
Dewi membereskan pakaian Nenden dan juga barang lainnya lalu memasukkan ke dalam tas. Tak lupa gadis itu membawa obat-obatan yang harus diminumnya nanti. Setelah dua minggu dirawat di rumah sakit, akhirnya Nenden diperbolehkan untuk pulang. Selain dirinya, ada pula Aditya dan Roxas yang membantu.
“Wi.. lo pulang naik taksi online aja,” seru Roxas.
“Iya,” jawab Dewi sambil memasukkan sisa-sisa barang ke dalam tas.
TOK
TOK
TOK
Semua yang ada di ruangan menolehkan kepalanya ke arah pintu. Nampak Adrian berdiri di sana. Pria itu tahu kalau hari ini Nenden diperbolehkan pulang. Dirinya berinisiatif untuk menjemput calon mertua adiknya itu.
“Eh nak Rian.”
“Apa semuanya sudah siap?”
“Abang sengaja ke sini mau jemput ibu?” tanya Roxas yang hanya dijawab dengan anggukan.
“Ngapain? Ngga usah repot-repot.”
“Bukan kamu yang saya antar pulang, tapi ibu. Saya ngga butuh jawaban darimu.”
Tanpa mempedulikan jawaban Dewi, Adrian mengambil tas yang sudah siap di atas bed. Dia juga membantu Nenden untuk turun. Di saat bersamaan, Aditya masuk ke dalam kamar. Dia baru saja menyelesaikan pembayaran rumah sakit.
“Baru datang, bang?”
“Iya. Sudah selesai?”
“Sudah.”
“Mari, bu. Saya antar pulang.”
“Terima kasih.”
Sambil membimbing Nenden, Adrian keluar dari kamar. Roxas bantu membawakan tas yang tadi dibereskan oleh Dewi. Pemuda itu bergegas menyusul Adrian yang sudah keluar lebih dulu. Kini hanya tinggal Aditya dan Dewi saja.
“Kamu yang minta kakakmu ke sini?” tanya Dewi.
“Iya.”
“Kenapa sih harus dia? Aku sama ibu bisa pulang naik taksi online.”
“De.. kamu kenapa sih? Kamu kenapa kayanya benci banget sama abangku? Apa yang udah abang lakuin ke kamu? Atas namanya aku minta maaf, tapi please jangan benci dia. Kamu tahu kalau aku sayang banget sama dia. Kalau kamu emang sayang aku, setidaknya kamu harus bisa menerimanya juga sebagai kakakmu.”
“Aku emang sayang kamu. Tapi soal abang kamu lain cerita. Iya, aku benci banget sama dia. Di mataku dia itu ngga lebih dari cowok arogan, egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Maaf aku ngga bisa anggap abang kamu sebagai kakakku juga.”
“Oke kalau itu maumu. Aku ngga akan maksa.”
Aditya keluar dari kamar dengan perasaan kecewa. Tapi dia juga tidak bisa memaksa Dewi untuk bersikap baik pada sang kakak. Pemuda itu terus berjalan, meninggalkan Dewi di belakang. Di pelataran parkir, dia melihat Roxas memasukkan tas ke dalam mobil.
“Dewi mana?” tanya Roxas.
“Di belakang. Abang tolong anterin ibu ke rumah, ya. Aku pergi duluan, masih ada urusan.”
“Kamu mau kemana?”
“Mau ketemu Fay dulu. Bu, aku pergi dulu ya.”
Setelah mencium punggung tangan Nenden, Aditya segera pergi dari sana. Tak dipedulikannya tatapan Dewi padanya. Hatinya masih kesal dengan jawaban Dewi tadi. Dia memang menyayangi Dewi, tapi melihat sikap kasar gadis itu pada sang kakak tak ayal membuat hatinya terluka. Jika sekali dua kali dia masih bisa menahan. Tapi sudah beberapa kali Dewi selalu menunjukkan sikap kasar pada Adrian. Kali ini Aditya tidak bisa menahannya lagi.
“Ayo, Rox,” ajak Dewi.
“Ayo kemana? Gue mau ke hotel. Lo ikut mobil bang Rian aja.”
“Ck.. elo mah.”
“Dewi.. ayo masuk, nak.”
