
Dengan tubuh terbungkus selimut, Mahes dan Ara duduk menyandar ke headboard ranjang. Ara merebahkan kepalanya di dada Mahes. Dulu saat sekolah dan kuliah, dia tidak pernah bisa mendapatkan Mahes. Siapa sangka ternyata sekarang pria itu tergila-gila dengan tubuhnya. Walau statusnya hanya wanita pemuas saja. Tapi setidaknya sekarang Mahes masuk dalam daftar pria yang tergila-gila padanya.
Sekilas dia melihat pada Mahes yang tampak melamun. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Wanita itu mengeratkan pelukannya di tubuh Mahes, membuat sang empu terjaga dari lamunannya.
“Apa yang kamu pikirkan?”
“Manda…”
“Kenapa Manda?”
“Dia hamil."
“What?”
Ara cukup terkejut mendengar kabar Amanda hamil. Dia memang sudah tahu hubungan Amanda dengan Mahes. Tapi tidak menyangka saja kalau wanita muda itu sampai berbadan dua. Kalau Indira tahu Amanda hamil anak Mahes, entah apa yang akan dilakukannya. Kadang orang pendiam itu lebih menakutkan jika sudah marah.
“Kepalaku pusing memikirkannya. Apa aku suruh dia aborsi aja?”
“Dia ngga akan mau. Lagi pula aku yakin kalau dia sengaja hamil untuk mengikatmu. Dari awal dia memang ingin memilikimu, bukan hanya sekedar jadi kekasih gelap. Kalau Indira tahu, posisimu bisa terancam.”
“Itulah yang aku pikirkan. Sial.. sial.. sial..”
“Kamu ngga usah pusing. Biar aku yang bicara pada Manda. Akhir minggu ini ada pergantian BA, kan? Aku akan bicara padanya.”
“Kamu mau bicara apa?”
“Suruh dia menghilang sementara sampai anaknya lahir. Supaya Indira tidak curiga dengan keberadaannya. Apalagi tugasnya sebagai BA sudah selesai. Indira pasti curiga kalau dia terus mendatangimu.”
“Kamu benar. Makasih ya, Ra. Aku harap kamu bisa bujuk dia. Kalau berhasil, aku bakal kasih bonus buat kamu.”
“Makasih, sayang.”
Ara mengangkup wajah Mahes kemudian mendaratkan ciuman ke bibir pria itu. Mahes segera menahan tengkuk Ara, agar ciuman mereka berlanjut dan semakin intens. Tangan Mahes pun sudah tidak terkontrol lagi. Sepertinya pria itu akan melanjutkan pergulatan panas mereka ke ronde kedua.
🌸🌸🌸
“Sayang… gimana?”
Aditya merentangkan tangannya, memperlihatkan outfit yang dikenakannya. Malam ini The Soul akan tampil di acara pergantian Brand Ambassador Amarta hotel. BA baru sudah terpilih, Roxas dan Amanda bertugas menyerahkan tanggung jawab mereka pada BA terpilih.
“Cucok markucok. Suamiku gantengnya pol,” Dewi mengangkat kedua jempolnya.
“Bisa aja kamu sayang, mmuuaacchhh..”
Aditya mencium kedua pipi chuby istrinya. Kemudian dia juga mencium pipi Arkhan yang juga bulat seperti bapao. Diambilnya Arkhan dalam gendongan Dewi, kemudian mengajaknya bermain sebentar. Dirinya menunda waktu keberangkatan 10 menit lagi demi bisa bermain dengan buah hatinya lebih lama.
“Awas nanti terlambat, mas.”
“Ngga kok, tenang aja. Aku masih kangen sama jagoanku. Arkhan kangen kan sama papa? Seminggu ini papa banyak kerjaan, jadi jarang main sama Arkhan ya. Besok kita jalan-jalan ya? Berenang mau?”
Walau belum mengerti apa yang papanya katakan, Arkhan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja seraya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. Usia Arkhan sekarang sudah enam bulan. Dia juga sudah bisa mengkonsumsi makanan lain selain asi. Aditya juga sudah berani mengajaknya berenang sesekali.
“Kamu sama Arkhan ngga mau ikut aja ke hotel? Lihat aku manggung?” kembali Aditya mengajukan pertanyaan yang sama sejak tadi siang.
“Ngga, mas. Besok kan kita mau berenang. Kalau Arkhan ikut terus pulang malem tar sakit lagi. Ngga jadi berenang dong.”
