Naik Ranjang

Naik Ranjang
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Tak terasa sudah lima hari lamanya Hardi bersama teman sekelasnya menjalani hukuman dari Adrian. Di hari keenam ini, seperti biasanya, mereka sudah berkumpul di dekat gerbang sekolah dan berbaris rapih. Menunggu kedatangan para siswa dan siswi yang hendak menimba ilmu hari ini. Beberapa saat kemudian, para penghuni sekolah mulai berdatangan. Hardi memberi aba-aba pada semua temannya.


“Selamat pagi wahai generasi penerus bangsa.”


“Tetap semangat mengejar ilmu untuk menggapai cita-cita.”


“Jangan lupa awali hari kalian dengan doa dan senyuman.”


“Terimalah salam hangat dari kami, penghuni kelas 12 IPS 3 yang cantik dan ganteng seantero sekolah.”


Begitulah sapaan yang kerap mereka lontarkan setiap ada yang memasuki gerbang sekolah. Pak Maman, yang bertugas mengawasi mereka, sampai hafal betul dengan ucapan semangat yang mereka berikan.


Hardi sengaja menempatkan Roxas dan Sheila di bagian paling depan, karena mereka berdua sudah diproklamirkan sebagai raja dan ratu IPS 3, berkat ketampanan dan kecantikannya.


Para junior dan juga rekan seangkatan yang menerima sapaan hangat mereka memanfaatkan momen tersebut untuk berselfie ria dengan raja dan ratu IPS 3. Hal ini langsung dimanfaatkan oleh Dewi, Micky dan Hardy. Mereka menetapkan tarif bagi yang ingin berfoto sebesar lima ribu rupiah. Dan ternyata itu bisnis yang menguntungkan, terhitung sampai hari ini, uang yang terkumpul sudah mencapai empat ratus ribu rupiah.


Lima menit menjelang bel, semua langsung membubarkan diri dan kembali ke dalam kelas. Masa hukuman hanya tinggal hari ini dan esok. Lusa mereka sudah terbebas dari hukuman, dan mungkin akan membuat keonaran baru lagi nantinya.


Sebelum masuk ke dalam kelas, Hardi terlebih dahulu mampir ke ruangan guru, karena pesan yang disampaikan oleh pak Maman. Setelah lima menit berada di ruangan tersebut, Hardi bergegas kembali ke kelasnya. Seperti biasa menjelang pelajaran dimulai, kelasnya kerap membuat kegaduhan. Hardi masuk lalu berdiri di tengah-tengah.


“Gaaaeeesssss… dari hasil bisnis kita kan kekumpul empat ratus ribu. Nanti buat raja dan ratu masing-masing seratus ribu, sisanya buat kita makan-makan, setuju?” tanya Hardi.


“Setuju..” jawab yang lain.


“Eta si Budi tong dibere! (Budi jangan dikasih),” celetuk Micky.


“Naha? (kenapa),” tanya Budi heran.


“Da gara-gara maneh jadi kapanggih ku pak Rian. Naha bet ninggalkeun kelas (gara-gara elo jadi ketahuan pak Rian. Kenapa pake ninggalin kelas),” sahut Roxas.


“Pan urang nyeuri beuteung. Kumaha mun urang modol di kelas? (kan gue sakit perut. Kalo gue BAB di kelas gimana?),” jawab Budi setengah dongkol.


“Ayeuna dina urang aya oge, da angger we moal bisa nahan pak Rian asup ka kelas. Eta barang-barang moal bisa langsung diberesan, angger we kapanggih (sekarang kalau gue ada juga tetap aja ngga bisa nahan pak Rian masuk ke kelas. Itu barang-barang juga ngga bisa langsung diberesin, tetap aja ketahuan)."


Semua terdiam mendengar pembelaan Budi yang memang masuk akal. Terlebih Adrian adalah guru yang cerdas, walau disembunyikan seperti apa pasti akan terbongkar juga olehnya.


“Udah-udah, Budi juga ngga salah. Emang kita aja yang apes. Apes punya walas kaya pak Rian,” ucapan Hardi langsung mendapat sambutan gelak tawa dari yang lainnya.


“Sekarang mending kita siap-siap, ada pesan dari pak Dodi. Hari ini ada ulangan matematika,” lanjut Hardi lagi.


“APA????” teriak Roxas seraya menangkup kedua pipinya. Eskpresinya mirip seperti Kevin di film Home Alone.


“Mamvus gue,” ucap Micky.


“What? OMG, gue belum belajar,” teriak Mita.


“Sue.. bener-bener sue,” sahut Budi.


“Siapin contekan rumus,” ujar Bobi.


Suasana kelas mulai gaduh, mereka mulai mencemaskan ulangan dadakan yang akan dilakukan nanti. Namun semuanya langsung terdiam begitu Adrian memasuki kelas. Mau tak mau mereka harus menyingkirkan masalah ulangan matematika dan mulai fokus pada pelajaran sosiologi yang sebentar lagi akan dimulai.