Suara Nenden menghentikan perdebatan kedua sahabat itu. Dengan enggan Dewi naik ke mobil Adrian lalu mendudukkan diri di kursi depan. Setelah memakai seat belt-nya, barulah Adrian menjalankan kendaraannya.
Dari kursi belakang, Nenden memandangi Adrian yang tengah menyetir. Pria itu nampak begitu tenang, namun siapa yang tahu kegundahan hati yang melandanya. Wanita itu teringat perbincangannya dengan Adrian beberapa hari yang lalu. Di saat Dewi sedang pulang, Adrian datang menjenguknya.
“Terima kasih, selama ini nak Rian sudah banyak membantu ibu.”
“Sama-sama, bu. Yang penting ibu cepat sehat. Jangan banyak pikiran, ingat ada Dewi yang masih membutuhkan ibu.”
“Terima kasih. Kamu perhatian sekali. Ibumu pasti bahagia memiliki anak-anak yang baik sepertimu dan juga Adit. Andai ibu punya dua anak perempuan, mungkin sudah ibu jodohkan dengan kalian berdua.”
Adrian melemparkan senyum tipis. Nenden sengaja mengatakan hal tersebut, dia ingin tahu bagaimana perasaan Adrian sebenarnya pada Dewi. Sebagai seorang ibu, instingnya mengatakan baik Adrian atau Aditya sama-sama menyukai putrinya. Dan dia juga tahu kalau Adrian tengah memendam lukanya.
“Ibu sudah mendapatkan Adit.”
“Iya. Adit anak yang baik, dia juga sangat menyayangi Dewi. Ibu bersyukur dia selalu ada di samping Dewi, selain Roxas. Lalu bagaimana dengan perasaanmu?”
“Maksud ibu?”
“Ibu tahu apa yang kamu rasakan pada Dewi. Begitu pula Dewi, dia merasakan hal yang sama padamu. Tapi…”
Perkataan Nenden terhenti, dia tak sanggup mengatakan kalau cinta keduanya kandas karena kehadiran Aditya. Adrian menarik nafas dalam-dalam. Dia mendekati Nenden kemudian memegang kedua tangannya.
“Saya minta maaf kalau sudah menyakiti Dewi. Saya sudah bersikap pengecut dengan tidak mengakui perasaan sendiri. Wajar kalau Dewi membenci saya. Tapi di sisi lain, saya senang kalau akhirnya Dewi bisa bersama dengan Adit. Karena sejak awal, perasaan Dewi memang untuknya, bukan saya. Ibu tidak usah khawatir, saya jamin, Aditya akan bisa membahagiakan Dewi. Ibu hanya perlu mendukungnya saja.”
“Apa dirimu baik-baik saja?”
“Bohong kalau saya bilang semua baik-baik saja. Tapi ini keputusan yang saya ambil. Apapun resikonya, saya akan menanggungnya.”
“Dewi sepertinya sangat membencimu.”
“Tidak apa. Kalau rasa benci itu bisa membuatnya menjadi kuat dan mencintai Adit, saya akan menanggungnya.”
“Terbuat dari apa hatimu ini, Rian?”
__ADS_1
Tangan Nenden terulur mengusap rahang Adrian. Air di pelupuk matanya mulai menggenang. Perlahan buliran bening itu mengalir membasahi pipinya.
“Adit.. sejak kecil tidak pernah mendapatkan perlakuan adil dari papa. Dan sayalah penyebab itu semua. Apa yang saya lakukan sekarang, anggap saja itu untuk mengembalikan apa yang dulu pernah saya rebut darinya. Ibu tidak usah khawatir, saya baik-baik saja.”
Adrian menepuk pelan punggung tangan Nenden. Untuk sesaat suasana menjadi hening. Nenden mengusap airmata yang membasahi pipinya. Adrian melepaskan pegangan tangannya dari Nenden, kemudian mengambil sesuatu dari saku jaketnya.
“Ibu.. ini ada sedikit rejeki untuk membantu melunasi biaya rumah sakit.”
“Tidak usah, nak. Tolong jangan seperti ini. Ibu malu menerimanya.”
