Naik Ranjang

Naik Ranjang
Dinner


__ADS_3

"Makasih." Ucap Dina dengan ketus saat keluar dari mobil Sammy meski agak kesusahan karena barang bawaannya.


Bukannya menjawab, Sammy justru ikut turun. "Loh, ngapain kamu ikut turun?" Kesal Dina dengan wajah masam.


Ck, sebenci itu kamu sama aku? Sammy menarik napas panjang.


"Aku cuma mau ketemu Ayah kamu, salah?"


Dina memicingkan mata. "Buat apa?"


"Urusan pria, kamu gak perlu tahu." Setelah mengatakan itu Sammy berlalu begitu saja.


"Dasar aneh." Dengan perasaan dongkol Dina pun ikut masuk ke rumah.


"Loh, kok udah pulang?" Sapa Mamah yang keluar dari arah dapur. Sammy pun menyalaminya dengan hormat.


"Dina dipecat, Mah." Jawab Dina dengan malas seraya menaiki anak tangga. Sontak Mamah Lia pun kaget.


"Kok bisa dipecat? Kamu kan udah lama kerja di sana?" Teriaknya karena Dina sudah jauh dari jangkauannya.


"Tanya aja sama mantu Mamah." Sahut Dina dari lantai atas.


Mamah Lia pun semakin bingung. Lalu ditatapnya Sammy penuh tanya. "Gimana ceritanya dia bisa dipecat?"


Sammy tersenyum tipis. "Gak papa, Mah. Aku yang bakal narik Dina jadi sekretaris pribadi."


Ah, Mamah Lia mengerti sekarang. "Oh, begitu ya? Ya udah, kamu mau ketemu Ayah?"


Sammy mengangguk.


"Ada di ruang kerja, masuk aja."


"Makasih, Ma." Ucap Sammy yang langsung beranjak menuju ruang kerja sang Ayah mertua, Rudy.


Di kamar, Dina menjatuhkan diri di atas kasur. Lalu menarik napas panjang. "Hah, gak nyangka hari ini sial banget."


Cukup lama gadis itu terdiam sembari menatap langit-langit. Namun, tiba-tiba saja perkataan Sammy saat diperjalanan tadi kembali terngiang.


Aku tahu. Dan mulai sekarang cuma aku yang boleh jadi bagian hidup kamu.



*


Kata-kata itu terus terngiang-ngiang.



"Ihhh... ngapain sih dia ngomong kayak gitu? Bikin geer aja. Mentang-mentang ganteng, sesuka hati obrak-abrik hati orang." Dina pun bangun, lalu beranjak malas menuju kamar mandi.


Malamnya, Sammy benar-benar menjemputnya. Tentu saja hal itu tak Dina duga. Ia kira Sammy cuma basa-basi doang. Dengan malas Dina pun keluar dari kamar untuk menemui lelaki itu, tentu saja ia masih mengenakan piyama. Bahkan rambutnya dicepol asal.


Mama Lia yang melihat penampilan anaknya pun merasa kaget. "Loh, kok belum siap-siap sih? Katanya mau dinner?"


Dina menghela napas. "Emang siapa yang mau dinner sih?" Ditatapnya Sammy tanpa minat.


Sammy membalas tatapannya. "Tadi siang kamu bilang setuju."


"Eh? Kapan aku bilang setuju?" Kaget Dina. Pasalnya ia tak pernah mengiyakan ajakan Sammy.


"Ck, udah sana siap-siap. Kasian Sammy udah jauh-jauh ke sini." Titah Mama Lia.

__ADS_1


"Tapi...."


"Jangan buat Sammy nunggu lagi, Dina." Kali ini Ayah pun ikut menimpali. Alhasil Dina pun cuma bisa pasrah.


"Ish, iya ini aku siap-siap." Dina pun kembali ke kamarnya dengan langkah malas. Padahal malam ini moodnya sedang buruk. Gadis itu terus mengomel. "Dasar cowok pemaksa. Kapan coba aku setuju? Gak tau apa mood lagi rusak? Gak pengertian banget."


