebut. Mereka membicarakan tentang aturan kuis. Kuis hanya memakan waktu 10 menit, jika mereka terlambat 15 menit, masih bisa masuk kelas tapi tidak ikut kuis. Maka tetap saja kehadiran mereka tidak akan dianggap karena tidak punya nilai kuis.
“Ada pertanyaan?” tanya Adrian.
“Pak, itu kuis wajib ada ya?” tanya salah seorang mahasiswi.
“Iya.”
“Kalau terlambat lima belas menit, masih boleh masuk?”
“Boleh.”
“Tapi kita ngga akan dapat nilai kuis ya?”
“Iya.”
Beberapa mahasiswa menggaruk kepalanya. Namun mereka beruntung karena mata kuliah PIK tidak berada di awal kuliah. Artinya mereka tidak akan terlambat masuk kelas. Kasak-kusuk di antara mereka terhenti ketika Adrian memulai perkuliahannya. Dia menuliskan beberapa judul buku yang bisa dipakai untuk perkuliahan ini. Mereka dibebaskan untuk memakai buku apa saja, Adrian tidak membatasinya.
“Apa yang kalian tahu soal komunikasi?”
Adrian membuka perkuliahan. Beberapa dari mereka mengangkat tangannya mencoba menjawab dengan versinya masing-masing. Adrian berjalan mengelilingi kelas, mendatangi mahasiswa yang menjawab pertanyaannya. Kemudian dia berhenti tepat di depan meja Dewi.
“Apa yang dimaksud dengan komunikasi?” Adrian bertanya pada Dewi.
“Proses penyampaian pesan,” jawab Dewi tanpa menatap pada Adrian.
"Pada dasarnya kalian sudah tahu apa yang dimaksud dengan komunikasi. Sekarang kita akan membahas komunukasi menurut para pakar."
Pria itu kemudian kembali ke mejanya. Dia memulai pelajarannya hari ini. Ada yang mencatat apa yang dikatakannya, ada yang hanya mendengarkan saja.
"Untuk tugas kali ini. Tuliskan lima pengertian komunikasi dari berbagai pakar, lalu buat kesimpulannya. Dikumpulkan minggu depan."
"Baik, pak."
🌸🌸🌸
“Dit..”
Roxas menghampiri Aditya yang tengah duduk melepas lelah di basement hotel Amarta. Tempat di mana dirinya dan beberapa temannya sering menghabiskan waktu istirahat. Roxas mendekat lalu mendudukkan diri di samping sahabatnya itu. Sudah seminggu lebih dia tak melihat sahabat baiknya itu.
“Kapan balik ke kontrakan?” tanya Roxas.
“Belum tau.”
“Lo mau ngehindarin Dewi ya?”
“Bukan ngehindarin, tapi dia yang ngga nyaman kalau ada gue.”
“Kenapa jadi kaya gini sih? Sumpah ya, gue kangen lah ngobrol bareng kalian lagi.”
“Mudah-mudahan ada waktunya lagi. Sekarang gue cuma mau menetralkan hati dulu. kelihatannya aja gampang ganti rasa cinta ke persahabatan, tapi aslinya susah banget, Xas. Jujur aja, gue masih sayang sama dia. Kalau gue sering ketemu dia, nantinya gue ngga bisa move on dari dia.”
“Jangan kelamaan galau. Lo tuh ganteng, banyak yang naksir elo. Salah satunya Fay.”
Aditya hanya tertawa kecil saja saat Roxas menyebut nama Fay. Sejak dulu dia memang sudah tahu kalau gadis itu menyukainya. Namun entah mengapa, dia tidak bisa membalas perasaannya. Pemuda itu lebih nyaman dengan hubungan pertemanan saja.
“Lo sendiri gimana sama kak Lita? Minggu kemarin lo jalan bareng kan sama dia.”
“Awal indah, akhir mengenaskan.”
“Loh kok gitu?”
Tawa Aditya tak berhenti mendengar cerita Roxas tentang insiden si hejo yang menimpa. Gara-gara si hejo kehabisan bensin, Yulita meninggalkan dirinya. Wanita itu memilih pulang menggunakan taksi online.
“Kaga usah ketawa. Kan elo yang doain.”
“Dih.. kapan gue doain. Gue cuma menggambarkan aja, seandainya itu kejadian kan romantis, hahaha…”
“Romantis pala lo peyang, yang ada dia ninggalin gue.”
“Hahahaha… ajakin lagi aja.”
“Pengennya sih. Tapi apa alasannya? Kemarin kan nonton, besok apa ya?”
“Ajakin nonton Persib, hahahaha…”
Keduanya tertawa terpingkal. Roxas tak bisa membayangkan jika Yulita diajak nonton Persib di stadion. Entah bagaimana reaksinya, yang pasti cameraman akan terus menyorot wanita itu.
“Biar lo ngga pulang ke kontrakan, main lah. Gue kesepian tanpa elo. Oohh Adiitt..”