“Iya juga. Oke deh. Arkhan, papa berangkat dulu ya. Jangan nakal di rumah.”
“Iya, papa,” jawab Dewi sambil menirukan suara anak kecil. Aditya menyerahkan Arkhan pada Dewi kembali.
“Aku berangkat dulu ya, sayang.”
“Iya, mas.”
Dewi meraih tangan Aditya kemudian mencium punggung tangannya. Aditya mencium kening dan bibir Dewi sekilas. Dia mengambil jaket dan helm, kemudian mengenakannya. Dewi ikut mengantar sampai ke depan teras.
“Nanti kalau Roxas telepon, angkat ya. Assalamu’alaikum.”
“Iya, mas. Waalaikumsalam. Dadah papa…” Dewi menggerakkan tangan Arkhan melambai pada Aditya.
“Dadah sayang.”
Masih menggunakan tunggangan warisan Adrian, Aditya meluncur pergi. Dewi masih berada di tempatnya, sampi kendaraan roda dua tersebut keluar dari area kontrakan haji Soleh. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam rumah.
🌸🌸🌸
Keriuhan dan kemeriahan begitu terasa di ballroom Amarta hotel. Perayaan penobatan brand ambassador tengah berlangsung. Pemilihan BA baru memang molor beberapa bulan karena kesibukan manajemen memperluas hotel mereka. Setelah Roxas dan Amanda menyerahkan tugas sebelumnya pada penerus mereka, acara hiburan segera ditampilkan untuk semua undangan yang datang. The Soul didapuk sebagai bintang tamu utama di acara ini.
Tamu undangan yang datang lebih banyak didominasi kawula muda. Kehadiran The Soul menjadi daya tarik utama kawula muda datang ke acara ini. Band yang digawangi oleh Aditya, Roxas, Rivan, Rangga dan Fay memang tengah naik daun. Tiga buah single mereka sukses berseliweran di televisi dan juga media sosial.
Apalagi baru-baru ini mereka baru saja meluncurkan dua video klip secara bersamaan. Langsung saja keduanya mendapat jutaan viewers di utube. Popularitas The Soul sekarang benar-benar tengah berada di puncak. Padahal baru satu tahun lalu mereka go public. Mungkin ini bayaran atas perjuangan mereka merangkak dari bawah.
__ADS_1
Semua penggemar The Soul langsung merangsek maju. Mereka berkumpul di depan panggung, saat sang personil masih menyiapkan alat mereka. Banyak yang mengelu-elukan nama personil bergantian. Dan di antara para Soulers, sebutan untuk fans The Soul, nampak Dita ada berada di antara mereka.
Sejak The Soul masih band biasa yang mengisi acara di café atau panggung musik di sekolah dan kampus, dia memang sudah menjadi fans setia. Bahkan dia tak pernah absen datang ke Red Kingdom café untuk menonton pertunjukkan The Soul. Personil favoritnya tentu saja Aditya. Dari awal hanya mengagumi biasa sampai akhirnya wanita itu benar-benar jatuh cinta pada sang vocalis.
Dita tak pernah menyangka akan bertemu dengan Aditya di kediaman Adrian. Hampir saja dia meloncat dan memeluk pria tampan itu kalau tidak ingat dirinya adalah tamu dari kakak sang vocalis. Dan yang membuatnya semakin tergila-gila adalah sikap Aditya yang begitu down to earth. Tidak menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang artis yang mempunyai jutaan penggemar.
Perasaan wanita itu semakin dalam ketika melihat kasih sayang Aditya pada istri dan anaknya. Tidak ada niatan di hatinya untuk mengganggu rumah tangga sang vocalis pujaan. Hanya mengagumi dan mencintai dalam diam sudah cukup baginya. Kesadaran Dita tersentak ketika Aditya mulai menyapa para penggemarnya.
“Selamat malam semua,” sapa Aditya seperti biasa.
“Malam..”
“Sebelumnya, saya ucapkan untuk brand ambassador terpilih. Selamat menjalankan tugas kalian dengan baik selama satu tahun ke depan,” Aditya menepuk kedua tangannya disusul oleh tepukan para penonton.
“Ok.. untuk penampilan pertama. Kita akan membawakan lagu recycle yang ada di album perdana kami. I alone!”
Terdengar teriakan dari para penonton mendengar judul lagu yang akan dinyanyikan oleh Aditya. I Alone adalah lagu lawas milik band Live yang dipopulerkan sebelum sang vocalis lahir ke dunia.