Setengah jam kemudian, Dina pun sudah siap dengan penampilan sederhananya seperti biasa. Gadis itu hanya mengenakan kaos oversize yang dipadukan dengan hotpants jeans. Tidak lupa juga memakai slingbag karakter favoritnya. Rambutnya ia biarkan tergerai.


"Yuk." Ajak Dina yang sebenarnya malas. "Aku izin, Ma, Yah." Lalu bersalaman pada kedua orang tuanya.


"Kami pamit." Sammy pun ikut menyalami keduanya.


"Hati-hati, pulangnya jangan terlalu malam." Ucap Ayah.


"Iya, Yah." Sahut Sammy. Lalu keduanya pun bergegas pergi.


Sesampainya di tempat tujuan, yaitu restoran elit. Dina tidak lekas turun dari mobil Sammy. Tentu saja hal itu membuat Sammy heran. Lelaki itu menoleh ke arah Dina. "Ada apa? Kamu gak suka tempatnya?"


Dina pun menoleh. "Suka, ayo." Ia pun bergegas turun. Tidak mungkin juga dia menolak karena tahu pasti Sammy sudah menyiapkan semuanya.


Sammy tersenyum tipis, kemudian ikut turun. Menyusul Dina yang sudah berjalan lebih dulu.


Beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka. Lalu Sammy dan Dina pun diboyong ke meja yang sudah dibooking sebelumnya. Karena sudah disiapkan sejak awal, tidak perlu menunggu lama makanan pun datang. Dan semuanya disiapkan begitu sempurna. Dinner yang sesungguhnya.


"Terima kasih." Ucap Dina pada sang waitress.


"Sama-sama." Jawab orang itu yang kemudian berlalu pergi.


Sammy terus memperhatikan Dina. Terlihat jelas gadis itu tak menikmati waktu mereka saat ini.


"Kalau gak suka sama menunya, kamu bilang aja."


"Suka." Jawab Dina sekenanya. Sebenarnya ia tidak terlalu nyaman dengan tempatnya. Bukan makanannya. Tempat itu seolah mengintimidasinya. Penampilannya saat ini seolah bertolak belakang dengan tempat itu. "Kenapa gak bilang sih kalau mau makan ke sini?" Tanyanya agak berbisik.


"Ish, tau gitu aku pake baju agak bagus. Sengaja ya mau buat aku malu?"


Sammy tersenyum tipis. "Dari awal aku ngajak kamu dinner." Katanya penuh penekanan. "Tapi gak papa, aku suka apa pun yang kamu pake."


Dina memutar bola matanya jengah. "Jangan buat aku muntah di sini."


Sammy tersenyum lagi. "Ya udah, ayo makan." Seprtinya lelaki itu banyak tersenyum akhir-akhir ini.


"Hm." Dina pun memotong daging dengan malas. Sammy yang melihat itu cuma bisa menggeleng.


"Abis ini kita cari stelan kantor yang cocok buat kamu." Ujar Sammy. Sontak Dina pun menoleh lagi.


"Gak usah."


Sammy menaruh pisau dan garpunya. Lalu menatap Dina lekat. "Besok kamu udah mulai kerja, Dina. Gak lucu kalau kamu pake baju yang biasa kamu pake di kantor lama. Sekarang kamu sekretaris pribadi aku."


Dina menghela napas. "Aku belum bilang setuju mau kerja sama kamu."


"Aku tetap maksa."


Dina melotot. "Mana bisa maksa? Kan aku yang jalanin."


Sammy memperdalam tatapannya. "Sekarang gak gampang cari kerjaan bagus."


"Gak masalah kerja jadi bawahan juga."


"Nope, aku gak setuju. Kamu itu calon istri aku, Dina. Kalau bisa abis nikah kamu duduk aja di rumah. Aku bakal kasih apa pun yang kamu mau."