🌸🌸🌸


Adrian merogoh saku celananya ketika merasakan ponselnya bergetar. Sambil berjalan keluar kelas usai jam mengajarnya habis, dia menjawab panggilan dari sang adik.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.. bang, aku udah di depan sekolah.”


“Kamu ngapain ke sini?”


“Mau ketemu abang tercinta lah.”


“Bilang aja mau ngecengin anak SMA.”


“Hehehe.. tau aja, bang.”

__ADS_1


“Masuk aja. Bilang ke satpam mau ketemu abang.”


“Siap.”


Adrian mengakhiri panggilannya, kemudian meneruskan langkahnya menuju ruang guru. Tak banyak yang berada di ruangan tersebut ketika Adrian masuk. Hanya ada ibu Murni, ibu Jelita dan pak Salam. Ketiganya, termasuk Adrian menoleh ke arah pintu ketika mendengar ketukan. Tak lama Aditya muncul dari baliknya.


“Assalamu’alaikum.. misi pak, bu. Saya mau ketemu pak Adrian.”


Aditya melemparkan senyuman pada semua yang ada di sana lalu melangkah mendekati sang kakak yang melambai padanya. Mata Murni terus mengekori langkah Aditya. Menerka-nerka, apa hubungan pemuda tampan itu dengan Adrian. Guru pengganti yang sukses membuatnya cenat-cenut setiap berdekatan.


“Kamu ngga kerja?” tanya Adrian begitu Aditya duduk di hadapannya.


“Bentar lagi, bang. Sengaja ke sini dulu, mau cuci mata.”


“Sudah nemu bassis baru?”


“Belum, bang. Santai ajalah, ternyata café tempat aku nyanyi nanti lagi direnovasi dulu.”


“Udah sarapan?”


“Belum, hehehe..”


Adrian melihat jam di pergelangan tangannya. Dia berdecak kesal sang adik masih belum mengisi perutnya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dia segera berdiri lalu mengajak Aditya menuju kantin.


Sepanjang perjalanan menuju kantin, mata Aditya terus menyapu setiap sudut yang dilaluinya. Tak salah dia meluangkan waktu untuk mengunjungi Adrian. Ternyata di sekolah tempat kakaknya mengajar banyak terdapat siswi cantik.


“Oh ya, kak. Soal kerjaan di hotel gimana?” tanya Aditya ketika mereka tengah menunggu pesanan.


“Untuk sekarang masih belum ada. Tapi bulan depan, ada anak yang biasa DW ngga lanjut di sana. Abang udah minta sisain satu tempat buatmu.”


“Wah makasih ya, bang.”


Seorang pelayan datang membawakan sepiring nasi dan soto ayam yang masih terlihat kepulan asapnya. Tanpa menunggu lama, Aditya segera menyantap makanan pesanannya. Adrian memandangi sang adik seraya menyeruput jusnya. Melihat keadaan Aditya yang seperti ini, amarahnya pada sang papa kembali muncul.


“Bang, kata mama, papa nyuruh abang ngelamar di perusahaan teman papa.”


“Abang mau?”


“Ngga.”


“Bagus deh, kan abang dari dulu cita-citanya pengen jadi tenaga pengajar dan pendidik.”


“Tapi kalau papa mau menerima dan mengikuti apa yang menjadi pilihan hidupmu dan kamu kembali ke rumah, abang akan ambil tawaran itu.”


“Ck.. ngga usah pikirin aku, bang. Abang udah banyak berkorban buat aku. Lagian sampai kapan pun, papa ngga akan pernah setuju apalagi mendukung keinginanku. Lebih baik papa ngga dukung aku dari pada abang menjalani pekerjaan yang bukan passion abang.”


Suasana di antara mereka kembali hening, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Kembali Adrian merogoh saku celananya saat merasakan ponselnya bergetar. Dengan cepat dia menghabiskan minumannya.


“Dit.. abang dipanggil kepala sekolah. Kamu ngga apa-apa ditinggal?”


“Ngga apa-apa, bang. Aku mau langsung pergi aja abis makan.”


Adrian mengeluarkan dompetnya kemudian mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak tiga lembar. Dia meletakkan uang di atas meja.


“Buat bayar makanan sama minuman.”


“Kebanyakan, bang.”


“Sisanya buat isi dompetmu, buat nemenin para pria bergolok biar ngga tawuran.”


Aditya terkekeh mendengar celotehan absurd sang kakak. Dia meneruskan acara makannya sepeninggal Adrian. Selesai menghabiskan semangkok soto, sepiring nasi dan segelas jus melon, Aditya membayar semua pesanan lalu keluar dari area kantin. Saat hendak menuju gerbang sekolah, tanpa sengaja dia menabrak seseorang.


