Naik Ranjang

Naik Ranjang
Ego


__ADS_3

“Enin mana, mang. MANA?!! Salila ieu Aep teu menta nanaon, ngan ukur nitip enin!! (selama ini Aep ngga minta apa-apa, cuma nitip enin). MANA ENIN??!! MANA??!!!”


Roxas menarik-narik dengan kasar kerah Tirta. Rani yang melihat suaminya diperlakukan seperti itu berteriak histeris meminta tolong. Tetangga di dekat rumah Tirta mulai keluar, melihat keributan yang terjadi. Aditya segera mendekati Roxas dan berusaha menenangkan sahabatnya yang sudah kalap.


“Xas.. istighfar. Jangan emosi gini.”


Roxas yang sudah kalap, tak mendengarkan perkataan Aditya. Dia semakin erat mencengkeram kerah kemeja Tirta. Aditya terus berusaha melepaskan cengekaram Roxas. Rani semakin histeris dan meminta pertolongan para tetangga.


“Aep..”


Fokus Roxas teralihkan ketika mendengar suara yang sudah lama tak didengar memanggil namanya. Melihat pria yang berdiri tak jauh darinya, perlahan Roxas melepaskan cengkeramannya. Pria tersebut mendekati Roxas kemudian memeluknya.


“Mang Karna..”


“Tenang Aep. Enin ada sama bibi.”


Amarah Roxas mereda mendengar ucapan Karna. Karna atau Sukarna adalah suami dari Lisa, adik pertama dari ibu Roxas. Empat tahun lalu, Lisa dan Karna merantau ke Kalimantan diajak oleh teman Karna. Pria itu bekerja di kebun kelapa sawit dan baru sekarang kembali ke tanah pasundan.


Karna melepas pelukannya, kemudian mengajak keponakannya itu ke rumah yang dulu ditinggali enin dan Roxas. Bersama dengan Aditya dan Dewi, Roxas menuju rumah enin dahulu yang berbeda dua gang dari rumah Tirta. Dua sepeda motor itu berjalan pelan menyusuri gang.


Sesampainya di rumah, Roxas langsung menghambur masuk ke dalam. Matanya langsung mencari keberadaan enin. Terlihat wanita tua itu tengah duduk menonton film kumenangis di televisi ikan terbang ditemani oleh Lisa.


“Enin…”


Roxas langsung menghambur ke arah enin kemudian memeluknya. Tangis Roxas pecah ketika memeluk wanita yang begitu disayanginya. Karna, Aditya dan Dewi yang baru saja masuk, tertegun melihat pemandangan di depan mereka.


“Aya naon kasep? (ada apa?).”


“Enin… sugan Aep moal pendak deui sareng enin (Aep kira ngga akan ketemu lagi sama enin).”


Enin melepaskan diri dari pelukan Roxas kemudian menghapus airmata pemuda itu. Wanita itu juga menangis melihat betapa pedulinya sang cucu padanya.


“Aep... Karaos pisan kanyaah Aep ka enin. Sing ditangtayungan ku Gusti Allah, dipasihan rejeki nu ageung, jodo nu sae (Aep, enin tau kamu sayang enin. Semoga selalu dalam lindungan Allah, diberi rejeki yang banyak, jodoh yang baik),” enin mencium kening Roxas.


Lisa terharu melihat interaksi ibu dan keponakannya. Tak menyangka anak sang kakak sekarang sudah tumbuh menjadi pemuda yang bertanggung jawab. Dia masih ingat, Roxas remaja yang terus menangis melepas kepergiannya ke Kalimantan Tengah.


“Bibi minta maaf. Bibi yang bawa enin dari rumah mang Tirta. Sengaja bibi ngga bilang, biar pada kebingungan nyari enin. Si Rina enak-enakan ngerumpi di rumah tetangga, enin ditinggal sendiri, belum dikasih makan.”


“Tos.. Lis.. entos.. (sudah Lis, sudah),” enin mengusap lengan anak keduanya yang terlihat emosi.


“Bibi kapan pulang ke Bandung?”


“Seminggu yang lalu. Bibi sama mamang kaget, begitu pulang tahu rumah sudah dijual. Terpaksa bibi dan mamang tinggal di penginapan dulu.”


“Terus gimana bibi bisa dapat rumah ini lagi?”