__ADS_1


"Aku gak perlu semua itu. Lagian belum tentu kan kita nikah." Dina kembali melahap potongan daging yang super creamy itu.


Sammy tidak bersuara lagi.


Dina yang merasa heran pun menatap Sammy. "Kok diam?"


Sammy menatap Dina serius. "Gak paham. Kenapa ya aku lihat-lihat, kamu seolah benci banget sama aku? Apa aku pernah buat salah?"


"Aku gak benci kok. Cuma agak aneh aja kalau yang tadinya adek ipar jadi suami. Kenapa gak cari kandidat lain aja sih? Kamu kan orang kaya, pasti mudah dapat pasangan." Jelas Dina memberikan solusi yang sepertinya tak dibutuhkan oleh Sammy.


"Kamu bener. Gampang buat nyari wanita di luar sana, tentunya yang mau sama aku. Tapi sayang, aku cuma mau kamu doang."


Hampir saja Dina tersedak mendengar perkataan Sammy yang begitu frontal seolah tanpa beban. "Kok aku sih? Jangan bilang kamu jatuh cinta ya sama aku sejak masih ada Maira?"


Sammy tidak menjawab.


"Kok diem? Jadi tebakan aku bener?"


"Mungkin." Jawab Sammy sekenanya.


"Hah? Kok bisa sih? Aku gak cantik loh, bahkan jauh kalau dibandingin sama Maira. Dia wanita sempurna, bahkan Mamah sering memujinya di depanku." Dina menatap Sammy heran.


"Cantik bukan berati aku suka, Dina."


"Hah?"


"Sejak awal yang aku mau itu kamu, bukan Maira." Ucap Sammy dengan lugas.


Dina semakin bingung, tak bisa mencerna perkataan Sammy sepenuhnya. "Maksudnya gimana?"


Sammy menghela napas panjang. "Lupain itu, lanjut makannya." Alibinya. "Sejak awal aku ngajak dinner bukan buat bahas ini. Tapi soal kerjaan." Sammy pun mulai menjelaskan semua peraturan di perusahaan. Khusus untuk Dina, ia dilarang mengenakan pakaian terbuka. Tentu saja Dina tidak keberatan karena itu bukan kriterianya.


Setelah makan, Sammy langsung memboyong Dina ke sebuah butik yang sangat terkenal di kalangan atas.


Duh, ni cowok kenapa bawa aku ke tempat elit terus sih? Bikin risih aja. Batin Dina memasang wajah tak senang.


"Mbak, tolong pilihkan stelan kantor. Jangan yang terlalu terbuka ya?" Pinta Sammy pada sang karyawan.


"Baik, Tuan."


Sammy pun mengajak Dina duduk di sebuah sofa beludru.


"Harus ke tempat ini?" Tanya Dina sembari menilai tempat itu.


Sammy menoleh. "Mama bilang tempat ini yang paling bagus."


"Ya iyalah, harganya juga bagus." Gumam Dina.


"Kenapa?" Tanya Sammy yang tak bisa mendengar ucapan Dina dengan jelas.


Dina tersenyum hambar. "Gak papa."


Keduanya pun terdiam cukup lama. Sampai karyawan tadi pun datang membawa beberapa stel pakaian kantor.


"Silakan dipilih, ini barang terbaik di toko kami."


Sammy bangkit, lalu menilai semua pakaian itu seolah hendak memilih. "Bungkus semu. Oh iya, sekalian juga sama dress terbaru yang ada di sini."


Mendengar itu Dina pun langsung kaget. "Sam, kamu gila ya?"


Sammy menoleh, lalu tersenyum. "Gak perlu khawatir, uang aku gak bakal abis cuma buat beli baju."

__ADS_1


"Huh, sombong." Ketus Dina yang kemudian mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Sammy yang melihat itu tersenyum. Ia sangat senang membuat calon istrinya itu kesal. Dimatanya Dina terlihat lucu ketika memasang wajah sebal seperti saat ini. Dan ia suka itu.


__ADS_2