Naik Ranjang

Naik Ranjang
Robot Gedeg


__ADS_3

Kegiatan belajar bersama menjadi semakin kondusif dengan kedatangan Adrian. Wali kelas yang terkenal tegas itu mampu memberikan pencerahan pada anak didiknya akan soal matematika yang membuat otak mereka buntu. Dengan bahasa sederhana, pria itu menerangkan dengan perlahan langkah-langkah dalam pemecahan soal tersebut. Bahkan penjelasan Adrian lebih masuk dalam otak Roxas, Bobi dan Budi yang notabene selalu berada di klasemen bawah dibanding penjelasan guru matematikanya sendiri.


Walau sepanjang belajar bersama Dewi kerap menunjukkan sikap tak ramah pada wali kelasnya itu, namun dalam hatinya memuji kepiawaian Adrian dalam menerangkan materi yang sulit dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti. Sebenarnya jauh di lubuk hati Dewi, dia mengagumi sosok Adrian. Hanya saja mulut pria itu yang kerap mengeluarkan kalimat menyebalkan, membuat Dewi selalu memendam jauh kekagumannya hingga ke dasar lautan.


Baru satu jam Adrian bersama dengan mereka, tapi kelima anak itu sudah berhasil menyelesaikan soal latihan matematika. Adrian meminta mereka untuk istirahat sejenak, sedang dirinya tengah membuatkan soal untuk pelajaran lain, agar mereka tidak terpaku pada soal latihan saja.


Saat tengah berbincang santai, kelima orang itu dikejutkan dengan masuknya beberapa kendaraan roda dua ke area kontrakan haji Soleh. Kurang lebih ada lima motor yang datang, lalu di belakangnya menyusul dua mobil. Sesuai instruksi para pemuda yang berkumpul di depan kontrakan, mereka memarkirkan kendaraan di dekat gerbang. Mulut Bobi menganga melihat rombongan teman sekelasnya berbondong-bondong mendatangi rumah Dewi.


Dewi tak kalah terkejutnya dengan Bobi. Sungguh dirinya tak menyangka kalau rumahnya akan diserbu oleh anak kelas 12 IPS 3. Namun sesungguhnya yang membuat Dewi terkejut bukannya kehadiran semua temannya, tapi penampilan para siswi yang terkesan lebay.


Para siswi bukan hanya mengenakan pakaian terbaiknya, tapi juga berdandan cetar seperti selebritis dadakan. Wajah Sandra dipoles make up, lengkap dengan bulu mata anti gempanya. Mila juga tak ingin kalah cetar, lipstick merah merona menghiasi bibirnya. Dia terlihat seperti habis makan bayi saja.


Sheila yang aslinya sudah berwajah cantik, semakin terlihat mempesona dengan pakaian yang dikenakannya, ditambah rambutnya dicepol sederhana hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Wulan tak ketinggalan menggambar alisnya seperti ulat bulu. Dewi tak bisa berkata apa-apa melihat teman yang satu gender dengannya berdandan begitu maksimal, seolah ingin menjadi pusat perhatian.


“Assalamu’alaikum,” salam para rombongan.


“Waalaikumsalam,” jawab tuan rumah dan yang lainnya, termasuk Adrian.


Adrian yang sedari tadi serius membuat soal, terkejut ketika mendongakkan kepalanya. Dia tak menyangka semua anak didiknya sudah berkumpul di kediaman Dewi.


“Pak Adrian.. apa kabar pak?” tanya Mila seraya mengedip-ngedipkan matanya.


“Cacingan lo?” tanya Dewi namun tak digubris oleh Mila.


“Bapak kangen saya ngga?” timpal Sandra.


“Kok bapak tambah ganteng sih? Padahal cuma seminggu kita ngga ketemu,” sambung Imas seraya memilin-milin rambutnya.


“Bapak, ngga di sekolah atau di luar sekolah, gantengnya tetap maksimal,” lanjut Weni.


“Boleh ngga kalau di luar sekolah, saya manggilnya mas… eh,” Wulan menutup mulut dengan tangannya sambil terkikik.


Dewi memutar bola matanya, mendengar gombalan receh teman-temannya. Sekilas dia melihat pada Adrian yang tak berkomentar apapun, bahkan tersenyum pun tidak. Membuat Dewi semakin terheran-heran apa yang membuat para gadis itu begitu memuja Adrian.