“It's easier not to be wise. And measure these things by your brains. I sank into Eden with you. Alone in the church by and by. I'll read to you here, save your eyes.
You'll need them, your boat is at sea. Your anchor is up, you've been swept away.
And the greatest of teachers won't hesitate. To leave you there, by yourself, chained to fate.”
Kompak para penonton langsung meloncat begitu mendengar musik yang mulai menghentak di bagian reff. Mereka juga ikut menyanyikan lirik di bagian refrain tersebut, tak terkecuali Dita. Wanita itu ikut bernyanyi dan larut dalam kegembiraan.
“I alone love you. I alone tempt you. I alone love you. Fear is not the end of this!”
Dita seakan tengah menyuarakan isi hatinya yang saat ini tengah mencintai dalam kesendirian. Diam-diam mencintai Aditya dan hanya bisa ikut bahagia ketika pria yang dicintainya bahagia. Ikut tersenyum ketika pria tersebut tersenyum.
“Oh, now, we took it back too far. Only love can save us now. All these riddles that you burn. All come runnin' back to you. All these rhythms that you hide. Only love can save us now. All these riddles that you burn yeah, yeah, yeah… I alone love you. I alone tempt you. I alone love you. Fear is not the end of this!”
Lagu pertama The Soul selesai, namun semangat para penonton masih terus berkobar. Roxas dan yang lainnya kembali menyanyikan lagu kedua yang masih berirama up beat. Suasana panas langsung dirasakan di dalam ballroom. Mahes yang duduk di pojokan hanya bisa menerka-nerka. Para penonton yang datang apakah ingin melihat BA Amarta hotel yang baru ataukah ingin melihat penampilan The Soul.
“Ok sekarang kita chill sejenak ya. Masih dari album perdana kami, lagu recycle milik Dewa 19. Lagu ini aku persembahkan khusus untuk Dewi, istriku tercinta dan juga anakku tersayang, Arkhan. This song for you baby..”
Roxas menekan tombol calling di ponselnya yang sengaja diletakkan menghadap Aditya yang berdiri di depan stand mic. Melihat Dewi sudah menjawab panggilan, Rivan memainkan drum disusul oleh Rangga, Roxas dan Fay.
“Haruskah ku ulangi lagi kata cintaku padamu. Yakinkan dirimu. Masihkah terlintas di dada keraguanmu itu. Susahkan hatimu. Tak akan ada cinta yang lain. Pastikan cintaku hanya untukmu. Pernahkah terbersit olehmu. Aku pun takut kehilangan dirimu.”
Aditya menyanyikan lagu penuh penghayatan. Seluruh jiwa raganya seakan tengah mengatakan pada sang istri dan semua orang bahwa hanya ada Dewi seorang dalam hatinya. Wanita yang berhasil menyentuh hatinya dan menjadi penghuni tetap sampai maut memisahkan mereka.
“I love you, sayang,” ujar Aditya setelah lagunya berakhir.
“I love you too,” balas Dewi seraya menyeka airmata di wajahnya.
Suasana mellow sukses tercipta di dalam ballroom. Semua pengunjung yang hadir seakan iku merasakan keharuan akan cinta tulus sang vocalis pada istri tercinta. Dita menyeka sudut matanya yang berair. Tak ada rasa sakit yang dirasakan kecuali rasa haru melihat Aditya yang terlihat begitu mencintai Dewi.
Keharuan dan suasana mellow kembali berubah ketika The Soul menyanyikan lagu terakhir mereka. Penonton kembali dibuat menggerak-gerakkan tubuhnya mengikuti irama up beat dari lagu yang dibawakan The Soul.
🌸🌸🌸
Seorang pria sepantaran Adrian datang menghampiri meja di mana personil The Soul berada. Pria bernama Setya itu memperkenalkan dirinya. Kemudian mulai mengatakan maksudnya pada Aditya.
“Istri saya hari ini berulang tahun. Dia itu fans kamu. Aku mau kasih kejutan, mau ngga kamu datang ke kamar kami membawakan kue ulang tahun sambil menyanyikan lagu ulang tahun juga.”
“Sekarang?”
“Sebentar lagi, pas jam 9 gimana?”
“Boleh.. boleh.”
“Makasih ya.”
“Sama-sama.”
Aditya melihat jam di pergelangan tangannya. Masih terisa waktu sepuluh menit lagi. Tak berselang lama Setya datang dengan membawa dus kue di tangannya. Aditya segera bangun dan hendak menyusul pria tersebut.