“Mamang kamu nyari siapa yang beli rumah ini, terus nego mau dibeli lagi. Tadinya dia ngga ngasih, tapi mamang ngancam bakal bawa kasus ke polisi, karena rumah ini bukan cuma atas nama enin. Akhirnya dia setuju jual lagi dengan harga yang sama. Untung sertifikatnya belum dibalik nama.”


“Alhamdulillah ya, b, masih rejeki. Bibi sama mamang bakalan tinggal di Bandung lagi?”


“Iya.”


Roxas lega mendengar penuturan Lisa. Apalagi bibi dan pamannya itu akan tinggal kembali di Bandung. Perasaannya akan lebih tenang kalau enin tinggal bersama dengan Lisa. Roxas memeluk bibinya itu.


“Nuhun, bi. Aep nitip enin.”


“Ai Aep ngomong naon? Enin teh ibuna bibi. Udah kewajiban bibi ngurus enin. Justru bibi yang terima kasih Aep mau gantiin bibi ngurus enin.”


“Eh Aep aya oleh-oleh kanggo enin (Aep ada oleh-oleh buat enin).”


Roxas berdiri kemudian keluar dari rumah. Dia mengambil bungkusan yang tergantung di stang motor lalu kembali masuk ke dalam rumah. Dia memberikan bungkusan di tangannya pada enin.


“Ieu wajit karesep enin (ini wajit kesukaan enin).”


Roxas merobek bungkusan wajit lalu mengambil satu buah penganan manis. Dibukanya setengah kulit jagung kering yang membungkus wajit, lalu menyuapkannya pada enin. Lagi-lagi Lisa dibuat terharu melihat bagaimana keponakannya itu memperlakukan ibunya.


“Alhamdulillah meni raos pisan. Kamari oge sate bandengna meni raos (Alhamdulillah, enak banget. Kemarin juga sate bandengnya enak).”


“Enin hoyong deui? Ku Aep bade dipangmeserkeun (Enin mau lagi? Sama Aep mau dibeliin).”


“Ulah.. tos cekap. Tos ngasaan oge enin mah tos cekap (jangan, udah cukup. Udah ngerasain juga enin udah cukup).”


Aditya dan Dewi hanya bisa terdiam melihat sikap Roxas pada enin. Dibalik tingkah konyolnya, Roxas bukan hanya bersikap sopan, tapi juga sangat menyayangi neneknya. Batin Aditya tersentil melihat pemandangan di depannya. Karena keegoisan dan kekeras kepalaannya, dia mengabaikan sang mama. Membiarkan wanita yang sudah melahirkannya harus menahan rindu untuk bertemu dengannya.


Melihat Roxas sudah tenang, Karna memanggil keponakannya itu. Dia mengajak Roxas, Aditya dan Dewi berbincang di teras. Mereka duduk bersila di lantai, ada hal yang ingin dibicarakan Karna pada Roxas.


“Aya naon mang? (ada apa mang?).”


“Ep.. mamang bisa minta tolong?”


“Apa mang?”


“Tolong bujuk bibi kamu. Pusing mamang.”


“Bibi kenapa?”


“Udah tiga bulan ini bibi terus minta mamang nikah lagi.”


“Hah???” bukan hanya Roxas, tapi Aditya dan Dewi juga terkejut mendengarnya.


Karna akhirnya menceritakan alasan istrinya itu memintanya menikah lagi. Lisa dan Karna sudah menikah selama dua belas tahun, tapi sampai sekarang belum dikaruniai anak. Lisa kasihan pada Karna dan meminta suaminya itu untuk menikah lagi, supaya bisa mendapatkan keturunan. Lisa pesimis kalau dirinya bisa memiliki anak, apalagi sekarang usianya sudah hampir empat puluh tahun.


“Pusing, Ep. Mamang memang ingin punya anak, tapi ya ngga harus nikah lagi. Mamang penginnya punya anak dari bibimu. Kalau memang tidak diberi kepercayaan sama Allah, ya apa boleh buat. Mamang dan bibi sudah punya kamu. Kamu anaknya ceu Sinta, berarti anak bibimu juga.”


“Tenang aja, mang. Nanti Aep coba ngomong sama bibi.”


“Nuhun, Ep,” Karna menepuk pundak keponakannya.