Heran gue, apa sih yang dilihat dari pak Adrian. Modelan robot gedeg kaya gitu. Untung Adit ngga ada, bahaya kalo mereka lihat Adit. Bisa-bisa ikutan ngantri jadi calon makmum.


Nenden yang mendengar kegaduhan di luar bergegas kelua rumah. Wanita itu pun sama terkejutnya seperti yang lain.


“Eh.. ada teman-temannya, Dewi. Aduh maaf rumahnya sempit begini. Rox, tolong digelar karpetnya di tempat yang teduh.”


Mendengar perintah Nenden, Roxas, dibantu dengan Micky dan Hardi segera menggelar dua karpet yang tadi mereka gulung. Ketiganya mencari lokasi yang terhindar dari sinar matahari. Nenden memanggil Dewi untuk masuk ke dalam rumah sebentar.


"Neng.. kamu ke warung gih, beli minuman dingin. Sirup sama es batunya habis.”


“Iya, bu. Beli apa ya?”


“Apa aja terserah kamu, sama belikan camilan juga. Ibu masih siapin bahan lotek.”


“Iya, bu. Maaf ya bu, Dewi jadi ngerepotin.”


“Ngerepotin apa? Ibu malah senang. Cepat, neng.”


Nenden mengambil dompetnya, kemudian memberikan dua lembar seratus ribuan pada anaknya itu. Dewi memasukkan uang ke dalam saku celananya kemudian kembali keluar rumah.


“Rox.. anterin gue, yuk.”


“Kemana?”


“Ke warung.”


“Panas, Wi.”


“Ah elo mah,” kesal Dewi.


“Ayo sama saja aja. Saya juga mau fotocopy soal,” Adrian berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Dewi.


“Tempat foto caopy di mana?” tanya Adrian lagi.


“Ada di depan. Di pinggir jalan dekat jalan masuk ke sini.”


“Ya udah, ayo.”


Sebenarnya Dewi malas pergi bersama dengan Adrian, namun apa daya sahabat durjananya dan juga teman yang lain enggan mengantarnya. Baru saja Adrian dan Dewi akan pergi, Sandra, Imas dan Wulan bergegas menghampiri.


“Saya ikut ya, pak,” seru Sandra.


“Saya juga, pak,” Imas.


“Kemana bapak pergi, saya ikut,” Wulan.


“Dari pada ikut saya, mending kalian siapkan diri untuk mengerjakan soal latihan. Yang dapat nilai jelek akan mendapat hukuman jalan jongkok keliling kontrakan ini.”


Ketiga gadis itu langsung mengurungkan niatnya hendak mengikuti Adrian begitu mendengar ancaman sang wali kelas. Mereka bergegas menuju karpet dan membuka tas masing-masing, membaca materi pelajaran agar bisa menjawab soal latihan nanti.


“Eh buruan belajar. Kata pak Adrian, yang dapet nilai jelek pas latihan soal disuruh jalan jongkok keliling kontrakan,” ujar Sandra.

__ADS_1


“Hah??? Cius??”


Usep setengah tak percaya mendengarnya. Pemuda itu bergegas membuka tasnya dan mengeluarkan buku-buku yang dibawanya. Setelah memastikan anak didiknya mulai membaca ulang materi pelajaran, pria itu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Segurat senyum tipis tercetak di wajahnya. Lewat ancaman hukuman tadi, dia berhasil menyingkirkan ketiga murid genit yang ingin mengganggu kebersamaannya dengan Dewi.


“Emang benar pak, mau dihukum seperti itu?” tanya Dewi penasaran di sela-sela langkahnya.


“Hmm..”


Hanya itu saja yang keluar dari mulut Adrian, membuat Dewi menyesal telah bertanya. Sia-sia dia menghabiskan energi bertanya pada wali kelasnya itu jika hanya dijawab dengan gumamam saja.


“Kita ke tempat foto copy dulu.”


“Hmm..” balas Dewi.


Keduanya kemudian menuju tempat foto copy yang letaknya tepat di samping jalan masuk menuju kontrakan haji Soleh. Adrian menyerahkan lima lembar soal latihan yang dibuatnya tadi dan meminta masing-masing dicopy sesuai jumlah murid yang ada.