“Dit.. gue tunggu dekat pos satpam,” ujar Roxas.
“Wokeh.”
Buru-buru Aditya menyusul Setya yang sudah lebih dulu jalan. Mereka memasuki lift, tangan Setya memencet tombol 14. Perlahan kotak besi tersebut bergerak naik. Pintu lift terbuka saat tiba di lantai 14. Di lift sebelah pintu juga baru terbuka, dari dalamnya keluar Indira juga Amanda.
Sebelum masuk ke dalam kamar yang ditempati Setya, sekilas Aditya melihat Indira dan Amanda masuk ke dalam kamar yang hanya selang satu kamar saja dari Setya. Aditya membuka tutup kue, menyalakan lilin, baru kemudian masuk ke dalam kamar.
“Happy birthday to you.. happy birthday to you.. happy birthday dear Alya.. happy birthday to you.”
Wanita bernama Alya tersebut tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya ketika melihat Aditya datang membawakan kue ulang tahun untuknya. Dia menatap penuh cinta pada sang suami. Pasti dia yang sudah meminta vocalis favoritnya untuk memberikan kejutan.
“Make a wish terus ditiup lilinnya, sayang.”
__ADS_1
Dengan cepat Alya melakukan apa yang dikatakan suaminya. Setelah mengucapkan permohonan dalam hati, wanita itu membuka matanya kemudian meniup lilin sampai padam. Setya meminta Aditya tinggal sebentar karena sang istri pasti ingin berfoto dengannya.
Sementara itu di kamar sebelah, tepatnya di kamar yang tadi dimasuki Indira dan Amanda. Dua orang wanita nampak tengah bersitegang. Lewat mata-matanya, Indira mendapatkan informasi kalau Amanda saat ini tengah berbadan dua. Dan benih dari anak yang dikandung berasal dari suaminya, Mahes.
“Aku mau kamu meninggalkan kota ini secepatnya. Aku akan membiayai hidupmu sampai melahirkan. Aku juga akan membiayai anakmu, tapi jangan ganggu lagi suamiku. Menghilanglah dari kehidupannya,” ujar Indira dengan wajah dinginnya.
“Apa maksudmu? Apa kamu mau Mahes tidak bertanggung jawab atas anak ini? Apa kamu takut warisan Mahes jatuh padanya?”
“Kamu hamil di luar pernikahan, tidak ada hak anakmu atas harta Mahes. Bahkan jika anakmu perempuan, dia tidak bisa menjadi walinya. Jadi.. jangan melakukan hal sia-sia. Pergilah, lahirkan anak ini diam-diam, jangan ganggu suamiku lagi.”
“Suamimu yang menggodaku. Dia yang membujukku untuk tidur dengannya. Dan sekarang kamu melimpahkan semua kesalahan padaku?” berang Amanda.
“Kalau kamu perempuan baik-baik, pasti kamu akan menolaknya. Mahes itu laki-laki, mana ada kucing yang tidak suka jika disuguhi ikan segar. Aku tahu semuanya, aku tahu kamu yang mulai menggoda suamiku.”
Wajah Amanda memerah mendengarnya. Namun begitu, wanita tersebut bergeming. Bagaimana pun juga dia akan menuntut pertanggung jawaban dari Mahes. Indira mengambil ponselnya, kemudian membuka aplikasi m-banking.
“Katakan berapa nomor rekeningmu. Biar aku kirimkan uang untukmu sekarang.”
Emosi Amanda semakin tersulut melihat sikap angkuh Indira. Dia mengambil vas bunga yang ada di atas nakas lalu melemparnya ke lantai. Matanya menatap nyalang ke arah nyonya Mahes tersebut.
“AKU TIDAK BUTUH UANGMU!! AKU HANYA BUTUH MAHES BERTANGGUNG JAWAB ATAS ANAK INI!!”
“Berhentilah bertingkah. Sebutkan berapa rekeningmu dan turuti apa yang kukatakan.”
“Bagaimana kalau aku tidak mau? Bagaimana kalau aku mendatangi keluargamu dan mengatakan semuanya?”
Kali ini giliran Indira yang terpancing emosinya. Wanita itu mendekati Amanda dan melayangkan tamparan keras di pipi Amanda.
PLAK!!
“JANGAN PERNAH BERANI MELAKUKAN ITU!! AKU BISA MELENYAPKANMU KAPAN SAJA!!”