“Tolong diterima, bu. Ibu masih butuh biaya untuk berobat jalan nantinya. Ini tidak banyak, tapi semoga bisa sedikit meringankan. Dan tolong, jangan sampai Dewi tahu soal ini.”
Adrian menaruh amplop coklat ke tangan Nenden. Kerongkonan Nenden serasa tercekat menerima banyak kebaikan dari Adrian. Segurat senyum tipis tercetak di wajah Adrian, memaksa Nenden untuk menerima pemberiannya.
“Bu.. sudah sampai.”
Nenden tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara Dewi. Wanita itu segera bersiap untuk turun. Dewi membukakan pintu untuknya kemudian membantunya turun. Adrian mengambil tas yang ada di jok belakang lalu mengantarkannya ke rumah Dewi. Di sana, bu Farah, Amel dan yang lainnya sudah menunggu untuk menyambut kedatangan Nenden.
“Selamat datang kembali bu Nenden,” sambut Farah.
“Terima kasih, bu.”
Sambil membimbing Nenden, Farah beserta yang lainnya masuk ke dalam rumah. Setelah memberikan tas kepada Dewi, Adrian langsung pamit pulang. Dewi hanya memandangi punggung Adrian yang berjalan menjauh.
Jangan terlalu baik padaku. Atau aku akan jatuh cinta lagi padamu. Jika itu terjadi, maka Adit yang akan terluka. Biarkan aku membencimu dan belajar mencintai Adit. Terimalah kebencianku sebagai hukuman untukmu.
🌸🌸🌸
“Dit..”
Kepala Adrian melongok ke dalam kamar sang adik. Nampak Aditya tengah duduk menyandar ke headboard ranjang, dengan buku dan pensil di tangannya. Adrian masuk kemudian membaringkan tubuhnya di sisi Aditya.
“Ngga ke kontrakan?”
“Nantilah. Aku lagi beresin lagu.”
“Lagu? Udah ada?”
“Udah bang. Tapi baru tiga. Belum dikasih judul semua, hehehe…”
“Coba bawain. Siapa tahu abang bisa kasih usul judulnya.”
“Wah boleh juga tuh.”
Aditya menaruh buku dan pensil di atas meja. Dia lalu mengambil gitarnya dan mulai memainkan lagu ciptaannya. Dengan seksama Adrian mendengarkan ketiga lagu yang berhasil digubah oleh sang adik. Dua berirama lambat, dan satu berirama sedang. Tapi ketiga lagu itu menceritakan tentang kegalauan hati.
“Kok liriknya galau semua?”
“Hehehe… pas buat yang lagi patah hati.”
“Abang suka yang agak cepat iramanya. Kalau itu dijadiin single pertama kayanya bagus.”
“Masa? Tapi aku belum kasih judul.”
“Ehmm.. kira-kira apa ya judulnya?”
Terdengar suara Pipit dari balik pintu. Ternyata sedari tadi tante kedua pria itu mendengarkan diam-diam. Wanita berusia 28 tahun itu masuk kemudian duduk di dekat Adrian. Dia mendorong tubuh Adrian agar memiliki area yang cukup untuk duduk.
“Tante dengar barusan?”
“Huum.. kan ada kata terbangnya tuh. Itu aja judulnya.”
“Udah banyak lagu pake kata terbang. Yang lain napa.”
“Ck.. kamu pikir aja sendiri.”
Pipit kembali mendorong tubuh Adrian, lalu membaringkan diri di dekat keponakannya itu. Dia melihat pada Aditya untuk kembali menyanyikan lagu untuknya. Untuk sesaat Aditya hanya memainkan gitarnya saja, tanpa menyanyi.
“Nyanyi, Dit.”
“Nyanyi apa, tan?”
“True love tapi yang lagu Jepang. Kamu tau kan?”
“Astaga, umur emang ngga bisa dibohongin. Lagu jadul gitu masih inget aja.”
“Apa kamu bilang.”
Pipit mengambil bantal lalu memukulkannya ke badan Aditya. Adrian hanya terpingkal saja melihatnya. Setelah mendengar kata ampun dari sang keponakan, barulah wanita itu berhenti. Adit berdehem sebentar kemudian mulai memetik gitarnya. Menyanyikan lagu True Love milik Fumiya Fuji, yang menjadi soundtrack dorama Jepang, Ordinary People.