“Mau belanja di mana?” tanya Adrian.


“Di mini mart haji Soleh aja.”


“Di mana tempatnya?”


“Di dekat rumahnya.”


Adrian tak bertanya lagi. Dia mengalihkan pandangannya pada soal yang tengah dicopy. Sepuluh menit kemudian semua soal sudah selesai dicopy, setelah membayar biayanya, mereka segera menuju mini mart haji Soleh.


“Kamu mau beli apa?”


“Disuruh ibu beli minuman dingin.”


“Kamu beli saja gelas plastik, es batu lalu beli sirup atau minuman bersoda.”


“Eh iya, ya. bapak pinter deh.”


“Kalau ngga pinter, ngga akan jadi guru kamu.”


“Ish…”


Dewi hanya mendesis sebal mendengarnya. Gadis itu bergegas mengambil lima buah botol minuman bersoda berwarna merah dan putih, gelas plastik sekali pakai dan juga es batu. Kemudian dia mengambil beberapa camilan yang dirasa cocok untuk menemani kegiatan belajar bersama.


Sementara itu Adrian berjalan menuju box es krim lalu mengambil sejumlah es krim dengan berbagai rasa dari dalamnya dan memasukkan ke dalam keranjang. Kemudian dia menuju etalase yang memajang aneka kue basah dan memasukkan berbagai macam aneka kue ke dalam keranjang belanjaan.


“Udah selesai?” tanya Adrian.


“Udah pak.”


“Di pisah apa disatukan?” tanya Salim karena melihat Adrian dan Dewi membawa keranjang belanja yang berbeda.


“Disatukan saja,” jawab Adrian.


Salim menghitung semua belanjaan seraya memasukkannya ke dalam kantong plastik. Pria itu menyebutkan sejumlah nominal yang harus dibayarkan. Adrian segera mengeluarkan dompetnya dan membayar semua belanjaan. Kemudian dia menyerahkan berkas foto copy pada Dewi, sedang dirinya membawa semua barang belanjaan.


Dewi mengikuti Adrian dari belakang. Sambil berjalan Dewi memperhatikan wali kelasnya itu dari belakang. Otot tangan Adrian terlihat ketika menenteng kantong belanjaan yang cukup berat. Postur tubuh Adrian yang tinggi dan tegap semakin membuat pria itu terlihat gagah. Tanpa sadar Dewi membandingkan penampilan fisik Adrian dan Aditya.


Kalau dari muka, sebelas dua belas lah sama Adit. Tapi Adit lebih manis karena ada lesung pipi. Cuma kalau dari postur, ya jelas gagah pak Adrian sih. Sebenernya pak Adrian tuh paket lengkap, udah ganteng, gagah, pinter lagi. Ish apaan sih, kenapa gue jadi muji si robot gedeg. Amit-amit… amit-amit..


“Kamu ngapain jalan di belakang saya? Udah kaya tukang kuntit aja. Sini..”


“Iya.. iya..”


Dewi mempercepat jalannya untuk mensejajarkan langkahnya dengan sang wali kelas. Sementara Adrian sengaja melambatkan gerakan kakinya agar Dewi bisa menyusulnya. Setelah posisi mereka sejajar, keduanya kembali berjalan menuju kontrakan Dewi.


“Kamu ada cium bau ngga enak?”


“Bau apa pak?” Dewi mengendus-enduskan hidungnya, mencoba mencari bau apa yang dimaksud.


“Kamu tadi sengaja jalan di belakang karena mau kentut kan?”


“Enak aja!” sewot Dewi dengan mata melotot.


“Ngga usah malu gitu. Saya dengar tadi suaranya walau kecil,” Adrian terus saja menggoda Dewi.


“Mana ada! Bapak jangan fatonah ya,” Dewi semakin kesal. Siapa juga yang tidak keki bin kesal dituduh melakukan kejahatan tak kasat mata.


“Saya ngga fatonah, tapi faktonah,” balas Adrian tak kalah absurd.


“Ngga, bapak iihhh… suer ngga.. bapak salah denger kali.”


“Masa?”