Aditya yang baru saja keluar dari kamar yang ditempati Setya terkejut mendengar suara gaduh yang berasal dari kamar sebelahnya. Pintu kamar memang tidak tertutup, jadi pria itu bisa mendengar pertengkaran yang terjadi. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Indira menampar Amanda tadi.
Buru-buru Aditya beranjak pergi ketika Indira melihat padanya. Dia segera menuju lift yang ada di ujung koridor. Begitu pintu lift terbuka, dari dalamnya keluar Ara. Melihat Aditya, Ara menyunggingkan senyumannya.
“Wow.. ngga nyangka aku bisa bertemu dengan Aditya di sini. Sang vocalis yang tengah naik daun, tapi menyerahkan istrinya untuk menjadi istri pura-pura sang kakak,” ledek Ara.
“Aku akan melakukan apapun untuk menjauhkanmu dari bang Ad. Kamu memang wanita tidak tahu malu. Apa tidak ada pria yang tertarik padamu sampai kamu masih mengejar bang Ad?”
“Kamu tahu betul perasaan Ad padaku.”
“Jangan terlalu percaya diri. Cinta bang Ad padamu sudah lama hilang, sejak dia memergokimu bercumbu dengan dosenmu sendiri. Jadi.. berhentilah mengejar bang Ad. Dia bukan pria lugu yang bisa kamu permainkan seenaknya.”
Aditya menepuk bahu Ara tapi kemudian meniupnya seolah bahu tersebut kotor dan penuh debu. Tanpa mempedulikan tatapan tajam Ara padanya, pria itu masuk ke dalam lift dengan santai.
Setengah berlari Aditya berlari keluar dari lobi hotel. Dia segera menghampiri Roxas yang tengah berbincang dengan security hotel. Kepala pria itu melihat ke atas dan tangannya menunjuk-nunjuk ke atas.
“Ada apaan” tanya Aditya.
“Itu ada yang ngelamar cewek. Harusnya gue gitu ya pas ngelamar Pipit.”
Kepala Aditya terdongak melihat ke atas, nampak dua buah drone tengah membawa spanduk kecil bertuliskan WILL YOU MARRY ME. Entah yang dilamar berada di mana, tapi yang jelas bisa melihat tulisan tersebut dari tempatnya berdiri.
“Elo kan nikahnya dadakan, digerebek kang Salim sama kang Amir,” Aditya terkekeh.
“Heleh itu pasti akal-akalan elo kan?”
“Tapi seneng kan? Akhirnya bisa jadi mamang gue juga,”
“Kampret.”
Roxas hendak menendang bokong Aditya, tapi pria itu keburu menghindar. Di saat kedua pria itu tengah berbalas ledekan tiba-tiba saja terdengar seperti sebuah benda jatuh disusul bunyi alarm mobil. Sontak semua yang berada di sana melihat pada datangnya suara.
Mata Aditya dan Roxas membulat melihat seorang wanita jatuh menimpa atap mobil. Dari Kepalanya mengalir darah segar. Keduanya disusul petugas secutity segera mendekat. Mereka terkejut ketika mengetahui sang korban adalah Amanda, mantan brand ambassador Amarta hotel.
“MANDA!!” teriak Roxas dan Aditya bersamaan.
🌸🌸🌸
**Waduh😱
Amanda bunuh diri apa dibunuh? Kalo dibunuh, siapa pelakunya? Indira, Ara, Mahes atau siapa???
Buat yang mau kepoin lagunya, cari aja di utube. Nama band-nya Live, judulnya I Alone. Yang suka rock alternative kayanya bakalan suka lagu ini. Satu lagi, Dewa 19, Tak Akan Ada Cinta Yang Lain😉
Curcol dikit ya, aku pengen ngikik pas baca komen : Maaf thor, setelah lamaran dan Adit nikah sama Dewi aku berhenti baca ya, kecewa. Aku herman, dia baca dari awal sampe Dewi nikah, ngga lihat apa judulnya naik ranjang? Kalo Dewi ngga nikah sama Adit terus gimana caranya naik ranjang?🤭
Kan aku jadi mikir, apa dia ngga tahu arti naik ranjang atau ngga puas karena alurnya ngga sesuai keinginannya? Bomat lah, yg penting masih banyak readers yang ngikutin alur dan kasih komen positif, love you all😘😘😘
Satu pesanku, di saat gerbang naik ranjang terbuka, jan mewek. Aku repot ngepel kolom komentar🏃🏃🏃🏃**
__ADS_1