“Furikaeru to itsumo kimi ga, waratte kureta. Kaze noyomi soto..”
“Soto ayam, soto Madura, soto babat, Betawi..” sambung Pipit.
“Haiiissshhh.. tante ngerusak lagu aja nih,” gerutu Aditya. Dia menghentikan permainan gitarnya.
“Hahahaha… dasar ambekan. Ayo mulai lagi.”
Aditya terpaksa mengulang lagu tersebut, gara-gara Pipit mengganggu konsentrasinya tadi. Dia kembali memetik gitarnya. Ini adalah lagu pertama yang dipelajarinya ketika bermain gitar. Pelaku utamanya sudah tentu sang tante yang memaksanya memainkan lagu tersebut.
“Furikaeru to itsumo kimi ga, waratte kureta. Kaze noyomi soto. Mabushi sugite me o tojite mo ukande kuruyo. Namida ni kawatteku. Kimi dake o shinjite, kimi dake o kizutsukete. Bokura wa itsumo haruka haruka tooi mirai o yume miteta hazusa.”
Mata Adrian memandang lurus ke langit-langit kamar. Lagu yang dinyanyikan Aditya, walau judulnya adalah True Love, tapi menyiratkan kesedihan di dalamnya. Cinta yang menorehkan luka untuk orang yang dicintainya. Seperti dirinya yang telah menorehkan luka di hati Dewi. Gadis yang begitu dicintainya.
“Tan.. Roxas gimana sekarang?” tanya Aditya setelah lagu yang dinyanyikannya usai.
“Ah jangan ngomongin tuh bule karbitan. Pusing pala tante.”
“Kenapa emangnya?”
“Heh.. Ad.. teman kamu si Mahes, gila tuh orang.”
“Kenapa gitu?”
__ADS_1
“Masa dia punya ide mau jadiin si Roxas brand ambassador hotel Amarta.”
“Hah?? Serius??”
Mata Aditya membelalak mendengarnya. Adrian yang tengah tiduran juga sampai menegakkan tubuhnya. Pipit merubah posisi berbaringnya menjadi menyamping, menghadap pada kedua keponakannya. Kemudian menggunakan sebelah tangannya sebagai penyangga kepala.
“Hem.. katanya, muka Roxas yang bule itu cocok dijadiin brand ambassador. Okelah untuk itu tante setuju. Tapi.. dia kan ngga bisa bahasa Inggris, bisanya bahasa Sunda, itu dinilai kelebihan dia. Katanya jarang-jarang ada muka bule bisa ngomong Sunda. Makanya dia mau angkat Roxas jadi BA. Anggap aja itu salah satu cara hotel Amarta selaku hotel bertaraf internasional tapi tetap dengan mengusung kearifan lokal.”
“Bhuahahaha…”
Tawa Adrian dan Aditya terdengar bersamaan. Pipit yang sudah bisa menebak reaksi kedua keponakannya, hanya membalasnya dengan cengiran saja. Wanita itu kembali pada posisi semula. Kini kedua tangannya dijadikan penyangga kepalanya.
“Tapi ide Mahes itu benar, tan. Mana ada hotel yang BA nya modelan Roxas,” ujar Adrian.
“Iya, tante setuju. Tapi ya ampun, masa dia ngga bisa speaking English banget sih. Ad.. kamu kan pernah jadi gurunya. Masa kamu ngga bisa ngajarin dia sih.”
“Kalau belajar bahasa, selain kemampuan, juga ada bakat, tan. Masalahnya dia ngga bakat ngomong bahasa bule. Dari kecil katanya udah diajarin bahasa Sunda sama ibu dan eninnya. Atau coba tante yang ajarin deh.”
“Ogah.. bisa bengek tante ngajarin dia.”
“Heleh.. bilang aja tante takut tersepona sama dia,” goda Aditya.
“Mana ada!”
“Tan… tipenya Roxas tuh cewek-cewek mateng kaya tante loh,” Aditya menaik turunkan alisnya. Dia semakin senang saja menggoda tantenya ini.