“Iya benar.. bapak salah dengar. Kapan juga saya…”


TUUUT


Sebuah suara pelan terdengar dari bokong Dewi. Gadis itu saking kagetnya sampai berhenti berjalan, begitu pula dengan Adrian. Dia menolehkan kepalanya pada Dewi yang wajahnya sudah memerah karena malu. Di tengah penyangkalannya akan fitnah yang dilancarkan oleh Adrian. Dengan tidak tahu malu dan tanpa permisi, bokongnya malah menembakkan dentuman yang frekuensinya rendah namun bisa terdengar dengan jelas. Dan efeknya itu jelas sangat luar biasa, karena berhasil meluluh lantakkan harga diri seorang Dewi Mantili.

__ADS_1


“Itu suara apa?” tanya Adrian dengan wajah dibuat sepolos mungkin.


“Bapak nyebelin!” Dewi segera ngacir dari hadapan Adrian. Berlari kencang meninggalkan wali kelasnya itu yang tengah terpingkal.


🌸🌸🌸


Setelah menunaikan shalat dzuhur berjamaah di masjid dekat rumah haji Soleh. Adrian membagikan soal latihan yang dbuatnya. Dia mengatur posisi duduk para muridnya, sehingga kecil kemungkinan untuk saling berbagi jawaban.


Dengan bersungguh-sungguh murid kelas 12 IPS 3 yang telah berpindah kegiatan belajarnya ke rumah Dewi mengerjakan soal yang dibuat oleh Adrian. Karena ancamannya tadi, semua murid benar-benar membaca materi dan bisa menjawab soal dengan mudah karena takut terkena hukuman.


Dewi sendiri selama mengerjakan soal tak berani melihat pada Adrian. Rasa malunya belum habis akibat insiden kentut yang lolos tiba-tiba. Gadis itu selalu menghindari bersitatap dengan wali kelasnya itu. Bahkan ketika menyerahkan lembar soal yang telah terisi, dia memilih menundukkan kepalanya.


Adrian membagikan soal secara acak. Dia akan membahas jawaban soal satu per satu dan para murid memeriksa lembar jawaban soal yang diberikan. Ternyata hasil latihannya cukup memuaskan. Tidak ada yang mendapat nilai di bawah enam. Usai membahas soal, Adrian juga memberikan tips bagaimana cara belajar yang efektif. Termasuk bagaimana caranya menghafal teori dengan cepat.


Kegiatan belajar bersama ini diakhir dengan bincang santai. Tema perbincangan membahas tentang acara yang akan ditampilkan kelas 12 IPS 3 saat perpisahan nanti. Dia juga menanyakan perkembangan Ngadadak Band dan kesiapan mereka untuk tampil nantinya. Selanjutnya sisa perbincangan diisi dengan kesan selama berada di kelas 12 IPS 3. Pada sesi ini, Adrian hanya menjadi pendengar saja.


Selepas ashar, akhirnya kegiatan belajar bersama berakhir. Rombongan mulai meninggalkan kediaman Dewi, menyisakan Roxas, Micky, Hardi, Bobi dan Budi yang masih membantu membereskan barang-barang dan membersihkan sisa-sisa sampah. Adrian juga tak segan untuk membantu, yang semakin menambah nilai plus pria itu di mata para muridnya.


“Kalian latihan taekwondo kan?” tanya Adrian pada Roxas dan Dewi.


“Iya, pak,” jawab Roxas.


“Bagaimana dengan kamu?” Adrian melihat pada Dewi.


“Iya, pak,” jawab Dewi dengan mata menatap lantai.


“Memang yang bertanya ada di bawahmu sampai kamu melihat ke bawah terus?” tegur Adrian.


“Iya, pak,” Dewi menyingkirkan segenap rasa malunya lalu melihat pada Adrian.


“Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Kamu ikut saya saja,” Adrian kembali melihat pada Dewi.


“Iya, pak,” jawab Dewi pasrah.


Dewi masuk ke dalam rumah untuk memanggil ibunya. Tak lama Nenden keluar dari rumah. Teman Dewi yang tersisa segera berpamitan pada wanita itu dan hanya menyisakan Roxas serta Adrian. Dewi keluar dengan tas berisi dobok, handuk, pakaian ganti dan peralatan mandi.


“Bu.. Dewi mau latihan taekwondo dulu,” Dewi mencium punggung tangan ibunya disusul oleh Roxas.