__ADS_1


“Kamu sekarang tinggal di mana?” lanjut Karna.


“Di kontrakan Adit.”


“Makasih ya, Dit. Sudah mau nampung Aep.”


“Sama-sama, mang.”


“Kamu tinggal di sini lagi aja atuh.”


“Ngga, mang. Aep sama Adit aja. Di sini kamar cuma dua, bahaya mun Aep di dieu (bahaya kalau Aep di sini), menghambat mamang produksi anak, hahaha…”


Aditya ikut terbahak mendengar ucapan frontal sahabatnya. Dewi sampai menoyor kepala bule kamuflase tersebut. Karna sampai menggelengkan kepala, lama tak bertemu ternyata otak sang keponakan sepertinya berkurang beratnya.


Perbincangan masih berlanjut. Karna menceritakan pengalamannya selama bekerja di perkebunan kelapa sawit. Empat tahun bekerja di sana, sedikit demi sedikit dia mengumpulkan uang untuk membeli rumah di Bandung. Dia juga menceritakan rencananya membuka usaha kuliner, berdagang bubur ayam.


“Mamang mau jualan bubur?”


“Iya. Rencananya mamang mau jualan bubur bakar, terinspirasi dari utub,” Karna terkekeh.


“Wah ide bagus itu, mang. Mudah-mudahan lancar usahanya,” ujar Aditya.


“Aamiin..”


Dari arah dalam terdengar suara Lisa memanggil suami dan yang lainnya. Wanita itu mengajak semuanya untuk makan siang. Karna bangun dari duduknya lalu mengajak Roxas dan yang lainnya masuk ke rumah. Di dekat televisi, nasi liwet, ikan mas goreng, tempe dan tahu goreng, lalapan serta sambal sudah tersaji.


“Waduh bi, jadi lapar euy,” Roxas meraba perutnya.


“Hayu makan dulu. Ayo neng,” Lisa memberikan piring pada Dewi juga Aditya.


“Aya peuteuy teu, bi? (ada pete ngga, bi?).”


“Teu aya. Aya ge jengkol ngora (ngga ada. Adanya juga jengkol muda).”


“Moal, ah (ngga, ah)..”


Tak tahan melihat menu yang tersaji, Roxas menjadi yang pertama mengambil makanan. Awalnya dia hendak menyuapi enin lebih dulu, namun ditolak oleh sang nenek. Enin ingin makan sendiri. Roxas pun mulai melahap makanannya. Sudah lama dia merindukan nasi liwet buatan Lisa.


Di tengah keasikan makan, Dewi direpotkan dengan banyaknya duri di daging ikan mas. Beberapa kali gadis itu memisahkan duri dari dagingnya. Aditya mengambil seekor ikan mas, dicuilnya daging di bagian atas lalu memberikannya pada Dewi. Dia mencuil lagi daging ikan, membersihkannya dari dulu dan diberikan lagi pada Dewi.


“Udah, Dit. Kapan kamu makannya kalau ngurusin aku mulu.”


“Ngga apa-apa. Nih,” Aditya kembali menyodorkan daging ikan pada Dewi, membuat hati gadis itu semakin gamang.


🌸🌸🌸


“De.. kamu pulang bareng Roxas aja, ya,” ujar Aditya saat mereka hendak pulang.


“Emang kamu mau kemana?”


“Mau pulang ke rumah. Abang lagi tugas keluar pulau, papa juga besok harus ke Malang. Mama sendirian di rumah. Aku mau nemenin mama.”


“Iya. Untuk beberapa hari aku ngga akan pulang ke kontrakan. Aku bakalan nemenin mama sampai papa atau abang pulang.”


“Iya. Puas-puasin lepas kangen sama mama.”


“Kapan-kapan aku kenalin sama mama. Aku duluan, ya. assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Aditya memilih pergi lebih dulu. Sebelumnya dia menitipkan Dewi pada Roxas. Pemuda itu memilih pulang lebih cepat karena merindukan mamanya. Melihat bagaimana takutnya Roxas tadi saat kehilangan enin, Aditya jadi teringat mamanya. Dia takut terjadi sesuatu jika terlambat menengok mama.