Pipit segera bangun dari tidurnya. Jika sudah begini, sebaiknya dia menyingkir saja. Jahilnya Aditya sudah mulai kumat dan bisa jadi dirinya akan menjadi bulan-bulanan keponakannya itu. Saat wanita itu akan keluar dari kamar, dia menoleh sejenak pada kedua keponakannya.
“Kalau kita jadian, emangnya kalian mau manggil dia dengan sebutan om?”
Wanita itu menjulurkan lidahnya kemudian keluar dari kamar. Adrian dan Aditya saling berpandangan. Kompak kepala keduanya menggeleng dengan cepat. Memanggil Roxas dengan sebutan om, baru membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk berdiri.
“Abang ngga mau ya manggil Roxas, om.”
“Aku juga ngga mau, bang. Tapi kalau mereka jodoh gimana? Jodoh kan ngga ada yang tau.”
“Kalau sampe kejadian. Kita panggil aja, orox.”
“Orox?”
“Iya, orox alias om Roxas.”
“Bhuahahaha… anjiirrr jelek banget tuh panggilan.”
“Hahahaha…”
Suara tawa kedua kakak adik yang cukup keras itu sampai terdengar keluar kamar. Pipit menolehkan kepalanya ke arah kamar Aditya. Dia yakin sekali kalau kedua keponakannya itu tengah bergibah tentangnya juga Roxas.
Dasar keponakan durhakim.
🌸🌸🌸
TOK
TOK
TOK
Pintu ruangan Mahes terketuk. Setelah terdengar suara pria itu dari dalam, pintu ruangan terbuka. Dari baliknya muncul Yulita. Wanita itu berjalan menghampiri meja kerja Mahes. Pria yang juga teman masa kuliahnya itu sejenak memandangi dirinya.
“Halo, Ta.. baru sekarang ya kita bertatap muka seperti ini.”
“Iya.”
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik.”
“Silahkan duduk.”
Yulita menarik kursi di depan meja kerja Mahes, kemudian mendudukkan diri di sana. Mahes menghentikan sejenak pekerjaannya dan mulai fokus pada Yulita. Matanya terus memindai wajah cantik teman kuliahnya ini. Terakhir mereka bertemu tiga tahun yang lalu, dan kini wanita di depannya ini semakin bertambah cantik saja.
“Ada apa ke sini?”
“Saya dengar dari bu Susan, bapak menugaskan saya untuk merubah penampilan Roxas.”
“Iya.”
“Kenapa saya?”
“Apa saya punya pilihan lain? Saya dengar hubunganmu dengannya juga cukup dekat. jadi wajar saja kalau saya memintamu. Roxas akan lebih nyaman dan akan mendengarkan semua saranmu.”
“Baiklah kalau itu perintah bapak. Saya permisi dulu.”
Yulita bangun dari duduknya. Bersamaan dengan itu, Mahes juga berdiri. Dia berjalan keluar dari meja kerjanya. Sebelum Yulita mencapai pintu, pria itu lebih dulu menahan tangannya.
“Ta..”
“Apa masih ada yang ingin disampaikan?”
“Kamu… baik-baik aja?”
“Maksud bapak?”
“Tidak ada. Silahkan keluar. Tolong pastikan penampilan Roxas lebih baik lagi mulai sekarang. Waktu kalian tinggal satu bulan lagi.”
“Baik, pak.”
Wanita itu menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari ruangan tersebut. Mahes masih terdiam di tempatnya. Sungguh dirinya tidak menyangka kalau Yulita bekerja di hotel ini. Dadanya hampir meledak begitu tahu wanita yang pernah berpacaran dengannya selama setahun ternyata bekerja di hotel milik mertuanya. Dia juga baru tahu kalau Aditya, adik dari Adrian bekerja di hotel ini atas rekomendasi Yulita. Begitu pula dengan Roxas.
Yulita.. apa kamu masih mencintai Adrian? Apa kamu masih mengharapkannya? Sepertinya hubungan kita dulu tidak ada artinya bagimu. Kamu begitu dingin menatapku. Apa aku tidak pernah ada di hatimu?
🌸🌸🌸
__ADS_1
**Ternyata eh ternyata, Yulita pernah pacaran sama Mahes🙊
Orox.. Keren ngga tuh?🤣**