“Ibu, saya pamit. Terima kasih untuk semuanya dan maaf sudah merepotkan.”


“Sama sekali ngga, pak. Saya yang harusnya berterima kasih.”


“Saya permisi dulu. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Adrian segera menuju mobilnya disusul oleh Dewi. Roxas pergi menuju dojang dengan menggunakan motornya. Pemuda itu pergi lebih dulu meninggalkan area kontrakan haji Soleh. Tak lama kemudian kendaraan milik Adrian bergerak maju.


🌸🌸🌸


Adrian yang sudah mengenakan dobok berdiri di hadapan kedua muridnya. Dewi dan Roxas juga nampak siap mengikuti latihan hari ini. Terakhir, keduanya telah mempelajari teknik chagi atau tendangan. Ada banyak teknik dalam tendangan, dan mereka baru mempelajari empat teknik.


“Sebelum melanjutkan teknik chagi selanjutnya. Saya mau kalian memperagakan kembali semua jurus yang sudah dipelajari. Mulai dari seogi, jireugi dan teknik chagi yang sudah dikuasai. Bersiap!”


Dewi dan Roxas langsung menunjukkan sikap sempurna. Keduanya menundukkan kepalanya di hadapan Adrian dan dibalas hal yang sama oleh pria itu. Dewi dan Roxas mulai memperagakan jurus yang sudah dikuasai. Mereka memperagakan gerakan kuda-kuda atau seogi yang dilanjut dengan jireugi atau pukulan. Kini giliran mereka memperagakan gerakan menendang.


“Ap Chagi!” Dewi dan Roxas bergerak menendang ke depan dengan menggunakan kaki depan, sesuai instruksi Adrian.


“Dollyo chagi!” Dewi dan Roxas menendang dengan menggunakan punggung kaki.


“Yeop chagi!” keduanya melakukan tendangan samping menggunakan pisau kaki.


“Dwi chagi!” Dewi dan Roxas melakukan gerakan menendang ke belakang.


“Sekarang kita akan belajar tendangan sambil melompat. Perhatikan baik-baik.”


Adrian berada dalam posisi siap, kemudian pria itu melakukan tendangan ke depan sambil melompat, dilanjut dengan tendangan ke belakang sambil melompat dan terakhir menendang ke samping sambil melompat.


“Itu adalah jurus twieo ap chagi, twieo dwi chagi dan twieo yeop chagi. Ayo ikuti gerakan saya!”


Dewi dan Roxas mengikuti gerakan yang diperagakan oleh Adrian. Beberapa kali mereka gagal melakukannya dengan benar, namun dengan sabar Adrian membimbing mereka. Bergantian Roxas dan Dewi memperagakan, tak jarang Adrian membenarkan posisi kaki mereka saat melakukan lompatan atau tendangan.


“Ok.. cukup latihan hari ini. Silahkan beristirahat, jangan lupa bersihkan tubuh kalian. Jangan terlalu lama, karena waktu maghrib tidak lama.”


Adrian segera pergi meninggalkan kedua muridnya itu. Dia segera menuju lantai tiga untuk membersihkan diri. Roxas dan Dewi memilih untuk beristirahat lebih dulu. Sejatinya hari ini mereka benar-benar lelah karena tak henti beraktivitas sejak pagi. Setelah dirasa keringat di badan sudah mengering, barulah mereka beranjak menuju lantai tiga.


🌸🌸🌸


**Gimana part Adrian sudah puas?


Kalau belum, tenang.. Besok pak guru ganteng tetap hadir. Sebelum baca, mandi dulu, biar ngga ileran dan bau jigong✌️🤣


Jangan lupa sarapan. Kalau sarapannya baca NR doang, dijamin para cacing langsung demo berjamaah🤣


Oh iya soal usul pake bahasa Indo tanpa bahasa Sunda, sebenarnya bahasa Sunda itu hanya selipan saja untuk lebih menghidupkan novel ini supaya dapet feelnya kalau ceritanya ada di tanah pasundan. Selain itu, biar percakapan tidak terkesan kaku. Lagi pula ada terjemahannya kan. Jadi bisa sambil belajar bahasa daerah lain juga, buat nambah ilmu😉

__ADS_1


Anyway, makasih buat usulannya🙏**


__ADS_2