Kediaman orang tuanya nampak sepi ketika kendaraan miliknya memasuki pekarangan rumah. Mobil milik Adrian nampak terparkir di garasi. Sambil membawa helmnya, Aditya masuk ke dalam rumah.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Bi Parmi, asisten rumah tangga yang sudah bekerja pada keluarganya sejak dirinya masih kecil datang menyambut kedatangannya. Wanita berusia empat puluh tahunan itu nampak senang melihat kedatangan Aditya.


“Ya ampun mas Adit. Alhamdulillah akhirnya pulang juga.”


“Mama mana bi?”


“Ibu lagi istirahat di kamar. Mau bibi panggilkan?”


“Jangan, bi. Biarin aja. Aku mau bikin kejutan buat mama.”


“Siap. Mas Adit sudah makan?”


“Udah, bi. Aku ke kamar dulu.”


Aditya membuka pintu kamarnya. Sejenak dia memandangi kamarnya yang sama sekali tidak berubah komposisi kamarnya sejak ditinggalkan. Kebersihannya pun masih terjaga, pasti mama meminta bi Parmi untuk membersihkannya setiap hari.


“Seprainya baru bibi ganti tadi pagi. Sebelum pergi, mas Rian minta bibi ganti seprainya. Katanya mas Adit mau nginap di sini,” Parmi muncul dari belakang Aditya dengan membawa minuman dingin untuknya.


“Makasih, bi.”


Aditya mengambil gelas dari tangan Parmi. Aditya mendudukkan diri di sisi ranjang kemudian meneguk minuman dingin itu. Wanita itu selalu ingat kalau sirup markisa adalah minuman favoritnya. Setelah menghabiskan isinya setengah, Aditya menaruh gelas di atas meja. Matanya kemudian menangkap kunci mobil Adrian di meja. Di bawahnya terdapat secarik kertas berisi tulisan tangan sang kakak.


Manfaatkan waktumu bersama mama. Ajak mama jalan-jalan. Mobil sudah abang service dan diisi bensin. Abang percayakan mama sama kamu.


Pemuda itu tersenyum membaca pesan dari Adrian. Kakaknya itu selalu mempersiapkan semuanya sebelum pergi. Aditya menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Tangannya kemudian mulai membuka kolom pencarian mbah gugel. Dia ingin mencari tempat wisata yang cocok dikunjungi olehnya dan sang mama.


Sedang asik berselancar, telinga Aditya menangkap suara mamanya berbicara dengan Parmi. Pemuda itu keluar dari kamarnya. Sambil mengendap-endap, dia mendekati Ida yang ada di ruang makan. Wanita itu minta dibuatkan wedang jahe oleh asisten rumah tangganya. Dia terjengit ketika Aditya memeluknya dari belakang.


“Astaghfirullah!” Ida menolehkan kepalanya, betapa bahagianya begitu melihat anak bungsunya yang memeluknya.

__ADS_1


“Adit.. ya Allah.”


Ida membalikkan tubuhnya kemudian memeluk anaknya itu. Akhirnya wanita itu bisa melampiaskan kerinduannya pada putra bungsunya. Ida menghadiahkan ciuman di wajah Aditya.


“Ma.. aku bukan anak kecil lagi.”


“Buat mama, kamu tetap anak kecil. Dasar anak nakal,” Ida kembali mencium kening Aditya seraya menjewer telinganya.


“Aaaa ampun ma.. ampun.”


“Sini duduk sama mama. Mama pengen dengar ceritamu. Kata abang kamu udah kerja di hotel.”


“Iya, ma.”


Sambil merangkul mamanya, Aditya berjalan menuju ruang tengah lalu mendudukkan diri di sofa. Pemuda itu langsung berbaring dan merebahkan kepalanya di pangkuan Ida. Sesuatu yang cukup lama tidak pernah dilakukannya.


“Kamu kerja di hotel apa?”


“Abang ngga cerita?”


“Kamu kaya ngga tau abangmu aja. Kalau mama tanya, katanya suruh tanya sama kamu sendiri.”


“Aku kerja di hotel Amarta, ma. Kan sekarang kak Lita kerja di sana. Aku dapet lowongan juga karena bantuan kak Lita.”


“Lita maksudnya, Yulita? Teman kuliah abang?”


“Iya.”


“Gimana kabarnya Yulita sekarang? Pasti tambah cantik.”