__ADS_1
Roxas memeluk erat tubuh sahabatnya ini. Dengan susah payah Aditya melepaskan diri dari pelukan Roxas. Tubuhnya bergidik dipeluk begitu erat oleh makhluk berbatang. Roxas hanya terpingkal saja melihatnya.
“Rox.. Sabtu depan kita manggung di universitas Nusantara, kampusnya Dewi.”
“Serius? Dalam rangka apa?”
“Inagurasi. Makanya Sabtu depan gue ijin kerja, dituker shiftnya. Jadi Kamis gue kerja, Jumat sama Sabtu libur.”
“Ya udah, gue samain jugalah. Terus lagunya apa?”
“Nantilah diobrolin sama yang lain. Nanti sore kita kumpul di studio, gimana?”
“Boleh-boleh.”
🌸🌸🌸
Sesuai janjinya pada Roxas, setelah manggung di café, Aditya pulang ke kontrakannya. Sejujurnya dia memang sudah merindukan kontrakannya ini. Karena ingin memberikan waktu untuk gadis itu, Aditya terpaksa meninggalkan kontrakan.
Aditya keluar dari kamar ketika mendengar suara ketukan di pintu. Padahal baru saja Roxas keluar dari kontrakan. Entah kemana pria itu pergi. Dengan cepat Aditya membuka pintu dan ternyata Dewi yang ada di depan kontrakannya.
“De..”
“Roxas ada?”
“Tadi keluar. Kayanya ke tempat tante Amel deh. Biasa dia suka nganter tante Amel ke pasar.”
“Emang Rox kaga tau ada suaminya tante Amel?”
“Serius ada?”
“Iya.”
Aditya yang penasaran segera keluar dari kontrakan. Pemuda itu berjalan menuju rumah tante Amel. Sesuai dugaan, Roxas memang tengah menuju kontrakan Amel. Dia mencari tempat untuk melihat reaksi Roxas bertemu dengan suami Amel. Dewi juga ikutan ingin melihat pertunjukan.
“Tante.. tan..”
TOK
TOK
TOK
“Tante…”
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pintu terbuka. Roxas terkejut melihat seorang lelaki yang membukakan pintu. Bukan hanya Roxas, tetapi pria itu juga terkejut melihat seorang pemuda bule mengetuk pintu rumahnya.
“Cari siapa?” tanya lelaki itu.
“Cari tan.. te..”
“Eh Roxas..”
Perkataan Roxas langsung disambar oleh Amel yang tiba-tiba muncul dari balik lelaki itu. Roxas melemparkan senyuman pada Amel. Sambil otaknya terus berpikir, siapa lelaki gagah yang ada di kontrakan wanita itu.
“Siapa Yang?” tanya pria di samping Amel.
“Ini Roxas, Yang. Kan pernah aku ceritain.”
“Oh Roxas.”
“Xas.. kenalin ini suamiku, mas Tio.”
“Roxas..”
“Tio..”
Kedua pria itu bersalaman. Roxas memindai penampilan pria di depannya. Tubuhnya tinggi dan kekar, wajahnya juga tampan. Kulit sawo matangnya membuat pria itu terlihat semakin macho.
“Ada apa, Xas?” tanya Amel.
“Ngga.. kirain aku tante mau ke pasar.”
“Oh.. hari ini sampe seminggu ke depan, aku bakal dianterin suami. Tenang aja.”
“Ok deh, tan. Om.. aku pergi dulu.”
Roxas melemparkan senyum manisnya kemudian kembali ke kontrakannya. Dilihatnya Aditya dan Dewi yang nampak tertawa. Pemuda itu menghampiri kedua sahabatnya.
“Apaan lo ketawa-ketawa,” kesal Roxas.
“Gue bilang juga apa, Xas. Tante Amel bukan janda, ngeyel sih lo, hahaha,” Aditya nampak puas sekali.
“Rese, lo.”
“Makanya jadi orang jangan sok iye. Orang masih punya suami disebut janda. Untung aja suaminya tante Amel ngga denger. Kalo denger bisa disikat lo, hahaha..”
“Rese lo, pada. Udah ah, gue mau molor lagi.”
Roxas berjalan menuju kontrakan. Lebih baik menidurkan diri kembali. Hari ini pemuda itu kebagian shift malam. Dari café pastinya dia akan langsung bekerja di hotel. Berbeda dengan Aditya yang sedang bersiap untuk berangkat.
“Aku pergi dulu, De.”
Dewi hanya menganggukkan kepalanya saja. Matanya terus melihat pada Aditya yang tengah menaiki tunggangannya. Sejenak gadis itu terdiam di tempatnya setelah Aditya berlalu dengan motornya. Hubungannya dengan Aditya menjadi aneh akhir-akhir ini. Aditya seperti menarik diri darinya. Begitu pula dirinya yang berusaha menghindari pria itu.
🌸🌸🌸
__ADS_1
**Yang nuduh pak Toni macem².. Ish.. Ish.. Ish.. Tak patut.. Tak patut.. Pak Toni emang nyebelin, tapi dia setia ya sama mama Ida😁**