BRUK


Karena bersenggolan, buku di tangan Dewi terjatuh. Refleks gadis itu berjongkok untuk mengambilnya. Dan di saat bersamaan Aditya pun melakukan hal yang sama. Tangan keduanya bersentuhan ketika hendak mengambil buku, sontak mereka saling memandang. Untuk sesaat keduanya terpaku di tempatnya masing-masing.


“Ehem.. maaf,” ujar Aditya.

__ADS_1


“Ng.. ngga apa-apa.”


“Ini..”


Aditya mengambil buku lalu memberikannya pada Dewi. Dengan gerakan perlahan mereka berdiri, masih dengan mata saling menatap. Dewi yang sadar lebih dulu segera menundukkan pandangannya. Dan saat kepalanya terangkat, ternyata Aditya sudah pergi menjauh darinya.


Sejenak gadis tersebut masih terpaku di tempatnya, memandangi punggung Aditya yang semakin menjauh. Kemudian pandangannya beralih pada punggung tangannya yang tadi tersentuh Aditya.


“Woii!! Ngelamun mulu, tar kesambet,” Roxas datang seraya menarik ujung hijab Dewi. Kebiasaan yang sering dilakukannya.


“Gue abis ketemu cogan.”


“Ganteng mana sama gue?”


“Lo kan ganteng casing doang, kalo dia ngga deh. Lesung pipinya itu loh, duh manis banget. Jodoh kali ya, gue juga punya lesung pipi.”


“Lo mana ada lesung pipi. Lesung vant*t iya hahaha…”


“Dasar leker kampeto,” Dewi menendang bokong Roxas. Pemuda itu meringis kesakitan seraya mengusap bokongnya.


“Buruan ke kelas, bentar lagi pak Dodi datang,” Dewi segera berlari mendahului sahabatnya. Sambil terus memegangi bokongnya, Roxas ikut menyusul berlari di belakangnya.


Sesampainya di kelas, nampak teman-temannya tengah sibuk. Ada yang sibuk menghafal rumus, memperhatikan buku catatan, atau membuat contekan.


“Kata pak Dodi, ulangan dibagi dua termin. Sesi satu 12 orang dulu, sisanya sesi dua. Soal juga ada dua, A dan B. Kayaya pak Dodi udah persiapan deh biar ngga bisa sebar jawaban,” ujar Hardi yang baru saja mendapat bocoran dari kelas sebelah yang lebih dulu menjalani ulangan matematika.


“Waduh.. kalo gue ngga segrup sama elo gimana, Wi?’ tanya Roxas bingung.


“Kan masih ada gue, tenang aja,” Hardi menepuk pundak temannya itu.


“Kalau ngga sekelompok sama kalian berdua?”


“Ya terima nasib aja. Itu sih derita elo, leker kampreto,” sahut Dewi.


“Leker apaan?” tanya Hardi.


“BuLE KERe, hahahaha…” Hardi ikut tertawa mendengar jawaban Dewi.


“Kalo lo ngga sekelompok ama kita berdua, kali aja lo sekelompok ama Micky,” lanjut Dewi.


“Jiaaahhh kaga untungnya sekelompok ama si lugu. Yang ada kita berdua dapet nilai minus.”


“Si Micky koplak gitu disebut lugu, kaga cocok banget,” protes Hardi.


“Lugu bukan dalam arti sesungguhnya,” ujar Dewi.


“Terus?”


“Lugu itu singkatan, LUtung GUnung, uu.. aa.. uu.. aa…”


“Hahahaha…”


Tawa Dewi dan Hardi lepas mendengar ucapan Roxas, apalagi pemuda itu sambil memperagakan gaya monyet. Micky yang merasa menjadi topik pembicaraan, sontak menoleh ke arah mereka seraya mengepalkan tangan pada Roxas.


Kegaduhan seketika terhenti dan berubah menjadi tegang ketika pak Dodi memasuki ruangan, berganti dengan ketegangan. Setelah meletakkan lembaran kertas soal di meja, pria berkacamata itu mengambil buku absen kemudian melihat pada murid-muridnya.


“Ulangan sekarang akan dibagi ke dalam dua termin. Nama yang tidak bapak sebutkan, silahkan keluar. Kalian akan menjalani ulangan di termin kedua.”


Jantung Roxas berdegup kencang menanti saat-saat guru matematika itu menyebutkan nama-nama yang termasuk ke dalam termin satu. Dalam hatinya terus berdoa, semoga saja dia bisa satu kelompok dengan Dewi atau Hardi.


🌸🌸🌸


**Kira² Roxas sekelompok ama Tili ngga?


Terima kasih untuk semua komen positif kalian. Aku sampai ngakak baca komen kalian semua. Itu mood booster buatku, jadi bikin semangat ngehalu.


Awalnya aku sempat was² up novel ini. Takut ngga sesuai ekspektasi kalian karena kesuksesan KPA. Alhamdulillah sejauh ini responnya baik. Terima kasih buat semuanya, love you all😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2