“Iya, ma. Cantik pake banget.”


“Pasti abangmu yang minta tolong sama Yulita.”


“Iya.”


“Terus gimana hubungannya sama abang? Mereka pacaran? Akhir-akhir ini mama sering lihat dia senyum-senyum sendiri sambil lihat hape. Gelagatnya persis kaya yang lagi jatuh cinta.”


“Masa? Yang bener, ma?”


Aditya yang terkejut sampai bangun dari posisinya. Dia penasaran mendengar cerita mamanya tadi. Pikirannya terus menerka-nerka siapa wanita yang sudah berhasil mencairkan gunung es sang kakak tersayang.


“Beneran. Apa mungkin Yulita?”


“Kayanya bukan deh, ma. Orang abang cuek-cuek aja kalau ketemu sama kak Lita.”


“Udah jangan bahas abangmu. Dia itu susah ditebak orangnya. Kamu sendiri gimana? Kapan mau kenalin calon mantu mama?”


“Nanti ma, nunggu kepastian dulu. Jawabannya masih dipending.”


“Loh kok bisa?”


“Iya. Dia masih butuh waktu untuk berpikir.”


“Emang dia mikir apalagi sih? Kurang apa anak mama ini? Ganteng iya, baik iya, pekerja keras iya, soleh lagi, kurang apa coba?”


“Kurang beruntung, ma. Hahaha…”


“Bisa aja.”


“Ma.. besok kan aku kerja. Tapi kamisnya libur, kita jalan-jalan, yuk. Aku mau traktir mama. Kemarin aku gajian. Mama mau kemana?”


“Kemana ya? Ooh.. mama mau ke.. apa tuh tempat wisata yang di Lembang. Bulan kemarin grup pengajian jalan-jalan ke sana, tapi mama ngga bisa ikut soalnya lagi sakit.”


“Apa namanya, ma? Tempat wisata di Lembang kan banyak.”


“Dusun Bambu.”


“Oh Dusun Bambu. Mama mau nginep di sana?”


“Boleh?”


“Boleh dong. Aku kan abis gajian, ayo kita nginep di sana.”


“Makasih anak mama yang ganteng.”


Perbincangan ibu dan anak itu terhenti ketika mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Aditya hendak beranjak masuk ke kamar karena tahu kalau papanya yang datang. Namun Ida menahan anaknya itu. Aditya mengurungkan niatnya begitu melihat gelengan kepala mamanya.


Ida berdiri dari duduknya kemudian menyambut kepulangan suaminya. Wanita itu meraih tangan Toni kemudian mencium punggung tangannya. Toni cukup terkejut melihat Aditya ada di rumah. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, pria itu berlalu begitu saja melewati sang anak yang berpura-pura sibuk dengan ponselnya.


Ida mengikuti langkah suaminya menuju kamar. Dia bantu melepaskan jas yang dikenakan Toni. Hari ini dia mengikuti kegiatan seminar yang mengharuskannya berpakaian rapih. Sambil melepaskan dasi di lehernya, Toni mendudukkan diri di sisi ranjang.


“Tumben anak itu pulang.”


“Dia mau menemani mama. Pasti disuruh sama Ad. Dia nurut banget kalo sama abangnya.”


“Ck.. ngga ada inisiatifnya sama sekali.”


“Bukan nda ada inisiatif. Tapi papa yang buat dia sungkan untuk pulang. Mbok ya sekali-kali papa ngalah. Dua-duanya keras kepala, wes pening kepalaku.”


Ida mengambilkan handuk untuk suaminya. Setelah memilihkan pakaian ganti untuk Toni, wanita itu keluar dari kamar. Dia masih ingin menghabiskan waku dengan si bungsu. Toni menghela nafasnya. Walau sekilas, tadi dia bisa melihat tubuh Aditya sedikit kurusan.


Apa keadaanmu baik-baik saja? Papa harus bagaimana supaya kamu mau kembali ke rumah ini?


🌸🌸🌸


**Enin meni tega, Aep keliling nyariin, eh enin malah anteng nonton kumenangis🤣

__ADS_1


Buat pecinta KPA nantikan notif di hari ini ya, mamake kasih spesial bonus buat kalian semua melepas rindu pada klan Hikmat😉**


__ADS_2